Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Membedakan Manakah Kehendak Allah

Ibadah

Membedakan Manakah Kehendak Allah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 6 April 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:2, Filipi 1:9-11

Kalau kita kaitkan ayat Filipi di atas dengan eksposisi Roma 12, khususnya pada ayat 2b, “tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”, maka kedua ayat ini menjadi kesimpulan seluruh etika hidup Kristen yaitu “how should we then live”, bagaimana kita seharusnya hidup di dalam terang. Kedua ayat ini memberikan pengertian akan pekerjaan Tuhan, anugerah, belas kasihan dan kemurahanNya. Dengan demikian, bila setiap kita sepenuhnya mengerti kedua ayat ini dan mentaatinya, maka kita mempersembahkan tubuh kita, seluruh hidup kita sebagai korban hidup dihadapan Tuhan dan menjadi persembahan kudus yang berkenan kepada Allah. Di sini ditekankan pada setiap bagian tubuh physical kita dan inilah ibadah yang paling masuk akal. Selagi hidup di dalam dunia ini, kita diutus di tengah-tengah dunia untuk tidak menjadi serupa dengan dunia, bukan meninggalkan dunia namun kita berubah dengan pembaharuan budi dan pikiran kita. Pembaharuan pikiran yaitu pembaharuan pada seluruh kehidupan, pola pikir, pengetahuan, apa yang kita percaya dan asumsi hidup kita yang hanya tertuju pada Tuhan. Dengan demikian hidup kita akan menjadi berbeda dengan dunia ini. Menyadari begitu banyak pekerjaan Tuhan di tengah-tengah dunia ini, maka mereka yang menyadari hal ini menjadi kemuliaan bagi Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Itulah yang menjadikan keindahan hidup Kristen.

Salah satu aplikasi yang akan dibahas minggu ini adalah dalam memberi persembahan kepada Tuhan. Memberikan persembahan itu adalah suatu ujian atau tes apakah betul kita telah mengerti sepenuhnya hal mempersembahkan tubuh kita dan seluruh hidup kita kepada Tuhan sebagai korban hidup, apakah betul kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini namun telah mengalami perubahan pembaharuan budi dan pikiran. Ketika saya tanya kepada ibu bendahara apakah masih ada yang memberikan persembahan uang koin? Tidak dijawab secara langsung tetapi disodorkan datanya, masih banyak yang memberi 5c, 10c, 20c, 50c. Saya heran, masih ada orang yang memberi persembahan seperti itu. Tentu ada juga yang memberi banyak. Tuhan tidak melihat jumlah yang kita berikan tetapi Tuhan melihat isi hati dan persentase. Persentase maksudnya adalah kalau engkau menghasilkan banyak maka engkau dituntut banyak. Dulu saya tahu seorang jemaat yang benar-benar dalam kesulitan ekonomi. Tidak ada kerja, ia setiap hari, pagi-siang-malam,  makan roti tawar dan minum air putih. Sekarang rasanya tidak ada jemaat kita yang seperti itu, apalagi bila kita bisa pergi makan di luar dan bayar $10, $15 atau $20 dengan gampang, seolah easy money.

Tetapi memberikan 20c untuk Tuhan, itu bukan persembahan tetapi penghinaan. Saya perlu sampaikan kepada saudara karena ini adalah suatu ujian yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Bukan mau cari uang tetapi ini adalah berita firman yang tidak sepantasnya bila kita bermain-main dengan persembahan. Bila saudara mau mengurangi makan di luar satu kali saja maka saudara sudah bisa memberikan $10, $15 atau $20 bagi pekerjaan Tuhan. Ini adalah peringatan dari Tuhan bagi saudara yang tidak serius dalam memberikan persembahan kepada Tuhan. Saya bersyukur banyak diantara saudara yang serius dalam hal ini, namun bila masih ada yang tidak serius, saya tahu masih ada, maka Tuhan pasti murka dan ini berbahaya sekali. Tuhan murka kepada Kain yang memberikan sisa sebagai persembahan. Berbeda dengan Habel yang mempersembahkan yang terbaik yang sulung karena ia sadar ini adalah persembahan bagi Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Kain untuk bertobat. Jangan sampai dosa menguasai kita karena maut sudah mengetuk di depan pintu. Bertobatlah, kalau tidak maka akan binasa. Ini hanyalah salah satu aspek saja, bagaimana uang menjadi ujian di dalam hidup kita. Dalam pembanguan gedung Gereja, kita membutuhkan begitu banyak uang. Ini juga merupakan ujian bagi kita apakah kita sungguh-sungguh mengerti dan mentaati firman ini, mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai korban hidup.

Panggilan hidup Kristen yang digambarkan dalam Roma 12: 1-2 adalah suatu “biblical realism” karena walaupun bersifat biblical tetapi ini adalah sesuatu yang real. Ini bukan suatu idealisme atau utopia atau impian-impian yang tidak bisa diterapkan karena kalau tidak bisa diterapkan maka Tuhan tidak berikan kepada kita. Seluruh firman yang Tuhan berikan adalah untuk dilakukan dan ditaati dalam kehidupan kita. Firman Tuhan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” adalah sesuatu yang real. Mengapa “jangan”? Karena ini adalah dosa yang realistis yang sudah terjadi di dalam kehidupan manusia. Kata “jangan” dipakai karena sudah terjadi. (Referensi: Hukum Tuhan ke-6 sampai ke-10 memakai kata “jangan”).

Sudah banyak orang Kristen yang menjadi serupa dengan dunia, begitu terpengaruh dengan pola pikir dunia, percaya dengan apa yang dikerjakan dunia dan melakukan apa yang dilakukan dan dikejar oleh dunia. Tantangan bagi bagi kita orang Kristen menjadi tidak mudah karena jaman sekarang ini dunia berada dalam the present evil age, dunia yang akan segera berlalu dengan segala nafsunya yang jahat. Namun Alkitab memberi peringatan kepada kita, karena apabila kita berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak hanya berdasarkan prinsip-prinsip dunia saja maka kita sudah menjadi serupa dengan dunia.

Oleh karena itu Alkitab menyatakan agar kita berubah dengan pembaharuan pikiran. Perintah ini utamanya berdasarkan pada pekerjaan Tuhan yang sudah dilakukan terlebih dahulu di dalam kehidupan kita. Allah yang memulai kehidupan, Dia bekerja dalam kehidupan kita dan Dia jugalah yang memampukan kita untuk menghadapi tantangan dan kesulitan melalui kemungkinan-kemungkinan, cara-cara dan terobosan yang berbeda dengan cara-cara dunia. CS. Lewis mengatakan satu kalimat “Tuhan Yesus telah datang ke dunia bukan untuk menyiksa manusia lama kita namun Ia datang untuk membunuhnya. Ia datang bukan untuk memotong cabang-cabang pohon, tetapi mencabut pohon itu sampai ke akar-akarnya. Ia datang bukan untuk menambal, membor atau memasang ‘crown’ pada gigi kita, tetapi Dia datang untuk mencabut gigi kita. Dengan kata lain, Dia datang untuk mematikan manusia lama kita tetapi kemudian Dia memberikan hidup yang baru, Dia memberikan hidupnya sendiri kepada kita”. Karena Dia telah memberikan hidup yang baru kepada kita, sudah seharusnya hidup itu bertumbuh semakin ke arah Kristus dan berubah oleh pembaharuan budi kita semakin serupa dengan Kristus.

Metamorphosis adalah kata yang dipakai Paulus untuk kata berubah, metamorphosis adalah suatu proses dari satu mahluk menjadi mahluk yang baru. Dari telur yang sangat kecil, menetas menjadi ulat kecil, tumbuh menjadi ulat besar, menjadi kepompong dan keluar menjadi kupu-kupu yang indah. Inilah yang Tuhan inginkan terjadi di dalam hidup kita sehari-hari di manapun kita berada, apapun yang kita kerjakan dan apapun stage kita saat ini, apakah sedang menjadi telur atau ulat atau kepompong, kita harus terus bertumbuh dan berubah menuju kesempurnaan. Sebagai anak-anak Tuhan tentu banyak tantangan yang real, betapa sulitnya dan betapa dunia mempengaruhi kita, namun kita pasti merasa gelisah dan tidak tenang karena terus diingatkan bahwa semua itu bertentangan dengan diri sendiri dan bertentangan dengan pekerjaan Tuhan yang sudah memberikan hidup baru kepada kita. Engkau pasti merasa gelisah karena di tengah-tengah pertolongan dan anugerah yang Tuhan berikan tetapi engkau masih dipengaruhi dunia. Hidup baru yang Tuhan berikan itu berasal dari sorga bukan berasal dari dunia ini. Oleh karena itu janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah dan bertumbuhlah di dalam seluruh hidup kita. Bila tidak bertumbuh maka kita hanya hidup dan mati sebagai orang yang serupa dengan dunia, ini berarti bahwa Tuhan tidak pernah memberikan hidup yang sejati dan kitapun sebenarnya bukan orang Kristen yang sejati. Engkau adalah garam dunia, artinya adalah kita harus menggarami dan memberi rasa bagi dunia. Engkau adalah terang dunia, artinya kita harus menerangi dunia yang gelap. Jangan terang itu ditutupi atau diletakkan di bawah gantang tetapi biarlah terang itu menyinari dunia. Saya percaya bila engkau anak Tuhan yang sejati dan mendengar kalimat ini tentu engkau akan sadar bahwa inilah keinginan Tuhan.

Proses ini tidak akan pernah selesai sampai kita bertemu dengan Tuhan, semakin kita taat kepada Dia, kita semakin mau berkorban bagi dia, semakin mau menyerahkan hidup kita, semakin mau melayani Dia dan semakin mengasihi orang-orang di sekeliling kita. Dengan melakukan itu kita dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (NIV: Rome 12:2b Then you will be able to test and approve what God’s will is his good, pleasing and perfect will). Maksudnya adalah agar kita dapat mengetahui, menguji dan megalami sendiri bahwa kehendak Allah itu sempurna, baik dan menyenangkan hati. John Calvin mengatakan satu kalimat, “All true knowledge of God is born out of obedience”. Ketika kita mentaati Allah, ketika kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan kudus, ketika kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubah mengalami metamorphosis dengan pembaharuan budi dan pikiran kita, maka kita akan mengerti, mengalami sendiri dan menguji bahwa kehendak Allah itu sempurna, baik dan menyenangkan hati. Menyenangkan hati kita dan pasti menyenangkan hati Allah.

Pertanyaanya adalah, bisakah di dalam hati kita berkata dengan jujur “kehendak Allah itu baik bagi saya, kehendak Allah itu menyenangkan bagi saya dan kehendak Allah itu sempurna bagi saya”. Banyak orang mencari kesenangan dan kesempurnaan didunia ini berakhir dengan penipuan. Bila kita tidak mengerti bahwa kehendak Tuhan adalah yang terbaik, maka kita bisa terjebak seperti Hawa yang ditipu Iblis yang memunculkan keraguan di hatinya bahwa Tuhan adalah Allah yang egois yang tidak memberikan yang terbaik karena tidak mau engkau seperti Dia. Oleh karena itu berhati-hatilah, John Murray mengatakan satu kalimat (1): “If life is aimless, stagnant, fruitless, lacking in content, it is because we are not entering by experience into the richness of God’s will”. Firman Tuhan itu begitu berharga seperti pemazmur berkata firmanMu lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah (Mazmur 19: 9-10). Tentu ada masa-masa sulit di mana kita tidak bisa merasakan bahwa kehendak Tuhan itu yang terbaik bagi kita, namun itu bukan berarti tanpa pergumulan. Bila pergumulan itu dilalui dengan bersekutu dengan Tuhan, merenungkan firmanNya, mentaatinya dan berkorban bagi pekerjaan Tuhan, maka saudara akan mengalami dan mengerti betapa indahnya firman dan kehendak Tuhan. Oleh karena itu saya mendorong kita semua untuk terus bertumbuh, terus maju semakin menuju ke arah Kristus, salah satunya adalah dengan mempersembahkan diri, mengasihi orang lain dan bersekutu dalam doa.

(1)   http://www.djmoo.com/articles/renewedmind.pdf

Ringkasan oleh Mauritz Nainggolan | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya