Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Segala Sesuatu Hanya Bagi Kemulian-Nya

Ibadah

Segala Sesuatu Hanya Bagi Kemulian-Nya

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 16 Februari 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Efesus 1:3-14

Saya ingin membawa saudara untuk fokus kepada satu phrase yang menjadi pusat dari apa yang dibacakan di Efesus 1:3-14 ini. Kalau saudara mengingat retret yang dipimpin oleh Pdt. Agus, beliau juga sempat menekankan akan bagian ini khususnya di dalam ayat yang ke 6. Kalau saudara melihat, ini berbicara tentang umat pilihan tetapi ada satu tujuan yang puncak (ultimate) dari semua hal yang Tuhan kerjakan di dalam bagian ini. Semua ini dikerjakan “supaya terpujilah kasih karunia-Nyayang mulia, ...” – “to the praise of His glorious grace, ...”. Hal itu juga diulangi di dalam ayat yang ke 12. “… supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” – “… in order that we, who were the first to put our hope in Christ, might be for the praise of His glory.” Dan yang terakhir ayat yang ke 14 juga dinyatakan. “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagiankita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusanyang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” – “who is a deposit guaranteeing our inheritance until the redemption of those who are God’s possession—to the praise of His glory.”

Inilah yang kita pikirkan ketika kita sampai ke dalam Roma 11:35-36. Kita mencapai puncak daripada kitab Roma dan bahkan sebenarnya puncak (tujuan) ultimate dari segala yang dikerjakan Allah. Efesus 1:3-14 yang tadi kita baca menjadi salah satu contoh saja dan nanti kita akan melihat beberapa bagian di dalam Alkitab bahwa di dalam segala sesuatu yang Allah kerjakan, tidak ada yang lebih ultimate dari apa yang dinyatakan di Roma 11:36 – “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Itulah slogan yang juga terus dipegang oleh para Reformator – Soli deo Gloria (segala sesuatu hanya bagi kemuliaan-Nya). Efesus tadi juga menyatakan to the praise of His glory – untuk puji-pujian dan kemuliaan-Nya. Inilah tujuan Tuhan yang ultimate dan tujuan Tuhan di dalam segala hal yang Dia kerjakan.

Ini menjadi sesuatu yang agak jarang kita pikirkan dan bahkan di dalam pandangan dunia yang berpusat kepada diri dan bukan kepada Tuhan, menjadi sesuatu yang aneh dan tidak bisa diterima oleh manusia. Bagaimana Allah itu di dalam seluruh apa yang Dia kerjakan tujuan yang paling tinggi (puncak) adalah untuk puji-pujian bagi kemuliaan diri-Nya?

Saya ambil beberapa contoh.

  1. Di negara Barat seperti Amerika dimana sense of entitlement sangat kuat sekali – “Aku lakukan apa yang aku ingin lakukan. Terserah aku.” Itu menjadi self-centered. Kita hidup di tengah dunia demikian dan akan sangat sulit sekali kalau orang-orang yang demikian kemudian mendengar Firman Tuhan yang mengatakan Aku (Tuhan) mengerjakan segala sesuatu itu untuk kemuliaan diri-Ku sendiri. 
  2. Mengutip satu penulis buku An American Gospel yang bernama Eric Reece dari Matius 10:37 – “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Maka Erik Reece mengatakan, “Siapa si ego maniac ini yang kita tidak kenal dan hidup 2000 tahun yang lalu, yang boleh berkata kepada kita hari ini kalau kita tidak lebih mengasihi dia daripada mengasihi orang tua, suami, istri dan anak kita, kita tidak layak menjadi muridnya?”[1] Menjadi sandungan yang besar sebenarnya bagi dunia ini. 
  3. C.S. Lewis menceritakan pengalaman dia sebelum menjadi Kristen. Dia banyak membaca Alkitab kitab Mazmur pada khususnya. Disitu banyak tertulis pujilah Tuhan. Siapa yang mengatakan pujilah Tuhan? Memang pemazmur, tapi ultimately Tuhan yang mengatakan melalui mereka. Tuhan yang berkata kepada kita melalui para penulis kitab Mazmur pujilah Aku. Bagi C.S. Lewis sebelum dia menjadi Kristen, teriakan Tuhan yang berteriak pujilah Aku itu terdengar seperti wanita (dia pakai istilah itu tapi bisa juga berlaku bagi pria) yang haus akan pujian. Seorang wanita yang insecure, yang sangat perlu orang lain memuji Dia, yang hidupnya dari pujian (approval) orang lain.

Bagi kita, kenapa kita tidak suka dan itu menjadi batu sandungan? Ada dua alasan. Yang pertama, kita tidak suka kalau ada orang yang berbicara tentang kehebatannya supaya orang memuji dia. Yang kedua, karena Alkitab sendiri mengatakan kepada kita bahwa kasih itu tidak memegahkan diri dan tidak mencari keuntungan diri sendiri (1 Kor. 13:4-5). Jadi pertanyaannya bagi kita adalah kalau Allah sebenarnya di dalam segala hal yang Dia kerjakan ultimately untuk kemuliaan akan diri-Nya sendiri, apakah Dia sungguh-sungguh mengasihi kita?

Saya akan memberi jawabannya dulu, baru kemudian menjelaskan kepada saudara akan mengapa begitu. Jawabannya: Allah adalah satu-satunya pribadi dalam seluruh jagat raya ini yang sesungguhnya mengasihi kita ketika Dia memuliakan diri. Atau dengan kata lain, ketika Allah memanggil kita untuk memuji dan memuliakan Dia, ini adalah satu-satunya tindakan yang akan memuaskan jiwa kita yang terdalam. Karena itu, tindakan Allah memanggil kita untuk memuji dan memuliakan Dia itu adalah satu panggilan yang sangat mengasihi kita. Mengapa demikian?

Memang benar bahwa tujuan Allah di dalam apapun yang Dia kerjakan dunia ini seluruhnya ultimately adalah untuk kemuliaan akan diri-Nya sendiri. Bahkan di tempat-tempat yang saudara mungkin tidak menyangka tujuan seperti itu. Misalnya di Mazmur 23:3 – “… oleh karena nama-Nya.” Jadi Dia mengerjakan semua itu oleh karena nama-Nya (for His name’s sake). Dengan kata lain, itu adalah untuk kemuliaan diri-Nya. Dia menjadi gembala kita, memimpin kita, membawa kita ke padang yang berumput hijau itu ultimately adalah oleh karena nama-Nya (for His name’s sake). Yesaya 48:11 – “Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!” – “For my own sake, for my own sake, I do this. How can I let myself be defamed? I will not yield my glory to another.”

Jadi pertanyaannya adalah, apakah Allah itu adalah menjadi apa yang disebut seorang penulis sebagai second handers[2] ketika Dia memerintahkan kita untuk pujilah Aku?Seorang penulis menjelaskan second handers adalah orang yang hidupnya berdasarkan puji-pujian dari orang lain karena gelisah akan kelemahan dan kekurangan diri dan yang hidupnya ingin menyenangkan orang lain. Jelas Allah bukan Allah yang kekurangan dan Allah adalah Allah yang sempurna karena segala sesuatu adalah dari Dia. “Siapa yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya sehingga Dia berhutang dan Dia harus membalas itu?” (Roma 11:35). Tidak ada!

Allah tentu bukan seperti yang dikatakan seorang penulis sebagai second handers. Tetapi bagaimana? Jawabannya mungkin mulai dari apa yang dikatakan C.S. Lewis sebagai satu fakta yang sangat jelas di dalam bukunya Reflections on the Psalms khususnya tentang puji-pujian. C.S. Lewis mengatakan, “Pujian itu adalah sesuatu yang spontan keluar dari hati ketika kita melihat sesuatu yang indah dan yang menakjubkan bagi kita.”[3] Hati yang menyadari akan sesuatu yang luar biasa (amazing).

Perhatikan poinnya disini. Ambil contoh sepasang kekasih (dua orang yang sedang jatuh cinta). Ketika kekasih itu menyatakan pujian, sebenarnya apa yang dia lakukan pertama-tama tujuannya bukan untuk menyenangkan (meninggi-ninggikan) kekasihnya, tetapi sebagai sesuatu yang spontan keluar dari hati yang terdalam. Jadi bukan untuk kepentingan orang itu, tetapi karena itu keluar secara natural. Sebaliknya, kalau kita melihat sesuatu yang mengagumkan tetapi dilarang untuk mengekspresikan itu, maka kita akan susah sekali. Kenapa kita ekspresikan? Karena pujian yang keluar itu bukan hanya mengekspresikan sukacita kita, tetapi pujian itu menyempurnakan sukacita kita. C.S. Lewis mengatakan, “The delight is incomplete till it is expressed.”[4]  Sukacita itu tidak sempurna kalau dia tidak sampai diekspresikan. Ini kebenaran yang very simple di dalam hidup kita, tetapi kita perlu mengerti akan hal ini ketika kita sekarang kaitkan dengan bagaimana kita memuji dan memuliakan Allah.

Jika Allah sungguh-sungguh mengasihi kita, maka Dia akan memberikan kepada kita sesuatu yang paling indah, berharga dan mulia. Apa yang Allah berikan kepada kita? Dia memberikan diri-Nya sendiri. Karena itu ketika Allah memanggil kita untuk pujilah dan muliakanlah Aku, ini bukan karena Allah kekurangan sesuatu atau karena Allah kurang mulia. Tetapi justru karena Dia mengasihi kita dan menginginkan kita mengalami sukacita berlimpah-limpah yang hanya dapat ditemukan dalam pengenalan dan pujian kepada Dia, pribadi yang paling mulia. Seluruh hidup kita menjadi pujian dan kemuliaan bagi Tuhan. Ketika kita mengekspresikan itu di dalam hidup kita, maka disitulah sukacita kita menjadi sempurna karena sukacita yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam pengenalan dan pujian kepada Dia.

What is the chief end of man? To glorify Him and to enjoy Him forever. [5] Ketika kita memuliakan Dia, itulah panggilan dan kehendak Tuhan yang begitu mengasihi kita. Karena ketika kita memuliakan Dia, untuk itulah kita diciptakan dan itulah yang membuat hidup kita berharga, bernilai dan mengerti apa yang ada di dalam dunia ini. Hidup kita yang berkelimpahan yang Tuhan janjikan. “…; I have come that they may have life, and have it to the full.” (John 10:10). Inilah yang Tuhan kerjakan di Roma 11. Inilah Injil yaitu ketika kita boleh melihat apa yang Tuhan kerjakan sehingga kita didorong untuk memuliakan Tuhan dengan seluruh hidup kita dan itulah yang menyempurnakan hidup kita di dalam Tuhan. Keluar apa yang kita kerjakan di dalam puji-pujian dan kemuliaan bagi nama Dia. Jadi jika Allah sungguh-sungguh mengasihi kita, maka Dia akan mengerjakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya. Termasuk kita memuliakan Dia. Justru Dia sedang mengasihi kita dengan melakukan itu.  

Sebagai penutup, satu hal yang membuat kita bersedih di dalam kaitan ini adalah ketika orang lain tidak turut memuliakan Allah. Mengapa tidak memuliakan Allah? Karena mereka tidak mengerti bukan hanya secara pikiran tetapi secara hati bahwa Allah itu begitu besar, agung dan mulia sehingga mereka tidak bisa memuliakan Allah dan tidak menemukan kesukaan dan hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan.

Kita bisa juga mengerti hal ini sebenarnya merupakan hal yang spontan (natural). Ketika kita melihat sesuatu yang indah, mengagumkan dan mulia, maka kita akan mengajak orang lain juga untuk mengagumi itu. Khususnya kepada orang lain yang belum mengerti betapa indah dan mulianya itu. Ketika orang lain menolak, itu sebenarnya menjadi kesedihan di dalam hati kita. Apalagi ini berbicara tentang Tuhan. Ketika kita memuliakan dan meninggikan Dia karena hati yang menyadari Tuhan itu besar dan betapa kecilnya kita dan menyadari juga betapa besarnya anugrah Tuhan kepada kita, kita akan mengajak orang-orang lain untuk memuliakan Dia, mengenal Dia dan mendengarkan apa yang Dia sudah kerjakan bagi kita yaitu mati untuk menebus dosa kita. Harap kita bersama-sama ingin mengajak orang lain untuk juga mengenal dan mengagumi Dia karena segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).  Amin.

 


[1] http://www.desiringgod.org/conference-messages/is-jesus-an-egomaniac

[2] http://aynrandlexicon.com/lexicon/second-handers.html

[3] http://bible-daily.org/2009/01/01/cs-lewis-reflections-on-the-psalms/

[4] http://www.cslewisinstitute.org/God_Invites_Us_to_Enjoy_Him

[5] http://www.reformed.org/documents/WSC.html

Ringkasan oleh Linda Hartana | Diperiksa oleh Denny Chandra


Ringkasan Khotbah lainnya