Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Sungguh Tak Terselami Jalan-Jalan-Nya

Ibadah

Sungguh Tak Terselami Jalan-Jalan-Nya

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 9 Februari 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 11:33-36, Mazmur 73

Dalam kitab Daniel, sewaktu Sadrakh, Mesakh dan Abednego dihadapkan ke raja Nebukadnezar untuk dicampakkan ke dalam perapian, raja Nebukadnezar berkata (Daniel 3:15) “Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku”. Nebukadnezar menganggap dia adalah seorang yang paling berkuasa, memegang nasib seluruh bangsa yang ada di bawah tangan dia. Tetapi jawaban dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego bertentangan dengan itu. Mereka menyadari Allah itu adalah Allah yang besar, agung, mulia, melampaui segala sesuatu, tidak ada kuasa yang lebih besar dari pada kuasa-Nya. Mereka percaya bahwa Tuhan sanggup melepaskan mereka, tetapi kalau tidakpun mereka tetap tidak akan menyembah patung berhala.

Kita melihat dari hidup Sadrakh, Mesakh dan Abednego, ada suatu kesadaran, seperti yang Paulus katakan dalam Roma 11:33-36. Paulus menyadari bahwa Allah begitu besar, agung, dan mulia (Roma 11:33) “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”

Di dalam Roma 11:34-35, Paulus mengatakan “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya sehingga Ia harus menggantikannya?” Paulus bukan hanya menyatakan Allah yang begitu besar, tetapi Paulus mulai mengkaitkannya dengan dirinya. Di sini, Paulus mengkaitkan kesadaran akan Allah yang begitu besar dengan “aku” yang begitu kecil. Segala sesuatu yang kita miliki, apapun juga yang ada di dalam hidup kita adalah dari Tuhan.

Kesadaran akan Allah yang begitu besar dan kita yang begitu kecil akan memberi dampak yang sangat besar di dalam hidup kita. Tetapi, di dalam pikiran dunia, hal ini terbalik, dunia menganggap manusia itu begitu besar dan Allah itu kecil. “Aku” yang menentukan segala sesuatu di dalam hidup manusia. Ini menjadi sesuatu yang kontras. Nebukadnezar berkata (Daniel 3:15) “Dewa manakah yang mampu melepaskan kamu dari dalam tanganku” namun Tuhan kemudian menyatakan kuasa-Nya dengan menyelamatkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Kita banyak mengerti tentang kebenaran ini tetapi tidak selalu konsisten dan tidak menjadi nyata dalam kehidupan kita bahwa Allah itu besar, yang mulia dan manusia harus bergantung dan taat kepada-Nya. Khususnya di dalam hidup kita muncul perasaan tidak puas akan apa yang terjadi di dalam hidup kita. Ketika kita mulai mengeluh/complain kepada Tuhan, kita seolah-olah lebih pintar daripada Tuhan. ketika kita marah kepada Tuhan, maka dibalik itu kita menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang kita alami. Seolah-olah jalan kita lebih bijaksana daripada jalan Tuhan. Tentu kita tidak secara terbuka menyatakannya, tetapi itulah yang ada dibalik pikiran kita. Ungkapan-ungkapan seperti “Kalau saya punya uang yang lebih banyak, kalau saya lebih cantik dsb, pasti saya lebih berbahagia” menyatakan ketidakpuasan kita terhadap  apa yang Allah berikan kepada kita. Ketika kita tidak puas, kita mulai merasa kita lebih pintar, lebih bijaksana dibanding jalan Tuhan.

Seorang hamba Tuhan, RA Torrey [Ref 1], pernah melayani di Melbourne, dan mendapat pertanyaan dalam surat yang dibacakan di atas mimbar “Saya di dalam kebingungan yang besar, saya telah lama berdoa untuk sesuatu yang telah saya percaya sesuai dengan kehendak Allah tetapi sampai sekarang saya belum terima. Saya telah menjadi anggota Gereja Prebysterian selama 30 tahun, dan selama itu, saya berusaha meskipun tidak selalu berhasil untuk menyatakan kehidupan iman saya. Saya menjadi koordinator  sekolah minggu selama 25 tahun, menjadi elders selama 20 tahun, tetapi Allah tidak menjawab doa saya. Bisakah anda menjelaskannya?”.  Lalu R A Torrey menjawab di atas mimbar, “Mudah sekali menjelaskannya kepada anda, karena engkau dengan mengatakan seperti ini sebenarnya engkau seolah-olah berkata, kalau engkau telah menjadi anggota Gereja selama 30 tahun, menjadi koordinator sekolah minggu selama 25 tahun, menjadi elders selama 20 tahun, maka sebenarnya engkau mau mengatakan bahwa Tuhan itu berhutang kepada engkau, sehingga Dia harus melakukan permintaanmu. Kalau kamu berdoa dengan sikap yang demikian maka Tuhan tidak akan menjawab doamu.” Lalu setelah R A Torrey turun dari mimbar, orang yang bertanya tersebut kemudian bertemu muka dengan R A Torrey  dan mengatakan “Terimakasih Mr Torrey, kamu telah membongkar kesalahan saya dengan tepat”. Kadang-kadang kita bisa juga seperti demikian, kita menganggap Allah berhutang kepada kita.

Ketika Paulus berkata (Roma 11:35) “siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya sehingga Ia harus menggantikannya?” menyadarkan kita bahwa semua yang kita terima, termasuk hidup kita sendiri, itu adalah anugerah Tuhan. Kalau kita boleh diselamatkan dan dibenarkan di dalam Tuhan, dan mengalami segala sesuatu di dalam hidup kita, itu semua adalah anugerah Tuhan.

Hal ini adalah benar, tetapi bukan berarti kita tidak boleh bergumul dengan jujur untuk menyatakan bahwa kita tidak mengerti. Kadang-kadang kita menganggap Tuhan tidak adil, mengapa kita mengalami hal-hal seperti ini. Di dalam kesulitan dan penderitaan yang kita alami, kita boleh mengerti bahwa Tuhan ingin kita boleh datang kepada-Nya. Tuhan mau kita bergumul di hadapan-Nya.

Mazmur 73 menceritakan contoh bagaimana seorang anak Tuhan boleh bergumul dengan berat di hadapan Tuhan.  Di sini, pemazmur menyimpulkannya dengan (Mzm 73:1) “Sesungguhya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” Namun ayat selanjutnya menyatakan (Mzm 73:2) “Tetapi aku sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.” Pemazmur mau menjelaskan bagaimana dia bisa sampai kepada kesimpulan itu, yaitu melalui pergumulan dari seorang anak Tuhan.

Paulus menyimpulkan sungguh besar, agung dan mulianya Tuhan, tetapi di dalam hidup kita sebagai anak Tuhan, hal ini tidak terjadi dengan otomatis. Kita boleh mempertanyakan Tuhan, bahkan Tuhan mengundang kita untuk bergumul bertumbuh di dalam iman kita. Kalau kita tidak mau taat kepada Tuhan pasti ada kesulitan yang besar dalam kehidupan kita.

Tuhan menginginkan kita untuk bergumul menghadapi segala tantangan dalam hidup kita. Kalau kita tidak bergumul, itu justru berbahaya. Kalau kita mentaati Tuhan maka kita pasti bergumul seperti pemazmur dalam Mazmur 73. Di sini pemazmur bergumul, dia mau taat kepada Tuhan, tetapi  melihat bahwa orang yang menghina Tuhan hidupnya lancar, sedangkan pemazmur sendiri menghadapi segala macam kesulitan. (Mzm 73:4) “Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka”, sedangkan (Mzm 83:14) “Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi”. Pemazmur marah dan datang kepada Tuhan di dalam ketidakmengertiannya.

Tetapi kalau kita lihat selanjutnya, maka pergumulan tersebut tidak berhenti sampai di situ, Tuhan kemudian membukakan jalannya seperti di dalam Mzm 73:16-17 “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah dan memperhatikan kesudahan mereka.”  

Di sini kita melihat ada tiga perubahan yang terjadi dalam diri pemazmur:

  1. Dia mulai mengerti bagaimana melihat dengan benar. Mzm 73:18 “Sesungguhnya di tempat tempat licin Kau taruh mereka, Kaujatuhkan mereka hingga hancur.” Orang-orang yang hidupnya lancar dan jauh dari masalah, sesungguhnya menghadapi bahaya besar, begitu mudah terpeleset dan binasa. Sikap pemazmur berubah dari merasa iri menjadi menaruh rasa kasihan kepada mereka. Kita bisa melihat banyak contoh dari kehidupan sehari-hari di mana banyak orang yang kaya dan sukses, tetapi kemudian hidupnya menjadi keropos, berdiri di tempat yang licin dan kemudian jatuh di dalam berbagai masalah keluarga seperti kecanduan obat dsb.
  2. Dia mulai menyadari akan dirinya yang begitu kecil, (Mzm 73:21-22) “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,  aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu” Dia tadinya marah kepada Tuhan, merasa Tuhan salah dan tidak adil, tetapi kemudian mulai sadar siapa dirinya. Ketika pemazmur mulai masuk ke dalam tempat Kudus Tuhan dia mulai menyadari bahwa dirinya seperti seperti binatang liar, sadar betapa kecil dan tidak berdayanya dirinya. Setiap orang yang mengenal Tuhan dengan benar akan sadar betapa kecilnya, betapa tidak berdayanya dia di hadapan Tuhan. Kita akan tahu bahwa kita tidak mungkin untuk mentaati Tuhan dengan kekuatan, dan usaha kita sendiri. Tuhan mengingatkan bahwa untuk menjadi murid-Nya kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Kalau kita mau betul-betul untuk mentaati Tuhan, kita akan tahu betapa kecil dan tidak berdayanya kita, betapa kita harus memerlukan Dia, betapa kita harus bergantung kepada Dia, sadar bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa.
  3. Dia mulai menyadari betapa besar, betapa agung dan betapa mulianya Tuhan. Mzm 73:23-24 mengatakan “Tetapi aku tetap di dekat-Mu, Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” Kita harus merenungkan betulkah kita percaya Tuhan itu besar, berkuasa. Kalau kita percaya itu, salah satu ekspresinya adalah menyatakannya di dalam doa. Dengan doa yang benar dan sungguh-sungguh kita menyatakan bahwa kita tidak berdaya dan percaya terus akan Allah yang besar yang memimpin di dalam kebenaran. Kita harus datang berdoa bersama dalam persekutuan doa, karena apa yang kita kerjakan di sini bukan pekerjaan manusia, tetapi pekerjaan Tuhan, yang tidak mungkin dilakukan dengan kekuatan manusia. Paulus mengatakan yang bekerja bukanlah dia melainkan anugerah Tuhan yang bekerja (1 Kor 15:10). Biarlah kita boleh menyadari keagungan Tuhan, tunduk dan taat mengerjakan pekerjaan Tuhan, mengerjakan bahkan apa yang melampaui apa yang kita pikirkan.

Apakah saudara ingin di dalam Gereja kita menyaksikan Tuhan bekerja di dalam hidup kita? Siapa yang boleh menyadarkan orang akan dosa mereka? Hanya Roh Kudus yang melakukannya. Siapa yang membawa orang bertobat? Hanya Roh Kudus yang melakukannya. Siapa yang boleh membenarkan dan menyelamatkan orang? Siapa yang boleh membuat orang bertumbuh menjadi orang Kristen yang matang? Itu semua adalah hanyalah berkat dari Allah.  

 

[Ref 1] “Torrey On Prayer”, R A Torrey

 


Ringkasan Khotbah lainnya