Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Dualisme - Cara Dunia Berpikir

Ibadah

Dualisme - Cara Dunia Berpikir

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 23 Maret 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:2; 1 Petrus 3:15; Lukas 14:25-27

Ada suatu kisah nyata tentang Johnny the bagger. Johnny adalah seseorang yang menderita down-syndrome dan bekerja di supermarket, bertugas memasukkan barang belanjaan ke kantong plastik di sebelah kasir. Pada suatu hari ada sebuah training diadakan yang bertujuan untuk memberikan suatu memori kepada para pembeli supaya mereka kembali untuk berbelanja di supermarket itu. Johnny kemudian mempuyai ide untuk menuliskan kata-kata mutiara, the thought of the day, di secarik kertas yang kemudian akan dia masukkan ke kantong belanjaan. Setiap hari dia melakukan hal itu, dan setelah tiga bulan kemudian, manajernya menelpon dia dan mengatakan bahwa line kasir tempat dia memasukkan barang ternyata tiga kali lebih panjang dari pada line lainnya. Ternyata para customer sengaja mengantri di situ untuk mendapatkan thought of the day dari Johnny.

Cerita ini menjadi contoh untuk menyatakan bahwa suatu pekerjaan yang begitu sederhana pun dapat memberikan dampak bagi banyak orang. Namun, sayangnya banyak orang Kristen yang tidak dapat melihat dignity dalam setiap pekerjaan. John Stott pernah mengatakan tentang pendapat yang salah satu hierarki pekerjaan: kita bisa memberi kesan bahwa jika seseorang sangat mengasihi Kristus maka dia akan menjadi misionaris; jika seseorang tidak terlalu mengasihi Tuhan seperti itu maka dia menjadi pendeta; kalau orang kurang berdedikasi untuk menjadi penginjil atau pendeta, maka orang itu menjadi dokter atau guru; dan selebihnya, orang yang bekerja di bidang komputer, media, politik, dlsb. itu tidak jauh dari kemurtadan. Kadang-kadang kita juga memiliki kesan seperti ini, bukan?

Pemikiran seperti ini sebenarnya didasari oleh pemikiran dualisme, yaitu pemisahan antara hal yang rohani dan yang sekuler. Pemikiran ini membelah hidup menjadi dua bagian yaitu hidup ritual dan hidup sekuler, seolah-oleh keduanya tidak berhubungan. Sebagai contoh adalah pendapat umum yang mengatakan bahwa kehidupan di gereja dengan pelayanannya adalah rohani sedangkan sebagian besar waktu yang dihabiskan di dalam pekerjaan sehari-hari adalah sekuler. Menurut pandangan dualisme ini, apa yang diajarkan di dalam Alkitab hanya berlaku di dalam kehidupan di gereja yaitu di dalam kehidupan rohani saja, sedangkan untuk kehidupan di luar, di mana kita menghabiskan jauh lebih banyak waktu seperti di dalam bekerja, sekolah, dan mendidik anak, semuanya dilakukan dengan bijaksana diri sendiri yang tidak ada hubungannya dengan Alkitab.

Pemikiran seperti ini adalah pemikiran duniawi, yang dianut banyak orang, termasuk orang-orang Kristen.  Roma 12:2 mengajarkan “janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini”.  Ayat ini mengajarkan agar di dalam seluruh hidup kita janganlah kita menjadi sekuler, termasuk di dalam urusan bergereja, pekerjaan, sekolah, pendidikan anak, dlsb. karena di dalam kehidupan rohani pun kita bisa menjalankannya dengan jalan pemikiran sekuler. Contohnya, orang-orang bergereja pun dengan pemikiran sekulernya dapat memasukkan prinsip-prinsip manajemen dan bisnis sekuler yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Alkitab.

Paulus mengatakan di dalam 1 Kor. 10:31, “Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemulian Allah”.  1 Pet. 3:15 mengatakan “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan.” Kristus harus menjadi Tuhan di dalam hatimu, hati yang paling dalam yang menjadi inti dari hidup manusia. Ketika Kristus menjadi Tuhan di dalam hati kita, maka Dia mengakar di dalam hidup kita. Sebaliknya, if the God is not the Lord of all, He is not the Lord at all (1).

Banyak di antara kita, bahkan juga tokoh-tokoh masyarakat, memiliki pemikiran yang bersifat dualistik. Salah satu bentuk lain daripada pemikiran ini adalah pemikiran private dan non-private, di mana apa yang terjadi di dalam diri tidak boleh diganggu atau di atur oleh publik. Misalnya dalam kasus Bill Clinton dan Monika Lewinsky; Bill Clinton sebenarnya berzinah, dan hampir di pecat. Tetapi alasan sebenarnya dia akan dipecat bukanlah karena dia berzinah, melainkan apakah dia sudah melakukan kebohongan publik. Ini menjadi bahan perdebatan besar di Amerika, namun tidak lagi dipersoalkan apakah dia berzinah atau tidak, karena berzinah itu adalah masalah private-life. Tetapi apakah berzinah dan kebohongan publik bisa dipisahkan? Kalaupun dia akhirnya mengaku berzinah, apakah itu tidak menjadi masalah juga? Jika seseorang pemimpin negara atau politikus melakukan dosa besar dalam kehidupan private-life dia apakah itu tidak menjadi masalah publik juga?

Pemikiran postmodernisme menganggap semua agama itu sama. Namun, jika Tuhan itu satu, Dia tidak akan menyatakan pengajaran yang berbeda-beda di banyak agama, bukan? Pendapat dari pandangan postmodern ini sebenarnya berdasarkan ajaran dualisme. Menurut mereka iman seseorang adalah private-belief yang tidak bisa dipaksakan kepada orang lain, atau kepada publik. Mereka menganggap semua private-belief sama-sama benar, dan ini merupakan kekacauan pemikiran yang luar biasa.

Kembali ke dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, kita juga sering berpikir secara dualisme di dalam hidup kita. Salah satu contoh, kita bisa bertanya mengapa kita tidak sekolah teologi untuk menjadi hamba Tuhan. Di balik pertanyan ini sebenarnya ada pemikiran dualisme, karena pertanyaan ini mengasumsikan bahwa sebagian orang Kristen itu hamba Tuhan dan sebagian lagi bukan. Namun, jika benar demikan maka sebagian lainnya adalah hamba siapa? Seorang kristen lain juga bisa menjawab bahwa dia tidak mau sekolah teologi karena itu bukan panggilannya. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang dia kerjakan sekarang ini adalah panggilan Tuhan yang sesungguhnya? Alkitab mengatakan kita semua hamba Tuhan, mengerjakan apa yang Tuhan inginkan sesuai dengan panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Martin Luther mengatakan bahwa karena kita sudah di dalam Kritus, maka hal-hal yang kita kerjakan bukan lagi hal-hal yang dikejar dunia seperi harga diri, status, sekuriti, dan keselamatan yang maya. Harga diri dan status kita adalah sebagai seseorang yang sudah dibenarkan di dalam Kristus. Sekuritas yang kita dapat adalah karena tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Begitu pula keselamatan yang kita dapat adalah dari karya penebusan Yesus Kristus. Martin Luther meneruskan bahwa kita sebaliknya harus mengejar untuk mengabdi kepada Allah dan mengasihi sesama. Ini adalah korbah hidup yang berkenan kepada Allah.

Pertanyaan “Tuhan mau saya kerja apa?” itu sulit sekali dijawab, tetapi pertanyaan ini harus di balik yaitu apapun yang kita kerjakan apakah kita melakukannya untuk memuliakan Tuhan. Profesi kita, apapun itu, harus menyatakan ucapan syukur kita kepada Tuhan sekaligus mengembangkan semua potensi yang Allah anugerahkan kepada kita secara maksimal untuk kemuliaan nama Tuhan. Kalau kita melakukan perkerjaan kita seperti orang dunia yang tidak ada hubungannya dengan Alkitab, tidak ada hubungannya dengan penebusan kita, tidak ada hubungannya dengan Allah yang bekerja di dalam hidup kita, maka kita akan menjadi serupa dengan dunia.  Bahkan Alkitab sendiri menceritakan bahwa Yesus juga bekerja sebagai tukang kayu. Yesus mengerti bahwa pekerjaan tukang kayu itupun tidak terpisahkan dengan karya-Nya di dunia ini.

Martin Luther mengatakan juga bahwa di dalam seluruh struktur ciptaan, kita harus melihat bahwa pekerjaan kita adalah sesuai dengan panggilan Tuhan. Setiap kita berdoa Bapa Kami (Mat 6:11), “Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya”, kita sebenarnya berdoa bukan hanya untuk makanan kita saja namun untuk semua orang yang berkontribusi sampai kita bisa makan our daily bread itu. Kita juga berdoa bagi mereka semua yang berperan untuk membikin roti, supaya mereka juga bisa memuliakan Tuhan di dalam pekerjaan mereka.   Di seluruh pekerjaan yang sudah Tuhan ciptakan, kita harus melakukannya untuk menyatakan bahwa Tuhanlah yang sudah bekerja di dalam hidup kita.  Tidak boleh lagi adanya pengkotak-kotakkan, antara yang rohani dan sekuler. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi di dalam kehidupan kita: apakah seluruh hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, atau seluruh hidup kita adalah untuk melawan Tuhan.

Alkitab mengatakan (Luk. 14:25-27) “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Maksudnya bukan berarti kita harus membenci mereka, tetapi kalau kita membandingkan kasih kita terhadap Tuhan dan terhadap mereka, maka perbandingannya adalah seperti membenci mereka.

Tuhan menuntut panggilan yang radikal di dalam hidup kita. Panggilan ini adalah panggilan yang keras namun juga panggilan yang indah. Tidak boleh panggilan ini dipecah-pecahkan di dalam hidup kita, seluruh hidup kita harus menjalankan panggilan ini.

Banyak orang tua menginginkan anaknya ke gereja supaya anaknya menjadi anak yang baik. Permasalahannya adalah keinginan mereka hanya sampai di situ. Mereka tidak ingin anaknya menjadi “fanatik” atau dengan kata lain “bersungguh-sungguh di dalam kegiatan bergereja mereka”. Gereja sebenarnya tidak membuat orang menjadi fanatik, karena fanatik itu sendiri adalah salah. Fanatik berarti mengikuti sesuatu dengan membabi-buta (dengan prinsip: “pokoknya”). Ada juga orang tua yang takut kalau anaknya menjadi radikal. Arti kata radikal yang sebenarnya itu adalah berakar (radix). Dengan arti kata tersebut, menjadi radikal adalah menjadi orang yang berakar dan kemudian bertumbuh, ini adalah hal yang baik bukan? Ada pendapat lainnya yang mengatakan bahwa mereka takut kalau anaknya menjadi sibuk pelayanan. Dari semuanya ini para orang tua sebenarnya menginginkan supaya anaknya jangan terlalu serius di dalam kehidupan bergereja. Di balik pemikiran mereka pun, mereka ingin anak-anak mereka beranggapan bahwa kekristenan itu hanyalah bagian kecil dari kehidupan saja. Pengertian ini adalah sangat berbahaya. Gereja mengajarkan jika Kristus tidak menjadi Tuhan di dalam seluruh hidup kita, maka Kristus tidak menjadi Tuhan di dalam seluruh hidup kita sama sekali.

Kita sering berpikir bahwa kehidupan rohani itu hanya sebagian kecil saja, sedangkan seluruh hal lainnya di dalam hidup sehari-hari itu adalah urusanku sendiri. Namun, panggilan Tuhan bagi hidup kita adalah untuk mempersembahkan seluruh hidup kita bagi kemuliaan Tuhan. Memang ini bukan berarti bahwa kita sudah sempurna. Seluruh aspek hidup kita memang harus mengalami proses pertumbuhan seumur hidup kita. Yang penting adalah sikap hati kita. Kalau kita berpikir seperti dunia, berpikir dualisme, dan ingin menyelamatkan diri kita sendiri, maka kita akan kehilangan nyawa kita. Sebaliknya sikap hati yang mau berdoa untuk mau memuliakan Tuhan di dalam seluruh hidup kita akan mengubah dan mempertumbuhkan kita. Apakah seluruh yang kita kerjakan adalah untuk mempermuliakan dan menyenangkan hati Tuhan?

1Abraham Kuyper, https://archive.org/stream/200620ApostlesCreedLecture04/CreatorOfHeavenAndEarth_djvu.txt

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Steven Abdinegara


Ringkasan Khotbah lainnya