Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Hendaklah Kasih itu Jangan Pura-Pura

Ibadah

Hendaklah Kasih itu Jangan Pura-Pura

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 18 Mei 2014

Bacaan Alkitab: Roma 12:9

Kata kasih di dalam bahasa Yunani ada 4 macam: Storge adalah kasih seperti ibu kepada anaknya, Philia adalah kasih kepada teman, Eros adalah romantic love antara sepasang suami isteri, dan terakhir yang menjadi puncak dan adalah sumber dari ketiga kasih yang lain adalah Agape yaitu kasih Kristus yang menyerahkan nyawaNya mati bagi kita. Pada ayat 9, kata kasih yang dipakai adalah Agape, sedangkan untuk kata “jangan pura-pura”, dalam terjemahan NIV memakai kata sincere yang berasal dari bahasa Latin “sine cera” yang berarti “without wax”. Ini terjadi dalam konteks zaman dulu bila ada orang menjual keramik yang retak atau pecah seringkali diberi wax agar retakannya atau sambungannya tidak kelihatan sehingga terlihat bagus. Ayat ini mau menjelaskan bahwa kasih itu jangan berpura-pura karena Tuhan sangat marah kepada orang-orang yang mengasihiNya dengan tidak tulus, berpura-pura  atau munafik. Alkitab menceritakan bahwa orang Farisi diasosiasikan dengan kemunafikan. Kita bisa melihat bagaimana sikap Yesus yang sangat marah kepada kemunafikan mereka, ”Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu” (Matius 15: 7-8).

Mulut menyembah tetapi hati tidak beribadah, inilah yang dimaksud dengan orang munafik, yaitu sesuatu yang kelihatan bagus dari luarnya tetapi dalamnya tidak baik. Kemarahan Tuhan tidak hanya satu kali saja tetapi berkali-kali. Dalam kesempatan lain Yesus bahkan mengutuk ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka itu (Matius 23). Mereka seperti kuburan yang dilabur putih, terlihat bersih di luar namun penuh tulang-belulang di dalamnya. Terlihat baik di luar tetapi busuk di dalam. Di dalam Perjanjian Lama Allah juga begitu murka kepada kemunafikan orang Israel. Kitab Nabi Yesaya 1: 12-15 menceritakan tentang Allah yang begitu murka, muak dan sangat terbeban dengan sikap orang Israel yang memuji dan beribadah kepada Tuhan tetapi hatinya jauh daripada Tuhan. Allah begitu benci dengan doa-doa yang mereka, benci dengan apa yang mereka lakukan.

Marilah kita pikirkan bagaimana kemunafikan bisa terjadi dan bagaimana manifestasinya pada orang-orang ini. Bagi orang-orang munafik, penampilan luar sangatlah penting yaitu bagaimana bisa kelihatan mengasihi tetapi bukan betul-betul mengasihi, bagaimana bisa memberikan impresi yang baik kepada orang lain. Munafik tidak sama dengan apa yang orang sekarang istilahkan sebagai “menjaga image”. Orang munafik lebih memikirkan apa yang orang lain pikirkan agar ia terlihat baik, terlihat mengasihi orang lain. Mereka berusaha memberikan impresi yang baik. Mengapa demikian?, karena mereka mempunyai dosa dalam hidupnya dan menyembunyikannya dengan tampilan luar yang terlihat baik. Mereka berpura-pura mengasihi supaya orang lain terkesan akan sincerity padahal mereka hanya menyembunyikan dosa yang mereka miliki dari pandangan orang lain. Bila mereka mengasihi dengan tulus, maka kasih itu akan terlihat dengan dan tidak perlu berpura-pura agar orang lain terkesan.

Roma 12:9 juga menyatakan bahwa kasih juga tidak melakukan yang jahat tetapi memegang yang baik. Pada ayat 9 kasih disini dimengerti sebagai satu kesatuan yang utuh karena ayat ini berbicara tentang hati yang paling dalam pada waktu kita melakukan kasih: kasih itu tidak pura-pura, kasih itu membenci yang jahat dan kasih itu mencintai yang baik. Pernyataan ini memang benar namun penekanannya jauh lebih dalam dari sekedar arti literalnya. Allah itu adalah kasih namun Ia membenci kejahatan, di dalam kasih ada intense rejection (NIV: hate) terhadap sesuatu yang evil. Kasih juga secara intense memeluk, melekat, menyatu (NIV: cling) dengan sesuatu yang baik. Dengan demikian kasih itu bukan hanya menjauhi kejahatan tetapi justru harus membenci kejahatan, bukan hanya melakukan yang baik tetapi justru harus menyatu dengan kebaikan itu sendiri. Analogi “menyatu” disini sama seperti seperti suami yang menyatu dengan isterinya, mereka bukan lagi dua melainkan satu.

Bila gambaran kasih adalah seperti itu, pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana jika kita menyelidiki hati kita degan jujur, ternyata sesungguhnya kita tidak membenci yang jahat, menyukai apa yang jahat, bahkan membenci apa yang baik? Apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah tidak ada jalan lain selain kita harus dilahirkan kembali, karena firman Tuhan mengatakan apa yang lahir dari daging akan mencintai hal-hal kedagingan, tetapi apa yang lahir dari roh akan mencintai hal-hal yang berasal dari roh.

Bila kita belum membenci kejahatan dan belum mencintai kebaikan, maka kita perlu anugerah Tuhan dan perlu berseru kepada Allah agar Ia memberikan hati yang baru. Bila kita sudah memiliki hati yang baru dan menjadi anak-anak Tuhan tetapi masih bergumul dengan hal-hal seperti ini, biarlah kita terus berjuang untuk terus mengalami perubahan, transformasi untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini dengan pembaruan pikiran (Roma 12: 2).

Point lain yang akan kita renungkan adalah kaitan antara kasih yang tulus dengan membenci yang jahat dan mencintai yang baik. Kita semua tentu setuju bahwa jika kita mengasihi seseorang maka kita akan melakukan apa yang baik bagi orang itu. Sebaliknya, kita tidak akan melakukan hal-hal yang jahat bagi orang itu, menghindari apa yang jahat terjadi pada orang itu. Persoalannya adalah, apa definisi yang baik dan yang jahat?, siapa yang mendefinisikan yang baik dan yang jahat itu?, dan atas dasar apa definisi itu dibuat? Persoalan ini menjadi penting untuk dimengerti karena di dalam hidup kita seringkali membuat definisi secara subyektif menurut ukuran diri kita sendiri berdasarkan pikiran, pengetahuan dan pengalaman yang kita terima dari dunia ini. Kemudian atas nama kasih (yang menurut pengertian kita itu), kita menerapkannya kepada orang lain yang kita kasihi, melakukan apa yang menurut kita baik dan menjauhkan dia dari apa yang menurut kita jahat. Hal ini kemudian menjadi problem karena orang yang kita kasihi itu ternyata tidak merasa dikasihi atau merasa bahwa itu tidak baik karena tidak ia perlukan.

Ada contoh-contoh nyata yang saya diambil dari buku KTB Keluarga (1) yang ditulis oleh Pdt. Yakub Susabda, pendeta yang juga adalah counsellor rumah tangga, pertanyaan seorang ibu berikut tanggapannya.

“Bapak pendeta yang baik, bukannya saya tidak mau mengasihi dan melayani suami saya. Bukannya saya juga tidak tahu kalau suami saya membutuhkan kasih dan pelayan yang cukup karena ia berkali-kali mengatakan hal tersebut secara terus terang. Saya mau, tapi sampai kapan? Bagaimana kalau tidak ada perubahan dari pihaknya? Bukankah saya juga manusia biasa yang juga membutuhkan kasih dan pelayanannya? Terus terang saja nasehat bapak yang saya rasakan itu berat sebelah.”

Tanggapan: Ditengah dilema pernikahan agaknya Ibu A tak dapat memberikan kasih dan pelayanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan suaminya. Kemungkinan kasih dan pelayanannya akan ditolak oleh suaminya oleh karena kasihnya “too little”. Mengapa Ibu A mempunyai kasih yang too little yang tidak cukup memenuhi kebutuhan suaminya? Mengapa ia tetap ragu-ragu dan tidak berani beresiko, takut membayar harga terlalu mahal dan sia-sia meskipun ia tahu bahwa hanya dengan pengorbanannyalah ada pengharapan bahwa suaminya akan betul-betul dapat diperbaiki? Ketidakmampuan memberikan kasih dan pelayanan yang cukup merupakan kelemahan pribadi yang dibawa banyak orang sejak kecil. Biasanya mereka lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang orientasinya adalah tugas dan pekerjaan. Perasaan dan hubungan batin antar pribadi tidak pernah dilatih. Orang tua hanya memuji dan menghargai kalau anak-anaknya rajin belajar dan dapat mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, tetapi hubungan pribadi dan keterlibatan emosi antara anggota-anggota keluarga tersebut tidak ada.

Inilah contoh kasih yang too little yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada, yang justru tidak mengubah apa-apa dan akan ditolak karena orang yang “dikasihi” itu sesungguhnya merasa tidak dikasihi. Lain hal, ada pula contoh kasih yang “too much” yang kadang-kadang dirasakan sebagai jerat dan beban bagi orang yang menerimanya. Perhatikan surat di bawah ini.

“Bapak pendeta, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya sudah belajar masak, menjahit, mengatur rumah tangga, bahkan ikut senam dan belajar make up. Kalau bapak mau tahu, segala kebutuhan suami, betul-betul saya penuhi baik itu kebutuhan seks maupun kebutuhan untuk menjadi teman bicaranya. Tetapi bagaimana reaksinya? Apakah ia berterima kasih? O tidak sama sekali. Semalam ia membentak saya ketika saya mencoba menemani dia menonton TV. Kata-katanya sangat menyakitkan. Dia menyebut saya menyebalkan, persis seperti mamanya yang tidak ia sukai.”

Tanggapan: Kasih yang too much ini juga merupakan kelemahan pribadi yang dipelajari dari kecil. Biasanya mereka menjadi korban dari keluarga yang disfunction. Keluarga yang kacau ini biasanya ditandai dengan masing-masing mempertahankan role atau peran yang sudah ditentukan. Kalau dulu pada umur 1 tahun ia diperlakukan sebagai bayi, maka pada umur 20 tahun sebenarnya ia masih diperlakukan sebagai bayi juga. Si ibu mempertahankan role yang dinikmatinya dengan dengan menyangkali realita yang ada (bahwa anaknya sudah dewasa). Dalam keluarga disfunction ini biasanya tidak ada kebebasan untuk mengubah keadaan. Banyak aspek kehidupan nyata yang tidak pernah disingkapkan dan dipikirkan sebagai realita dan dibicarakan bersama karena keluarga tersebut menyangkali realita. Anak-anak dari kecil terus menerus juga terlatih untuk menyangkali realita. Akibatnya mereka tidak dapat mengerti apakah yang mereka perbuat adalah sesuatu yang benar-benar baik atau tidak. Yang mereka tahu hanyalah melakukan apa yang mereka harus lakukan.

Mengapa kasih bisa menjadi too little atau too much? Ini kembali menyangkut kepada definisi apa itu baik dan apa itu jahat. Jika kita mengasihi maka kita akan melakukan apa yang baik dan kita tidak akan melakukan yang jahat. Tetapi apa itu baik dan apa itu jahat? Kalau kita membuat definisi berdasarkan pengertian yang dibuat menurut subyektifitas diri kita sendiri, maka ini akan mejadi problem ketika manusia yang yang luar biasa kompleks berusaha menerapkan kasih yang menurutnya baik di dalam kehidupan.

Jadi, apa itu baik dan apa itu jahat? Pada prinsipnya kita tidak boleh membuat definisi berdasarkan pengertian diri kita sendiri. Definisi itu harus berasal dari the ultimate good itu sendiri, yaitu harus berasal dari Tuhan sendiri. Hanya melalui firman Tuhan sajalah maka kita baru bisa mengerti apa itu kasih, hanya dengan mengenal Tuhan dan mentaati firmanNya maka sesungguhnya kita baru bisa mengerti kasih, melakukan apa yang  benar, mengasihi sesama dengan benar, serta membenci apa yang jahat.

Apa tandanya bahwa kita sudah mengerti kasih? Di dalam 1 Yohanes 5:2 ada tertulis, “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” Tetapi bagaimana kita tahu bahwa kita mengasihi Allah?, apa buktinya kita mengasihi Allah? Kembali Yohanes menjelaskan bahwa kita mengasihi Allah apabila kita mengasihi orang lain, yaitu saudara seiman (1 Yoh 4: 20-21). Jadi dengan demikian, tanda bahwa kita mengasihi Allah dan kasih Allah ada di dalam kita adalah dengan mengasihi saudara-saudara seiman dengan cara mengenal Allah, mengasihiNya dan melakukan perintah-perintahNya. Ketika firman Tuhan mengatakan sesuatu itu baik, maka itulah yang kita lakukan kepada orang lain. Itulah kasih yang sejati. Ketika firman Tuhan mengatakan sesuatu itu jahat, maka kita tidak melakukan, menjauhkan dan membenci kejahatan. Itulah kasih. Inilah kaitan antara kasih dengan membenci yang jahat dan melakukan yang baik.

Firman Tuhan itu baik bagi kita karena Tuhan itu baik. Di dalam Mazmur 119:68 ada tertulis, “Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku”, dan di dalam Yohanes 10:11 Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”. Ia adalah Allah yang baik, segala sesuatu kebaikan yang kita alami di dalam kehidupan adalah kebaikan yang kita terima secara tidak langsung dari sumber kebaikan itu.

Mengapa tidak langsung?, karena segala kebaikan yang kita terima di dalam kehidupan adalah baik kalau kebaikan itu membawa kita kepada the ultimate good yaitu Allah itu sendiri. Bila kebaikan yang kita terima itu tidak membawa kita kepada Allah, maka yang baik itu sebenarnya adalah jahat. Ketika hal-hal yang baik tidak membawa kita kepada Kristus, menghalangi kita untuk datang kepadaNya, mengaburkan pengenalan kita kepada yang mulia itu, atau hal-hal yang baik itu menjadi yang utama dalam hidup kita dan berkompetisi dengan Kristus, maka hal-hal yang baik itu justru menjadi yang tidak baik dan menjadi berhala bagi kita.

Baik adalah baik bila kebaikan itu membawa kita kepada Kristus. Hanya Kristus-lah sumber kebaikan, the ultimate good itu. Ketika kita mentaati firmanNya maka kita akan melakukan yang baik itu kepada orang-orang yang kita kasihi. Biarlah kita menjadi orang yang melakukan kebaikan, dan kasih itu kita pancarkan melalui kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita dan membenci akan kejahatan.

(1) "Marriage Enrichment - Pembinaan Keluarga Kristen", oleh Pdt Yakub Susabda

 

Ringkasan oleh Mauritz Nainggolan | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya