Ibadah

Hospitality

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 29 Juni 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:13. Mat 25:31-40

Mari kita kembali ke dalam kitab Roma 12:13 "Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!". Tema kita kali ini adalah hospitality. Prinsip Firman Tuhan ini begitu jelas sehingga kita bisa menganggap tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tetapi sesungguhnya tema hospitality ini begitu besar. Di dalam konteks hidup di dalam jaman ini, dalam jaman post-modern khususnya, tema hospitality ini adalah penting sekali. Orang-orang post-modern sangat peka terhadap tema ini. Di dalam buku-buku mereka, para filsuf dan pengamat post-modern seperti Jacques Derrida sangat banyak mengangkat tema hospitality.

Banyak orang-orang post-modern adalah orang-orang yang peka terhadap violence karena mereka adalah orang-orang yang mengalami aniaya dari jaman Nazi. Mereka dan keluarga mereka mengalami pembunuhan dan kekerasan di dalam perang dunia kedua. Sehingga violence ini adalah antitesis daripada hospitality.

Kalau kita pikirkan di dalam jaman kita sekarang ini maka violence bukan hanya terjadi di Perang Dunia II atau di perang di Irak. Bom tiba-tiba meledak bukan hanya di negara-negara yang mengalami peperangan tetapi juga di negara-negara maju. Demikian juga di jalan, di sekolah, di keluarga, bahkan di gereja juga bisa terjadi violence. Karena itu seorang penulis reform, Hans Boersma menulis buku "Violence, Hospitality and the Cross", yang mengangkat tema-tema yang penting daripada jaman post-modern dan bagaimana gereja menjawabnya di dalam Salib Kristus.

Saya memulai dengan sharing pribadi, di dalam kehidupan keluarga kami, setelah 8 tahun tinggal di Australia ini, juga lebih dekat dengan hospitality. Keluarga kami ketika tinggal di Indonesia atau Singapura, hampir tidak pernah ada hamba Tuhan yang tinggal di rumah kami. Tetapi ketika di Australia, banyak hamba Tuhan yang menginap di rumah kami. Juga ada keluarga-keluarga GRII dari mana-mana yang boleh menginap kami terima dengan senang hati. Kita menyambut mereka untuk menginap dan ngobrol dengan akrab selama mereka tinggal.

Waktu kita mengerjakan hospitality ini, sebenarnya not-that-simple, karena kita hidup dalam dunia yang berdosa dan resource kita sangat terbatas. Konsep hospitality jauh lebih besar daripada sekedar memberi tumpangan.  Kalau kita menyambut satu keluarga maka kita tidak bisa menampung keluarga lainnya. Dalam dunia ini begitu banyak yang membutuhkan hospitality tetapi kita tidak bisa melakukannya karena resource kita terbatas. Terlebih lagi di dalam dunia yang berdosa, hidup yang self-centered, maka sebenarnya yang lebih banyak terjadi adalah violence. Kalau kita taruh beberapa anak kecil dengan satu mainan di ruang yang sama, mereka pasti bertengkar memperebutkan mainain tersebut. Dari kecilpun manusia tidak perlu diajar untuk melakukan violence. Karena itulah sejak anak masih kecil, kita harus mengajari mereka untuk saling menolong.

Ravi Zakharia pernah berbicara kepada seorang pemimpin Hamas, yang memiliki anak yang menjadi suicide bomber. Ravi mengatakan "Kita berbicara di tempat ini, namun tidak jauh dari tempat ini ada satu tempat yang bernama Golgota, di mana Anak Allah yang tunggal dikorbankan di situ, mati untuk menghentikan violence. Sampai engkau dan saya menerima Kristus Anak Allah yang dikorbankan, kita akan terus mengorbankan anak-anak kita".  

Inilah sebenarnya jantung dari pada Hospitality: Allah telah datang ke dunia di dalam Kristus untuk mengundang kita berbagian di dalam persekutuan dengan Dia selama-lamanya. Seluruh hospitality yang kita lakukan hanya masuk akal di dalam hospitality yang Allah telah kerjakan bagi kita. Karena Tuhan sudah melakukan hospitality kepada kita maka sebenarnya itulah yang boleh membuat kita melaksanakan Roma 12:13.

Seperti dikatakan dalam ayat sebelumnya dalam Roma 12:1, “… demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu…” kita harus mengerti tentang apa yang telah Allah kerjakan bagi kita.  karena Tuhan sudah menyatakan hospitality-Nya kepada kita maka kita boleh melakukan hospitality kepada orang lain.

Di dalam dunia yang berdosa ini, Hospitality yang Allah kerjakanpun sebenarnya mengandung unsur violence. Kristus mati di atas kayu salib, ini adalah violence yang terbesar yang bisa dilakukan manusia kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Tetapi melalui itulah Tuhan boleh menghentikan violence yang selanjutnya sehingga manusia khususnya yang menerima anugerah dan belas kasihnya, boleh menjadi hospitable kepada satu dengan yang lainnya.

Sebelum manusia jatuh di dalam dosa, tidak ada violence, semuanya hospitable, dari Tuhan yang menciptakan semuanya, menciptakan manusia untuk berkuasa atas segala ciptaan. Waktu Tuhan memberikan Hawa kepada Adam, Adam menyambut Hawa dengan suka cita yang besar, menyadari betapa pemberian Tuhan adalah sangat berharga dari segala seluruh ciptaan. Adam tahu Hawa adalah pemberian Tuhan yang paling berharga, bersyukur dan berelasi dengan Tuhan dengan begitu baik. Relasi Adam dengan Tuhan, dengan manusia dengan semua ciptaan begitu baik. Hospitality terjamin di segala tempat sebelum manusia jatuh di dalam dosa.

Tetapi setelah manusia jatuh maka kehadiran Tuhan tidak menjadi damai. Adam takut dan bersembunyi dia mulai menyatakan violence terhadap Tuhan. Adam melakukan violence dengan kata-kata "Perempuan yang Kau-tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan" (Kejadian 3:12). Adam menyalahkan Tuhan, menyalahkan Hawa. Sejak manusia jatuh di dalam dosa, violence terus terjadi, dimulai dengan Kain membunuh adiknya Abel, dan seterusnya sampai sekarang.

Tetapi sejak manusia di dalam dosapun, Tuhan sudah berjanji untuk menghentikan violence, sebagaimana ditulis di dalam Kejadian 3:15, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Anak Allah yang tunggal harus menerima violence di atas kayu salib untuk menghentikan violence. The death of the death in the death of Christ. Kematian yang dihentikan di dalam kematian Kritus. Itu adalah puncak violence di dalam hidup manusia.

Gereja melanjutkan pekerjaan Kritus untuk memperdamaikan dunia dengan diri-Nya, pertama-tama dengan jalan memberitakan Injil. Ini adalah Hospitaility of the Gospel. Ketika Pdt. Dr. Stephen Tong pergi mengajak orang untuk bertobat, menyadarkan orang bahwa Tuhan memanggil mereka untuk boleh kembali, apa yang Pak Tong kerjakan adalah teriakan hospitality.

Kita mau memfokuskan hospitality di antara orang-orang kudus seperti di dalam Roma 12:13. Hospitality di antara orang-orang kudus menjadi showcase daripada hospitality. Orang-orang yang sudah diberikan hidup yang baru boleh memancarkan hospitality itu di dalam hidup kita sebagai tubuh Kristus. Kristus sudah memberikan hospitality dengan menyelamatkan kita maka kitapun harus memberikan hospitality kepada satu dengan yang lain, seperti ada tertulis didalam Yohanes 13:35, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”.

Hospitality menjadi bagian kasih yang lebih luas. Konteks dari Roma 12 adalah kasih dan hospitality adalah salah satu aplikasinya. Ibrani 13:2 mengatakan "Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." Ayat memberi dorongan kepada kita untuk melakukan hospitality kepada saudara-seiman. Ini menjadi showcase, kalau tidak, kita tidak bisa melakukan hospitality kepada orang-orang di luar saudara seiman.

Matius 25:31-40 mendorong kita untuk melakukan hal yang sama, Tuhan Yesus mengatakan "Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?”.  Maka Tuhan Yesus mengatakan, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Dorongan kedua adalah ketika kita mentaati hospitality kepada orang-orang asing yang kita tidak tahu tetapi kita tahu bahwa itu saudara kita. Sekali lagi di sini penekanannya adalah tentang hospitality kepada orang-orang Kristen. Ketika engkau melakukan hospitality kepada orang-orang yang paling hina ini Engkau melakukannya untuk Aku. Memang kita diperintahkan untuk mengasihi semua orang, tetapi penekannya adalah pada orang-orang Kristen. Yesus adalah kepala daripada gereja, kalau engkau melakukannya kepada salah satu saudara-Ku Engkau melakukannya bagi-Ku.

Sebaliknya kepada orang-orang yang berada di sebelah kiri-Nya (Mat 25:41-45) ”Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Secara praktis kita boleh melakukan hospitality. Setiap tahun banyak student yang baru datang ke Australia, kita boleh menyambut mereka, mengadakan Welcoming Day, secara genuine mengenal mereka dan memberitakan Injil kepada mereka. Juga boleh menolong mereka di dalam hal-hal yang praktis. Program orang tua rohani juga merupakan salah satu dari perintah ini.

Kita boleh membantu sama yang lain, kita boleh melakukan Hospitality of the Gospel. Ketika Injil diberitakan itu juga merupakan hospitality yang boleh kita kerjakan. Kepada orang luar, kita boleh mengajak mereka mengenal the ultimate hospitality yaitu Tuhan yang mengundang kita untuk bersekutu dengan Anak-Nya sampai kekekalan.

Yang terakhir, ketika kita menghampiri meja Tuhan untuk menerima perjamuan kudus. Ini sebenarnya adalah the “Climax of the Hospitality.” Hans Boersma mengatakan In real sense God's hospitality finds its climax in the celebration of the Eucharists. Di dalam makna yang sesungguhnya bahwa hospitality dari Allah menemukan puncaknya di dalam perjamuan suci. Mengapa demikian? Karena di dalam perjamuan suci, sebenarnya Tuhan mengundang kita untuk makan, bersekutu, berbagian di dalam anugerah-Nya. Ketika kita mengundang makan orang lain di rumah kita, di semua kebudayaan, itu menjadi tanda persekutuan, tanda bahwa kita adalah saudara. Di dalam perjamuan Kudus, Kristus menjadi tuan-rumah dan dia mengundang kita, mengundang setiap orang yang percaya dari segala tempat dan denominasi, yang sudah dibaptis, untuk bersekutu di dalam perjamuan, mengingat Tubuh Kristus yang sudah diserahkan bagi kita, darah-Nya yang sudah dicurahkan bagi kita. Kita boleh makan dalam persatuan sebagai satu tubuh, dan Tuhan-lah yang menjadi tuan rumah yang mengundang kita dalam perjamuan suci ini.

Kitab Lukas sangat banyak memceritakan hospitality antara Allah kepada kita dan antara kita satu sama lain. Ini adalah salah satu tema yang besar di dalam kitab Lukas. Ada seorang penulis yang menghitung ada 51 peristiwa di dalam Injil Lukas yang memiliki motivasi makan. Beberapa di antaranya, Lewi pemungut cukai, ketika Tuhan memanggil dia, dan Lewi meninggalkan pekerjaannya dan hari berikutnya dia mengundang Yesus datang ke perjamuan di rumahnya. Lewi mengundang tukang pajak yang lain untuk datang dan Tuhan Yesus menjadi tamu agung untuk memberitakan Injil kepada teman-temannya. Kepada Zakheus, Tuhan Yesus menyuruh dia turun dan Zakheus menerima Tuhan Yesus dengan sukacita di rumahnya. Tuhan Yesus juga tiga kali diundang oleh orang Farisi, dan Tuhan Yesus tahu bahwa motivasi mereka adalah untuk menjebak Dia. Tetapi tidak pernah sekalipun Yesus menolaknya meskipun Dia mengetahui motivasi mereka. Tuhan Yesus datang ke perjamuan mereka untuk membongkar kemunafikan mereka, membongkar hati mereka yang sudah violence kepada pemungut cukai dan pelacur, padahal hidup mereka sendiri penuh dengan dosa. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan domba yang hilang, dirham yang hilang, anak yang hilang di dalam kitab Lukas sebagai respons dari kemarahan orang Farisi karena Yesus menyambut orang berdosa dan makan dengan mereka.

Miroslav Volf menceritakan pengalamannya ketika kecil di keluarganya ada seorang pria yang selalu ikut kepada mereka setelah perjamuan suci di gerejanya. Ia agak tidak senang dengan pria itu karena orang itu datang dari culture yang berbeda. Ketika ia bertanya kepada orangtua nya, maka orangtuanya mengatakan seperti Allah telah menyerahkan tubuh-dan darah-Nya maka kita harus menjamu orang itu juga. 

Ketika kita menghadiri perjamuan suci, bolehlah kita juga ingat bahwa perjamuan ini adalah antisipasi dari pesta anak domba Allah. Bolehlah kita besyukur atas hospitality Allah dan kita boleh melakukan hospitality satu dengan yang lain. Biarlah perjamuan kudus mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah menerima kita di dalam perjamuan dan kita boleh menerapkan hospitality juga kepada saudara-saudara seiman, kepada orang-yang lain. Di dalam konteks kita masing masing bolehlah kita membagikan hospitality kepada orang-orang lain. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Mauritz Nainggolan


Ringkasan Khotbah lainnya