Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Apakah engkau mengasihi Aku?

Ibadah

Apakah engkau mengasihi Aku?

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 22 September 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 21:15-19

Bacaan Alkitab kali ini adalah salah satu favorit saya, saya sudah mengkotbahkan bagian ini beberapa kali. Sewaktu saya merenungkan lagi bagian ini, ada begitu banyak insight-insight yang baru, setiap firman Tuhan bisa dilihat dalam berbagai aspek yang berbeda-beda. Kita bisa melihat kekayaan bagian ini meskipun saudara sudah berkali-kali membaca bagian ini.

Tuhan menyatakan panggilan-Nya kepada murid-murid-Nya, dan juga menegaskan akan pemeliharaan dan kasih-Nya. Dalam konteks bacaan kali ini, secara khusus Yesus berbicara kepada Petrus -- yang menjadi wakil dari murid-murid-Nya -- untuk memurnikan dan mengutus Petrus menjadi gembala domba-domba milik Kristus. Dari pengutusan ini, Petrus dan murid-murid yang lain, yang begitu sederhana, menjadi pemimpin Gereja mula-mula. Mereka pergi ke segala tempat, menjadi beberapa ratus, tiga ribu, lima ribu, pergi ke seluruh dunia, menjadi jutaan, milyaran sepanjang sejarah. Ini menggenapi apa yang Tuhan perintahkan, menjadi Gereja yang besar yang berpengaruh sepanjang sejarah di segala tempat dan waktu, dan banyak orang kembali kepada Tuhan. Inilah yang Tuhan Yesus sudah kerjakan kepada Petrus dan murid-murid-Nya.

Tetapi apa kaitan pengutusan Yesus kepada Petrus itu kepada kita? Sebenarnya ada banyak hal yang berkaitan. Kita bisa menyadari bahwa para rasul, adalah orang-orang biasa seperti kita. Seperti kita, mereka juga orang-orang yang kehilangan arah, mereka juga harus berjuang untuk mendapatkan makan, orang-orang yang gagal, mereka sedih dan lapar, mereka juga orang-orang yang berdosa, yang menyangkali Tuhan.

Namun kita melihat bahwa Kristus mengasihi mereka, Kristus menjaga mereka, memelihara, dan memulihkan mereka dari segala kegagalan dan dosa mereka. Kristus mengarahkan hidup mereka kembali sehingga satu per satu orang-orang yang biasa ini, yang gagal, yang berdosa, kembali kepada panggilan Tuhan. Satu per satu mengalami hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan.

Seperti Pendeta Stephen Tong yang sudah melayani Tuhan selama 60 tahun lebih. Tuhan sudah memakai hidupnya secara sungguh-sungguh untuk memuliakan Tuhan. Hidup yang penuh dengan tantangan, penuh dengan suka cita, penyertaan Tuhan, yang begitu ajaib.

Kita juga boleh meniru hidup pak Tong yang mengatakan "use my life", pakailah hidupku sesuai apa yang Tuhan kehendaki.  

Para rasul adalah orang-orang yang begitu sederhana, pendeta Stephen Tong juga orang biasa, orang yang memiliki kelemahan seperti kita juga. Mereka sudah gagal, sudah menyangkali hidup mereka. Namun mereka kembali kepada Tuhan, menyerahkan hidup mereka, dan Tuhan pakai mereka satu per satu untuk memuliakan Tuhan. Mereka mengalami hidup yang sungguh-sungguh hidup, yang berkelimpahan yang Tuhan sediakan sebagai anak-anak-Nya.

Kita bisa melihat ada tiga bagian di mana Tuhan membangun hal itu di dalam percakapan-Nya dengan Petrus.

  1. Pertanyaan Tuhan Yesus

Yoh 21:15 “Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Ini adalah pertanyaan yang bisa ditafsirkan dua macam. Kata “lebih daripada mereka ini” di sini bisa diartikan sebagai “more than these” atau “more than them”. Kata “these” di sini bisa diartikan sebagai danau, perahu, ikan dlsb. Sehingga kalimat ini boleh diartikan sebagai apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada pekerjaanmu ini, hidupmu yang dahulu sebagai penjala ikan. Ini berbicara tentang panggilan hidup, apa yang akan engkau lakukan untuk sisa hidupmu? Apakah engkau, Petrus, mau kembali kepada hidupmu yang dahulu? Apakah engkau mau mentaati panggilan-Ku, bukan sebagai penjala ikan, tetapi menjadi penjala manusia?

Kalimat ini boleh juga diterjemahkan, seperti dalam terjemahan LAI, sebagai apakah engkau mengasihi aku lebih daripada mereka mengasihi Aku. Selintas pertanyaan ini aneh, seolah-olah membandingkan kasih Petrus kepada Yesus, dengan kasih murid-murid yang lain kepada Yesus. Tetapi kalau kita melihat konteks sebelumnya, sebelum Yesus ditangkap, Yesus mengatakan bahwa mereka semua akan lari meninggalkan Dia, dan Petrus kemudian menjawab, kalau mereka meninggalkan Engkau sekali-kali aku tidak akan meninggalkan Engkau, bahkan aku rela mati bagi-Mu (lihat Mat 26:33-35). Seolah-olah Petrus saat itu berkata, aku mengasihi Engkau jauh daripada mereka mengasihi Engkau. Setelah Petrus menyangkali Yesus tiga kali, di dalam terang apa yang sudah terjadi, Yesus bertanya apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka mengasihi Aku. Ini adalah pertanyaan yang penting bagi Petrus.

Mungkin pertanyaan ini terlihat kejam, karena Yesus menanyakan hal ini di hadapan murid-murid yang lain. Apalagi Yesus menanyakan hal yang sama tiga kali.

Ada yang menafsirkan kata kasih yang digunakan juga berbeda-beda. Yohanes memang sering menggunakan variasi kata.

Dalam Yoh 21:15,16,17 terjemahan Alkitab Indonesia menggunakan kata “gembalakanlah domba-domba-Ku” tiga kali. Namun terjemahan Inggris menggunakan kata yang tidak sama:

Yoh 21:15 “feed My lamb” (beri makan domba-domba-Ku);

Yoh 21:16 “take care of My sheep” (pelihara domba-domba-Ku);

Yoh 21:17 “feed My sheep” (beri makan domba-domba-Ku).

Ketika Yesus menanyakan hal itu tiga kali, sedihlah hati Petrus, dan itu membongkar hati Petrus sampai sedalam-dalamnya.

Kalau kita membaca bagian ini secara keseluruhan, pertanyaan ini bukanlah kejam, bukan untuk membongkar luka-lama Petrus, namun sebenarnya untuk memulihkan Petrus. Hampir semua penafsir mengatakan bahwa tiga kali pertanyaan Kristus itu paralel dengan tiga kali Petrus menyangkali Tuhan (lihat Mat 26:69-74), “Aku tidak kenal orang itu”, “aku tidak kenal orang itu”, “aku bersumpah tidak mengenali orang itu.”

Tuhan Yesus tiga kali bertanya apakah engkau mengasihi Aku, dan Petrus menjawab ketiganya, mengkonfirmasi ya Tuhan bahwa Engkau tahu aku mengasihi Engkau, dan tiga kali Tuhan Yesus memerintahkan gembalakanlah domba-domba-Ku (commission).

Ini adalah pemulihan Petrus, tiga kali Petrus menyangkal, tiga kali Petrus mengkonfirmasi, dan tiga kali Yesus mengutus Petrus menjadi pemimpin daripada murid-murid-Nya. Inilah pemulihan Petrus yang sempurna dan selesai, Tuhan Yesus membongkar hati Petrus.

Pertanyaan Maha Penting

Tuhan Yesus sedang menanyakan pertanyaan yang maha penting bagi seluruh hidup dan panggilan Petrus, dan juga kita. Pertanyaan ini ditanyakan tiga kali karena pertanyaan ini adalah maha penting, menjadi kualifikasi yang paling dasar dan sentral dalam mengikuti dan melayani Kristus.

Leon Morris mengatakan “other qualities are desirable, but love is completely indispensable”. Kualitas-kualitas yang lain itu baik dan diperlukan tetapi kasih tidak boleh tidak ada dalam mengikuti Kristus.

Dalam 1 Kor 13:1-3, Paulus sebelum berbicara apa itu kasih, Paulus mengatakan tentang indispensability of love, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang bergemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan sesuatu yang ada padauk, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”

Bahkan Ultimate sacrifice, menyerahkan tubuhmu untuk dibakar, tetapi jika bukan dengan motivasi kasih, maka tidak ada faedahnya, seperti gong yang berkumandang, kosong.

Pertanyaan ini sangat penting, ditanyakan kepada Petrus dan kepada kita juga: “Apakah engkau mengasihi Aku.”

Seluruh pelayanan Petrus didasarkan pada kasih ini. Tanpa kasih, semua yang dia kerjakan, bahkan sejarah mencatat dia disalib dengan terbalik, tidak ada artinya. Betapa penting dan sentralnya kasih itu.

2.  Jawaban dan Pemulihan Petrus

Cara Tuhan merestorasi Petrus juga bersifat publik. Sebagai salah satu pemimpin Gereja yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk menggembalakan domba-domba-Ku, tiga kali Petrus menjawab benar Tuhan aku mengasihi Engkau, maka tiga kali Yesus mengatakan "gembalakanlah domba-domba-Ku".

Ini adalah public restoration, Yesus mengatakan hal itu di hadapan murid-murid yang lain. Ini adalah kasih Tuhan yang begitu besar yang Tuhan nyatakan kepada Petrus.

Pertanyaan kedua dan pertanyaan ketiga itu tidak ada pembandingnya. Dalam pertanyaan pertama (Yoh 21:15) “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Pertanyaan kedua dan ketiga (Yoh 21:16 dan 17), pembandingnya itu hilang: “Simon anak Yohanes apakah engkau mengasihi Aku.” Ini menekankan bahwa Yesus ingin menyatakan apakah engkau mengasihi Aku sebagaimana Aku adanya? Tidak ada pembandingnya, hanya You and Me, I and Thou.

Apakah engkau mengasihi Aku, bukan seperti yang engkau inginkan, bukan sesuai dengan imajinasimu. Apakah engkau mengasihi Aku sebagaimana Aku adanya, Mesias yang disalibkan.

Petrus sebelumnya mengakui (lihat Mat 16:16-22) “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Tuhan Yesus mengatakan benar, jawaban itu bukan dari manusia tetapi Allah yang menyatakan itu kepadamu, namun Mesias itu akan ditangkap, menderita, mati dan bangkit pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus dan berkata “sekali-kali itu tidak akan terjadi pada-Mu.” Bahkan pikiran seperti itu jangan ada padamu, bagaimana mungkin, seorang Mesias itu akan disalibkan? Bagi orang Yahudi itu adalah kontradiksi, mesias itu raja, berkuasa dan berdaulat, menang; bagaimana mungkin mesias itu disalibkan, lemah, dan kalah. Mereka menganggap salib itu adalah kutukan Allah.

Yesus menyatakan betul Aku Mesias tetapi bukan Mesias seperti yang engkau pikirkan. Aku datang kedalam dunia, Mesias Anak Allah yang hidup itu, bukan untuk mengalahkan musuh yang kelihatan, bukan untuk mengalahkan Roma atau pemimpin-pemimpin agama Yahudi, tetapi untuk mengalahkan kuasa yang jauh lebih besar daripada segala kuasa itu. Kuasa yang mencengkram hati manusia, yaitu kuasa dosa dan kuasa kematian. Aku datang untuk mati di atas kayu salib, dan dengan kematian-Ku, Aku mematikan seluruh kuasa dosa, mematikan kuasa kematian itu, the death of death in the death of Christ.

Inilah yang Kristus katakan, sekarang engkau ikutlah Aku, apakah engkau mengasihi Aku sesuai dengan apa diri-Ku, bukan sesuai dengan apa yang engkau pikirkan.

Kadang-kadang kita mengikuti Kristus dengan terms and conditions. Kita mengikuti Kristus kalau Kristus mengerjakan sesuatu bagi kita, kita akan mengikut Kristus kalau Engkau memberikan kesuksesan, menyembuhkan anakku, mendapatkan apa yang kita inginkan dlsb.

Alkitab mengatakan bahwa kita mengikut Tuhan tidak dengan cara seperti demikian. Kita mengikut Tuhan dengan tanda-tangan tanpa persyaratan apa pun. Tuhan, aku mengikuti Engkau kemana saja Engkau arahkan, aku mengikut Engkau apa pun kehendak-Mu bagiku, dan Tuhan pemimpinku. Marilah kita mengikut Tuhan seperti demikian.

Tuhan bertanya kepada Petrus apakah engkau mengasihi Aku, sebagaimana Aku adanya. Ini juga adalah pertanyaan yang Tuhan tanyakan kepada kita: apakah kita mengasihi Kristus sebagaimana Dia adanya. Kristus yang berkuasa, yang mempunyai rencana yang kadang-kadang kita tidak mengerti, tetapi kita mengasihi Dia sebagaimana Dia adanya.

Pertanyaan Kristus sangat menusuk hati Petrus, Tuhan Yesus sengaja melakukan itu untuk membongkar hati Petrus yang paling dalam, membangun hidup dia mulai dari hati yang paling dalam itu, hati yang mengasihi Tuhan. Petrus tiga kali menjawab bahwa “benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”;

Petrus tidak menjawab “benar Tuhan saya tahu hatiku sendiri, bahwa saya mengasihi Engkau”. Sebelumnya Petrus memang pernah menyatakan hal yang seperti itu (lihat Mat 26:33-35), orang lain meninggalkan Engkau, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan Engkau, bahkan aku rela mati bagi-Mu. Namun sekarang Petrus tahu bahwa dia sendiri tidak mengetahui hatinya.

Tuhan Yesus mengatakan engkau mau menyerahkan nyawamu bagi-Ku? Tidak, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau akan menyangkal Aku tiga kali. Petrus menjawab tidak Tuhan, aku sama sekali tidak akan menyangkali Engkau, bahkan aku rela mati bagi-Mu. Namun Tuhan Yesus menyatakan “engkau rela mati bagi-Ku, tidak, engkau mau menyerahkan nyawamu bagi-Ku, tidak, Aku yang akan menyerahkan nyawa-Ku bagimu.” Inilah yang Yesus mau ajarkan kepada Petrus.

Petrus sadar Tuhan tahu segala sesuatu, dan itulah yang terjadi di dalam sejarah hidupnya, dan Kristus yang telah mengasihi Dia.

Petrus menjawab Tuhan engkau tahu, aku sendiri tidak begitu mengetahui tentang hatiku. Engkau yang dapat melihat sedalam hatiku, bahwa aku mengasihi Engkau. Ini adalah kesadaran bahwa Tuhan terlebih dahulu mengasihi dia.

Tuhan yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita, terlebih dahulu mati bagi kita, yang membuat Petrus memiliki kualifikasi untuk mengikuti, melayani dan mengasihi Tuhan. Karena tidak mungkin kita bisa mengasihi Tuhan kalau kita tidak pernah betul-betul mengerti bahwa Dia sudah terlebih dahulu mengasihi kita.

Alkitab mengatakan kita sebenarnya tidak tahu kasih itu apa sebenarnya, sampai Tuhan Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

1 Yoh 3:16 menyatakan “Demikianlah kita tahu kasih itu apa”, yaitu ketika Yesus Kristus mati bagi kita, menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, untuk menebus dosa kita – itulah kasih.

Seorang penulis mengatakan kita hidup di dalam jaman yang begitu meremehkan kasih. Kita mengerti tentang kasih dari film-film Hollywood, media sosial dlsb, yang menggambarkan adegan seks yang panas dari pasangan yang bukan suami istri. Mereka mengatakan bahwa itulah kasih. Tetapi Alkitab mengatakan Kristus yang mati di atas kayu salib, dengan kaki dan tangan yang terpaku, itulah kasih.

Kita tidak mengerti sungguh-sungguh apa itu kasih, sampai kita mengerti bagaimana Kristus mati bagi kita. Kesadaran akan dalamnya kasih Tuhan itu juga sebanding dengan kesadaran dalamnya kita sudah jatuh di dalam dosa. Kita tidak mengerti betapa dalamnya kasih Tuhan bagi kita, sampai kita mengerti betapa dalamnya kita sudah jatuh dalam dosa.

Pertanyaan ketiga khususnya menyatakan hal ini.

Tuhan Yesus bertanya untuk ketiga kalinya (Yoh 21:17) “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya”, dan Petrus menjawab “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu,” Petrus mau menyatakan ‘‘Engkau tahu aku berkata dengan gagahnya, dengan beraninya, dengan sombongnya bahwa walaupun orang-orang lain, aku sama sekali tidak akan meninggalkan Engkau. Engkau tahu bahwa aku sudah berkata aku bahkan rela mati bagi-Mu, Engkau tahu juga bahwa aku akhirnya menyangkali Engkau tiga kali. Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, namun Engkau juga tahu bahwa hatiku sungguh-sungguh hancur’’.

 Alkitab menyatakan Petrus setelah menyangkal tiga kali dan ayam berkokok, maka Petrus pergi dengan hati yang tersayat-sayat, dengan sedih (lihat Mat 26:75). Petrus menjawab (lihat Yoh 21:17) “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu juga bahwa aku sudah sungguh-sungguh bertobat, dan Engkau yang dapat melihat hatiku yang sedalam-dalamnya.”

Sekali lagi Petrus tidak “appeal” kepada dirinya sendiri, namun kepada Tuhan. Lihatlah hatiku sedalam-dalamnya, dan Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau, meskipun aku sudah menyangkali Engkau dan sudah berdosa.

Tuhan Yesus juga bertanya kepada kita, Tuhan Yesus tahu segala sesuatu, tahu perkataan kita, keluarga kita, apa yang kita kerjakan. Tuhan Yesus mengetahui bagaimana kita menggunakan waktu kita, bagaimana kita memakai uang kita. Tuhan mengetahui di dalam hati kita yang paling dalam, apa yang paling penting di dalam diri kita. Tuhan mengetahui hal apa yang membuat kita marah, yang mengganggu kita, yang menggelisahkan kita. Tuhan mengetahui hal apa yang kita tidak akan kompromi, mengetahui seluruh hati dan perbuatan kita.

Apakah kita bisa menjawab Tuhan seperti Petrus menjawab Tuhan?

Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, meskipun aku gagal, meskipun aku pernah melawan Engkau, sering malas, menghambur-hamburkan waktu; tetapi kalau Engkau melihat ke dalam hatiku, apakah kita bisa berkata kepada Tuhan: Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau?.

Tuhan tidak bertanya kepada Petrus dan kepada kita, apakah kita sudah mengerti doktrin Allah dengan baik, apakah kita sudah mengerti doktrin predestinasi, apakah engkau telah mentaati Aku sepenuhnya.

Tuhan tidak bertanya kepada Petrus apakah hidupmu tidak pernah egois, self centered, apakah engkau selalu menjaga kesucianmu, apakah engkau mementingkan dirimu lebih daripada Aku.

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang tidak penting, tetapi Tuhan Yesus di sini menanyakan pertanyaan yang terpenting di dalam relasi kita dengan Tuhan.

Kalau kita bisa berkata Tuhan, aku tahu aku mengasihi Engkau, meskipun aku mempunyai banyak kegagalan, maka kita akan selalu berbalik kepada Tuhan, meninggalkan dosa kita. Kita ingin datang, bersekutu dengan Dia, membaca firman dan berdoa. Kalau kita mengasihi Tuhan maka hal ini pasti terjadi.

Kalau hal ini tidak terjadi, maka ada tanda tanya besar, apakah kita mengasihi Tuhan? Kalau kita mengasihi Tuhan, maka kita pasti akan ingin bersekutu, mengenal Dia, menghabiskan waktu bersama dengan-Nya. Kalau kita mengasihi Tuhan, maka kita akan berjuang mentaati perintah-Nya, kehendak-Nya. Kita pasti akan berjuang menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus, kemana pun Dia pimpin.

Bukan berarti kita akan sempurna, namun sewaktu gagal, kita akan menyesali, karena hati kita yang paling dalam mengetahui bahwa kita mengasihi Tuhan.

 3. Gembalakanlah Domba-Domba-Ku

Tuhan Yesus juga mengatakan kepada Petrus tiga kali (Yoh 21:15,16,17) “gembalakanlah domba-domba-Ku.” Ini adalah perintah yang Tuhan berikan setelah pengakuan Petrus “benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Artinya juga di sini kasih tidak bersifat sentimental, tetapi kasih yang nyata adalah dalam seluruh perbuatan kita. Khususnya bagi Petrus disini adalah menggembalakan domba-domba milik Kristus.

Kristus adalah the great Shepherd, pemilik dari pada domba-domba itu, tetapi Aku percayakan kepadamu, pekerjaan yang sangat penting ini. Biarlah engkau mengasihi orang-orang yang Aku kasihi, orang-orang yang Aku sudah mati bagi mereka. Sekarang jagalah orang-orang itu, peliharalah mereka, beritakan Injil kepada domba-domba milik-Ku di luar sana, yang Aku rela mati bagi mereka. Mereka yang belum percaya, mendengar Injil dan akan kembali. Tetapi hal itu terjadi melalui kamu.

Kita melihat bahwa Petrus dan para rasul lainnya mentaati perintah-Nya, satu per satu dari mereka pergi.

Yesus mengatakan (lihat Yoh 21:18-19) bahwa Petrus akan mati, dia akan mengulurkan tangannya, dan orang akan mengikat tangannya, membawa dia ke tempat yang dia tidak kehendaki. Tuhan mengatakan ini untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sejarah menyatakan bahwa sewaktu Petrus dijatuhi hukuman salib, Petrus mengatakan ‘jangan aku tidak layak mati seperti Tuhan dan Juruselamatku, biarlah aku disalib dengan kepala terbalik’, dan Petrus mati dengan cara demikian.

Namun bukan berarti Petrus sempurna, karena kalau kita membaca Kisah para rasul, kita mengetahui bahwa Petrus masih gagal, dan berdosa, belum sempurna. Tetapi Petrus terus mengikut Tuhan, gembala yang agung itu, gembala yang memiliki dan mengasihi domba-domba-Nya, yang menyerahkan domba-domba-Nya kepada Petrus.

Ini menjadi refleksi bagi kita sekalian: "apakah kita mengasihi Tuhan?"

Biarlah kita taat kepada Tuhan, mengikut Tuhan, meskipun tidak sempurna, karena pasti kita akan berdosa lagi, mengalami kegagalan. Namun biarlah kita tetap kembali kepada Tuhan dan berkata Tuhan, Engkau tahu segala isi hatiku, Engkau melihat sedalam-dalam hatiku, Engkau tahu meskipun aku sering gagal, sering tidak taat, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Tuhan’.

Kalau kita sungguh sungguh mengasihi Tuhan, maka kita akan bertobat, meninggalkan dosa, mentaati Tuhan, bersekutu dengan Dia.

Mengasihi domba-domba milik Tuhan yang Tuhan percayakan kepada kita. Saudara-saudara seiman, tubuh Kristus yang dipersatukan dengan satu tubuh yang saling mengasihi dan saling membangun satu dengan yang lainnya.

Biarlah kita bisa berkata kepada Tuhan, Tuhan Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya