Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Building Church through Church Building

Ibadah

Building Church through Church Building

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 25 Mei 2014

Bacaan Alkitab: Hagai 1 dan Hagai 2

Tema kotbah hari ini adalah Building Church through building Church Building. Kita akan melihat bahwa Hagai bukan hanya concern terhadap bangunan bait Allah, tetapi melalui pembangunan itu, umat Tuhan boleh sadar hal-hal yang paling penting, dan dibangkitkan menjadi umat yang memuliakan Tuhan. Kata Building Church yang pertama adalah Gereja sebagai tubuh Kristus, dan kata building Church yang kedua adalah pembangunan gedungnya.

 Kita melihat sedikit konteks sejarah, kitab Hagai sangat erat dengan kitab Zakharia, kitab ini adalah kitab yang menceritakan tentang apa yang terjadi pada abad ke 6 SM (Sebelum Masehi atau BC, Before Christ). Pada tahun 586 SM, kerajaan Babel menaklukkan Yerusalem, menghancurkan Bait Allah dan membawa Israel ke dalam pembuangan. Dan di masa pembuangan inilah, kitab-kitab Daniel dan Ester ditulis. Kemudian kira-kira 50 tahun kemudian raja Koresh (Cyprus) - raja dari Persia - mengalahkan Babel, dan 1 tahun kemudian, raja Koresh mengijinkan bangsa Israel untuk kembali ke Yerusalem dan membangun bait Allah (lihat Ezra 1:1-11). Hal itu terjadi tahun 538 SM, kira-kira 48 tahun setelah pembuangan Israel.  

Kitab Hagai 1:1 “Pada tahun kedua zaman raja Darius dalam bulan yang keenam pada hari pertama bulan itu”, persis kita bisa tahu kapan tanggalnya. Kalau dihitung menurut penanggalan modern maka hari itu adalah 29 Agustus 520 SM, atau kira-kira sudah 18 tahun sejak bangsa Israel kembali ke Yerusalem. Jadi sudah 18 tahun pekerjaan pembangunan bait Allah ditunda. Sebenarnya mereka kembali untuk membangun bait Allah, tetapi sudah 18 tahun pembangunan itu belum dimulai. Karena itulah Firman Tuhan datang ke nabi Hagai untuk memerintahkan bangsa Israel untuk memulai pembangunan bait Allah. Dalam konteks itulah nabi Hagai berbicara kepada bangsa Israel.

Kitab Hagai berbicara hanya dalam rentang 4 bulan di tahun 520 SM dan pembanguan bait Allah dimulai pada 21 September 520. Kitab ini dapat dibagi menjadi empat bagian, yang ditandai dengan Firman Tuhan yang datang kepada Hagai dan dikatakan kepada bangsa Israel melalui pemimpinnya yaitu Zerubabel bin Sealtiel dan imannya, Yosua bin Yozadak. Kitab Hagai menyebutkan tanggal-tanggalnya dengan pasti. 

  • Bagian pertama, tanggal 29 Agustus 520, dalam kitab Hagai 1:1
  • Bagian kedua, Hagai 2:1 “pada tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal 21 bulan itu datanglah Firman Tuhan”. Firman yang kedua ini kira-kira pada 17 Oktober 520 SM.
  • Bagian yang ketiga adalah Hagai 2:11 “Pada tanggal 24 bulan yang kesembilan pada tahun yang kedua zaman raja Darius datanglah Firman Tuhan”. Ini kira-kira pada tanggal 18 Desember tahun 520 SM.
  • Bagian yang terakhir, adalah Hagai 2:21, pada hari yang sama 18 Desember 520 SM, di hari yang sama Firman Allah datang dua kali kepada nabi Hagai.

Ini menjadi struktur kitab Hagai, ada empat bagian dalam kitab ini sesuai dengan Firman Allah yang datang empat kali.

Kalau kita memperhatikan dengan lebih detil, maka kita melihat secara umum, bagian yang pertama dan yang ketiga sebenarnya memberikan berita yang serupa. Pada bagian yang pertama, problem utamanya dapat disimpulkan pada ayat Hagai 1:4-6 "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!”

Di sini konteksnya, mengapa mereka menghadapi segala frustasi dan kegagalan di dalam kehidupan mereka, maka Tuhan mengatakan bahwa mereka memperhatikan akan keluarga mereka sendiri, seperti dinyatakan dalam Hagai 1:9 “Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri”. Mereka tidak perduli pada rumah Tuhan tetapi hanya peduli dengan urusan mereka sendiri.

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita, kalau kita menyibukkan diri dengan segala kebutuhan kita, bekerja, mencari uang, membeli rumah, dan kita tidak memperdulikan pekerjaan Tuhan, maka kita akan hidup di dalam rasa frustasi, ada kekosongan jiwa yang terus menerus. Kalau kita merasa nyaman dengan hidup kita sendiri, maka akan menghasilkan rasa bersalah, depresi dalam hidup karena kita tidak memperdulikan rumah Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Jalan keluar yang diberikan oleh Hagai adalah di dalam Hagai 1:8 “Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.”

Kita di sini melihat bahwa problem utama dari orang-orang Israel pada waktu itu bukanlah  masalah bangunannya, tetapi karena mereka tidak perduli kepada kemuliaan Allah. Karena bait Allah itu sendiri bukan bangunannya yang penting karena di dalam perjanjian lama bait Allah itu sebenarnya menyatakan kehadiran Allah, kemuliaan Allah ada di dalamnya. Kalau kita tarik ke hidup kita sekarang, maka Gereja juga sebenarnya hadir untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Jadi ketidak pedulian kita terhadap pertumbuhan iman daripada umat Tuhan, tidak peduli terhadap pekerjaan Tuhan di dalam Gereja Tuhan, ini menjadi tanda kegagalan kita untuk mengasihi Tuhan, dan memuliakan Tuhan di dalam kehidupan kita. Maka Tuhan mengatakan (Lukas 9:24) “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”

Berita yang pertama ini Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel, dan mereka semua mendengarnya Hagai 1:12-15 “lalu takutlah bangsa itu kepada TUHAN. Maka berkatalah Hagai, utusan TUHAN itu, menurut pesan TUHAN kepada bangsa itu, demikian: "Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN. TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka”

Kita boleh melihat bagian yang mirip di dalam bagian yang ketiga, yaitu di Hagai 2:11-20. Itu terjadi kira-kira 3 bulan setelah pekerjaan itu di mulai. Setelah mereka memulai pembangunan mereka mulai kendor, mulai berhenti dan terancam dengan ikut sertanya orang-orang najis dan terancam tidak akan selesai. Kalau kita kaitkan dengan keadaan kita sekarang, ada kaitannya juga. Di dalam kesulitan yang kita hadapi dalam pembangunan gedung Gereja kita, terutama budget yang tidak mencukupi. Tim pembangunan terus rapat, memikirkan dan mendoakan untuk mencari solusi dari masalah ini. Kemungkinan besar dananya memang belum cukup. Karena itu bagian ini menjadi berita yang penting bagi kita untuk mengerti, bukan hanya pergumulan menyelesaikan bangunan bait Allah, tetapi ada masalah yang lebih dalam. Di dalam pergumulan ini saya sangat rindu bukan hanya berfokus pada selesainya bangunan ini, tetapi ini adalah sarana yang Tuhan berikan kepada kita untuk membangun umat Tuhan, mendorong dan menggerakkan saudara dan saya, boleh mengejar kemulian Tuhan, boleh melakukan kehendak Tuhan di dalam hidup kita.

Pada bagian yang ketiga, bangsa Israel tersendat, dan terancam, atau dengan kata lain ada ketaatan yang setengah hati daripada bangsa Israel. Masalahnya adalah bangsa Israel berpikir dengan bersentuhan, berbagian sedikit di dalam pembangunan bait Allah, mereka rasa mereka sudah kudus. Pada bagian pertama mereka mendapat peringatan yang keras, dan mereka mulai sadar dan mulai bangun tetapi hanya dengan setengah hati. Mereka pikir dosa mereka sudah beres ketika mereka berbagian sedikit dalam pembangunan bait Allah. Hidup mereka sebenarnya belum berobah, problemnya adalah lebih dalam: apakah hati mereka mengerti akan kerinduan membangun bait Allah merupakan ekspresi terhadap kasih kepada Allah, untuk memuliakan Allah, memperhatikan kerajaan Allah dan kebenarannya terlebih dahulu? Apakah mereka sudah berubah? Ternyata belum. Maka Tuhan katakan “tidak”, jika engkau hanya berbagian sedikit, dan tidak melakukannya dengan sepenuh hati, maka engkau hanya menajiskan bait Allah.

Solusinya adalah Hagai memberikan dorongan kepada bangsa Israel supaya mereka boleh memperhatikan bagaimana hidup mereka sebelum memulai pembangunan. Perhatikan hidupmu sebelum memulai pembangunan dan perhatikan hidupmu sejak pembangunan dimulai, dan dengan apa yang Tuhan akan janjikan di masa yang akan datang. Dan itu dinyatakan dengan Hagai 1:20 “Apakah benih masih tertinggal dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun sudah berbuah? Mulai hari ini Aku akan memberi berkat”. Sejak engkau mulai bekerja dalam pekerjaan Tuhan, Tuhan bekerja di dalam hidupmu. Memang belum selesai tetapi mulai hari ini Aku akan terus menyertai dan memberkati engkau.

Inilah yang menjadi konteks, bagian pertama dan bagian ketiga memiliki persoalan yang berbeda, tetapi persoalan utamanya sama yaitu kemuliaan Tuhan dipertaruhkan, bukan hanya bangunan bait Allah. Kemuliaan Tuhan yang seharusnya menjadi motivasi dari umat Tuhan.

Pada bagian yang kedua, Hagai 2:1-10, adalah berita yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 520 SM, kurang dari satu bulan setelah mereka mulai pembangunan pada 21 September 520SM.  Pada saat ini orang-orang mulai lesu bekerja dan mulai discouraged. Hagai 2:5 “Sekarang kuatkanlah hatimu …bekerjalah sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam”. Ini adalah berita yang sangat praktikal, karena kita bisa melihat diri kita di dalam pekerja-pekerja ini. Kita sering menghadapi tantangan discouragement, seperti di mana kita banyak berjuang tetapi sepertinya tidak ada hasilnya. Kita sudah berbagian dalam menyumbang dana pembangunan Gereja tetapi masih belum cukup juga. Kita sudah memberikan yang terbaik, tetapi rasanya kita tidak mendapatkan hasil yang baik. Maka berita Firman Tuhan melalui nabi Hagai ini menjadi kekuatan bagi kita.

Kalau kita melihat Hagai 2:4 “Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?“ Ini adalah salah satu discouragement. Ada di antara orang Israel yang berumur panjang saat itu dan pernah melihat keagungan bait Allah sebelum dihancur-leburkan. Bait Allah yang begitu indah, dan dibandingkan dengan bangunan yang baru dimulai, keadaannya menjadi tidak artinya. Orang Israel menjadi discouraged, apapun yang mereka kerjakan seperti tidak ada artinya. Seperti kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri: untuk apa kita membeli gedung Gereja, salahkah kita untuk membelinya, bisakah kita terus bergereja tanpa gedung tersebut, dan melihat berapa banyak dana yang sudah diberikan namun mengapa masih belum cukup juga? Tuhan mengatakan kuatkanlah hatimu, bekerjalah (Hagai 2:1-10).

Kenapa kita harus kuat dan terus maju? Tuhan memberikan dua alasan yang kuat untuk melanjutkan pekerjaan Tuhan di dalam Gereja ini: 

1. Hagai 2:5 “Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu”. Kita harus ingat bahwa penyertaan Tuhan, Tuhan memimpin kita. Kita harus melihat ke belakang untuk menyadari bahwa Tuhan sudah memimpin kita. Beberapa tahun yang lalu kita tidak bisa memikirkan bahwa kita dapat mengumpulkan dana sebanyak ini untuk membeli bangunan Gereja kita. Ada hikmat yang Tuhan berikan melalui anggota tim, untuk mengatasi segala kesulitan yang ada sejauh ini. Hagai 1:14 mengatakan Tuhan bukan hanya menyertai kita, tetapi juga menggerakkan kita “TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu”.

Biarlah kita berdoa, supaya kita bukan terpaksa tetapi dengan suka cita dan gembira melihat apa yang Tuhan kerjakan. Kita juga melihat segala kesulitan Yusuf yang dijual sebagai budak dan kemudian di penjara selama 13 tahun, seperti dalam kegagalan yang total. Tetapi Yusuf terus setia mentaati Tuhan, dan Tuhan memberkati Yusuf karena Tuhan menyertai Yusuf. Hagai 2:5-6 “sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!”.  

Tuhan yang menyertai bangsa Israel, adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita pada hari ini. 1 Taw 28:20 adalah kalimat yang Daud katakan kepada Salomo sebelum Daud meninggal, “Lalu berkatalah Daud kepada Salomo, anaknya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau sampai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah Allah selesai.”. Ini menjadi penghiburan bagi orang-orang yang discouraged. Hagai mengingatkan bahwa Tuhan yang sama yang menyertai Salomo adalah Tuhan yang menyertai orang Israel untuk membangun kembali bait Allah.

2. Hagai 2:7-10 “Sebab beginilah Firman Tuhan semesta alam, sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat, Aku akan menggoncangkan bangsa-bangsa, sehingga barang yang indah-indah dari segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, frman Tuhan semesta alam, kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah Firman Tuhan semesta alam, Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

Peringatan yang kedua ini menunjukan bahwa Tuhan-lah yang memiliki seluruh alam semesta ini. Tuhanlah yang menguasai segala kekayaan di dunia ini. Kalau ini adalah pekerjaan Tuhan maka Dia akan memenuhi kebutuhan kita. Waktu kita melihat keadaan kita sangat sulit menyelesaikan pekerjaan Tuhan, kita harus ingat kalau ini pekerjaan Tuhan, asalkan kita semua dengan hati yang tulus boleh berbagian dalam pekerjaan Tuhan, maka Tuhan akan menyertai kita.

 Dari mana kita tahu bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan, karena kita sudah bergumul bertahun-tahun, ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul, bertahun-tahun kita sudah bergumul, berdoa, melihat kebutuhan yang ada bagi Gereja kita. Tuhan sudah pimpin langkah demi langkah meskipun dalam keadaan kekurangan, meskipun kelihatannya tersendat, tetapi kita menyadari kalau ini adalah pekerjaan Tuhan dan melihat bahwa Tuhanlah pemilik semuanya. Mudah sekali buat Tuhan untuk memberikan ini semua. Tuhan akan memberikan dengan caranya yang mungkin kita tidak tahu. Kita harus percaya, Tuhan menguatkan, janganlah takut, teruslah bekerja, karena Aku yang menyertai engkau, Hagai 2:8 “maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan”.

Kalau hati kita sungguh sungguh dinyatakan melalui gedung Gereja yang boleh diselesaikan maka bagian kita akan Tuhan lipat gandakan. Gedung Gereja bisa dipakai dengan betul-betul untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, menjadi pusat pekerjaan Tuhan, menjadi tempat di mana orang-orang bisa dibangun, dipanggil untuk percaya kepada Tuhan, dan diutus untuk menjadi hamba-hamba Tuhan ke segala tempat.

 Setiap persembahan yang kita berikan adalah suatu priviledge yang Tuhan berikan kepada kita. Maka uang yang kita beritakan bisa dipakai berkali-kali lipat, bisa digunakan untuk membeli Alkitab, untuk memberitakan Injil, untuk membawa orang diselematkan kembali kepada Tuhan, kita boleh bersyukur kepada Tuhan akan hal itu.

Biarlah melalui renungan kitab Hagai, kita boleh dikuatkan, dan didorong untuk bekerja bersama-sama dan melihat penyertaan Tuhan dan kemuliaan Tuhan dinyatakan dan melihat bahwa Tuhan yang bekerja di dalam kehidupan kita. Apakah kita ingin melihat bahwa Tuhan adalah betul-betul Tuhan yang hidup? 

Kadang-kadang Tuhan mengijinkan kita untuk tidak berdaya, dengan segala resource yang kita sudah berikan usaha kita masih belum berhasil. Ini untuk menunjukkan bahwa bukan dengan kemampuan dan kehebatan kita, pekerjaan Tuhan bisa berhasil. Seperti Paulus yang meminta kepada Tuhan untuk mencabut duri dalam daging. Seorang Paulus yang menyembuhkan banyak orang bahkan membangkitkan orang mati, tetapi bagi dirinya sendiri dia meminta supaya duri dalam daging dicabut, namun Tuhan tidak cabut duri tersebut. Tuhan menjawab doa Paulus dengan mengatakan (2 Kor 12:9) “My Grace is sufficient for you” Anugerahku cukup bagimu. Karena itu Paulus mengatakan (2 Kor 12:9b) “sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." 

Biarlah Tuhan dimuliakan dalam usaha kita membangun gedung Gereja ini, biarlah rohani kita dibangunkan juga. Biarlah kita bersatu hati, berbagian, bersama-sama berdoa dan Tuhan bekerja melampaui apa yang dapat kita minta dan pikirkan.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Denny Chandra


Ringkasan Khotbah lainnya