Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Saling Mendahului dalam Memberi Hormat

Ibadah

Saling Mendahului dalam Memberi Hormat

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 8 Juni 2014

Bacaan Alkitab: Roma 12:9-10, Filipi 2:1-3, 1 Korintus 4:1-7

Pada hari ini secara khusus kita akan memikirkan dan merenungkan bagian dari Roma 12:10b “…  saling mendahului dalam memberi hormat”  ( honour one another above yourself (NIV)).

Hal ini merupakan aplikasi daripada apa yang Tuhan kerjakan di dalam pasal-pasal sebelumnya; dapat dikatakan “Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu saling mendahului dalam memberi hormat”. Dengan kata lain hargailah, hormatilah satu dengan yang lain di atas/melebihi dirimu.

Bagian ini juga sebenarnya mirip sekali dengan Filipi 2:1-3 dan 1 Korintus 4:1-7. “ …Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama  dari pada dirinya sendiri” (Filipi 2: 3). Jadi memang ada persoalan yang mirip di dalam jemaat-jemaat di Roma, Filipi dan juga di Korintus.  

Apa artinya saling mendahului dalam memberi hormat? James Boyce mengatakan dengan sederhana tentang bagian ini bahwa kita jangan tunggu orang lain untuk melihat kontribusi dan pelayanan kita dan menunggu orang lain untuk memuji kita tetapi perhatikan dan sadari apa yang menjadi kontribusi pelayanan orang lain dan hargai itu. Jadi hargai orang lain lebih daripada diri kita; menganggap yang lain lebih utama daripada diri kita sendiri.

Tetapi kalau kita melihat hidup kita juga hidup di gereja, yang sekarang terjadi justru sebaliknya. Banyak persoalan, pertentangan, perdebatan, gesekan di dalam gereja karena orang tidak menerapkan prinsip menganggap yang lain lebih utama dari diri kita sendiri. Yang terjadi adalah kita melihat diri sendiri, melihat pengorbanan kita; apa yang aku sudah kerjakan, melihat pelayanan kita; apa yang sudah aku berikan kepada gereja dan jemaat yang lain. Ketika orang lain tidak menghargai kita, malah mencibir kita  dan tidak memperhatikan kita atau memuji kita, kita mulai kesal, tersinggung dan mundur iman kita. Dan jika ini yang terjadi, yang muncul adalah benturan-benturan dengan yang lain.

Mengapa begitu sulit untuk menerapkan/menjalankan perintah yang begitu jelas ini? Dimanakah persoalannya?

Melalui 1 Korintus 4:6, kita mengetahui bahwa problemnya adalah memegahkan diri, menyombongkan diri, menganggap diri lebih utama daripada yang lain, mengukur diri lebih besar dan tinggi daripada yang seharusnya. Kata sombong dalam 1 Korintus 4 ini memiliki pengertian “over inflated”, lebih besar dari yang seharusnya atau bengkak.

Ada beberapa karakteristik orang yang menyombongkan diri:

  1. Kosong - orang yang hatinya kosong. Seberapa besar orang membangun dirinya  dengan segala macam atributnya di luar Kristus agar lebih besar dari yang seharusnya, dalam hatinya sebenarnya ada kekosongan. Agustinus mengatakan dalam seluruh hati manusia ada 1 ruangan yang kosong yang tidak  bisa diisi oleh apapun kecuali Kristus hadir di situ. Manusia berusaha mengisi hidupnya tetapi intinya adalah manusia tanpa Kristus maka kondisi ego manusia adalah orang yang kosong. 
  2. Sakit. Martin Llyod Jones mengatakan definisi tubuh yang sehat adalah keadaan dimana kita tidak menyadari ada tubuh/bagian-bagian tubuh. Ketika seseorang mencari perhatian, membesarkan diri, menyombongkan diri, supaya orang melihat dirinya, berapa besar dirinya, pengorbanannya dan pelayanannya justru tandanya dia sedang sakit.   
  3. Sibuk mengisi kekosongannya; berusaha dengan segala macam cara supaya orang lain melihat, menghargai apa yang dia kerjakan. Juga sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. C S Lewis mengatakan bahwa kesombogan itu bersifat kompetitif. Orang  tidak menjadi sombong karena dia cantik, kaya atau pintar. Tetapi orang menjadi sombong karena dia lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya dari orang lain.
  4. Rapuh/fragile karena seperti gambaran sebelumnya bahwa sesuatu yang menggelembung besar akan pecah seperti economic bubble yang dibangun di atas fundamental yang tidak solid tetapi kosong maka suatu saat akan pecah.

Ada beberapa langkah untuk menyelesaikan masalah kesombongan ini.

Dalam 1 Korintus 4:3, Paulus mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan; harga diriku, siapa aku tidak bergantung pada pendapat orang lain. Tetapi kita harus berhati-hati karena di dalam dunia ini tanpa Tuhan ketika orang mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, maka dia sebenarnya hanya peduli dengan apa yang dia pikirkan tentang dirinya dan bisa jatuh dalam kesombongan. Kita jadi menganggap orang lain itu tidak berharga dan tidak peduli pendapat orang lain. Karena itu Paulus tidak berhenti sampai di sini. Maka pada bagian yang kedua (ayat 3b) Paulus mengatakan bahwa bukan hanya dia tidak peduli dengan apa yang orang lain pikir tentang dirinya tetapi dia juga tidak peduli dengan apa yang dia pikirkan tentang dirinya sendiri.

Lalu bagaimana sesungguhnya Paulus melihat dirinya sendiri? Dalam 1 Korintus 15:9-10 dikatakan: “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”.   

Paulus menyatakan bahwa dia tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, dia juga tidak peduli dengan apa yang dia pikir tentang dirinya sendiri,  tetapi satu-satunya yang dia peduli adalah apa yang Allah pikirkan tetang dia.  Paulus ingin menegaskan berapa besarnya dosanya dan berapa besar/hebat pencapaiannya - apa yang telah dia kerjakan, gumuli, korbankan dan pelayanannya, itu semua tidak ada hubungannya dengan siapa dia. Bagi Paulus siapa aku itu ditentukan karena semata-mata apa yang Allah pikirkan tentang aku; aku ada sebagaimana aku ada karena anugerah Tuhan. 

Kita bersyukur bahwa di hadapan anugerah Tuhan maka sebenarnya Tuhan sudah memberikan status kita, identitas kita yang terbaik sebelum kita berbuat apa-apa. Ini bertentangan dengan apa yang terjadi dalam dunia ini.  Dalam 1 Korintus 4 digambarkan secara metaphor bahwa hidup kita seperti hidup di dalam pengadilan manusia (human court); ada penghakiman-penghakiman, penilaian-penilaian kita yang menentukan siapa diri kita.  Kita sangat ingin diterima orang lain, sangat ingin orang lain menghargai kita. Tapi kalau kita membutuhkan penghargaan dari orang lain, mencari, memperhatikan apa yang orang lain inginkan dan hargai, maka kita akan terus dan tidak habis-habisnya menjadi orang yang menyenangkan orang lain dan orang lain terus menghakimi kita. Sekali kita salah, maka habislah identitas kita dan hancurlah hidup kita.

Maka Paulus mengatakan bahwa satu-satunya yang harus kita pedulikan adalah apa yang Tuhan pikirkan tentang kita. Allah sudah memberikan kita identitas yang begitu berharga, identitas kita yang di dalam Kristus ketika kita percaya kepada Dia yang telah mati bagi kita, dipersatukan dengan Kristus yang telah menanggung seluruh dosa kita. Kita sudah dibenarkan semata-mata karena anugerah Tuhan. Ini adalah yang paling utama dan tidak ada apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Di dalam terang Tuhan maka kita boleh menghargai orang lain lebih utama dari diri kita.

C S Lewis mengatakan suatu kalimat bahwa kalau kita bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh rendah hati (humble) maka sebenarnya kita tidak akan merasa bahwa dia adalah orang yang rendah hati yaitu dalam pengertian dunia yang selalu bilang “saya tidak ada apa-apanya (I am nobody)”. Tetapi akan merasa bahwa dia sungguh-sungguh mendengarkan apa yang kita katakan. Dengan kata lain dia sebenarnya orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi selalu memikirkan kepentingan orang lain.

Secara praktis untuk menguji apakah kita memperhatikan orang lain lebih daripada diri kita sendiri:

  • Kita tidak akan hancur ketika dikritik, walaupun dikritik secara tajam. Hal ini karena kita menyadari bahwa diri kita jauh lebih buruk daripada orang yang bisa kritik. Sebagaimana yang Paulus katakan bahwa di antara orang yang berdosa akulah yang  paling berdosa. Siapa lagi yang bisa kritik dia. Kritik justru menjadi kesempatan untuk bertumbuh, belajar menghargai.
  • Kita tidak akan melayang terbang karena dipuji. Hal ini karena tidak ada pujian yang lebih berharga dari perkataan Tuhan kepada kita.  Ada pujian karena orang bersyukur (appreciate). Ini bukan sombong karena dipuji tetapi menyempurnakan sukacita. Tetapi kita harus hati-hati bergeser dari pujian yang mulanya tulus dan menyenangkan hati, menjadi mulai berpikir “lihat siapa saya, betapa hebatnya saya, saya boleh mengerjakan hal itu sehingga mendapat pujian”.

Ketika seseorang yang mengerti bahwa dirinya adalah orang yang sudah dibenarkan di hadapan Tuhan, yang mengerti bahwa semua apa yang dia miliki adalah karena anugerah Tuhan, maka ciri-cirinya  adalah tidak mengejar pengakuan dari orang lain, tetapi ketika orang mengakui pekerjaannya, dia tidak menjadi lupa diri, tinggi hati.

Mari kita bertumbuh bersama-sama menjadi orang-orang yang mengerti anugerah Tuhan yang begitu besar di dalam hidup kita, mengerti betapa rusaknya dan dosanya hidup kita dan Tuhan yang sudah mengampuni dan menyucikan hidup kita, menjadikan kita anak-anak-NYA dan membawa kita menghargai orang lain lebih dari diri kita sendiri.

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya