Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tiga Macam Kematian: Die in Sin, Die for Sin dan Die to Sin

Ibadah

Tiga Macam Kematian: Die in Sin, Die for Sin dan Die to Sin

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 7 Juli 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 19:16-22

Seorang hamba Tuhan mengatakan dia pernah melihat beberapa guru sekolah minggu berdebat untuk menjadi koordinator sekolah minggu dari 3 orang guru. Kalau kita melihat Injil Yohanes menjelang akhir hidup Yesus di tengah-tengah dunia ini, bagaimana Dia dianiaya, dihina, dan di salib, maka ini menjadi sangat bertentangan dengan semangat dan teladan Yesus Kristus, yang rela menyerahkan diri-Nya untuk dihina, bahkan untuk mati menebus dosa kita.

 

Dalam bacaan kali ini Yohanes membawa kita melihat kisah penyaliban Yesus Kristus secara unik, yang berbeda dengan Injil yang lain. Yohanes menekankan suatu motif yang unik, di mana Yesus disalibkan bersama dengan dua orang penjahat. Ini adalah fakta yang juga dituliskan dalam Injil yang lain, yang juga menyatakan ada tulisan di atas salib Kristus, yang intinya mengatakan bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi. Tetapi kalau kita membandingkan Injil Sinoptik dengan Injil Yohanes, maka Yohanes secara unik menyatakan bahwa kalimat itu ditulis dalam tiga bahasa: bahasa Ibrani, latin dan Yunani, sehingga semua orang di kota itu bisa membacanya.

 

Ini menjadi suatu catatan kecil yang kita mungkin susah melihat signifikansinya. Tetapi kalau kita melihat Injil Yohanes secara keseluruhan, maka kita akan melihat bahwa ini adalah sesuatu motif yang sangat penting dalam Injil Yohanes. Kalimat itu ditulis dengan tiga bahasa adalah motivasi yang besar yaitu bahwa Yesus Kristus bukan hanya mati bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi orang Romawi dan Yunani. Ketiga bahasa itu mewakili dunia pada waktu itu. Yohanes mau menekankan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia.

 

Injil Yohanes berulang kali menekankan hal ini: Yoh 1:9-12 “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”. Jadi motif Yesus datang adalah untuk menyelamatkan orang yang percaya kepada-Nya dari segala bangsa dan suku bangsa.

 

Dalam Yoh 1:29 ketika Yohanes pembaptis datang mengatakan “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Ayat ini berbicara tentang korban anak domba yang adalah motif yang penting dalam perjanjian lama. Anak domba sebagai korban Paskah adalah anak domba yang sempurna yang harus dipersembahkan kepada Allah. Namun Yohanes tidak mengatakan lihatlah Anak Domba Allah yang menebus dosa Israel. Tetapi Yohanes mengatakan lihatlah Anak Domba Allah yang menebus dosa dunia.

 

Dalam Yoh 3 ketika Yesus bercakap-cakap dengan Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi, Yesus mengatakan ayat yang terkenal (Yoh 3:16) “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.“ Sekali lagi motif Yesus sebagai Juruselamat dunia ditekankan dalam ayat ini.

 

Demikian juga Yoh 3:19 “Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.”

Dalam Yoh 4:1-42, ketika Yesus berbicara dengan perempuan Samaria. Kita mengetahui orang Yahudi sangat membenci orang Samaria; dan Yesus bukan hanya berbicara dengan orang Samaria, Yesus berbicara dengan perempuan yang pada konteks waktu itu juga rendah statusnya, dan perempuan itu juga memiliki reputasi yang tidak baik. Perempuan itu sudah mempunyai lima suami, dan dia sekarang tinggal dengan laki-laki yang bukan suaminya. Yesus tidak menghina perempuan Samaria, Yesus memberitakan Injil kepada dia, Yesus merendahkan diri-Nya, mengangkat dia dari dosa, untuk kemudian dia percaya kepada Kristus. Ketika dia percaya kepada Kristus, dia pulang ke kampungnya, dan mengajak orang-orang dikampungnya datang dan mendengarkan Yesus.  Kemudian mereka percaya kepada Kristus, dan inilah yang mereka katakan (Yoh 4:42) “Kami percaya , tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

 

Dalam Yoh 6:51, Yesus berbicara Dia sebagai roti hidup yang diberikan bagi hidup dunia.

Dalam Yoh 8:12 Yesus menegaskan bahwa Dia adalah terang dunia itu yang telah datang kepada dunia.

Dalam Yoh 10:1-16, Yesus berbicara tentang gembala yang baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Sewaktu Yesus menjelaskan siapakah domba-domba-Nya, maka domba-domba-Nya itu bukan hanya dari kandang ini (Israel) tetapi juga dari seluruh dunia. (Yoh 10:16) “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.”, domba-domba dari segala macam bangsa, bahasa dan suku bangsa.

 

Dalam Yoh 11:49-50, ketika Kayafas gelisah apa yang dapat mereka lakukan ketika Yesus semakin populer dan semakin banyak orang mengikuti Dia, Kayafas berkata “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Tetapi Yohanes menjelaskan kalimat Kayafas ini dari perspektif Tuhan, (Yoh 11:51) “Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.”

 

Secara keseluruhan, sangat sulit untuk membayangkan adanya cara lain yang lebih jelas untuk menerangkan jangkauan universal dari kematian Kristus. Kristus mati bukan hanya untuk orang Yahudi, dari pertama Kristus datang, dari rencana Allah untuk menyelamatkan dunia yang berdosa ini, kita sudah masuk ke dalam rencana Tuhan yang kekal. Dari segala suku bangsa, kita boleh percaya kepada Tuhan. Ini adalah suatu anugerah yang besar.

 

Pada waktu itu orang-orang Yahudi belum menyadari, hanya setelah kisah para Rasul (lihat Kis 11:1-18), mereka baru sadar bahwa Injil harus diberitakan bukan hanya kepada orang Yahudi, tetapi juga kepada seluruh bangsa dan bahasa, karena Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia ini.

 

Paulus berbicara tentang tulisan yang lain di atas kayu salib, yang tidak terlihat secara langsung. Ini adalah pengertian Teologis Paulus tentang kematian Yesus Kristus. Kol 2:13-14 “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukanNya pada kayu salib.” Ada satu tulisan lain yang dipaku di atas kayu salib, yaitu surat hutang. Surat hutang yang mendakwa kita, tuntutan hukum Taurat, yang menegaskan bahwa siapa yang berdosa harus dihukum mati. Ini adalah firman Tuhan yang kekal, yang suci, yang tidak boleh dilanggar.

 

Dalam film Narnia, ketika sang singa Aslan yang mewakili Kristus, bertemu dengan the white Witch yang jahat itu, yang sudah menangkap Edmund yang bersalah. Witch itu berkata kepada Aslan bahwa menurut hukummu sendiri Edmund harus dihukum mati. Maka Aslan mengatakan aku akan menggantikan Edmund, aku yang akan mati dan biarlah engkau melepaskan Edmund. Maka senang sekali the Witch itu, karena memang itulah tujuan utamanya: menghancurkan Aslan. Tetapi the Witch masih ragu betulkah Aslan akan menyerahkan dirinya, rela mati demi Edmund, seorang anak kecil yang sudah bersalah itu. Maka the Witch itu bertanya sekali lagi, Aslan, betulkah engkau mau mati, maka Aslan tidak berkata sepatah katapun, dia hanya mengaum dengan keras. Dengan auman itu, dia menegaskan bahwa saya adalah raja yang adil, yang tidak pernah melanggar satu titik pun dari perkataanku sendiri. Kalau aku mengatakan aku mau mati, maka aku menegaskan sekali lagi bahwa aku mau mati.

 

Itulah surat hutang yang mendakwa kita, dan di atas kayu salib itulah keadilan Allah ditegakkan. Sehingga di atas kayu salib, setiap kita yang percaya, beriman kepada Kristus, surat utang itu sudah dipaku di atas kayu salib, sudah dibayar dengan lunas. Dibayar lunas, bukan dengan emas, perak atau apa pun yang ada di dalam dunia ini, tetapi dengan darah Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus itu sendiri. Darah yang begitu mahal, sehingga surat hutang itu sudah lunas.

 

Tiga Macam Kematian

 

Ini membawa kita kepada tiga macam kematian di atas kayu salib. Ada dua orang penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Kristus. Ada tiga salib di Golgoga, dan tiga salib ini mewakili tiga macam kematian.

1) Mati di dalam Dosa

 

Kita mengetahui dari kitab Injil yang lain, bahwa dua penjahat di kiri dan kanan Yesus pada mulanya mereka ikut mengejek Yesus. Mereka mendengar ejekan pemimpin-pemimpin agama, dan orang-orang Yahudi yang menyalibkan Yesus, dan ikut mengejek Kristus (lihat Mat 27:39-44) “turunlah dari salib itu, kamu yang mengatakan engkau raja yang menyelamatkan dunia ini, selamatkan dirimu sendiri, bagaimana engkau bisa menyelamatkan dunia ini, kalau engkau tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri.” Mula-mulanya kedua penjahat ini ikut mengejek Kristus dengan mengatakan (Luk 23:39) “Bukankah engkau Kristus, selamatkanlah dirimu dan selamatkanlah kami.” Namun satu orang kemudian bertobat, tetapi satu orang lagi sampai mati dia tidak bertobat, sampai mati dia mengejek Kristus, meskipun dia juga dipaku di atas kayu salib karena dosa-dosanya.

 

Inilah jenis kematian yang pertama, orang yang menghina itu, sampai mati dia tidak percaya, dia adalah orang yang mati di dalam dosa, he died in sin. Dia mati karena dosa-dosanya dan sampai mati dia tidak bertobat dan tidak menerima Kristus.

 

2) Mati bagi Dosa

 

Jenis kematian yang kedua, Kristus mati bagi dosa-dosa kita. Christ died for sins. Ini adalah satu-satunya kematian yang diinginkan Allah, karena Kristus mati bukan karena dosa-Nya sendiri, tetapi Dia mati untuk menanggung dosa saudara dan saya. Dengan kematian-Nya, surat hutang itu dipaku di atas kayu salib, itu bukan surat hutang-Nya, Kristus adalah suci, berkenan kepada Allah, seluruh hidup-Nya memuliakan Bapa di surga. Tetapi ada hutang-hutang dari orang yang berdosa yang melawan Tuhan. Dia menanggung dosa manusia sehingga Dia mati bagi dosa-dosa kita, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, tetapi memperoleh hidup yang kekal.

 

3) Mati Terhadap Dosa

 

Penjahat yang kedua, meskipun awalnya dia turut menghina Kristus, tetapi sesuatu yang ajaib terjadi pada dirinya. Mungkin dia mulai sadar apa yang dikatakan Kristus. Kristus tidak pernah menghujat, memaki-maki, tidak pernah mengeluh, tidak mengatakan apa pun yang negatif. Tetapi kalimat yang keluar dari mulutNya adalah justru “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Seluruh kalimat yang begitu agung, begitu mulia memberikan pengertian yang dalam, sehingga kita tidak tahu detil apa yang terjadi pada diri penjahat itu. Tetapi yang pasti ini adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati penjahat yang kedua, yang membuka matanya sehingga dia menyadari dirinya berdosa, menyadari Kristus sama sekali berbeda dan sama sekali tidak bersalah. Maka dia justru menghardik temannya (Luk 23: 40-41) “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Dia kemudian memandang kepada Kristus dan berkata (Luk 23:42) “Yesus ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

 

Ini adalah sungguh-sungguh iman yang sejati yang keluar dari mulut penjahat itu. Dia sadar dan percaya bahwa Kristus akan datang sebagai Raja. Dia percaya kepada Kristus, ketika Yesus masih dipaku di atas kayu salib, masih menderita, sedangkan seluruh murid-murid-Nya termasuk Petrus menyangkali Yesus tiga kali. Yudas mengkhianati Kristus, dan murid-murid yang lain tercerai berai lari. Mungkin hanya Yohanes yang mengikuti peristiwa ini dari dekat, namun dia tidak pernah menyatakan imannya pada saat itu, hanya penjahat di atas kayu salib yang melihat Yesus begitu sangat menderita, dengan kelemahan, dan ketidakberdayaan. Maka imannya dibukakan dan mengerti, Dia bukan sembarangan orang, Dia tidak bersalah, seluruh kalimatNya, menyatakan Akulah Dia Juruselamat dunia, Raja yang pasti akan datang itu.

 

Penjahat itu mengatakan “Yesus ingatlah aku ketika Engkau datang sebagai raja.” Yesus langsung menjawab (Luk 23::43) “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Yesus mengatakan hari ini juga, bukan nanti, engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. Ini adalah jenis kematian yang ketiga, kematian dari  pada orang-orang yang percaya.

 

Kematian jenis yang pertama, kematian orang-orang yang tidak percaya, die in sin, di dalam dosa-dosanya. Kematian jenis yang kedua, Christ die for sin, Dia mati untuk dosa-dosa manusia.

Kematian yang ketiga meskipun dia mati, tetapi belum mati secara fisik, tetapi statusnya sudah berubah dia sudah mati terhadap dosa, die to sin.

Bagi kita, kematian kedua penjahat ini mewakili seluruh dunia ini. Tentu kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang tidak bisa diulang selama-lamanya. Tetapi manusia sepanjang jaman, hanya akan masuk ke dalam kedua jenis kematian: apakah sebagai orang-orang yang mati di dalam dosa, die in sin, atau orang-orang yang mati terhadap dosa, die to sin. Apakah terpisah selama-lamanya dengan dosa. Atau hidup di dalam dosa, dan mati pun di dalam dosa, terpisah selama-lamanya dari hidup yaitu Allah itu sendiri. Menerima hukuman dari dosa, dan mengalami kematian yang kekal, karena upah dosa adalah maut. Bukan hanya mati secara rohani, tetapi juga akan mati secara fisik, mereka mengalami kematian kekal, terpisah selama-lamanya dari hidup itu.

 

Dulu, kita juga sudah mati di dalam dosa-dosa kita, kita mengalami hidup baru dengan iman di dalam Kristus, dengan percaya kepada Kristus, dengan anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, kita boleh dipersatukan di dalam Kristus, sehingga kita sudah mati, manusia lama kita sudah mati terhadap dosa. Seperti Kol 2:13 yang mengatakan “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita”.

 

Inilah yang Tuhan inginkan bagi kita: kita yang beriman di dalam Kristus, kita harus menyadari hidup kita mati terhadap dosa, die to sin. Kita memang akhirnya mengalami kematian secara fisik, namun kita tidak lagi akan mengalami mati selama-lamanya di dalam dosa, tetapi kita akan mengalami kehidupan yang kekal, bersama-sama dengan Kristus. Die to sin ini bukan hanya terjadi nanti ketika kita mati, faktanya Alkitab menegaskan, hal ini sudah terjadi sekarang bagi kita yang ada di dalam Kristus. Dahulu engkau sudah mati di dalam dosa, sekarang engkau dihidupkan bersama-sama dengan Kristus. Ketika kita beriman kepada Kristus, kita sudah dipersatukan dengan kematian Kristus, manusia lama kita sudah mati, kita tidak berhubungan lagi dengan dosa, sekarang aku hidup namun bukan aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalamku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah, yang telah mengasihi aku, dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Kita yang beriman di dalam Kristus, adalah orang-orang yang telah mati terhadap dosa, die to sin.

 

Yesus adalah Raja

 

Yohanes menekankan Kristus bukan hanya Juruselamat dunia, kalimat yang tertulis di atas kayu salib, bukan menekankan Dia sebagai Juruselamat, tetapi menegaskan bahwa Dia sebagai Raja (Yoh 19:19) “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” di dalam tiga bahasa. Ini menekankan Kristus bukan hanya Juruselamat dunia, tetapi Dia juga adalah Raja bagi seluruh aspek hidup manusia, Raja di atas segala Raja, Tuhan di atas segala yang dipertuan.

 

James Boyce mengatakan bahwa tiga bahasa ini mewakili keseluruhan kebudayaan hidup manusia. Ibrani adalah sumber dari agama dan moralitas.  Yunani adalah sumber ilmu pengetahuan, kebudayaan dan filsafat. Filsuf-filsuf yang paling besar, berasal dari Yunani, kebudayaan yang tinggi muncul dari Yunani. Agama, moralitas dari Ibrani, sepuluh hukum Allah, Taurat sumber daripada agama-agama.  Romawi adalah sumber dari hukum, politik dan pemerintahan. Ketiga hal ini mewakili segala aspek hidup manusia.  

Pilatus menulis kalimat itu dalam tiga bahasa sebagai bentuk protes dan perlawanan kepada pemimpin Yahudi. Kemudian pemimpin Yahudi juga tidak setuju dengan itu, mengapa engkau menulis seperti itu, Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi; seharusnya engkau menulis, Dia mengatakan bahwa Dia orang Yahudi. Mungkin Pilatus menganggap kalimat itu terlalu panjang, dan Pilatus mengatakan (Yoh 19:22) “Apa yang kutulis, tetap kutulis.”

 

Seorang penafsir mengatakan ini adalah kalimat terakhir dari Pilatus, setelah itu Pilatus tidak mengatakan apa pun. Ini menegaskan suatu perlawanan Pilatus kepada orang-orang Yahudi yang terus menekan dia. Pilatus sudah mengetahui Yesus tidak bersalah, dan Pilatus ingin membebaskan Yesus. Pilatus berkali-kali mengatakan bahwa Yesus tidak bersalah, “haruskah aku menyalibkan Rajamu”. Pilatus terus ditekan, dan rasanya sudah susah sekali, tetapi kalimat terakhir Pilatus ini seperti mengembalikan kuasanya, apa yang kutulis tetap tertulis. Di dalam seluruh peristiwa ini, ada pekerjaan Tuhan yang tidak bisa diubah lagi.

 

Kalimat itu sudah tertulis dan tidak bisa diubah lagi “Yesus Kristus dari Nazaret, Raja orang Yahudi” di dalam tiga bahasa. Ini menegaskan bahwa Kristus adalah Raja, Tuhan yang dipertuan. Ini adalah cara ironis Injil Yohanes yang menyatakan bahwa Kristus yang diejek, dipaku, dianiaya, yang kemudian dimatikan sebagai raja, diolok-olok sebagai raja, Dia sesungguhnya adalah Raja.

 

Pertanyaan refleksi bagi kita adalah apakah Kristus juga adalah Raja bagi hidup kita, apakah Kristus adalah juga Tuhan bagi hidup kita. Yohanes ingin menekankan itu bagi kita hari ini, meskipun Kristus diolok-olok, kelihatan kalah, tidak berdaya, tetapi sesungguhnya apa yang terjadi pada diri Kristus, menegaskan bahwa Dia adalah Juruselamat dunia, bahwa Dia adalah Raja seluruh alam semesta.

 

Biarlah kita semua yang sudah beriman kepada Kristus, dipersatukan di dalam Kristus, yang sudah mati terhadap dosa, biarlah kita bukan hanya menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang sudah menyelamatkan kita dari dosa. Tetapi kita juga harus menerima Dia sebagai Raja kita, Tuhan kita.

 

Kalau kita hanya menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita dan tidak pernah menerima Dia sebagai Tuhan ,sebenarnya kita tidak pernah menerima Dia sebagai Juruselamat kita. Kalau hidup kita sehari-hari, bagaimana kita memakai waktu kita, pekerjaan kita, segala apa pun yang kita miliki tidak ada hubungannya dengan iman kita, tidak ada hubunganya dengan Kristus, sama saja dengan orang dunia yang tidak mengenal Tuhan. Apa artinya Kristus Raja dan Tuhan, artinya Dia berkuasa atas seluruh hidup kita. Kalau kita tidak menerima Kristus sebagai Raja kita, kemungkinan besar kita tidak pernah menerima Dia sebagai Juruselamat kita. Karena Kristus dipaku di atas kayu salib, Dia bukan hanya Juruselamat dunia, Dia adalah Raja dari pada seluruh kebudayaan, Raja dari pada seluruh aspek hidup kita.

 

Saya melihat orang-orang Kristen yang pergi ke Gereja hidupnya bersifat dualisme. Di Gereja, di hari minggu, mereka aktif melayani, sepertinya baik, memuji Tuhan, tetapi hari-hari yang lain, hidup mereka tidak memuliakan Tuhan. Seolah-olah mereka mengatakan aku percaya kepada Kristus, tetapi dalam hidup sehari-harinya, Tuhan ada atau tidak ada, betul-betul tidak ada bedanya. Sewaktu sedang konflik dengan suami atau istri, menusuk dan menghina dengan kalimat-kalimat yang tajam, di mana Tuhan? Engkau membenarkan dirimu sendiri, di mana Tuhan? Setelah mengalami sakit, yang ada di pikiran adalah bagaimana cari obat atau dokter yang bagus. Tentu tidak salah mencari dokter yang bagus, tetapi kalau itu adalah respon yang terutama dari hati kita, maka kita menyianyiakan peristiwa itu.

 

John Piper mengatakan don’t waste your cancer, kalau engkau sakit kanker dan belajar tentang kanker jauh lebih banyak daripada belajar tentang Tuhan, you waste your cancer. Tentu tidak salah mencari solusi yang baik tetapi yang paling utama adalah berseru kepada Tuhan. Kalau engkau tidak bergumul dengan Tuhan, berseru kepada Tuhan, maka sesungguhnya engkau bergumul seperti orang dunia ini. Kalau engkau sebagai anak Tuhan tidak menyadari bahwa  Tuhan pun berdaulat atas sakit kanker, maka you will waste your cancer. Tetapi don’t waste your cancer, don’t waste your life, karena di dalam hidup kita Tuhan Kristus bukan hanya juruselamat, Dia bukan hanya perduli dengan hidup kita supaya kita mempunyai hidup kekal nanti, bertemu-muka dengan muka.

 

Hidup kekal itu, die to sin, mati terhadap dosa, itu sudah mulai sejak kita menerima Kristus dalam hidup kita. Perubahan ajaib itu harus betul-betul terjadi sejak Yesus di hatiku. Ketika aku menerima Dia, terjadi perubahan yang ajaib, dulu aku adalah mati di dalam dosa, adalah hamba dosa tetapi Kristus di dalam aku, maka hidupku yang adalah hamba dosa itu, dipakukan di atas kayu salib, namun aku hidup tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku.

 

Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan, boleh mengerti bahwa Dia bukan hanya Juruselamat kita, Dia juga sebagai Tuhan dan Raja kita. Hal ini harus terpancar di dalam seluruh hidup kita, bagaimana kita memakai waktu kita, bagaimana kita mengatur hidup kita. Biarlah orang-orang boleh menyadari melalui hidup kita, Tuhan itu sungguh hidup. Orang lain akan ingin tahu mengapa kamu hidup seperti ini, kalau orang-orang yang tidak mengenal Tuhan mengerti cara kita mengatur hidup, mengatur uang, mendidik anak-anak kita, orang-orang dunia ini seharusnya mulai curious mengapa engkau menghabiskan waktumu di Gereja dan pelayanan, dan bukan bersenang-senang.

 

1 Petrus 3:15 mengatakan “siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu”. Artinya kalau engkau hidup mempertuhan Kristus di dalam hatimu, kuduskanlah Tuhan di dalam hatimu, maka siap sedialah setiap saat untuk memberi pertanggungan jawab atas pengharapan dan imam yang ada padamu. Hati adalah sumber hidup manusia, sumber mata air hidup kita, dari hati terpancar hidup kita, tindakan kita, emosi kita. Hati yang dikuasai oleh Kristus artinya seluruh hidup kita mempermuliakan Kristus. Kalau engkau mengkuduskan Kristus di dalam hatimu maka siap sedialah setiap saat, orang akan pasti bertanya, mengapa engkau membesarkan Tuhan seperti itu.

 

Karena bagi dunia, Tuhan begitu kecil, tidak ada artinya, di tengah-tengah kota yang sangat aman, sepertinya Tuhan tidak ada manfaatnya sama sekali, Engkau tidak membaca Alkitab, namun hidup seperti biasa saja dan semua ditanggung asuransi. Apakah engkau masih membutuhkan Tuhan. Untuk makan, apa artinya berikan kepadaku hari ini makananku yang secukupnya, karena di kulkas, kita tahu ada makanan untuk satu minggu. Sepertinya kita tidak membutuhkan Tuhan di tengah-tengah dunia yang sangat sekuler ini.

 

Tetapi kalau hidup kita menyadari bahwa Kristus adalah Juruselamat dan Tuhan, kita boleh menyadari dalam seluruh hidup kita bahwa di luar Kristus aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika kita menyadari itu, kita makin bersandar kepada Dia, datang dan berdoa, membaca firman, tanpa firman aku akan mati. Bergantung seperti ranting pohon anggur yang menempel pada pokok anggur. Kalau kita terpotong dari pokok pohon anggur itu, maka kita akan mati. Di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa.

 

Salah satu hal yang membuat kita sadar akan hal itu adalah ketika kita ikut dalam pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita. Dalam pelayanan, kita akan sadar saat kita berjuang, tanpa anugerah Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Cobalah beritakan Injil kepada satu orang, membawa dia kepada Tuhan, kita akan tahu kita tidak bisa melakukan itu tanpa anugerah Tuhan. Kita harus menyadari Kristus adalah Tuhan. Kalau kita hidup seperti ini, maka seperti 1 Petrus 3:15 katakan, seharusnya orang akan bertanya mengapa engkau hidup seperti demikian, siap sedialah untuk memberi pertanggungan jawab atas pengharapan yang ada padamu. Artinya engkau akan menjawab atas pertanyaan orang orang dunia.

 

Tetapi masalahnya seringkali orang-dunia tidak bertanya, karena kita hidup kita sama saja dengan mereka. Ini menjadi problem.

 

Biarlah kita diingatkan, Kristus bukan hanya mati sebagai Juruselamat kita, bukan hanya mati untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, tetapi Dia juga mati dan bangkit menjadi Raja dan Tuhan kita. Biarlah melalui hidup kita, Tuhan itu betul-betul hidup melalui apa yang kita kerjakan. Di dalam dunia ini Tuhan dianggap begitu kecil, begitu hina, menjadi lelucon-lelucon di meme-meme yang ada, menjadi trivial-trivial sekali.

 

Biarlah kita boleh membesarkan Tuhan seperti melihat bintang melalui teleskop. Bintang yang terlihat kecil itu, sebenarnya besar sekali. Bukan membesarkan Tuhan seperti melihat dengan mikroskop, kelihatan besar, tetapi sebenarnya kecil. Tuhan begitu besar, seperti bintang yang jauh lebih besar daripada bumi, tetapi Dia kelihatan begitu kecil karena jauh sekali. Biarlah hidup kita seperti teleskop, memperlihatkan Tuhan yang sepertinya begitu kecil itu, tidak berarti, tidak berguna dalam hidup manusia, sebenar-benarnya adalah sangat besar. Karena sesungguhnya Tuhan itu begitu besar.

Biarlah hidup kita membesarkan Tuhan melalui segala aspek hidup kita, melalui pekerjaan kita, melalui pelayanan kita. Biarlah orang lain melihat Tuhan itu begitu penting, begitu besar dalam hidup kita. Tuhan seperti apakah yang engkau sembah dan percaya, dan mereka boleh mendengar apa yang engkau katakan. Biarlah firman kali ini boleh menegur kita untuk memuliakan Kristus sebagai Tuhan di dalam hidup kita. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya