Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Hidup adalah Kristus dan Mati adalah Keuntungan

Ibadah

Hidup adalah Kristus dan Mati adalah Keuntungan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Rabu, 1 Januari 2014

Bacaan Alkitab: Fil 1:20-26

Di sini Paulus mengajarkan konsep yang sering kita dengar, bagaimana hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Satu kali seorang dalam proses konseling menceritakan bahwa hidup baginya itu seperti proses menyusun kartu remi. Ini suatu gambaran yang mengerikan, karena setiap kartu disusun di atas susunan kartu lainnya, sehingga satu saja kesalahan maka seluruh susunan kartu akan rubuh! Begitu pula dalam hidup orang ini, setiap keputusan dibangun di atas keputusan lain yang tidak kokoh, sekali saja salah ambil keputusan, seluruh hidupnya akan hancur! Selain itu banyak orang yang mengatakan hidup ini dengan contoh yang lain, seperti perjalanan, sirkus, puzzle, harmoni, atau bahkan tarian di mana kita harus mengikuti iramanya, ada juga yang menceritakan hidup seperti carrousel yang bisa naik turun. Jadi hidup itu apa sebenarnya?

 Di sini Paulus menjelaskan bahwa ada tiga hal mengenai arti hidup. Yang pertama, hidup adalah sebuah ujian. Kata ujian, pencobaan, dan penyaringan memiliki arti yang berdekatan. Ujian dari Tuhan, dan pencobaan dari Si Jahat, tapi seringkali keduanya berlangsung bersamaan. Adam dan Hawa gagal ketika diuji di taman Eden. Namun, Alkitab memberikan banyak contoh tokoh-tokoh Alkitab yang berhasil lolos ujian yang dihadapi, baik Yusuf dengan istri Potifar, Abraham saat mempersembahkan Ishak di atas gunung Moria. Karakter juga dibentuk melalui setiap ujian yang dilewati. Tahun 2013 mungkin merupakan banyak perubahan dan tragedi yang terjadi di mana Tuhan sedang menguji kita, karakter apa yang kita miliki. Sebagai gereja Tuhan kita juga duji dengan keluarnya lima hamba Tuhan dari GRII. Tapi bagaimana kita berespons dan apa yang kita pelajari melalui ujian dan tantangan yang kita hadapi? Dan tidak cuma tantangan, tapi juga melalui berkat yang Tuhan anugerahkan. Seringkali kekristenan mulai merosot dalam saat-saat kelancaran dan kesuksesan. Apakah nanti ketika gedung gereja kita selesai dibangun, kita jadi lega dan mulai lengah, atau sadar ini merupakan permulaan dari satu kesempatan yang baru? Apakah kita justru jadi makin bersandar pada-Nya? Kita tidak akan berhenti diuji oleh-Nya sampai kita bertemu muka dengan muka lagi dengan-Nya.

 Yesus berhasil melewati cobaan si Iblis dengan bersandar pada Firman Tuhan. Dia tidak terjebak oleh perkataan si Iblis karena Dia mengerti arti Firman yang sesungguhnya. Berbeda dengan banyak gereja sekarang, bahkan bidat-bidat seperti Mormon dan Saksi Yehovah, dan iblis sekalipun, mereka sering memakai Firman Tuhan, tapi di-twist artinya. Semua memakai dan mengutip Alkitab, tapi apakah benar itu yang dikatakan Alkitab? Iblis mengutip Mzm 91:11-12 bahwa kita dapat melemparkan diri dan malaikat Tuhan akan menatang kaki kita. Tapi Yesus kembali  kepada prinsip Firman yang sejati: memang maksud Firman ini adalah Tuhan akan menjaga kita, tapi janganlah kita sengaja menjatuhkan diri, karena itu berarti kita sedang mencobai Allah. Dan seringkali inilah bahaya yang terjadi bagi orang Kristen. Suami istri ketika bertengkar bisa saja memakai Efesus 5:22-33. Suami memaksa istri untuk tunduk pada suami karena itulah perintah di ayat 22, tapi dia lupa bahwa suami juga harus mengasihi istrinya seperti Yesus menyerahkan diri-Nya bagi jemaat. Istri pun bisa saja mengutip ayat 25 untuk memaksa suami mati baginya, tapi dia lupa ayat sebelumnya mengajarkan dia untuk tunduk, bukan tanduk suaminya! Maka kita perlu merenungkan dan menggali Firman yang murni, yang menjadi pelita bagi kaki kita. Janganlah kita take for granted  Firman yang kita telah terima. Hidup ini adalah ujian, Tuhan yang telah menguji kita di tahun-tahun sebelumnya, dia juga akan menguji kita di tahun yang baru ini. Biarlah kita boleh didorong bahwa hidup itu adalah ujian, dan kesempatan kita melihat respons kita kepada Tuhan.

 Yang kedua, hidup itu adalah sebuah kepercayaan[1]. Baik kesehatan, kekuatan, dan relasi dengan sesama (baik sahabat maupun pasangan) merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita. Karena dunia dan segala isi di dalamnya adalah berasal dari Dia dan dipercayakan kepada kita. Semua yang kita miliki adalah kepercayaan dan bukan sungguh-sungguh kita miliki sendiri. Sama seperti slogan Patek Phillipe[2]: you never actually own a Patek Philippe, you merely look after it for the next generation. Kita tidak pernah memegang segala hal yang kita miliki sekarang untuk selamanya, itu hanyalah kepercayaan. Adam dan Hawa juga dipercayakan menjadi penguasa dari seluruh taman Eden yang Tuhan ciptakan. Mereka dipercayakan mengelola dan mengurus taman itu. Begitu pula 552 City Rd adalah gedung yang Tuhan percayakan kepada kita. Maukah kita bersama-sama mengerjakan apa yang telah Dia percayakan kepada kita? Karena pada akhirnya, Tuhan akan mengevaluasi bagaimanakah kita sudah mengelola apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

 Waktu adalah apa yang Tuhan sudah percayakan kepada kita, jadi janganlah kita take for granted. Musim akan terus berganti musim, tapi kita harus tetap refleksi apakah yang sudah kita  kerjakan dengan yang Tuhan percayakan kepada kita. Sudahkan kita memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang di sekitar kita? Alkitab terus mengajarkan konsep penatalayanan atau stewardship terhadap hal yang dipercayakan kepada kita. Di dalam Mat 25:14-30 dikisahkan seorang tuan yang memberikan kepercayaan yang berbeda kepada hambanya: ada yang lima talenta, dua talenta dan satu talenta. Setiap hamba atau manajer ini harus pergi mengerjakan dan mengembangkan talenta mereka, dan akan dievaluasi oleh tuannya setelah lewat satu waktu. Yang lima talenta dan dua talenta langsung bekerja keras dan menghasilkan masing-masing lima dan dua talenta. Jika kita perhatikan, maka respons tuannya sama persis kepada dua manajer ini. Walaupun yang lima talenta memberikan hasil yang lebih banyak daripada dua talenta, sang tuan tetap sama-sama menerima kedua hambanya ini. Sebaliknya sang tuan marah sekali kepada hamba yang diberi satu talenta, karena dia tidak mempercayai tuannya. Manajer yang satu ini tidak mengerti bahwa yang diberikan kepadanya adalah satu kepercayaan, di mana sang tuan hanya menuntut hasil satu talenta saja, bukan dua maupun lima talenta! Sehingga tuannya mengambil satu talenta itu untuk dipercayakan kepada hamba yang lima talenta, yang mau mengerjakan kepercayaan itu.  Jadi begitu pula dengan Tuhan kita, yang tidak melihat berapa banyak yang kita hasilkan bagi-Nya, tapi seberapa banyak hasil yang kita berikan itu sesuai dengan kepercayaan yang Tuhan berikan bagi kita. Bukan hasilnya dibandingkan dengan orang lain. Sharing tentang Pdt. Stephen Tong jangan disamakan dengan kita, karena memang pelayanannya unik dan tidak ada dari kita yang bisa mengerjakan hal yang sebesar beliau. Mari kita mengerjakan kepercayaan kita sesuai dengan porsi yang kita miliki. Hidup itu adalah kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita. Seringkali saya melihat orang-orang yang terbatas tapi memberikan semuanya bagi Tuhan, dan semuanya itu jadi berbuah terus.

Banyak pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita, dan kita masih harus terus kembangkan. Ketika Pdt. Agus Marjanto datang melayani di sini, dia mengatakan bahwa ini adalah satu gereja yang beautiful, jumlah yang ideal, dan banyak hal baik yang Tuhan berikan seperti: keindahan pelayanan bersama, persekutuan yang indah dan saling menegur/membangun. Beliau mengatakan bahwa kalau di GRII Karawaci dengan 800 jemaat, sulit sekali untuk memiliki persekutuan. Apalagi dengan GRII Pusat yang ada ribuan jemaat, di mana setiap minggu kita tidak kenal orang di sebelah kiri dan kanan kita. Tapi ketika saya pergi pelayanan ke Amerika, sedikit sekali jemaatnya, ada yang 15, 20, bahkan ada yang cuma 4 orang yang aktif di satu kota. Sulit sekali konteks mereka, di mana hanya empat orang tapi harus mengerjakan semua pelayanan: membagikan undangan, menyiapkan ruang kebaktian, memimpin liturgi, mengatur sound system. Jadi sebenarnya kita di sini sudah ideal jumlah jemaatnya. Bukan berarti kita tidak perlu berkembang lagi, tapi biarlah sadar bahwa ini adalah kepercayaan yang besar yang Tuhan berikan. Harap ketika jumlah kita semakin besar, kita masih dapat memelihara persekutuan, salah satunya melalui KTB[3]. Itu pula yang saya dan beberapa hamba Tuhan lain kerjakan di GRII Singapura yang punya 600 jemaat lebih. Kami memulai OSG (Organic Small Group) yang seperti KTB, yang merupakan legacy yang kami tinggalkan di sana dan masih terus berlangsung.

Yang terakhir, saya akan tutup dengan mengatakan bahwa hidup adalah suatu tugas yang bersifat sementara. Musa mengatakan umur manusia hanya 70-80 tahun, kiranya di tahun 2014 ini kita juga sadar bahwa kita tidak boleh memegang terlalu erat hal-hal yang bersifat sementara di dunia ini. Oleh karena itulah Paulus dapat mengatakan bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Karena dia mengerti bahwa hidup ini adalah ujian, kepercayaan dan juga hanya sementara. Sehingga bila dia masih hidup, itu untuk mengabarkan Injil dan membuat sukacita jemaatnya sempurna di dalam Tuhan, untuk membawa mereka mengenal kekekalan. Biarlah kita boleh pakai hidup ini untuk hal-hal yang memperkenan Tuhan, dan Dia juga bekerja dalam hidup kita untuk mengerjakan kebaikan bagi umat yang mengasihi-Nya. Biarlah kita mengerjakan hal-hal yang sementara di dunia ini untuk hal-hal yang bersifat kekal. Dan kebaikan yang Tuhan kerjakan itu tidak hanya hal yang kita alami, tapi juga bahkan setelah kita matipun tetap ada kebaikan Tuhan. Karena itulah Paulus mengatakan kematian itu keuntungan yang besar, di mana dia bisa bertemu muka dengan muka dengan Kristus. Dan keuntungan ini juga sudah dimulai dari kehidupan yang sekarang, karena Kristus yang sudah hidup di dalam kita. Kiranya hidup kita boleh Tuhan pimpin sehingga makin dekat dengan-Nya!

 


[1] Kepercayaan di sini diartikan sebagai sesuatu yang dipercayakan oleh seorang tuan kepada hambanya, misal talenta dalam perumpamaan Mat 25:14-30

[2] http://www.patek.com/contents/default/en/advertising2013.html

[3] KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) adalah kumpulan orang-orang yang dengan menyadari akan kasih karunia Allah yang berlaku di dalam kehidupan mereka, bertemu untuk mendalami firman Tuhan, berbagi pengalaman, serta saling mendukung dan mendoakan antara seorang dengan yang lain dalam proses pemulihan karakter dan pertumbuhan menjadi seperti Kristus.  

Ringkasan oleh Andy Lasmono | Diperiksa oleh Denny Chandra


Ringkasan Khotbah lainnya