Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tombak, Darah dan Air

Ibadah

Tombak, Darah dan Air

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 21 Juli 2019

Bacaan Alkitab: Yohanes 19:31-42

Salah seorang nara sumber dalam suatu talk show bercerita tentang anaknya yang ulang tahun ke dua, dan ingin dirayakan di sekolahnya. Gurunya bertanya apa tema ulang tahunnya, maka dia menjawab Peppa Pig. Namun ibunya menghalangi hal itu karena Peppa Pig itu babi. Ini menjadi contoh yang orang-orang yang hidup keagamaannya bersifat fenomena. Di dalam agama apa pun, termasuk Kristen dan agama Yahudi, banyak pengikut agama itu yang sangat mementingkan hal-hal fenomena dan bukan esensi dari pada agama itu. Hal itu adalah berbahaya sekali dan itu musuh dari pada kita bersama. Ada orang-orang yang tidak suka datang ke suatu Gereja karena lagunya bikin mengantuk dan susah sekali; tetapi tidak mementingkan dari pada esensi ibadah itu.

 

Itulah yang ada di dalam bacaan Alkitab kali ini. Orang-orang Yahudi datang kepada Pilatus dan meminta Pilatus untuk menurunkan mayat-mayat di atas kayu salib, karena dengan semangat mementingkan fenomena. Mereka tidak mau perayaan Paskah hari besar mereka dinajiskan oleh orang yang mati di atas kayu salib. Tetapi mereka tidak perduli akan esensi iman mereka, yaitu hati mereka yang sudah dinajiskan karena mereka telah membunuh Anak Allah yang tunggal. Mereka tidak perduli bahwa hati mereka telah tercemar oleh dosa yang mematikan, namun mereka sangat perduli bahwa tanah mereka tidak tercemar oleh orang yang tergantung di atas kayu salib.

 

Ini menjadi konteks dari pada berita kematian Kristus yang Yohanes ingin ceritakan. Yoh 19:34-35 “seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.” Ini menjadi inti dari pada berita bacaan Alkitab kali ini.

 

Banyak perdebatan mengenai apa yang dicatat dalam Yoh 19:34-35, tentang apa artinya lambung Yesus ditikam. James Boyce mengatakan bahwa paling sedikit ada tiga tujuan Yohanes mencatat peristiwa lambung Yesus ditikam.

 

Kristus benar-benar Mati

 

Hal yang pertama, Yohanes mau menekankan, dengan pimpinan Roh Kudus, bahwa Kristus benar-benar mati. Alasan kaki Yesus tidak dipatahkan oleh prajurit Roma adalah karena Dia telah mati. Yoh 19:33 menyatakan “tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya ”. Dua orang penjahat yang di kanan dan kiri Yesus telah dipatahkan kakinya, namun setelah melihat Yesus, prajurit-prajurit Romawi itu melihat bahwa Yesus telah mati, sehingga mereka tidak perlu mematahkan kaki-Nya.

 

Apa tujuan mereka mematahkan kaki orang yang disalib? Mereka melakukan itu untuk mempercepat kematian mereka. Karena sewaktu orang digantung di atas kayu salib, setiap kali menarik nafas, mereka harus menekan kakinya ke bawah dengan tangannya menarik. Jadi setiap kali menarik nafas adalah suatu kesakitan yang begitu berat. Kalau kakinya dipatahkan, dia tidak bisa mendorong ke bawah, dan mereka tidak bisa bernafas lagi. Dengan mematahkan kaki, mereka dapat mempercepat kematian orang itu. Inilah yang dikerjakan oleh para prajurit, dan segera beberapa menit kemudian orang itu akan mati.

 

Namun sebelum mematahkan kaki Yesus, mereka melihat Yesus sudah mati. Ini adalah peristiwa yang juga menegaskan bahwa Kristus betul-betul mati bukan karena Dia tidak berdaya, bukan karena apa pun. Yesus mati karena Dia betul-betul menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah. Dengan kalimat terakhir (Luk 23:46), “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku”, Yesus menyerahkan nyawa-Nya. Kalau kita bandingkan dengan Injil yang lain berita bahwa Kristus sudah mati, itu mengagetkan Pilatus, karena biasanya kematian di atas kayu salib itu berhari-hari, bahkan sampai satu minggu. Pilatus heran mengapa baru beberapa jam saja Kristus sudah mati (lihat Mrk 15:44). Ini menunjukkan bahwa kematian Kristus adalah voluntary death, Dia sendiri menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah. Jadi tidak perlu para prajurit mematahkan kaki-Nya.

 

Karena masih ada keraguan, maka lambung Yesus ditikam dan segera mengalir darah dan air. Hal ini menegaskan bahwa Kristus benar-benar mati. Kita harus melihat ini menjadi signifikan khususnya dalam konteks sejarah waktu itu. Yohanes juga menulis dalam 1 Yoh 4:2-3 “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antiKristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam di dunia.” Penekanan bahwa Kristus telah datang sebagai manusia, memiliki darah dan daging, dan juga Dia bisa mati. Roh yang tidak menerima Kristus datang sebagai manusia adalah roh anti Kristus, karena pada saat itu ada berbagai pengajaran seperti doketism, pengajaran gnostism yang mengajarkan bahwa Yesus tidak betul-betul datang sebagai manusia, yang datang hanyalah seperti bayang-bayang. Sehingga kalau Dia mati, itu sebenarnya Dia tidak betul-betul mati, kalau Dia bangkit, itu sebenarnya Dia tidak betul-betul bangkit. Yohanes menegaskan orang yang percaya ajaran ini, adalah roh anti Kristus.

 

Yohanes mau menegaskan saat itu Dia betul-betul mati, karena Dia telah datang sebagai manusia, berdarah dan berdaging. Darah-Nya itu juga dicurahkan melalui lambung-Nya yang ditombak. Yohanes mencatat peristiwa ini dengan detil untuk menegaskan bahwa Kristus benar-benar mati, darah dan air itu sungguh-sungguh keluar dari lambung-Nya yang ditikam. Iman rasuli menegaskan bahwa kita percaya Yesus menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, artinya Dia benar-benar mati. Kalau Dia benar-benar mati, maka Dia juga benar-benar bangkit, dan Dia bangkit pula, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah. Pengakuan iman kita menyadari Kristus adalah satu-satunya Juruselamat, yang mati bagi kita. Kristus menanggung dosa kita karena upah dosa adalah mati, dan Kristus mati menggantikan kita.

 

Kematian Kristus menggenapi Kitab Suci

 

Hal yang kedua, Yohanes mencatat bahwa hal ini adalah untuk menggenapi bagian kitab suci.

Yoh 19:36 menuliskan “Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan." Dan ada pula nats yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam." Ini adalah kutipan dari Mazmur 34 dan Zakaria 12. Mazmur 34:21 mengatakan “Ia melindungi segala tulang-Nya, tidak satu pun yang patah.“ Zakaria 12:10 mengatakan “Mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam“. Peristiwa ini terjadi supaya genaplah apa yang dinubuatkan oleh Perjanjian Lama.

 

Dua nubuat yang dikutip Yohanes adalah dua hal yang kalau kita pikir lebih dalam, hampir tidak mungkin terjadi di dalam diri seseorang. Yang pertama, tulang-tulangnya tidak dipatahkan, (bersifat negatif), yang kedua lambungnya ditikam (bersifat positif). Apa yang dialami Yesus terbalik sama sekali dengan apa yang direncanakan oleh para prajurit, dan yang dialami oleh kedua penjahat itu. Mereka datang mau untuk mematahkan kaki Kristus, mereka awalnya tidak bermaksud untuk menikam lambung Yesus. Tetapi yang terjadi adalah betul-betul terbalik, tidak ada tulang-Nya yang dipatahkan dan lambung-Nya ditikam.

 

Ini adalah point yang penting, bagaimana kita boleh sungguh-sungguh percaya kepada firman Tuhan. Semua itu terjadi supaya genaplah apa yang dikatakan oleh kitab suci, perkataan Tuhan pasti akan terjadi. Biarlah kita boleh sungguh-sungguh beriman, meskipun itu sepertinya tidak mungkin terjadi di dalam hidup kita. Charles Spurgeon mengatakan tentang hal ini “That our Lord’s bone should be made unbroken and yet that He should be pierced though a very unlikely thing but it was carried out. The next you meet with unlikely promise, believe it firmly, when next you see things were contrary to the truth of God, believe God and believe nothing else. That God be true and every man a liar. The man and devil should give God the lie, hope on towards what God has spoken, for heaven and earth shall pass away, but not dot of His words shall fall to the ground. Peristiwa ini menegaskan supaya kita sungguh-sungguh percaya, apa yang tidak mungkin tetapi itu terjadi, seperti apa yang sudah dikatakan. Karena itu biarlah kita menjalani hidup dan menyadari bahwa sepertinya janji Tuhan tidak berlaku, biarlah kita percaya dan memegang janji firman-Nya. Kalau kita digoda oleh pencobaan, yang membawa kita jauh dari pada firman Tuhan, peganglah firman itu, percayalah kepada firman Tuhan, maka kita akan melihat firman-Nya itu tidak pernah gagal.

 

Dalam Kej 3:6 dikatakan perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik, pleasing to the eye, menyenangkan mata, menarik hati, dan memberikan hikmat. Bukankah sebenarnya hal-hal itu yang kita inginkan. Ketika perempuan itu mengambil dan memakan buah itu, perempuan itu sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang dia pikir sesuatu yang baik, yang menarik matanya menarik hatinya, memberi pengetahuan. Bukankah semua itu tidak salah, bukankah kita menginginkan yang baik, yang menyenangkan mata kita, yang menarik hati, yang memberikan pengetahuan? Tidak ada di antara kita yang menginginkan sesuatu yang jelek, yang rusak, yang tidak menarik hati, yang menjijikan, yang membawa kebodohan.

 

Tetapi persoalannya adalah ketika yang menarik hati kita, yang menyenangkan mata kita, yang kita pikir baik, yang memberi pengetahuan, kita tidak mencarinya di dalam firman, seperti yang dilakukan perempuan itu. Hal itu sudah dikatakan oleh Tuhan, jangan makan buah pengetahuan baik dan jahat itu, karena pada waktu kamu memakannya, maka kamu akan mati. Sewaktu perempuan itu melihat buah itu baik untuk dimakan, menyenangkan mata, menarik hati, memberi hikmat, bukankah itu justru kehancuran dari pada hidup manusia. Tuhan menginginkan yang baik bahkan yang terbaik bagi kita, memberikan hal yang paling menarik hati kita. Tetapi masalahnya kita tidak menemukan firman Tuhan itu menarik hati, kita tidak merasa firman itu memberikan bijaksana bagi kita.

 

Kita harus berdoa bagi diri kita masing-masing dan juga bagi seluruh jemaat, supaya Tuhan mengubah hati kita, berbicara kepada hati kita, supaya kita melihat firman Tuhan itulah yang terindah dan terbaik, yang memberi pengetahuan, yang memberikan sesuatu yang paling berharga bagi hidup kita. Persoalannya adalah apakah betul kita mengerti bahwa firman Tuhan sungguh-sungguh berharga.

 

Sebagai contoh menghargai pernyataan Tuhan: bagaimana kita bisa bertahan untuk tidak membalas dendam kepada orang yang menyakiti kita. Jawabannya adalah kalau kita bisa melihat apa yang kita alami dalam perspektif firman Tuhan. Membaca firman bukan hanya mencomot ayat-ayat yang kita sukai, tetapi keseluruhan firman Tuhan. Kalau saudara diperhadapkan dengan godaan apa pun, apakah engkau mau meninggalkan firman Tuhan dan mendapat segala kekayaan dunia, sembuh dari penyakit. Suatu refleksi bagi kita, kalau saudara diperhadapkan dengan godaan yang berat, meninggalkan firman Tuhan, diberi rumah atau uang yang banyak, atau sakit menjadi sembuh, hidup yang baik, liburan ke manapun dikasih. Apakah kita akan memilih itu semua atau memegang firman. Sehingga kita betul-betul bersyukur atas segala pergumulan yang ada, karena Tuhan sedang membentuk karakter kita. Biarlah firman Tuhan menjadi sungguh-sungguh berharga, sesuatu yang terlihat tidak mungkin tetapi terjadi, karena firman Tuhan tidak pernah gagal.

 

Suatu kali seorang guru bertanya kepada anak-anak laki, kalau kamu menjadi laki-laki, bukan hanya nanti kamu akan memimpin keluarga ketika kelak kamu menikah nanti, tetapi sekarang pun kamu di sekolah, kalau ada temanmu dibully, kamu harus tunjukkan sebagai laki-laki yang melindungi. Tetapi kemudian ada seorang anak perempuan yang berbicara, saya tahu apa yang anak-anak laki itu lakukan, mereka akan ikut membully saya. Ini mengagetkan, tetapi itulah realita.

 

Apa yang kita baca dalam Alkitab itu sangat real, berbenturan dengan realita-realita yang terjadi di dalam dunia ini. Mazmur 119 berisi 176 ayat seluruhnya berbicara tentang firman dan janji-janji Tuhan, menyatakan betapa indahnya firman, hatiku bersuka cita. Tetapi betulkah kita sungguh-sungguh menghargai firman Tuhan lebih daripada segala sesuatu. Betulkah di dalam segala kesulitan dan penderitaan kita datang kepada firman yang membawa kekuatan kepada kita. Betulkah dalam keputusan-keputusan yang kita ambil, kita datang kepada firman yang memberi kepada kita hikmat? Biarlah kita berpegang kepada firman Tuhan. Firman akan membentuk seluruh cara berpikir dalam hidup kita.

 

Saya kuatir banyak di antara kita, bukan dibentuk oleh firman, tetapi dibentuk oleh dunia, oleh media sosial. Cara pikir kita, nilai-nilai kita, dibentuk oleh dunia ini. Bagaimana kita mengerti konsep tentang uang, tentang waktu, hidup itu harus seperti apa, keluarga harus seperti apa. Apa yang membentuk kita, apa yang memberi arah kepada kita. Kalau bukan firman, maka yang memberi arah adalah dunia ini. Bahkan film-film yang kita lihat, banyak memiliki asumsi yang salah, asumsi tentang pernikahan, seks yang salah. Di balik cerita sesuatu yang kita lihat, banyak hal yang membawa kita menjauh dari pada Tuhan. Biarlah kita kembali kepada firman, terus menerus menghargai betapa pentingnya firman, betapa berharganya firman dan harus kita hidup di dalam firman.

 

Kristus Anak Domba Allah

 

Hal yang ketiga, Yohanes ingin menegaskan bahwa Kristus adalah Anak Domba yang disembelih bagi manusia yang berdosa. Fakta bahwa tidak ada tulangNya yang dipatahkan adalah sangat erat kaitannya tentang bagaimana orang Israel harus makan daging domba Paskah. (Kel 12:46) “Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikit pun dari daging itu keluar rumah; satu tulang pun tidak boleh kamu patahkan.” (Bil 9:12) “Janganlah mereka meninggalkan sebagian dari padanya sampai pagi, dan satu tulang pun tidak boleh dipatahkan mereka.” Faktanya adalah tidak satupun tulang Kristus dipatahkan dan Kristus mati persis waktunya ketika domba Paskah disembelih. Pada peristiwa Paskah orang Israel menyembelih domba dan darahnya dioleskan pada pintu rumah orang Israel. Ketika malaikat melihat darah di pintu maka malaikat itu akan melewati rumah itu, tetapi rumah yang tidak ada darah di pintu akan mengalami kematian yang mengerikan, termasuk rumah orang Israel kalau mereka tidak taat. Pada waktu engkau makan, dagingnya harus habis dan tidak ada satu tulang yang boleh dipatahkan.

 

Yohanes mau menegaskan bahwa Kristus adalah anak domba Allah yang tanpa darah-Nya di oleskan pada pintu rumah, akan terdapat kematian yang mengerikan dalam rumah itu. Yohanes ingin menegaskan bahwa Kristus adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Biarlah kita mengamini dan bersyukur semua hal yang terjadi dalam diri Kristus yang menggenapi seluruh janji-janji Allah di dalam Perjanjian Lama.

 

Yoh 19:38-42 adalah respons yang Tuhan inginkan ketika kita mengerti ketiga hal di atas.

Cerita Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus mau menegaskan bagaimana kita harus meresponi akan panggilan Tuhan dan apa yang Tuhan sudah kerjakan bagi kita. Kalau kita membaca bagian ini secara sastra, peristiwa ini adalah sangat indah, karena cerita ini menunjukkan secara subtle, secara tidak terlalu jelas, bahwa kematian Kristus bukanlah akhir dari pada cerita. Sepertinya sudah selesai, mati diturunkan dan akan dikuburkan, semua gelap, menyedihkan, sendu, Kristus mati, murid-murid-Nya lari, orang-orang Yahudi menang. Tetapi di tengah kegelapan yang begitu gelap ada sesuatu yang terjadi yang signifikan, yang orang tidak pernah pikirkan.

 

Ini mau menunjukkan kematian Kristus adalah bukan akhir dari pada cerita. Munculnya Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, seolah-olah mengkontraskan dengan murid-murid yang lain. Murid-murid lari meninggalkan Kristus, sedangkan Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus datang kepada Kristus. Murid-murid tenggelam sedangkan Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus muncul ke permukaan di tengah-tengah keadaan yang gelap gulita itu.

 

Yoh 19:38 mengatakan Yusuf dari Arimatea itu murid Yesus tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang Yahudi. Mengapa dia sembunyi-sembunyi? Karena takut kepada orang Yahudi, kalau kita membaca Yoh 12:42-43, Yohanes menambahkan satu kalimat bahwa mereka takut kepada orang Yahudi karena mereka lebih suka penghormatan manusia daripada penghormatan dari Allah. Ini adalah kalimat penghakiman yang keras kepada mereka.

 

Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang mungkin belum betul-betul percaya kepada Tuhan. Ada yang percaya karena melihat mukjijat, dan ketika Yesus mengatakan kalimat yang keras, mereka lari, meninggalkan Kristus. Termasuk beberapa dari pada pemimpin agama, mereka percaya dan tergerak oleh perkataan Kristus tetapi mereka takut, sembunyi-sembunyi, karena mereka lebih mencari penghormatan manusia daripada penghormatan dari Allah.

 

Tetapi dalam bagian akhir ini, Yusuf dari Arimatea, yang tidak pernah dicatat sebelumnya, kemungkinan besar dia bertobat. Namun sekarang di saat murid-murid yang lain kabur, Yesus sudah mati di atas kayu salib, seperti tidak ada pengharapan dan tidak ada keuntungannya bagi dia untuk datang kepada Kristus namun di saat yang begitu gelap itu dia datang. Ini menunjukkan dia memiliki iman yang sejati. Injil yang lain juga menceritakan tentang Yusuf dari Arimatea, dia anggota majelis besar dan seorang yang menantikan kerajaan Allah, orang yang baik dan benar yang tidak setuju dengan putusan dan tindakan majelis itu untuk menghukum mati Yesus. Yusuf tadinya takut, sepertinya percaya, mendengar Injil, seperti secret disciple, karena dia lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah. Kemungkinan dengan seluruh peristiwa yang terjadi, mendengar perkataan Kristus di atas kayu salib, Roh Kudus bekerja di dalam hatinya. Yusuf kemudian mulai sadar dan percaya kepada Kristus, menyatakan imannya dan meminta mayat Yesus untuk dikuburkan.

 

Nikodemus, seorang farisi yang datang pada waktu malam kepada Yesus (lihat Yoh 3:1), dia membawa campuran mur dengan minyak gaharu kira-kira 34 kg rempah-rempah. Nikodemus mau menegaskan bahwa Kristus mati, dan dikuburkan sebagai seorang Raja. Ini adalah rempah-rempah yang sangat mewah yang hanya diberikan kepada seorang raja. Yusuf dan Nikodemus adalah orang-orang yang akhirnya percaya kepada Yesus pada akhir dari pada peristiwa ini.

 

JC Ryle mengatakan tentang bagian ini Ada orang-orang Kristen yang sangat lambat pertumbuhan imannya, tetapi kalau itu adalah iman yang sejati, pada saatnya nanti, pasti akan bertumbuh. We must not condemn others as christless and godless because they don’t see the whole truth at once, and only decided Christianity by slow degree. If he has the genuine work of the Spirit, we certainly hope that His grace will grow and we should deal with him gently, and bear with him charitably though at present, he may be in mere spiritual attainment. Ini adalah sesuatu point yang penting. Kadang-kadang kita melihat orang-orang Kristen yang sudah lama ke Gereja, tetapi tidak bertumbuh, hidup dan perkataannya tidak menjadi berkat bagi orang-orang. Kadang-kadang kita kesal kepada mereka, kita tidak tahu apa sebabnya, tetapi dengan contoh Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, biarlah kita boleh sabar kepada mereka.

 

Yang perlu kita ketahui apakah dia memiliki iman yang sungguh-sungguh, di dalam segala kelemahan mereka, masih iri hati, tidak bisa memaafkan, masih seperti bayi, kekanak-kanakan, bukan child-like tetapi childish. Biarlah kita sabar, terus mendorong dan mengasihi mereka, jangan paksa dia, karena belum waktunya. Seperti Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, ada waktunya kalau mereka betul-betul percaya kepada Kristus, Tuhan membentuk mereka. Biarlah kita berharap, mendoakan mereka, terus sabar, karena itulah kasih, ada waktunya nanti mereka bertumbuh menjadi berkat. Sesuatu mungkin terjadi, Tuhan beranugerah melalui peristiwa apa pun, melalui sakit, Tuhan membentuk hatinya, dan imannya bisa maju sekali, menjadi berkat dan teladan bagi orang-orang lain. Kita sangat bersyukur kalau hal itu terjadi.

 

Kalau saudara termasuk secret disciple, seperti Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, orang-orang tidak tahu bahwa saudara orang Kristen. Mungkin ke Gereja hari minggu, tetapi tidak nyata dalam hidupnya, begitu penuh dengan kerumitan, memikirkan diri sendiri, biarlah Tuhan mengingatkan saudara. Yusuf dan Nikodemus, memang dulunya sembunyi-sembunyi, tetapi sekarang firman datang kepada mereka. Mereka mengambil resiko dibenci seluruh anggota majelis yang lain. Kita tahu cerita selanjutnya, Saulus muncul, menangkap, memenjarakan dan membunuh murid-murid Kristus. Mereka termasuk orang yang mengalami hal itu. Tetapi sekarang mereka sadar Kristus sudah mati dan menyerahkan nyawa-Nya, Dia adalah domba Allah yang sudah tersembelih.

 

Mereka yang menjadi secred disciple, tidak sungguh nyata imannya, sesungguhnya banyak kerugiannya. Masih ada dosa yang mereka sayangi yang tidak mau lepas, itu rugi besar, karena mereka tidak mengalami pembentukan Tuhan yang maksimal di dalam hidup mereka. Tuhan mau bekerja, dengan anugerah, firman dan rencana-Nya yang baik, untuk memberikan hidup, dan hidup yang berkelimpahan. Mereka tidak mengalami hidup yang berkelimpahan itu.

 

Dalam kisah Yusuf (lihat Kej 39), ketika menjadi budak Potifar, Yusuf taat kepada Tuhan, ketika dia mendapat kesempatan untuk mendapatkan segala kekayaan, kebebasan, kenikmatan seksual, digoda oleh istri Potifar. Tetapi Yusuf tidak mau melakukan apa yang jahat di hadapan Tuhan, Yusuf terus menolak. Kita bisa membayangkan kalau dia tidak menolak, ada banyak keuntungan dan kenikmatan yang dia alami. Dia akan menikmati istri Potifar yang kemungkinan besar cantik dan kaya. Tetapi Yusuf tidak mau, karena dia tahu kalau dia melakukan semua itu dia akan kehilangan sesuatu yang paling berharga. Alkitab menegaskan seluruh hidup Yusuf, dengan segala tantangan, ketika dia dijual menjadi budak, di penjara karena dituduh memperkosa istri Potifar, sampai dia mati, ada satu kalimat yang terus ditegaskan. Yusuf menjadi berhasil, di mana pun dia berhasil, ketika menjadi budak Potifar, dia berhasil, ketika di dalam penjara, dia juga berhasil, semua yang dia kerjakan berhasil. Dia menjadi perdana menteri Mesir, dia berhasil, karena Tuhan menyertai dia. Yusuf sadar kalau dia tidak taat kepada Tuhan, dia mungkin mendapatkan keuntungan dan kenikmatan duniawi, tetapi kehilangan hal yang paling penting di dalam hidupnya.

 Kalau saudara masih menjadi secret disciple, menyimpan dosa, yang menghalangi saudara untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan sepenuh hati, maka biarlah saudara menyadari bahwa ada begitu banyak kerugian. Kalau Yusuf menerima tawaran istri Potifar, maka Yusuf tidak akan mengalami pembentukan Tuhan yang indah dalam hidupnya. Saudara tidak akan tahu betapa indah, mulia, dan hidup berkelimpahan, kalau tidak maju. Tuhan akan selalu menyertai dan memberikan anugerah melalui segala kesulitan dan tantangan. Bahkan di dalam penjara, Yusuf masih mengalami kesukaan karena Tuhan besertanya.

John Piper mengatakan, engkau mungkin bisa makan yang paling enak, tetapi masalah menikmati sepotong roti, engkau tidak bisa menikmati itu di luar anugerah Tuhan. Banyak orang kaya yang berhasil mendapatkan segala sesuatu, tetapi tidak bisa menikmati hasilnya. Biarlah kita boleh taat kepada Tuhan, melakukan kehendak Tuhan. Kalau saudara adalah secret disciple, biarlah muncul seperti Yusuf dari Arimatea, seperti Nikodemus. Itulah respons yang Tuhan inginkan, dan Tuhan akan menyatakan anugerah-Nya kepada saudara.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya