Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Jauhilah yang Jahat dan Lakukanlah yang Baik

Ibadah

Jauhilah yang Jahat dan Lakukanlah yang Baik

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 1 Juni 2014

Bacaan Alkitab: Roma 12:9-10, 1 Pet 1:22, Fil 1:8

Sekali lagi saya katakan kita telah masuk ke dalam ayat yang sangat-sangat practical. Ini adalah sesuatu yang amazing. Kita tidak perlu menjadi theolog untuk mengerti hal ini. Alkitab dengan begitu jelas telah berbicara hal yang sangat practical. “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” Siapa yang tidak mengerti kalimat ini? Begitu jelas, clear, dan straight forward. Jika kita pegang di dalam hidup kita dan ajarkan kepada anak-anak kita, kita akan banyak dihindarkan dari banyak kebodohan dan kerusakan dunia yang menuju kepada kehancuran. Dalam membangun keluarga kita, sebenarnya kita tidak perlu psikologi yang baru, trend moralitas yang terkini, ataupun ajaran-ajaran baru dalam mendidik anak kita. Dalam acara Kick Andy di Indonesia, Dr. Arkan sedang nge-trend dengan teori ‘Nama’. Menurutnya seseorang dapat dibaca hidupnya dengan memasukkan nama dan tanggal lahir orang tersebut ke dalam kalkulasi yang telah ia buat di komputer. Sehingga jika menurut kalkulasi tersebut hidupnya jelek, maka nasibnya bisa dirubah dengan mengganti nama [1]. Kita tidak perlu hal aneh seperti ini.

Jika kita hanya merenungkan Firman Tuhan yang begitu simpel dan jelas, tidak usah diterjemahkan macam-macam, pegang dan terima saja, maka itu akan membentuk hati dan pikiran kita, juga anak-anak kita ketika kita ajarkan berulang-ulang kepada mereka.  Benci yang jahat dan lakukanlah yang baik! Inilah hidup berkenan yang berkelimpahan yang Tuhan inginkan dan sediakan bagi setiap orang yang taat kepada Firman Tuhan. Tugas saya adalah untuk menanam Firman Tuhan yang sudah jelas tersebut di dalam hati kita dan mendorong kita untuk taat, sehingga membuat kita makin mengerti.

Dua minggu lalu kita telah bahas ayat Roma 12:9, kita akan lebih menjelaskan lebih mendalam ayat 9 dan juga 10. Ayat 9b berkata: buanglah yang jahat dan peluklah yang baik. Jika kita memikirkan lebih dalam dari ayat ini, sebenarnya Paulus ingin mengatakan bahwa: Ada kejahatan dan kebaikan yang objektif di luar diri kita. Ia menolak kejahatan hanya didefinisikan berdasarkan kepada apa yang saya benci atau kebaikan itu didasarkan kepada apa yang saya lakukan. Ini penting di dalam dunia kita yang relativistic ini. Orang bertanya apa itu baik, apa itu jahat? Mereka katakan, yang baik itu adalah yang kamu suka, yang kamu rasa baik itulah baik. Yang kamu rasa benci, tidak suka itulah jahat. Ini menjadi subjektif. Jadi siapa yang mendefinisikan baik atau jahat? Saya yang definisikan. Sekarang kita pikirkan apa itu yang baik lebih lanjut. Jawabannya ada di Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan/ menguji apakah kehendak Allah itu. Yang berkenan bukan kepada kita, tetapi kepada Allah, dan yang sempurna. Apa itu yang baik? Kehendak Allah. Yang Tuhan katakan dan kehendaki di luar diri kita. Inilah kebaikan yang objektif di luar diri kita.

Satu contoh yaitu waktu Tuhan pertama menciptakan manusia, Tuhan memberikan statement, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.” Ini adalah pernyataan kebenaran yang objektif yang tidak tergantung kepada Adam atau siapapun. Walaupun jika kita merasa manusia  seorang diri saja itu baik, faktanya adalah Tuhan mengatakan tidak baik manusia seorang diri, terlepas dari apapun yang orang katakan. Waktu manusia belum jatuh dalam dosa, Allah memberi kesempatan kepada Adam untuk mengerti bahwa itu benar. Ketika Allah memberi kesempatan Adam untuk menamai binatang, ia menyadari tidak ada yang sepadan dengan dia. Semua ciptaan bagus, tapi tidak ada yang se-level, semua ada di bawah kuasa Adam, tidak ada yang ber-pribadi seperti dia. Ini hanya salah satu contoh ada kebaikan objektif yang di luar diri kita. Jadi bagaimana kita bisa katakan ada kebaikan yang objektif di luar diri saya? Karena ada Allah yang berada di luar diri kita. Allah yang hidup, ber-Firman, ada di luar diri kita, tidak tergantung kepada manusia. Allah ada bukan karena manusia percaya baru Allah menjadi ada, tetapi Allah ada pertama-tama sebelum dunia ini dijadikan, Ia ber-Firman. Inilah kebeneran objektif yang kita dipanggil untuk memegangnya. Yang melawan kebenaran ini adalah yang jahat. Jika tidak ada kehendak Allah sebagai kebenaran yang objektif, maka baik atau jahat tergantung saya. Berbeda-beda tergantung definisi masing-masing orang. Inilah yang terjadi di dalam dunia yang membuang Allah, dan kita tidak ingin masuk ke dalam dunia yang demikian, karena bahaya! Lalu apa yang terjadi? The might will be right! Yang mempunyai kuasa (politik, militer, keuangan) adalah yang menentukan apa itu good or evil.

Poin kedua, “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik” lebih tepat diterjemahkan literal sebagai, “In brotherly love (philia), love warmly/affectionately (philostrogoy) one another.” Ini adalah intense inward affection. Lakukanlah yang baik dapat dimengerti peluklah yang baik. Memeluk intensely seperti selayak suami istri. Ini juga dipakai di dalam ayat 10, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara” secara affectionately. Ini yang ingin ditekankan hari ini. Relasi kita satu dengan yang lain tidak cukup hanya sopan dan baik-baik saja. Khususnya bagi orang-orang yang kita rasa kurang cocok, tidak suka, dan membuat kita menjadi basa-basi. Tentu itu lebih baik daripada kita langsung menonjok dia. Lebih baik kita tahan secara sopan dan baik-baik. Tapi tidak cukup sampai disitu. Paulus berkata disini, di dalam kasih persaudaraan, biarlah kita mengasihi dengan warmly, affectionately. Kita perlu mengasihi dengan segenap hati kita, 1 Pet 1:22, “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” Lebih tegas lagi di dalam Fil 1:8, “Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.” Kasih seperti ini yang Tuhan inginkan. Kasih yang 2 Kor 6:11-13 Paulus mengatakan, seperti ia telah membuka hatinya lebar-lebar biarlah engkau sekarang juga membuka hatimu selebar-lebarnya.

Ini kasih yang sedalam hati dan mesra. Paulus berkata I miss you, I am homesick for you. Pernahkah saudara homesick. Tentu banyak pemuda yang baru datang 1 atau 2 bulan homesick. Rindu ingin pulang ke rumah sampai kita rasanya susah hidup. Paulus memakai kata ini, homesick. Ia merindukan jemaatnya. Seberapa jauh kasih kita terhadap saudara kita? Apakah kita yang disini mengalami kasih ini? Saya tahu banyak yang tidak mengalami. Banyak yang merasa lonely, tetap ada. Tidak ada yang mengerti. Duduk di kursi belakang, diajak ngobrol satu dua kali, setelah itu tidak lagi. Apakah kita merindukan mereka? Apakah aku mengasihi temanku? Am I homesick for you? Harap kita bangun dengan kalimat di Alkitab yang sangat jelas ini. Kita merefleksikan diri dan membangun akan cinta kasih di antara kita. Salah satu bentuk program yang kita jalankan adalah Orangtua Rohani. Dimana keluarga-keluarga di Gereja kita memperhatikan para pemuda. Diharapkan ada kasih yang sungguh-sungguh mencintai dari hati yang terdalam diantara kita.

Allah bukan hanya berbicara kepada pikiran, kehendak, dan pengetahuan kita. Firman Tuhan bukan hanya mendorong kita untuk melakukan, walaupun itu benar; tetapi Firman Tuhan berbicara kepada afeksi kita. Alkitab berkali-kali mengatakan, “Bersukacitalah di dalam Tuhan”. Ini berbicara tentang perasaan, hati, afeksi yang mendalam. Waktu kita berbicara tentang pengetahuan, itu jelas mana yang benar dan mana yang salah. Jika kita tidak tahu, maka sekarang diberi tahu, dibenturkan kepada Firman, lalu harus menerima dan berubah. Antara taat dan tidak taat juga jelas. “Lakukan, pergilah menjadi saksi Tuhan”. Ketika kita tidak pergi, maka kita salah. “Beritakan Injil”. Kita tidak beritakan, berarti kita salah. Tetapi, “Kasihilah satu sama yang lain..”. Ini agak sedikit membingungkan. Kasih dalam bagian ini khususnya bukan hanya berbicara melakukan, ini tentu bagian daripada kasih, tetapi lebih lagi ini adalah intense inward affection. Bagaimana jika kita tidak mempunyai intense inward affection ini? Ingat mukanya saja sudah kesal! Bagaimana aku bisa mengasihi dia? Jangankan rindu, kalau bisa jangan bertemu, padahal sama-sama kebaktian di Gereja. Kalau bisa jangan lihat wajahnya, kalau lihat wajahnya, ibadah saya jadi kacau. Alkitab berkata beribadah dan mengasihi sesama tidak bisa dipisahkan. Hal ini harus dibereskan. Matius mengatakan jika kita beribadah memberi persembahan kepada Tuhan, ada yang belum beres dengan temanmu atau saudara seiman, tinggalkan ibadahmu dan persembahan itu. Pergi ke tempat saudara seimanmu, berdamai dahulu dengan dia. Jika tidak, ibadahmu tidak diterima oleh Tuhan [2]. Ini penting sekali!

Roma 12:15 menyatakan “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Betul-betul bersukacita dan betul-betul menangis, bukan air mata buaya, tetapi dari hati yang sesungguhnya. “Bersyukurlah kepada Tuhan”. Bersyukur bukan hanya pada waktu kita bernyanyi memuji Tuhan “praise Him, praise Him”. Tetapi ketika kita bernyanyi dari hati kita. Itulah thankful, hati yang bersyukur kepada Tuhan. Jika hanya keluar dari mulut tetapi tidak keluar dari hati, Tuhan katakan itu munafik! ”Aku benci kepada ibadah yang demikian”[3]. Tetapi bagaimana jika kita tidak dapat mengalami hal ini? Ini tetap dosa. Jika kita tidak bisa mengasihi sebagaimana Tuhan inginkan, apalagi membenci saudara seiman yang sudah memiliki history dengannya, pernah konflik, dilukai hatinya, tersinggung; kita tetap berdosa. Kita tidak berperasaan dalam hal ini. Jangan sampai kita emotional blunt (orang yang tidak mempunyai perasaan). Secara logika tahu anak teman kita meninggal tertabrak mobil, ia tahu harus sedih karena melihat temannya yang sedih dan hancur. Ia seharusnya menangis. Tetapi waktu ia datang melihat temannya nangis, ia tidak bisa merasakan sedih. Orang ini sakit. Emosi harus dikuduskan! Maka Pa Tong membuat seri Pengudusan Emosi.

Jauhilah kejahatan! Kejahatan bukan hanya dijauhi, tetapi dibenci! Bencilah kejahatan! Peluklah kebaikan seperti kita memeluk istri atau suami kita. Kasihi saudara kita dengan kasih yang sedalam hatimu, yang sungguh-sungguh. Kasih yang merindukan saudara kita. Mengapa ini penting? Karena kita menyaksikan bahwa Allah yang di Sorga adalah Bapa kita. Kalimat pertama dari Doa Bapa Kami adalah “Bapa kami yang di Sorga”. Bapa kami, bukan Bapaku. Kami sebagai Gereja adalah saudara seiman di dalam hal kasih mengasih (brotherly love). Tapi bagaimana jika kita belum bisa mengasihi?

Pertama, kita perlu berdoa mohon Tuhan beri kekuatan kepada kita. Kita ingat teman kita di dalam doa. Waktu kita marah-marah dan mengungkapkan seluruh kekesalan kita kepada teman yang kita benci, setelah itu berdoa, langsung akan lain. “Tuhan berkati dia. Tuhan tahu kelemahan saya yang tidak bisa mengasihi dia.” Mari kita biasakan berdoa. Mohon Tuhan berbelas kasihan kepada kita. Kita telah mengetahui Firman Tuhan menegur kita. Kita harus mengasihi dia bukan dengan sopan-sopan, tapi dengan segenap hati membuka hati selebar-lebarnya merindukan orang itu. Minta Tuhan mengubah dan memberi hati yang baru kepada kita.

Kedua, biarlah kita fokus kepada realita sorgawi dan kemurahan Allah. Apa maksud realita sorgawi? Biarlah kita jangan melihat realita yang kita alami. Jika kita lagi kesal dan bentur, kita terus memikirkan masalah orang itu. Jika kita terus fokus terhadap kesal dan sakitnya kita, maka tidak akan pernah selesai. Tetapi mari kita fokus terhadap realita sorgawi bahwa Bapaku yang di Sorga adalah Bapa dia yang aku benci. Yang dengan kasih yang sama telah mengasihi aku sebelum aku mengenal-Nya. Dengan darah yang sama telah membasuh dan mengampuni dosaku. Ini memberi kita kesadaran kita harus mengasihi musuh kita. Fokus kepada kemurahan  Allah, Roma 12:1, “Karena itu demi kemurahan Allah…”. Ayat 1 menjadi ayat kunci semua pasal 12-16 yang menjadi respons practical kehidupan kita. Tetapi dasarnya adalah kemurahan Allah. Demi apa yang Tuhan telah anugerahkan dan kerjakan dalam hidup kita.

Ketiga, ini adalah proses, sesuatu pertumbuhan. Jangan harap waktu kita kesal bisa langsung mengasihi dia dengan segenap hati. Tidak mungkin! Ini proses. Tetapi jika kita belum dapat berkata, “I miss you! I’m homesick for you!” tidak apa-apa. Asal kita mau bertumbuh ke arah situ. Tetapi kita tidak boleh membenci dia atau basa-basi kepada dia. Aku ingin mengasihi dia tetapi susah sekali, tidak apa-apa. 2 Tes 1:3 “Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu,” Biarlah iman kita makin bertambah, kasih juga makin bertumbuh. Kasih diantara kita makin kuat. Harap kita boleh masuk ke dalam proses dan jalur itu. Tentu ini akan terpancar akan apa yang kita katakan dan kerjakan. Saudara mulai coba bicara dan menegur (say hello). Maz 133:1 “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”.

[1] KICK ANDY - Misteri di balik nama (4 Apr 14) https://www.youtube.com/watch?v=i5XRds-rvKU

[2] Mat 5:23-24

[3] Maz 26:4

Ringkasan oleh Denny Chandra | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya