Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tubuh sebagai Persembahan yang Hidup, yang Kudus dan berkenan kepada Allah

Ibadah

Tubuh sebagai Persembahan yang Hidup, yang Kudus dan berkenan kepada Allah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 9 Maret 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:1-2

Minggu yang lalu kita sudah mengetahui bahwa pasal ke-12 dan yang selanjutnya merupakan aplikasi daripada doktrin dan pengajaran yang telah Paulus jabarkan dengan begitu komprehensif di pasal-pasal sebelumnya. Bagian ini juga dapat dimengerti sebagai respons kita terhadap apa yang Allah sudah kerjakan di dalam dunia ini. Kalau disimpulkan bagian ini dapat menjadi suatu tema penting yaitu “How should we then live?”. Kita juga sudah membahas bagaimana kita mempersembahkan pikiran, mata, telinga, tangan dan kaki kita untuk pekerjaan Tuhan sebagai korban hidup untuk kemuliaan-Nya.

Kita harus menjaga tubuh kita. Bagaimana kita dapat melayani Tuhan menjadi korban hidup kalau tubuh kita sakit karena kita tidak merawat tubuh kita? Ketika kita kuat dan segar, kita bisa menggunakan kekuatan itu untuk melayani Tuhan dengan maksimal.

Pasal yang ke-12 ini juga dapat dimengerti sebagai Christian Ethics yaitu membicarakan “How should we then live?”. Martyn Lloyd Jones di dalam hal ini mengatakan: “Apa yang menentukan seseorang itu Kristen atau tidak di dalam kehidupannya bukanlah apa yang ia lakukan. Yang jauh lebih menentukan adalah mengapa ia melakukan suatu hal itu”. Ini tepatnya sedang berbicara tentang motivasi. Christian ethics juga dapat dimengerti sebagai motivational ethics.

Kalimat pertama Paulus di dalam pasal ini sudah menyangkut dua motivasi. Hal ini dapat dilihat dari kata ‘karena itu’ yang menandakan bahwa bagian sebelumnya (pasal 1-11) adalah motivasi dari pasal ke-12 dan seterusnya. Sedangkan motivasi kedua dapat dilihat dari kata ‘demi kemurahan Allah’.

Dilihat dari sisi practical, orang ateis atau pun yang beragama lain bisa hidup dengan lebih baik dibandingkan orang Kristen. Orang-orang ini tidak jahat dan malahan suka menolong bahkan mengasihi satu dengan yang lainnya. Namun, perbedaannya dengan orang Kristen sejati terletak pada motivasinya. Salah satu alasan mengapa orang dunia berbuat baik adalah karena itu merupakan suatu hal yang masuk akal: “saya berbuat baik, maka orang akan baik kepada saya dan sebaliknya”. Namun, jauh lebih dalam daripada sekedar hal yang masuk akal atau common sense, orang Kristen menghidupi apa yang mereka hidupi karena apa yang Allah sudah kerjakan yaitu karya penebusan Kristus Yesus. Allah telah menyelamatkan umat-Nya dari murka-Nya. Orang Kristen sejati melakukan segala sesuatu yang ia lakukan karena sudah diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus dan dibenarkan di dalam Kristus. Tidak ada apapun yang dapat memisahkan orang Kristen sejati dari kasih Kristus bahkan kematian pun. Karena itu persembahkanlah tubuh kita sebagai korban hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah.

Hari ini kita akan membahas lebih lanjut motivasi kedua yaitu ‘demi kemurahan Allah’ atau ‘in view of God’s mercies (plural)’. Motivasi pertama lebih bersifat logika. Dengan kata lain, motivasi pertama berbicara tentang suatu pengertian atau pengetahuan yang kita miliki (yaitu pengajaran dari pasal 1-11) yang membuat kita termotivasi untuk melakukan suatu hal (pasal 12-dst.). Hal ini dikontraskan dengan motivasi kedua yang lebih menyentuh hati yang menyangkut kemurahan atau belas kasihan Allah.

Anugerah dan belas kasihan Allah adalah seperti dua sisi dari satu mata koin yang sama. Anugerah adalah pemberian Allah kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerima pemberian itu. Sedangkan belas kasihan adalah sesuatu yang selayaknya kita terima namun tidak ditimpakan atau diberikan kepada kita (contohnya: murka Allah).

Belas kasihan Allah inilah yang Paulus tekankan di dalam bagian ini. Rasul Paulus juga terkenal dengan sebuatan apostle of mercy. Di dalam 1 Tim. 1:15-16, Paulus mengatakan: “’Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa’, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukan seluruh kesabaran-Nya (atau kemurahan-Nya). Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal”. Paulus menulis hal ini menjelang akhir hidupnya. Dia sangat sadar akan dirinya yang berdosa walaupun dia sudah mengalami penyertaan Tuhan di dalam segala macam penderitaan dan kesulitan yang dia alami selama pelayanannya mengabarkan Injil. Sampai saat-saat terakhir pun Paulus masih bergantung kepada belas kasihan Allah.

Paulus memang dibelas-kasihani Allah saat ia masih disebut Saulus di dalam perjalanannya ke Damsyik. Namun, bukan hanya itu saja, Paulus mengatakan bahwa ia membutuhkan belas kasihan Allah sepanjang hidupnya. Di dalam terang akan kebenaran inilah Paulus mendorong kita untuk memohon terus belas kasihan Allah sepanjang hidup kita. Bukan hanya sekali Allah memberikan belas kasihannya tetapi terus-menerus di dalam hidup kita. Masing-masing dari kita memerlukan belas kasihan Allah di dalam konteks dan waktu yang berbeda-beda. Allah memberikan belas kasihan-Nya kepada orang yang berseru kepada-Nya.

Bagi kita yang sudah belajar dan mengerti anugerah, belas kasihan Tuhan, dan juga apa yang telah Allah kerjakan untuk menebus umat manusia, Paulus mendesak dan mendorong kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai korban hidup karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Ini harusnya merupakan hal satu-satunya yang paling masuk akal yang bisa kita kerjakan. Mempersembahkan tubuh kita sebagai korban hidup merupakan ibadah kita yang paling masuk akal. Dengan kata lain, kalau kita tidak mempersembahkan seluruh hidup kita kepada Allah, itu adalah hal yang tidak masuk akal, irasional dan berkontradiksi padahal kita mengerti anugerah Allah.

Kita sebenarnya sedang berkontradiksi dengan diri kita sebagai anak Tuhan saat kita berbuat dosa karena kita dicipta untuk memuliakan dan melayani-Nya. Saat nabi Natan datang menegur Daud dengan keras setelah Daud berzinah dengan istri Uria, ia mewakili Allah berkata kepada Daud bahwa Allah sudah memberikan segala sesuatu kepada Daud dan jikalau kurang pun Allah akan menambahkannya lagi. Lalu mengapa Daud menghina Allah dan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Ini merupakan hal yang berkontradiksi, bukan? Setiap dosa yang kita lakukan kalau kita pikir dengan benar di dalam terang firman Tuhan, betapa bodoh, unreasonable. Dan irasionalnya hal itu. Adalah lebih tidak masuk akal lagi kalau kita yang sudah mengerti anugerah Allah tidak mempersembahkan tubuh kita sebagai korban hidup. Hal ini bukan saja menjadi kejahatan di mata Tuhan namun sebenarnya menghancurkan hidup kita sendiri. Kalau kita tidak menyerahkan tubuh kita, pikiran, tangan, kaki kita dan sebagainya kepada Tuhan untuk pekerjaan dan kemuliaan-Nya, kita bisa terjerat dalam dosa.

Mungkin ada dari kita yang jatuh di dalam dosa yang begitu dalam, tidak semua orang berhasil seperti Yusuf waktu digoda oleh istri Potifar. Yusuf tahu benar bahwa melakukan dosa adalah sangat berkontradiksi dengan segala kebaikan, anugerah dan belas kasihan Allah yang dicurahkan-Nya ke atas hidupnya. Bagi anak Tuhan yang sejati ada pengampunan jika ada pertobatan sejati. Biarlah kita tidak lagi memakai tubuh kita untuk melakukan dosa dan menimbulkan murka di hadapan Allah.

Allah senang dan berkenan jika kita memakai tubuh kita jadi korban hidup. Segala apa yang kita persembahkan memang berasal dari Tuhan, namun Tuhan sendiri senang saat kita mempersembahkan tubuh kita (yang adalah pemberian Tuhan juga) untuk kemuliaan-Nya. Gambaran di kitab Perjanjian Lama adalah seperti imam yang mempersembahkan minyak dan rempah-rempah untuk dibakar bagi Allah. Wanginya menyenangkan hati Allah sebagai simbol bahwa ini adalah persembahan yang harum dan berkenan di hadapan Allah. Seperti halnya di Perjanjian Baru, hamba yang setia yang ikut masuk ke dalam kebahagiaan tuannya. Di dalam surat Efesus (5:1-2) juga dikatakan agar kita menjadi imitators of God sebagaimana Kristus juga telah mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Dengan ini, Paulus sekali lagi mendorong kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai korban hidup. Ketika kita mengerti anugerah, kasih dan belas kasihan Allah yang begitu besar kepada kita, biarlah kita boleh taat terus kepada Allah betapa pun sulitnya dengan menjadi korban hidup yang berkenan di hati Allah. Maukah kita hari ini sekali lagi menyerahkan tubuh kita sebagai korban hidup bagi Allah?

Ringkasan oleh Steven Abdinegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya