Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Janganlah Menjadi Serupa dengan Dunia ini

Ibadah

Janganlah Menjadi Serupa dengan Dunia ini

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 16 Maret 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Galatia 1:1-4; Efesus 2:1-3; Roma 12:1-2

Ketika Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya, Dia mengatakan bahwa mereka diutus seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Ini adalah suatu kalimat yang sangat mengagetkan. Inilah gambaran untuk kita sebagai murid Tuhan. Ini suatu hal yang revolusioner dan sekaligus membingungkan. Domba tidak usah diutus pun, serigala juga pasti akan mencarinya karena domba memang makanan serigala. Domba juga adalah salah satu hewan paling lemah, tidak punya kekuatan apalagi untuk melawan serigala. Hampir semua binatang punya senjata mempertahankan diri, misalnya kura-kura dengan cangkangnya atau landak dengan kulit yang berduri. Tapi domba tidak punya apa-apa, dia hanya bisa lari kalau dikejar, dan larinya pun lamban. Jika dikejar serigala, pasti domba mati. Inilah gambaran Tuhan bagi panggilan kita. Ini menyatakan bahwa betul-betul kalau domba bisa selamat dan bersaksi kepada serigala-serigala ini, dan mereka bertobat, jelas bukan pekerjaan atau kehebatan si domba, tetapi semata-mata karena pekerjaan Tuhan. Karena Tuhan yang menyertai, berbelas kasihan dan bekerja lewat apa yang dilakukan domba-domba ini.

Dalam Roma 12:2, dijelaskan bahwa meskipun Tuhan mengutus kita ke tengah-tengah dunia ini, tapi kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia. Kita tidak ditarik dari dunia ini untuk hidup sendiri seperti orang Amish, atau biarawan. Kita tetap disuruh pergi bersaksi ke tengah dunia tapi jangan sampai menjadi serupa dengan dunia. Ini menjadi penjelasan lanjut dari Roma 12:1, tentang penyerahan diri menjadi korban hidup itu. Jadi mempersembahkan diri sebagai korban hidup memiliki aspek menjaga diri agar tidak menjadi serupa dengan dunia tetapi berubah oleh pembaharuan akal budi kita. Ini bukanlah pengulangan, tapi kelanjutan. Ada banyak aspek dari pengertian “jangan menjadi serupa dengan dunia ini.” Hal inilah yang akan kita pikirkan bersama-sama.

Jangan menjadi serupa dengan dunia ini” bukan cuma berarti jangan mabuk, jangan berjudi, atau jangan clubbing. Hal-hal ini memang termasuk di dalamnya, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih dalam. “Dunia” di sini memiliki pengertian “pattern of this world”, “the spirit of this age”-semangat zaman, “present evil age”. Jadi yang dimaksud adalah “dunia” dalam pengertian jalan hidup dunia ini yang jahat, yang berdosa di hadapan Tuhan, “worldview” yang diwarnai spirit of disobedience, yang tidak mau taat kepada Tuhan. Jadi Paulus bukan hanya menunjuk keada perbuatan-perbuatan duniawi, tapi pola pikir, worldview, beliefs. Francis Schaeffer mengatakan, “I do what I think and I think what I believe.” Kita diperintahkan untuk bukan saja jangan berbuat jahat, tapi juga jangan mempunyai cara pikir yang sama dengan dunia. Karena di belakang cara berpikir kita sebenarnya ada beliefs yang kita pegang. Inilah perintah Paulus, jangan menjadi serupa dengan kepercayaan yang dihidupi orang-orang dunia ini!

Jelas ini adalah peringatan bagi anak-anak Tuhan. Harry Blamires dalam bukunya The Christian Mind menulis, “pemikiran Kristen telah tunduk kepada arus sekuler sampai kepada taraf kelemahan dan ketidakberdayaan yang tidak ada bandingnya di sepanjang sejarah keKristenan”.* Secara garis besar hal ini masih berlaku. Saya mengajak kita melihat tiga hal tentang the spirit of the age yang diperingatkan oleh Paulus agar kita jangan menjadi serupa dengan itu.

  1. Health and Wealth Theology (Teologi Kesuksesan dan Kemakmuran)

Ini adalah pengajaran yang mengajarkan bahwa dengan percaya kepada Tuhan maka kita akan mengalami kesembuhan dan kesuksesan! Namun ini adalah contoh bagaimana gereja menjadi serupa dengan dunia ini. Di Indonesia ini masih menjadi arus yang besar. Siapa yang tidak ingin sukses, kaya, dan sembuh? Tidak dapat dipungkiri hal-hal ini memang menyentuh kebutuhan manusia yang real. Siapa yang tidak ingin kalau orang yang kita kasihi kalau sakit agar mereka disembuhkan? Kita akan pakai segala usaha dan kemanapun kita akan pergi kalau ada dokter yang bisa sembuhkan. Tetapi kalau kemudian diajarkan jika percaya Tuhan pasti sembuh, ini berbahaya sekali. Apalagi kalau menjadi sebuah movement atau gerakan. Kita bukannya tidak percaya kesembuhan, tetapi bukan itu yang utama. Kalau menekankan pasti sembuh, apalagi sampai membuat manusia berkata, ‘Tuhan, kalau Engkau berkuasa, maka sembuhkan penyakitku!’ Artinya kalau aku tidak sembuh berarti Tuhan tidak berkuasa. Ini adalah logika yang ditipu oleh Injil yang palsu. Sangat mengerikan bahwa hal ini sudah masuk ke dalam gereja. Kalau hal menjadi kaya atau sembuh sembuh menjadi utama, maka sebenarnya allah siapa pun yang bisa memberikan akan disembah. Kalau kita mengerti akan Allah yang berdaulat, bahwa Dia berkuasa untuk menyembuhkan namun juga bebas untuk memilih untuk tidak menyembuhkan, maka akan ada perbedaan yang orang dunia ini tidak bisa mengerti. Allah melepaskan Petrus dari penjara secara ajaib, tapi di pasal sebelumnya Stefanus tidak dilepaskan Tuhan dari rajaman batu. Apakah Stefanus lebih berdosa dan Petrus lebih suci?

Sebagai contoh, kesaksian dari film Love Never Fails yang mendokumentasikan kisah sepasang suami isteri di mana ketika baru satu minggu mereka menikah, sang suami, Ralph diketahui menderita kanker stadium 4. Tubuhnya dari gagah menjadi hancur. Tetapi Ralph malah berkata bahwa Tuhan membiarkan dia memiliki kanker yang bisa kelihatan di luar, bukan yang tertutupi oleh tubuh justru supaya orang bisa melihat. Dan justru ketika banyak kolega datang mengunjungi dia, dia memakai kesempatan itu untuk memberitakan tentang Yesus kepada mereka. Lewat kesakitannya, banyak keluarga dan temannya dibawa menjadi percaya. Orang-orang yang menekankan health and wealth theology tidak akan pernah mengerti bagaimana Tuhan menyertai mereka..

Reformed Evangelical Movement, secara kontras adalah gerakan yang mengajarkan kita untuk kembali kepada seluruh pengajaran Alkitab. Agar kita senantiasa waspada untuk tidak menekankan satu pengajaran saya seperti tentang berkat Tuhan tapi melupakan yang lain.

2.      Pernikahan Sesama Jenis

Saya mengangkat tentang hal ini bukan berarti kita membenci orang yang punya pergumulan dengan kecenderungan homoseksualitas. Kita mau mendampingi orang seperti ini agar dia boleh kembali kepada Firman dan Tuhan juga dapat membentuk dia untuk masuk ke dalam rencana-Nya. Tapi sekarang gereja sudah mulai berkompromi akan hal menyetujui pernikahan sesama jenis. Ini yang tidak dapat diterima.  Gereja Anglican di Amerika pecah menjadi dua karena hal ini. Bahkan ada gereja yang mulai memperbolehkan pentahbisan pendeta gay. Masalahnya adalah, orang-orang ini mencoba mendefinisi ulang apa itu pernikahan. Menurut Firman Tuhan, pernikahan adalah ketika laki-laki menjadi satu dengan isterinya. Ribuan tahun definisi ini yang diterima. Hak apa yang mereka miliki? Siapa mereka boleh meredefinisi pernikahan itu apa? Kita tidak bisa jadi netral, kita harus kembali pada Firman. Dunia terus menarik kita dengan tarikan yang keras. Jika dunia menuruti apa yang manusia ingin kerjakan maka semua menjadi kacau dan memang itulah yang sekarang terjadi. Kalau kita memberikan apa yang manusia inginkan, banyak juga orang mau poligami atau poliandri. Tapi kalau apa yang manusia inginkan dibiarkan tanpa control, maka tidak ada standar yang benar lagi dan dunia akan menjadi kacau luar biasa

3.      Sekularisme

Ide sekularisme, menurut James Boice, adalah satu kata yang cukup tepat untuk menggambarkan “mental framework, value structure of our time”.** Roma 12:2 yang menyatakan “jangan menjadi serupa dengan dunia ini” juga dapat berpengertian “jangan menjadi sekuler”. Artinya apa? Sekularisme terjadi di mana segala pemikiran, rencana, perjuangan, ambisi manusia hanya memperhitungkan hidup di dunia sekarang ini saja. Tidak ada perhitungan tentang hidup yang di luar hidup sekarang ini. Dalam kitab Pengkhotbah ini disebut sebagai ‘hidup di bawah matahari’.

Saya ajak kita membuka Pengkhotbah 1:1-18; 2:15-19. Mengapa ada ayat-ayat Alkitab yang begitu pesimis seperti ini? Perkataan-perkataan ini mengajak kita berpikir, kita menjalani hidup untuk apa? Apa makna dari hidupmu? Pengkhotbah mencari arti hidup melalui tiga proyek besar yang juga ini dilakukan oleh manusia sepanjang zaman. Dia berhasil menggenapi itu semua. Yang pertama adalah hikmat dan pengetahuan. Dia sudah mendapat begitu banyak. Yang kedua, kenikmatan hidup, secular hedonism dengan anggur, perempuan, dansa, pesta pora. Dia adalah raja dan dia punya kuasa dan melakukan itu semua. Ketiga adalah melalui kekayaan dan pencapaian yang banyak dalam hidup. Dia bekerja keras untuk mencapai banyak hal dan melampaui apa yang raja-raja lain belum berhasil capai. Tetapi pada akhirnya dia mengatakan bahwa segala sesuatu itu adalah sia-sia. Sama dengan perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh. Meskipun kita memiliki semua kenikmatan, bagaimana bisa menikmati itu jika hari ini kita mati? Kalau kita hanya berhenti pada pemikiran sekuler bahwa hidup hanya berhenti di sini, maka segala usaha kita akan menjadi sia-sia, usaha menjaring angin. Hidup kita bukan hanya menjadi meaningless tapi juga pointless, tidak mempunyai makna dan juga tidak ada tujuannya. Apa gunanya engkau memiliki seluruh dunia ini tetapi kehilangan nyawamu? Pertanyaan Yesus ini tidak bisa dijawab oleh siapapun dalam dunia ini.

Begitu banyak orang termasuk orang Kristen juga berpikir secara sekuler. Menjadi bahaya sekali apabila kita meletakkan hati kita kepada apa yang ada di dunia ini karena makna hidup disandarkan kepada sesuatu yang amat rapuh dan tidak pasti. Mengapa demikian? Karena banyak peristiwa akan mengguncang fondasi hidup kita. Investasi yang bangkrut, bencana, kecelakaan yang bisa tiba kapan saja. Kalau hanya berhenti pada dunia ini, maka habislah hidup kita. Pada ujungnya, akan ada kematian yang merampas kita dari segala yang kita anggap paling penting di dunia ini. Ini adalah fakta yang pasti terjadi meskipun manusia ingin menghindari. Jadi, janganlah menjadi serupa dengan dunia ini dan jangan berpikir sekuler. Kita perlu hidup dari sudut pandang Allah: hidup dalam terang bahwa segala apa yang kita lakukan akan dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan nantinya. Seluruh hal yang kita kerjakan dikaitkan dengan kekekalan. Apakah saudara bisa katakan, kalau saudara mati hari ini maka Tuhan bisa bilang kepada saudara, ‘well done good and faithful servant?’ Memang kita berada dalam tahap hidup yang berbeda-beda, tapi di mana pun kita, kita harus mengerjakan yang terbaik. Setiap hari kita melakukan kehendak Tuhan yang boleh kita mepertanggung-jawabkan di hadapan-Nya. Saya khawatir sekali ketika selesai khotbah, saudara menganggap it’s just another preaching. Sayang sekali kalau itu yang terjadi. Saya bertanggung jawab menggumuli dan memberitakan kehendak Tuhan, apa yang Dia nyatakan dalam Alkitab bagi umat-Nya sekalian. Saudara bertanggung jawab untuk meresponi. Maka sekali lagi, janganlah menjadi serupa dengan dunia ini! Yang tidak bisa saudara pertanggungjawabkan, buanglah! Harap kita jangan menjadi sekuler, tetapi kita melihat hidup dan pekerjaan kita dari sudut pandang Tuhan.

*The Christian Mind: How Should a Christian Think?, Harry Blamires. 1963.
**Renewing Your Mind in a Mindless World: Learning to Think and Act Biblically. James Montgomery Boice. 1993.

Ringkasan oleh Sally Danayani | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya