Ibadah

Jalan Tengah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 23 Juni 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 18:37-40

(Yoh 18:37-38) “Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?"

Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.”

Dalam bacaan Alkitab ini, kita bisa melihat bahwa Pilatus tidak sungguh-sungguh mengerti perkataan Yesus ini. Pilatus juga tidak menunggu jawaban Kristus dari pertanyaan yang Pilatus lontarkan “Apakah kebenaran itu?”. Namun dia sudah mendapatkan informasi yang cukup dan menyimpulkan bahwa Kristus bukanlah seorang pemberontak. Sebagai seorang pemimpin Romawi, Pilatus bisa melihat ciri-ciri pemberontak, namun dia melihat Yesus yang lemah lembut, tidak ada kekuatan apa pun secara militer atau pun politik. Tetapi orang Yahudi menghadapkan Kristus kepadanya dengan tuduhan memberontak kepada Kaisar. Maka Pilatus mencoba membebaskan Kristus tiga kali, dengan segala cara Pilatus melakukan itu, karena Pilatus merasa Yesus bukanlah seorang pemberontak.

Pilatus kemudian mencoba dengan custom yang ada pada waktu itu, untuk membebaskan Kristus: (Yoh 18:39) “Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?" Dari sini kita bisa melihat bahwa kemungkinan besar kebiasaan ini adalah simbol dari Paskah, simbol pembebasan Israel dari Mesir. Pemerintahan Roma membebaskan seseorang pada hari Paskah sebagai suatu sikap menghargai bangsa Yahudi. Maka setiap Paskah ada seorang penjahat yang dibebaskan, mirip dengan remisi potongan masa tahanan di Indonesia.

Di satu sisi Pilatus sadar bahwa Kristus tidak bersalah, tetapi di sisi lain Pilatus mencari cara untuk membebaskan Yesus Kristus. Kita bisa membayangkan wajah Pilatus bersinar-sinar ketika dia menemukan ide memberikan pilihan kepada bangsa Yahudi untuk membebaskan Yesus Kristus atau Barabas. Dengan sengaja Pilatus memilih Barabas, karena Barabas adalah seorang penyamun/perampok. Kata penyamun “lestes” atau perampok, juga dipakai dalam Yoh 10:1, ketika Tuhan Yesus mengatakan “Akulah gembala yang baik”, tetapi siapa yang masuk ke kandang domba dan tidak melalui pintu, melompat pagar, maka dia adalah seorang pencuri atau perampok (“lestes”).

Maka dalam pikiran Pilatus, sudah pasti bangsa Yahudi memilih Kristus, karena Barabas adalah seorang pembunuh, yang terkenal karena kejahatannya. Pilatus sengaja memilih seorang yang begitu jahat ini, dan membandingkannya dengan Yesus Kristus. Bagi Pilatus pilihannya sangat jelas, dalam pikirannya pasti bangsa Yahudi akan memilih Kristus untuk dibebaskan. Tetapi pilihan orang-orang Yahudi mengagetkan Pilatus, ketika mereka mengatakan (Yoh 18:40) “jangan Dia, melainkan Barabas”. Lalu apa yang harus Pilatus lakukan kepada Yesus? Jawab mereka (Yoh 19:6) “Salibkan Dia, salibkan Dia.”

Apa yang dikerjakan oleh orang-orang Yahudi ini adalah sangat ironis. Mereka membawa Yesus Kristus kepada Pilatus sebagai seorang pemberontak yang berbahaya bagi Kaisar. Secara eksplisit Yoh 19:12 menyatakan “Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." inilah tuduhan orang-orang Yahudi.

Mereka menuduh Kristus sebagai pemberontak, dan menekankan bahwa Pilatus harus melihat hal ini, dan Pilatus harus membunuh Dia. Tetapi kita mengetahui bahwa kepura-puraan mereka terbongkar.

Karena ketika Pilatus memberikan pilihan untuk membebaskan Kristus atau Barabas, mereka dengan memilih Barabas yang jelas-jelas adalah seorang pemberontak.

Orang-orang Yahudi datang dengan maksud yang penuh tipu muslihat dan kebencian kepada Yesus Kristus. Mereka bukan perduli kepada kaisar, atau pemberontak, mereka hanya perduli akan kebencian mereka terhadap Yesus Kristus.

Ada dua aspek dari peristiwa ini, dari sisi Pilatus – apa yang Pilatus kerjakan sebagai respon dari keinginan orang-orang Yahudi; dan dari sisi Barabas – bagaimana Barabas sebenarnya mewakili saudara dan saya.

 

Respon Pilatus kepada Tuntutan Bangsa Israel untuk Membunuh Kristus

Apa yang dilakukan Pilatus memberikan pelajaran yang penting bagi kita. Pilatus mengetahui apa yang terjadi, Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah, dan dia juga tahu kejahatan orang Yahudi yang ingin menyalibkan Kristus. Pilatus tahu kebencian bangsa Yahudi. Apa yang dilakukan Pilatus adalah dia mengambil jalan tengah.

Pilatus tidak ingin untuk mengikuti kejahatan orang Yahudi, tetapi di sisi lain Pilatus. tidak berani melepaskan Yesus Kristus. Pilatus tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya. Pilatus ingin melepaskan Kristus tetapi dia tidak berani, karena akan terjadi kekacauan dan pemberontakan. Pilatus sebenarnya dalam posisi yang cukup sulit, tetapi keputusannya menunjukkan bahwa Pilatus adalah seorang yang sangat lemah dan akhirnya terjebak dalam keputusan yang diambil.

Di satu sisi Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah, tetapi di sisi lain, Pilatus tidak berani melakukan kebenaran dengan membebaskan Yesus setelah menyatakan Yesus tidak bersalah. Pilatus memberikan pilihan kepada orang Yahudi. Seorang penulis mengatakan “By failing to give Jesus justice and release Him after declaring His innocence, Pilate is forced to make a traversy of justice, by releasing one who is guilty.” Kegagalan Pilatus menegakkan keadilan dengan melepaskan Yesus yang tidak bersalah itu, Pilatus akhirnya dipaksa untuk melakukan kejahatan terhadap keadilan, dengan melepaskan seseorang (Barabas) yang sesungguhnya adalah orang yang bersalah.

 

Pilatus mencoba mengambil jalan tengah, tetapi akhirnya terjebak, dan melakukan kejahatan yang terbesar, memaku Yesus di atas kayu salib, dan membebaskan Barabas yang sesungguhnya penjahat yang besar.

 

Jalan tengah sering kali penting dalam konteks-konteks tertentu. Dalam konseling suami istri kita harus mendengar dua sisi cerita mereka, dan boleh menyimpulkan secara bijaksana apa yang sebenarnya terjadi. Dalam 99% kasus dua-duanya selalu ada salahnya, karena itu seringkali kita harus mengambil jalan tengah. Dalam menengahi jemaat yang berbeda pendapat, pengurus yang berbeda pendapat, seringkali kita harus mendengar kedua belah pihak, dan boleh menyimpulkan secara bijaksana apa yang sesungguhnya terjadi. Jadi di dalam banyak konteks kita perlu mengambil jalan tengah.

 

Tetapi di dalam mengikut Kristus tidak ada jalan tengah. Apakah engkau melawan Dia atau mengikut Dia, apakah engkau di pihak Kristus atau melawan Dia. Tuhan Yesus mengatakan (lihat Mat 6:24) kita tidak bisa menyembah kepada Allah dan kepada Mamon: engkau akan membenci yang satu dan mengikuti yang lain.

 

Mengapa tidak ada jalan tengah dalam mengikut Kristus? Kita bisa belajar dari kesalahan Pilatus dan juga seringkali kesalahan dalam hidup kita, bahwa kita tidak sungguh-sungguh sepenuh hati mengikut Kristus. Dalam kitab Wahyu 3:16, Tuhan Yesus mengatakan kepada jemaat di Laodikia, “engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau.”  Hanya ada dua pilihan engkau panas atau dingin, mengikut Kristus sepenuh hati atau tidak mengikut Kristus sama sekali.

 

Mengapa tidak ada jalan tengah dalam mengikut Kristus? Ada tiga alasan untuk ini.

1)    Dunia ini tidak netral, dunia terus membawa kita menjauhi Tuhan. Kalau kita mengikuti dunia secara natural, maka kita pasti akan menjauhi Tuhan.

Saudara bayangkan kalau kita biarkan anak-anak mengikuti temannya, mengikuti jamannya, mereka akan jadi apa?

Dunia ini tidak netral, maka kita harus memilih apa kita maju atau kita mundur. Dalam pembicaraan dengan orang lain, maka apakah kita yang mengarahkan pembicaraan ke Tuhan atau kita yang ikut arah pembicaraan orang itu, tidak ada yang netral.

 

Salah satu yang contoh yang paling jelas adalah cerita Daniel (lihat Daniel 1), Teman-teman Daniel: Hananya, Misael, dan Azarya, diganti namanya menjadi Sadrakh, Mesakh dan Abednego; dan Daniel sendiri dinamai Beltsazar. Nama-nama ini adalah nama yang diberikan oleh raja Babilonia kepada mereka. Pada jaman itu, nama bukan hanya untuk panggilan, tetapi juga menunjukkan karakter mereka. Daniel berarti Allah adalah hakimku, diganti menjadi Beltsazar – yang berarti baal adalah tuhanku. Mereka bukan hanya namanya diganti, tetapi juga dicuci otaknya, seluruh kehidupan mereka diganti. Mereka harus menjadi orang Babilonia, belajar bahasa Babilonia, makan makanan Babilonia, memakai pakaian Babilonia, belajar budaya Babilonia. Bahkan nama mereka pun diganti, berarti identitas mereka diganti. Mereka terus dibawa menjauh dari Tuhan.

 

Tetapi ada satu ayat yang begitu indah (lihat Daniel 1:8), bahwa Daniel dari permulaan, dari pasal pertama, Daniel dididik, dirubah segala sesuatunya, tetapi Daniel dan kawan-kawannya menetapkan di dalam hatinya untuk tidak menajiskan diri. Ini membuat mereka akhirnya terus bertahan, dan bukan hanya bertahan, mereka bersinar terang di tengah-tengah dunia yang terus membawa mereka menjauh dari Tuhan, menyembah baal, illah-illah lainnya. Daniel menetapkan hatinya untuk tidak menajiskan diri. Ada banyak tantangan, tetapi dari permulaan, momen yang sangat penting, tanpa Dia menetapkan hatinya untuk mengikut Tuhan, tidak ikut arus Babilonia, maka habislah Daniel, apalagi dengan ancaman dapur api. Tanpa hati yang bersandar kepada Tuhan, bergantung total kepada Tuhan, maka dia akan terbawa arus.

 

Kita melihat Pilatus yang tidak menetapkan hati untuk mendengar suara Kristus. Walau Pilatus tidak mengikuti kejahatan, dia tidak membela kejahatan, dia tidak ingin mengikuti orang-orang Yahudi. Pilatus berusaha netral, berada di tengah-tengah. Tetapi apa yang terjadi, sekarang Pilatus harus mendengarkan peringatan orang-orang Yahudi “salibkan Dia, salibkan Dia.” Dunia ini tidak netral, kalau kita tidak berjuang, tidak taat melakukan apa yang Tuhan kehendaki, hati kita tidak kita tetapkan untuk mengikut Dia dalam segala apa pun yang kita hadapi, maka kita pasti akan ikut dunia ini. Mungkin tidak langsung, tetapi sedikit demi sedikit, dan akhirnya kita tidak bisa dikenali sebagai anak-anak Tuhan.

 

Biarlah dari peristiwa Pilatus ini, kita bisa menyadari, bahwa dunia membawa kita jauh dari pada Tuhan. Dengan apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita, kita harus berjuang dengan segenap hati, kekuatan, bersandar kepada Tuhan, untuk taat, untuk mengasihi Tuhan, untuk tidak kompromi terhadap dosa dan kejahatan.

Barulah di situ ada pengharapan untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Seperti naik perahu di tengah sungai yang arusnya kencang, maka tidak ada pilihan, apakah saudara terbawa arus, atau berjuang melawan arus.

 

2)    Bukan hanya dunia ini tidak netral, tetapi juga karena panggilan Kristus juga tidak netral. Kristus tidak memanggil kita hanya untuk tidak melakukan kejahatan, tetapi juga untuk melakukan kebenaran. Tuhan Yesus berkata (lihat Luk 14:26) kepada kita dengan begitu keras, barangsiapa tidak membenci ayahnya, ibunya, anaknya laki-laki, anaknya perempuan, barangsiapa mengasihi orang yang paling dekat lebih daripada mengasihi Aku, maka engkau tidak layak menjadi murid-Ku.

 

Kalimat ini bisa menjadi batu sandungan, bagaimana seseorang yang hidup 2000 tahun yang lalu, yang mengatakan kita harus mengasihi Dia lebih daripada kita mengasihi orang-orang yang paling dekat dengan kita? Who is this egomaniac? Ini adalah respon yang tepat. Bahkan Yesus mengatakan barangsiapa tidak membenci orang-orang yang paling dekat, maka dia tidak layak mengikut Dia. Tentu ini bukan betul-betul membenci, karena kata yang dipakai adalah bukan membenci tetapi love less. Kalau kita harus membandingkan kasih kita kepada Kristus dengan kasih kepada orang tua, suami/istri, anak-anak, maka itu seperti membenci mereka. Kalau engkau tidak mengasihi Aku dengan segenap hatimu, dengan segenap  jiwamu, engkau tidak layak menjadi murid-Ku. Dalam panggilan Tuhan tidak ada yang netral, ini adalah panggilan yang radikal.

 

Tidak ada orang Kristen yang biasa-biasa saja, tidak jahat tetapi juga tidak melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Tidak berjudi, mabuk-mabukkan, tidak pukul istri, tidak pakai drug, dlsb, tetapi juga tidak melakukan apa yang Tuhan kehendaki, tidak menolong orang lain, tidak mengasihi orang lain, tidak memberikan persembahan kepada Tuhan, tidak berkorban.

 

Ini mirip sekali dengan perumpamaan orang Samaria (lihat Luk 10:30-37), sewaktu Yesus memberikan perintah untuk mengasihi sesamamu seperti mengasihi dirimu sendiri. Tetapi orang Yahudi bertanya “siapakah sesamaku manusia.” Kemudian Tuhan Yesus menceritakan ada seorang Yahudi yang di tengah perjalanan, dirampok, dihajar sampai hampir mati, sekarat di pinggir jalan. Lalu datanglah seorang imam, namun setelah melihat orang yang sekarat itu, dia mengambil jalan yang lain. Lalu datanglah pemimpin agama, dia juga melakukan hal yang sama. Lalu datanglah seorang Samaria yang melihat orang yang sekarat itu, orang Samaria ini menolong orang itu, membawanya ke atas kudanya, membawanya ke tempat penginapan, dan semua ongkosnya dia tanggung sampai orang itu sembuh.

 

Maka Yesus bertanya menurut kamu siapakah sesamamu manusia bagi orang ini? Ini adalah pertanyaan yang sebenarnya Tuhan Yesus balik. Mereka bertanya siapakah sesamaku manusia? Tuhan Yesus balik, menurut kamu siapakah yang menjadi sesamamu manusia bagi orang yang sekarat itu?  Orang Farisi bertanya siapakah sesamaku manusia? Dia memberi asumsi aku adalah manusia, karena bagi orang Farisi, orang Samaria itu bukan manusia, orang kafir itu bukan manusia. Tetapi Yesus membalikkan, bagi orang yang sekarat itu, siapakah sesamanya manusia, apakah imam itu sesama manusia, apakah ahli Taurat itu sesama manusia? Mereka tidak berani mengatakan bahwa orang Samaria itu adalah sesama manusia bagi orang yang sekarat itu, mereka hanya mengatakan bahwa orang yang sudah menolong dia itulah sesama manusia. Bagi mereka, orang Samaria adalah bukan manusia, mereka adalah orang yang diciptakan Tuhan untuk kayu bakar api neraka. Jadi pertanyaannya bukanlah siapakah sesamaku manusia, tetapi apakah engkau menjadi sesama manusia bagi orang lain.

 

Imam yang lewat, ahli Taurat yang membiarkan orang yang sekarat itu, tidak melakukan kejahatan, mereka hanya menghindari melakukan kebaikan. Mereka bisa memberikan alasan bahwa mereka bukan yang merampok orang itu, tidak melakukan kejahatan apa pun. Namun Yesus menyatakan kalau engkau adalah sesama manusia maka engkau bukan hanya tidak melakukan kejahatan kepada orang lain, tetapi engkau harus melakukan kebaikan bagi orang lain.

Panggilan Tuhan kepada kita adalah tidak netral.

 

Alkitab mengatakan (lihat Yak 4:17) barangsiapa tahu tentang kebaikan dan tidak melakukannya, maka dia sudah berdosa di hadapan Tuhan. Kita bisa jatuh seperti demikian, namun biarlah kita ingat bahwa kalau kita tidak maju, kita akan mundur; kalau kita tidak mentaati firman-Nya, kita pasti melakukan apa yang dikehendaki oleh setan.

 

3)    Keberadaan kita sendiri tidak netral. Jati diri kita, self-identity kita juga tidak netral. Kita bisa melihat bahwa nama Barabas sendiri berarti (bar=son, abas=father), mewakili all-son of the Father, yaitu saudara dan saya. Kemungkinan besar Barabas adalah seorang yang menunggu hukuman mati, dan pasti hukumannya itu adalah hukuman Salib. Saudara bisa bayangkan dia menunggu berhari-hari menunggu hari eksekusi, dengan segala kengerian dan kemarahannya. Dia tahu di atas salib, orang akan menderita, menderita kesakitan, dia membayangkan hal itu dan begitu ketakutan. Sampai suatu hari penjaga datang, dan hati Barabas langsung lemas, ini adalah saat terakhir dan saya akan mengalami segala kesakitan.

 

Namun penjaga itu membuka pintu penjara, melepas rantainya, dan mengatakan engkau bebas. Maka saudara bisa membayangkan betapa kagetnya Barabas, betapa bersuka-citanya dia. Penjaga itu mengatakan engkau bisa bebas karena orang-orang Yahudi memilih kamu untuk dibebaskan dan bukan Yesus Kristus.

 

Kita bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam hati Barabas, kalau dia mengikuti terus apa yang Yesus alami. Barabas tahu bahwa aku seharusnya yang di salib. Kita mengerti doktrin substitution of death, maka Barabas adalah satu-satunya orang yang secara fisik, yang menyaksikan bahwa aku yang seharusnya dicambuk berdarah-darah. Tetapi Yesus itulah yang menggantikan saya. Saat Barabas melihat Yesus mulai tangan-Nya dipaku di kayu salib, dan dinaikkan ke atas, maka Barabas sadar seharusnya tangan dan kakiku yang dipaku, tetapi Yesus sudah menggantikan saya. Ketika Yesus berkata (Mat 27:46) My God, My God why have you forsaken me?, maka Barabas tahu bahwa seharusnya aku yang berteriak itu selama-lamanya di neraka.

 

Barabas adalah gambaran saudara dan saya, bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh menggantikan kita yang berdosa, yang seharusnya menderita murka dari Allah.

Dia yang tidak berdosa telah dijadikan berdosa karena kita , supaya kita yang berdosa boleh dibenarkan. Sesungguhnya kita adalah barabas-barabas yang sepatutnya menerima murka Allah. Seperti Barabas mengerti Kristus sudah menggantikan saya, apakah hidup kita biasa-biasa saja. Apakah hidup kita tidak berbuat jahat tetapi juga tidak berbuat kebaikan?  Bukankah tidak ada respons yang lebih pantas selain daripada mengasihi Dia dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan kekuatan.

Karena kematian-Nya itu mendefinisikan siapa saya. Saya tidak netral, saya telah ditebus oleh Kristus. Setiap kita yang beriman, percaya kepada Kristus telah ditebus dengan harga yang mahal, bukan dengan emas dan perak, tetapi dengan darah Anak Allah yang tunggal, Yesus Kristus. Kita telah ditebus dan harganya lunas dibayar, dan kita adalah milik Tuhan. Karena itu muliakanlah Tuhan, dengan tubuh kita, dengan hidup kita, dengan waktu yang Tuhan berikan. Dengan segala kemampuan kita, dengan segala apa yang kita miliki, kita boleh mengasihi Tuhan dengan segenap hati.

 

Tentu kasih dan ketaatan kita tidak sempurna, tentu masih banyak kelemahan, masih banyak dosa di dalam hidup kita, tetapi Tuhan melihat hati kita yang paling dalam. Apakah betul-betul kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati? Apakah kita sungguh-sungguh menempatkan Kristus sebagai yang paling utama di dalam hidup kita. Meskipun kita bisa gagal, kalau kita mengasihi Dia, kita bisa bangkit lagi, tinggalkan dosa, kembali lagi, taat kepada Tuhan. Dia akan menyertai, memimpin, bekerja, membawa hidup kita berkenan memuliakan Tuhan.

 

Biarlah ini mendorong kita menyadari bahwa kita harus mengasihi Dia dengan segenap hati dan kekuatan kita, karena Dia sudah terlebih dahulu mengasihi kita.

Biarlah kita tidak menjadi seperti Pilatus yang mencoba mengambil jalan tengah, mencoba netral, mencoba tidak menjadi ekstrim.

 

Tuhan tidak memanggil kita menjadi ekstrim, namun untuk menjadi radikal. Ekstrim adalah hanya melihat satu hal terus-menerus, sedangkan radikal berarti berakar. Ketika kita mengikut Tuhan kita bukan menjadi ekstrim, menjadi sempit hatinya, tapi justru menjadi orang yang sangat luas hatinya. Maka seluruh pandangan kita menjadi luas, kita akan mengasihi semua orang, segala bangsa, menghargai perbedaan-perbedaan yang Tuhan ijinkan ada. Tetapi dari semua perbedaan dan keragaman itu, kita memiliki akar yang satu, yaitu hati yang mengasihi Tuhan, dengan segenap hati dan jiwa, yang tidak akan kompromi kepada apa pun.

 

Ketika kita menemukan self identity kita di dalam Kristus, jati diri kita yang paling dasar di dalam Kristus, maka kita tidak akan menjadi orang yang ekstrim, namun menjadi orang yang memiliki akar yang kuat, dan sekaligus menghargai segala sesuatu yang ada di dalam hidup kita: mengasihi suami/istri, anak-anak, menghargai pekerjaan, teman-teman, bahkan musuh yang melawan kita. Semua hal itu menjadi hal yang penting di dalam hidup kita, tetapi bukanlah hal yang ultimate di dalam hidup kita.

Yang ultimate adalah Kristus, kita mempersembahkan hati kita sepenuhnya kepada Kristus, tidak kompromi sama sekali. Kalau kita gagal di dalam hal-hal yang lain itu, itu tidak akan menghancurkan hidup kita, tidak kehilangan identitas kita.

Keluarga kita penting, tetapi kalau Tuhan memanggil mereka, tidak menjadikan kita kehilangan pengharapan. Kalau engkau mencari pacar, janganlah mencari pacar mengutamakan dirimu di atas segala-galanya, karena itu bukan hanya menghancurkan dirimu tetapi juga dirinya sendiri.

 

Biarlah kita mengikut Tuhan secara radikal dan tidak menjadi ekstrim. Kita boleh melihat kehidupan kita utuh karena Tuhan berkuasa atas segala sesuatu.  

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya