Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Lihatlah Manusia Itu

Ibadah

Lihatlah Manusia Itu

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 30 Juni 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 19:1-16

Ada suatu lukisan yang diambil dari bacaan Alkitab ini: Ecce Homo oleh Antonio Ciseri. Di dalam lukisan itu menggambarkan Pilatus dari belakang, dan Yesus ada di sampingnya, Pilatus yang ada di atas mimbar berkata kepada orang Yahudi yang ada di bawah: “Ecce Home!” / “Behold the man!” / (Yoh 19:5) “Lihatlah Manusia itu!”. Di lukisan itu ada dua perempuan, istri Pilatus dan dayang-dayangnya. Istri Pilatus bergumul berat karena dalam Injil yang lain diceritakan bahwa Istri Pilatus berkata kepada Pilatus (lihat Mat 27:19), kamu jangan apa-apakan Dia, susah sekali aku tadi malam di dalam mimpiku, karena orang yang benar itu. Namun salah satu kritikan pada lukisan itu adalah dalam lukisan itu tidak ada luka-luka di pundak Yesus, padahal peristiwa Ecce Homo itu adalah setelah Yesus disesah, dihajar, dicambuk.

 

Kali ini kita akan merenungkan perkataan Pilatus ini “Ecce Homo” / “Behold the Man”, / “Lihatlah Manusia itu!”. Allah yang telah menjadi manusia, Yesus Kristus, karena kasih-Nya yang besar itu, Dia rela dihina, dipermainkan, disiksa, memberikan nyawa-Nya menebus dosa kita. Kita perlu merenungkan hal ini supaya kita makin mengerti akan kasih-Nya yang begitu besar. Bukan hanya mengerti tetapi juga mengalami di dalam hidup kita, sehingga hidup kita didorong untuk menjadi serupa dengan hidup Kristus. Karena Kristus mengatakan (lihat Luk 9:23) barangsiapa mengikut aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku.

Ada tiga aspek yang boleh kita mengerti akan hal ini.

1) Memandang Penderitaan Kristus

 

Hal yang pertama yang dapat kita lihat, adalah penderitaan-Nya yang besar bagi kita. Yoh 19:1 mengatakan “Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya.” Di sini sebenarnya Pilatus mempunyai tujuan supaya setelah menyesah Yesus, dan memperlihatkan Yesus kepada orang Yahudi, maka setelah melihat penderitaan yang sudah Yesus alami, berharap orang Yahudi akan berubah pikiran. Dengan menyesah Kristus, Pilatus ingin menemukan jalan keluar untuk membebaskan Kristus, karena Pilatus tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya.

 

Kita mengetahui cambuk Romawi adalah cambuk yang mengerikan. Cambuk yang kalau mengenai kayu, kayu bisa copot, apalagi kalau mengenai badan manusia. Ini adalah penderitaan yang besar yang Yesus alami.  Bahkan dalam sejarah, banyak orang yang sebelum disalib, sudah mati karena dicambuk dengan cambuk Romawi yang sangat mengerikan itu, karena darah mengalir dan mereka kehabisan darah.

 

Yoh 19:2-3 juga menyatakan penghinaan bagi Yesus Kristus, mereka mengolok-olok Yesus Kristus. Setelah mencambuk dan menyesah, mereka menancapkan mahkota duri di atas kepala-Nya dan mengenakan jubuh ungu, yang merupakan simbol suatu yang sangat terhormat. Mereka mengolok-olok, satu-per-satu, mereka bergantian menunduk kepada Kristus, dan kemudian menampar muka-Nya. Di dalam Injil Sinoptik (lihat Mat 27:29-30), juga dikatakan Kristus diberi satu tongkat (buluh) seperti tongkat kerajaan, tetapi kemudian mereka berdiri dan memukulkan tongkat itu ke kepala Kristus. Kemungkinan besar ketika tongkat itu dipukul, mengenai mahkota duri, dan duri itu menancap lebih dalam ke kepala Kristus.

Inilah Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, yang rela diperlakukan secara demikian. Kita membayangkan saja bagaimana kalau orang yang kita hormati mengalami apa yang Kristus alami, itu akan menjadi susah sekali bagi kita. Kita bisa membayangkan ayah kita mengalami hal itu, ini menjadi kesulitan yang besar. Tetapi ini bukan ayah, bukan manusia biasa, namun Dia adalah pencipta langit dan bumi, Dia adalah Tuhan, Raja di atas segala raja, Dia rela mengalami penderitaan sedemikian.

 

Sewaktu kita memandang pada penderitaan Kristus, Alkitab memberikan arah hati, tujuannya adalah supaya kita mengasihi Dia, supaya kita menyadari betapa Dia mengasihi kita. Karena dengan segala penderitaan-Nya itu Dia rela mati untuk untuk menebus kita dari segala dosa kita. Yes 53:3-5 memberikan gambaran yang jelas

 

“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

 

Kita disembuhkan pertama-tama dari penyakit rohani, Dia rela melakukan itu semua. Betapa Dia mengasihi saudara dan saya, oh how He loves you and me, karena Dia tahu itu adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kita. Dia menanggung murka Allah, akibat dari pada dosa-dosa kita.

 

Knox Chamberlain mengatakan sewaktu dia menonton film the Passion of The Christ, saat Yesus dicambuk, digambarkan algojo-algojo yang badannya kekar dan kuat, mereka mencambuk Kristus berkali-kali sampai mereka sendiri capai. Maka Knox ketika melihat itu mengatakan please stop, please stop. Suatu kali pemeran utama film itu Jim Caviezel, diwawancara, dia ditanya mengapa film itu penuh dengan kekerasan, kekejaman, dan kekejian. Maka jawabnya apa yang kamu katakan itu betul sekali film itu penuh kekerasan, penuh kekejian, penuh kengerian, namun itulah dosamu dan dosa saya. Kristus harus mengalami itu untuk menanggung dosa saudara dan saya. Inilah kasih Tuhan yang begitu besar.

Ketika kita memandang penderitaan-Nya dan sungguh-sungguh memahami dan menghidupi kasih-Nya kepada kita, maka itu akan memberikan dampak yang besar sekali di dalam hidup kita. Ketika kita disalah mengerti, diejek karena iman kita, ditegur mungkin karena bukan kesalahan kita, maka kita akan ingat dan sadar bahwa itu tidak bisa dibandingkan dengan penderitaan Kristus. Kadangkala kita menjadi marah sekali kalau kita diperlakukan secara tidak adil dlsb. Ketika kita melihat kepada Dia, Ecce Homo, memandang penderitaan-Nya maka itu sungguh sungguh mengubah akan hati kita.

 

Suatu kali ada guru sekolah minggu yang bercerita kepada temannya bahwa dia kecewa kali karena ditegur karena kurang persiapan, dan mulai hari itu dia tidak mau mengajar lagi. Temannya itu kemudian bertanya sewaktu kamu ditegur, kamu dihina tidak, kamu diludahi tidak, kamu ditampar tidak, ya tidaklah, dan langsung dia sadar. Itulah yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Biarlah ketika kita memandang Kristus, memandang segala apa yang kita alami, tidak ada apa pun yang bisa dibandingkan dengan apa yang sudah Yesus alami bagi kita.

 

John Huss, seorang pra-reformator, kira-kira 100 tahun sebelum Martin Luther, dengan perjuangan yang mirip Martin Luther, akhirnya ditangkap dan dituduh menyebarkan ajaran sesat. Padahal dia memberitakan firman dengan kebenaran. Ketika dia diikat dan akan dibakar, dia diberi kertas cacian di atas kepalanya, dia mengatakan Yesus Tuhan Kristus Tuhanku, Dia telah mengenakan mahkota duri, karena aku, mengapa aku tidak rela menerima mahkota penghinaan ini karena nama-Nya. Bahkan menurut sejarah dia menyanyi pujian sewaktu dibakar sampai mati.

 

Pandanglah Kristus, pandanglah wajah-Nya yang mulia, maka seluruh dunia menjadi suram oleh sinar kemuliaan-Nya. Ketika memandang kepada Kristus, mengerti dan mengenal Dia, maka Dia akan menembus hati dan menguasai hidup kita. Kita akan rela mengalami kesulitan, penderitaan, salah-pengertian, dlsb. Tidak ada apa pun kerugian kita yang bisa dibandingkan dengan penderitaan Kristus bagi kita.

 

Bukan berarti kita membiarkan orang yang bersalah itu melakukan hal itu kepada kita. Kita tetap harus mengatakan kebenaran. Paulus mengajarkan (lihat Roma 12:21) kalau orang melakukan kejahatan engkau harus balas, tetapi balaslah dengan kebaikan. Bukan berarti kita menerima begitu saja, Alkitab dengan tegas kita harus membalas, namun membalas dengan kebaikan. Kita menerima kejahatan itu bukan secara pasif tetapi harus melakukan sesuatu untuk mewartakan kebenaran kepada dia, membawa pertobatan kepada dia.

 

Tuhan Yesus meskipun Dia rela mengalami segala penderitaan itu, Dia dengan aktif melakukan kebaikan bagi saudara dan saya. (Luk 23:34) “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” di dalam kesakitan dan penderitaan-Nya, Dia berdoa untuk kebaikan dan pengampunan dari musuh-musuh-Nya. Pandanglah kepada Kristus, marilah memandang Dia, mengenal Dia, mengerti kasih-Nya, dan biarlah kasih-Nya mengubah seluruh hidup kita.

 

2) Memandang Kekudusan Kristus

 

(Yoh 19:4) Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Pilatus berkata untuk ketiga kalinya dia berkata bahwa aku tidak mendapatkan kesalahan apa pun dari pada-Nya. Kristus keluar dengan bermahkota duri, berjubah ungu, dan Pilatus mengatakan lihatlah manusia itu. Pilatus berharap penderitaan Kristus itu bisa meredakan kemarahan orang Yahudi. Sebelumnya Pilatus sudah mengatakan bahwa Kristus adalah tidak bersalah. Yoh 18:38b “(18-38b) Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.”

 

Bukan hanya Pilatus yang menyatakan bahwa Yesus tidak bersalah, dari bagian Injil yang lain maka kita tahu bahwa Kristus adalah pribadi yang tidak bersalah, dan itu dinyatakan bukan oleh orang-orang yang membela Dia, tetapi juga dari orang-orang yang membenci Dia. Yudas mengatakan (lihat Mat 27:24) “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tidak bersalah.”. Yudas yang mengkhianati Kristus, dia akhirnya sadar mengaku dia telah bersalah, berdosa menyerahkan Orang yang tidak bersalah itu. Yudas mengembalikan uang untuk harga penghianatan itu. Mulut Yudas sendiri menyatakan bahwa aku telah berdosa menyerahkan Orang yang tidak bersalah. Istri Pilatus mengatakan kepada Pilatus, jangan kamu mencampuri urusan orang benar itu sebab karena Dia, aku sangat menderita di dalam mimpi tadi malam. Herodes yang sebenarnya tidak perduli sama sekali kepada Kristus, Herodes pun tidak menemukan kesalahan apa pun pada Kristus.

 

Kedua penjahat yang disalib bersama-sama dengan Kristus, pada mulanya mereka mengejek Kristus(lihat Luk 23:39-43), “Turun dari salib selamatkan dirimu dan selamatkan juga kami.” Tetapi salah satu dari penjahat itu mulai sadar dan mulai menegur temannya yang terus mengejek itu. Penjahat itu mengatakan kita memang selayaknya dihukum karena dosa dan kejahatan kita, tetapi Dia tidak melakukan kesalahan apa pun.

 

Kepala pasukan, centurion, yang menyalibkan Kristus, ketika melihat bagaimana Kristus mati, maka dia mengatakan (lihat Luk 23:47) sungguh orang ini adalah orang benar.

 

Kesaksian-kesaksian dari  Pilatus, dari Yudas, istri Pilatus, Yudas, Herodes, dari penjahat yang di salib, dari kepala pasukan, dari mereka yang sepertinya paling tidak mungkin mengatakan bahwa Kristus tidak bersalah, tetapi dari mulut mereka keluar pengakuan bahwa Kristus memang adalah orang benar.

 

Biarlah kita memandang kepada Kristus yang disalibkan itu, bukan hanya Dia mati bagi kita, bukan hanya Dia mengasihi kita, namun Dia adalah juga satu-satunya pribadi yang tidak bersalah, yang kudus itu.

 

Banyak orang yang mati di atas kayu salib, tetapi kalau orang itu berdosa maka kematiannya itu tidak memberi faedah apa pun bagi kita. Tetapi Kristus adalah satu-satunya pribadi yang kudus dan suci yang tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi Dia justru mati untuk menanggung dosa kita. Sehingga melalui Kristus, yang benar itu, melalui kematian-Nya, Dia dijadikan dosa karena kita, supaya kita yang beriman di dalam Kristus boleh dibenarkan oleh kematian-Nya bagi kita.

 

Kita melihat juga kekudusan Kristus, yang benar itu, dikontraskan secara ironis dengan kejahatan dan kerusakan orang-orang Yahudi yang khususnya diwakili oleh imam kepala. Pilatus menyesah Kristus dan membawanya ke orang-orang Yahudi dengan tujuan supaya memunculkan belas kasihan mereka atas penderitaan seorang yang tidak bersalah. Tetapi perhitungan Pilatus salah besar ,orang-orang Yahudi yang dihasut oleh imam kepala, adalah orang-orang yang sudah haus darah. Ketika melihat Yesus yang sudah berdarah-darah, mereka bukannya memiliki belas kasihan tetapi mereka berkata salibkan Dia, salibkan Dia. Maka Pilatus berkata (Yoh 19:6) "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Sekali lagi Pilatus mengatakan bahwa Yesus tidak bersalah. Kita melihat bagaimana imam kepala tidak berhenti sampai di situ, mereka terus menuntut sampai Kristus disalibkan di atas kayu salib.

 

Yohanes memberikan suatu kontras yang menggambarkan bagaimana Kristus yang suci dan kudus itu berhadapan dengan orang-orang yang begitu jahat, yang hatinya dipenuhi dengan dosa dan haus darah. Yoh 1:10-11 sudah mengatakan hal itu bahwa Kristus itu telah ada di dalam dunia, dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Dunia ini menolak Dia dan bahkan berusaha membunuh Dia. Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

 

Yang sangat ironis dari teriakan haus darah dari pemimpin-pemimpin Yahudi adalah bahwa teriakan itu dilontarkan oleh orang-orang yang seharusnya membawa kebenaran dan terang di dalam dunia ini. Mereka adalah imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, pemimpin-pemimpin yang paling besar dari orang-orang Yahudi, yang sangat beragama itu, tetapi justru mereka memimpin orang-orang Yahudi untuk menyalibkan Kristus. Di sini juga kita melihat ada unsur politik dari Pilatus, namun juga ada unsur agama. Di jaman ini kita juga sering melihat pemimpin-pemimpin agama, seperti imam-imam kepala, yang menghasut masyarakat, namun seluruhnya menjadi budak dari politik. Keputusan-keputusan agama mereka berubah-ubah, menjadi alat politik untuk mencapai tujuan mereka.

 

Kita boleh melihat apa yang terjadi pada Kristus yang tidak bersalah itu. Tuhan Yesus mengatakan (Yoh 19:11) “Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.” Kayafas dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi seharusnya memimpin orang-orang Yahudi kepada kebenaran, kepada terang itu. Tetapi justru mereka menindas kebenaran, mereka melakukan kelaliman dan kejahatan yang begitu besar. Pilatus juga bersalah, tetapi dia tidak mempunyai kebencian dan kemarahan terhadap Kristus.  Pilatus sebenarnya ingin membebaskan Kristus, karena itu Kristus berkata “dia yang menyerahkan Aku kepadamu lebih besar dosanya.” khususnya mereka yang telah menerima Taurat dan para Nabi.

 

Mereka ahli-ahli Taurat, ahli-ahli Perjanjian Lama, imam-imam yang mengerti akan firman Tuhan yang diberikan melalui Perjanjian Lama. Seharusnya mereka mengerti itu, seluruh nubuatan Perjanjian Lama menuju kepada Kristus. Tetapi ketika Kristus datang, mereka menyalibkan penggenapan dari seluruh Perjanjian Lama itu.

 

Biarlah kita yang memandang kepada kekudusan-Nya yang suci dan kudus, mendorong kita untuk hidup kudus, hidup berkenan kepada Tuhan. Di dalam akhir jaman ini, maka orang-orang yang suci, yang kudus akan semakin kudus, semakin taat kepada Tuhan; tetapi dunia ini akan semakin jahat dan ini menjadi semakin kontras di jaman terakhir ini. Ketika kita memandang kepada Kristus, melihat kekudusan-Nya, maka kita pun terdorong untuk terus hidup kudus, karena tidak ada daerah yang netral.

 

Apakah kita maju terus atau kita mundur mengikuti arus dunia ini.  Kita sudah dikuduskan melalui darah-Nya yang sudah dicurahkan di atas kayu salib. Meskipun kita sudah dibenarkan di hadapan Tuhan, biarlah berita ini, mendorong kita untuk dikuduskan lagi, menjadi semakin kudus dan berkenan di hadapan Tuhan. Meskipun status kita sudah kudus, Tuhan sudah menyucikan kita dengan darah Anak-Nya yang tunggal mati bagi kita, tetapi pikiran, hati dan perbuatan kita belum seluruhnya kudus. Tuhan ingin kita terus maju, semakin kudus, semakin berkenan kepada Tuhan dan memuliakan Tuhan.

 

3) Memandang Kemuliaan Kristus

 

Injil Yohanes penuh dengan gambaran yang bersifat ironis, yang mengatakan kalimat yang memberikan suatu arah tetapi artinya persis bertentangan dengan itu. Yohanes memberikan banyak contoh yang bersifat ironis. Berkali-kali orang-orang yang melawan dan ingin membunuh Kristus, mengatakan, melakukan sesuatu yang sesuai dengan kejahatan hati mereka. Namun tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka sedang menyatakan kebenaran Allah yang betul-betul akan terjadi, yang mereka tidak sadar.

 

Kayafas, imam besar Yahudi mengatakan (lihat Yoh 11:50-52) lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa binasa. Kayafas tentu bermaksud untuk membunuh Yesus, karena kalau tidak, akan ada kekacauan yang besar, dan mungkin juga penguasa Romawi akan datang menghentikan kekacauan ini dan akan banyak pembunuhan. Jadi lebih baik mereka bunuh Yesus. Yohanes mencatat bagian itu dengan mengatakan apa yang dikatakan Kayafas itu akan benar-benar terjadi tetapi dengan maksud yang benar-benar berbeda dengan apa yang Kayafas maksudkan. Yohanes mencatat betul sekali bahwa Yesus akan mati, dan lebih baik Dia mati, karena kalau Dia tidak mati, maka kita semua akan binasa di dalam dosa-dosa kita. Kalau Dia tidak mati, maka seluruh bangsa akan binasa, seluruh umat manusia akan binasa.

Kalimat itu ironis, Yohanes mengatakan itu benar, tetapi dengan maksud yang betul-betul berbeda dengan maksud Kayafas.

 

Yohanes juga mencatat hal ironis lainnya, Dia yang diolok-olok sebagai raja sesungguhnya adalah Raja di atas segala raja, dan Tuhan di atas segala Tuhan. Sewaktu Yesus diberi mahkota duri, jubah ungu, diberi tongkat kerajaan, dengan maksud menghina Dia, tetapi Yohanes mengatakan sesungguhnya Dia adalah Raja.

Ketika Pilatus membawa Yesus di atas balkon dan berkata kepada rakyat di bawah “Lihatlah manusia itu.” Seorang penafsir mengatakan “Lihatlah Raja itu dengan mahkota duri.” Dia adalah raja yang sesungguhnya, Dia yang dihina sebagai raja, sesungguhnya adalah Raja segala raja. Hal ini semakin jelas dengan percakapan Kristus dengan Pilatus, (Yoh 19:8-11):

 

“Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia, lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya."

 

Secara sekilas, perkataan Pilatus adalah benar, bahwa Pilatus berkuasa untuk membebaskan atau menyalibkan Kristus. Karena kita tahu bahwa Pilatus lah yang berkuasa di daerah itu pada saat itu, dan orang Yahudi tidak diperbolehkan untuk membunuh, hanya Pilatus yang bisa menentukan nasib Kristus. Tetapi kita mengetahui secara lebih dalam, maka sebenarnya sesungguhnya perkataan Yesuslah yang benar bahwa Pilatus tidak mempunyai kekuasaan apa pun terhadap-Nya, kalau kuasa itu tidak diberikan kepada Pilatus dari atas. Tuhan Yesus di sini mengatakan di dalam keadaan yang begitu lemah, tidak berdaya, dan seperti tidak mempunyai kekuatan apa2, Kristus sesungguhnya berkuasa atas keadaan itu.

 

Ini adalah hal ironis yang ditunjukkan dalam Injil Yohanes. Sesungguhnya Yesus mengatakan kepada Pilatus, engkau adalah alat di tangan Tuhan yang berdaulat. Engkau tidak bisa melakukan apa pun jika Tuhan tidak mengijinkan engkau melakukan itu kepada-Ku. Jikalau Aku tidak menyerahkan nyawa-Ku, engkau tidak akan bisa melakukan apa pun kepada diri-Ku. Di hadapan Pilatus yang sangat berkuasa itu, sesungguhnya Tuhan Yesus jelas sangat berkuasa, dan Dia mengerti semua apa yang sedang terjadi.

 

Yoh 19:12 menyatakan “Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar.". Ini merupakan ancaman kepada Pilatus, bahwa kalau Pilatus membebaskan Yesus yang menganggap dirinya sebagai raja maka Pilatus sedang melawan raja yang sesungguhnya yaitu Kaisar.

 

Yohanes ingin mencatat ada kebenaran yang lebih dalam, bahwa Pilatus diperhadapkan dengan pilihan engkau memilih Yesus atau memilih Kaisar. Betul sekali kalau engkau memilih Yesus maka engkau akan melawan Kaisar. Kalau engkau menganggap Yesus sebagai Rajamu, maka engkau tidak akan menganggap Kaisar sebagai rajamu.

 

Ini dinyatakan dengan Roma 10:9-10, Paulus mengatakan jikalau engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan maka engkau akan diselamatkan.  Kita mengerti bahwa kalimat ini bukanlah kalimat sembarangan, karena kalau engkau mengaku Yesus adalah Tuhan, artinya engkau siap dipenggal oleh Kaisar, pemimpin yang berkuasa di kota Roma pada saat itu. Karena bagi kerajaan Romawi, tidak ada penguasa lain, tidak ada tuan atau Tuhan yang lain, selain dari pada Kaisar. Kata tuan dan Tuhan berasal daria kata yang sama yaitu Kurios. Jadi pilihannya adalah Kaisar sebagai tuhanmu atau Kristus sebagai Tuhanmu. Jikalau engkau mengaku Yesus adalah Tuhan di kota Roma, maka engkau siap dihukum mati. Pengakuan itu penuh risiko, dan harus muncul dari pengenal Tuhan yang sejati. Kristus atau Kaisar adalah pilihan yang diperhadapkan kepada Pilatus, dan juga kepada kita sekalian.

 

Secara ironis, akhirnya kita melihat juga orang-orang Yahudi memilih Kaisar Yoh 19:15 “Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar!". Pengertian Raja itu menjadi penting di dalam Injil Yohanes, dan perkataan imam kepala mewakili orang-orang Yahudi yang menyalibkan Kristus: kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar. Mereka sungguh-sungguh memilih Kaisar.

 

Ini sangat ironis sekali, karena dalam sejarah Israel, orang-orang Israel, pemimpin-pemimpin Israel akan bangga mengatakan bahwa Yahwe adalah raja kami. Mereka mengakui negara mereka sebagai negara teokrasi, Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah raja mereka. Secara nyata, dalam Perjanjian Lama, Yahwe sebagai raja dinyatakan melalui kerajaan, dengan Daud yang dipilih oleh Allah sendiri sebagai raja Israel. Tuhan berjanji kepada Daud, kerajaanmu akan kekal untuk selama-lamanya, melalui Yesus Kristus, anak Daud, Mesias yang akan datang itu, Raja yang dijanjikan Tuhan, sang Mesias itu yang dinantikan selama beribu-ribu tahun.

 

Maka dengan satu kalimat imam kepala, mereka mengkhianati iman mereka yang sudah diberikan oleh nenek moyang mereka: kami tidak mempunyai raja selain dari Kaisar.

Inilah ironisnya, bahwa pengkhianatan imam kepala dan orang-orang Yahudi menjadi lengkap, karena ketika mereka menolak Yesus Kristus, anak Daud yang diurapi itu, yang sesungguhnya adalah Raja, mereka ultimately menolak Yahwe sendiri, menolak Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, Tuhan yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan Mesir.

 

Yesus yang dihina, diolok-olok sebagai Raja, dan ditolak adalah sesungguhnya Raja, karena Yesus tidak berhenti dengan kematian-Nya. Kita mengetahui selanjutnya Kristus bangkit dari kematian, menyatakan kemenangan-Nya, sesungguhnya Dia adalah Tuhan di atas segala yang dipertuan, Raja di atas segala raja. Kristus bukan hanya bangkit, sebelum naik ke surga Dia mengatakan segala kuasa di bumi dan di surga telah diberikan kepada-Ku. Kristus naik ke surga duduk di sebelah kanan Allah, dan Dia akan datang kembali, bukan sebagai seorang bayi, bukan sebagai Juruselamat yang diolok-olok, dihina dan dimahkotai duri. Kristus datang sebagai raja yang penuh kemuliaan.

 

Ini digambarkan oleh Yohanes dalam Wahyu 5:11-14

 

“Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” Dan aku mendengar semua mahluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” Dan keempat makhluk itu berkata “Amin”. Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah.”

 

Itulah raja kita, yang diolok-olok, menderita karena kita, karena kasih-Nya kepada kita. Kristus adalah Orang yang benar dan Kudus, sehingga Dia adalah satu-satunya Juruselamat penebus dosa kita. Bukan hanya Dia mengasihi kita, menderita bagi kita, pribadi yang kudus dan tidak berdosa, Dia juga Tuhan yang mulia. Kita tahu Dia akan datang kembali dengan segala kemuliaanNya, di mana segala lidah akan mengaku dan semua lutut akan bertelut, mengaku Dia adalah Tuhan.

 

Pertanyaan bagi kita adalah, ketika Dia datang kembali, apakah Dia mendapati kita setia, mendapati iman di bumi, mendapati kita sebagai orang-orang yang percaya kepada-Nya, mengaku beriman di dalam Kristus, hidup memuliakan Dia, mengaku Dia sebagai Raja di dalam seluruh hidup kita.

 

Apakah kita berjaga-jaga di dalam hidup kita di tengah-tengah dunia yang sepertinya tidak melihat Kristus sebagai raja, tetapi sesungguhnya adalah Raja yang berkuasa dan akan datang kembali di dalam kemuliaan-Nya. Tuhan Yesus memberi ilustrasi (lihat Mat 25:1-13) tentang kedatangan-Nya kembali seperti mempelai pria yang akan datang dan ada sepuluh gadis yang menunggu kedatangan mempelai itu. Kesepuluh gadis yang akan bersuka cita bersama-sama di dalam pesta mempelai itu, mereka menunggu-nunggu dan mempelai pria belum datang juga.

 

Ada lima gadis yang bijaksana, dan lima gadis yang bodoh. Kelima gadis yang bijaksana membawa pelita dengan minyak cadangan, tetapi gadis-gadis yang bodoh tidak membawa minyak cadangan. Mereka menunggu sampai mereka tertidur karena sudah lelah menunggu. Tetapi tiba-tiba mempelai pria datang, dan terbangunlah mereka, dan segera mempersiapkan diri. Ternyata pelita gadis-gadis yang bodoh itu habis minyaknya, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana mengisi lagi minyak dari cadangannya sehingga pelita mereka bisa menyala. Gadis-gadis yang bodoh meminta kepada gadis-gadis yang bijaksana untuk berbagi minyaknya, tetapi minyak mereka juga tidak cukup. Segeralah gadis-gadis yang bodoh itu pergi mencari membeli minyak. Mempelai pria itu kemudian datang dan disambut oleh gadis-gadis yang bijaksana, dan mereka semua masuk ke dalam pesta itu, bersuka cita dalam pernikahan yang besar, dan kemudian pintu tertutup. Lalu datanglah gadis-gadis yang bodoh itu, mereka meminta pintu untuk dibuka, tetapi tuan itu itu berkata pergilah dari padaku karena aku tidak mengenal sama sekali engkau. Ini adalah peringatan bagi kita sekalian.

 

Biarlah kita menjadi gadis-gadis yang bijaksana, yang berjaga-jaga setiap waktu dalam hidup kita, karena kita tidak tahu kapan Dia akan datang. Dia akan datang dengan tiba-tiba, biarlah kita bisa terus berjaga-jaga, hidup berkenan kepada Tuhan. Jangan kita sia-siakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk berbagian mengerjakan pekerjaan Tuhan. Mungkin tidak ada kesempatan lagi bagi kita, sehingga biarlah kesempatan yang Tuhan berikan saat ini, kita sungguh-sungguh pakai. Biarlah kita berjaga-jaga setiap waktu karena Dia adalah Raja di atas segala raja. Dia patut kita taati di dalam semua hal yang kita kerjakan di dalam hidup kita. Biarlah kita memandang kepada Kristus, memandang kasih-Nya, memandang penderitaan-Nya, memandang kesucian-Nya, sekaligus memandang kemuliaan-Nya. Dia adalah Raja di atas segala raja.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya