Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Apa Arti Hidupmu?

Ibadah

Apa Arti Hidupmu?

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 12 Mei 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 18:37-38

(Yoh 18:37) Ketika Pilatus bertanya kepada Yesus “Jadi Engkau adalah Raja?” Yesus menjawab “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Meresponi perkataan Yesus ini, Pilatus mengatakan "Apakah kebenaran itu?"

Di dalam film Passion of the Christ, Pilatus sebelumnya sudah diberitahu oleh istrinya bahwa kamu jangan apa-apakan Dia. Tetapi Pilatus bergumul, dia tahu Yesus tidak bersalah, istrinya juga sudah memberikan peringatan kepadanya, tetapi di film itu Pilatus mengatakan “kebenaran bagi saya adalah bahwa saya terjepit, kalau saya membebaskan Yesus maka akan ada kekacauan yang besar di kota ini, dan kalau ada kekacauan maka posisi saya akan terancam.” Inilah kebenaran yang sedang saya hadapi, apa yang harus saya lakukan? Kita tahu, meskipun Pilatus berusaha tiga kali membebaskan Yesus Kristus, akhirnya dia menyerah dan membiarkan Yesus Kristus disalibkan.

What is truth adalah pertanyaan yang besar. Kali ini kita akan memikirkan salah satu kebenaran yang paling penting dalam hidup manusia yaitu kebenaran tentang arti hidup manusia: what is the meaning of my life? Seperti juga yang Pilatus gumuli: apa yang paling penting sekarang dalam keadaan yang terjepit ini, pertanyaan ini menjadi pergumulan bagi semua orang.

Sewaktu berbicara tentang apa arti hidupku, ini adalah suatu yang unik bagi manusia di seluruh muka bumi, dari segala bangsa, suku dan bahasa. Orang kalau ditanya akan apa arti hidup dia, maka mereka akan menjawab bahwa saya sering kadang-kadang memikirkan hal itu. Menurut suatu survey maka yang menjawab sering atau kadang-kadang memikirkan pertanyaan ini adalah sekitar 75% dari responden. Martin Heidelberg mengatakan manusia itu berbeda dengan mahluk lain dalam kemampuannya untuk bertanya mengenai eksistansi dirinya. Saudara tidak pernah melihat sapi bertanya tentang dirinya, seumur hidupnya sapi itu makan, tetapi dia tidak pernah bertanya mengapa dia makan terus, tidak pernah berpikir what is the meaning of my life.

Ketika kita bertanya apa arti hidup kita, apa yang sebenarnya yang ingin kita cari? Paling sedikit ada dua aspek yang berkaitan dengan apa arti hidup.

Yang pertama adalah aspek yang berkaitan dengan purpose, tujuan hidup kita? Yang kedua berkaitan dengan signifikansi, apakah hidupku bernilai atau berharga? Misalnya, bagi aspek yang pertama, sesuatu itu berarti jika ada intention/tujuan di dalamnya. Sebagai contoh: apakah engkau bermaksud melukai dia? Bagi aspek yang kedua: sesuatu itu mempunyai signifikansi, kalau ada “sign” atau tanda yang menunjuk sesuatu yang ada di luar dirinya. Misalnya, medali ini sangat berarti bagi saya, karena medali ini diberikan negara kepada saya, karena jasa saya dalam perang dunia kedua. Medali in menjadi tanda yang ada di luar dirinya, yang menunjuk kepada pengorbanan dirinya sampai kehilangan kaki.

Jadi ketika kita berbicara tentang arti hidup, maka hidupku itu berarti kalau hidupku mempunyai tujuan yang jelas. Hidupku itu berarti kalau mempunyai signifikansi di sekelilingku, berdampak pada orang lain. Kehadiranku di dalam dunia ini, di dalam keluargaku, di dalam Gerejaku, berarti bagi mereka. Kalau tidak artinya bagi mereka, kita mulai kehilangan arti dari pada hidup yang sesungguhnya.

Sewaktu kita berbicara tentang hidup yang tidak berarti, tidak selalu berarti dia tidak mempunyai pekerjaan atau tidak mempunyai teman atau keluarga yang baik, atau tidak punya uang untuk hidup nyaman. Tetapi sewaktu seseorang berkata hidupku tidak berarti artinya adalah saya tidak yakin atau tahu untuk apa semua itu - apakah semua yang saya kerjakan dalam hidupku itu sesungguhnya berarti, bermanfaat bagi orang lain.

Suatu hari ada acara di TV di mana ada diskusi dengan orang yang datang di studio. Hanya ada host acara itu dan enam atau tujuh orang yang hadir, kebanyakan orang muda, dan mereka adalah orang-orang yang pernah mencoba bunuh diri. Meskipun cerita dan konteks mereka berbeda-beda, tetapi hampir semuanya mengatakan mereka ingin bunuh diri karena mereka merasa hidup mereka meaningless, tidak ada artinya. Kalau manusia tidak bisa menemukan alasan mengapa dia harus ada di dunia ini, atau signifkansi bagi orang-orang di sekeliling dia, maka itu bisa menjadi salah satu alasan orang bunuh diri.

Secara negatif, ini adalah keunikan manusia. Apakah saudara pernah melihat binatang bunuh diri? Ada riset yang mengatakan bahwa sewaktu binatang seolah-olah bunuh diri, namun itu sebenarnya hanya pengertian manusia saja. Misalnya seekor anjing yang dirawat oleh tuannya lama sekali, dan kemudian tuannya itu mati. Anjing itu seperti depresi sekali dan tidak mau makan sampai dia mati. Namun apakah anjing itu bisa kita sebut bunuh diri? Setelah diselidiki, ternyata tidak, sebenarnya dia bukan ingin bunuh diri, tetapi anjing itu sudah belasan tahun hanya diberi makan tuannya itu, sehingga dia tidak mau diberi makan orang lain, sampai dia mati. Kesimpulannya, binatang itu tidak pernah bunuh diri.

Bunuh diri yang berkaitan dengan meaningless of life adalah sesuatu yang hanya manusia yang punyai. Seorang penulis Atul Gawande, menceritakan seorang dokter yang merawat orang-orang tua di suatu rumah jompo. Dokter itu melihat mereka seperti di kuburan, makan hanya untuk bertahan hidup. Maka dia memiliki ide, dan menyuruh semua yang ada di rumah jompo itu untuk membawa binatang peliharaan mereka, ayam, anjing, kucing dlsb. Tiba-tiba rumah jompo itu yang tadinya penuh dengan nuansa kematian itu menjadi hidup. Orang-orang tua itu mulai merawat dan merawat binatang-binatang peliharaan itu, dan mereka mulai berbicara satu sama lain. Pemakaian obat-obatan dan kematian langsung turun drastis. Penulis itu kemudian menyimpulkan bahwa hal itu disebabkan oleh adanya suatu kebutuhan yang dasar bagi manusia yaitu manusia memerlukan alasan untuk hidup, memerlukan tujuan mengapa dia hidup. Kita semua mencari tujuan hidup itu di luar dari diri kita sendiri.

Bagaimana kita bisa menemukan arti hidup kita yang sejati? Terlebih dahulu mari kita melihat pandangan orang-orang post-modern. Mereka mengatakan kalau engkau terus mengatakan hidup harus berarti, itu justru engkau akan kehilangan arti hidup. Mereka sebenarnya sangat menolak the meaning of life, tidak ada arti hidup yang semua orang harus pegang. Tidak ada arti hidup yang diberikan kepada kita. Mereka mengatakan biarlah masing-masing kita menemukan atau menciptakan arti hidup sendiri-sendiri.

Seorang ilmuwan Harvard, Stephen J Gould, mengatakan “There is simply no meaning to life, but that this fact, though superficially troubling, if not terrifying is ultimately liberating. We must construct those answers for ourselves”. Dia mengatakan sebenarnya tidak ada arti hidup yang diberikan kepada kita, meskipun fakta ini menggelisahkan kita bahkan menakutkan kita, tetapi sesungguhnya kalau kita pegang itu, akhirnya itu akan membebaskan kita - karena kita harus menciptakan arti hidup itu bagi diri kita masing-masing. Dia mengatakan khususnya tidak ada agama atau orang lain yang mempunyai hak untuk mengajarkan apa arti hidup kita. Setiap orang harus mencari arti hidup masing-masing. Ilmuwan lain dari universitas Chicago mengatakan “I found creating my own purposes through me, I am the author of a novel and the book is my life, the freedom is accelerating, life is as happy as meaningful as you make it.” Ketika saya menciptakan arti hidup saya sendiri, justru itu menggairahkan, saya adalah pengarang dari buku yang adalah hidup saya, dan hidupku sangat berarti.

Namun ada dua problem besar dari pandangan ini.

Yang pertama: problemnya adalah sewaktu pandangan ini mengatakan tidak seorang pun yang mempunyai hak untuk memberitahu seseorang hidup itu seharusnya bagaimana, pandangan itu seolah-olah menolak kebenaran absolut. Tetapi sebenarnya dari pintu belakang, ajaran ini sedang mengajarkan bahwa kamu harus hidup seperti ini: memiliki kebebasan untuk menentukan apa arti hidupmu sendiri. Namun kalau kita mengatakan kita tidak setuju dengan mereka yang mengatakan hal ini, mereka akan langsung marah atau menghina kita, karena mereka sedang memaksakan pandangan itu kepada kita. Mereka mengatakan tidak ada orang yang boleh mengatakan bagaimana seharusnya kamu hidup, namun mereka sebenarnya sedang mengatakan bagaimana seharusnya kamu hidup.

Yang kedua: sebenarnya tidak ada orang yang secara mutlak percaya pandangan seperti ini. Tidak ada seorang pun yang dapat mengartikan hidupnya sesuai dengan keinginannya sendiri. Seorang filsuf Kristen memberi contoh kamu bisa mengartikan macan liar sebagai binatang yang jinak dan dapat dipelihara. Tetapi kalau kamu melakukan itu kamu tidak dapat menjelaskan apakah betul macan itu binatang yang jinak, karena kamu akan mati diterkam sebentar lagi. Di dalam pengertian tertentu, apa yang ada di dunia itu sebenarnya independen dari pada penafsiran kamu sendiri. Macan liar itu punya arti sendiri, memiliki karakter sendiri, yang tidak bisa kamu tafsirkan sendiri menurut pengertian kamu. Sesuatu itu mempunyai artinya sendiri, independen dari dirimu.

Maka kita melihat dua pandangan yang kontras dari pada pandangan post-modern dibandingkan dengan pandangan Alkitab, yaitu apakah arti hidup itu adalah sesuatu yang kita buat sendiri (created meaning) atau arti hidup itu adalah sesuatu yang diberikan kepada kita (discovered meaning). Dunia mengatakan engkau harus menciptakan arti hidupmu sendiri. Sebaliknya Alkitab mengajarkan arti hidup itu diberikan oleh Tuhan kepada kita, dan kita menemukan itu dan hidup di dalamnya.

Dalam Kej 2, setelah menciptakan Adam, Tuhan mengatakan bahwa tidak baik manusia hidup seorang diri saja (lihat Kej 2:18). Sebelumnya setelah menciptakan langit, bumi dan segala isinya selama 6 hari, Tuhan mengatakan segalanya baik. Namun setelah menciptakan Adam, Tuhan mengatakan “tidak baik” manusia hidup seorang diri saja. Ini adalah arti yang Tuhan berikan kepada keadaan Adam pada waktu itu. Ini adalah objective meaning, absolute truth, kebenaran yang absolut dan objektif. Tidak perduli, sekalipun ada orang yang mengatakan bahwa orang hidup seorang diri saja baik, kebenaran ini adalah adalah kebenaran yang objektif.

Sebelum manusia jatuh di dalam dosa, kebenaran Tuhan ini objektif, tidak bergantung bagaimana perasaan dan pendapat manusia. Ini adalah kebenaran yang objektif yang di luar dari pada diri manusia. Karena saat itu belum ada dosa di dunia, kebenaran yang objektif itu juga dialami oleh Adam sebagai kebenaran yang subjektif. Adam sadar dan betul-betul mengalami di dalam hati, bahwa perkataan Tuhan itu betul bahwa tidak baik manusia itu seorang diri saja, aku membutuhkan penolong yang sepadan.

Tetapi di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa, kebenaran justru menjadi kacau. Tuhan berkata sesuatu kebenaran tetapi manusia mencoba menafsirkan sesuai dengan dirinya masing-masing, menciptakan arti hidup sesuai dengan apa yang orang itu inginkan. Kebenaran objektif dari Tuhan dan kita kemudian menemukannya (discovered meaning) itu sebenarnya jauh lebih baik, dan jauh lebih dihidupi daripada created meaning.

Mengapa discovered meaning itu jauh lebih baik daripada created meaning?

Karena discovered meaning lebih masuk akal, lebih rasional daripada created meaning. Artinya adalah discovered meaning lebih bisa dihidupi dan konsisten untuk dilakukan dalam hidup kita. Untuk menjalani hidup yang berarti, sebenarnya kita harus bertanya untuk apa kita melakukan semua ini. Sebagai contoh, mengapa kita sekolah? Ada yang menjawab untuk mendapat pekerjaan yang baik. Kita bisa bertanya selanjutnya, untuk apa pekerjaan yang baik itu? Supaya dapat mengumpulkan uang, mencicil rumah, dlsb. Untuk apa membeli rumah, menikah dlsb? Ujung-ujungnya, jawabannya supaya kita bisa menikmati hidup. Kalau ujung jawabannya sampai di situ saja – menikmati hidup – maka sekolah setengah mati, bekerja setengah mati, dlsb, arti hidupnya tidak beda banyak dengan pemuda pengangguran yang setiap hari bermain gitar di pinggir pantai. Pemuda itu sedang menikmati hidup juga, tidak harus bersusah-susah, dia sudah sampai diujungnya.

Kalau arti hidup ini berhenti hanya di dalam dunia ini, jika tidak ada Tuhan, dan tidak ada hidup yang harus dipertahankan setelah kematian maka sedikit sekali perbedaan antara orang yang berjuang melawan kemiskinan di Afrika dengan orang jahat, yang serakah yang menginjak-injak orang miskin. Kalau kita menganut pandangan post-modern, maka akan sedikit sekali perbedaan arti hidup saudara sehari-hari dengan teroris yang menembak puluhan orang, Teroris itu melakukan hal itu karena dia suka, itu adalah arti hidup dia. Walaupun begitu banyak orang yang mati, dia bisa berkata so what? Kalau kamu melakukan kebaikan, untuk apa kebaikan itu? Semua toh akhirnya mati dan hancur juga.

Jadi sedikit sekali perbedaannya, dan ultimately kalau kita menciptakan arti hidup sendiri-sendiri, maka kita akan selalu kalah dan rugi dalam dunia ini. Apa yang dapat kita lakukan kepada teroris yang sudah membunuh banyak orang? Teroris itu dimatikan, namun di negara-negara barat, tidak ada lagi hukuman mati, dan negara harus merawat dia hidup, seumur hidupnya. Berapa banyak yang harus negara bayar? Sedangkan teroris itu tidak rugi apa-apa, pada akhirnya pun dia akan mati juga, dan selesai. Bagaimana kita membalas teroris itu? Jadi selalu tidak ada justice kalau arti hidup hanya berhenti di dalam dunia ini saja.

Seorang hakim agung Amerika yang terkenal, Oliver Wendell Holmes Jr, mengatakan jika kita berpikir secara dingin maka hidup manusia itu tidak lebih signifikan daripada seekor Baboon atau sebutir pasir. Seorang penulis yang terkenal Leo Tolstoy mengatakan dalam bukunya “A Confession”, bahwa dia sangat senang dan berhasil, sampai sekitar umur 50, dia mulai menyadari bahwa semua orang yang saya kasihi itu akan mati, dan tulisannya akan dilupakan. Dia bertanya adakah sesuatu yang berarti dalam hidupku yang tidak akan dihancurkan oleh kematian?

Siapa yang tahu nama orang tua dari kakek-nenek kita (great-grandfather)? Hampir tidak ada seorang pun yang tahu, mungkin hanya satu dua orang saja yang tahu. Siapa yang tahu nama lengkap ke empat kakek-nenek kita? Juga tidak banyak yang tahu. Kebanyakan orang bahkan tidak tahu nama kakek mereka. Ini berarti, cucu kita pun mungkin tidak akan tahu nama kita. Jangankan dunia ini akan mengingat kita, bahkan cucu kita pun belum tentu mengingat kita.

Kalau arti hidup kita buat sendiri, tanpa Tuhan, maka setelah mati, eksistensi kita lenyap dengan tidak berbekas. Tetapi kontraskan dengan apa yang Alkitab katakan tentang apa arti hidup kita. Alkitab mengatakan arti hidup kita, bukan kita yang membuat, tetapi hidup yang sudah Tuhan nyatakan dalam firman-Nya. Arti hidup yang didapat melalui discovered meaning adalah jauh lebih rasional, dan jauh bisa dihidupi dengan konsistensi.

Hidup bagi anak-anak Tuhan adalah sesuatu yang telah diberikan kepada kita di dalam Alkitab. Tuhan menciptakan kita karena kasih-Nya, menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Tetapi manusia secara keseluruhan berontak kepada Tuhan dan mengalami segala kesusahan, penderitaan dan ultimately mati. Namun kita tahu juga bahwa Alkitab menyatakan sewaktu manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan telah berjanji keturunan dari perempuan itu akan meremukkan kepala si ular, kepala setan, mematikan kematian itu di dalam Kristus (lihat Kej 3:15).

Kristus menggantikan kita yang seharusnya mati, dengan jalan kematian-Nya di atas kayu salib, sehingga setiap kita yang beriman dan percaya di dalam Kristus diberi hidup yang baru, hati yang baru. Tuhan akan memelihara terus hidup yang baru itu sampai selama-lamanya. Kesulitan, pergumulan, bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita dari kasih Tuhan. Sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Kristus, kita akan menjadi serupa dan diubahkan dengan tubuh yang baru. Kita akan bersuka cita, dengan kemuliaan, dengan kasih bersama saudara-saudara seiman, bersekutu dengan Dia sampai selama-lamanya. Inilah arti hidup kita, yang semakin kita mengerti, kita memiliki hidup yang berarti, dan dapat menjawab mengapa saya ada di dalam dunia ini, di dalam kerangka biblical world view yang Tuhan berikan kepada kita.

Sebaliknya created meaning dalam pandangan post-modern, semakin kita berpikir semakin hidup itu tidak berarti, hidup kita sedikit berbeda dengan binatang.

Discovered meaning bukan hanya lebih masuk akal tetapi juga lebih tahan banting dalam menghadapi penderitaan. Pandangan sekuler, pandangan post-modern adalah suatu worldview di mana arti hidup itu harus ditemukan di dalam hidup di dunia ini saja, tidak memperhitungkan hidup setelah mati. Maka orang-orang sekuler bisa menemukan arti hidup untuk keluarga, atau tujuan politik tertentu, atau mencapai karir tertentu. Namun itu mengharuskan bahwa hidup itu baru berarti kalau hidup berjalan lancar, kalau seluruh tujuan itu tercapai.

Seorang perenang Australia, berjuang setiap hari berlatih berenang berjam-jam karena tujuannya adalah medali emas olimpiade. Arti hidupnya adalah medali emas itu. Dia mengorbankan semuanya untuk mendapatkan tujuan yang besar itu. Namun kita tahu bahwa di dalam hidup itu sering ada kegagalan. Kalau kita memiliki arti hidup seperti itu, ketika kesulitan datang, maka hancurlah hidup kita. Bayangkan seorang olahragawan yang berjuang terus dari kecil untuk mendapatkan medali emas olimpiade, dan satu minggu sebelum pertandingan olimpiade dia tabrakan dan kakinya patah, apa yang akan terjadi. Habislah dia.

Orang yang memiliki arti hidup hanya di dalam dunia ini saja sangat rentan akan realita hidup di dunia ini. Siapa dapat menjamin hidup kita seluruhnya lancar, tidak akan sakit, tidak akan kena kanker, tidak akan kecelakaan. Viktor Frankl seorang dokter Yahudi yang bertahan hidup di kamp konsentrasi Nazi Jerman pada perang dunia kedua, dia menulis buku yang terkenal yang berkaitan dengan topik ini: “Man’s Search for Meaning”. Dia mencatat bagaimana orang berespon dalam penderitaan yang begitu berat di dalam kamp konsentrasi itu. Respon mereka sangat dipengaruhi oleh arti hidup yang mereka pegang. Orang–orang yang menganggap karir, status sosial, keluarga adalah yang paling berharga, yang menjadi arti hidup mereka, maka di dalam kamp konsentrasi itu mereka akan hancur hidupnya. Mereka tidak menemukan arti hidup mereka, dan ingin mati saja. Sebagian lagi runtuh moralnya, dan dalam keadaan terdesak, dia mulai menjadi berubah sama sekali, bahkan akan mengkhianati, membunuh temannya untuk bertahan hidup.

Tetapi ada orang-orang yang kuat bertahan bahkan tetap berbaik hati dan murah hati di tengah segala penderitaan yang hadapi. Orang-orang ini adalah mereka yang memiliki the meaning of life melampau hidup di dalam dunia ini. Mereka memiliki transcendent reference point in life, pegangan hidup yang melampaui hidup di dunia ini. Kita seharusnya menyadari bahwa arti hidup kita tidak berhenti hanya di dalam dunia ini. Kita akan diubahkan menjadi serupa dengan Kristus, hidup selama-lamanya di hadapan Tuhan bersama-sama dengan saudara seiman di dalam kasih dan kemuliaan.

Rencana Tuhan bagi kita tidak berhenti di dalam dunia ini. Semua yang ditentukan Tuhan akan dipanggil-Nya, semua yang di panggil-Nya pasti akan dibenarkan, semua yang dibenarkan-Nya pasti akan dimuliakan-Nya (lihat Roma 8:30). Itulah titik akhir kita, kita akan berbagian dalam kemuliaan Kristus, hidup selama-lamanya dalam kasih, suka cita dan kemuliaan.

Walaupun demikian, bagi kita yang memiliki discovered meaning ini, kita tetap akan mengalami penderitaan dan kesulitan. Namun penderitaan seringkali menjadi sarana yang Tuhan ijinkan terjadi untuk membawa kita kepada ultimate goal, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Tetapi bagi orang sekular, post modern yang tidak bertuhan, kesulitan dan penderitaan itu menjadi kecelakaan dan penderitaan, menjadi meaninglessness. Kalau itu terjadi, hancurlah hidup itu, dan hidup itu menjadi tidak berarti.

Kesulitan akan justru membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Thomas Watson, seorang puritan mengatakan, saya lebih memilih di penjara bersama Tuhan, daripada di istana tanpa kehadiran Tuhan. CS Lewis mengatakan Tuhan seringkali seperti berbisik dalam hidup yang lancar, berbicara dalam hidup yang biasa-biasa saja, tetapi Dia berteriak di telinga kita ketika kita di dalam kesulitan dan penderitaan. Mazmur 23 mengatakan sekalipun aku berjalan di dalam lembah kekelaman, aku tidak akan takut bahaya sebab Engkau ya Tuhan besertaku. Sebelumnya pemazmur mengatakan Tuhan adalah gembalaku, Dia membaringkan aku ke padang rumput yang hijau, Dia menuntun aku ke sungai yang jernih. Di sini, pemazmur menggunakan “Dia” orang ketiga tunggal, tetapi di dalam lembah kekelaman pemazmur mengatakan “Engkau ya Tuhan besertaku – orang kedua tunggal. Di dalam penderitaan, kesulitan dan pergumulan, pemazmur justru lebih mengerti bahwa Tuhan lebih dekat kepada dia.  

Itulah anak-anak Tuhan yang sejati, yang mengerti bahwa arti hidup tidak berhenti dalam dunia ini saja, tetapi sempai selama-lamanya, dan Tuhan akan terus memimpin mereka. Ini adalah sesuatu yang pasti karena kita memiliki Juruselamat yang telah menanggung penderitaan yang ultimate di atas kayu salib. Di atas kayu salib, Yesus ditinggalkan oleh Bapa, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Daku.” (lihat Mat 27:46). Kristus yang sangat dikasihi Bapa, Anak Allah yang tunggal satu-satunya, yang seluruh hati Bapa ada di dalam Dia, harus menanggung murka Allah, ditinggalkan oleh Allah. Dia menggantikan kita, supaya setiap kita yang percaya di dalam Kristus, tidak ditinggalkan satu detik pun oleh Tuhan untuk selama-lamanya. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman.” (Mat 28:20)

Biarlah kita menemukan arti hidup kita, dan mengajak orang-orang lain yang juga mencari arti hidup mereka untuk kembali kepada Firman. Karena Kristus adalah kebenaran itu sendiri yang kita patut pegang dengan segala jiwa, segala hati dan segala kekuatan kita.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya