Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Belajar untuk Mengenal Allah

Ibadah

Belajar untuk Mengenal Allah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 12 Januari 2014

Bacaan Alkitab: Roma 11:33-36

Anthony Collins adalah seorang filsuf Deisme dari Inggris yang sangat dipengaruhi oleh John Locke. Suatu hari ia berpapasan dengan seorang Kristen yang sedang menuju gereja. Setelah bercakap-cakap sebentar ia kemudian bertanya kepada orang Kristen ini, “Allah yang kamu sembah itu besar atau kecil?” Orang Kristen ini menjawab “Dua-duanya. Ia begitu besar sampai langit yang mengatasi langit pun tidak dapat memuatnya, tetapi Ia begitu kecil hingga Ia bisa tinggal di hatiku”. Jawaban ini begitu mengagetkan Anthony Collins sehingga di kemudian hari dia menulis bahwa jawaban orang Kristen yang sederhana itu memberikan pengaruh yang lebih besar kepadanya daripada segala buku filsafat yang pernah dibacanya. Pertanyaanya, “How big is God for you”. Jawaban ini akan menentukan kerohanian kita dan akan mempengaruhi seluruh hidup kita mengenai pengenalan akan Allah, siapa Allah itu, seberapa besar Ia sesungguhnya di dalam hidup kita. Bila kita menyelidiki banyak kekhawatiran didalam hidup kita, maka salah satu akarnya adalah karena kita tidak percaya Allah mampu memelihara hidup kita. Banyak orang Kristen menjalani hidup seolah-olah Allah itu tidak ada. Apakah Allah itu real? Apakah ada atau tidak ada Allah memberi dampak pada hidup kita? Mana yang lebih susah: tidak ada Allah atau tidak ada uang?, putus pacar atau putus dengan Allah? Ada orang-orang yang sudah sangat resah dan susah ketika kehilangan mobile phone selama seminggu, namun tidak merasakan apa-apa bila tidak membaca Alkitab selama seminggu, atau tidak pergi ke gereja dan berdoa.

Hari ini kita akan belajar mengenal Allah yang dinyatakan oleh Rasul Paulus kepada kita. Seberapa real dan seberapa besar Allah itu tergantung dari bagaimana pengenalan akan Dia di dalam hidup kita. Saya sendiri pernah bergumul lama sewaktu memutuskan untuk masuk sekolah theologia dan menjadi hamba Tuhan yaitu saya takut miskin karena semua tahu seberapa penghasilan hamba Tuhan dan hidupnya bukan berorientasi pada uang. Sebenarnya pergumulan ini bukan pergumulan orang yang mau masuk sekolah theologia saja tetapi pergumulan menjadi orang Kristen sejati dan orang kristen yang biasa. Akar kekhawatiran dan ketakutan saya adalah karena tidak percaya Tuhan mampu memelihara. Betulkah Dia mampu memelihara? Setelah digumuli lagi dengan membuka hati dihadapan Tuhan, saya mulai sadar bahwa saya tidak mempunyai iman dan tidak sungguh percaya Tuhan akan memelihara. Firman Tuhan “lihatlah burung-burung di langit dan bunga bakung di ladang” (Mat 6: 26-28) seolah-olah berbicara kepada saya, “hai engkau yang kurang percaya”, bahwa Tuhan akan memelihara.

How big is God for you tidak bisa dijawab dengan banyaknya pengalaman atau luasnya pengertian kita tentang Firman, tetapi bagaimana Firman itu,  yang telah Tuhan nyatakan bagi kita, berpengaruh dalam kehidupan kita. Rasul Paulus begitu kagum ketika ia diminta untuk membongkar dan menuliskan isi hati Tuhan yang begitu indah, begitu agung yang mengandung anugerah dan belas kasihan, suatu kekaguman dari sesorang yang mengenal Allah yang begitu besar dan begitu berdaulat didalam kehidupan dia. Ravi Zacharias pernah mengatakan bahwa sense of wonder seseorang terhadap sesuatu semakin lama semakin meningkat.[1] Contohnya, anak kecil diajak pergi ke taman sudah merasa senang, tetapi kalau sudah besar, diajak pergi ke taman merasa biasa saja. Kalau diajak ke Disneyland baru merasa senang luar biasa. Bagi yang baru pertama kali datang ke Queenstown di New Zealand, kota itu begitu indah mengagumkan. Tetapi bagi orang-orang yang tinggal dan bekerja disana, kota itu terasa biasa saja. Menurut Ravi Zacharias, disaat umur kita semakin meningkat dan sudah mempunyai pengalaman yang begitu banyak dengan peristiwa yang terjadi didalam hidup kita, maka sesungguhnya hanya Tuhan-lah yang begitu besar yang tidak akan pernah menghabiskan rasa kagum kita sampai selama-lamanya. Ketika kita mengenal dan mengerti Dia secara mendalam, yaitu kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, kedaulatan-Nya, cinta kasih-Nya dan pengorbanan-Nya bagi kita, maka kekaguman kita tidak akan habis-habisnya, terpesona kepadaNya seumur hidup sampai selama-lamanya. Biarlah kekaguman kita kepada Tuhan dapat kita cultivate berdasarkan Firman yang telah Tuhan nyatakan kepada diri kita

Ayat yang kita baca diatas adalah bagian ke-dua dari doksologi Paulus yang menyatakan kekagumannya pada Allah. O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Pengetahuan Allah yang mengetahui segala sesuatu secara sempurna. Bandingkan dengan pengetahuan kita yang terbatas dengan pengertian yang tidak sempurna. Memang semakin banyak kita belajar, maka semakin kita sadar bahwa banyak hal yang sebenarnya kita tidak tahu. Arthur W. Pink mengatakan, “Allah itu maha tahu, Dia tahu segalanya, Dia tahu segala kemungkinan, dia tahu segala yang terjadi dan apa yang mungkin akan terjadi, Dia tahu semua peristiwa, Dia tahu apa yang terjadi di dalam masa yang lalu, masa sekarang, masa yang akan datang. Semua makhluk Dia ketahui secara detail, Dia secara sempurna mengtahui setiap detail kehidupan, di sorga, di bumi, di neraka. Tidak ada yang terlepas dari perbuatan-Nya dan dari perhatian-Nya, tidak ada yang tersembunyi bagi Dia, tidak ada yang terlupakan oleh Dia, Dia tidak pernah salah, tidak pernah lupa hingga harus mengubah rencana-Nya. Dia adalah Allah yang mengetahui segala sesuatu secara sempurna”.[2] Tidak heran Paulus mengatakan pujiannya karena pengertiannya yang dalam tentang Allah. Pengertian ini seharusnya memiliki dampak dalam kehidupan kita, misalnya harus lebih takut kepada Allah daripada takut kepada manusia karena Allah mengetahui pikiran, isi hati, rencana, apa yang kita kerjakan, bahkan semua yang tersembunyi yang orang lain tidak tahu. Namun yang terjadi adalah seringkali tidak konsisten. Kita lebih takut kepada bos daripada kepada Tuhan, padahal ada atau tidak ada bos Tuhan tetap hadir disitu.

Ada 3 dampak dari pengetahuan dan kesadaran kita tentang Allah yang maha tahu dengan pengetahuanNya yang sempurna itu.

Pertama, kesadaran ini akan membuat kita menjadi orang rendah hati. Ayub adalah orang benar dan saleh yang mengalami banyak penderitaan yang sangat menyusahkan namun tidak berbuat salah dihadapan Tuhan. Walaupun demikian Ayub juga bergumul dan merasa susah, ditambah lagi dengan kehadiran teman-temannya yang justru menuduh dia telah berbuat dosa yang besar sehingga mengalami segala kesulitan itu. Ia bertahan dan meminta Tuhan menjawab mengapa ia mengalami kesulitan dan penderitaan seperti ini (yang berlangsung selama 37 pasal), namun Tuhan seolah-olah diam hingga akhirnya pada pasal 38 Tuhan datang dan berbicara kepada Ayub, menjelaskan mengapa Ia membiarkan Ayub menderita dan berbelas kasihan kepadanya. Ia menjelaskan sedemikian rupa dengan tidak menjawab pertanyaan Ayub secara langsung namun Ia menyatakan diri-Nya yang Maha Tahu. “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!”, adalah salah satu dari banyak pertanyaan yang Tuhan ajukan di ayat 38 yang membuat Ayub tersadar betapa kecil dan remehnya dia dihadapan Tuhan yang begitu besar dan berdaulat, yang pada akhirnya membuat ia mampu berkata "Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." (Ayub 42: 6). Beginilah salah satu respons dari anak Tuhan yang sejati: merendahkan dirinya dihadapan Tuhan.

Kedua, pengenalan Tuhan yang sempurna pengetahuanNya menghibur kita. Ia yang mengetahui segala isi hati dan pergumulan kita, Ia yang mengetahui segala doa kita. Dalam 1 Samuel 1, Tuhan menjawab permohonan Hana yang berdoa dengan sedih sekali karena terus diejek oleh Penina karena tidak mempunyai anak. Ia mendengar doamu, mengetahui isi hatimu dan akan menjawab permintaanmu yang datang dari hatimu yang paling dalam. Di dalam Kitab Keluaran Tuhan berkata kepada Musa Aku telah mendengar seruan dan jeritan umatKu Israel. Mereka berteriak karena ditindas dan dianiaya oleh Mesir, dijadikan budak, namun sebenarnya Tuhan sudah menjawab doa mereka 40 tahun sebelumnya, yaitu dengan lahirnya Musa. Tuhan memelihara dan mempersiapkannya menjadi pemimpin Israel keluar dari Mesir karena Tuhan sudah tahu apa yang akan terjadi, mendengar doa umatNya dan sudah mempersiapkan Musa jauh sebelumnya. Tuhan yang mengetahui segala sesuatu, yang mengetahui sedalam-dalamnya setiap peristiwa di dalam hidup kita, baiklah kita datang kepada Dia yang menghibur dan menguatkan kita umat Tuhan dan anak-anak-Nya.

Ketiga, pengenalan akan Tuhan mendorong kita untuk mentaati Dia. Dalam Mazmur 139 dinyatakan Dia yang tahu segala sesuatu, turut pula bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Mengenal Allah yang demikian tentulah membuat pe-Mazmur, yang demikian juga seharusnya kita, berkata, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139: 23-24). Tuntunlah aku berarti kita mau percaya, menyerahkan diri dan taat kepada Dia yang maha tahu segala sesuatu termasuk keterbatasan kita, bahkan jauh lebih dalam daripada kita mengenal diri kita sendiri. Sebagai anak-anak Tuhan, tidak ada yang perlu ditakuti karena Tuhan yang berdaulat memimpin hidup kita dan kita mau taat kepada-Nya. Namun bagi orang yang belum percaya kepada Tuhan atau yang tidak mau taat kepada-Nya, kata-kata didalam Mazmur 139 justru memberikan dampak yang mengerikan yaitu membuat mereka menjadi tidak mau lagi taat kepada Tuhan karena Ia yang tahu segalanya justru membuat mereka tidak bisa berbuat dosa lagi. Namun demikian, Tuhan tetap tahu apa maksud dan isi hati kita dan tetap akan menuntut pertanggung- jawaban meskipun tidak percaya dan terus berbuat dosa. Di akhir hidup semua perbuatan-perbuatan yang tersembunyi akan terungkap. James Boyce mengatakan bahwa diakhir hidup semua perbuatan kita akan diputar seperti film, dan kita akan berteriak “Stop, stop!” karena kengerian yang ditimbulkan dosa yang tersembunyi dibongkar dan di tempatkan di bawah terang yang paling jelas. Ini bukan untuk menakut-nakuti kita tetapi inilah kebenaran yang seharusnya mendorong kita untuk datang dan percaya kepada Kristus, meninggalkan dosa karena sadar Allah adalah Maha Tahu.

Begitu banyak orang di dunia ini yang tidak menganggap Allah seperti apa yang Rasul Paulus nyatakan kepada kita yaitu Allah yang besar Allah yang mulia. Di mata manusia yang tidak mengerti, Allah seperti hal kecil yang remeh tidak berdaya yang bisa diabaikan. Sebagaimana bintang di langit  yang oleh mata manusia terlihat begitu kecil karena jaraknya yang begitu jauh. Namun bila kita menggunakan teleskop maka kita mengetahui bahwa bintang itu sebenarnya sangatlah besar, jauh lebih besar daripada bumi. Demikian pula pengetahuan dan pengertian kita tentang Allah adalah terbatas, yaitu hanya sebatas hal-hal yang dinyatakan kepada kita. Namun seperti bintang di langit, Ia begitu besar, bahkan terlalu besar. Apa yang bisa kita mengerti hanya sebagian kecil saja, hanya sebatas hal-hal yang Ia nyatakan kepada kita. Itupun terlalu besar bagi kita, yang membuat Rasul Paulus terpesona atas kebesaran-Nya. Ia mengagumi, memuji dan bersyukur, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”

Hendaknya hidup kita seperti teleskop yaitu membesarkan Allah yang terlihat kecil dimata manusia, karena Dia adalah besar, karena Dia adalah mulia, Dia mengetahui sedalam-dalamnya hati kita. Biarlah kita meninggalkan semua dosa, bersandar dan taat kepadaNya, melakukan segala apa yang berkenan kepadaNya sehingga sungguh namaNya dipermuliakan dan ditinggikan.



[1]Recapture the Wonder, Ravi Zacharias

[2]The Attributes of God, AW. Pink

Ringkasan oleh Mauritz Nainggolan | Diperiksa oleh Linda Hartana


Ringkasan Khotbah lainnya