Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Karunia-Karunia Tuhan bagi Gereja

Ibadah

Karunia-Karunia Tuhan bagi Gereja

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 4 Mei 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:6-8

Di dalam Kejadian 11, ada bagian yang menceritakan di mana manusia berkumpul bersama membangun menara babel yang puncaknya sampai ke langit.  Kejadian ini mau menggambarkan dan menyatakan pencapaian manusia, kehebatan manusia, kebesaran manusia, kemuliaan manusia  dan keagungan manusia yang mampu membangun menara besar yang puncaknya sampai ke langit.  Dengan kata lain, mereka ingin membuat nama untuk mereka sendiri “To make a name for ourself”. Walaupun mereka berkumpul bersama di dalam satu kelompok besar manusia atau satu bangsa mengerjakan proyek ini atau membangun menara ini, namun pada kenyataannya, mereka masing-masing sambil berkumpul atau bekerja, mereka masing-masing sambil memikirkan kepentingan akan kemuliaan diri, keagungan diri, kehebatan diri, “To make a name for myself” atau ingin membuat nama atau menunjukkan identitas diri: siapa diriku, kemuliaan diriku, kebesaran diriku! Semua hanya untuk keagungan diri manusia.

Cerita tersebut merupakan contoh kehidupan manusia sepanjang jaman. Bagaimana manusia yang hidup di dunia ini secara bersama mengerjaan satu hal, namun tujuannya hanyalah ingin menunjukkan kemuliaan diri, kehebatan diri, keagungan diri, kebesaran diri.  Jika akhirnya hal demikian terjadi, maka akan mulai terjadi self defeating atau self destruct satu dengan yang lain. Lihat kejadian akhir-akhir ini di Indonesia menjelang pemilihan presiden. Di mana tidak ada satupun partai politik Indonesia yang bisa secara langsung mengajukan calon presidennya karena perolehan suaranya tidak cukup. Maka setiap partai sibuk mencari koalisi saat ini.  Karena setiap partai ingin mengajukan calon presiden sendiri atau ada beberapa orang ingin menjadi calon presiden, maka setiap partai politik atau orang mulai berpikir, mulai menunggu, mulai berhitung, bagaimana berhitung dan lain sebagainya. Masing-masing hanya memikirkan diri sendiri, memikirkan kelompok. Dan jika  koalisi ini dipikirkan dengan cara demikian, maka sebenarnya mulai terjadi self destruct atau self defeating.

Bonhoeffer mengatakan satu kalimat yang bagus untuk hal ini:

“Satu-satunya individualisme yang aman atau yang benar adalah individualisme yang ada di dalam komunitas Kristen.  Dan satu-satunya komunitas kristen yang aman atau yang benar adalah komunitas Kristen yang mengizinkan individualisme di dalamnya.”

Satu-satunya individualisme yang aman atau yang benar adalah individualisme yang ada di dalam komunitas Kristen. Dia tidak bisa sendiri, dia harus berada dalam satu komunitas yaitu komunitas Kristen, dalam hal ini kita sedang belajar tubuh Kristus. Tetapi juga satu-satunya komunitas Kristen yang aman ialah komunitas Kristen yang mengizinkan individualisme di dalamnya. Hal seperti kemuliaan diri, keagungan diri, keunikan diri boleh terjadi, sekaligus orang berkumpul bersama mengerjakan satu proyek atau satu hal, kedua hal bisa terjadi secara hormonis di dalam Gereja Tuhan yang sejati yaitu Tubuh Kristus. Di mana anggotanya sangat berbeda sekali satu dengan yang lain, baik umur, sosial ekonomi, pendidikan dan bahkan karakter.

Bahkan ada gereja yang anggotanya secara karakter tidak cocok sama sekali, yang secara manusia tidak suka satu dengan yang lain sama sekali, yang  mungkin saja mereka sudah berantem jika mereka tidak berada didalam tubuh Kristen atau berada dli luar keluarga Kristen. Namun perbedaan dan ketidakcocokan ini mampu dipersatukan dalam tubuh Kristus yaitu Gereja. Ibarat tubuh yang memiliki berbagai anggota tubuh seperti jantung dan kuku. Sepintas diperhatikan bahwa sepertinya tidak ada hubungan antara jantung dan kuku. Namun jantung atau kuku tidak bisa berfungsi sebagai jantung atau kuku jika mereka tidak berada dalam satu tubuh. Jika mereka dicopot dari tubuh, maka mereka akan mati dan membusuk. Justru mereka dipersatukan dalam satu tubuh, mereka boleh hidup dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dan persatuan ini disebut persatuan organik. Bersatu disini bukan berarti semuanya yang berkumpul itu harus sama tetapi bisa berbeda-beda.

Sama seperti anggota jemaat di gereja kita, memiliki bermacam-macam karakter, latar belakang sosial, pendidikan, karunia, berkumpul bersama-sama melayani Kristus. Kita harus menyadari bahwa kita masing-masing merupakan anggota tubuh Kristus  yang harus saling mengasihi, saling mengenal, saling memperhatikan, saling menasehati, saling menolong dan saling mendorong satu dengan yang lain, yang merupakan satu keluarga Kristus yang saling membangun di dalam Tuhan di segala zaman dan  di segala tempat.

Selanjutnya kita akan membahas berbagai karunia yang telah diberikan Tuhan kepada Gereja-Nya. Seperti yang disebut dalam Roma 12:6 “Demikianlah kita mempunyai karunia  yang berlain-lainan menurut kasih karunia  yang dianugerahkan kepada kita”. Ini juga menyadarkan kita bahwa karunia yang berlain-lainan itu adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada masing-masing anggota tubuh yang berbeda-beda sesuai dengan bijaksana-Nya dan kasih karunia-Nya. Kemudian Paulus mencatat disini ada tujuh macam karunia yang diberikan Tuhan kepada gereja-Nya, dari karunia “: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat” sampai yang terakhir “menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”. Jika seluruh karunia yang berbeda-beda itu dikumpulkan misalnya dari 1 Korintus, 1 Petrus,  maka semuanya ada 19 karunia. Namun kita tidak akan membahas sampai 19 karunia. Kita hanya akan membahas tujuh karunia saja yang menjadi contoh yang menunjukkan bahwa karunia atau fungsi yang berbeda-beda ini bisa saling melengkapi, saling membangun, saling menolong, saling melayani satu dengan yang lain dan semuanya boleh bertumbuh bersama-sama ke arah Kristus yang adalah Kepala Gereja. Kita akan melihat contoh 7 karunia yang dikatakan Paulus secara singkat.

1. Yang pertama karunia bernubuat (Roma 12:6) “Demikianlah kita mempunyai karunia  yang berlain-lainan menurut kasih karunia  yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman itu (in agreement with the faith)”. Bernubuat berasal dari kata prophesying yang akar katanya dari prophet (nabi), dimana nabi itu bernubuat. Nabi itu merupakan juru bicara Allah (mengatakan firman Allah) yang mewakili Allah berbicara kepada manusia atau berbicara kepada umat (jemaat) Tuhan khususnya. Berbeda kontras dengan Imam dalam Perjanjian Allah yang mewakili manusia berbicara kepada Allah.

Jika kita membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam teologi yang dibangun oleh Reformed Theology khususnya, maka sebenarnya boleh kita simpulkan bahwa di dalam hidup kita sekarang ini, tidak lagi nabi dan rasul (seperti yang dibicarakan dalam Efesus). Karena  nabi dan rasul merupakan orang-orang yang diberi inspirasi secara khusus oleh Tuhan untuk menulis Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Gereja Tuhan dibangun dan berdiri di atas pengajaran para nabi di Perjanjian Lama dan pengajaran para rasul di Perjanjian Baru. Dan itu sudah selesai, sekarang nabi dan rasul tidak ada lagi. Alkitab sudah selesai ditulis. Tidak ada pewahyuan baru lagi kepada seseorang sehingga tidak ada penambahan dalam alkitab.

Alkitab terdiri dari 39 kitab dalam Perjanjian Lama dan 27 kitab dalam Perjanjian Baru. Tetapi pada saat berbicara “bernubuat” di sini ialah berbicara mengenai suara kenabian. Walaupun suara kenabian tidak ditulis secara langsung dalam alkitab, tetapi suara kenabian bisa dan harus diuji berdasarkan firman Tuhan.  Kalau dulu para nabi atau rasul boleh mengatakan satu kalimat dari perkataan Tuhan lalu menuliskannya maka tulisan itu menjadi otoritas yang berlaku di segala zaman. Walaupun teologia menurut Reformed Theology bahwa nabi dan rasul sudah tidak ada lagi namun fungsi kenabian masih ada. Yang artinya Tuhan berbicara kepada orang-orang tertentu yang mengerti akan firman Tuhan dan dia di dalam waktu tertentu boleh melihat kejadian atau keadaan zaman ini dan dia  boleh menyuarakan suara Tuhan (suara kenabian) sesuai dengan firman Tuhan. Orang-orang inilah yang disebut memiliki karunia bernubuat.

Tetapi kita harus berhati-hati dan menguji apakah suatu pernubuatan itu sesuai dengan iman sejati yang berdasarkan firman Tuhan. Karena di zaman ini banyak orang-orang tertentu yang mengaku dekat dengan Tuhan, mengaku Tuhan berbicara kepadanya dan memperlakukan dirinya sebagai nabi. Paulus malah mengatakan kalau dia atau para malaikat memberitakan injil yang bukan injil sejati yang tidak sama dengan apa yang dia sudah beritakan maka terkutuklah dia. Bahkan Paulus-pun atau para malaikatpun harus diuji, jika memberitakan sesuatu yang mengaku bahwa itu perkataan Tuhan. Kalau pemberitaan itu tidak sesuai dengan alkitab, sebenarnya sudah tidak sesuai lagi dengan injil yang sejati yang telah dinyatakan maka terkutuklah dia. Hal ini akan menjadi sangat berbahaya sekali maka harus selalu diuji.

Di dalam bukunya Martin Rogers menceritakan tentang seseorang yang bernama Robert Baxter. Di mana Robert Baxter merupakan orang yang baik, orang benar yang sungguh percaya kepada Tuhan namun ia memiliki konsep yang salah yang mana dia percaya bahwa Roh Kudus berkata kepadanya untuk bercerai dengan istrinya lalu meninggalkan istri dan anaknya. Dan dia percaya bahwa Roh Kudus juga menyuruhnya berhenti dari pekerjaan yang sedang dilakukan. Dia sedang memikirkan itu dan ingin melakukannya karena dia berpikir jika itu adalah perkataan dari Tuhan maka ia harus melakukannya. Namun dia beruntung karena ada anugerah Tuhan, tidak diceritakan apakah melalui teman-temannya atau karena hamba Tuhan lainnya, akhirnya ia mulai sadar bahwa ini salah, ini tidak mungkin suara Tuhan, ini tidak mungkin suara Roh Kudus karena hal itu bertentangan dengan alkitab yang mengatakan “ apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”.  Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan Tuhan meskipun ia merasa  bahwa hal itu berasal dari suara Roh Kudus. Jadi akan menjadi berbahaya sekali kalau kita menganggap sebagai demikian.

Di gereja-gereja tertentu, meskipun suara kenabian ada, kita harus menguji dan berhati-hati terlebih-lebih jika ada orang yang mengklaim dan berkata “Tuhan berkata kepadaku…”. Itu berbahaya sekali dan kita harus menguji apakah perkataan itu sesuai dengan alkitab.  Kadangkala suatu kalimat telah ada di dalam alkitab, namun disampaikan dengan gaya dan cara yang tidak benar. Misalnya di tengah-tengah kebaktian, seorang hamba Tuhan menutup mata sambil berkata “Hai saudaraku, Roh Kudus berkata kepadaku bahwa engkau adalah biji mataku”. Alkitab memang berkata demikian, namun tidak tepat menambahkan kalimat seperti “Roh Kudus berkata kepadaku”.  Ada permainan power disini, seolah-olah Tuhan hanya berkata kepada dia dan tidak berkata kepada kita. Orang yang berkata demikian tidak menghargai firman Tuhan.  Jika ada orang-orang tertentu diberikan oleh Tuhan bernubuat, maka orang itu harus diuji berdasarkan firman Tuhan. Jika perkataannya sesuai dengan firman Tuhan yang dapat menguatkan, menghibur, menegur orang dan lain sebagainya maka orang tersebut boleh dikatakan memiliki karunia bernubuat.

2. Karunia untuk melayani; Roma 12:7 mengatakan “Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani”. Mulai dari ayat 7 ini sampai seterusnya, Paulus berbicara dengan gaya staccato. Jika karunia untuk MELAYANI, ya MELAYANI; jika karunia untuk MENGAJAR, ya MENGAJAR; jika karunia untuk MENASIHATI, ya MENASIHATI, dan seterusnya; dengan pola staccato, dengan kata lain JUST DO IT. Jika engkau sudah diberikan karunia dan sudah mengetahui seluruh prinsip dengan benar, maka sekarang tinggal melakukannya.

Lakukan seluruh fungsi yang telah diberikan Tuhan kepada setiap anggotanya. Setiap kita, tidak ada yang tidak diberikan fungsi atau karunia. Ada yang diberikan satu, ada yang diberikan dua, ada yang diberikan tiga. Tapi paling sedikit kita diberikan satu karunia. Dan kita harus mengerjakan fungsi kita, just do it. Jika kita memiliki karunia melayani, ya layanilah. Kata pelayanan ini mencakup makna yang luas, di mana segala pelayanan harus meneladani Kristus yang datang ke dunia ini untuk melayani, bukan untuk dilayani, dan menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus banyak orang. Gereja memerlukan segala macam orang untuk melayani. Begitu banyak pelayanan yang dapat kita kerjakan bersama-sama mulai dari hal-hal yang kecil.

3. Yang ketiga ialah karunia untuk mengajar, (Roma 12:7) “jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar”. Mengajar merupakan karunia yang krusial dan penting khususnya berbicara dalam konteks di mana sekarang ini tidak ada lagi nabi dan rasul. Dulu nabi dan rasul yang memberitakan firman Tuhan dan mengajar para jemaatnya. Namun sekarang tidak ada lagi. Tetapi sekarang guru yang mengajar. Ray Stedman, salah satu hamba Tuhan mengatakan bahwa kira-kira sepertiga orang Kristen diberikan karunia untuk mengajar.  Sesuai dengan kapasitasnya, ada yang mengajar sekolah minggu, ada yang mengajar anak kecil, remaja, pemuda, KTB dan ada yang mengajar dalam segala bentuknya. Gereja memerlukan guru-guru atau pengajar dalam segala konteks yang berbeda-beda; yang mengajarkan dengan jelas untuk mempengaruhi dan membentuk orang dengan kebenaran firman Tuhan.

4. Karunia untuk menasehati (encouraging), Roma 12:8 mengatakan “jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati”. Kata “encourage” tidak hanya diartikan sebagai “menasihati”, namun juga mengandung arti “mendorong”, “menghibur”, “menguatkan”. Bahkan Roh Kudus sendiri disebut sebagai Para Kletos, atau “Dia sebagai Penghibur”, “Dia adalah Penasihat”. Gereja juga memerlukan orang-orang memiliki karunia seperti ini yang dapat mendorong, menghibur, menguatkan dan menasihati orang lain. Biasanya kita mengetahui bahwa Tuhan memberikan karunia ini kepada kita melalui konfirmasi dari orang-orang atau teman-teman di sekitar kita.

5. Karunia membagi-bagikan sesuatu. Roma 12:8 mengatakan “Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas”. Ini juga merupakan karunia yang khusus. Membagi-bagikan sesuatu disini ialah bukan membagi-bagikan milik orang lain tetapi membagi-bagikan milik kita. Tidak semua orang memiliki karunia ini, yang mampu membagi-bagi miliknya secara ikhlas. Kita harus belajar taat kepada Tuhan misalnya memberikan perpuluhan, serta berlatih dan mencoba ikut berbagian memberikan persembahan untuk pekerjaaan Tuhan.

 6. Karunia memberi pimpinan (Roma 12:8) “Siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin”.  Kita tidak akan membahas berbagai teori kepemimpinan secara detail. Tetapi jika kita melihat Pendeta Stephen Tong, beliau jelas seorang pemimpin, tetapi secara khusus dapat dikatakan sebagai Visionary Leader yaitu pemimpin yang memiliki visi. Pemimpin yang mengerti sejarah dan mengerti pekerjaan Tuhan di dalam hidupnya, serta mampu menggerakkan dan membagikan visi penting itu kepada orang lain, berjuang untuk menghadapi kesulitan dan tantangan dalam visi itu. Yang boleh membawa visi Reformed Injili dari satu orang  kemudian boleh menyebar kepada ribuan orang di segala tempat. Tetapi ada juga bentuk kepemimpinan yang lain yang disebut Management Leader. Gereja juga memerlukan pemimpin seperti ini, yang ahli di dalam bidang manajemen dan adminstrasi untuk mengatur, agar segala pekerjaan dapat diatur baik dan rapi.

7. Karuna yang ketujuh ialah menunjukkan kemurahan, (Roma 12:8) “Siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”. Karunia ini diberikan oleh Tuhan secara khusus kepada orang tertentu yang berfokus dalam menolong orang yang menderita, yang kesulitan, yang sakit, yang miskin dan yang kekurangan.  Tentunya Gereja juga memerlukan orang-orang yang memiliki karunia yang menunjukkan kemurahan ini. Jika kita diberi Tuhan karunia ini, baiklah kita melakukan pekerjaan-Nya dengan sukacita sehingga orang yang menerima kemurahan ini bisa merasa tertolong luar biasa, terhibur dan dikuatkan.

Demikianlah pembahasan tentang contoh ketujuh karunia ini. Dan masih banyak lagi karunia lain yang tidak disebut dan dibahas satu per satu di sini. Jika kita melihat diri kita memiliki karunia lain yang belum disebutkan disini, maka kita tetap harus melakukannya demi membangun tubuh Kristus. Kita boleh berfungsi jika kita berada di dalam tubuh, dan kita boleh membangun, mendorong, melayani¸ satu dengan yang lain, ke arah Kristus yang adalah kepala.   

Apakah karuniamu? Karunia apa yang engkau miliki? Kalau engkau adalah anggota tubuh Kristus maka engkau pasti memiliki karunia. Kalau engkau anggota Kristus, maka engkau diberi tugas mengerjakan karunia itu, yang telah Tuhan berikan kepadamu, yang dipakai untuk membangun tubuh Kristus, untuk saling melayani, untuk menjadi berkat satu dengan yang lain, di mana semua kita bersama-sama melayani sesuai dengan fungsinya masing-masing, yang berbeda-beda disatukan dalam satu visi, satu kepala - Kristus, satu kebenaran - firman Tuhan, satu Roh yang menebus kita, mempersatukan kita. Jikalau semua itu terjadi, maka kita akan melihat betapa indahnya persekutuan Kristen.

Kerjakanlah karuniamu secara maksimal seperti yang Tuhan inginkan, setiap hari dan di mana saja. Dan pada saat engkau mengerjakan itu, engkau sendiri akan bertumbuh, dan akan mempengaruhi seluruh hidupmu. Marilah kita semua, dengan karunia yang kita miliki masing-masing, bergandengan tangan dan bersama-sama membangun Gereja yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Agar semua yang kita kerjakan akan menjadi berkat untuk semua orang dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya