Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kebaktian Jumat Agung 2014

Ibadah

Kebaktian Jumat Agung 2014

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Jumat, 18 April 2014

Download audio

Tema renungan Jumat Agung kali ini diambil dari Efesus 3:16-19 “(16) Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,  (17) sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. (18) Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus (19) dan dapat mengenal kasih itu sekalipun Ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”. Kita mau merenungkan betapa dalamnya kasih Kristus. Biarlah ini menjadi doa kita seperti yang dikatakan Paulus di atas supaya Kristus diam di dalam hati kita serta berakar dan berdasar di dalam kasih.

Di dalam Efesus 4:32-5:1-2, Paulus memberikan tujuan yang praktis betapa indahnya kalau kita saling mengasihi sebagaimana Kristus telah mengampuni kita. Kalau kita mengerti betapa dalamnya kasih Kristus maka kita menjadi orang yang ramah penuh kasih dan saling mengampuni. Alkitab mengatakan ada tiga cara yang berbeda untuk menyatakan dalamnya kasih Kristus itu.

  1. Kita mengetahui betapa dalamnya kasih seseorang melalui pengorbanan yang dia lakukan.
  2. Kita mengetahui betapa dalamnya kasih seseorang melalui betapa tidak layaknya kita menerima kasih itu.
  3. Kita mengathui dalamnya kasih seseorang melalui besarnya benefit atau akibat yang kita terima.

Ketiga point ini akan kita renungkan dan harap Roh Kudus membuat kita mengakar dan kasih itu boleh bertumbuh dan berbuah, karena buah Roh Kudus yang pertama adalah kasih, baik kasih kepada orang yang percaya dan kepada mereka yang belum percaya.

Yang pertama, seberapa besarnya pengorbanan seseorang menyatakan berapa besarnya kasih orang itu. Ada seseorang tua yang menghabiskan uangnya untuk kesehatannya yang semakin menurun. Setelah uangnya habis, dia harus bergantung kepada pemerintah untuk memeliharanya. Pemerintah hanya bisa memberikan support selama 5 jam seminggu. Jika ada perawat yang datang, perawat itu mungkin merasa kasihan kepadanya dan memberikan pelayanan yang lebih dari 5 jam. Tetapi kasih perawat inipun tidak bisa dibandingkan dengan kasih seorang ibu yang merawat anaknya, berkorban begitu besar merawat anaknya bertahun-tahun.

Kita diperintahkan untuk hidup di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya untuk kita. Kalimat ini sudah sering kita dengar sehingga tidak lagi menggugah hati kita, menggerakkan kita sebagaimana seharusnya. Kita dapat melihat sebuah ilustrasi yang walaupun tidak semegah kasih Yesus. Ilustrasi ini diambil dari kisah dr Tan Lai Yong, seorang misionaris yang melayani di China. Ketika dia melihat anak-anak dari sekolah anak cacat ke taman yang penuh bunga-bunga bermekaran, dia menyuruh anak-anak itu untuk memetik suatu bunga yang merepresentasikan hidup mereka, dan menceritakan mengapa bunga itu merepresentasikan hidupnya. Kemudian ada seorang anak yang cacat - bungkuk tubuhnya - dan dia mengambil rumput dan mebawanya ke Dr Tan. Dr Tan kaget dan bertanya bagaimana rumput bisa merepresentasikan hidupnya, orang-orang datang ke taman ini bukan untuk melihat rumput tetapi untuk melihat bunga. Tetapi anak itu menjawab, “itulah hidup saya, kita orang-orang disabled seringkali tidak diperdulikan, diinjak-injak seperti rumput”. Dr Tan sedih sekali, namun gadis itu menjawab, “Tetapi oke, kamu lihat taman itu begitu banyak bunga-bunga itu. Akankah bunga-bunga itu menjadi lebih indah kalau di pinggirnya itu tidak ada rumput? Sepanjang Tuhan Yesus mengasihi kami, hidup kami juga memperindah bunga-bunga tersebut.”

Tuhan Yesus bukan hanya diperlakukan seperti rumput, tetapi Dia rela dengan aktif mengasihi kita dengan jalan menyerahkan diri-Nya. Tuhan Yesus datang ke dunia memiliki daging supaya mahkota duri bisa ditancapkan di atasnya. Dia memiliki wajah supaya bisa ditampar dan diludahi oleh serdadu-serdadu. Dia memiliki punggung yang kuat untuk dicambuk dengan cambuk Romawi. Dia mempunyai kaki dan tangan supaya bisa dipaku di atas kayu salib. Lambung yang bisa ditusuk oleh tombak. Dia datang dengan rela karena Dia mengasihi kita. Tidak ada Tuhan manapun di agama manapun yang rela dimahkotai duri, tidak ada yang tangan dan kakinya dipaku di kayu salib. Terlebih lagi Dia mengasihi kita dengan menyerahkan hidupnya untuk kita. Efesus 5:2 mengatakan Dia melakukan itu sebagai persembahan yang harum bagi Allah. Bapa di Surga melihat Anak-Nya diperlakukan demikian mati demi kita, maka Bapa di Surga melihatnya sebagai persembahan yang harum, karena Bapa mengutus Yesus untuk menebus dosa kita. Demikianlah besarnya kasih Tuhan.

Biarlah ketika kita mendengar bahwa Kristus telah mati bagi kita, kita tidak menerimanya dengan take for granted. Paulus mengatakan hiduplah di dalam Kristus sebagaimana Kristus telah mengasihi kamu. Kita harus menyadari bahwa Kristus telah mengasihi kita secara pribadi dan telah menyerahkan dirinya untuk keselamatan kita. Kalau kita mengerti tentang hal ini maka kasih Tuhan itu mengakar, masuk ke dalam hati kita, dan kita boleh hidup untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Yang kedua, kita mengetahui betapa besar kasih seseorang melalui kesadaran betapa tidak layaknya kita menerima kasih itu. Ini adalah point dari Roma 5:3-10, yang memberi kesadaran bahwa betapa tidak layaknya kita. Jika orang tua merawat anak dengan sungguh, maka sudah selayaknyalah anak itu mengasihi orangtuanya. Tetapi sebaliknya jika kita sudah berbuat suatu kesalahan yang besar kepada seseorang tetapi orang itu tetap mengasihi kita, maka itu membuat kita mengerti betapa dalamnya kasih orang itu kepada kita. Kita mendengar cerita pendeta Samuel Lie, yang istrinya tertabrak metro-mini, dan kemudian meninggal. Setelah proses penguburannya, pendeta Samuel Lie mendatangi supir metro-mini tersebut di dalam penjara. Pendeta Samuel Lie mengatakan “Saya memaafkan kamu”, bahkan bukan hanya itu, dia juga tidak akan menuntut baik secara pidana dan perdata kepada supir tersebut. Maka supir itu sangat tersentuh hatinya, dia menangis dan memeluk pendeta tersebut, dan mengatakan setelah keluar dari penjara dia akan pergi beribadah di gereja pendeta tersebut.

Roma 5:8 mengatakan  bahwa Allah menyatakan kasihnya ketika Kristus telah mati untuk kita sewaktu kita masih berdosa, ketika masih seteru dengan Allah. Selanjutnya Roma 5:6-8 menyatakan bahwa ketika kita masih berdosa, masih lemah, masih menjadi seteru Allah, Kristus telah mati bagi kita. Tuhan Yesus mengatakan (Mat 5:46) jikalau engkau mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah faedahnya, bukankah pemungut cukai melakukannya demikian, bukankah orang yang tidak mengenal Allah juga melakukan hal yang sama. Dalam Roma 5:7, Paulus juga mengatakan tidak mudah orang mau mati untuk orang benar, tetapi untuk orang yang baik (yang memberi faedah bagi saya) ada orang yang berani mati. Tetapi Paulus selanjutnya mengkontraskan, engkau bukan orang yang benar, dan juga bukan orang yang baik, tetapi Kristus mau mati bagimu, oleh karena Kristus telah mati untuk engkau ketika engkau masih berdosa, masih menjadi musuh bagi Allah. Kita sebenarnya layak untuk menerima hukuman dari Allah, tetapi Allah mengasihi kita mengirim Kristus untuk mati bagi kita.

Tuhan Yesus juga berkata (Mat 5:43-44) “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepada kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Ini tuntutan yang berat sekali. Sesungguhnya Tuhan yang terlebih dahulu mengerjakan hal itu. Kita adalah musuh Tuhan, seharusnya Tuhan menghancurkan kita, tetapi Allah mengirim Anak-Nya yang tunggal mati bagi musuh-musuhnya. Ketika Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi musuh kita, kita sadar bahwa pada saat kita adalah musuh Allah, Allah telah mengirim Yesus untuk mati bagi kita.

Bagaimana kita mengaplikasikan hal ini. Kita sering di dalam Gereja, mungkin ada orang yang tidak kita sukai, ada yang kita benci.  Kalau itu benar ada, maka saat ini bisakah kita mengingat wajah mereka, dan sekaligus juga mengingat bahwa wajah kita juga sebenarnya adalah musuh daripada Allah. Tuhan marah dan membenci kita, Dia seharusnya menghancurkan kita, tetapi Dia sebaliknya mengutus Putera-Nya yang tunggul untuk menyelamatkan kita, dan dengan kematian Kristus, Dia menperdamaikan kita. Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat dihindari, tetapi baiklah kita belajar dan ingat akan kasih Tuhan. Karena kalau kita ingat akan kasih Tuhan, perbedaan-perbedaan tersebut tidak ada artinya. Kita harus belajar saling-mengasihi termasuk kepada orang-orang yang kita tidak sukai dan benci.

Yang ketiga, Kita mengetahui besarnya kasih seseorang melalui besarnya benefit yang kita terima. Ayat 1 Yoh 3:1,9-10: “(1) Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita sebab dunia tidak mengenal Dia (9) Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berdosa lagi sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. (10) Inilah tanda anak-anak Allah dan anak-anak iblis; setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga mereka yang tidak mengasihi saudaranya.” Kalau ada orang yang membantu kita belajar untuk lulus ujian, maka kita akan senang dan berterima kasih. Tetapi kalau ada orang yang membangunkan kita dari tidur, mendobrak pintu karena kamar di sebelah sudah terbakar, maka kita bisa melihat betapa besarnya benefit yang kita terima.

Kita boleh mengerti betapa besar benefit yang sudah kita terima dari Tuhan. Tuhan sudah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita, waktu kita masih berdosa dan musuh Allah. Tetapi Allah tidak berhenti sampai di situ, Allah bukan hanya menyelamatkan kita dengan mengirim Putera-Nya yang tunggal, tetapi Dia mengambil kita menjadi anak-anak Allah. Bahkan selanjutnya 1 Yoh 3:9 mengatakan Allah juga memberikan benih ilahi di dalam hidup kita. Roh Kudus bekerja di dalam hatinya sehingga dia mendapatkan hidup yang baru. Ini adalah suatu pekerjaan Tuhan yang besar, kita menjadi anak-anak Allah, mendapatkan lahir baru, natur-yang baru bagi kita.

Roma 8:17 juga mengatakan kalau kita adalah anak maka kita juga adalah ahli waris. Kita menjadi ahli waris Allah bersama-sama dengan Kristus, ahli waris yang mewarisi seluruh ciptaan. Sehingga ketika diangkat menjadi anak, diberi lahir baru, kita juga diberikan warisan. Seperti Kristus yang dimuliakan, kita juga menjadi gambar Allah yang disempurnakan. Kristus datang sebagai the perfect image of God, yang merepresentasikan Allah dengan sempurna di seluruh hidup-Nya. Kita yang di dalam Kristus, diberi hidup yang baru, menjadi gambar Allah yang diperbaharui dari gambar Allah yang sudah rusak karena dosa. Ini adalah benefit yang sangat besar.

Kalau kita membaca bagian selanjutnya di dalam 1 Yoh 3:9 kita boleh gemetar karena dikatakan “setiap orang yang lahir dari Allah ... ia tidak dapat berbuat dosa”. Kalau kita masih berbuat dosa, apakah kita tidak lahir dari Allah? Tetapi terjemahan yang benar untuk ayat ini adalah “setiap orang yang lahir dari Allah tidak bisa berbuat dosa terus menerus”. Bukan tidak bisa berbuat dosa tetapi tidak bisa terus menerus berbuat dosa. Benih ilahi, hidup yang baru, membuat kita tidak bisa terus menerus berbuat dosa.

Bukan berarti kita tidak bisa berbuat dosa lagi, kita masih bisa berbuat dosa, kadang kadang jatuh di dalam dosa, tetapi kalau kita berbuat dosa, sebagai anak Tuhan, maka kita tidak boleh terus menerus di dalam dosa. Ketika kita berdosa, kita boleh menyadari bahwa kita tidak hanya melawan Tuhan, tetapi kita juga melawan diri sendiri, melawan natur yang baru yang sudah Tuhan berikan, melawan benih ilahi yang sudah ada di ada di dalam diri kita. Dan itulah tandanya kita anak-anak Allah, bisa melakukan apa yang benar, bisa berjuang melakukan apa yang Tuhan perintahkan, meskipun sering gagal, tetapi kita terus ingin maju dan buahnya adalah kita bisa mengasihi saudara-saudara kita.

Kita bisa melihat aplikasinya bukan hanya dengan mengasihi saudara seiman di dalam Gereja, tetapi kita juga bisa mengasihi orang-orang yang belum percaya, yang masih menjadi musuh daripada Allah. Ravi Zacharias dalam salah satu kotbahnya bercerita tentang nabi Yunus (Yunus 4). Setelah nabi Yunus menolak perintah Tuhan untuk datang ke Niniwe, dan masuk ke dalam perut ikan, akhirnya dia datang juga ke Niniwe.  Setelah selesai tugasnya di Niniwe, dia meninggalkan Niniwe dan berdiri kepanasan, Tuhan kemudian memberikan pohon jarak yang tumbuh dengan cepat, dan menaungi dia dari panas. Keesokan paginya ketika dia bangun dia kaget, pohon itu ternyata hilang dengan cepat. Yunus kemudian mengeluh kepada Allah, “Tuhan lebih baik aku mati, di mana pohon jarak itu”, dan Tuhan menegur Yunus “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya engkau sedikitpun engkau tidak berjerih payah, bagaimana tidak Aku sayang kepada seratus duapuluh ribu orang Niniwe yang akan binasa”.  Ravi mengatakan Yunus itu tidak perduli tentang isi hati Tuhan, dia tidak peduli akan kasih Tuhan terhadap orang Niniwe, dia hanya peduli kepada kenyamanan dirinya sendiri.

Kita begitu peka akan hidup kita, kalau kita lapar kita berusaha untuk mencari makanan. Kalau kenyamanan kita diganggu maka kita dengan mudah marah. Kita sering mementingkan diri sendiri dibanding untuk melihat kasih Allah untuk menyelamatkan orang. Teguran Tuhan kepada Yunus juga berlaku bagi kita. Apakah kita lebih mementingkan kenyamanan diri kita sendiri. Apakah kita peduli akan isi hati Tuhan, peduli apa yang Tuhan kehendaki bagi hidup kita, peduli apa yang Tuhan kehendaki bagi orang-orang yang belum percaya.

Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk merayakan Jumat Agung untuk mengingat cinta kasih Tuhan kepada kita, pengorbanan-Nya ketika kita masih menjadi seteru Allah, pengorbanan-Nya untuk mengadopsi kita menjadi anak-anak Allah. Biarlah cinta kasih Tuhan ini boleh mengakar ke dalam hati kita, dan iman kita boleh bertumbuh dan menghasilkan buah. Mengasihi saudara kita seiman itu pasti harus, karena itu adalah bukti yang dalam, tetapi mengasihi saudara-saudara kita yang masih belum percaya juga merupakan bukti yang kuat, karena itulah isi hati Tuhan. Tuhan ingin menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya, termasuk yang masih menjadi musuh Allah. Biarlah hal ini mendorong kita untuk mengajak lebih banyak orang untuk datang kepada Tuhan.   

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Denny Chandra


Ringkasan Khotbah lainnya