Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan

Ibadah

Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 27 Juli 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:19-21

Pada kesempatan ini kita akan membahas hubungan antara satu individu dengan individu lain secara personal. Manakala ada musuh yang berbuat jahat terhadap kita, maka kita mampu berespon sesuai dengan firman Allah yang tertulis dalam Roma 12:19 yang berkata “janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan”.  Kita harus bersabar dan memberikan tempat kepada murka Allah, dimana Tuhan akan menuntut pembalasan nantinya. Janganlah kita kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Ini merupakan perintah yang sangat susah kita laksanakan, bukan? Jangankan bicara musuh yang berbuat jahat terhadap kita atau menganiaya kita, orang yang dekat dengan kita saja,  apakah dia itu saudara kita, istri/ suami kita, teman atau teman satu gereja kita, jika berbuat jahat atau melukai hati kita, secara manusiawi kita kadangkala  langsung otomatis mau membalasnya. Ejekan dibalas ejekan, koreksi dibalas dengan koreksi, hinaan dibalas dengan hinaan, kritikan dibalas dengan kritikan.  Memang kita mengakui bahwa perintah ini sangat sulit dilakukan dalam kehidupan kita. Namun kita tetap diperintahkan untuk mentaati firman yang sebenarnya tidak mudah ini.

Bagaimana kita mampu melaksanakan dan mentaati firman yang begitu sulit untuk dilakukan dalam kehidupan kita ini? Bagaimana kita mampu membalas kejahatan dengan kebaikan? Pada kesempatan ini, kita mau  belajar dan memikirkan hal ini sehingga kita mampu melaksanakan perintah Tuhan ini dalam kehidupan kita.  Kita terlebih dahulu harus mengerti apa yang telah Allah nyatakan kepada kita mengenai realita serta definisi “murka Allah” dalam kalimat “janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan”.  Perintah Tuhan tersebut memberi pengertian kepada kita, bahwa Tuhan yang akan menuntut pembalasan nantinya kepada orang yang berbuat kejahatan, bukan kita. Dan kalimat yang mengatakan “berilah tempat kepada murka Allah” memberi kekuatan atau dorongan kepada kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun berilah tempat kepada murka Allah. Sekali lagi, Jika kita telah menyadari realita murka Allah, maka itu akan memampukan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun membalas kejahatan dengan kebaikan,  mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Apa itu murka Allah?  Murka Allah ialah amarah Allah yang tetap terhadap dosa yang diekspresikan dengan pembalasan yang setimpal  kepada orang berdosa. Istlah “tetap” disini memberi pengertian bahwa Allah marah sesuai dengan sifatnya yang suci dan adil, bukan marah karena merasa terganggu atau tidak konsisten. Ada 128 kali, pernyataan dalam alkitab, yang menyebut kata-kata seperti murka (wrath) dan amarah (anger)  yang selalu bersanding, bahkan interchangeable satu dengan lain. Kita ambil 2 contoh, yang pertama misalnya ayat yang diambil dari Mazmur 6:2 yang berkata “Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu”.   Dan yang kedua misalnya diambil dari Roma 2:8 yang berkata” tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.”.

Selain kita mengetahui dan selalu membahas mengenai kasih, berkat dan kebaikan Allah, kita perlu juga mengetahui dan memahami tentang murka Allah agar kita belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan.  Selanjutnya kita akan membahas  4 realita murka Allah yang akan Allah lakukan pada akhir zaman ini.

  1. Pertama, murka itu bersifat kekal untuk selama-lamanya.  Pembalasan itu akan dilakukan pada saat Tuhan datang yang kedua kalinya, pembalasannNya bersifat kekal, tidak ada akhirnya dan untuk selama-lamanya.  Murka Allah akan dinyatakan  bagi setiap orang yang berdosa yang tidak mau kembali kepadaNya.  Daniel 12: 2 mengatakan bahwa pada akhir zaman "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.". Hukuman kepada orang yang berdosa itu sifatnya kekal dan selama-lamanya. Dalam hidup kita yang sementara ini, bagaimana kita merespon akan panggilan Tuhan, akan menentukan akibatnya dalam kekekalan. Kristus sendiri mengajarkan tentang murka Allah yang merupakan hukuman yang kekal yang akan dialami oleh setiap orang yang tidak percaya kepada Dia.

Di dalam Markus 9, khususnya ayat 43-48, menggambarkan penyiksaan yang kekal  dan selama-lamanya dimana didalam ayat tersebut secara berulang-ulang dikatakan bahwa  ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. [43. Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; 44. (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 45. Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; 46. (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 47. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, 48. di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam]. Dan juga pada Matius  25, Tuhan Yesus juga mengatakan di akhir zaman nanti, Tuhan akan mengumpulkan segala bangsa dan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,  dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

Di Alkitab berkali kali dikatakan bahwa orang yang terus berdosa dan tidak mau bertobat akan menerima hukuman atau murka Allah yang kekal dan selama-lamanya. Sungguh mengerikan! Ada orang bertanya: bagaimana dengan dosa  yang saya lakukan dalam hidup yang sementara ini, yang mungkin hanya 70 atau 80 tahun saja? Apakah Tuhan cukup adil untuk menghukum saya selama-lamanya atau mendapat hukuman murka Allah yang kekal? Persoalan ini dijawab oleh  Jonathan Edwards yang mengatakan bahwa keseriusan dosa itu bukan ditentukan oleh jangka waktu atau lamanya namun keseriusan dosa itu ditentukan oleh kepada siapa kita berbuat dosa. Jika kita berbuat dosa atau melawan Allah yang suci, Allah yang tak terbatas, maka kita akan menerima hukuman yang tak terbatas. Kita harus menyadari bahwa dosa yang dilakukan manusia ialah dosa yang melawan Allah yang mulia, Allah yang adil, Allah yang berkuasa. Dan orang yang berdosa kepada Allah layak mendapat hukuman yang kekal dan selama-lamanya.

2.  Kedua, murka Allah sangat mengerikan. Ayat-ayat yang menggambarkan kengerian orang berdosa yang mendapat hukuman yang kekal dapat dibaca dalam Matius 13: 41-42,  41. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. 42. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Berkali-kali di dalam Alkitab mengatakan akan hukuman kekal kepada orang berdosa akan dicampakan ke dalam dapur api.   Disana digambarkan ada kepanasan yang ekstrim yang menimbulkkan ratapan dan ada pula kedingan yang ekstrim yang mengakibatkan kertakan gigi. Sebenarnya gambaran ini ingin menyatakan realita yang lebih mengerikan lagi. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kata-kata manusia yang mampu memberikan gambaran yang lebih ngeri lagi. Biarlah realita ini mampu menggetarkan hati kita.

3. Ketiga, murka Allah ialah murka yang adil dan orang yang menerimanya memang layak untuk menerima murka Allah. Artinya, murka Allah yang kekal ini tidak diberikan secara acak kepada siapapun atau murka Allah yang kekal ini  tidak pernah diberikan kepada orang yang benar, orang yang bertobat dan yang selalu taat kepada Tuhan. Namun murka Allah yang kekal ini akan selalu diberikan kepada orang yang tidak mau menerima kemurahan atau kebaikan Tuhan yang dengan  kekerasan hatinya menimbun murka Allah, terus menerus berbuat dosa, tidak mau bertobat, tidak mau taat serta melawan Tuhan.

4. Keempat, murka Allah yang dicurahkan pada akhir zaman kepada manusia berdosa yang bersifat kekal dan mengerikan itu, sesungguhnya tidak harus dialami manusia jikalau dan hanya jikalau  manusia mau menerima kemurahan/ kebaikan Tuhan, mau  percaya dan beriman di dalam Kristus, mau meninggalkan dosa dan bertobat, serta mentaati perintah Allah. Seperti yang tertulis dalam  Yohanes 3:16 yang mengatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa (tidak menerima murka Allah), melainkan beroleh hidup yang kekal”.  Galatia 3:13 juga berkata “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”.

Agar manusia tidak menerima murka Allah itu, maka setiap manusia yang telah mendengarkan Firman Allah harus sadar dan bertobat, meninggalkan dosa dan kembali kepada Allah. Semoga dengan kesadaran kita akan realita murka Allahitu, dapat mendorong dan memampukan kita untuk mengaplikasikan ayat-ayat yang tertulis di Roma 12: 19-21 dalam kehidupan kita.

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya