Ibadah

Self Deception

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 20 Juli 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:16-18

Pembacaan ayat-ayat Alkitab ini adalah aplikasi daripada Roma 1-11.

Dalam minggu ini kita banyak mendengar berbagai berita tragedi mengenai peperangan di banyak tempat,  pesawat Malaysia Airlines yang ditembak jatuh, juga ketegangan di Indonesia atas pemilu dan hasilnya yang semuanya menjadi antithesis dari ayat-ayat di atas.

 Charles Colson (penasehat khusus dari Presiden Richard Nixon) mengatakan: “every human being has an infinite capacity for self-rationalization and self-delusion”. Setiap manusia memiliki kapasitas yang tak terbatas untuk merasionalisasi diri dan menipu diri sendiri. Kita terjebak dalam situasi tertentu sehingga kita begitu yakin apa yang kita lakukan adalah benar. Ada begitu banyak tekanan sehingga kita tidak pernah mengambil waktu untuk berhenti dan berpikir: apakah ini sungguh-sungguh benar sesuai firman Tuhan; apakah ini sungguh-sungguh benar sesuai hati nurani yang bersih; atau sebenarnya situasi sekarang, keadaan yang kita lihat sekarang ini sebenarnya mendorong kita untuk membenarkan diri dan merasionalisasi perbuatan yang kita lakukan.

Paulus memberi peringatan yang besar kepada kita bahwa berbahaya sekali kalau kita tidak memeriksa hati kita, tidak membongkar hati kita, tidak berhenti sejenak dalam segala hal yang kita lakukan. Walaupun kita datang ke gereja, ikut dalam pelayanan,  ikut dalam segala kegiatan-kegiatan rohani tapi kalau kita tidak sungguh-sungguh dalam hal yang benar, maka kita hanya melakukan segala sesuatu dalam bentuk luarnya/fenomena saja tapi hati kita tidak benar di hadapan Tuhan, tidak sungguh-sungguh memuliakan dan meninggikan Tuhan. 

 Ada 3 ujian/ciri supaya kita tidak jatuh kepada self-deceived / wise in our own eyes:

  1.  Ayat ke 16 “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana“.  Maksud dari ayat ini adalah janganlah kita mengganggap diri kita tinggi, sombong, mengganggap diri lebih tinggi dari yang seharusnya.

Ciri dari orang yang tidak self-deceived adalah

    • Orang yang tidak sombong. Orang yang sombong adalah orang yang self-deceived karena dia tidak sadar bahwa semua yang dia miliki adalah dari Allah.
    • Orang yang bergaul dengan orang-orang atau hal-hal/pekerjaan yang sederhana.  Orang yang mengambil pekerjaan yang sederhana adalah tanda dari orang yang mengenal diri, merendahkan diri. Artinya tidak ada pekerjaan yang terlalu hina buat kita. Kita harus  mengerti dan meneladani Kristus yang sudah merendahkan diriNya dari tempat yang begitu tinggi, yang mulia, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan tetapi Dia mengosongkan diriNya, turun ke dalam dunia menjadi sama dengan manusia, menjadi hamba, melayani dan setia sampai mati di kayu salib. Aplikasinya adalah kita bergaul dengan orang-orang yang sederhana; tidak memandang status dan mengarahkan diri kita kepada perkara-perkara yang sederhana.

2.  Ayat 17 b. “…Lakukanlah apa yang baik bagi semua orang”

Orang yang self-deceived dan menganggap diri wise in his own eyes tidak perduli kepada orang lain, tidak perduli berapa banyak orang yang sudah terluka dari apa yang dia kerjakan, lakukan, katakan, tidak perduli orang yang sudah mundur dari pelayanan karena dia. Tapi tanda dari orang yang tidak self-deceived adalah perduli dan melakukan apa yang baik bagi semua orang (give thought to do what is honorable, right, beautiful in the sight of all men). Bukan berarti kita melakukan apa yang baik itu dengan standard daripada orang yang berdosa. Tetapi artinya adalah seperti apa yang Paulus katakan dalam 2 Korintus 8:21: “Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.”. Jadi Tuhan lah yang utama, yang menentukan apa yang benar, baik, indah, mulia; standard Tuhan itulah yang kita lakukan. Bukan hanya berkaitan, berkenan dengan Tuhan, tapi kita juga berusaha, berjuang, berdoa, berharap supaya orang-orang melihat perbuatan baik, mulia, benar, indah yang kita lakukan dan memuliakan Bapa di surga.

 3.  Ayat 18 : “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”

Perintah dalam ayat 18 ini adalah perintah yang sangat realistis. Paulus menuliskan  dalam ayat ini “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu tergantung padamu ….. “. Artinya di tengah-tengah dunia ini ada waktu-waktu tidak mungkin/tidak bisa berjalan hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Hal ini karena:

    • Perdamaian itu juga tergantung pada orang lain (2 pihak/sisi). Orang Kristen yang mengenal dirinya di hadapan Allah akan berjuang melakukan apa yang baik bagi semua orang, bergaul dengan orang-orang yang sederhana melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana, bersukacita dengan orang yang bersukacita, menangis dengan orang yang menangis. Tetapi bagaimanapun kita berusaha hidup dalam perdamaian, itu tidak selalu akan terjadi.
    • Tidak mungkin ada damai sejahtera sejati tanpa kebenaran. Alkitab mengajarkan perdamaian sejati adalah perdamaian yang harus ada di dalam kebenaran, bukan kompromi terhadap kebenaran atau kompromi dengan segala apa yang Alkitab katakan demi untuk damai. Selain kita harus mengatakan kebenaran dalam kasih, kita juga harus mengasihi dalam kebenaran. Ini 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Kebenaran Injil lebih berharga daripada damai di antara manusia. Damai sejati hanya ada di dalam Kristus.

Kristus sendiri ketika datang ke dalam dunia, Dia sendiri adalah raja damai.  Dia datang untuk memperdamaikan manusia dengan Allah juga memperdamaikan antara manusia dengan sesama manusia yang lain.

Sebagai anak-anak Tuhan yang sudah mengalami damai yang dari Allah, mengerti anugerah Tuhan, belas kasihan Tuhan, pekerjaan Tuhan dalam hidup kita maka kita akan tidak menjadi sombong, bergaul dengan orang-orang yang sederhana, melakukan apa yang baik bagi semua orang dan sedapat-dapatnya berjuang kalau hal itu tergantung pada kita untuk hidup dalam damai.  

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya