Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Berubahlah oleh Pembaharuan Budimu

Ibadah

Berubahlah oleh Pembaharuan Budimu

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 30 Maret 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:2, Yoh 8:30-36

Roma 12:2 ini banyak mengandung kata-kata yang penting yang harus kita bahas secara teliti. Ketika Paulus mengatakan jangan menjadi serupa dengan dunia ini, dia melanjutkannya dengan “tetapi berubahlah oleh pembaharuan pikiranmu” di sini lebih tepat digunakan kata “pikiran”, (NIV:) “be transformed by the renewing of your mind”.  Waktu kita menjadi orang Kristen, mengalami lahir baru, Roh-Kudus memberikan hidup dan hati yang baru kepada kita. Ketika perubahan yang mendasar itu terjadi di dalam hidup kita, yang terjadi adalah pikiran kita tidak akan tiba-tiba berubah. Hidup kita berubah secara rohani yaitu kita menjadi ciptaan baru, kita sudah dibenarkan di dalam Kristus, status kita bukan lagi orang yang akan binasa, tetapi pikiran kita tidak langsung berubah. Orang yang tadinya bodoh, tidak akan tiba-tiba menjadi pintar, atau sebaliknya. Roma 12:2 mengatakan di sini, berubahlah oleh pembaharuan pikiranmu. Pikiran kita harus berubah.

Apa yang harus berubah dalam pikiran kita? Kita harus melihat ulang seluruh hidup kita menurut apa yang Firman Tuhan katakan. Kita mungkin sudah puluhan tahun hidup di dalam dosa, kelemahan dan begitu terbiasa untuk mengikuti apa yang diinginkan dunia ini. Ketika kita diberikan hidup yang baru, maka Paulus pertama-tama menekankan untuk jangan menjadi serupa dengan dunia ini tetapi harus berubah dengan pembaharuan pikiran kita. Kita harus berpikir dan belajar ulang akan seluruh pengertian tentang hidup ini. Kadang-kadang orang Kristen seperti terus berjalan tanpa ada perubahan yang terlihat di dalam hidupnya.

Anak-anak yang dibesarkan di dalam keluarga Kristen terbiasa dengan nilai-nilai Kristen, ketika mereka hidup di tengah dunia ini, bukankah mereka seharusnya menjadi kontras dengan dunia berdosa ini, menjadi terang di tengah kegelapan dan menjadi garam di tengah kebusukkan? Masalahnya, sebagai orang Kristen seringkali apa yang kita hidupi sehari-hari tidak kita jalani dengan pola pikir Kristen yang seharusnya menerangi dunia. Kita justru mengikuti pola pikir dunia. Sebagai contoh, bagaimana kita bisa mentaati Firman Tuhan di dalam dunia berbisnis, khususnya di tengah-tengah masyarakat yang sudah begitu terbiasa dengan korupsi dan bermain kotor? Apakah kita hanya mengasihi Tuhan hanya di dalam gereja saja sedangkan di sebagian besar hidup kita Firman Tuhan tidak berlaku? Ini adalah problema dualisme yang diikuti oleh dunia ini.

Firman Tuhan tidak hanya melarang kita untuk menjadi serupa dengan dunia tetapi juga menyuruh kita untuk berubah menurut pembaharuan pikiran kita. Apakah betul orang Kristen di dalam dunia bisnis harus mengikuti cara-cara dunia yang bertentangan dengan Firman Tuhan? Bukan berarti kita harus naïf dengan berkata bahwa kita pasti 100% dapat mengikuti Firman Tuhan. Ini bukan masalah ‘bisa-tidak bisa‘. Alkitab mengatakan bahwa siapa yang mengikuti Tuhan akan banyak mengalami penderitaan dan perjuangan yang berat. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Firman Tuhan tidak berlaku di dalam dunia bisnis, ilmu pengetahuan, ekonomi, kedokteran dlsb. Kita harus memikirkan dan mempelajari ulang akan seluruh hidup kita berdasarkan Firman Tuhan, untuk mengkuduskkan Kristus di dalam hati kita.

Hari ini kita akan memikirkan dua bidang di mana pemikiran kita harus diubah.

1. Kebebasan

Yang pertama adalah konsep tentang kebebasan. Apa itu kebebasan? Orang berani mati untuk mencapai kemerdekaan atau kebebasan.  Dunia mengatakan bahwa kebebasan itu adalah “jika aku bisa melakukan apa saja yang aku ingin lakukan”. Anak muda yang sedang di dalam masa-masa memberontak dapat mengatakan bahwa orang tua tidak perlu mengatur dan menindas kebebasan mereka.  Masalahnya adalah sesungguhnya tidak ada kebebasan yang sebebas-bebasnya karena kebebasan semacam ini akan mengarah kepada kekacauan yang luar biasa. Kekangan dan batasan itu justru merupakan jaminan bagi kebebasan itu sendiri. Karena kita tidak bebas menyetir di mana saja - di kiri atau di kanan, maka kita akan bebas menyetir di sebelah kiri. Justru karena kereta api harus berjalan di relnya, maka kereta api dapat bebas untuk berjalan dengan sangat cepat.

Kebebasan itu terjadi ketika kita ada di dalam kebenaran Firman-Nya seperti dikatakan dalam Injil Yohanes (8:32), “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Selanjutnya (Yoh 8:34) dikatakan bahwa “sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa”. Setiap orang yang berbuat dosa mengejar kebebasan dan melawan Tuhan. Dia sebenarnya tidak pernah bebas, tetapi justru menjadi budak dosa, di penjara oleh dosa. Begitu kita bebas untuk memakai drugs, maka kita justru terjerat di dalam ketergantungan kepada drugs tersebut.  Sebaliknya, (Yoh 15:7) “Jikalau kamu yang tinggal di dalam Aku, dan Firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimannya”. Kita bebas meminta apa saja namun dengan syarat kita harus tinggal di dalam Dia dan Firman-Nya tinggal di dalam kita. Kebebasan yang sejati ada ketika kita berada di dalam kebenaran.

Persoalannya adalah apakah benar kita percaya akan hal ini? Betulkah kita sewaktu hidup di dalam Firman-Nya dan percaya di dalam hati, kita dapat merasakan bahwa seluruh hidup kita itu adalah benar-benar bebas? Semua orang pasti ingin bebas. Namun, apakah sebernarnya kita merasa bebas ketika kita hidup di dalam kebenaran Firman-Nya? Pikiran dunia menganggap menjadi orang Kristen itu susah sekali, tidak boleh ini atau itu, harus menyangkal diri, memikul salib dlsb., sehingga hidup menjadi tidak bebas. Betulkah itu? Sesungguhnya setiap orang yang melawan Tuhan akan menjadi budak dosa. Kebebasan kitu justru didapat ketika kita ada di dalam Firman-Nya. Kebebasan yang kita alami kita dapatkan waktu kita bebas dari perbudakan dosa yaitu ketika kita menjadi budak Kristus. Satu-satunya perbudakkan yang tidak memperbudak adalah ketika kita menjadi budak Kristus. Ketika kita merdeka di dalam Tuhan, biarlah kita mejadi apa yang Tuhan inginkan, menggunakan seluruh potensi yang ada di dalam hidup kita dan hidup yang bersukacita berlimpah-limpah di hadapan Tuhan selama-lamanya.

Sekali lagi, apakah kita percaya akan hal ini? Kalau kita percaya, maka kita akan ingin sekali belajar, bertumbuh, menggali Firman Tuhan dan mentaati Allah. Kalau tidak, maka Firman hari ini mengatakan “berubahlah oleh pembaharuan budimu”.

2. Kesuksesan

Hal yang kedua adalah, apa itu sukses? Semua orang ingin sukses. Acara Insight, suatu program TV di saluran SBS, yang berjudul “Pushing for success(1) dimulai dengan moderator acara bertanya kepada seorang ibu orang Asia, “Berapa penting kesuksesan itu bagi anakmu?”. Ibu itu menjawab, “Hal itu adalah segalanya. Saya menghabiskan seluruh hidup saya untuk kesuksesan anak saya, saya invest uang, waktu dan seluruh hidup saya demi anak saya”. Hal ini sangatlah berbahaya karena kalau anak itu ternyata tidak berhasil maka habislah seluruh hidup ibunya. Kemudian moderator itu bertanya lagi “Apa itu sukses?”. Jawabannya, “Jika seseorang bisa punya banyak uang, karir yang bagus, bisa liburan ke mana-mana dlsb.” Ada juga pemirsa yang bercerita tentang hidupnya yang begitu sukses di mana ia mendirikan beberapa Law Firm, namun kemudian kehidupan pernikahannya hancur dan hampir bunuh diri. Seorang lain yang diwawancara adalah Leisel Jones, seorang pemenang medali emas olimpiade olahraga renang. Dia adalah salah satu perenang Australia terhebat, namun dia juga mengalami depresi. Akhir-akhir ini dia mulai pulih. Di dalam acara itu dia mengutip perkataan seseorang, “If you are nothing without gold medal, then you are nothing with it”.  Hal ini baik, tetapi sebagai orang Kristen kita harus melihat arti yang jauh lebih dalam.

Sebagai orang Kristen, Tuhan sudah memberikan begitu banyak hal kepada kita seperti kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, begitu pula dengan status kita sebagai anak-anak Allah.  Namun, jangan pikir setelah kita menerima semua itu kita tidak perlu lagi pushing for success. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sudah memberikan semua yang berharga, semua yang paling penting di dalam hidup kita. Justru hal ini harus mendorong kita lebih dahsyat lagi untuk push for success karena kita tidak lagi mengejar apa yang dunia ini kejar melainkan mengejar apa yang Tuhan inginkan. Kita bisa jatuh di sisi yang salah, di mana setelah Tuhan memberikan semua apa yang berharga, kita malah santai saja dan tidak berjuang. Alkitab tidak pernah mengajarkan hal demikian. Sepanjang sejarah kita dapat melihat Paulus yang berjuang dengan begitu keras memberitakan Injil.

Ketika kita melakukan apa yang Tuhan kehendaki dengan jalan menggenapi kehendak Tuhan untuk kemuliaan-Nya, inilah kesuksesan. Paulus berkata bahwa (Kis 20:24) dia tidak menghiraukan nyawanya sendiri tetapi mengejar dan memandang pada panggilan Tuhan, yaitu memberitakan Injil khususnya kepada orang-orang bukan Yahudi. Ketika mengerti itu, ini adalah kesuksesan.

Kalau kita melihat politik di Indonesia, banyak orang-orang muda yang muncul. Mereka berjuang demi bangsa dan negara kita. Inilah waktunya orang-orang muda untuk bersuara untuk bagi bangsa Indonesia. Namun kalau mereka berambisi bagi diri mereka sendiri, ini bisa menjadi bahaya yang besar sekali. Perjuangan dan umur muda mereka mengingatkan kita bahwa waktu itu begitu singkat, dan setelah itu lewat. Apa yang kita lakukan dengan sisa waktu yang masih kita miliki? Kita harus mengerjakan apa yang Tuhan kita inginkan di dalam diri kita masing-masing. Ada pekerjaan baik yang Tuhan sediakan bagi kita dan baiklah kita boleh mengerjakannya dengan kekuatan yang Tuhan berikan bagi kita.

Kita harus mengejar kesuksesan dengan pengertian yang benar, yaitu untuk menggenapi apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidup kita. Apakah dengan segala kegiatan pekerjaan setiap hari, kita mengaitkannya dengan rencana Tuhan di dalam hidup kita? Kita tidak ingin waktu ini lewat begitu saja, sehingga kita bisa berkata seperti Paulus di akhir hidupnya (2 Tim 4:7) “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik”. Ini menjadi kesukaan bagi kita. Salah satu ciri ketika kita mengejar kesuksesan sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki adalah kita harus mengerjakannya dengan pimpinan Roh-Kudus. Kita tidak bisa mengerjakannya dengan kekuatan sendiri dan kehebatan kita, walaupun tentunya harus ada pengorbanan dan perjuangan.

Banyak pendeta yang perjuangannya sama dengan dunia ini yaitu untuk kemuliaan hidup diri sendiri, dengan mengejar uang sebanyak-banyaknya. Kesuksesannya diukur dengan seberapa terkenalnya dia, berapa uang yang dia dapatkan, dan berapa besar kekuasaannya. Alkitab mengatakan (Mat 20:26-27, 23:11-12) kalau kita mau menjadi pemimpin, kita harus menjadi pelayan dari semua, kalau kita ingin menjadi yang terbesar, kita harus mau menjadi yang terkecil. Tuhan Yesus sendiri pun mengikat pinggangnya dan mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:5). Kita harus belajar dari Tuhan kita Yesus Kristus.

Biarlah kita boleh mengejar kesuksesan dengan pola pikir yang berbeda dengan dunia. Memang pengejaran menurut dunia juga memerlukan perjuangan dan pengorbanan, tetapi arah dan artinya begitu berbeda dengan yang apa diinginkan Tuhan. Suatu kali Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan bahwa Tuhan bisa memakai orang yang pintar maupun orang yang bodoh, orang yang kaya maupun yang miskin, tetapi Tuhan tidak pernah memakai orang yang malas. Kiranya di akhir hidup kita, saat kita bertemu dengan Tuhan, kita dapat berkata, “Engkau telah memberi aku lima talenta, inilah Tuhan lima talenta lagi yang sudah aku hasilkan”. Tuhan mengatakan hal yang sama persis kepada orang yang diberi lima talenta dan yang diberi dua talenta (Mat 25:21 dan 25:23), “Hai hamba yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuan-mu.” Yang lima menjadi sepuluh, yang dua menjadi empat. Inilah kesuksesan yang benar.

Biarlah kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubah dengan pembaharuan pikiran kita. Marilah kita betul-betul berjuang dengan apa yang Tuhan berikan, menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan Tuhan dalam hidup kita.

1 Cerita di paragraf ini diambil dari: http://www.sbs.com.au/insight/episode/transcript/602/Pushing-for-Success

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Steven Abdinegara


Ringkasan Khotbah lainnya