Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Bersukacitalah dalam Pengharapan

Ibadah

Bersukacitalah dalam Pengharapan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 22 Juni 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:12

Saya akan mulai dengan share tentang buku Torture for Christ, tentang pengalaman Richard Wumbrandt. Suatu kali dia bertemu di dalam penjara dengan seseorang yang percaya karena pelayanan Richard, tetapi dia ditangkap oleh pihak komunis, dan dipenjarakan bersama-sama dengan Richard dalam satu sel. Waktu dia ditangkap dia meninggalkan enam anak dan istri. Anak istrinya hidup sangat susah sekali, karena dia sebagai bread-winner, anak istrinya mungkin sekali kelaparan, dan mungkin mereka tidak pernah bisa bertemu lagi dengan dia. Waktu di dalam penjara Richard bertanya kepada pria ini "Apakah engkau menyesal bahwa saya membawamu kepada Kristus?", Richard mau mengetahui sedalam hatinya apakah dia menyesal menerima Tuhan. Maka dia menjawab dengan suatu kalimat yang indah: "saya tidak mempunyai kata-kata untuk mengekspresikan bahwa saya sangat bersyukur bahwa engkau telah membawa saya pada juruselamat yang ajaib, I will never have it any other way." Dia dalam segala kesulitan yang dia hadapi tetap ada kesukaan dan pengharapan bahkan sangat bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada Richard untuk memberitakan Injil kepadanya.

 Saudara sekalian ini adalah suatu contoh daripada Roma 12:12, Paulus mengingatkan kepada kita hal-hal yang praktis “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, bertekunlah dalam doa”. Kita mau melihat bagian ini sebagai beberapa perintah yang terkait sama yang lain: ada perintah tentang bersuka cita dalam pengharapan, tentang sabar dalam kesesakan dan tentang bertekun di dalam doa. Apa yang mengkaitkan ketiga perintah ini?

 Ada kata-kata tentang suka-cita, pengharapan, sabar, kesesakan, ketekunan dan doa. Tetapi kalau kita memperhatikan seluruh ayat ini, maka sebenarnya ada satu yang berbeda dari yang lainnya. Kata-kata suka-cita, berharap, sabar, bertekun, berdoa ini bersifat virtue (bersifat baik) yang Tuhan perintahkan kepada kita. Perintah ini adalah hal yang baik jika kita terapkan. Tetapi ada satu kata yang berbeda sendiri yaitu "kesesakan/penderitaan", ini bukan virtue, dan itulah yang menjadi clue bagi kita bahwa kata itulah yang mempersatukan ketiga perintah ini.

 Ketika kita boleh mengerti ketiga perintah ini, kesesakan itu boleh seperti tanah di mana semua virtue ini muncul bertumbuh di dalamnya. Justru kesesakan/penderitaan itu adalah satu tanah di mana pengharapan muncul, kesabaran muncul, suka-cita mencul di mana orang bertekun di dalam doa, karena semua kebaikkan ini muncul di tengah konteks kesesakan/penderitaan.

 Kesesakan/penderitaan adalah sesuatu yang normal di dalam dunia ini, karena manusia sudah jatuh di dalam dosa, dan ketika manusia dalam dosa maka seluruh dunia terkutuk di dalam dosa, dan mengalami akibat daripada dosa. Baik orang Kristen maupun non-Kristen, baik orang percaya maupun tidak-percaya semuanya akan mengalami sakit, konflik, kecelakaan dan yang pasti akan mati. Ini adalah sesuatu yang normal di tengah dunia yang sudah berdosa. Tetapi terlebih lagi bagi orang Kristen, di dalam penderitaan/kesesakan itu Tuhan memanggil kita untuk menderita. Hidup orang Kristen adalah hidup dalam the call to suffering. Tuhan Kristus mengatakan (Mat 16:24) setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Tuhan Kristus sendiri hidup dalam penderitaan bahkan harus memikul salib menuju kematian. Paulus berkata dalam Kis 14:22 kepada Gereja-Gereja baru yang juga dianiaya dan mengalami penderitaan, Paulus mengingatkan bahwa melalui banyak penderitaan engkau akan masuk ke dalam kerajaan Allah. Bahkan Petrus mengatakan dalam 1 Petrus 4:12 "Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu." Jadi ketika kesulitan itu datang khususnya ketika kita mau mengikut Tuhan juga kesulitan yang biasa seperti sakit, dlsb. engkau jangan heran, karena itu adalah sesuatu yang normal, you have to expect it in live. Tidak ada di antara kita yang tidak mengalami penderitaan di dalam segala macam cara dan konteksnya.

 Bagian pertama yang kita harus mengerti adalah bahwa ini normal. Kalau kita mengalami penderitaan karena kita hidup di tengah-tengah dunia yang sudah jatuh dalam dosa, bahkan kalau kita mengikut Kristus kita akan mengalami penderitaan yang lain lagi. Satu hal yang penting juga kalau kita tahu/expect bahwa hidup manusia akan mengalami penderitaan dalam segala bentuknya. Kalau kita merasa bahwa kita tidak harusnya menderita dan semua orang menderita maka kita mulai frustasi. Apalagi kalau kita mengklaim bahwa kita mengikut Tuhan tetapi kita tidak mengalami penderitaan justru itu yang aneh. Karena Paulus mengatakan kepada Timotius (2 Tim 3:12), barangsiapa yang mau hidup beribadah, dia akan dianiaya". Jadi justru aneh kalau kita tidak menderita, dan kalaupun demikian kita harus bertanya apakah benar kita mengikut Tuhan.

Tuhan Yesus adalah orang yang paling baik, paling lembut hati, paling sempurna tidak melakukan dosa apapun tetapi engkau lihat hidupnya begitu banyak kesulitan dan penderitaan. Bagaimana dengan kita, yang mengatakan diri sebagai pengikut Kristus, kita tidak boleh tidak expect bahwa penderitaan itu juga akan tiba kepada kita. Kalau kita expect sebenarnya akan mengurangi kekagetan kita.

Hal yang kedua yang supra-normal adalah bagaimana kita mulai melihat dan mengerti akan penderitaan itu dan bagaimana kita bisa berespon kepada penderitaan yang manusia alami. Inilah yang menjadi supra-normal, bukan ab-normal, kalau ab-normal menjadi aneh; tetapi orang Kristen adalah orang yang supra-normal. Di dalam ayat Roma 12:12, jawabannya adalah bersukacitalah di dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan. Apakah maksudnya bersuka cita dalam pengharapan?

Dalam Roma 5:2-5 “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah,Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”.  Dalam ayat ini kita tahu suka cita Kristen yang sekarang kita alami ini bukanlah sukacita karena bebas dari penderitaan, bukan karena bebas dari kesesakan, bukan sukacita karena bebas dari pergumulan tetapi dustru sukacita di tengah-tengah penderitaan bahkan sukacita karena penderitaan. Ini yang menjadi yang supra-normal.

Ini adalah hal yang paradoks, bagaimana kita bisa bersukacita dari penderitaan, bukankah itu juga adalah akibat daripada dosa. Apakah kita ingin mencari-cari penderitaan atau senang untuk disakiti, atau sakit jiwa. Tetapi di sini Paulus mengatakan justru orang Kristen yang betul mengerti akan rencana Tuhan, untuk menjadi orang yang berbeda, orang yang supra-normal, yang mengatakan bersuka cita karena penderitaan, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menghasilkan ketekunan (persevere - atau sama dengan bersabar), ketekunan menghasilkan karakter yang tahan uji, dan karakter yang tahan uji menghasilkan pengharapan, dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita seakrang.

Kasih Allah dicurahkan SEKARANG sebagai down payment akan kemuliaan Allah yang akan kita terima nanti. Rejoice in hope of the glory of God. Kasih Allah sudah diterima SEKARANG dan tidak mengecewakan; kita akan mengalami kemuliaan Allah dan berbagian dalam kemuliaan Allah, kita boleh masuk dan bersuka cita bersama-sama dengan Tuhan. Inilah pengharapan kita yang boleh membuat kita bersuka cita di dalam penderitaan yang kita alami sekarang. Di sini kita boleh melihat Allah memakai kesengsaraan kita untuk menghasilkan suka cita Kristen yang sejati.

Suka cita Kristen adalah suka cita bukan karena sehat, bukan karena hidup yang lancar, bukan karena kaya, bukan karena dihargai orang. Bolehkah kita bersuka cita karena sehat, lancar, kaya dlsb, boleh, karena itu juga adalah berkat Tuhan dan kita harus bersyukur karena itu. Tetapi kalau sukacita karena semua hal yang baik itu bersaing dengan Kristus dan jika semua itu diambil dan menjadikan kita tidak bersuka cita lagi, maka suka cita bukan bersumber dari Tuhan, tetapi suka cita kita adalah dalam hal-hal yang kelihatan, yang duniawi yang menjadi idol dan berhala dalam hidup kita. Hal-hal yang membawa kita kepada the gift dan bukan kepada Giver. Kalau hal-hal yang baik itu menjadi yang utama the ultimate, sehingga kita tidak menginginkan pemberi dari semua itu, maka itu semua menjadi berhala.

Tuhan kadang-kadang mengambil hal-hal yang baik itu dan mengijinkan kita untuk mengalami sakit, ditipu, dlsb, karena Tuhan ingin kita untuk mengalami suka cita yang sejati, yang bukan karena hal-hal yang baik itu, tetapi suka cita hanya karena Allah sendiri, akan apa yang Allah akan kerjakan dalam hidup kita.

Roma 8:21 berbicara tentang the Glorius freedom of the children of God, kemerdekaan yang mulia dari anak-anak Allah. Apakah kita mengharapkan itu? Penderitaan itu akan membawa kita ke situ, membawa sukacita yang bukan berasal dari dunia ini. Betapa kita sangat mudah untuk bersyukur kepada Tuhan ketika kehidupan kita lancar, uang banyak di bank, boleh datang kebaktian, dlsb. Tetapi begitu kesulitan tiba, sakit, kemiskinan dlsb sebenarnya justru hati kita berduka. Kalau kita mengalami kesulitan, hati kita dibongkar, apa yang sesungguhnya di dalam hati kita. Apa yang menjadi sumber suka cita kita. Itulah sebabnya Ayub diijinkan Tuhan untuk dicobai oleh setan. Seluruh harta dan keluarganya habis. Tuhan sebenarnya setuju dengan perkataan Iblis yang menuduh Ayub (Ayub 1:9-11) "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu“.

Tuhan in a way setuju dengan Iblis karena itu Tuhan ijinkan. Setuju dalam arti Ayub tidak boleh mencintai Tuhan, tidak boleh bersuka cita dan mentaati Tuhan karena Tuhan memberikan semua yang dia inginkan. Siapa yang tidak akan begitu. Kalau Tuhan memberikan kepada semua manusia semua hal seperti yang Ayub terima sebelum dicobai, siapa yang tidak mau mengikut Tuhan? Pasti semua orang pasti mau. Tetapi Tuhan tidak ingin orang mengikut Dia karena menginginkan pemberian-Nya saja. Maka Ayub kehilangan semuanya bahkan kesehatannya, dari kepala sampai kaki semuanya luka-luka. Tetapi Ayub tetap tegar hatinya.

Paulus mengatakan dalam Kor 4:17 “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” Paulus menggunakan kata "ringan" padahal kalau kita membaca hidup Paulus, itu sama sekal tidak ringan, dia dilempari batu sampai hampir mati, ditolak sana-sini. Mengapa ringan, karena penderitaan itu dibandingkan dengan kemuliaan yang jauh lebih besar.

Roma 8:18 mengatakan “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. kata sekarang dikontraskan dengan kekal, jauh lebih besar dan lebih indah daripada penderitaan yang sekarang. Penderitaan yang dialami oleh Paulus dan orang-orang Kristen adalah penderitaan yang menghasilkan pengharapan akan kemuliaan Allah. Justru jika segala hal yang baik itu diambil, penderitaan itu menghasilkan pengharapan akan kemuliaan kekal (2 Kor 4:17).

Sebenarnya penderitan itu mendorong sukacita kita kepada pengharapan akan kemuliaan Allah.  Penderitaan itu memaksa kita untuk membongkar hati kita dan mendorong hati kita supaya akar sukacita kita ada pada pengharapan akan kemuliaan Allah. Tidak ada jalan lain, Allah ingin membawa kita kepada sukacita yang sejati kepada pengharapan akan kemuliaan Allah.

Hal yang indah adalah, sukacita yang akan datang itu akan meluap dan berbalik kepada yang sekarang, kepada yang sedang mengalami kesulitan, memberi kekuatan, meringankan beban bahkan memampukan kita bersuka cita sekarang ini. Pengharapan itu tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita. Ini adalah down payment supaya kita dapat mengalami sukacita sekarang ini.

Penderitan itu dapat diilustrasikan seperti mau mencekram kita, karena iblis berencana untuk menghancurkan kita untuk membawa kita jauh daripada Tuhan. Tetapi di dalam Tuhan kalau kita mengerti akan panggilan Tuhan dalam Roma 12:12 maka sebenarnya Tuhan yang berdaulat atas seluruh penderitaan kita dan Tuhan berkarya. Penderitaan itu menguasai kita, tetapi bagi anak-anak Tuhan, Tuhan memakai penderitaan itu dan menjadikannya menjadi alat-Nya. Menjadi alat bagi kita untuk memaksa pengharapan kita untuk berakar pada pengharapan pada kemuliaan Allah, bukan kepada dunia ini.

Harap ini tidak menjadi teori yang muluk tetapi menjadi sesuatu yang kita renungkan dan terapkan di dalam segala penderitaan yang kita alami. Membuat kita bisa berespon secara supra-natural, memberi kita pengertian dan bahkan boleh bersuka cita di dalam penderitaan karena Tuhan memakai penderitaan itu untuk mengembalikan kita kepada sumber suka cita yang sejati yaitu di dalam pengharapan akan kemuliaan Allah.

Bagian yang terakhir adalah bagaimana dengan kaitannya dengan doa? "Bertekunlah di dalam doa". Bagaimana kebenaran itu sekarang boleh menjadi realita di dalam hidup ini. Bagaimana boleh sukacita kita bukan karena hal hal yang baik di dalam dunia ini tetapi karena pengharapan akan kemuliaan Allah? Kita sudah menerima down payment, kita sudah dibenarkan di hadapah Allah, tetapi belum seluruhnya hidup kita kudus, kita masih bergumul ditengah dunia yang berdosa dengan segala akibatnya. Kemuliaan itu baru akan datang nanti, dan ketika ketika menantikan itu, itulah suka cita kita. Apa yang menolong kita untuk menjadikan sukacita itu realita yang sekarang? Bukan hanya menahan penderitaan itu tetapi juga untuk bertekun dalam menghadapi penderitaan.

Jawabanya adalah kita harus berdoa. Inilah sarana yang Tuhan tetapkan supaya kita boleh mengerti akan pengharapan itu. Doa adalah sarana Allah untuk menopang kita untuk hidup dalam pengharapan akan kemuliaan Allah. Karena itu kita perlu bertekun di dalam doa. Itulah yang dijelaskan dalam Efesus 1:15-19 di mana Paulus berdoa dan meminta kepada Allah "supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkadung dalam panggilan-Nya.”  Paulus melakukan sendiri dengan doanya bagi umat Efesus dan juga bagi kita, dan kita boleh berdoa juga bagi diri kita sendiri, bagi jemaat di sini agar kita boleh berdoa tentang pengharapan ini. Paulus mendoakan dengan tekun tidak pernah berhenti berdoa bagi kamu.

“Tekun berdoa” itu artinya doa itu berkait mempengaruhi seluruh aspek hidup kita, dan doa itu mewarnai segala apa yang kita kerjakan, dan kita tentu harus mengambil waktu khusus berdoa, berkomunikasi dengan Allah, bukan kalau ada waktu saja baru berdoa. Paulus mengingatkan kita untuk berdoa dengan tekun, dan dia sendiri juga berdoa dengan tekun. Paulus dalam doanya meminta kepada Tuhan supaya Dia memberikan roh Hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.

Ini menjadi satu bagian prinsipnya, hanya Roh Tuhan yang memberi hikmat dan wahyu untuk boleh mengenal Dia dengan benar. Kita boleh mengenal Dia, dalam doa dan dalam kesulitan dan penderitaan yang kita alami, dengan kesulitan penderitaan akhirnya kita bisa mengenal rencana Tuhan, mengenal isi hati-Nya dan kebesaran-Nya. Mengenal Dia seperti Bapa yang mendisplin anak-anak-Nya, sebagai hakim yang agung yang suci yang tidak boleh dipermainkan dengan dosa kita. Mengenal Dia melalui doa pribadi maupun melalui persekutuan doa bersama-sama. Kalau tidak datang persekutuan doa, saya bisa bilang bahwa kehidupan doa saudara pasti lebih jelek daripada kalau datang ke persekutuan doa.

Secara umum, 1 Efesus 18-19 menjabarkan “mengenal Dia” dalam tiga bagian:

  • Agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya. 
  • Agar engkau mengerti betapa kayanya kemuliaan yang menjadi bagian orang-orang Kudus. Ini berbicara tentang masa dapan supaya kita mengerti kekayaan kemuliaan bagian yang ditentukan Allah bagi orang-orang kudus.
  • Agar engkau mengerti betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya. Kuasa Tuhan yang tidak bisa dibandingkan.

Kita mengalami ketiga hal ini ketika kita berdoa, kita memerlukan kekuatan Tuhan sekarang di dalam hidup kita supaya mengerti pengharapan akan panggilan dan kayanya kemuliaan Allah. Kita juga harus belajar berdoa sesuai dengan ayat-ayat Alkitab ini, sesuai dengan doa Paulus seperti jemaat di Efesus. Kepastian akan kemuliaan Allah itu menolong kita hari ini, membawa kita terus dapat berjalan di tengah dunia ini, bukan hanya menanggung segala penderitaan itu, tetapi kita boleh bersuka di dalam segala penderitaan yang Tuhan ijinkan terjadi di dalam hidup kita.

Kristus sendiri mengalami hal ini seperti dinyatakan di dalam Ibrani 12: 2 "Yesus tahan menderita di kayu salib! Ia tidak peduli bahwa mati di kayu salib itu adalah suatu hal yang memalukan. Ia hanya ingat akan kegembiraan yang akan dirasakan-Nya kemudian". Di sini penulis Ibrani menegaskan Kristuspun di dalam penderitaan yang Dia alami, Dia who for the joy set before Him endured the cross, Kristus sendri di dalam hidupnya, menjadi teladan, Dia sendiri menahan penderitaan itu karena ada sukacita yang di depan *for the joy set before Him". Dia menanggung segala penderitaan karena ada pengharapan akan sukacita yang di depan dan demi melakukan untuk mengasihi saudara dan saya. Ini juga yang menjadi konteks Roma 12:12, mengasihi itu tidak gampang, apa yang boleh mendorong kita untuk mengasihi di tengah-tengah segala kesulitan: bersuka cita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan dan bertekun di dalam doa.

Marilah kita belajar dan bertumbuh, dan didorong untuk jangan melewatkan Firman Tuhan ini begitu saja, biarlah kita boleh renungkan dan gumuli. Yang pasti harus bergumul dan bertekun di dalam doa. Melalui ini semua kita boleh mengerti akan panggilan Tuhan, dan sukacita di dalam pengharapan di tengah segala penderitaan yang kita alami.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Mauritz Nainggolan


Ringkasan Khotbah lainnya