Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan (2)

Ibadah

Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan (2)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 Agustus 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:19-21

Sebelumnya kita sudah melihat ayat 19b tentang murka Allah, dan sekarang kita akan melihat bagaimana ini diaplikasikan di dalam Roma 12:19-21.

Beberapa waktu yang lalu, Pdt. Stephen Tong mengadakan Konferensi Pengabaran Injil Nasional (KPIN) di Papua. Di hari terakhir di salah satu kota, ternyata tidak begitu banyak yang datang, yang datang kebanyakan perempuan dan anak-anak. Ketika Pak Tong menanyakan kemana bapak-bapak dan para pria, ternyata karena mereka sedang berjaga-jaga di kampung mereka, karena akan ada perang antara dua suku yang dibatasi oleh satu jembatan. Mereka akan berperang karena ada dua orang yang dibunuh oleh salah satu suku, dan suku yang lain membalasnya dengan membunuh enam orang. Suku yang pertama tidak puas dan mereka akan membalas supaya mereka dapat membunuh empat lagi, supaya sama korbannya enam orang. Pak Tong kemudian memutuskan untuk memberikan tugas kotbah kepada pendeta yang lain, sedangkan Pak Tong ingin pergi ke desa tersebut untuk menjumpai orang-orang yang mau berperang tersebut. Akhirnya Pak Tong sempat menemui mereka sebelum perang dimulai. Pak Tong meminta Bupati setempat untuk mengumpulkan kedua belah pihak dan setelah mereka berkumpul Pak Tong berkata, "Kalian mau membalas keenam orang yang sudah dibunuh, saya mengerti karena apa yang kalian ingin lakukan adalah sebenarnya tuntutan keadilan; dan itu adalah sifat Allah yang memang adil." Pak Tong mulai dengan kalimat ini yang sepertinya menyetujui dan kemudian melanjutkan "Tetapi dengan membalas apakah akan menyelesaikan masalah?, bahkan peperangan bisa semakin besar."

Sewaktu Pak Tong mengatakan pembalasan itu adalah kerinduan yang sesuai dengan karakter Allah, itu karena Allah adalah Allah yang adil. Hal inilah yang akan kita bahas waktu kita melihat Roma 12:19-21 khususnya ayat ke 19. Di sini kita melihat "Saudara-saudara ku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis Pembalasan itu adalah hak-Ku." Kita diperintahkan untuk jangan menuntut pembalasan terhadap orang yang melakukan kejahatan kepada kita. Seolah-olah yang dituntut adalah anugerah belas kasihan, atas response terhadap mercy of God, maka jangan menuntut pembalasan kepada orang yang berbuat jahat kepada kita. Namun kalau kita perhatikan, ayat ini sebenarnya bukan hanya bicara tentang mercy, tetapi juga bicara tentang keadilan. Belas kasihan (mercy) Tuhan itu tidak meniadakan keadilan. Tidak berarti orang yang berbuat jahat itu tidak akan menerima hukuman yang setimpal dengan kejahatannya. Kita melihat dengan jelas ada keadilan di sini. Kita jangan menuntut pembalasan, tetapi motivasinya adalah berilah tempat kepada murka Allah untuk melakukan pembalasan. Jadi di sini ada keadilan juga. Perintah ini justru tidak menuntut pembalasan karena Allah itu adalah Allah yang adil. Bukan berarti tidak ada pembalasan dan tidak ada keadilan bagi yang melakukan kejahatan. Keadilan Tuhan tidak pernah bisa dipermainkan.

Keadilan Allah dinyatakan dengan dua cara: keadilan Allah dinyatakan melalui kematian Kristus (justification of the death in the death of Christ), dan inilah artinya pengampunan. Pengampunan bukan berarti dosa dan kejahatan tidak dihukum dengan adil. Ketika Tuhan berbelas kasihan kepada kita tidak berarti dosa dan kejahatan tidak dihukum, tetapi pengampunan berarti hukuman Allah yang adil itu ditanggung oleh Yesus Kristus. Yesaya 53:6 mengatakan "Kita semua sesat seperti domba, masing-masing mencari jalannya sendiri, tetapi Tuhan menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian". Ini menyatakan Allah yang adil yang kesuciannya tidak boleh injak-injak, minimpakan dosa kepada Yesus. Kematian Yesus di kayu salib menyatakan upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah kehidupan kekal di dalam Kritus Yesus. Hanya yang dipersatukan dengan Kristus yang boleh menerima pengampunan Allah, karena Kristus yang tidak berdosa, yang sudah menanggung keadilan dan murka Allah di atas kayu salib. Kejahatan kita ditimpakan kepada-Nya. Itulah artinya pengampunan. Bagi mereka yang tidak di dalam Kristus, bagi mereka yang terus melakukan kejahatan dan tidak mau bertobat dan percaya kepada Kristus, mereka juga akan mengalami keadilan Tuhan. Mereka akan mengalami murka Allah di dalam diri mereka sendiri. Murka Allah yang   dahsyat kepada manusia berdosa yang menolak Kristus, akan mengalami hukuman Allah yang kekal di dalam diri mereka.

Harap kita boleh gentar ketika mendengar keadilan Allah, dan biarlah kita takut dan gentar berhadapan dengan Allah yang adil. Datang ke hadapan Dia tanpa darah Kristus yang menyucikan kita, yang menanggung murka Allah, berarti menghadapi hukuman yang kekal.  Sebaliknya jika kita percaya, manusia lama kita ikut disalibkan bersama dengan Kristus, dan hidup kita boleh dijalani dalam iman di dalam Anak Allah yang telah menyerahkan Diri-Nya untuk kita.

Bagaimana kepastian pembalasan Allah bagi orang yang tidak percaya bisa dimengerti di dalam hati kita sekarang? Yaitu dengan memberi tempat kepada murka Allah dengan alasan "SEBAB ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku, Aku yang akan melakukan pembalasan.” Bagaimana ini menjadi realita di dalam hidup kita? Kata SEBAB itu memberikan motivasi kita untuk tidak menuntut pembalasan. Tetapi apakah ini adalah suatu bentuk kebencian yang terselubung? Apakah kita sebenarnya ingin membalas tetapi biar Tuhan saja yang membalas? Bukan itu, ini bukanlah kebencian yang terselubung, karena kalau ini yang kita mengerti maka Amsal 24:17 mengingatkan, "Janganlah bersuka cita kalau musuhmu terjatuh, dan janganlah hatimu bergembira kalau ia terperosok". Kalau kita menahan pembalasan bahkan harus mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, bukan berarti kita harus senang kalau akhirnya murka Tuhan ditimpakan kepada mereka yang jahat.” Jadi bagaimana kita harus menerima ketidakpuasan kita untuk menyatakan keadilan? Sebenarnya satu alasan kuat untuk membalas adalah karena adanya luka yang dalam di dalam hati kita. Ayat Roma 12:19 Tuhan berikan sebenarnya untuk mengangkat kepahitan itu, menyembuhkan luka kita, meredam kemarahan kita. Dengan menaruh beban kemarahan kita ke hadapan Tuhan, Tuhan kemudian mengangkat itu. Sekali lagi bukan tidak ada keadilan, tidak ada penghukuman, tetapi Allah yang mengambil beban itu. Ini bukan cara lain untuk melakukan pembalasan dengan memakai Allah untuk melakukan pembalasan. Tetapi ini berarti dengan tidak menuntut pembalasan, kita menyerahkan pembalasan itu kepada pribadi yang berhak. "Pembalasan itu adalah hak-Ku", hanya Tuhan yang adil, kita tidak punya hak untuk melakukan pembalasan, apalagi kita yang sudah banyak menerima anugerah belas kasihan dari Allah. Ini adalah iman Kristen yang sejati, yang sungguh sungguh mengerti Firman Tuhan, yaitu mengakui bahwa Allah adalah hakim yang agung, dan percaya bahwa Dia akan menghakimi sesuai dengan kesucian-Nya. John Murray mengatakan "This is the essence of piety", dikontraskan dengan "The essense of un-Godliness is that we presume to take the place of God to take everything into our own hand." Membalas kejahatan-dengan kejahatan adalah mengambil hak Allah di tangan kita sendiri. Kita ingin mereka juga bertobat, tetapi jika mereka tidak bertobat maka Tuhan sendiri yang akan membalaskan segala kejahatan mereka. Dengan ini kita bisa terlepas dari luka dan kebencian yang dalam itu, kita bisa bebas merdeka bersandar kepada Tuhan. Yoh 8:32: Kamu akan mengenal kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.

Tentu ini tidak mudah. Ada satu contoh dari John M Perkins, seorang pendeta kulit hitam yang banyak mendapat penghargaaan dari berbagai pihak. Dia menceritakan pengalamannya sekitar tanggal 7 Feb 1970 sewaktu rasisme masih sangat kuat. Waktu itu setelah protes mahasiswa, satu van penuh dengan mahasiswa kulit hitam diberhentikan oleh polisi kulit putih dan mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Keesokan harinya Perkins dan beberapa temannya datang untuk memberi uang jaminan (bail) bagi mereka yang ditangkap. Tetapi bukan diterima uang jaminan itu, Perkins dan temannya malah dikelilingi oleh polisi, diintimidasi dan dipukuli sepanjang malam. Namun Kejahatan rasisme yang biadab ini justru menghasilkan sesuatu yang luar biasa di dalam hidup Perkins. Waktu itu ia hanya bisa berkotbah kepada orang-orang kulit hitam. Tetapi dengan peristiwa ini, ada visi baru dalam hidupnya. Dia menulis di dalam biografinya, "saya ingat wajah polisi-polisi yang menganiaya saya, wajah yang penuh dengan kebencian, untuk pertama kalinya saya menyaksikan apa yang terjadi pada orang yang dibakar oleh kebencian. Polisi-polisi ini adalah sangat kasihan sebenarnya, karena satu-satunya cara menyatakan mereka penting adalah dengan menghajar kami. Mereka seperti tidak punya harga diri sama sekali. Ketika saya menyadari hal itu, saya justru tidak membenci mereka, saya tidak bisa membalas mereka dengan kebencian, saya justru merasa kasihan kepada mereka. Malam itu saya berdoa kepada Tuhan, Tuhan kalau Tuhan perbolehkan saya keluar dari penjara ini dalam keadaan hidup, maka saya akan sungguh-sungguh memberitakan Injil kepada orang-orang kulit putih. Karena Injil satu satunya yang bisa menyembuhkan mereka." Akhirnya Perkins keluar, dan setelah pulih, dia sadar bahwa Injil yang sudah membebaskan orang-orang kulit hitam adalah Injil yang sama yang harus diberitakan ke orang kulit putih. Dia mengatakan the real justice hanya akan terjadi ketika manusia berdamai dengan Allah sehingga mereka boleh berdamai dengan orang lain. “Now that God had enabled me to forgive the many whites who had wronged me, I found myself able to truly love them, I wanted to return good for evil.”  Kalau Allah telah memampukan saya untuk mengampuni mereka, maka saya juga mampu untuk mengasihi mereka. Kalau kita mengalami segala kejahatan, kita tidak boleh menuntut pembalasan, tetapi menyerahkannya kepada keadilan Tuhan.

Hal yang terakhir, Roma 12:21, "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan." Apa maksud dari ayat ini? Pengertian ayat 21 adalah janganlah kejahatan musuhmu menghasilkan kejahatan dalam dirimu, tetapi biarlah kasihmu itu mengalahkan kejahatan musuhmu. Ketika musuh kita menjadikan kita berbuat jahat kepada mereka, maka sebenarnya kita kalah terhadap kejahatan, kejahatan yang menang. Seperti yang sekarang ini terjadi di Gaza, Palestina, kejahatan dibalas dengan kejahatan, yang menang adalah kejahatan. Kebaikan tidak menang, kasih tidak menang, kejahatan yang menang. Juga di dalam hidup kita, jika kita membiarkan kejahatan orang lain membuat kita marah, benci, depresi, maka sebenarnya kita sudah dikalahkan oleh kejahatan. Paulus mengatakan dalam ayat 21 bahwa itu tidak harus demikian, kamu harus kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Perintah ini bertentangan dengan victim mentality yang ada di dunia ini, di mana pembalasan itu adalah suatu keharusan, kalau tidak, hal itu kan menghasilkan marah, dendam, membuat hidup hancur, dan menyalahkan mereka. Paulus di sini mengingatkan agar hal itu jangan terjadi, jangan kejahatan orang lain membuat engkau mempunyai pikiran jahat untuk berbuat jahat. Kalau kita berespon demikian maka kejahatanlah yang menang. Kita hanya memiliki satu Tuhan, Dialah yang mengontrol hidup kita dan bukan kejahatan orang itu. Ketika kejahatan tiba kepada kita, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah berespon kepada Allah yang berdaulat atas segala sesuatu, dan kita tahu bahwa Allah selalu bertindak dengan adil kepada kejahatan manusia, baik di atas kayu salib atau di dalam hukuman kekal. Biarlah kasihmu menang atas kejahatan orang itu, jika seterumu lapar, beri dia makan, jika orang yang berbuat kejahatan kepadamu itu haus, berilah dia minum". Di situlah kita bisa menang dengan dua cara: ketika kita melakukan kebaikan kepada musuh kita, dengan berbuat demikian kita menumpukkan bara api ke atas kepalanya. Karena musuh kitalah yang harus berespon kepada kebaikan kita. Ketika mereka berespon dan menyadari kejahatan mereka, mereka mulai meninggalkan dosa dan jalan mereka yang jahat, dan percaya kepada Kristus; kita menang. Kebaikan menang atas kejahatan. Tetapi jika mereka tidak berespon dengan baik, dan makin marah kepada kita, seperti orang Farisi yang setelah Kristus membangkitkan Lazarus, mereka makin mau membunuh Yesus. Bagi orang-orang yang demikian, kebaikan kita menumpuk seperti bara api, menjadi penghakiman bagi mereka nantinya. Mereka akan menerima murka Allah yang kekal, dan dengan demikian kebaikan dan kasih yang menang. Bagaimanapun ketika kita meresponi panggilan ini kita akan menang.

Mungkin kita mengalami kejahatan dari berbagai macam pihak, bolehlah kita mengerti, janganlah kita kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kita boleh mengasihi, membalas kejahatan dengan kebaikan, supaya mereka boleh bertobat. Kalau tidak mereka akan mengalami keadilan dari Tuhan. Dengan cara itulah Kristus dimuliakan, dan dengan cara itulah Kristus sudah memenangkan kita. Waktu Yesus Kristus dicaci maki dan dianiaya, Dia tidak membalas, tetapi Dia menyerahkan kepada Allah Bapa yang akan menghakimi dengan adil. Di atas kayu salib Dia diludahi, ditusuk, Dia tidak membalas, dan justru melalui kasih-Nya yang besar itu, Dia memenangkan kita dan menebus kita, menggerakkan hati kita, yang dulu adalah musuh daripada Kristus.  Melalui kasih-Nya yang besar, yang tidak meniadakan keadilan, tetapi justru menanggung keadilan itu di atas kayu salib. Melalui kematian-Nya Dia menyelamatkan kita, sehingga kita boleh percaya, dan beriman di dalam Kristus. Biarlah kita juga boleh menang terhadap kejahatan, biarlah kita mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Mauritz Nainggolan


Ringkasan Khotbah lainnya