Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kotbah Minggu Paskah 2014

Ibadah

Kotbah Minggu Paskah 2014

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 20 April 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Yoh 11:1-27

Pada hari Paskah ini kita akan melihat kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus Kristus. Kemarin kita sudah membahas bahwa kalau Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah seluruh penderitaan-Nya. Kalau Kristus tidak bangkit berarti Dia juga dikalahkan oleh maut atau dengan kata lain mati karena dosa-Nya sendiri. Upah dosa ialah maut. Namun, kita tahu bahwa sejak permulaan Alkitab sudah menyatakan dan mengasumsikan bahwa Kristus itu memang akan mati dan bangkit pula. Kristus sendiri tahu bahwa Ia akan mati namun juga bangkit dari kematian. Dalam perikop yang telah kita baca hari ini, kita akan membahas asumsi ini yang sesungguhnya memberikan makna yang radikal daripada hidup manusia ketika kita mengerti bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mati namun juga bangkit. Kita juga akan belajar bagaimana Tuhan membentuk murid-murid-Nya dengan kebenaran ini yang berpuncak saat Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup (Yohanes 11:25). Peristiwa Ia membangkitkan Lazarus juga sebenarnya menjadi tanda bahwa Ia juga akan mati dan bangkit.

Sebelum kita masuk lebih dalam, kita akan membahas situasi atau konteks daripada perikop ini. Di pasal yang sebelumnya dikatakan bahwa Yesus sedang berada di Betania namun Betania ini berbeda dengan Betania di mana Lazarus berada. Dua kota ini memiliki nama yang sama namun sebenarnya adalah dua daerah yang berbeda. Tuhan Yesus berada di Betania yang ada di Galilea sedangkan Maria, Marta dan Lazarus berada di Betania yang ada di Yudea. Jarak daripada kedua kota ini cukup jauh, sekitar 170km. Perjalanan dengan berjalan kaki adalah sekitar empat hari empat malam. Detail ini sangat penting.

Kisah itu dilanjutkan dengan Maria dan Marta yang mengirimkan kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia (Lazarus) yang Engkau kasihi, sakit”. Yang menarik dari perkataan yang dicatat oleh rasul Yohanes ini adalah ‘dia yang Engkau kasihi’. Ini menunjukkan suatu fakta bahwa Tuhan Yesus mengasihi kita itu lebih penting daripada kita mengasihi Tuhan. Bagi orang-orang yang memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan Yesus itu selalu dicatat sebagai orang yang dikasihi oleh Tuhan. Yohanes sendiri me-refer dirinya sebagai murid yang dikasihi Tuhan. Rasul Yohanes sendiri adalah satu-satunya rasul yang mengikuti dari awal Yesus disalib hingga Ia diturunkan dari kayu salib. Ini terutama bukan karena Yohanes mengasihi Tuhan, tentu Yohanes mengasihi Tuhan, tetapi bahwa Tuhan mengasihi Yohanes. Rasul Paulus juga mengatakan di dalam suratnya kepada jemaat di Galatia (Gal 2:20): “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Paulus sendiri juga me-refer dirinya sebagai rasul yang dikasihi Tuhan. Hal ini sangat menarik karena fakta bahwa Tuhan mengasihi kita itu lebih utama atau menjadi dasar kita dapat mengasihi Tuhan.

Selanjutnya kita melihat ayat 4, kalimat ‘Penyakit itu tidak akan membawa kematian’ itu lebih tepat diartikan menjadi tidak berujung atau tidak berakhir kepada kematian. Hal ini dikarenakan kita tahu penyakit ini akan membawa kematian bagi Lazarus namun kematian itu bukanlah yang menjadi akhir. Yang menjadi akhir adalah kebangkitan Lazarus yang akan menyatakan kemuliaan Anak Allah yaitu Yesus Kristus sendiri yang adalah kebangkitan dan hidup.

Hal pertama yang akan kita bahas hari ini adalah perkataan Tuhan Yesus di ayat 5 dan 6. Perkataan Tuhan ini sangat menarik. Tuhan Yesus mengasihi Marta, Maria dan Lazarus. Namun saat didengar-Nya bahwa Lazarus sakit, Tuhan Yesus sengaja tinggal dua hari lagi di tempat Dia berada. Sebenarnya kata ‘namun’ di ayat ke-6 itu lebih tepat diartikan sebagai ‘therefore’ atau ‘so’. Lalu apa maksud dari semua ini? Bukankah perkataan Tuhan Yesus menjadi tidak make sense: justru karena Tuhan Yesus mengasihi mereka, maka dari itu Ia sengaja tinggal dua hari lagi? Jika kita hanya membaca sekilas daripada perikop ini, mungkin kita tidak menemukan jawabannya.

Jika waktu itu Tuhan Yesus langsung jalan tanpa menunggu dua hari, bukankah Lazarus pun pasti sudah mati karena perjalanan ke Betania di Yudea itu perlu empat hari? Lazarus mati pada hari yang kedua setelah Tuhan Yesus mendengar kabar itu, yaitu tepat pada hari waktu Ia dan murid-murid-Nya akan berangkat ke Betania di Yudea. Tuhan Yesus sudah tahu bahwa Lazarus sudah mati selama empat hari ketika Ia sampai di sana. Lalu mengapa Tuhan Yesus masih menunggu dua hari lagi untuk berangkat ke sana? Bukankah kalau Tuhan Yesus langsung berjalan pada hari kabar itu diberitakan kepada-Nya pun Lazarus sudah mati dan dia dapat dibangkitkan juga? Bagi kita hal ini mungkin aneh, namun bagi orang Yahudi yang membaca bagian ini pasti akan langsung mengerti.

Ada kepercayaan (superstition) orang Yahudi dan sekitarnya bahwa orang yang sudah mati itu rohnya masih bergentayangan selama tiga hari. Kepercayaan ini muncul karena pernah terjadi orang yang dianggap sudah mati itu bangkit lagi dari peti kuburnya. Penjelasan hal ini adalah seperti mungkin saja orang itu memang belum meninggal atau yang sering disebut mati suri. Lalu, bisa saja ilmu kedokteran pada waktu itu belum terlalu maju sehingga masih sulit membedakan orang yang sudah benar-benar meninggal dan yang belum. Mengapa sampai tiga hari? Karena biasanya pada hari ketiga, tubuh dari orang itu akan membusuk dan rusak. Demikianlah di ayat Yoh 11:39, Marta berkata kepada Tuhan Yesus bahwa Lazarus sudah berbau (membusuk). Karena hal inilah Tuhan Yesus sengaja menunggu dua hari lagi sehingga pada waktu Ia sampai Lazarus sudah mati selama empat hari. Hal ini dilakukan-Nya untuk menghindari kesulitan yang dapat muncul dari kepercayaan orang Yahudi dan sekitarnya yang tidak benar ini. Ketika Tuhan nantinya membangkitkan Lazarus, kita tahu bahwa ini memiliki arti yang sangat signifikan bagi murid-murid, Maria dan Marta khususnya.

Hal yang kita dapat pelajari dari peristiwa ini dapat kita lihat kembali melalui perkataan rasul Yohanes bahwa Maria, Marta dan Lazarus adalah orang-orang yang dikasihi Tuhan. Kesengajaan Tuhan Yesus untuk tinggal dua hari lagi sebelum Dia berangkat ke Betania di Yudea dikaitkan dengan Ia mengasihi ketiga bersaudara ini adalah karena kadang-kadangTuhan dapat menyatakan kasih-Nya dengan menunda pertolongan yang diberikan-Nya kepada kita. Anak-anak kecil khususnya, sangat sulit mengerti delayed gratification. Sayangnya, kita orang-orang dewasa juga bisa sama dengan anak-anak kecil yang tidak mengerti akan delayed gratification ini khususnya di dalam kesulitan dan pergumulan kita. Umumnya, kita sering menginginkan pertolongan yang sifatnya ‘sekarang juga’. Orang-orang sangat takut menderita terutama di negara-negara maju seperti di Australia.

Bagi anak-anak Tuhan, Tuhan sering memakai penderitaan di dalam hidup kita untuk membentuk karakter kita dan memberikan pengharapan yang semakin dalam di dalam Tuhan seperti yang rasul Paulus katakan di surat Roma (5:36) bahwa kita harusnya bersukacita di dalam penderitaan kita. Dari ayat-ayat ini juga seharusnya kita tahu bahwa penderitaan menghasilkan ketekunan, ketekunan menghasilkan karakter, dan karakter menghasilkan pengharapan. Pengharapan itu pun tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Di sini kita tahu bahwa pengharapan yang dihasilkan dari penderitaan itu jauh lebih penting daripada sekedar menyelesaikan penderitaan dan permasalahan kita itu. Bagi orang yang percaya kita mengetahui bahwa di dalam kesulitan dan pergumulan kita makin mengenal Tuhan yang memberikan pengharapan yang pasti di dalam hidup kita. Melalui hal-hal ini kita dibawa lebih dekat kepada-Nya. Justru karena Allah mengasihi kita, kita dibiarkan untuk mengalami segala kesulitan seperti seorang ayah yang mendisiplin anaknya. Pada saat kita mengalami kesulitan itu pasti rasanya tidak enak namun kita boleh dibentuk secara mendalam dan diajar untuk memikirkan hal-hal yang paling penting di dalam hidup kita. Seringkali saat mengalami penderitaan atau sakit-penyakit, barulah kita memikirkan akan arti hidup kita yang sesungguhnya. Saat orang sudah mau mengalami maut, barulah ia memikirkan apa yang telah ia kerjakan dan kejar di dalam hidup ini, juga hal apa yang paling penting di dalam hidupnya. Kalau Tuhan mengasihi kita, maka Dia mungkin tidak langsung menolong kita di masa-masa yang sulit. Biarlah Firman Tuhan hari ini menguatkan kita. Tuhan tidak buru-buru menyelesaikan permasalahan hidup kita karena Dia ingin agar kita datang lebih dekat kepada-Nya dan mengenal-Nya lebih dalam supaya kita percaya dan mengenal juga cinta kasih-Nya. Inilah yang Tuhan Yesus kerjakan kepada Maria dan Marta.

Hal kedua yang akan kita pelajari hari ini adalah Kristus menghibur orang yang berduka dengan justru mengarahkan perhatian kepada diri-Nya. Sekilas ini seperti hal yang aneh sekali namun kita akan telusuri bersama-sama. Kelanjutan dari peristiwa yang telah kita bahas di atas adalah Marta yang mengatakan (ay. Yoh 11:21): “Tuhan sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya”. Bagian pertama dari perkataan ini bukanlah ungkapan menyalahkan Tuhan Yesus karena tidak menolong mereka namun lebih kepada ungkapan kesedihan dan ketidak berdayaan Maria dan Marta. Lalu bagian kedua dari perkataan ini juga bukan berarti Marta percaya bahwa Tuhan Yesus akan membangkitkan Lazarus karena sampai akhir daripada cerita ini, Marta masih belum percaya bahwa Tuhan Yesus akan membangkitkan saudaranya itu. Di ayat-ayat selanjutnya jelas ditulis bahwa Marta percaya kepada kebangkitan orang mati pada akhir zaman, namun dia masih belum percaya bahwa Tuhan Yesus akan membangkitkan Lazarus pada saat itu juga.

Tuhan Yesus lalu menjawab (ay. Yoh 11:25-26) perkataan Marta itu: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya”. Perkataan Tuhan Yesus ini sangat mengagetkan khususnya kalau kita kembali melihat konteks peristiwa ini: Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya sedang datang untuk menghibur Maria dan Marta. Jawaban Tuhan Yesus bukanlah berkenaan dengan kata-kata yang menghibur ataupun membicarakan tentang kesedihan mereka namun seolah-olah berbelok dan berbicara tentang diri-Nya sendiri yang adalah kebangkitan dan hidup.

Apa arti dari perkataan Tuhan Yesus ini? Tentu pengertian pertama yang kita bisa dapat adalah Ia akan membangkitan orang mati. Setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menerima hidup kekal yang sudah dimulai dari sekarang. Walaupun orang-orang yang percaya kepada Tuhan ini dapat mati fisik, namun kematian ini hanya dilihat sebagai tidur saja. Karena itulah Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya (ay. Yoh 11:11) bahwa Lazarus tidur yang memang berarti kematian fisik. Bagi orang percaya dan terlebih lagi di dalam terang kebangkitan Kristus, kematian itu bukan akhir dan bukanlah suatu kekalahan. Kematian itu seperti tidur. Dan kalau tidur, pasti seseorang itu akan bangun dan bangun dengan kondisi yang lebih disegarkan. Seperti halnya dibangunkan dari tidur, tubuh kita juga akan dibangkitkan menjadi tubuh yang tidak dapat mati lagi.

Lalu apa arti dari Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup? Untuk mengerti bahwa Ia adalah hidup mungkin lebih mudah untuk memfokuskan kepada apa arti Tuhan Yesus yang adalah kebangkitan. Beberapa contoh di bawah ini akan membuat kita lebih mengerti akan hal ini. Kalau kita melihat gambar Colonel Sanders, ia sangat identik dengan ayam KFC sehingga ia sebenarnya dapat mengatakan bahwa dirinya adalah KFC: I am Kentucky Fried Chicken. Tentu arti sesungguhnya bukanlah kolonel itu yang digoreng untuk menjadi ayam KFC namun lebih kepada kolonel itu yang sangat identik dengan ayam KFC. Contoh yang lain adalah minuman air mineral Aqua. Sebenarnya Aqua itu bukanlah air mineral itu sendiri namun adalah merek minuman. Namun karena Aqua itu sudah begitu identik dengan air mineral, saat kita ingin membeli air minuman (merek apapun) kita seringkali mengatakan bahwa kita ingin membeli Aqua. Seperti halnya ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup, kebangkitan itu begitu identik dengan diri-Nya. Waktu kita membicarakan tentang kebangkitan, kita hanya akan melihat kepada Kristus. Kebangkitan begitu melekat pada diri Kristus dan tidak ada kebangkitan di luar diri-Nya.

Kemarin kita sudah membahas bahwa tidak ada Tuhan lain yang memakai mahkota duri, yang tangan dan kakinya berlubang, dan yang mati. Juga sekaligus tidak ada dewa atau allah mana pun yang mati dan bangkit selain Tuhan kita Yesus Kristus. Hanya orang yang dipersatukan di dalam kematian Kristus lah yang akan dibangkitkan karena Kristus sendiri sudah dibangkitkan dari kematian.

Kita kembali melihat Tuhan Yesus yang mengarahkan perhatian kepada diri-Nya saat Ia mengunjungi Maria dan Marta. Hanya Tuhan Yesus saja yang dapat melakukan hal ini. Penghiburan terbesar bagi manusia adalah ultimately saat kita boleh mengenal Dia sang kebangkitan dan hidup. Di dalam pergumulan dan kesedihan kita, kita tidak cukup diberikan penghiburan dari apapun yang ada di dalam dunia ini apalagi di dalam kematian yang pasti akan dialami setiap orang. Penghiburan saat kita mengenal Allah itulah yang paling dalam dan yang seturut dengan rencana dan tujuan Allah supaya kita mengenal dan memuliakan-Nya di dalam segala hal yang kita hadapi.

Pengenalan akan Tuhan inilah yang sedang ingin Kristus ajarkan kepada murid-murid, Maria, Marta dan juga setiap kita. Tuhan Yesuslah kebangkitan dan hidup karena Ia adalah Tuhan yang sudah mati menanggung dosa kita dan yang bangkit dari kematian-Nya. Kuasa kematian sudah dikalahkan oleh Kristus. Maukah kita mengenal Tuhan kita dengan lebih dalam lagi dan menyerahkan hidup kita seluruhnya di dalam tangan Tuhan? Hanya dengan demikianlah Tuhan akan memimpin hidup kita di dalam segala pergumulan dan kesulitan kita dengan arah yang benar menyelesaikan segala persoalan hidup kita. Hanya dengan kekuatan dan anugerah yang diberikan-Nya kita dapat terus hidup.

Ringkasan oleh Steven Abdinegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya