Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Menjadi Saksi Kebangkitan Kristus

Ibadah

Menjadi Saksi Kebangkitan Kristus

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 28 Juli 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 20:1-18, Kis 10:40-41, Kis 17:30-31

Kebangkitan Kristus adalah berita yang sering kita dengar, namun bagaimana kita mendekati berita tentang kebangkitan Kristus ini? Ini menjadi sesuatu yang penting, sebelum kita melihat apa yang Alkitab katakan tentang kebangkitan Kristus. Kalau kita membandingkan buku-buku yang ditulis tentang hal ini sekitar 50-60 tahun yang lalu dengan buku-buku yang ditulis sekarang ini, maka ada pergeseran yang signifikan.

 

Sekitar 50 tahun yang lalu, tulisan pada waktu itu berkisar tentang apakah Kristus itu bangkit di dalam sejarah dan juga apakah terjadi kebangkitan secara tubuh. Orang-orang Kristen saat itu berargumen tentang bukti-bukti sejarah, dan kalau Kristus benar bangkit, itu akan memberi dampak yang besar bagi hidup manusia. Orang-orang yang menentang hal itu berusaha mengatakan kebangkitan itu tidak pernah dibuktikan secara ilmiah, dan terus terjadi perdebatan dalam hal itu.

Salah satu tulisan yang cukup baik dari Josh mcDowell, “Evidence that demands a verdict” menyatakan banyak bukti secara sejarah dan ilmiah yang membuktikan Yesus itu betul-betul bangkit, dan kalau Yesus betul-betul bangkit maka itu harus memberi dampak yang besar bagi hidup manusia. Meskipun argumentasi Josh McDowell begitu kokoh dan kuat namun tetap masih banyak orang yang belum percaya bahwa Yesus itu betul-betul bangkit.

 

Namun kalau kita membaca buku-buku tentang kebangkitan Yesus pada jaman sekarang, maka pergumulannya bergeser, tidak lagi apakah Kristus benar-benar bangkit di dalam sejarah secara tubuh, itu tidak lagi terlalu penting. Di jaman ini, pertanyaannya adalah apakah dampak kebangkitan Kristus itu bagi hidup saya: Yesus bangkit tetapi so what! Apakah yang saya percayai itu menolong saya dalam hidup saya sehari-hari. Apa hubungan kebangkitan Yesus 2000 tahun yang lalu dengan hidup saya hari ini. Kalau engkau percaya bahwa Yesus bangkit dan itu mengubah hidupmu, ya silakan engkau percaya. Namun kalau saya tidak percaya Yesus bangkit, dan ketidakpercayaan itu menolong saya, karena saya tidak dibingungkan oleh segala argumentasi itu, maka engkau jangan paksa saya untuk percaya, itu adalah urusan saya. Jadi pertanyaannya adalah so what? apakah kebangkitan Yesus menolong hidup saya. Mungkin banyak di antara kita juga terpengaruh dengan pandangan seperti ini.

 

Kita harus menyadari apakah mindset kita, pada waktu kita merenungkan firman Tuhan, sehingga kita sungguh-sungguh menangkap berita kebangkitan Kristus sesuai dengan maksud Tuhan memberitakan itu kepada kita. Bukan dengan kacamata ilmiah, tetapi bukan juga bertanya apakah itu berguna bagi saya.

 

Dalam Kis 17:30-31 Paulus sedang memberitakan tentang Kristus yang bangkit di tengah-tengah bangsa yang tidak percaya “Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.”

 

Kita mau mengerti berita ini seperti para Rasul tangkap dahulu. Paulus berbicara kepada orang-orang yang tidak percaya, dia mengatakan bahwa Allah sekarang telah memanggil kita semua untuk bertobat, dan percaya kepada-Nya. Karena Allah menetapkan suatu hari Kristus akan datang dan mengadili semua orang siapa pun dia. Ini menjadi dampak yang sangat besar dan penting dalam hidup kita. Allah membuktikan bahwa Kristus betul akan datang karena Kristus telah bangkit. Allah telah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati. Kebangkitan Kristus yang dikerjakan Allah menjadi suatu bukti yang pasti terjadi bahwa Kristus akan datang kembali, dan semua orang harus bertobat, mempertanggungjawabkan hidup mereka. Kristus menghakimi semua orang, siapa pun dia.

 

Ketika Paulus mengatakan hal ini, maka banyak orang-orang skeptis yang mengejek Paulus (Kis 17:32) “Lain kali saja kami mendengarkan engkau berbicara tentang hal itu.”. Seperti juga pada jaman ini banyak orang-orang yang tidak percaya akan kebangkitan Yesus Kristus. Namun sebenarnya segera setelah kematian Kristus, para murid juga tidak percaya akan kebangkitan Kristus.

 

Bagaimana fakta tentang kebangkitan Kristus, bisa diterima sebagai bukti bahwa Allah akan menghakimi seluruh dunia sehingga orang bertobat dan percaya kepada Kristus? Maka Alkitab menegaskan bahwa fakta kebangkitan Kristus harus diberitakan melalui saksi-saksi-Nya. Kis 10:40-41 menyatakan “Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.“

 

Ini adalah perkataan Petrus. Jadi memang Kristus tidak menyatakan diri kepada semua orang. Kristus hanya menyatakan diri hanya kepada 500 orang yang sudah menjadi saksi dari pada kebangkitan Kristus. Petrus di sini menegaskan secara khusus, para murid yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Kristus, setelah Dia bangkit. Hanya sekelompok kecil orang, di mana Yesus telah menyatakan kebangkitan-Nya dan mereka sekarang harus pergi, sungguh-sungguh percaya, bukan hanya dengan iman, tetapi karena mereka telah melihat sendiri Yesus yang sudah bangkit itu. Dari sejak itu, dari 11 murid, berita ini tersebar, kemudian jumlah orang percaya menjadi 120, menjadi 3000, jutaan dan miliaran.

 

Itulah rencana Tuhan. Dia tidak menyatakan kebangkitan-Nya kepada semua orang, tetapi melalui saksi-saksi yang percaya, yang mengenal dan melihat sendiri kebangkitan Yesus Kristus. Seperti Aku yang telah diutus Bapa, sekarang Aku mengutus kamu ke tengah-tengah dunia ini, menjadi saksi dari pada kebangkitan. Supaya berita kebangkitan Kristus menjadi bukti supaya orang bertobat dan percaya kepada-Ku, karena satu hari Aku akan kembali lagi menghakimi semua umat manusia.

 

Yohanes menulis dalam Yoh 19:35 “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.”

Juga dalam Yoh 21:24 “Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.” Inilah rencana Tuhan dari permulaan, bahwa saksi-saksi mata kebangkitan itu mengalami perubahan itu sendiri di dalam hidup mereka, dan kemudian mereka memberitakan kebangkitan kepada semua orang. Inilah kesaksian yang telah kita dengar dari orang-orang yang percaya, dan yang telah kita baca dari Alkitab.

 

Kesaksian ini begitu penting bahkan yang paling penting sepanjang jaman. Kalau kita mengerti dan percaya sungguh-sungguh berita ini, maka akan berdampak jauh lebih besar daripada berita akan orang yang kita kasihi meninggal, atau berita sakit kanker stadium akhir. Karena orang-orang yang kita kasihi, bahkan hidup kita sendiri tetap akan mati, tetapi kalau kita percaya kepada Kristus yang sudah mati dan bangkit dari kematian, maka akan berdampak selama-lamanya, sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Kristus, Dia akan menghakimi semua umat manusia.

 

Ketika kita membaca Yoh 20:1-18 kita pasti mendapat sense bahwa ini adalah kesaksian yang real, dari seorang saksi mata yang melihat dan mengalami sendiri kebangkitan Kristus. Kita melihat juga bahwa sebelumnya Maria juga tidak percaya. Di hari minggu itu, Injil yang lain mengatakan dia masih berpikir dengan perempuan-perempuan yang lain mereka akan memberi rempah-rempah untuk mayat Yesus lagi, karena rasanya yang dilakukan sebelumnya mungkin belum selesai karena dilakukan cepat-cepat sebab hari sudah menjelang Sabat.  Selama berjalan ke sana, mereka berpikir bagaimana mereka bisa menggeser batu yang besar itu. Tetapi mereka menemukan bahwa batu itu sudah tergeser, namun mereka tetapi tidak percaya. Ketika mereka masuk ke dalam, ternyata mayat Yesus tidak ada di situ. dia pun tidak percaya, dan dia pergi memberitakannya kepada murid-murid yang lain.

 

Maka Maria lari kembali untuk memberitahu murid-murid yang lain bahwa Tuhan telah diambil dari kuburnya, dan kami tidak tahu di mana tubuhnya diletakkan. Yohanes dan Petrus lari ke kubur, Yohanes lari lebih cepat dan sampai di kubur terlebih dahulu, namun setelah melihat kain kapan terletak di tanah, Yohanes tidak masuk ke dalam. Lalu datanglah Petrus dan dia masuk ke dalam. Sewaktu masuk ke dalam, diceritakan dengan detil, bahwa Petrus melihat kain kapan di sana, sedang kain peluh (kemungkinan bungkus kepala-Nya) sudah tergulung, dan Yohanes masuk juga ke dalam kubur melihat itu semua dan menjadi percaya.

 

Maksud Yohanes menyatakan hal ini dengan detil, adalah bahwa mayat Yesus tidak dicuri orang. Kalau dicuri, maka tidak mungkin kain kapannya dibuka terlebih dahulu, dan kain peluhnya dilipat dengan rapi. Mereka mengambil kesimpulan, mayat Yesus tidak mungkin dicuri orang, lalu apa yang terjadi?

 

Yohanes melihat itu semua dan percaya. Apa yang Yohanes percaya di sini? Yang pasti dia percaya bahwa mayat Yesus tidak dicuri oleh orang, namun kita tidak tahu secara tepat apa yang Yohanes percaya pada waktu itu. Tetapi kita bisa mengerti apa yang Yohanes ingin katakan tentang apa yang terjadi kemudian, yaitu dalam Yoh 20:11-18 bahwa Maria bertemu dengan Yesus, dan berinteraksi dengan-Nya. Dari ayat-ayat ini, ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan:

 

  • ·         Kebangkitan Kristus itu adalah berbeda dengan kebangkitan Lazarus. Dalam Yoh 11:44, setelah Yesus membangkitkan Lazarus dan Lazarus keluar dari kubur, tubuh Lazarus masih dibalut dengan kain kapan, dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Jadi dia memerlukan orang lain untuk membuka kain kafan dan kain peluh. Lazarus bangkit secara fisik, tetapi bangkit dengan tubuh seperti tubuh yang dahulu seperti sebelum dia mati. Lazarus bangkit dan pasti dia akan mati lagi karena memiliki tubuh yang sama. Kebangkitan Yesus berbeda dengan kebangkitan Lazarus karena kain kapan dan kain peluh sudah terlepas.
  • ·         Kebangkitan Kristus itu bersifat tubuh, Dia bangkit bukan hanya Roh-Nya. Kadang-kadang orang di dalam dunia ini mengatakan bahwa setelah seorang ayah meninggal, dia tidak pernah “mati”, karena sifat-sifatnya diturunkan kepada anaknya. Namun Yesus bukan bangkit seperti demikian, Yesus bangkit secara tubuh. Tubuh-Nya tidak ada di situ, itu adalah fakta sejarah yang krusial.

 

Ini adalah berita Injil yang tidak bisa dikompromikan, dan mengubah segalanya. Ini menjadi fondasi iman Kristen. Dari 11 murid, menjadi ribuan, jutaan, miliaran, semuanya berdasarkan kepercayaan Yesus sudah bangkit secara tubuh. Ini memberi pengaruh yang besar, orang-orang jaman itu juga gentar karena kekristenan semakin besar. Orang-orang Kristen begitu percaya akan kebangkitan Kristus dan mereka rela mati demi itu. Fakta bahwa kebangkitan Kristus menjadi fondasi yang sangat penting bagi iman Kristen.

Sebenarnya mudah sekali untuk menghancurkan iman Kristen, hanya diperlukan satu hal saja maka runtuhlah kekristenan: perlihatkan mayat Yesus. Tetapi mereka tidak bisa menemukan mayat Kristus, karena memang Yesus sudah bangkit secara tubuh. Kristus benar-benar sudah bangkit, kubur itu kosong, kain kapan sudah terlepas, kain peluh tergulung dengan rapih.  

  • ·         Tubuh kebangkitan ini adalah glorified body, tubuh yang sudah dipermuliakan. Tubuh yang berbeda dengan tubuh Lazarus yang akan mati lagi. Kebangkitan Yesus bukan secara roh. Setelah bangkit, tubuh Yesus adalah tubuh yang bisa makan ikan, Tomas bisa memasukkan jarinya ke bekas paku dan tusukan di lambung. Begitu Maria melihat Yesus, dia sangat bersuka cita, dan dia berpikir ini adalah kebangkitan seperti Lazarus dan ia ingin memegang Yesus. Tetapi kemudian Kristus berkata dalam Yoh 20:17 “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.“

 

Ini adalah perkataan penting dari Kristus. Glorified body memiliki kontinuitas dari tubuh sebelumnya, tetapi juga ada diskontinuitas.

 

Sewaktu kita nanti dipermuliakan, kita akan memiliki tubuh yang mirip dengan tubuh kemuliaan Kristus, tetapi itu adalah tetap diri kita. Kita tidak menjadi orang yang lain. Bagaimana kita hidup sekarang itu akan berdampak sampai kekekalan, karena kita akan menjadi diri kita yang sesungguhnya, dengan tubuh yang baru yang dipermuliakan. Orang kaya di neraka yang melihat Lazarus yang miskin itu duduk dipangkuan Abraham; itu tetap Abraham, itu tetap Lazarus, mereka tidak menjadi orang lain, menjadi diri mereka sendiri sesuai dengan kehendak Tuhan. Ada kontinuitas kelanjutan dari pribadi kita yang sekarang.

Tetapi tubuh yang dipermuliakan ini adalah tubuh yang berbeda dengan sebelumnya. Ada transformasi menjadi tubuh yang tidak lagi bisa mati, tubuh yang sempurna, tubuh yang mirip dengan Kristus yang telah dibangkitkan itu.

 

Filipi 3:21 mengatakan “…yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Tubuh kita juga nanti akan dipermuliakan seperti tubuh Kristus. Kita sekarang masih memiliki tubuh yang bersifat sementara, yang bisa sakit, yang mengalami segala penderitaan, dan bisa mati. Kita cuma hidup satu kali dalam tubuh yang sementara ini, tetapi bagi semua yang percaya kepada Kristus, dan dipersatukan dalam kematian-Nya, kita pun akan dibangkitkan dengan tubuh yang baru. Tubuh yang seperti Kristus, tubuh yang tidak bisa mati lagi. Kalau kita melihat tubuh yang akan datang itu, sekarang, kita sepertinya akan menyembah tubuh itu.

 

Relasi yang Baru

 

Setelah Kristus bangkit, ada relasi yang lebih dalam, yang berbeda dengan relasi dengan-Nya sebelumnya.

Relasi Kristus dengan Maria, murid-murid-Nya dan dengan kita, juga mengalami transformasi.

Kristus pergi kepada Bapa, mempersiapkan tempat bagi Maria, murid-murid-Nya dan setiap kita yang percaya kepada-Nya. (lihat Yoh 14:15-31) mengatakan Aku tidak akan meninggalkan kamu menjadi yatim piatu, namun Aku akan mengutus Roh-Ku yang kudus, untuk menyertai kamu dan tinggal di dalam engkau. Roh Kudus, pribadi Allah tritunggal adalah Rohnya Kristus akan menyertai dan memimpin semua orang yang percaya kepada-Nya.

 

Roh Kudus yang diberikan kepada setiap orang yang percaya, membawa kita kepada relasi yang lebih intim dengan Kristus. Roh-Nya itu memimpin kita, kemana pun kita pergi, mengajar kita dengan apa yang Kristus sudah ajarkan. Roh-Nya memberkati kita, berdoa bagi kita; melalui Roh-Nya yang kudus itu kita berseru kepada Allah melalui Yesus Kristus.

 

Roh-Nya itu juga melampaui ruang, beyond-space. Kita tahu sewaktu Yesus datang ke dunia di dalam tubuh yang sementara itu, ketika Dia di danau Galilea, dia tidak ada di Yerusalem; ketika Dia di Yerusalem, Dia tidak ada di Kapernaum. Dia terbatas, karena memang Dia datang sebagai manusia, sama seperti saudara dan saya. Tetapi ketika Yesus bangkit dari kematian, Dia akan pergi dan mengutus Roh-Nya, sehingga di mana pun sepanjang sejarah, Roh-Nya hadir menyertai dan memimpin kita.

 

Roh-Nya menyatakan kehadiran Kristus dan ada relasi yang lebih intim antara Yesus dengan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Melalui Roh Kudus, kita sekarang memiliki satu Bapa (Yoh 20:15) “... pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Ini menyatakan kita semua sekarang memiliki satu Bapa, sedangkan Kristus adalah yang sulung daripada saudara-saudara-Nya. Roh-Nya yang kudus bekerja di dalam hati kita, memberi hidup yang baru, dan kita menjadi anak-anak Allah. Kristus adalah saudara sulung, the Eldest Brother, sekarang kita yang percaya di dalam Kristus, menjadi saudara-saudara Kristus, memiliki Bapa yang sama.

 

Yesus Kristus adalah the eternal Son of God, Dia tidak pernah diadopsi atau dijadikan Anak Allah. Dia adalah Anak Allah yang kekal, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Dia adalah firman, bersama-sama dengan Allah, firman itu adalah Allah. Tetapi kita, yang tadinya adalah anak-anak yang seharusnya binasa, di dalam anugerah Yesus Kristus, kita diadopsi menjadi anak-anak Allah. Tetapi walaupun kita diadopsi, kita tetap adalah anak-anak Allah yang sah, karena Roh Kudus memberikan kita meterai yang sah. Karena itu kita boleh berseru kepada Allah sebagai Bapa kita, dan kita adalah saudara-saudara Kristus.

 

Dampak bagi Hidup Kita

 

Ini seharusnya membawa dampak bagi hidup kita, sebagai anak-anak Bapa di surga.

 

Kristus yang sudah bangkit ini mengutus Maria, dan kita menjadi saksi dari pada kebangkitan-Nya.

Yesus menyuruh Maria (Yoh 20:17) “…pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

Maria pergi dan berkata kepada murid-murid lainnya (Yoh 20:18) “Aku telah melihat Tuhan!”. Maria diutus menjadi saksi Tuhan supaya setiap orang yang tidak melihat seperti Tomas. Mereka yang tidak melihat bisa menjadi percaya melalui kesaksian dari para Rasul; mereka percaya kepada orang-orang yang melihat sendiri kebangkitan Kristus itu. Mereka yang menjadi percaya, kemudian memberitakan, menuliskan supaya lebih banyak lagi orang yang percaya, supaya kita juga percaya. Biarlah kita juga menjadi saksi Tuhan seperti Maria di tengah-tengah dunia yang tidak mengenal Kristus.

 

Pendeta Bigman Sirait pernah mengatakan “Orang-orang yang beriman bukan hanya bisa memindahkan gunung tetapi iman yang sejati sesungguhnya adalah tetap percaya kepada Tuhan meskipun gunung itu tidak pindah.”

Kita melihat banyak pertolongan Tuhan yang kita saksikan sendiri, tetapi ada hal-hal di dalam hidup kita, pergumulan, kita berdoa tetapi Tuhan tidak menjawab doa seperti keinginan kita. Seperti pendeta Bigman Sirait yang sampai mati karena kanker. Tetapi justru iman yang sejati itu adalah ketika sakit tidak disembuhkan, ketika kesulitan tetap ada, tetapi kita terus beriman. Iman kita bukan karena melihat, tetapi karena percaya.

 

Seluruh murid-murid sebelumnya tidak percaya. Dalam Lukas 24:13-35 diceritakan dua murid Kristus yang sedang dalam perjalanan ke Emaus, mereka mendengar berita-berita kebangkitan Kristus, tetapi mereka belum juga percaya. Yesus datang menemui mereka dan berjalan bersama mereka, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa itu Yesus. Mereka berkata kepada Yesus, kamu satu-satunya orang yang tidak tahu apa yang terjadi di Yerusalem akhir-akhir ini, orang-orang sedang kacau sekali, ada berita yang besar bahwa Yesus Kristus yang tidak bersalah itu dihukum mati tetapi sekarang ada berita bahwa ada perempuan-perempuan yang mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit.  Mereka mengatakan tadinya kami mengharapkan Yesus ini akan membebaskan bangsa Israel.

 

Ironisnya Yesuslah satu-satunya yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu, Yesus berkata kepada mereka betapa bodohnya, betapa lambannya hatimu, tidak percaya apa yang sudah dikatakan oleh para nabi! Bukankah Dia yang dijanjikan itu harus menderita, mati dan bangkit pada hari ketiga? Ketika Yesus menjelaskan itu kepada mereka, hati mereka terbakar, tetapi mereka belum sadar juga. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan, saat mereka harus menginap, kedua murid itu meminta supaya Yesus menginap bersama-sama dengan mereka. Ketika mereka duduk makan, Yesus memecah-mecahkan roti, dan ketika itulah terbukalah mata kedua murid itu. Kehadiran Tuhan juga bisa dirasakan melalui Perjamuan Suci.

 

Seorang penulis membandingkan saat Yesus memecah-mecahkan roti dan terbukalah mata mereka, dengan saat Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat yang Tuhan larang itu (lihat Kej 3). Maka terbukalah mata Adam dan Hawa, dan mereka tahu bahwa mereka telanjang. Apa yang dikerjakan Yesus di Emaus, membalikkan apa yang terjadi di Kejadian 3. Dalam kej 3, terbukalah mata Adam dan Hawa karena mereka melanggar perintah Tuhan, mereka sadar akan keberdosaan mereka, mereka telanjang, menjadi malu. Kristus membalikkan akibat dari dosa, membuka mata mereka, mereka melihat Kristus, mereka percaya kepada Kristus.

 

Inilah kesaksian dari para murid, dari orang-orang yang menyatakan kebangkitan Kristus. Biarlah kita juga percaya, meskipun kita tidak melihat, tidak memegang Kristus, memang Tuhan tidak bermaksud semua kita bisa memegang Kristus secara fisik. Tetapi Tuhan menginginkan kita untuk percaya melalui pemberitaan saksi-saksi mata. Apa yang Tuhan sudah nyatakan kepada saksi-saksi mata, membuat mereka gentar, dan mereka beritakan berita itu, sampai kepada kita. Biarlah kita sungguh-sungguh beriman, semua orang yang sudah ditetapkan dari semula, akan percaya.

 

Sebelumnya (lihat Yoh 20:15-16) Maria tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit, ketika bertemu Yesus yang sudah bangkit, Maria menyangka Yesus adalah penunggu taman, sampai akhirnya Yesus berkata “Maria!”, dan Maria berpaling kepadanya dan berkata “Rabuni!” Maria tahu ini adalah Tuhannya, Yesus Kristus, Juruselamatnya.

 

Ini adalah penggenapan perkataan Yesus Kristus (lihat Yoh 10:1-16), bahwa setiap domba milik-Ku akan mendengar suara-Ku. Aku mengetahui domba-domba-Ku menurut namanya (by-name) satu persatu.

Ketika Aku memanggil mereka, domba-domba-Ku pasti mendengar suara-Ku, dan mereka akan datang.

Aku punya domba-domba lain di luar sana yang belum mendengar suara-Ku, mereka akan Aku panggil juga. Tuhan Yesus memanggil mereka melalui saudara dan saya, melalui saksi-saksi, melalui orang-orang percaya. Ketika kita memberitakan Injil, mengatakan perkataan Kristus, maka domba-domba milik Tuhan yang masih di luar sana, mereka akan dibawa kepada Kristus. Tuhan akan memakai perkataan kita, suara kita, sehingga mereka yang setia akan panggilan Kristus, mereka akan mendengar, mereka akan berespon.

 

Inilah berita yang Tuhan ingin nyatakan melalui kebangkitan Kristus, biarlah kita seperti Maria, pertama-tama ketika Tuhan memanggil nama kita, seperti sekarang ini, ketika berita Injil diberitakan, kalau ada saudara yang merasa bahwa Tuhan sungguh-sungguh memanggil engkau, Roh-Kudus sedang bekerja, memanggil engkau satu per satu, percaya dan beriman kepada Kristus.

 

Bagi kita yang sudah percaya, kita diutus menjadi saksi-saksi Tuhan, untuk pergi memberitakan Injil.  Banyak orang yang belum percaya, namun mereka akan dipanggil, mendengar suara-Ku dan mereka akan percaya, menjadi satu kawanan domba dengan satu gembala. Inilah yang Tuhan inginkan bagi kita, percaya kepada Kristus yang sudah bangkit menjadi berita yang sangat penting yang mengubah kehidupan kita.

 

Seorang misionaris, Peter Cameron Scott yang lahir pada 1867 di Glasgow, dia adalah pendiri dari African Inland Mission, salah satu badan misi yang besar di Afrika. Pertama kali, dia pergi ke Afrika menjawab panggilan Tuhan memberitakan Injil, tetapi belum lama dia di sana, dia terkena sakit malaria. Dia pulang kembali ke Negara asalnya dan berobat. Setelah dia sembuh, dia kembali lagi ke Afrika. Kali ini dia mendapat kekuatan yang besar karena adiknya John Scott ikut bersama dengan dia, memberitakan Injil kepada orang-orang di Afrika. Tetapi tidak lama kemudian, belum ada satu orang pun yang percaya, adiknya terkena malaria, akhirnya adiknya meninggal. Akhirnya dia harus menguburkan John dengan tangannya sendiri. Namun dia setia dan terus memberitakan Injil.

 

Tetapi dia sakit lagi, sehingga dia harus kembali lagi dengan kesedihan, tertekan dan putus asa: dia berdoa, bagaimana Tuhan memanggil saya, tetapi saya tidak mungkin mengerjakannya dengan kekuatan yang ada?

Dia pergi ke Westminster Abbey, dan Tuhan menjawab doanya, dengan membawa dia ke kuburan David Livingstone, seorang misionaris yang mewartakan Injil di Afrika. Di nisan kuburannya, tertulis Other sheep I have, that are not of this fold, them also I must bring (Yoh 10:16). Aku akan menarik domba-domba-Ku yang bukan dari kumpulan ini, bukan dari orang-orang Yahudi pada saat itu, dan mereka akan Aku bawa kembali. Kalimat itu menguatkan Peter Scott, karena ada domba-domba lain yang belum percaya, mereka milik Kristus, dari kekekalan Dia telah memilih mereka, sebelum dunia dijadikan. Tetapi saat ini mereka belum percaya, mereka belum mendengar Injil tetapi Tuhan akan memanggil mereka.

Tuhan memakai Peter Scott, memakai saudara dan saya, memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang. Mereka yang adalah milik Kristus akan mendengar suara-Nya dan mereka akan datang kepada-Nya, mereka akan percaya dan bertumbuh.  Marilah kita menjadi orang-orang yang sedemikian, meneladani kekuatan dari murid-murid Kristus, mentaati panggilan Tuhan dalam hidup kita.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya