Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Bersuka-citalah Senantiasa

Ibadah

Bersuka-citalah Senantiasa

Pdt. Jusak  Widjaja

Pengkhotbah: Pdt. Jusak Widjaja
Date: Minggu, 6 Juli 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: 1 Tes 5:16-18

Di Cina diceritakan ada seorang ibu yang kehilangan putranya. Ia begitu sedih sehingga ia lalu pergi kepada seorang bijak dan bertanya kalau-kalau ia bisa mengetahui keberadaan anaknya. Bukan jawaban yang diberikan, namun orang bijak tersebut hanya memberi ibu itu satu gelas kosong dan memintanya untuk mencari orang yang belum pernah mengeluarkan air mata dan minta air dari dia. Bila sudah dapat air itu maka orang bijak tersebut akan menjawab pertanyaan ibu itu. Setelah satu bulan sang ibu kembali dengan gelas yang masih kosong, dan ia katakan bahwa ia tidak menjumpai satu keluarga pun yang belum pernah menumpahkan air mata.

Ada keluarga yang ditimpa kesusahan, kehilangan pekerjaan, kesulitan bertubi-tubi dan lain sebagainya. Hidup kita penuh dengan tantangan, penuh dengan kesulitan yang kita hadapi. Lihat bagaimana ada sesuatu perbedaan dari penduduk kelas atas dengan kelas bawah, bahkan banyak di antara mereka terjadi pergesekan. Di tengah hidup yang sperti ini, kita seringkali harus mencucurkan air mata. Mungkin bila kita tidak tahu apa yang harus di lakukan kita bisa saja mengambil jalan pintas. Dunia ini sangat menakutkan, sesorang bername Charllote Dawson seorang presenter terkenal tetapi dia mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Ia merekam dengan kamera alasannya mengapa ia mengakhiri hidupnya, ia mengatakan terus di-bully. Ia memiliki semuannya, tetapi ketika dikatakan engkau tidak layak hidup, maka dia di depan kamera, minum obat tidur dan mati.

Bukan hanya di dalam dunia sekuler saja, di dalam dunia pelayanaan pun ada banyak konflik yang sarat dengan intrik-intrik. Hal yang seperti ini bukan baru pertama kali terjadi dan bukan terjadi pada jaman ini saja. Para nabi, rasul dan juga para bapa Gereja pun menghadapi hal yang sama. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka menghadapi semua itu. Saya percaya ini pun akan saudara alami. Sebagai anak Tuhan kalau itu Tuhan ijinkan terjadi kita harus menghadapi kesulitan dan penderitaan. Kita bersyukur banyak pelajaran dari nabi, rasul dan bapa-bapa Gereja yang menghadapi hal demikian dan mereka menghadapinya hanya dengan pertolongan dari Firman Tuhan.

Dalam Efesus 6:11-20 ada 7 perlengkapan senjata iman, salah satu senjata adalah pedang Roh. Senjata yang lainnya adalah untuk bertahan, tetapi Firman Tuhan adalah untuk menyerang dan juga untuk bertahan. Mengapa harus Firman Tuhan? Lewat Firman Tuhan kita mendapatkan kekuatan dan mengalami penghiburan. Di dalam Mazmur 19:8-9 "Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya." Di sini dikatakan Firman Tuhan itu menyegarkan jiwa, memberikan hikmat, menyukakan hati, membuat mata bercahaya. Bahkan dalam 2 Timotius 3:15-16 disebutkan bahwa Firman Tuhan itu untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Firman Tuhan adalah makanan rohani sama seperti makanan jasmani yang kita nikmati. Dalam hal makanan jasmani, kalau kita tidak makan kita merasa lapar tetapi tidak makan, maka kita mulai sakit. Tetapi kalau kita tidak makan Firman Tuhan sebagai santapan rohani, tidak terjadi apa-apa, everything is ok. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah perlahan-lahan kita sudah tidak peka akan suara Tuhan, rohani kita semakin layu dan kering, dan mudah jatuh ke dalam pencobaan dan terseret oleh arus dunia ini.

Kita melihat Firman Tuhan merupakan rahasia kekuatan orang percaya, tetapi ironisnya banyak orang Kristen sekarang lebih banyak mengkonsumsi makanan jasmani dibanding makanan rohani. Seharusnya dengan segala teknologi yang sekarang kita bisa dengan mudah mendengar berbagai kotbah dari mana-mana. Tetapi kita lebih sering memakai smartphone kita untuk social media dan tidak lagi membaca Firman.

Kalau kita perhatikan, Yesus Kristus waktu Dia dicobai iblis (Matius 4:1-11), Dia tidak menggunakan kuasa supra-natural; sewaktu Iblis mengatakan "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti". Jangankan batu, Yesus sanggup mengubah Iblis menjadi roti. Mengapa Yesus tidak melakukan hal ini? Pertama-tama, Yesus mau menunjukkan bahawa Dia bisa mengalahkan Iblis dengan Firman Tuhan yang superior. Tujuan Yesus yang kedua adalah saat kita jatuh dalam pencobaan, dalam keadaan hidup yang begitu terpuruk, kita juga bisa bersandar pada Firman Tuhan. Kita bisa saja berkata, Tuhan Yesus kan Tuhan dan kita kan manusia, bisa jatuh dalam pencobaan. Maka dari itu Yesus memberikan teladan bahwa Dia sebagai Allah dan juga sebagai manusia. Di dalam menghadapi lapar, dia hadapi dengan Firman Tuhan supaya mengingatkan kita untuk mampu menghadapi berbagai pencobaan dengan kekuatan Firman Tuhan.

Banyak orang yang setelah menghadapi pencobaan melakukan tindakan yang bodoh seperti bunuh diri, termasuk juga diantaranya orang Kristen. Kalau kita sadar who is us before God, kita begitu dicintai Tuhan, Yesus mati bagi kita, kita tidak akan melakukan tindakan yang bodoh. Dalam Mazmur 119:105 "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku". Pelita hanya bisa melihat setapak demi setapak dan sekelingnya itu gelap. Di dunia yang kelihatan gemerlap ini di sekelilingnya gelap yang setiap saat siap menjebak anak Tuhan. Maka dari itu kita memerlukan Firman Tuhan.

Berapa banyak saat teduh yang sudah kita lakukan, juga dengan anak-anak kita? Bagaimana dengan melalui internet sekarang pornografi sudah menjadi lintas batas, game-game yang mengajarkan keberingasan, sehingga menghasilkan tiga macam anak: bandel, bringas atau binal. Sebagai contoh beberapa waktu lalu Renggo dipukuli sampai mati oleh kakak kelasnya, padahal mereka baru kelas lima. Kalau kita tidak mempersiapkan anak kita untuk berpegang pada Firman Tuhan, maka jangan kaget kalau anak kita bisa bertindak di luar yang diajarkan Firman Tuhan seperti pernikahan sesama jenis yang sudah diakui di beberapa negara. Dalam hal ini kita harus berperang, mana yang lebih tinggi God's law atau government law? GRII mengajarkan bahwa perintah Tuhan lebih superior di atas hukum manusia termasuk hukum pemerintah.

Kita harus melihat bagaimana Firman Tuhan begitu penting bagi kehidupan kita. Sebagai contoh, Firman Tuhan dari 1 Tesalonika 5:16-18, ini adalah Firman yang sederhana, tetapi yang sering sulit kita jalankan. "Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" Kemudian dari 1 Petrus 5:7 "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu". Dikatakan Bersukacitalah senantiasa, be joyful always. Mengapa tidak dikatakan bersenang-senanglah. Di dalam bahasa aslinya Joy atau Kara/Karete, sedangkan bersenang-senang leisure adalah Hedone. Joy dan pleasure adalah dua hal yang berbeda. Pleasure itu berkaitan dengan kedagingan, sebagai contoh hobi makan akan berhenti ketika dokter bilang pembuluh darah sudah tersumbat, dan kesenangannya harus berhenti. Tetapi Joy sukacita itu tidak terbatas pada yang sementara dan mempunyai eksposure sampai kekekalan.

Paulus mau mengingatkan kehidupan yang dilalui orang percaya penuh dengan pergumulan dengan airmata tetapi kalau hidup ini seperti Anak Raja, seperti yang dikatakan banyak pendeta, ini jelas tidak cocok. Dengan mengatakan bersuka-citalah, ini berarti mengakui secara realita bahwa ada banyak pergumulan. Di dalam Pengkotbah 3:11 disebutkan bahwa Tuhan menaruh kekekalan di dalam diri manusia, di dalam unsur kekekalan ini manusia menyadari bahwa kehidupannya tidak terbatas hanya di dunia ini, tetapi ada satu hidup yang jauh lebih lagi yaitu di dalam kekekalan. Waktu mengerti hal ini, manusia bisa bersuka cita.

Dalam 1 Korintus 15:55 "Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”, maut telah ditelan oleh kemenangan Kristus.  Di dalam kehidupan kita, waktu kita khawatir akan kesehatan kita, ujung-ujungnya adalah kematian. Kematian adalah hal yang paling ditakuti. Tidak ada seorangpun yang berani menantang maut, tetapi mengapa ada orang percaya yang mengatakan hai maut di mana sengatmu? Yesus sudah menang di dalam peperangan. Seperti Kaisar Jepang waktu menandatangani pernyataan kalah pada Perang Dunia 2, dia mewakili seluruh Jepang untuk menyerah kalah. Waktu satu orang jatuh di dalam dosa, yaitu Adam, maka seluruh manusia jatuh ke dalam dosa. Tetapi waktu satu orang yang menang atas maut, yaitu Yesus, maka kita semuanya juga ikut menjadi pemenang. Ini berarti bahwa kematian tidak lagi menakutkan.

Ketika kita menyadari di dalam kehidupan kita menghadapi berbagai pergumulan, kita bisa bersuka cita karena kita tahu yang paling menakutkan itu adalah kematian dan kematian itu sudah dikalahkan. Kita sebagai orang percaya sudah menerima yang paling baik yaitu keselamatan dan hidup yang kekal. Yang lainnya bisa kita lalui dengan tersenyum. Inilah yang dikatakan dengan bersuka citalah senantiasa.

Jika ada anak Tuhan yang tidak bisa bersuka cita maka ada something wrong dengan hidupnya dan something wrong with your faith. Kalau kita sudah terima yang terbaik dalam pengharapan di dalam Kristus kita bisa terus bersuka cita. Mungkin di dalam kehidupan kita tidak mengalami kesenangan seperti orang-orang lain. Tetapi kita bisa bersukacita karena memiliki Tuhan yang menjadi juruselamat kita. Apakah yang lebih berharga daripada kita dimiliki oleh Kristus yang juruselamatkan kita, dimiliki oleh Allah Bapa yang menciptakan kita dan menjamin kita untuk memiliki hidup yang kekal. Kalau kita menyadari ini, kita akan terus bersuka cita dalam hidup yang Tuhan percayakan untuk kita jalani.

Hal yang penting lainnya adalah tetaplah berdoa, ini adalah yang sederhana. Apakah ini menjadi lifestyle kita?. Waktu dikatakan tetaplah berdoa, bukan berdoa sekali-sekali. Di dalam setiap moment kita harus terus berdoa. Bill Hybels pernah mengatkan bahwa esensi doa itu bukan kewajiban, doa adalah kebutuhan. Kewajiban itu bisa ditunda, tetapi kebutuhan itu tidak bisa ditunda seperti bernafas.

Doa adalah nafas orang Kristen. Setelah kita perlu Firman Tuhan untuk makanan kita perlu berdoa. Yesus Kristus di dalam kehidupanNya, pagi Dia berdoa, siang Dia berdoa, semalaman Dia berdoa, karena itu Dia kuat menghadapi banyak percobaan. Waktu Dia dicobai 40 hari di padang gurun, apa yang Dia kerjakan?, menikmati ciptaan Tuhankah? tidak, Yesus menikmati kebersamaan dengan Allah Bapa.

Doa adalah pergumulan untuk menaklukkan kehendak kita kepada kehendak Allah. Kita bersyukur gereja kita ini mengajarkan konsep doa yang benar bukan doa yang seperti suatu alat untuk menodong Tuhan. Ada ibu yang datang kepada pendeta mengeluh akan sakit rematik. Pendetanya meminta untuk ibu itu untuk berdoa semalam suntuk. Setelah doa semalam suntuk ibu itu belum baik, lalu pendetanya meminta ibu itu untuk berpuasa. Setelah berdoa semalam suntuk dan berpuasa penyakit ibu itu tidak membaik malah dia kena sakit maag. Pendetanya meneruskan dengan meminta ibu itu untuk intropeksi diri selama beberapa hari. Setelah maag ibu itu malah menjadi depresi juga dan tidak menyembuhkan penyakitnya. Doa seperti ini seperti menodong Tuhan. Tuhan tidak bisa ditodong seperti demikian. Kalaupun ada doa yang dijawab setelah doa puasa semalam suntuk, itu karena sesuai dengan rencana dan waktu Tuhan.

Yesus mengatakan Ya Abba ya Bapa (lihat Galatia 4:6), ini mengajarkan Christianity is not only religion, Christianity is also relation. Maka kita bisa menyebut Allah itu sebagai Allah yang berkuasa, tetapi kita bisa menyebut-Nya sebagai Bapa. Ya Abba Ya Bapa artinya adalah Engkau adalah Allah pencipta yang luar biasa yang menciptakan dari yang ada menjadi ada, Dia sebagai Allah Dia juga sebagai Bapa. Yesus kemudian berkata, bagimu tidak ada yang mustahil, baru kemudian Ia mengajukan petisi " jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” Permintaan Yesus tidak berhenti sampai di sini, “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Ini adalah doa yang utuh. Banyak orang yang berhenti sebelum kalimat ini. Yesus ketika mengajukan permohonan tetap mengatakan kalimat ini.

Kita harus melihat isi petisi itu apa. Ada empat macam doa: untuk meminta ampun dosa, untuk meminta berkat, untuk mengucap syukur dan untuk doa syafaat. Di antara keempat macam ini yang paling banyak kita doakan adalah yang pertama dan yang kedua. Yesus mempunyai keinginan pribadi "Kalau boleh lalukan cawan ini daripadaku". Waktu dosa itu ditimpakan kepada-Nya, terjadi perpisahan antara Allah dengan Dia, maka Dia berkata (Matius 27:46) "Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku".  

Penderitaan kita tidak seberat Yesus Kristus, buat banyak orang ditinggalkan oleh Allah atau tidak itu tidak ada pengaruh, tetapi kalau kehilangan kekayaan dan sebagainya, baru terlihat dampaknya. Dalam Westminster Cathechism, what is the chief end of man? To Glorify God and enjoy Him forever,  untuk memuliakan Tuhan dan menikmati kebersamaan dengan Dia selamanya. Bukan enjoy His blessings forever. Kalau Yesus tetap ngotot meminta Tuhan untuk malalukan cawan itu daripada-Nya dan Tuhan mengabulkannya apa yang terjadi? Kita semua binasa. Tetapi justru saat Yesus memiliki keinginan pribadi Dia tidak self-centered, Dia tahu Anak Manusia datang untuk menyelamatkan manusia. Karena itu biarlah kehendak Bapa-Nya yang jadi.

Kitapun belajar bukan hanya berdoa yang self-centered, tetapi kita juga berdoa syafaat. Seringkali doa kita seperti seorang CEO,  “Bapa, ibu Yohana sedang sakit, tolong tilik Dia Tuhan, beri kekuatan dan penghiburan, saya sibuk banyak urusan kantor.” Jarang ada yang berdoa, “Bapa utuslah saya untuk menguatkan Dia.” Tuhan kita menjadi seperti office boy, kita sebut Tuhan Bapa di Surga tetapi Tuhan harus melakukan yang kita mau.

Daud yang begitu dekat dengan Allah, waktu memasuki istana dia berkata, Tuhan siapakah aku ini sehingga Engkau percayakan kepadaku singgasana yang begitu besar, apa lagi yang belum aku lakukan? Pernahkah kita berdoa seperti ini?

Yang ketiga, mengucap syukur dalam segala hal. Artinya di dalam segala sesuatu yang terjadi kita mengucap syukur karena segala sesuatu yang kita alami tidak ada yang luput dari perhatian Tuhan. Kadang kita baru mengucap syukur baru setelah mengalami sesuatu yang spektakuler seperti sembuh dari stroke. Tetapi adakah kita mengucap syukur di dalam hal-hal yang biasa? Setiap hari kita harus berdoa kalau Tuhan ijinkan kita satu hari biarkan saya untuk menjalankan hidup untuk menggenapi rencana Tuhan dan memuliakan nama-Mu. Kehidupan hari lepas hari itu adalah anugerah. Kita harus mengucap syukur dalam menghadapi hal yang spektakuler, atau hal yang biasa, bahkan dalam menghadapi kesulitan.

Waktu Israel menyeberangi laut terberau, Israel mengucap syukur. Tetapi apa yang mereka lakukan sebelumnya?, mereka memarahi Musa karena membawa mereka keluar dari Mesir. Dengan kata lain mereka memarahi Tuhan juga. Kita juga sering memarahi Tuhan waktu menghadapi kesulitan. Tidak ada satupun yang kita alami yang ada di luar pengetahuan Tuhan. Jika Tuhan ijinkan untuk mengalami kesulitan ini tolong Tuhan kasih tahu saya apa yang harus saya lakukan di sisa hidup saya.

Inilah yang Fanny Crosby lakukan. Ketika dia buta saat kecil, dia tidak complain kepada Tuhan. Sebaliknya dia bertanya kepada Tuhan, bagaimana dia bisa mengisi hidup ini sehingga hidupnya dapat menjadi saluran berkat dan senantiasa memuliakan Tuhan.

Kalau kita menengok ke belakang kita bisa melihat banyak hal yang sudah Tuhan atasi, tetapi kita tidak berdoa sehingga tidak kita rasakan dan lewat begitu saja. Kita sering seperti melihat satu titik yang hitam di kertas, yang terus kita lihat, kita lupa sudah banyak titik-titik hitam yang sudah Tuhan hapus. Kita anggap bahwa itu sudah hal yang lumrah dan kita tidak perlu mengucap syukur.

Ada seorang janda yang ditinggal suaminya, berjualan kue untuk menghidupi sembilan anaknya yang masih kecil. Dia tidak pernah mengeluh kepada Tuhan, dia membuat kue setiap pagi kemudian pergi ke Gereja ikut persekutan doa pagi, ikut menyambut jemaat dan memberikan buku nyanyian kepada jemaat yang datang. Tuhan tidak buta, di dalam kekurangan, anaknya jadi satu persatu dan semuanya beres. Sementara banyak orang yang uangnya cukup banyak tetapi banyak anaknya yang gagal. Banyak orang yang sudah begitu banyak mendapat berkat tetapi tidak mengucap syukur, malah sebaliknya banyak mengeluh kepada Tuhan dan menganggap Tuhan tidak mendengarkan doa mereka.

Yang terakhir, serahkanlah kekuatiranmu pada Dia yang memelihara kamu karena kekuatiran itu bukan sahabat bahkan menjadi beban bagi kita. Kekuatiran itu seperti backpack yang setiap hari kita gendong dipunggung kita. Yesus sendiri datang sebagai orang biasa yang dalam kemiskinan mengalami penderitaan dan dikhianati oleh orang-orang yang paling dekat. Ketika kita mengatakan segala kesulitan kita, Dia dapat mengerti segala pergumulan kita. Dari sini kita belajar melihat bahwa jika orang yang tidak percaya mengalami bencana dan kesulitan, kitapun juga mengalami hal itu. Bohong kalau dikatakan anak Tuhan tidak ada kegagalan dan sakit-penyakit, itu adalah teologi yang tidak benar. Kita bersyukur akan hamba Tuhan yang bukan hanya mengerti teologi tetapi juga memiliki dedikasi untuk melayani jemaat. Kita harus mengerti Alkitab seperti apa yang Alkitab itu sendiri inginkan bukan sekadar seperti apa yang hamba Tuhan ingin artikan.

Kita hanya boleh kuatir ketika Tuhan meninggalkan kita. Daud bukan takut kehilangan kekuasaan, kekayaan dan kepandaian, tetapi Daud takut ditinggalkan Tuhan. Kita tidak perlu stress jika tidak membawa minyak urapan dan bukan bersama dengan Tuhan. Serahkan segala kekuatiaranmu kepada Dia yang memelihara kamu. Allah kita tidak menghindarkan kita dari badai kehidupan, Ia tidak membuat kita lepas dari kesulitan yang ada. Tuhan mengijinkan kita menghadapi segala kesulitan. Tetapi hidup kita tidak terombang ambing karena ada tangan Tuhan yang memegang dan menguatkan kita.

Maukah kita menjalankan perintah Tuhan? Hanya butuh ketaatan, tetapi kadang-kadang kita susah taat sehingga Tuhan perlu kasih contoh. Seperti contoh burung Gagak, yang sebenarnya burung yang paling rakus tetapi Tuhan menyuruh burung gagak untuk membawa daging untuk nabi Elisa. Burung gagak saja taat, apalagi kita adalah the image of God, mengapa kita susah mentaati Tuhan? Kalau kita tidak mentaatinya maka Tuhan akan mengenakan ukuran dan mengajar kita sesuai dengan takaran iman yang sudah Dia berikan.

Ketaatan adalah tanda kasih kita kepada Tuhan. Yohanes mengatakan kita melakukan perintah Tuhan sebagai bukti kasih kita kepada Tuhan yang sudah mengasihi kita terlebih dahulu. Perintahnya mudah, yang membuat sulit adalah pertama perintah itu bertentangan dengan kehendak kita, dan yang kedua karena kita tidak mengasihi Tuhan lebih besar daripada mengasihi diri kita sendiri.

Baiklah kita menggumuli pribadi-demi pribadi. Sudahkah kita bersuka cita dalam segala hal, untuk mengucap syukur dalam segala hal dan menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan yang memelihara kita.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Mauritz Nainggolan


Ringkasan Khotbah lainnya