Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Jadilah Penjala-Penjala Manusia

Ibadah

Jadilah Penjala-Penjala Manusia

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 1 September 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 21:1-14

Bagian Yoh 21:1-14 ini seperti suatu tambahan dalam Injil Yohanes. Sebelumnya Yoh 20:30-31 ‘seperti’ suatu penutup “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Tetapi kalau sudah ditutup mengapa dilanjutkan lagi?

Banyak tulisan mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa puncak dari Injil Yohanes adalah Yoh 20:28 di mana Tomas menjawab “Ya Tuhanku dan Allahku!” yang menyatakan siapakah Yesus Kristus itu.

Kita memang tidak tahu apa yang terjadi sehingga ada Yoh 21, tetapi kalau Yoh 21 adalah tambahan , maka pasti Yohanes sendiri yang menambahkannya.

Sebenarnya Yoh 20:30-31 itu agak mirip dengan 1 Yoh 5:13,penulis yang sama menuliskan “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal”, namun itu terus berlanjut sampai 1 Yoh 5:21. Jadi 1 Yoh 5:13 itu belum selesai. Mungkin Yohanes berpikir sepertinya sudah selesai, tetapi dia harus tambahkan sesuatu lagi. Karena kalau kita melihat manuskrip-manuskrip Alkitab yang ada termasuk yang paling tua, khususnya kitab Yohanes, maka tidak pernah ada manuskrip yang tidak memiliki Yoh 21. Jadi kalau pun Yoh 21 itu ditambahkan maka Yohanes sendiri yang menambahkan.

 

Namun bagi kita yang paling penting adalah apa yang ingin disampaikan Yohanes dalam bagian akhir Yoh 21 ini.

Bagian ini sebenarnya memiliki paralel dengan Mat 28:18-20 ayat yang terakhir dari Injil Matius, yang merupakan the Great Commission, Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Jadi pengakuan Tomas dalam Yoh 20:28 sepertinya sudah menjadi puncak pengakuan murid-Nya, namun Yohanes mungkin berpikir bahwa ada yang masih bisa ditambahkan yaitu misi, bagaimana Kristus mengutus murid-murid-Nya menjadi saksi di tengah-tengah dunia ini.

Yoh 21 ingin mengatakan hal itu kepada kita.

 

Dalam bagian pertama Yoh 21, yaitu Yoh 21:1-14, tugas pengutusan itu dinyatakan dengan satu peristiwa, dan selanjutnya Yoh 21:15-25 Tuhan Yesus menyatakan secara eksplisit, mengutus Petrus menjadi saksi-Nya di tengah-tengah dunia ini; melanjutkan keselamatan yang Yesus sudah kerjakan di atas kayu salib, kematian dan kebangkitan-Nya, memberitakan hal itu ke seluruh dunia, menjadikan seluruh bangsa murid-Ku. Yohanes menegaskan hal ini dengan cara yang berbeda dengan Matius.

 

Yoh 21:1-14 dimulai dengan konteks yang menarik: Yoh 21:1 “Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias“ Mengapa danau Tiberias? Danau Tiberias juga disebut danau Genasaret, atau juga disebut sebagai danau Galilea, ketiga nama ini menunjuk kepada danau yang sama, namun mungkin pada bagian danau yang berbeda-beda. Tempat ini adalah tempat yang penting, karena di situlah Kristus banyak melakukan mukjijat. Di tempat itu Yesus berjalan di atas air di danau Galilea (lihat Yoh 6:16-21), di tempat itu Yesus menenangkan badai saat dia dan murid-muridnya berada di dalam perahu di tengah badai (Mat 8:23-27). Di tempat itu Kristus menyuruh Petrus menangkap ikan dan membuka mulut ikan dan mengambil koin untuk diberikan sebagai pajak kepada bait Allah (lihat Mat 17:24-27). Di tempat itu pula, Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki dengan lima roti dan dua ikan (lihat Yoh 6:1-15).

 

Namun dalam konteks kali ini, yang paling penting adalah bahwa di tempat inilah Kristus memanggil murid-murid-Nya yang pertama Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Mereka dulunya adalah nelayan-nelayan, saat mereka sedang membersihkan jala, Yesus datang dan mengatakan “ikutlah Aku, kamu akan Ku-jadikan penjala manusia.” Mereka meninggalkan jala mereka, meninggalkan perahu mereka dan mengikut Kristus.

 

Sangat mungkin Kristus memilih tempat ini, untuk mengingatkan para murid-Nya akan segala pekerjaan yang Dia lakukan, akan kuasa yang sudah Dia nyatakan kepada murid-murid-Nya, akan kasih-Nya kepada mereka. Terutama untuk mengingatkan mereka akan panggilan mereka; mereka telah meninggalkan jala dan perahu mereka, serta mengikut Kristus. Jadi tempat ini adalah tempat yang memberikan memori yang indah akan pekerjaan Tuhan, dan panggilan Tuhan di dalam hidup mereka. Saudara mungkin juga akan mengingat gedung gereja di tempat pertama kali Tuhan memanggil saudara, Tuhan membentuk hidup saudara, bertemu dengan istri/suami, di sinilah Tuhan berkata-kata dan saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan.

 

Tempat ini mengindikasikan, sesuatu yang wonderful akan terjadi lagi. Khususnya di dalam konteks murid-murid-Nya yang mulai kehilangan arah. Kita melihat Simon Petrus berkata kepada mereka, tujuh orang murid, aku pergi menangkap ikan (Yoh 21:3) “Aku pergi menangkap ikan”, dan mereka menjawabnya dengan “kami pergi juga dengan engkau.” Tentu tidak ada salahnya menangkap ikan, tetapi menjadi salah di dalam konteks mereka, karena mereka mengerjakan itu sebagai pelarian dari panggilan Kristus yang sesungguhnya.

Sebelumnya Kristus sudah menampakkan diri kepada mereka, namun mengapa mereka masih menjala ikan?

Kita melihat murid-murid kembali kepada kehidupan mereka dahulu. Mereka sudah meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikut Kristus selama 3 setengah tahun, mereka sudah melihat karya Kristus, mendengar kotbah Kristus.

Kristus membentuk dan mengutus mereka, tetapi setelah Kristus mati dan bangkit, mereka kehilangan arah, dan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Mereka kembali kepada kehidupan mereka yang dahulu, menjadi penjala ikan. Padahal di tempat itulah dulu Kristus memanggil mereka (lihat Mat 4:19) “kamu tidak lagi menjadi penjala ikan, tetapi Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.” Kamu tidak lagi menjadi fisherman tetapi menjadi fisher of man. Dan sekarang mereka adalah orang-orang yang kehilangan arah, kehilangan visi, kehilangan panggilan Tuhan dan kembali kepada kehidupan yang lama.

 

Namun Alkitab mengatakan kalimat yang indah (Yoh 21:3b) “tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.”

Kalau kita melihat perspektif dari panggilan, dan kedaulatan Tuhan, maka ini adalah sesuatu yang indah.

Nelayan biasanya pergi menangkap ikan malam-malam, dan pulang diwaktu pagi, sehingga bisa fresh di jual di pasar. Tetapi malam itu mereka berjuang semalaman, dan tidak mendapat satu ekor ikan pun.

Puji Tuhan, karena seringkali kegagalan itu menjadi konteks di mana Tuhan bekerja di dalam hidup kita.

Mata kita, hati kita mulai terbuka, Tuhan sedang berkata-kata kepada kita di dalam segala kesulitan dan pergumulan kita. Kita tahu persis mereka tidak mendapat ikan karena Tuhan bekerja di situ. Mereka adalah nelayan-nelayan yang berpengalaman, namun dengan segala keahlian mereka, mereka tidak mendapat ikan sama sekali. Kita harus mengatakan hal ini dengan Puji Tuhan, karena itu menjadi konteks Tuhan berkata-kata kepada mereka, mengingatkan mereka akan panggilan Tuhan di dalam hidup mereka.

 

Yang paling bahaya adalah ketika kita tidak taat kepada Tuhan dan kita “berhasil”. Ketika kita melakukan apa yang Tuhan larang, dan kita berhasil, itu adalah keadaan yang sangat berbahaya. Kita melihat Izebel, seorang yang sangat jahat melawan Tuhan, tetapi dia “berhasil” mengancam Elia, seorang nabi yang besar (lihat 1 Raja-Raja 19). Elia setelah membunuh 450 nabi baal, namun dia lari ketakutan setelah mendengar ancaman Izebel. Izebel sangat jahat tetapi dia berhasil mengancam Elia. Kalau kita mempunyai anak-anak yang malas tetapi selalu lulus dan hasilnya baik, itu adalah sesuatu yang berbahaya sekali. Ketika seorang yang melawan Tuhan, hidupnya berhasil, ini adalah keadaan yang sangat berbahaya, karena sulit sekali orang itu bertobat.

Sebaliknya kita melihat Yunus (lihat Yunus 1) yang melawan Tuhan, lari dari panggilan Tuhan, dia mengalami badai dalam perjalanannya, dan hampir mati. Yunus harus dilempar dari kapal itu, supaya kapal itu selamat.

Kalau kita di dalam kesulitan saat kita sedang tidak taat kepada Tuhan, itu adalah pekerjaan Tuhan di dalam kehidupan kita.

 

Yoh 21:5 Yesus berkata kepada mereka “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Pertanyaan ini sepertinya mengharuskan jawaban “tidak”. Di sini Kristus mau menegaskan (lihat Yoh 15:5) apart from Me you can’t do nothing - di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Jikalau kita tidak melakukan apa yang Tuhan kehendaki, atau melakukan apa yang Tuhan kehendaki dengan cara kita, maka kita sebagai murid-murid-Nya akan gagal, gagal di dalam arti yang sesungguhnya. 

Jikalau ada di antara kita yang sedang mengalami kegagalan, biarlah kita tidak menjadi kecewa dan marah, tetapi ini menjadi konteks di mana Tuhan membuka hati kita selebar-lebarnya. Biarlah kita seperti murid-murid ini yang akhirnya datang mendengarkan perkataan Tuhan Yesus. Inilah yang Tuhan inginkan di dalam kesulitan dan pergumulan.

 

Murid-murid mendengar perkataan Kristus selanjutnya (Yoh 21:6) “Tebarkan jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh“. Kita tidak tahu mengapa murid-murid itu mengikuti perkataan Yesus itu, padahal mereka sudah sangat lelah bekerja sepanjang malam. Perahu itu sudah dekat pantai (kira-kira 90 meter), mungkin suara yang bersahabat dari seorang yang di pinggir pantai mendorong mereka menebarkan jala. Mungkin juga ada otoritas, karena peristiwa ini mirip ketika Yesus mengatakan tebar jalamu dalam Lukas 5:4-6. Kita tidak tahu apa yang mendorong mereka, tetapi yang pasti ketika mereka melakukan apa yang Kristus perintahkan, maka mereka tidak dapat menarik jala itu karena banyaknya ikan.

 

Ayat ini sering digunakan oleh Prosperity Gospel: Ketika jalamu tidak ada ikannya, taatlah kepada Tuhan. Namun ajaran Prosperity Gospel ini memberikan suatu yang sangat superfisial tentang Injil dan sangat berbahaya. Mengikut Tuhan karena ingin berkat-Nya, karena ingin sehat, ingin kaya , adalah sangat berbahaya. Mengapa demikian? Karena orang itu ultimately akan meninggalkan Tuhan, karena ada waktu-waktunya, mereka tidak dapat ikan, akan dibiarkan Tuhan sakit, mengalami kesulitan dan penderitaan. Kalau fokus kita adalah untuk kekayaan, kesehatan, maka ayat-ayat ini menjadi sangat berbahaya. Banyak orang-orang yang datang kepada Prosperity Gospel, wealth and health theology, mereka akhirnya meninggalkan Tuhan. Kalau yang mereka inginkan adalah kesehatan, kesuksesan dlsb. mereka akhirnya pasti akan kecewa.

Kalau kesehatan, karir, anak adalah Tuhan kita, maka ultimately kalau Tuhan mengijinkan kesehatan, karir atau anak kita diambil, kita akhirnya akan meninggalkan Tuhan.

 

Ada orang-orang yang percaya melihat mukjijat yang dilakukan Yesus, tetapi Tuhan tidak mempercayakan diri-Nya kepada orang-orang itu. Karena Tuhan tahu isi hati mereka. Tuhan Yesus mengatakan engkau mengikuti Aku kemana pun Aku pergi, karena engkau sudah makan dan kenyang, tetapi engkau tidak pernah betul-betul mengenal Aku (lihat Yoh 6:26). Tuhan Yesus memakai itu semua supaya orang datang dan mengenal Dia. Mukjijat-mukjijat yang dilakukan Yesus adalah untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah baik, Dia adalah Allah yang murah hati, penuh dengan kebaikan.

 

Alkitab berjanji bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita (Filipi 4:19) “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita, namun bukan apa yang kita inginkan. Tetapi bukankah kita membutuhkan pekerjaan, membutuhkan anak kita sembuh dan sehat? Ada seorang jemaat yang sudah lama mencari pekerjaan namun tidak dapat-dapat juga, dia seorang yang mencintai Tuhan, bersandar, berdoa, melayani dengan sungguh-sungguh tetapi setahun lebih dia tidak mendapatkan pekerjaan. Dia terus beriman dan melihat bahwa Tuhan ingin menyatakan diri-Nya kepadanya, dan didalam segala kesulitan itu, dia tidak meninggalkan Tuhan. Karena baginya Tuhan adalah bukan karirnya, bukan pekerjaannya, bukan anak-anaknya, hanya Yesus Kristus adalah Tuhan yang berkuasa yang berdaulat dalam hidupnya.

 

Anak-anak Tuhan yang sejati, adalah anak-anak yang lebih mementingkan Tuhan daripada berkat-Nya. Tuhan banyak sekali memberikan kebaikan dan kemurahan-Nya kepada kita, tetapi Dia ingin kita lebih bersyukur bukan terutama karena berkat-berkat-Nya namun karena diri Dia sendiri. Dia adalah harta yang paling berharga, Dia ingin kita mengenal Dia, mengenal seluruh kepribadian-Nya. Adalah berbahaya jika seorang mendapat mukjijat atau berkat dari Tuhan tetapi akhirnya tidak betul-betul mengenal Tuhan, karena akhirnya dia akan meninggalkan Tuhan. Orang-orang yang mendapat makanan dalam peristiwa lima roti dan dua ikan itu, mengikuti Kristus berhari-hari kemana pun Dia pergi, tetapi ketika Yesus mengajar Akulah roti hidup itu, makan daging-Ku , mereka tidak bisa terima dan meninggalkan Dia (lihat Yoh 6:48-66). Karena mereka sesungguh-sungguhnya belum pernah mengenal Dia. Anak-anak Tuhan yang sejati adalah mereka yang mementingkan Tuhan jauh lebih penting daripada berkat-Nya.

 

Ada seorang ayah yang baru pulang dari tempat yang jauh membawa hadiah mainan kepada anaknya. Anaknya itu sangat senang menerima hadiah itu, memeluk ayahnya dan mengatakan “papa terima kasih, papa jangan pergi lagi.” Tetapi ayahnya itu memberikan juga mainan yang sama kepada anak tetangga, dan anak tetangga itu mengatakan “oom terima kasih, kapan oom pergi lagi?” Iman yang sejati menginginkan Tuhan lebih daripada seluruh berkat anugerah-Nya, karena Tuhan itu sendiri adalah anugerah yang besar. Karunia Roh Kudus yang terbesar adalah Roh Kudus itu sendiri – karunia yang paling berharga. Tetapi anak-anak tetangga tidak mengerti hal itu, mereka hanya ingin mainannya, hanya ingin berkatnya, ingin pertolongannya, tetapi tidak ingin diri Allah itu sendiri.

 

Itulah yang terjadi kepada para murid, mereka tidak bisa mengangkat jala karena penuh dengan ikan, maka Yoh 21:7 “murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan”.

Sebelumnya mereka tidak mengenal orang yang ada di pinggir pantai itu. Tetapi ketika mereka mentaati perkataan Tuhan dan mendapat berkat yang begitu besar, mereka tidak fokus kepada berkat itu, namun kepada Tuhan.

Tuhan sudah menyatakan diri-Nya kepada mereka supaya mereka mengenal diri-Nya. Tuhan menyatakan diri ketiga kalinya kepada mereka. Ketika mereka taat kepada Tuhan, mereka bukan hanya menerima berkat Tuhan, namun mereka menerima berkat yang terbesar yaitu mengenal siapa Kristus, itulah Tuhan.

 

John Calvin mengatakan all true knowledge of God born of obedience. Seluruh pengenal sejati tentang Allah lahir dari ketaatan. Ketika kita taat kepada Tuhan, biarlah ketaatan kita bukan hanya menerima berkat kebaikan Tuhan tetapi juga mengenal Dia, mengenal kemuliaan, kebaikan, kebesaran, kasih dan bijaksana-Nya, dan memiliki relasi pribadi dengan Dia. Biarlah kita betul-betul percaya memegang firman-Nya. Murid-murid taat menebarkan jala ke kanan perahu seperti yang Yesus katakan. Mereka bukan hanya menebar jala, tetapi mereka menebar jala sesuai dengan apa yang Yesus katakan, di sebelah kanan. Selanjutnya Yesus meminta mereka membawa ikan-ikan itu kepada-Nya dan mereka taat membawa ikan-ikan itu kepada-Nya. Mereka mengalami kebaikan, belas kasihan, pertolongan Tuhan di dalam waktu-Nya. Tuhan ingin kita taat dan mengalami semua kebaikan Tuhan dan terutama kita makin mengenal diri Dia sendiri, bersekutu dengan Dia seperti yang terjadi pada diri para murid yang bersekutu dengan Kristus sendiri.

 

Dari ketaatan kita, kita akan mengenal Kristus dan bersekutu dengan Dia, seperti yang terjadi antara para murid dengan Kristus. Tuhan Yesus sudah mempersiapkan ikan dan mereka makan bersama. Tuhan Yesus mengambil roti memberikan ikan kepada mereka, dan tidak ada satu pun dari para murid yang berani menolaknya. Mereka makan, dengan kegentaran, dengan suka cita, dengan perasaan syukur yang besar, karena sekarang mereka boleh menikmati persekutuan dengan Tuhan yang sudah mati dan bangkit. Makan ikan dan roti itu tidak lagi menjadi penting, tetapi kehadiran Tuhan, makan bersama dengan Kristus itu jauh lebih penting.

 

Bagian ini juga mau menegaskan bahwa puncak dari ketaatan murid-murid adalah ketika mereka kemudian meninggalkan perahu dan jala mereka, dan kembali menjadi penjala manusia. Ini adalah paralel dari Matius 28:19-20: dari seluruh peristiwa ini, Tuhan Yesus mau menegaskan panggilan kepada mereka, bahwa engkau tidak lagi menjadi fisherman, tetapi engkau menjadi fisher of man. Meskipun tidak secara eksplisit, namun di sini jelas, Tuhan memanggil mereka, mereka meninggalkan jala mereka, dan Tuhan mengingatkan panggilan itu di dalam mereka, supaya mereka kembali kepada panggilan Tuhan, menjadi penjala manusia.

 

Ada penulis yang mengatakan di sini ditulis secara eksplisit 153 ekor ikan yang besar-besar, apa maksud angka ini? Mungkin itu karena mereka adalah nelayan yang suka menghitung hasil tangkapan mereka. Mungkin juga supaya mereka tahu bagaimana membagi ikan-ikan itu di antara mereka. Tetapi ada yang menafsirkan kemungkinan angka ini adalah simbolik, ada yang menuliskan bahwa di daerah itu ada 153 jenis ikan, mungkin semua jenis ikan ada di dalam jala para murid waktu itu. Namun mungkin penafsiran ini terlalu jauh. Tetapi pasti ada pengertian simbolik dibalik angka ini, karena dicatat di sini (Yoh 21:11) "seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak." Ini adalah sinmbol dari banyaknya orang dari segala suku, bangsa, dan bahasa yang akan datang kepada Kristus. Kamu bukan menjadi penjala ikan, tetapi penjala manusia, jadikan seluruh bangsa murid-Ku, 153 itu menjadi simbol bahwa akan banyak orang, dari segala suku, bangsa dan bahasa akan datang kepada Kristus melalui misi yang dijalankan oleh para murid, dan juga oleh misi yang kita jalankan jaman sekarang ini.

 

Pendeta Stephen Tong mengatakan tanpa memberitakan Injil maka Gereja sedang bunuh diri. Kalau Gereja dan kita tidak memberitakan Injil maka kita sedang bunuh diri. Kita harus sungguh-sungguh ingat dan menyadari hal ini. Pemberitaan Injil juga bukan hanya memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya. Paulus pergi ke Roma, kepada Gereja di Roma, Paulus pergi untuk memberitakan Injil kepada orang-orang percaya di sana. Injil itu, berita kematian dan kebangkitan Kristus, dengan seluruh kelimpahannya, bukan hanya bagi orang-orang yang belum percaya, bukan hanya bagi orang-orang yang baru percaya, namun Injil dengan seluruh kelimpahannya adalah untuk seluruh kehidupan Kristen, A-Z-nya orang Kristen. Supaya kita mengenal kasih Tuhan yang dinyatakan di dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Kita makin mengenal anugerah-Nya, sola gracia, seluruh hidup kita hanya karena anugerah Tuhan semata-mata, artinya kita harus semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus dan akan Injil-Nya.

 

Saya pernah diskusi dengan anak saya, dia berkata sebenarnya apa yang kita pikir atau kita putuskan, sebenarnya itu dikondisikan. Kita pikir kita bebas kita melakukan hal-hal di dalam hidup kita, namun ada banyak riset yang mengatakan bahwa kita melakukan itu karena dikondisikan oleh dunia ini, melalui iklan, targeted marketing, dlsb. Kita bertindak sepertinya dikondisikan oleh kultur di sekeliling kita. Namun yang paling parah adalah setelah dikondisikan, orang berpikir bahwa mereka bebas, independen melakukan segala sesuatu. Kalau kita mengerti betul-betul apa yang kita kerjakan, kita akan sadar bahwa kita dimanipulasi oleh apa yang kita lihat, oleh apa yang orang katakan kepada kita. Sehingga mereka tahu bahwa kita pasti berbuat ini atau itu, karena keinginan kita, apa yang kita butuhkan seluruhnya sudah dikondisikan.

 

Evil spirit ada di mana-mana dengan bentuk yang berbeda-beda, bentuk yang di atas adalah salah satunya, yang mengarahkan engkau untuk melawan Tuhan. Semangat jaman ini mengarahkan, membentuk kamu, menguasai kamu. Itu adalah juga evil spirit didalam jaman ini.

 

Problem yang lebih parah adalah setelah dikondisikan, kamu masih menganggap kamu bebas. Kamu membaca dan menghidupi apa yang dunia ini katakan, kamu ke Gereja dan merasa membosankan, Firman Tuhan membosankan. Tentu saja membosankan karena apa yang kamu lihat, dan hidupi, hatimu yang paling dalam sudah dikondisikan oleh dunia ini tanpa engkau sadari. Kita harus mengerti Injil, semakin dalam, semakin sadar.

 

Saya melihat ada orang-orang di Gereja setelah beberapa lama tidak berubah sama sekali hidupnya, tidak ada hati yang mencintai Tuhan dan berjuang untuk menjadi saksi Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Ini menjadi berbahaya sekali. Bukan Tuhan yang berkuasa atas hidupnya, namun mungkin karirnya, anaknya, suami/istrinya, orang tuanya, kenikmatan dirinya. Kalau hal-hal itu terganggu maka dia akan marah, dia akan bekerja seluruhnya untuk hal itu. Tetapi untuk Tuhan, mendengarkan Firman, itu membosankan, karena hatinya tidak ada di situ, karena hatinya dikuasai oleh hal yang lain, hatinya tidak sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.

 

Injil harus terus menerus diberitakan. Kita terus harus berjuang, makin mengenal dan mengerti akan keadaan dunia ini. Melihat Gereja-Gereja yang semakin kosong, yang tadinya besar dengan beratus-ratus tempat duduk, namun yang hadir hanya belasan orang, dan sebagian besar umur mereka sudah lanjut. Apa yang akan terjadi sepuluh tahun lagi? Gereja itu akan kosong, kemana anak-anak mereka, kemana cucu-cucu mereka? Kita harus berjuang memberitakan Injil, bukan hanya ke luar sana, tetapi juga ke dalam keluarga kita, kepada anak-anak kita, kepada cucu-cucu kita, kepada teman-teman kita, sehingga Injil sungguh-sungguh berakar di dalam hati kita. Inilah yang diperintahkan oleh Tuhan kepada murid-murid-Nya, pergilah dan jadikanlah seluruh bangsa murid-Ku, engkau adalah penjala-penjala manusia.

 

Yoh 21:14 "Inilah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya." Inilah tujuan Tuhan: Dia menampakkan diri, menyatakan diri, kemuliaan-Nya, kemenangan-Nya atas maut, menyatakan penggenapan karya-Nya di atas kayu salib untuk menyelamatkan manusia berdosa. Dia ingin kita mengenal Dia, percaya kepada-Nya dan sungguh-sungguh mengkuduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam seluruh hidup kita. Kristus menyatakan diri-Nya supaya murid-murid-Nya pergi memberitakan kabar baik ini, kabar kematian dan kebangkitan-Nya, kabar kemenangan Kristus, supaya semua yang percaya datang, beriman dan sungguh-sungguh mengaku Tuhan dan Allah kita.

 

Murid-murid menebarkan jala mereka dan menarik ikan yang banyak itu kepada Yesus.  (Yoh 21:6) "Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan." (Yoh 21:8) "Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.”

Murid-muridnya membawa ikan yang banyak itu kepada Kristus. Ini adalah gambaran metafor, gambaran simbolik dari apa yang Yesus katakan dalam Yoh 12:32: "apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku."

Inilah Injil yang harus kita beritakan, berita Yesus yang ditinggikan di bumi, Kristus yang mati bagi dosa manusia, dan ketika Aku ditinggikan di bumi, maka Aku menarik semua orang datang kepada-Ku, melalui murid-murid-Ku. Murid-murid-Nya pergi memberitakan Injil, di luar, di dalam keluarga, semua orang harus datang dan percaya kepada Kristus.

 

Yoh 21:11 mengatakan "…sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak." Ada seorang penafsir mengatakan this signifies that Church resources with Christ in its means are never overstrained. Ini adalah pekerjaan yang besar, pekerjaan yang susah, yang berat menarik orang, seperti menarik ikan-ikan itu datang kepada Kristus. Tetapi sungguh pun ikan itu banyak jala itu tidak koyak. Ini mau menegaskan kalau Gereja berjuang mentaati Tuhan, ada Kristus di tengah-tengah kita, Kristus memimpin kita, seluruh pekerjaan Gereja sesuai kehendak Kristus, maka the resource never overstrained, tidak akan pernah habis. Karena Tuhan akan terus memimpin.

Kita sering terbawa oleh arus yang ada di sekitar kita, hidup berlambat-lambat. Kita harus berjuang lebih lagi, menghadapi segala kesulitan, ketika Kristus ada di tengah-tengah kita, bekerja bukan dengan ambisi kita, tetapi dengan kehendak Tuhan, sesuai dengan kehendak Kristus, maka kita akan melihat pertolongan, anugerah, penyertaan Tuhan, dan kehadiran Tuhan nyata di tengah-tengah kita. Kita bersyukur kepada Tuhan karena itu. Biarlah kita mentaati apa yang Tuhan kehendaki, jadilah penjala-penjala manusia, yang berjuang, dan Tuhan akan selalu memberkati dan memimpin kita. Amin.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya