Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Sons of Encouragement

Ibadah

Sons of Encouragement

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 2 Februari 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Kis 4:36-37; 15:35-41

Hari ini saya akan mengajak kita belajar dari seorang tokoh dalam Kisah Para Rasul bernama Barnabas. Dalam Kis 4:36-37, Barnabas dideskripsikan sebagai “anak penghiburan”, dalam bahasa Inggrisnya adalah “sons of enocouragement”. Apakah encouragement itu? Lawannya tentu adalah discouragement. Kata ini susah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tepat. Encouragement dapat berarti dorongan, membesarkan hati, menghibur, memberi kekuatan. Lawannya, discouragement berarti membuat orang letih lesu, tidak bergairah, hatinya kecil. Semua orang perlu untuk di-encourage. Tapi tidak mudah untuk meng-encourage orang, kita lebih mudah untuk men-discourage, menghina, meremehkan, dsb. Kadang-kadang hal baik yang kita lakukan pun tidak meng-encourage orang. Pelayanan bisa runtuh karena orang dihina, dimarahi, dan menjadi tidak semangat lagi. Bukan berarti kita tidak boleh marah dan harus selalu meng-encourage orang. Kita tidak akan meng-encourage orang untuk terus hidup di dalam dosa. Tapi dalam bagian besar dari hidup kita, kita perlu menjadi encourager bagi orang lain, dengan mendorong, memberi semangat supaya orang boleh rajin melayani lagi.  Di mana kita bersama mendapat penghiburan dan kekuatan yang baru untuk menjalani kehidupan di tengah-tengah dunia ini. Tentu kita berpatron kepada Tuhan sendiri yang terus menerus meng-encourage kita. Kata “jangan takut” di dalam Alkitab dicatat ada 365 kali. Hari ini kita akan belajar beberapa hal dari Barnabas tentang encouragement.

Pertama, encouragement berasal dari orang yang memberikan dirinya. Dalam Kisah Rasul pasal 4 Barnabas dicatat sebagai orang yang memberikan uangnya, dan nanti kita akan lihat dia juga memberikan seluruh dirinya. Kalau kita adalah orang yang terus memikirkan diri sendiri, kita tidak akan pernah bisa menjadi seorang encourager. Orang dalam dunia ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni mereka yang suka memberi (the givers) atau selalu mengambil (the takers). Dari Barnabas kita belajar bahwa orang yang bisa meng-encourage adalah orang yang bisa memikirkan orang lain, meskipun harus bayar harga. Dia mengerti kesulitan dan pergumulan orang lain meskipun dia sendiri ada pergumulan, tapi dia mau mencoba memberikan dirinya, waktunya, uangnya, hidupnya bagi orang lain. Kita perlu belajar bersama-sama. Dengan inisiatif dari diri sendiri kita boleh memikirkan dan melakukan sesuatu bagi orang lain.

Kedua, kita akan meng-encourage orang ketika kita menerima tantangan atau kesulitan yang ada. Dalam pasal 9 diceritakan bahwa sesudah Saulus bertobat dan mulai juga memberitakan Injil, Saulus ingin bergabung dengan para murid di Yerusalem. Tapi murid lain belum dapat percaya bahwa Saulus juga adalah seorang murid. Saulus ada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, pihak kaum Farisi dan ahli Taurat juga membenci Saulus karena dulu dia menganiaya jemaat Tuhan tapi sekarang dia ikut menjadi salah satu pemberita Injilnya. Di sisi lain, ketika Saulus mau bergabung dengan para murid, mereka pun masih curiga dan belum mengenal apa betul dia sudah sungguh-sungguh bertobat. Ataukah mungkin dia hendak menjadi mata-mata yang mau menghancurkan jemaat Tuhan dari dalam. Dalam keadaan seperti inilah datang Barnabas untuk menerima Saulus dan meyakinkan murid yang lain. Sebenarnya apa yang dikerjakan Barnabas juga sangat berisiko, ketika dia membawa Saulus kepada para rasul dan menerima dia sebagai rekan, bagaimana kalau dia salah? Seluruh keKristenan bisa hancur. Tapi dia adalah orang yang mengasihi Saulus dan juga memiliki hikmat dari Tuhan. Dia percaya kepada Saulus dan kasih membuang semua ketakutan. Barnabas mau mengerti dan mendengar dan berada di sisi Saulus, mendampingi dia untuk bertemu denngan rasul lain. Ketika kita menerima challenge yang ada dan berada dalam posisi orang yang kesulitan, kita bisa menjadi orang yang meng-encourage orang lain. Dalam tahun 2014 ini juga ada banyak challenge yang akan kita hadapi. Selain pergumulan pribadi, juga ada tantangan-tantangan yang besar. Misalnya sebentar lagi kita akan kembali mengadakan Welcoming Days. Pak Tong sempat sharing di retret tentang bagaimana boleh memenangkan anak-anak muda untuk generasi penerus pekerjaan Tuhan. Secara umum, ada 3 tahap penting dalam kehidupan mereka, yakni yang pertama umur 12-13 tahun adalah masa di mana Injil diberitakan, banyak remaja mulai bertobat. Umur 14 menjadi vakum karena ini adalah masa krisis identitas, besar badan tapi pikiran masih kanak-kanak. Ketika umur 15-16, mereka kembali mulai settle dan bisa menerima diri. Ini juga waktunya Injil boleh diberitakan. Usia 17 menjadi waktu vakum lagi karena mereka mulai berpikir kritis. Sedangkan tahap terakhir adalah usia 18-19 untuk menerima Tuhan. Ketika mereka bisa mendapat jawab dari Firman Tuhan dan memperoleh teladan dari orang-orang Kristen sejati. Setelah itu, sangat sulit orang bisa dimenangkan. Dan Tuhan kirim pemuda pemudi ini ke kota kita setiap tahun. Perlu sekali kita menjangkau mereka. Ketika kita mengambil challenge itu, kita menguatkan orang lain. Ada banyak pekerjaan Tuhan yang akan kita kerjakan tahun ini. Hampir pasti September-Oktober Pak Tong akan ke Australia untuk KPIN sekaligus AREC dan inaugurasi. 3 pekerjaan besar ini memerlukan setiap dari kita, jangan sampai tidak ada yang tidak  ikut. Mari kita terima challenge itu dan bersama-sama mengerjakan pekerjaan Tuhan dan saling menguatkan!

Ciri ketiga dari orang yang bisa meng-encourage orang lain adalah orang yang dapat bersukacita melihat pekerjaan Allah di dalam diri orang lain. Hal ini dapat kita lihat dalam hidup Barnabas di dalam Kisah Para Rasul 11:19-26. Ketika Barnabas sampai di Antiokhia, dia melihat bagaimana Allah begitu beranugerah kepada jemaat di sana dan dia sangat bersukacita. Orang yang begini bisa sungguh-sungguh meng-encourage orang. Saudara, seringkali kalau kita melihat hal baik terjadi pada saudara, teman kita, kita bisa menjadi iri melihat kesuksesan dan berkat dalam hidup orang lain. Orang yang demikian tidak dapat menjadi encourager, karena berkait dengan poin pertama, dia masih berpusat pada diri. Sehingga melihat orang lain senang, dia tidak suka dalam hatinya. Barnabas bukan hanya bersuka tentang apa yg terjadi dalam jemaat Antiokhia, tapi dia juga sadar bahwa di Antiokhia ini ada orang yang bisa melayani dengan sungguh-sungguh. Ada orang yang bisa melayani lebih baik daripada dirinya. Dia senang melihat orang lain maju. Maka kemudian dia pergi ke Tarsus, sekitar 250km perjalanan. Untuk apa? Untuk menjemput Saulus sehingga dia bisa melayani juga di Antiokhia. Dan mereka akhirnya tinggal bersama-sama di situ selama setahun. Dan di Antiokhialah jemaat pertama kali disebut Kristen. Waktu ini Saulus belum bersinar, tapi Barnabas yang menarik dan mendorong Saulus untuk boleh melayani. Maka jika sebelumnya Lukas mencatat Barnabas dan Saulus, pasal 13 maka urutan dibalik menjadi Saulus dan Barnabas. Saulus menjadi pekerja yang lebih besar. Tetapi yang mendorong Saulus, mengerti Tuhan ingin memakai Saulus lebih besar dari dirinya, adalah Barnabas.

Selanjutnya dalam Kis 14:19-22, Barnabas meng-encourage Saulus dengan mau bersama-sama menderita dengan dia. Ketika orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium menghasut orang dan melempari Saulus dengan batu, Barnabas sedang tidak ada di tempat. Kemudian Saulus hampir mati. Tetapi Barnabas tidak lari dan menyelamatkan dirinya. Dia tetap ikut menyelamatkan Paulus dan kembali bersama-sama meneruskan perjalanan pelayanan. Encouragement terjadi ketika saudara mau mendengar orang lain, masuk melayani, memberikan waktumu, dirimu, uangmu, berikan segala yang ada padamu. Di tengah-tengah kita ada begitu banyak kebutuhan dan saudara bisa meng-encourage mereka, mendorong mereka, agar pekerjaan Tuhan boleh dikerjakan dalam hidup mereka.

Namun di dalam Kis 15: 35, dicatat suatu masa suram dalam kehidupan Saulus dan Barnabas. Kita hidup di dunia yang tidak sempurna. Meskipun orang bisa menjadi encourager, dia juga bisa suatu saat menjadi sumber discouragement. Maka kita belajar bahwa, encouragement is ultimately from God Himself. Ini peristiwa yang sangat sulit bagi kedua orang hamba Tuhan ini. Mereka berselisih pendapat karena Barnabas ingin membawa serta Yohanes yang disebut Markus dalam perjalanan mereka. Tapi orang ini pernah meninggalkan pekerjaan penginjilan meskipun tanpa diketahui sebabnya. Paulus sangat kecewa dan tidak mau mengikutsertakan dia lagi dalam pelayanan. Sedangkan Barnabas mau memberikan dia kesempatan. Mungkin ada juga unsur bahwa Barnabas adalah paman dari Yohanes Markus ini. Sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah dan meneruskan perjalanan sendiri-sendiri. Maka dari sini kita diajar untuk mengingat bahwa sesungguhnya encouragement is ultimately from God Himself. Kadang dengan keterbatasan kita, meskipun tidak bermaksud demikian, tapi apa yang kita kerjakan bisa menjadi discouragement bagi orang lain. Orang lain juga bisa menjadi sumber discouragement pada kita. Encouragement yang sejati, sumber yang kekal yang tidak pernah berubah yang terus mendorong kita, hanya dari Tuhan. Mari kita datang kepada-Nya.

Akhir kata, bagaimana kita bisa menjadi encouragers yg lebih baik? Mari kita belajar dari Barnabas dan apa yang dia kerjakan dalam hidupnya. Tahun ini biarlah kita boleh menjadi orang yang meng-encourage dan membangun orang lain. Kiranya kita boleh menjadi alat Tuhan.

Ringkasan oleh Sally Danayani | Diperiksa oleh Linda Hartana


Ringkasan Khotbah lainnya