Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kerendahan Hati (Humility)

Ibadah

Kerendahan Hati (Humility)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 13 April 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 12:3-8

Saya ingin memulai dengan cerita permainan memecahkan balon yang diikat di kaki sekelompok orang yang sedang bermain. Mungkin permainan ini tidak bagus untuk anak kecil karena yang memecahkan selalu senang, sementara yang dipecahkan selalu kesal, sedih, dan marah. Sampai terakhir anak menang yang juara adalah anak yang paling dikesali semua orang. Si juara menjadi orang yang paling kalah sebenarnya, karena semua orang benci terhadap dia. Dalam satu buku, permainan ini diberikan kepada anak-anak yang mempunyai special needs, ber-IQ dibawah rata-rata. Dengan peraturan yang sama, somehow yang mereka tangkap adalah mereka disuruh bekerja sama untuk saling memecahkan balon satu sama lain. Ketika games on, yang dipecahkan senang, yang memecahkan lebih senang lagi! Karena mereka berpikir tugas mereka adalah saling memecahkan balon. Sampai balon terakhir yang dipecahkan, semuanya senang bersukacita karena semua juara, karena somehow permainan ini lost in translation. Tetapi cerita ini mirip dengan kehidupan ber-Gereja. Cerita pertama adalah survival of the fittest, yang kedua saling bekerja-sama satu sama lain demi satu tugas bersama yaitu memecahkan seluruh balon. Inilah gambaran tubuh Kristus yang akan kita pikirkan selama beberapa minggu ke depan. Paulus memberikan ilustrasi yang sama di Korintus dan Efesus sebagai gambaran daripada Gereja. Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang mempunyai fungsi yang  berbeda-beda, menopang satu sama lain, saling membangun, mendorong, dan bertumbuh bersama-sama ke arah Kristus yang adalah Kepala Gereja.

 Jika kita mengingat Roma 12: 1 dan 2, terutama berbicara relasi orang Kristen dengan Allah. Ayat Roma 12:3-8 lebih fokus berbacara relasi antara sesama orang Kristen. Hari ini kita merenungkan satu ciri daripada relasi antara sesama Kristen ini khususnya dalam ayat 3. Terjemahan LAI disini kurang tepat, seharusnya, “Janganlah kamu memikirkan (menganggap) dirimu lebih tinggi daripada yang sepatutnya kamu pikirkan”. Satu tema dari ayat ini yang menjadi ciri orang Kristen khususnya dengan relasinya dengan orang lain yaitu orang Kristen harus memiliki humility – kerendahan hati. Paulus pun seorang Rasul yang memiliki otoritas mengatakan dan menasehati jemaat Roma dengan memakai kata (Roma 12:3) “By the grace given me I say to everyone of you”. Paulus tidak memakai otoritasnya sama sekali, walaupun ia adalah murid Gamaliel yang paling brilliant. Paulus tidak mengatakan, “Berdasarkan ketaatanku terhadap hukum Taurat yang sempurna dan tidak cacat cela, sekarang aku menasehatkan kamu”. Tidak, ia tidak berkata demikian. Tetapi Paulus mengatakan, “Berdasarkan kasih anugerah karunia yang Tuhan berikan kepadaku”. Ia menempatkan diri sebagai orang yang telah mendapatkan anugerah Tuhan. Humility adalah tema penting yang kontras dengan dunia. Kita lihat di tengah dunia di mana pun, dunia Bisnis, Politik, dunia apa pun, dunia ini tidak pernah mengerti apa arti humility sesungguhnya. Jika kita ke toko buku, buku-buku tentang self-help akan banyak sekali, tetapi kita akan kesulitan sekali mencari buku tentang humility. Karena humility hanya bisa hidup dihadapan Allah. Ketika Allah dibuang, maka humility juga dibuang. Kita saksikan hal ini dimana-mana termasuk dalam politik Indonesia saat ini.

Kita patut meneladani Dr. Tan Lai Yong seorang misionaris yang rendah hati. Ketika pelayanan misionarisnya di Kun Ming berhasil, ia harus meninggalkan tempat itu dan kembali ke Singapura. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab (1), “Karena saya telah diperlakukan sebagai VIP yang menyebabkan keputusan saya diikuti secara buta oleh banyak orang. Ini bahaya untuk jiwa saya, ini bahaya kesombongan”. Ini contoh yang begitu indah dari seorang yang sangat pintar tapi mempunyai hati yang rendah. Inilah peringatan Tuhan kepada kita di ayat 3 ini. “Janganlah kamu memikirkan dirimu lebih tinggi daripada yang sepatutnya kamu pikirkan”. Ini adalah peringatan yang begitu penting sampai Paulus pun memberi peringatan ini dimana-mana (Korintus, Efesus, Filipi, dan Roma). Dosa pride adalah dasar dan akar dari segala dosa. Manusia jatuh kepada pride karena tidak lagi bergantung kepada Tuhan, tetapi mulai bergantung kepada diri sendiri. Tidak lagi menganggap Tuhan utama, tetapi aku yang terutama.

Paulus pertama-tama memberi contoh tentang dirinya sendiri. Paulus sadar ketika ia memberi peringatan ini, bukan karena posisi, kehebatan, dan statusnya. Tetapi “aku ada sebagaimana aku ada karena anugerah Tuhan”. Bukan hanya ia diselamatkan karena anugerah, yang telah ia paparkan di Roma 1-11. We are justified through grace alone, Christ alone, faith alone. Rasul Paulus adalah seorang yang sangat mengerti  bahwa siapakah yang dapat memberikan sesuatu kepada Allah sehingga ia harus menggantikan-Nya? Paulus sadar bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, dan bagi Dia-lah kemuliaan bagi selama-lamanya. Ketika kita sadar bahwa seluruh hidup kita, seluruh yang kita miliki, seluruh nafas hidup kita, segala kesehatan, kepandaian, kesempatan, apa yang kita capai dalam hidup ini semata-mata adalah anugerah Tuhan maka pasti kita jadi rendah hati. Bukan hanya sekedar lip service tetapi kesadaran betul-betul bahwa semua ini adalah anugerah Tuhan.

Ini adalah sikap hati pertama yang harus dihasilkan orang Kristen sejati -  humility. Martin Lloyd Jones mengatakan, “Jika kita mengerti semua doktrin dan pengertian theologi pasal 1-11 tetapi tidak menghasilkan humility, semua itu tidak ada gunanya sama sekali. Ini menjadi satu kontradiksi yang besar seperti Stephen Charnox mengatakan (2), “Orang sombong adalah istilah yang kontradiksi sama seperti istilah setan yang rendah hati”. Dengan kata lain tidak ada orang Kristen yang sombong! Jika ia adalah orang Kristen sejati, yang sungguh-sungguh, maka ia akan mengerti anugerah Tuhan, apalagi menekankan sola gratia, ia harus menghasilkan hidup yang rendah hati. Yeremia 9:23 mengatakan, “Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,”. Yeremia membahas ada 3 hal yang sangat dicari orang yang bisa membuat kita jatuh sombong: bijaksana, kekuatan, dan kekayaan. Seperti juga disebutkan dalam 1 Kor 8:1, “…Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.” 

  1. Bijaksana/kepintaran. Bahaya sekali ketika orang yang pintar/bijaksana bergantung kepada dirinya sendiri. Ketika Tuhan Yesus bertanya kepada murid-muridNya, “Menurut kamu siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 16:15-17). Disini kita dapat mengerti, pengertian tajam yang Petrus punyai yang murid-murid lain tidak punya adalah berasal dari Tuhan. All true knowledge depend on God. Pengetahuan akan Allah yang benar walaupun kita belajar dengan susah, itu adalah karena anugerah Tuhan. Jangan sombong karena pengetahuanmu itu!
  2.  Kekuatan/kuasa. Kita tahu di dalam politik, power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely. Ini juga adalah peringatan dalam Ulangan 8:11-18. Jika kita mempunyai kekuasaan dan kekayaan, janganlah kita berkata ini adalah hasil dari kekuatanku, usahaku, perjuanganku. Ketika Nebukadnezar berkata dalam Daniel 4:30, "Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" Kalimat ini adalah kalimat yang langsung bertentangan dengan Roma 11:36. Seluruhnya adalah dari aku, untuk aku, kepada aku, bagi aku. Maka Tuhan marah, ia direndahkan sama seperti binatang, makan rumput seperti lembu. Tuhan tidak suka orang yang meninggikan dirinya dan yang lupa bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya.
  3. Kekayaan. In one sense, ini adalah yang paling banyak orang cari. Dan orang menganggap ia bisa membeli kuasa dengan kekayaannya. John Piper dalam bukunya Christian Hedonism mengatakan tentang godaan kekayaan adalah, “The power it gives and the pride it fits.” Memang tidak mudah untuk orang yang kaya untuk tidak bermegah akan kekayaannya. Karena di dalam dunia yang sangat bersifat materialistik (mengagung-agungkan materi), maka orang kaya yang punya materi sangat diagung-agungkan. Menjadi sulit sekali bagi orang kaya untuk rendah hati. Jika ada orang kaya tetapi memiliki hati yang rendah, kita sangat bersyukur. Ini menjadi kesukaan walaupun tidak banyak di tengah dunia ini. 1 Kor 4:7 mengatakan, “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” Paulus mengingatkan sekali lagi bahwa semua yang kita miliki adalah dari Tuhan. Dia berhak memberi dan juga mengambil apa yang kita miliki. Maz 127:1 mengatakan, “…Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya;…” Tentu kita harus berjuang membangun rumah, tetapi jikalau bukan Tuhan yang memberkati, sia-sialah orang yang membangunnya. Semata-mata adalah anugerah Tuhan, menyadari ini harus membuat orang rendah hati. John Calvin mengatakan, “Kita bisa bekerja mendapatkan uang banyak untuk membeli makan yang paling enak, mahal, dan kita inginkan karena usaha kita; tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menikmati sepotong roti tanpa anugerah Tuhan.” Kita mengetahui ini jika kita sakit gigi misalnya, atau satu syaraf terjepit. Makan apapun tidak menikmati.  Apalagi sampai sakit kanker dimana leher harus diradiasi dan kehabisan air ludah. Maka kita akan mengerti apa rasanya menikmati sepotong roti sederhana. Betul-betul kita memerlukan anugerah Tuhan.

 Ketiga kesombongan diatas (kepintaran, kuasa dan kekayaan) sangat kelihatan. Tetapi kesombongan bisa muncul dalam bentuk yang berbeda. Self pity, mengasihani diri - kelihatannya tidak seperti sombong, tetapi sebetulnya semacam kesombongan yang lain. Kadang-kadang muncul dalam bentuk minder, selalu merasa aku tidak bisa apa-apa. Kesombongan satu sisi merasa aku bisa mencapai dengan kekuatanku, sisi lain self pity aku tidak bisa apa-apa. Akarnya sebenarnya sama. Jika kesombongan adalah ekspresi orang sombong yang sukses, self pity adalah ekspresi orang sombong yang gagal. Karena gagal, ia mengasihani diri karena mungkin sudah banyak berkorban, tetapi tidak ada yang menghargainya sampai ia harus self pity. “Boasting is the voice of pride in the heart of the strong. Self-pity is the voice of pride in the heart of the weak” (dari What Jesus Demands from the World oleh John Piper). Jikalau kesombongan berkata, “Lihat apa yang telah aku kerjakan dan capai!”. Ia berkata demikian karena ingin dipuji untuk kebesarannya dan kehebatan dirinya. Self pity mengatakan, “Mengapa tidak ada yang memuji aku padahal aku telah berkorban begitu banyak”. Self pity adalah terikan kesombongan dari orang-orang yang lemah. Ini menjadi tricky karena self pity kelihatannya tidak sombong tetapi sesungguhnya merupakan kesombongan yang terselubung.

Kembali kepada Paulus, ia menjawab, “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu.” Ia merendahkan dirinya dan ia sadar apa yang ia perintahkan itu semata-mata adalah anugerah Tuhan yang telah diberikan kepadanya. Paulus merendahkan diri tetapi tidak menjadi self pity, ragu-ragu, minder, tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Tidak! Ia mengimbangi kesadaran anugerah Tuhan dan kekuatan yang mendorongnya untuk mengatakan sesuatu yang berotoritas. Ada humility sekaligus authority. Paulus mengatakan dirinya yang paling tidak layak dan yang paling hina, menganiaya jemaat Tuhan (humility), karena itu aku bekerja lebih giat (authority). Ada perjuangan, tidak menjadi self pity. Ia berjuang, bekerja bahkan lebih giat daripada semua Rasul yang lain, tetapi bukan ia, tetapi anugerah Tuhan yang bekerja di dalam Paulus. Marilah kita belajar dari keseimbangan Paulus. Mendorong kita untuk saling merendahkan hati dan saling melayani. Ini fondasi, prinsip yang pertama. Lalu kita saling membangun dan mengerti di antara kita.

 

(1)  http://heresthenews.blogspot.com.au/2010/11/poor-man-doctor-of-yunnan-calls-it-day.html

(2)  Seperti dikutip di dalam “Battling Unbelieve: Defeating Sin with Superior Pleasure” , John Piper

 

Ringkasan oleh Denny Chandra | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya