Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Layanilah Tuhan

Ibadah

Layanilah Tuhan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 15 Juni 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:11-13 2 Tim 1:3-10

Roma 12: 11 mengingatkan kita sebagai orang dewasa  bahwa “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu selalu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”.  Pada kesempatan ini kita akan memikirkan bagaimana sebagai orang Kristen, kita boleh terus setia, serta dengan semangat yang berkobar-kobar dan dengan kerajinan yang tidak kendur dalam melayani Tuhan.  

Kita boleh mencontoh kehidupan Paulus bahwa dia hidup tidak berdasarkan apa yang orang pikir (I don’t care what you think) atau diapun hidup tidak berdasarkan dengan apa yang dia pikir (I don’t care what I think) dimana Paulus tidak menilai dirinya sendiri atau menjalankan hidupnya berdasarkan standar yang dia tetapkan untuk dirinya atau menjalankan hidupnya berdasarkan keinginannya sendiri, namun dia menjalani hidupnya berdasarkan apa yang Tuhan inginkan (I only care what God thinks of me). Paulus hanya peduli dengan apa yang Allah pikir, apa yang Allah inginkan.

Tuhan menilai diri kita dimulai dari anugerahNya, bukan dari kekayaan, kepintaran, ketampanan, kerja keras  atau kehebatan  kita. Kita diselamatkan semata-mata karena anugerah Tuhan. Dimulai dari anugerahNya, dimulai dari  Dia mati bagi kita, dimulai dengan Dia menyelamatkan kita, dimulai dengan Dia memberi hidup yang baru kepada kita.   Dari mati menjadi hidup, dilahirkan kembali menjadi manusia baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya, yang baru  sudah datang. Itulah sola gracia, aku ada sebagaimana aku ada karena anugerah Tuhan.  Tetapi perkataan Paulus tidak berhenti sampai disitu. Paulus mengatakan bahwa “anugerah yang diberikan kepadaku tidak sia-sia, melainkan mendorong aku bekerja lebih giat dari semua rasul”.  Lalu tidak juga berhenti pada kalimat tersebut,  Paulus melanjutkan perkataannya, “tetapi ketika aku bekerja, ketika aku melayani Tuhan,  bukan aku melainkan anugerah Tuhan yang bekerja di dalam aku”.

Jadi bermula dari anugerah Tuhan yang  menyelamatkan kita dan menjadikan kita manusia baru serta memberikan seluruh  yang kita perlukan untuk mendorong kita melayani Tuhan. Dan pada saat kita melayani Tuhan, kita sadar bahwa Tuhan memberikan kepada kita anugerah yang lebih lagi sepanjang perjalanan ketaatan kita kepada Tuhan, from grace to grace.

Kebenaran sola gracia inilah yang mendorong kita mentaati ayat ini (Roma 12:11) yang berbunyi “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendur, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”.  Didalam terang anugerah Tuhan, kita boleh mentaati ayat Roma 12:11  ini.  Ayat ini juga memberi 2 peringatan kepada kita. Yang pertama, jelas sekali kita diperingatkan agar jangan malas, jangan mundur,  jangan loyo, jangan discourage, jangan kerajinanmu kendur dalam melayani Tuhan. Peringatan kedua ialah semangat yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan disini bukanlah semangat pelayanan yang bersifat  duniawi serta berdasarkan kekuatan diri dengan api semangat yang  bukan berasal dari Tuhan,  yang tidak bertujuan untuk melayani dan memuliakan Tuhan.  Dua peringatan ekstrim ini yang harus kita hindarkan.

Kita boleh bersama-sama memikirkan perintah Tuhan yang mengandung peringatan ini. Peringatan pertama, ialah supaya kita tidak jemu-jemu, atau lelah berbuat baik karena kita akan menuai dalam waktu yang tepat jika kita tidak menyerah. Tentu kita pernah merasa lelah, jenuh, bosan, tidak ada kekuatan, berbeban berat, tidak bersemangat dalam melayani Tuhan. Namun kita tidak boleh menyerah dan harus berjuang untuk tidak jemu-jemu berbuat baik.

Kemungkinan  Timotius adalah tipe orang seperti yang tersebut dalam peringatan diatas, yaitu orang yang mudah depresi, semangatnya mudah kendur sehingga Paulus terus mengingatkan, menyemangati dan mendorong  Timotius dalam pelayanannya terhadap Tuhan. Kita bisa membaca isi surat yang ditulis Paulus kepada Timotius  di 2 Tim1:4 "Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. "

Dari ayat-ayat tersebut kita dapat membaca bahwa Timotius orang yang memiliki iman yang tulus ikhlas, berhati lembut, mudah menangis. Dia merupakan orang mudah depresi. Sehingga Paulus menulis di 2 Tim 1:6 "Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.  1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. "

Ayat-ayat ini merupakan dorongan Paulus kepada Timotius yang intinya ingin mengatakan bangkitlah, kobarkan semangat. Selanjutnya bagaimana kita boleh mentaati perintah dalam Roma 12:11 ini? Ialah dengan mengobarkan semangatmu, lakukan, taati Tuhan dan layani Tuhan dengan tidak berhenti, jangan jemu-jemu. Jikalau engkau tidak melakukan itu berarti engkau tidak berjuang melakukan itu sehingga engkau akan mulai kendur, mulai mundur dan kita semakin lama semakin jauh dari apa yang Tuhan kehendaki. Dan hidup kita semakin lama akan menjadi semakin lemah, semakin letih secara rohani. Contoh di kehidupan rohani kita misalnya pada saat baru pulang dari retreat, kita begitu bersemangat melayani Tuhan. Namun setelah beberapa bulan, semangat kerohanian kita menjadi semakin malas, semakin kendur. Secara rohanipun sudah jarang membaca alkitab serta sudah tidak berdoa.  Dan jika ada tanggung-jawab pelayanan, itupun sudah terpaksa dilakukan. Tidak ada hati yang sungguh-sungguh dalam melayani Tuhan lagi.

Sebenarnya ada kemiripan dengan tubuh kita secara fisik misalnya berolahraga. Semakin tidak berolahraga, badan semakin lemas. Badan semakin lemas, kita semakin tidak mau berolahraga. Seperti ada lingkaran setan. Jadi bagaimana jalan keluarnya? Satu-satunya cara ialah tetap dengan berolahraga. Mungkin sewaktu berolahraga, badan menjadi sakit atau lemas. Agar badan menjadi tidak sakit, justru kita harus berolahraga terus, bukan berhenti berolahraga. Dengan berolahraga terus, disamping badan semakin tidak sakit, badan menjadi semakin sehat dan kuat. Badan semakin sehat dan kuat, kita semakin ingin berolahraga. Jadi agar badan sehat dan kuat, tidak ada cara lain yaitu kita tidak boleh bosan dan tidak jemu-jemu, tidak boleh menyerah walau badan sakit atau lemas, kita harus berjuang untuk tetap berolahraga. Kita bisa melihat ada perpindahan dari lingkaran setan ke lingkaran yang baik.

Jadi sekali lagi bagaimana kita mentaati perintah dalam Roma 12:11? Yang pertama dilakukan agar kerajinan kita tidak kendur dan roh selalu menyala-nyala, ialah kerjakan, jangan kendur dan  terus kerjakan, layani Tuhan, never be lacking in zeal, but keep your spiritual fervor, serving the Lord. Filipi 2:12 mengatakan work out your salvation with fear and trembling. Ini panggilan Tuhan bagi kita karena jikalau kita tidak menjalankan itu, semangat kita mulai mundur, mulai lemas, mulai depresi, mulai lebih takut dan hidup kita mulai lebih jauh dari Tuhan, makin tidak berkenan kepada Tuhan. Paulus mendorong Timotius, kerjakan dan bangkit, Tuhan tidak memberikan roh ketakutan tetapi roh kekuatan, roh yang penuh dengan kuasa. Boleh kerjakan semua hal yang Tuhan telah berikan.

Work out your salvation with fear and trembling, bukan work for your salvation. Bukan kerjakan untuk mendapat keselamatan tetapi kerjakan keselamatan yang sudah Tuhan berikan kepadamu. Kerjakan terus keselamatan yang telah kita terima dengan takut akan Tuhan, kerjakan sampai sempurna, janganlah lelah sehingga kita boleh mengalami segala pekerjaan keselamatan itu secara sempurna dalam kehidupan kita.

Sebenarnya kita tahu bahwa dalam mencapai banyak hal dalam kehidupan ini, misalnya saja dalam pekerjaan ataupun studi, jikalau kita tidak sungguh-sungguh berjuang, tidak sungguh-sungguh berusaha atau melakukan yang terbaik, serta tidak rajin maka sebenarnya kita akan sulit maju, kita akan sulit berhasil.  Sama halnya dalam mendidik anak, kita tidak bisa mengajar atau melatih mereka hanya dalam seminggu atau sebulan, tetapi bertahun-tahun, secara terus-menerus dan tidak jemu-jemu, kita mendidik dan membangun mereka. Kesadaran yang sama juga harus kita kerjakan didalam membangun iman dan kerohanian kita bukan? Setidaknya harus sama bahkan lebih sungguh-sungguh lagi, bersemangat dan tidak jemu-jemu dalam mentaati dan melayani Tuhan.

Selanjutnya kita akan memikirkan, alasan apa yang mendorong kita mentaati perintah ini, agar kerajinan kita tidak kendur, roh selalu menyala-nyala, lebih giat atau tidak jemu-jemu dalam melayani Tuhan.

Pertama, ialah kita harus menyadari betapa besar anugerah dan belas kasihan Tuhan kepada kita. Sekali lagi perintah ini tidak bisa lepas dari ayat yang pertama yang selalu menjadi kunci. Karena saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai korban yang hidup. Di dalam terang karunia atas apa yang sudah Dia kerjakan, apabila kita mengerti betapa besar anugerahNya kepada kita, apabila kita mengerti belas kasihanNya, maka hal itu akan mendorong kita, tidak jemu-jemu untuk melayani Tuhan. Karena Tuhan telah memberikan segalanya,  Dia telah menyelamatkan kita dari dosa-dosa, Dia telah mengadopsi kita menjadi anak-anakNya, Dia sudah menghapus hutang sepuluh ribu talenta yang sekalipun kita hidup berkali-kali, kita tak akan sanggup membayarnya. Demi kemurahan Allah, aku menasehati engkau untuk janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

Kedua, menyadari bahwa anugerah Allah yang diberikan kepada kita melalui orang-orang yang setia dan rajin, yang semangatnya tidak kendur, orang-orang yang rohnya menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Contohnya para misionaris, yang sekalipun dengan mempertaruhkan nyawa, mereka rela dan berani datang ke tempat  yang belum terjangkau injil, mereka datang dan bekerja secara underground ke tempat-tempat dimana injil masih dilarang, mereka datang ke tempat dimana penduduknya masih belum beradab dan lain sebagainya. Tidak sedikit dari mereka dihina, ditangkap, dipenjara, disiksa, dianiaya bahkan dibunuh secara keji dalam penyebaran injil. Injil itu tiba dan sampai kepada kita melalui orang-orang yang semangatnya tidak kendur, rajin melayani Tuhan. Tanpa orang-orang ini, kitapun tidak bisa mengenal apalagi menerima injil.  

Salah satu buku yang menginspirasi akan hal ini ialah buku yang berjudul “Tortured for Christ” karya Richard Wurmbrand yang merupakan seorang misionaris Romania dan pendiri Voice of the Martyrs, yang hidup pada masa Romania dibawah kekuasaan Rusia. Dalam buku tersebut dia bercerita tentang pengalaman dia dan beberapa misionaris yang bekerja secara underground dalam penyebaran injil.   Kiranya kita juga boleh membaca buku ini dan menangkap roh dan semangat pelayanan mereka sehingga boleh menjadi pendorong bagi kita terus bergairah, dengan semangat yang tidak kendur, mengobarkan hati kita agar kita terus setia dalam melayani Tuhan.

Ketiga,  kita harus menyadari bahwa selain ada anugerah keselamatan yang kita terima dari Allah, dan anugerah yang kita terima dari orang-orang yang setia dan rajin memberitakan firman Tuhan, ada anugerah Allah lain yang bersifat future (John Piper menyebutnya dengan istilah future grace) dimana kita akan menerima anugerah itu jika kita mentaati Dia. Bukan saja anugerah keselamatan yang merupakan anugerah terbesar yang kita terima dalam masa yang lampau (past), namun akan ada anugerah lain yang akan kita terima di masa yang akan datang (future). Sekali lagi anugerah lain yang akan kita terima di depan tersebut merupakan anugerah yang hanya akan kita peroleh ketika kita sungguh-sungguh taat kepada kehendak Dia, terus berjuang, dengan rajin dan semangat tidak kendur, roh yang menyala-nyala  dalam melayani Tuhan. 

Keempat, agar semangat pelayanan kita tetap menyala-nyala dan tidak kendur maka kita harus menyadari bahwa kita itu sedang melayani Tuhan. Never be lacking in zeal, but keep your spiritual fervor, serving the Lord. Kalimat tersebut merupakan klimaks dari perintah ini. Martin Lloyd Jones mengatakan “The ultimate antidote to any tendency to slothfulness in the Christian life is serving the Lord”. Yang mendorong kita agar tidak menjadi lemah, tidak menjadi mundur, tidak menjadi malas di dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan ialah kesadaran kita sedang melayani Tuhan.

Kita harus sadar bahwa kita hidup sedang melayani Tuhan sehingga kita boleh memberikan yang terbaik, rajin, tidak kendur dan menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Dengan kata lain pada saat kita memikirkan kita sedang melayani Tuhan, kita juga menyadari bahwa kita adalah hamba dari Kristus, Tuhan kita.   Kita disini adalah hamba, adalah budak, layanilah Tuanmu. Dimana seorang budak mengerjakan segala sesuatu bukan untuk dirinya, bukan demi kenikmatan dan keenakan dirinya, namun untuk melayani kehendak Tuannya atau Tuhannya. Sehingga seorang hamba atau budak harus memberikan segala yang terbaik bagi tuannya.  Kita harus memiliki sifat seperti itu, kita harus menyadari apa yang Tuhan mau, baik seluruh hidupku atau seluruh pekerjaanku, baik di rumah, di tempat kerja, juga termasuk di gereja Tuhan, boleh mendorong kita untuk melayani atau mengerjakan kehendak Tuhan saja. Karena kita sudah ditebus lunas dengan mahal melalui darah anakNya yang tunggal Yesus Kristus maka kita bukan merupakan budak dari dosa lagi, tapi budak dari Tuhan. Sekarang kita adalah milik Kristus, budak Kristus sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan boleh menyenangkan hati Tuhan kita yaitu Yesus Kristus.

Secara paradox, pada saat kita melakukan itu segala sesuatu bagi kemuliaan Tuhan dan sesuai dengan kehendak Tuhan, kita bukan kehilangan nyawa, tapi justru kita akan memperoleh nyawa. Kita akan memperoleh sukacita dan kebebasan sejati. Kebebasan yang sejati justru akan kita peroleh karena kita adalah hamba Tuhan, kita adalah budak Tuhan dan kita adalah milikNya. Karena Tuhan yang kita layani memiliki rancangan damai sejahtera, rancangan kebaikan bagi kita. Pada saat kita menyadari bahwa kita adalah budak Kristus, maka kita juga akan menyadari bahwa kita bukan termasuk budak bagi siapa-siapa lagi (I don’t care what you think), dan bukan termasuk budak untuk diri sendiri (I don’t care what I think), tapi hanya peduli pada apa yang Tuhanku kehendaki dari saya (I only care what God thinks of me).

Apakah saudara melayani Tuhan? Apakah hidup saudara telah melayani Tuhan? Apa yang engkau lakukan sudah boleh engkau katakan kepada Tuhan, “Tuhan, aku melayaniMu, sedang melayaniMu”. Sehingga Tuhan bisa melihat bahwa aku bukan melayani siapa-siapa, bukan menjadi budak dari orang-orang, dan juga aku bukan melayani untuk keinginan diriku tetapi aku sedang melayani apa yang menjadi kehendak Tuhan.  Justru itu adalah kehidupan yang berkelimpahan yang Tuhan sediakan bagi kita.

Karena keinginan Tuhan adalah ultimately for His glory, tapi juga untuk kebaikan kita. Itu adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Kebaikan dan sukacita kita dengan kemuliaan Tuhan, merupakan 1 koin yang dilihat dari 2 sisi, yang berkaitan erat satu dengan yang lain. Pada saat kita mentaati Tuhan, meninggikan Tuhan, melakukan pekerjaan dan kehendak Tuhan dengan rajin dan semangat dengan roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan, maka kita juga akan mengalami kebaikan Tuhan, mengalami kelimpahan yang Tuhan sediakan bagi kita karena hatiNya juga menginginkan yang terbaik bagi kita, rancangan damai sejahtera dan kebaikan kita. Kemuliaan Dia dan kebaikan kita. Justru kita menemukan  diri kita didalam melayani Tuhan.

Biarlah kita didalam gerakan reformed injili boleh terus belajar bahwa perintah ini merupakan perintah Tuhan bagi kita, Biarlah perintah ini boleh kita pegang dan kita taati. Dan point-point yang kita renungkan hari ini mampu mendorong kita untuk boleh dengan giat, tidak kendor dan dengan roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Seperti kalimat pertama yang dikatakan Pendeta Stephen Tong pasca siuman dari operasi jantung, “Setelah ini, biarlah kita bersama-sama boleh lebih giat dalam melayani Tuhan”. Saya percaya bahwa kalimat yang diucapkan Pak Tong tidak sekedar ditujukan kepada orang-orang yang berada di sekitarnya saat itu, tapi juga ditujukan bagi dirinya sendiri.   

 

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya