Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kudus - Already but not Yet

Ibadah

Kudus - Already but not Yet

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 10 Maret 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 17:11,17-19

Ketika seorang mendengar Firman Tuhan, dan Roh Kudus bekerja di dalam hati orang itu, orang itu mengalami kelahiran kembali, dan boleh percaya di dalam Kristus maka orang itu menjadi anak-anak Allah. Yoh 1:12 mengatakan bahwa setiap orang yang percaya yaitu anak-anak yang bukan dilahirkan dari kehendak daging tetapi oleh kehendak Tuhan sendiri. Kita semua orang yang beriman kepada Kristus, kita diadopsi menjadi anak-anak Allah. Artinya ketika kita menjadi brother and sister dengan anak-anak Allah yang lain, menjadi saudara-saudara seiman, kita menjadi satu keluarga Allah, dengan satu Bapa yang di surga. Kita berasal dari Bapa dan kita menyembah Dia.

Paulus menegaskan bahwa kita juga anggota tubuh Kristus (lihat 1 Kor 12). Ketika kita beriman dan percaya kepada Kristus, maka kita langsung menempel, menjadi jempol, menjadi kelingking, menjadi kaki, menjadi tangan dlsb. Dari pada tubuh Kristus. Kita masing-masing menjadi anggota dari tubuh Kristus itu. Dengan demikian ketika seorang percaya kepada Kristus, secara otomatis dia menjadi satu secara status di mana Kristus dari pada tubuh, kita menjadi anggota dari pada tubuh. Bapa menjadi satu-satunya ayah di dalam keluarga Tuhan, dan kita semua adalah anak-anak-Nya, satu keluarga di dalam Tuhan.

Dalam doa Tuhan Yesus kali ini, Yesus berdoa bukan supaya kita menjadi satu karena kita sudah satu, tetapi Yesus berdoa supaya Bapa memelihara murid-murid-Nya, anak-anak-Nya, supaya mereka menjadi tetap menjadi satu. Yoh 17:23 Yesus mengatakan “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu...” Maksudnya adalah ada dua unsur yang harus kita mengerti. Ketika kita percaya beriman kepada Kristus, secara status kita adalah satu keluarga Tuhan. Tetapi sekaligus kita mengerti ada sesuatu yang belum selesai dalam kesatuan ini. Meskipun kita sudah satu secara status, kita belum satu secara kondisi, artinya belum menjadi satu di dalam apa yang kita alami. Kita sudah menjadi satu, tetapi kita masih harus mentaati panggilan Tuhan , melakukan kehendak Tuhan, untuk betul-betul bertindak, untuk menjadi satu tubuh. Inilah doa Tuhan Yesus dalam Yoh 17:23, supaya mereka terus menjadi satu, di dalam pikiran, di dalam pekerjaan, dalam hati, satu visi, satu misi.

Kita masih harus terus bertumbuh supaya kesatuan yang sudah Tuhan kerjakan itu menjadi nyata, menjadi kondisi yang sungguh-sungguh kita alami. Supaya kita betul-betul menjadi saudara seiman, betul-betul mengasihi saudara seiman kita. Kita memperhatikan mereka, mengasihi mereka ,berdoa bagi mereka. Ketika ada satu anggota tubuh yang sakit maka kita memperhatikan dia.  Satu anggota tubuh itu tidak sakit kalau dia tidak menarik perhatian untuk dirinya sendiri. Kalau ada anggota tubuh yang menarik perhatian untuk dirinya sendiri artinya dia sedang sakit. Kalau kelingking kita sakit maka kita terus perhatikan kelingking kita. Tetapi saat kelingking sembuh, kita tidak akan mengatakan kelingking kita enak sekali. Kita semua sebagai anggota tubuh memang harus memperhatikan anggota yang sakit.

Kita harus menyadari kedua sisi ini, secara status kita sudah menjadi anggota tubuh keluarga Tuhan, tetapi Yesus berdoa supaya Bapa memelihara mereka supaya mereka continualy be one. Kesatuan itu perlu diperjuangkan karena masih ada dosa, keegoisan, iri, dengki di dalam hidup kita. Karena itu kita harus berdoa dan berjuang bersama-sama sehingga kesatuan, panggilan Tuhan bagi Gereja Tuhan itu sungguh-sungguh kita alami sebagai satu tubuh, satu keluarga Tuhan. Ini menjadi panggilan yang tidak mudah bagi kita.

Kita sangat bersyukur kepada Tuhan karena kita boleh mengalami hal itu di dalam Gereja lokal dan dalam hidup kita sehari-hari. Tentu masih banyak kesulitan dan pergumulan di dalam Gereja. Di dalam realita dunia yang berdoa, di dalam Gereja, pasti ada yang pasif, yang tidak melayani apa-apa dan mungkin menjadi trouble maker. Inilah fakta yang tidak terhindari, dan Tuhan Yesus terus berdoa, dan doa ini tidak akan selesai, sampai Kristus datang untuk yang kedua kali, baru the complete unity itu bisa terjadi. Tetapi sebelum itu pasti ada pergumulan, dan fakta itu menjadi penghiburan bagi kita semua yang melayani.

Kita akan merenungkan persatuan Gereja secara status dan secara kondisi serta bagaimana dampaknya di dalam hidup kita, dalam berjuang bersama-sama melayani satu dengan yang lain. Kalau engkau adalah anggota tubuh Kristus maka pasti engkau tidak bisa tidak berfungsi, melayani untuk kebaikan seluruh anggota tubuh, untuk bertumbuh bersama-sama ke arah Kristus yang adalah kepala Gereja. Ini adalah perjuangan kita sampai Kristus datang yang kedua kali. 

Prinsip already and not yet ini, juga berlaku dalam hal kekudusan.

Tuhan Yesus berdoa Yoh 17:11 “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus...”, juga dalam Yoh 17:17 “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”

Dalam membicarakan hal kekudusan, kita juga perlu mengerti antara already dan not yet, antara status kudus dengan kondisi kudus yang kita alami.

Di dalam terjemahan Inggris kata “kudus” hanya satu kali saja muncul yaitu dalam Yoh 17:11 “Holy Father”, tetapi dalam ayat-ayat selanjutnya terjemahan Inggris menggunakan kata sanctified. Kata sanctified sebenarnya adalah sama dengan kata “kudus”, karena dalam bahasa Inggris tidak ada kata kerja “holify”, atau “holification”. Terjemahan Indonesia lebih tepat karena memakai kata yang sama yaitu “kudus”.  

Kita perlu mengerti apa arti kata kudus. Apa yang muncul di dalam pikiran saudara ketika saudara mendengar kata “kudus”? Mungkin saudara mengartikan tentang pikiran yang kudus, perbuatan yang kudus, atau kehidupan yang kudus, a holy moral life. Ini tidak salah tetapi itu bukan arti yang utama. Tetapi arti utama kata kudus adalah to be set apart. Ketika kita berbicara tentang Allah yang kudus, maka di dalam Yoh 17:11, Alkitab berbicara tentang Allah yang berbeda, separated, set apart, different, dari pada segala sesuatu. His being is a class by Himself, Dia jauh lebih indah, lebih mulia, daripada kemuliaan dan keindahan yang ada di dalam dunia ini.

Kita bisa mengerti ini dalam Yes 6, ketika Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ada seraphim yang berterbangan menutup mata mereka karena kekudusan Allah yang menakjubkan. Dua sayap seraphim menutup mata mereka, dua sayap menutup kaki mereka karena kekudusan Allah, dan dua sayap lainnya untuk terbang. Para seraphim in berseru satu sama lain “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.” Seraphim ini bukan seperti Yesaya yang berdosa. Yesaya sadar akan dirinya yang berdosa maka dia berkata celakalah aku seorang yang najis bibir, berdosa, binasalah aku. Tetapi seraphim bukanlah seperti orang berdosa, mereka adalah malaikat yang kudus. Namun malaikat yang kudus pun harus menutup muka mereka sambil berseru “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta Alam” Artinya Tuhan bukan hanya tidak berdosa, bukan hanya suci di dalam seluruh pikiran, perkataan dan kehendak-Nya. Tetapi Tuhan itu kudus karena Dia adalah berbeda sama sekali.

Beberapa teolog memberikan istilah He is the Holy Other, yang berbeda sama sekali dari kita. Bukan hanya berbeda dari manusia berdosa, bahkan dari seraphim, malaikat, dan seluruh ciptaan yang lain. Dia adalah Allah pencipta dari segala sesuatu, satu-satunya Allah yang kudus itu, karena itu seraphim yang tidak berdosa pun harus menutup mata mereka sambil berseru “Kudus, Kudus, Kuduslah TUHAN semesta Alam.”

Already Kudus

Ketika diterapkan kepada manusia, maka orang yang kudus adalah mereka yang pertama-tama dipisahkan atau dikhususkan untuk Tuhan dan untuk dipakai bagi rencana-Nya. Ini adalah sesuatu yang telah terjadi bagi semua orang percaya, tidak ada pengecualian – ini adalah sesuatu yang “already”. Semua orang yang beriman kepada Kristus telah dikuduskan. Paulus berbicara kepada umat di Korintus (1 Kor 6:11) “tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”

Kalimat ini adalah kalimat yang mengagetkan karena jemaat Korintus adalah jemaat yang penuh dengan dosa. Ada seorang anak yang berjinah dengan istri daripada ayahnya, mereka bertengkar satu dengan yang lain untuk mengatakan siapa yang lebih hebat, mereka tidak memperdulikan orang miskin, mereka berbahasa lidah yang tidak dimengerti dan menjadi batu sandungan bagi banyak orang di Korintus. Mereka adalah jemaat yang kacau dan salah satu jemaat yang paling rusak, paling banyak dosanya.

Tetapi kalau saudara membaca dari awal kitab Korintus, salam dari Paulus kepada jemaat di Korintus, Paulus menyebut mereka orang kudus (1 Kor 1:2) “…kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus …”

Jelas ketika Paulus menyebut jemaat Korintus sebagai orang kudus (saints) bukan menunjuk kepada kelakuan mereka, kepada hidup mereka yang tidak kudus. Justru Paulus ingin mengingatkan panggilan Tuhan yang telah terjadi di dalam hidup mereka, Paulus mau menegur mereka, mengingatkan mereka, bagaimana mungkin engkau masih berkubang dalam berbagai dosa, padahal engkau telah dikuduskan. Tidak seharusnya, dan tidak mungkin engkau terus-menerus hidup di dalam dosa seperti demikian.

Segala dosa bukan hanya dimengerti sebagai pengkhianatan kita melawan Tuhan, tetapi juga kita sedang berkhianat terhadap diri kita sendiri. Kita sedang melawan dan menghancurkan diri kita sendiri. Kalau kita anak-anak Tuhan, sudah di dalam Kristus, percaya kepada Kristus, telah menerima hidup baru itu, maka ketika kita berdosa kita bukan hanya melawan Tuhan, tetapi juga melawan ciptaan yang baru ini. Bukan hanya kita berkhianat melawan Tuhan tetapi kita juga berkhianat dan melawan diri kita sendiri, karena kita adalah orang kudus. Pekerjaan Kristus membuat kita menjadi orang kudus, dikuduskan oleh Tuhan, status kita adalah orang kudus. Jadi arti pertama dari orang kudus adalah dikhususkan dan dipakai untuk rencana Tuhan.

Not Yet Kudus

Tetapi di sisi lain kita sadar, seperti Paulus nyatakan dalam 1 Korintus, dan juga doa Yesus di sini, bahwa ada unsur yang belum kudus di dalam hidup kita. Statusnya memang sudah kudus tetapi kehidupan, pikiran, hati, motivasi, sering jatuh di dalam dosa, atau dengan istilah lain “not-yet:”. Karena itulah Paulus menegur bahwa kita memerlukan firman Tuhan dan doa Yesus, supaya kita boleh dikuduskan terus menerus.

Tanpa pekerjaan Tuhan yang pertama, maka kita tidak mungkin menjadi orang kudus.  Pekerjaan Tuhan yang menguduskan kita sudah dikerjakan, tetapi masih ada pekerjaan yang belum selesai. Jadi ada yang sudah selesai dan ada yang belum selesai, already and not yet. Kita perlu mengerti dua hal ini, bahwa kita terus menerus harus berjuang mentaati firman Tuhan secara khusus. Supaya hidup, pikiran, motivasi, seluruh aspek hidup kita boleh kudus, boleh sungguh-sungguh dipakai untuk kemuliaan Tuhan. Alkitab menekankan kedua aspek ini, kita harus mengerti kedua aspek ini, karena kalau tidak kita akan jatuh ke dalam kesalahan yang sering terjadi pada orang Kristen.

Aspek already dan not yet ini juga dijelaskan dalam Ibrani. Ibrani 10:10 mengatakan “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus”, sedangkan Ibrani 10:14 mengatakan “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Terjemahan NIV secara lebih jelas menjelaskan Ibrani 10:10 “been made holy” – sudah dikuduskan - satu kali untuk selama-lamanya. Sedangkan pada akhir dari kalimat Ibrani 10:14 “…being made holy.”, ada present tense – sedang dalam proses pengudusan. Engkau sudah dibuat kudus satu kali melalui darah Kristus, satu kali selama-lamanya. Engkau telah berubah dari sinner menjadi saint. Berubah secara status, dengan beriman di dalam Kristus, karena anugerah Kristus semata-mata maka kita bertobat, Roh Kudus bekerja, dan status kita berubah dari sinner menjadi saint (orang kudus). Tetapi ada aspek yang belum selesai, kita masih dalam proses pengudusan.

Aspek not yet dijelaskan lebih lagi dalam Ibrani 12:10 “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Ayat ini berbicara dengan konteks orang tua yang mendidik anaknya dengan waktu yang pendek, tetapi Bapa kita yang di surga menghajar, mendisiplin anak-anak-Nya untuk kebaikan mereka, supaya mereka mendapat bagian dalam kekudusan-Nya. Artinya kita masih perlu dikuduskan, kita belum berbagian dalam kekudusan-Nya. Bapa masih perlu mendisiplin dan membentuk kita, karena kita masih bisa jatuh di dalam dosa, masih ada iri hati, kebencian, ada pikiran yang kotor, uang masih menjadi yang utama, self centered, mata kita tidak disucikan. Karena kita anak Tuhan yang sejati maka Bapa kita akan mengasihi kita, Dia tidak akan membiarkan kita terus dalam keadaan kita saat ini. Kita datang kepada Tuhan seperti lagu tema penginjilan oleh Billy Graham “Just as I am”, tetapi Tuhan mengubah status kita menjadi milik dan anak-anak Tuhan. Bapa yang mengasihi kita, tidak akan membiarkan kita just as you are now, Dia akan terus mengubah kita, membentuk dan mengasihi kita supaya kita boleh berbagian dalam kekudusan-Nya.  

Alkitab menekankan kedua hal ini – di satu sisi kita sudah dikuduskan (already), tetapi di sisi lain, kita masih dalam proses pengudusan (not yet). Harap proses pengudusan ini terjadi di dalam hidup kita, setiap hari pikiran kita semakin kudus, perkataan kita makin kudus, hidup kita makin kudus, waktu kita sungguh-sungguh dipakai untuk pekerjaan Tuhan, uang kita bukan untuk kemewahan diri, tetapi untuk pekerjaan Tuhan dan kebaikan orang lain, dlsb. Harap seluruh aspek hidup kita terus dikuduskan, sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan.

Inilah dinamika hidup orang Kristen; namun ini bukan berarti kita tidak tahu apa yang terjadi. Kita mengetahui dengan pasti apa yang terjadi - Tuhan sudah menguduskan kita, Kristus sudah mati bagi kita. Maka kita adalah orang kudus dan tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus yang telah mati bagi kita. Kita milik Tuhan sekali untuk selama-lamanya.

Namun selalu ada dinamika hidup, ada dinamika yang kadang-kadang mengharuskan kita bergumul dengan berat, ada kesulitan yang besar. Tetapi Tuhan berdaulat, bekerja, membentuk, menguduskan kita supaya kita makin serupa dengan Kristus.

Dua aspek ini perlu kita pegang di dalam hidup kita, karena kalau kita memegang salah satu saja maka ada dua kemungkinan yang ekstrim:

- Kita akan menjadi frustasi dan putus asa menjadi orang Kristen. Karena ketika kita menyadari kita adalah milik Tuhan, orang kudus ; namun ketika kita melihat hidup kita, pekerjaan kita, cek-cok suami/istri, frustrasi mendidik anak-anak, sakit hati dengan teman-teman, ada banyak kegagalan, dll. Kita bisa mempertanyakan diri kita apakah betul kita milik Tuhan, apakah betul kita orang kudus. Kita bisa menjadi frustrasi dan putus asa kalau kita hanya menganggap bahwa kita milik Tuhan tetapi kita melupakan bahwa kita masih di dalam proses.

Pekerjaan yang penting sekali sudah dikerjakan yaitu ketika engkau beriman kepada Kristus, Roh Kudus bekerja melalui firman-Nya, sehingga kita lahir baru. Kita menjadi ciptaan baru yang lama sudah berlalu. I am a new creation, I belong to God, aku adalah orang kudus. Ini memang betul, tetapi pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita belum selesai. Tuhan masih akan terus memproses kita, karena kita masih hidup di dalam dunia berdosa, kita hidup bersama-sama dengan orang-orang berdosa yang lain, bertengkar dan berbenturan satu dengan yang lain.

Paulus sendiri bergumul, (Roma 7:19) “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Ini adalah pergumulan yang dalam sekali. Roma 7 berbicara tentang orang yang percaya dan bukan tentang orang yang tidak percaya. Karena orang yang tidak percaya tidak mungkin menginginkan apa yang Tuhan inginkan. Roma 7 berbicara tentang pergumulan Paulus yang mewakili orang-orang beriman yang lain, yang menginginkan apa yang baik, tetapi kenyataannya dia gagal, gagal lagi, yang dia lakukan justru yang jahat yang dia benci. Bagi orang-orang yang tidak percaya mereka tidak membenci yang jahat, mereka mencintai yang jahat, menginginkan apa yang jahat. Tetapi orang-orang yang sudah dikuduskan menginginkan apa yang baik, namun yang mereka lakukan adalah apa yang jahat. Karena itu Paulus mengatakan (Roma 7:24) “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Tetapi teriakan frustrasi itu tidak berhenti sampai di situ. Paulus kemudian melanjutkan (7:25) dia bersyukur kepada Allah di dalam Yesus Kristus, Dia telah menyatakan anugerah-Nya.

Karena itu aspek yang penting dalam hidup orang Kristen adalah berdoa, sadar akan kegagalan kita, siapa pun itu termasuk Paulus. Biarlah kita dapat mencontoh Paulus dengan terus berseru kepada Allah, berbelas kasihanlah kepadaku, dan selalu bersandar kepada Tuhan. Biarlah kita tidak menjadi frustrasi, karena pekerjaan Tuhan memang belum selesai. Biarlah firman Tuhan menggugah kita kembali.

- Ekstrim yang kedua adalah kita bisa excuse, menganggap tidak apa-apa kita berdosa. Toh tidak ada orang yang berani mengaku sempurna, sehingga tidak apa-apa melihat pornografi, tidak apa-apa berdosa, malas-malasan, memakai uang untuk kepentingan sendiri, mementingkan diri kita sendiri, mengerjakan apa yang aku inginkan, dlsb. Ini adalah tidak benar karena kita harus mengingat sisi yang lain. Memang betul kita masih belum sempurna, dan Tuhan masih memurnikan kita, seperti emas/perak yang terus dimurnikan. Namun kita harus mengingat bahwa kita sudah milik Tuhan, Kristus sudah mati bagi kita.

Kalau kita adalah anak Tuhan yang sejati maka engkau harus berkata seperti Paulus (Gal 2:19) “…aku sudah disalibkan dengan Kristus”, Artinya aku sudah mati, manusia lamaku yang dikuasai oleh dosa sudah mati, sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Tetapi bagaimana Paulus bisa selanjutnya berkata (Gal 2:20) “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku.”? Itu karena Anak Allah yang telah mati menguduskan kita, harga yang harus Dia bayar adalah Dia harus mati bagi kita. Paulus melanjutkan “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk Aku.” Supaya kita boleh diterima oleh Tuhan sebagai orang-orang kudus.

Sehingga bagaimana mungkin kita masih terus berkubang di dalam dosa, seperti babi yang berkubang di lumpur. Bagaimana mungkin kita berkata Kristus hidup di dalamku tetapi aku terus berdosa; tidak mungkin kita hidup seperti itu. 1 Yoh 3:6-9 menegaskan bahwa semua orang yang percaya, beriman di dalam Kristus tidak mungkin terus menerus hidup di dalam dosa. Bukan berarti kita tidak bisa berdosa, tetapi kita tidak boleh excuse; kita harus bertobat, dan kembali lagi kepada Tuhan.

Dikuduskan dalam Kebenaran

Dalam Yoh 17:17 Tuhan Yesus mengatakan “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanmu adalah kebenaran.” Kita boleh dikuduskan dalam kebenaran. Yoh 17:19 Yesus melanjutkan “… dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” Kita harus mengingat bahwa Kristus sendiri adalah firman itu sendiri. Dia-lah sang firman itu sendiri (Yoh 1:1) “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Yesus juga adalah kebenaran itu (Yoh 14:6) “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Dia adalah Sang Firman dan Kebenaran itu.

Murid-murid telah menerima firman Allah dan percaya kepada Kristus. Mereka adalah orang-orang yang telah Kristus kuduskan melalui Kristus yang telah menguduskan diri-Nya bagi mereka. Yoh 17:19 “Aku mengkuduskan diri-Ku bagi mereka.” Artinya Kristus meng-set-apart, mengkuduskan diri-Nya bagi engkau dan saya. Ini tentunya menunjuk kepada kematian-Nya di atas kayu salib yang menguduskan setiap orang percaya. Ibrani 10:10 menyatakan bahwa kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Dengan kematian-Nya, Dia mengkuduskan kita di dalam kebenaran. Ini sesuatu yang sudah terjadi di dalam murid-murid-Nya.

Tetapi aspek yang kedua (not yet) dari kita dikuduskan dalam kebenaran adalah kita harus terus menerus dikuduskan oleh firman Tuhan. Artinya tanpa kita merenungkan, mengerti dan mentaati firman Tuhan, kita tidak mungkin memiliki hidup yang kudus. Yesus berdoa kepada Bapa supaya murid-murid-Nya dan anak-anak-Nya dikuduskan di dalam kebenaran (Yoh 17:17), “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Kita harus terus menerus dikuduskan dalam kebenaran. Kita hidup di dalam jaman post-truth. Setan seperti di dalam kitab Wahyu menyamarkan kebenaran.

Begitu banyak hoax yang diberitakan, dan post-truth mengatakan kebohongan berulang-ulang. Kebohongan kalau dikatakan berulang-ulang dengan cara yang berbeda-beda, maka orang-orang akan mulai mempercayainya sebagai kebenaran. Post truth juga memecahkan (fragmentasi) kebenaran itu sehingga orang-orang bingung. Orang-orang post modern sering mengilustrasikan suatu kebenaran seperti orang buta yang pegang gajah. Yang memegang kaki, mengatakan bahwa gajah itu seperti pohon. Yang memegang belalainya mengatakan bahwa gajah itu seperti ular, Yang memegang telinganya mengatakan bahwa gajah itu seperti daun yang lebar sekali. Setiap dari mereka mempunyai interpretasi masing-masing tentang gajah. Jadi pengertian gajah itu adalah semua itu, tapi masing-masing hanya mengerti fragment-fragment. Kalau saudara tidak teliti, saudara mungkin menganggap ini benar.

Namun persoalannya adalah ilustrasi gajah ini diceritakan oleh orang yang sebenarnya mengklaim sebagai satu-satunya orang yang mengerti gajah secara keseluruhan itu seperti apa. Orang ini menipu kita, dia mengasumsikan bahwa dia tahu gajah secara keseluruhan. Karena kalau dia sendiri tidak tahu maka dia tidak mengatakan pengertian kamu seperti fragment. Dia seolah-olah mengaku sebagai satu satunya orang yang melek, yang bisa melihat, dan semua orang lain itu buta. Salah satu tujuan kitab wahyu adalah membongkar imitasi setan karena setan bisa menyamar sebagai malaikat terang, dan setan akan memudarkan kebenaran.

Bagaimana kita boleh hidup kudus, mentaati firman Tuhan supaya kita kudus? Biarlah kita terus bertumbuh di dalam kebenaran firman. Roma 12:2 mengatakan “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini.” Ini adalah aspek yang tidak kudus dalam hidup kita, yaitu kalau kita menjadi serupa dengan dunia ini. Petrus mengatakan (lihat 1 Pet 3:15) baiklah engkau siap sedia mempertanggungjawabkan akan iman dan pengharapan yang ada pada hidupmu. Masalahnya adalah orang tidak bertanya kepada kita, karena hidup kita sama dengan mereka. Ini menjadi persoalan.

Biarlah kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini tetapi (Roma 12:2) berubahlah oleh pembaharuan budimu, be transformed by the renewing of your mind, oleh firman Tuhan, supaya kita mengetahui apa yang baik, apa yang berkenan kepada Tuhan. “Be transformed” adalah kata yang tidak mudah untuk kita taati. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh mentaati maka itu menjadi suatu proses yang indah. Dalam bahasa Yunani kata “be transformed” adalah memakai kata metamorfosa, seperti dari ulat yang kecil, yang jelek dan menjijikkan itu, menjadi kepompong, terus berubah dan menjadi kupu-kupu yang indah. Tuhan menginginkan kita mengalami hal ini, be transformed by renewing of our mind, dikuduskan oleh firman Tuhan. Tanpa kita merenungkan, mengerti dan terus berjuang mentaati firman Tuhan maka tidak ada orang yang memiliki hidup yang kudus.

Biarlah kita mendengarkan firman dengan sungguh-sungguh. Mazmur 1:1-3 mengatakan berbahagialah orang yang kesukaannya adalah taurat Tuhan dan yang merenungkan taurat itu siang dan malam, dia akan menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air yang menghasilkan buahnya pada musimnya, yang tidak layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya berhasil. Biarlah kita sungguh-sungguh dalam hidup kita sehari-hari, membaca, merenungkan firman, berdoa, mentaati dan melakukan firman Tuhan di dalam hidup kita, di Gereja, di keluarga, di tempat kerja, di sekolah. Biarlah kita membuat firman Tuhan menjadi pusat mewarnai seluruh aspek hidup kita, dan seluruh hidup kita boleh dikuduskan oleh firman Tuhan.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya