Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Pengampunan (Forgiveness)

Ibadah

Pengampunan (Forgiveness)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 10 Agustus 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:19-21, 2 Tes 1:6-9

Pada minggu ini, kita merayakan Perang Dunia I, 4 Agustus 1914. 100 tahun yang lalu persis diadakan deklarasi perang. Ada jutaan orang yang mati, kira-kira 17 juta orang mati dan 20 juta orang terluka parah. 17 Juta orang itu hampir sama dengan populasi Australia yang penduduknya berjumlah 22 juta orang. Di Inggris ada 888 ribu orang yang mati, yang diperingati dengan bunga poppy. Ketika dicatat di website, ada 888 ribu icon bunga poppies yang tidak habis habisnya  jika di-scroll.

Dunia ini masih penuh dengan peperangan, seperti di Gaza di antara Israel dan Hamas yang terus menerus perang. Kejahatan dibalas dengan kejahatan, kemarahan dibalas dengan kemarahan, kehancuran dibalas dengan kehancuran. Saya teringat dengan perkataan Ravi Zakarias, “Sampai kita menerima Anak Domba Allah yang dikorbankan di atas kayu salib itu, maka tidak akan ada perdamaian dunia, kita akan terus mengorbankan anak-anak kita dan membunuh satu dengan lain demi berbagai nama”.  Sampai kita menerima Kristus, korban yang sempurna itu, baru ada kemungkinan manusia berdamai satu dengan yang lain.

Pada hari ini kita melanjutkan tema tentang jangan membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan. Hari ini secara khusus membahas bagaiman Iman Kristen dalam Kristus justru menjadi satu-satunya pengharapan untuk adanya perdamaian antara manusia. Secara pribadi, ketika kejahatan terjadi di antara relasi kita satu dengan yang lain, kita akan memikirkan bagaimana  seharusnya respon kita. Firman Tuhan dalam Roma 12:19 mengatakan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah” dan Roma 12:21 “janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”.

Kita telah membahas bahwa salah satu alasan kita ingin membalas kejahatan sebenarnya adalah karena kita menuntut keadilan. Ketika Allah mengampuni kita dengan Kristus yang mati untuk menebus kita, sebenarnya Allah bukan meniadakan keadilan. Tetapi, keadilan-Nya dan murka-Nya terhadap dosa dinyatakan kepada orang lain, pribadi lain bukan kepada kita yang seharusnya menerima hukuman itu. Untuk kita yang di dalam Kristus, Yesus-lah yang menanggung keadilan itu di atas kayu salib sehingga kita bisa menerima pengampunan.

Tetapi, bagi mereka yang tidak di dalam Kristus, yang terus tidak mau bertobat, akhirnya murka Allah akan dinyatakan kepada mereka. Ini menjadi dorongan kepada ayat Roma 12:19: “Janganlah Engkau menuntut pembalasan tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang akan melakukan pembalasan”. 2 Tesalonika 1:6-9 menggambarkan pembalasan yang akan datang kepada orang-orang yang terus berbuat dosa dan menganiyaya jemaat Tuhan. Ini adalah sebuah kelegaan bagi umat Tuhan ketika keadilan Allah terjadi kepada mereka yang menindas.

Wahyu 18 menggambarkan suka cita karena murka Allah dinyatakan kepada mereka yang terus tidak mau bertobat dan tidak mau meninggalkan jalan yang jahat. John Piper menyebut ini sebagai “Future Grace”, anugerah yang akan diberikan di masa yang akan datang  (dan juga sekarang), ketika kita menjalani hidup yang sekarang dengan pengertian bahwa Tuhan akan bertindak nanti. Sebenarnya ini menjadi kunci hidup orang Kristen yang boleh hidup sesuai dengan Kristus. Kristus menjalani hidup-Nya di dunia ini dengan mengalami kesulitan dan penganiyayaan, tetapi Dia tidak membalas dan menyerahkan kepada Bapa yang akan bertindak dengan adil. Ibrani (Ibrani 12:2) mengatakan ketika Tuhan Yesus dianiaya, mata-Nya terus memandang kepada sukacita, kemuliaan dan penghiburan yang akan Bapa berikan kepada-Nya, sehingga Ia bisa dengan tekun memikul salib.

Ketika kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan bahkan memberi musuh kita minum ketika ia haus, maka kita tidak kalah kepada kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Ini menjadi motivasi untuk orang-orang Kristen untuk tidak menuntut pembalasan, tetapi melakukan kebaikan yang berkenan kepada Tuhan.

Sering kali kita tidak mau mentaati perintah ini. Kita malah ingin mebalas kejahatan dengan kejahatan. Kita menjadi marah, membenci dan mendendam kepada mereka. Kita tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Alkitab mengatakan bahwa jika kita melakukan itu, sebenarnya kita tidak percaya akan janji Tuhan yang akan datang. Kalau kita tidak bisa mengampuni sebenarnya kita mau mengambil posisi Allah, satu-satunya pribadi yang berhak untuk membalas orang yang jahat. Kalau kebenaran bahwa Allah akan menghakimi dia tidak mempengaruhi hidup kita sekarang  dan tidak membuat kita mau mengampuni dia, problemnya berbalik menjadi problem hubungan antara kita dengan Tuhan.

Tuhan Yesus memberi kita satu perumpamaan tentang seorang yang berhutang 60 juta dinar, yaitu 60 juta hari kerja yang menerima pengampunan oleh raja. Tetapi ketika ia keluar, ada temannya yang berhutang 100 hari kerja saja dan memintanya untuk bersabar menerima bayarn,  ia malah memasukkan orang itu ke penjara. Maka raja itu marah dan memasukkan orang yang jahat ini ke penjara untuk selamanya karena ia tidak bermurah hati kepada saudaranya yang berhutang jauh lebih sedikit dibanding dia. Kristus mengatakan bahwa demikianlah Bapa-Nya akan memperlakukan kita, kecuali kita mengampuni saudara kita dengan segenap hati kita.

Dalam Matius 6:14-15 Tuhan Yesus mengatakan,” Jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di Surga akan mengampuni kita juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. 1 Yohanes 3:15 mengatakan,  “Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya”. Ayat-ayat ini memperingatkan akan betapa seriusnya hal mengampuni.

Apakah pengampunan Tuhan didasarkan pengampunan kita terhadap orang lain? Kalau kita mengampuni, atas dasar itulah Tuhan mengampuni kita? Pengertian ini tidaklah benar karena kalau dosa kita diampuni Tuhan atas dasar pengampunan kita kepada orang, maka ini menjadi keselamatan karena perbuatan baik kita (Salvation by works). Tetapi, pengampunan kita adalah bukti bahwa kita telah menerima pengampunan dari Allah. Kita diselamatkan hanya karena anugerah Tuhan yang kita terima dalam Kristus.  Iman yang sejati ini harus menghasilkan kasih kepada orang lain.  Pengampunan adalah salah satu bagian yang sentral dalam kasih ini. Perintah-Nya: supaya kita percaya kepada Kristus dan saling mengasihi. Jika kita tidak bisa mengampuni orang, kita mungkin belum mengenal Allah.

Di dalam realita hidup kadang kala kita memang sulit untuk mengampuni.  Seringkali kita disakiti oleh teman, oleh keluarga bahkan oleh anak sendiri. Salah satu contohnya adalah saat melihat seorang Indonesia yang menjadi pengikut ISIS dan berkothbah dengan ber api-api dalam video. Apa bedanya dengan kotbah orang Kristen? Bedanya adalah ia mengajak orang dalam kesalahan, sedangkan orang Kristen berkotbah dengan ber api-api dalam kasih.

Orang Kristen juga banyak yang dianiyaya dan ditangkap, tetapi ketika mereka dilepaskan, mereka justru ingin mendoakan dan menginjili orang-orang yang menganiaya mereka.  Salah satu contoh dari Steve Sein yang ayahnya dibunuh ketika menginjili. Ketika ia mendengar kabar buruk dari ibunya, ia ditanya apakah ia ada kepahitan dalam hatinya kepada pembunuh ayahnya. Steve Sein mengatakan ,”Hati saya dibentuk ketika saya memperhatikan ibu saya yang menjadi janda pada hari itu. Saya tidak pernah sekalipun mendengar mereka menyalahkan Tuhan ataupun suami mereka yang nekat memberitakan Injil. Saya tidak memiliki kepahitan”. 

Satu contoh lagi yaitu Esther, anak dari Graham yang dibunuh dengan dibakar hidup-hidup bersama dua anak laki-lakinya oleh ekstrimis Hindu. Ketika ditanya oleh ibunya tentang perasaannya, ia mengatakan, “I praise the Lord that He found my father worthy to die for Him”. Ini adalah kalimat dari seseorang yang mengenal Tuhan dan hatinya dibentuk oleh kebenaran Firman. Saya juga berdoa supaya anak-anak kita memiliki hati seperti ini.

Firman Tuhan mengatakan bahwa jika kita tidak bisa mengampuni, kita seperti terus meminum racun kebencian.  Kita terus mengingat bagaimana kita disakiti oleh orang tersebut. Unforgiveness adalah seperti meminum racun  dan berharap orang lain yang mati.  John Arthur mengatakan bahwa hampir seluruh masalah dalam relasi manusia berakar dari hati yang tidak mau mengampuni. Kabar baiknya adalah Tuhan ingin kita bebas dan merasakan kelegaan dari pengampunan Allah. Charles Spurgeon mengatakan, “To be forgiven is such sweetness that honey is no comparison with it. But yet, there is one thing sweeter still, that is to forgive”.

Satu contoh lagi adalah Bonnie yang berjanji saat dia besar tidak akan seperti ibunya yang kasar terhadap dirinya. Namun, ketika ia punya anak ia marah dengan kasar terhadap anaknya. Ia sadar ia seperti ibunya, yang paling ia benci. Ia datang ke sebuah konferensi tentang forgiveness dan mendengar bahwa kenangan pahit itu adalah seperti piringan hitam yang terus diputar. Ia akhirnya menghancurkan piringan hitam itu dengan lututnya, saat dia berdoa. Hidupnya berubah total setelah itu. Bonnie menjadi salah satu ibu yang paling mengasihi kepada anaknya.

Forgiveness terjadi bukan satu proses, namun satu momen bahwa kita sadar akan kasih Tuhan. Pengampunan bukan hanya untuk kebaikan kita, tetapi ultimately pengampunan membawakan hormat dan kemuliaan kepada Allah.

Contoh terakhir adalah seorang pilot Jepang Mitsuo Uchida yang membom Pearl Harbor. Pada akhirnya ia bertobat karena ia mendengar bahwa temannya yang menjadi tawanan perang diperlakukan dengan baik oleh seorang gadis Kristen yang  orangtuanya dibunuh prajurit Jepang. Ia juga mendengar bagaimana seorang prajurit Amerika yang disiksa ketika ditangkap di Jepang. Namun prajurit ini tidak mendendam karena menemukan ayat “love your enemies” dari Alkitab saat masih dipenjara. Pada akhirnya, Mitsuo bertobat dan bersama-sama dengan prajurit Amerika itu pergi menginjili ke Jepang dan Asia. Ini adalah contoh kejahatan yang dibalas dengan kebaikan.

Biarlah dengan apapun yang kita alami, kita boleh mendengar kebenaran Firman dan contoh-contoh yang indah, untuk mendorong kita untuk mengerti apa yang Tuhan inginkan dan dengan gentar kita boleh datang kepada Tuhan, menyerahkan hati yang luka di hadapan Tuhan dan terus bersandar kepada Tuhan. Tuhan akan memulihkan, membebaskan kita dan mengaruniakan anugerah serta cinta kasih-Nya, sehingga kita bisa mengasihi dengan bebas. Jikalau di antara kita ada yang sedang mengalami pergumulan dengan forgiveness, biarlah kita datang kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya dan Tuhan akan menolong dan memberi anugerah-Nya kepada kita.          

 

Ringkasan oleh David Sukuandi | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya