Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Dosa Kemunafikan

Ibadah

Dosa Kemunafikan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 28 April 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 18:28-32

Salib bukan hanya tema yang penting dalam kekristenan, tetapi juga fokus dari pada seluruh Alkitab. Kalau kita melihat Alkitab dengan kerangka salib Kristus maka seluruh Alkitab akan masuk akal. Namun kalau kita ambil salib dan kebangkitan Kristus maka seluruh Alkitab akan runtuh. Salib menjadi fokus teologi Kristen and sesungguhnya adalah fokus dari hidup kita juga. Seorang teolog mengatakan "No theology is genuinely Christian which doesn’t arise from the Cross". Tidak ada hidup yang sesungguhnya benar-benar Kristen kalau tidak muncul dan tidak berfokus kepada salib Kristus.

Kali ini kita akan merenungkan pengadilan Kristus di hadapan Pilatus. Injil Yohanes mencatat secara khusus peristiwa ini; Injil lainnya, Matius, Markus, Lukas sedikit sekali membahas pengadilan Kristus di hadapan Pilatus, namun lebih mencatat tentang pengadilan Kristus di hadapan Kayafas. Karena Injil Yohanes ditulis terakhir dibandingkan Injil lainnya, Yohanes mungkin menambahkan apa yang belum ada di Injil Matius, Markus dan Lukas. Kita akan melihat hal-hal yang unik dalam pengadilan Kristus di hadapan Pilatus, yang hanya ada, yang ditulis secara detil dalam Injil Yohanes dan tidak ada di Injil lainnya.

Yoh 18:28 “Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan.” Yohanes langsung melompat dari Kayafas ke pengadilan yang dalam bahasa aslinya adalah Praetorium, yang juga tempat tinggal resmi gubernur Roma. Yesus kemudian diadili berdasarkan hukum Roma, yang pada saat itu sudah mencapai kematangan yang sangat tinggi. Hukum Roma pada abad-abad permulaan memberi pengaruh banyak kepada hukum-hukum di Eropa. Seorang penulis mengatakan Yahudi memberi kepada dunia ini agama, Yunani memberi ilmu atau hikmat, tetapi Romawi memberi hukum kepada dunia ini. Yesus diadili oleh pengadilan Romawi yang sangat besar dan agung pada saat itu.

Dalam pengadilan Romawi ada empat hal yang penting, yang bahkan sampai sekarang hal-hal itu masih dianut dalam pengadilan dunia ini. Yang pertama, adalah adanya tuduhan (indictment) mengapa tertuduh dibawa kepengadilan. Kemudian ada pengujian (examination) apakah betul tuduhan itu. Yang ketiga adalah adanya pembelaan (defence) memberi kesempatan kepada tertuduh untuk membela dirinya. Yang terakhir, setelah mempertimbangkan tuduhan, pengujian, dan pembelaan, maka hakim memutuskan putusan (verdict) bersalah atau tidak bersalah. Ini adalah menjadi dasar dari pada seluruh hukum di seluruh dunia.

Kalau kita melihat dalam Yoh 18:29, Pilatus memulai dengan indictment atau tuduhan. Pilatus bertanya “Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?”  Tetapi ternyata kalimat yang paling dasar ini mengagetkan orang Yahudi. Ada yang mengatakan kemungkinan sebelumnya Pilatus dan orang Yahudi sudah berbicara sebelumnya karena waktunya sangat-sangat pagi. Tetapi rupanya Pilatus tetap harus menjalankan prinsip hukum Romawi ini, jadi ada tuduhannya: “Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?”

Kalimat ini mengagetkan orang-orang Yahudi, karena sebenarnya mereka tidak mempunyai tuduhan apapun yang layak diadili oleh pengadilan Roma, apalagi tuduhan yang layak dihukum mati menurut pengadilan Roma. Maka mereka menjawab secara umum saja kepada Pilatus (Yoh 18:30) “Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” Jadi sebenarnya mereka tidak memiliki tuduhan, dan seolah-olah mau mengatakan kamu percaya saja kepada kami, kami sudah tahu Dia bersalah, walaupun mereka tidak memberi tahu apa salahnya.

Pilatus tentu tidak menerima hal itu, karena ini melanggar seluruh prinsip pengadilan Roma, maka Pilatus berkata Yoh 18:31 “Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.” Kalau tidak ada tuduhan yang bisa kamu katakan kepada Yesus maka saya tidak bisa menghakimi Dia, dan hakimi saja menurut hukummu. Kalimat Pilatus membuat orang-orang Yahudi terpaksa menyatakan dengan terus terang tujuan mereka datang kepada Pilatus. Mereka mengatakan (Yoh 18:31b) “Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.” Jadi tujuan mereka adalah menghukum mati Yesus Kristus.

Dalam Yoh 18:32 sekali lagi Yohanes menyatakan suatu prinsip yang sudah berkali kali dikatakan sebelumnya “Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.” Kristus mengerti dan tahu apa yang akan terjadi, Kristus menyerahkan Diri-Nya. Dia sendiri sudah mengatakan beberapa kali bahwa Dia akan mati disalibkan. Yohanes mencatat di sini, bahwa apa yang terjadi di sini adalah supaya menggenapi Injil yang Kristus sendiri sudah katakan mengenai bagaimana Dia akan mati. Artinya Dia tidak akan mungkin mati dengan dirajam batu.

Sebelumnya dua kali Yesus sudah hampir dirajam batu, tetapi didalam kedaulatan dan pimpinan Tuhan, Dia lolos. Salah satunya adalah ketika Yesus berkata “Aku dan Bapa adalah satu.”, maka orang-orang Yahudi menjadi marah sekali dan mau merajam Dia dengan batu, tiba-tiba Yesus lolos saja. Jadi Kristus tidak mungkin mati dengan dirajam batu, melainkan dengan disalibkan, seperti yang Yesus katakan dalam Yoh 12:32 “… apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” ”Ditinggikan” artinya ditarik di atas kayu salib. Tentu kita akan tahu, dengan “ditinggikan” itu artinya bukan hanya Kristus di angkat di atas kayu salib, tetapi juga Dia sedang dimuliakan di atas kayu salib. Kematian Kristus adalah di dalam kedaulatan Tuhan, dan rencana Tuhan yang kekal, justru menyatakan kemuliaan dari pada Allah Bapa dan Yesus Kristus.

Yoh 18:28 “Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.” Hari itu adalah hari Jumat menjelang Paskah, mereka akan Paskah dan mereka tidak mau masuk ke gedung pengadilan itu, karena kalau masuk, mereka akan menjadi najis. Sehingga Pilatus-lah yang harus keluar menemui mereka.

Ini adalah sesuatu yang sangat ironis. Orang-orang Yahudi tidak mau masuk ke gedung pengadilan supaya mereka tidak menjadi najis, tetapi mereka sebenarnya sudah menetapkan hati bahwa Kristus harus mati.

JC Ryle mengatakan “The very Jews who thirst for Christ blood were the Jews who fear the defilement of Roman judgement hall.” Mereka adalah orang yang haus darah, yang sedang melakukan kejahatan terbesar sepanjang sejarah manusia, menyalibkan Anak Allah yang tunggal, yang kudus dan benar itu. Tetapi mereka kuatir karena kenajisan masuk ke dalam ruang pengadilan orang kafir. Dengan satu ayat, Yohanes membongkar kemunafikan orang-orang Yahudi dan Farisi.

Kemunafikan mereka juga ditulis cukup panjang oleh Matius. Dalam Mat 23 Tuhan Yesus menghardik, mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang dengan kemunafikan mereka, mereka mempertahankan hal-hal yang luar, supaya mereka kelihatan bersih, tetapi dalam hidup mereka, begitu rusak, begitu najis secara hati. Mat 23 memuat ucapan-ucapan celaka: Yesus mengatakan (Mat 23:23-27) “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. Celakalah kamu, hai ahli ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” Ini adalah teguran Kristus yang sangat keras.

Ini adalah sangat berbeda dengan perkataan Yesus kepada perempuan yang kedapatan berjinah, atau kepada perempuan Samaria yang memiliki lima suami. Tuhan Yesus tidak kompromi dengan dosa mereka, Yesus menegur mereka, tetapi Yesus mengatakannya penuh pengertian, kasih dan kesabaran. Tetapi di sini, Yesus mengatakan kalimat-kalimat yang begitu keras.

Bagaimana kita mengetahui kapan harus keras menegur dosa dan kapan harus lembut menegur dosa. Kita bisa melihat satu prinsip, kepada orang yang sudah takut bahwa dia berbuat salah, yang sudah sadar dia berbuat salah, dan orang-orang lain sudah mengetahui dia berbuat salah, maka kita perlu lembut, mengerti dan membawa mereka meninggalkan dosa mereka. Tetapi bagi orang-orang yang bersalah dan tidak sadar bahwa mereka bersalah, bahkan mereka merasa benar dan terus menegaskan bahwa mereka benar, maka orang-orang seperti demikian harus ditegur dengan keras. Seperti itulah orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

Tuhan Yesus menegur dengan keras mereka yang merasa diri suci, mulia, melakukan kehendak Tuhan. Tetapi sesungguhnya mereka hanya luarnya saja mengerjakan perintah Tuhan, namun kehendak Tuhan yang utama mereka tekan. Mereka bangga akan hal-hal luar yang mereka kerjakan di hadapan manusia.

Kalimat-kalimat yang keras ini juga menjadi peringatan bagi kita. Ketika kita merenungkan apa teguran itu, khususnya kemunafikan, kita sebenarnya rentan terhadap dosa-dosa seperti itu. Kalau orang bukan Kristen melakukan hal-hal itu, itu tidak bisa disebut munafik. Seorang teolog mengatakan semua orang diberikan rekaman di dalam hati mereka yang mereka bawa ke mana-mana. Rekaman itu mencatat apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan. Maka begitu banyak kemunafikan dalam hidup manusia.

Terlebih lagi bagi orang Kristen, justru karena orang Kristen sudah mengerti, menerima, dan sepertinya hidup dalam kebenaran, maka kemunafikan adalah bahaya bagi orang-orang Kristen. Kita tidak seperti orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan, mabuk-mabukan, berjinah, berjudi dlsb. Kita sepertinya semuanya baik, datang ke Gereja, melakukan kebenaran, bahkan mengutip perkataan Alkitab, tetapi kalau kita tidak berhati-hati maka kita bisa jatuh di dalam kemunafikan yang Tuhan Yesus tegur dengan sangat keras.

JC Ryle mengatakan teguran Yesus ini sebagai “a picture which unhappily has been reproduced over and over again in the history of the Church of Christ, there is not a point in the character of the scribes and the Pharises in which it may not be easily shown that people called themselves Christian have fallen walk in their steps”. Inilah gambaran tidak baik yang terus diulang dalam sejarah kekristenan. Tidak ada satu bagian pun yang menggambarkan karakter Farisi dan ahli Taurat yang kita tidak bisa lihat dalam orang-orang yang menyebut diri mereka Kristen. Kristus menegur dengan keras kemunafikan mereka.

Apa yang disebut sebagai munafik? Munafik adalah orang yang mengetahui kebenaran, bahkan mengajarkan kebenaran tetapi tidak melakukannya. Mereka mengajarkan kebenaran, tetapi mereka sendiri tidak percaya itu sebagai kebenaran. Bukan berarti kita sudah mengerjakannya atau sudah sempurna mengerjakannya, tetapi orang yang bukan munafik sebenarnya adalah orang yang sedang belajar dan bertumbuh mentaati kebenaran. Orang munafik mengerti, mengajarkan kebenaran namun tidak pernah sungguh-sungguh berjuang melakukan kebenaran itu, bahkan melakukan yang sebaliknya.

Ciri orang munafik yang kedua, adalah orang yang sungguh-sungguh memperhatikan hal-hal yang bersifat luar. Memperhatikan fenomena yang kelihatan, tetapi sebenarnya melupakan hal-hal yang ada di dalam hati, yang terlihat. Namun itulah yang sebenarnya esensi pengajaran firman Tuhan: hal-hal yang paling dalam.

Tentu kita, orang-orang Kristen, adalah orang-orang yang rentan terhadap dosa-dosa ini. Kebanyakan di antara kita kelihatan baik dari luar, tetapi siapa yang tahu apa yang ada di dalam hati kita, siapa yang tahu apa yang kita kerjakan yang orang lain tidak lihat. Mungkin hanya orang-orang yang paling dekat dengan kita, anak, istri/suami kita, yang tahu apa yang paling penting di dalam hidup kita, apa yang menjadi Tuhan di dalam hidup kita.

Ini menjadi peringatan yang penting bagi kita. CS Lewis mengatakan kita sering berpikir bahwa dosa kedagingan adalah dosa yang paling besar, seperti berjudi, mabuk-mabukan, memukul orang dlsb. Tidak, semua dosa yang paling besar adalah dosa yang bersifat spiritual, dosa yang tidak kelihatan. Dari luar kelihatan bagus, tetapi dalamnya rusak. Tuhan Yesus menegur kamu seperti kuburan yang dilabur putih, tetapi sebenarnya sebelah dalamnya penuh tulang belulang, berbagai jenis kotoran. CS Lewis melanjutkan karena itu orang yang pergi ke Gereja, menyanyi memuji Tuhan, bahkan memberi persembahan, namun hatinya penuh dengan keangkuhan lebih suci daripada orang lain, firman Tuhan tidak pernah bisa menembus hatinya, menganggap firman Tuhan adalah buat orang lain, bukan buat dirinya; maka orang seperti ini lebih dekat ke neraka daripada seorang pelacur. Orang-orang yang dari luar kelihatan baik, namun hatinya penuh dengan kerusakan, mengkritik orang lain, dan firman Tuhan tidak pernah menggerakkan, menembus hatinya, membuat dia berlutut dan menangis di hadapan Tuhan, maka orang yang seperti demikian lebih dekat ke neraka daripada seorang pelacur. Ini adalah kebenaran yang menjadi peringatan bagi saudara dan saya. Kadang-kadang ibu-ibu lebih kuatir sofanya kotor dibanding kotoran yang ada di hati anak-anaknya. Bapa-bapa lebih kuatir mobilnya lecet, daripada ada luka di hati anak-anaknya. Ini menjadi peringatan bagi kita sekalian.

Problem lain dari pada kemunafikan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang perduli kepada kenajisan, tidak mau masuk ke pengadilan Romawi, tetapi buta terhadap yang paling penting di dalam hati, yaitu buta dan haus darah membunuh Anak Allah yang tunggal adalah mereka melihat seluruh hidup dengan legalisme.

Kalau kita melihat hukum-hukum mereka, maka kita melihat begitu banyak hukum dan peraturan yang menjadi beban yang berat sekali. Sepuluh hukum Taurat, yang menjadi prinsip utama hukum Allah kepada manusia, khususnya kepada orang Israel, mereka detilkan menjadi 613 peraturan atau hukum. Misalnya perintah kuduskanlah hari Sabat, maka mereka mendefinisikan dengan detil apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan di hari Sabat. Dari 613 hukum itu, 365 adalah hukum negatif, tidak boleh begini atau begitu, dan 248 hukum positif, kamu harus begini atau begitu. Ini menjadi beban yang berat sekali bagi bangsa Israel.

Hukum-hukum seperti ini bersifat luar, dengan melakukan seluruh hukum itu, orang Farisi dan ahli Taurat merasa sudah benar. Namun hal yang paling inti, seperti dalam teguran Yesus, yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan, tidak mereka lakukan. Supaya tidak najis, mereka tidak mau masuk ke ruang pengadilan Romawi, tetapi mereka membenci dan ingin membunuh Anak Allah yang tunggal.

Contoh dari sikap legalistik dari kehidupan Kristen adalah perumpamaan anak yang hilang (lihat Luk 15:11-32). Sesungguhnya puncak dari pada perumpamaan itu bukanlah anak yang bungsu yang hilang, tetapi tentang anak yang sulung yang juga hilang. Ayah dalam perumpamaan itu sebenarnya kehilangan dua anak. Hilangnya anak sulung menjadi lebih parah karena hilangnya di dalam rumah. Anak sulung itu melakukan segala sesuatu yang ayahnya inginkan, tidak pernah melanggar perintah ayahnya, namun dia betul-betul hilang, jauh lebih dalam dibandingkan anak yang bungsu. Orang Yahudi yang membaca cerita itu sadar, anak bungsu itu memang betul-betul berdosa, pergi meninggalkan ayahnya, bahkan sampai harus makan makanan babi, sesuatu yang betul-betul najis bagi orang Yahudi. Namun ketika anak yang bungsu itu pulang ke ayahnya, Alkitab menegaskan dengan begitu indahnya, ayahnya melihat anaknya dari jauh, dan berlari mendapatkan anak itu. Kalau kita melihat konteksnya dalam jaman itu, tidak ada orang tua yang kaya terhormat itu lari. Artinya juga ayahnya itu setiap hari menantikan anaknya kapan pulang.

Pak Tong pernah menceritakan seorang yang datang meminta seorang pelukis melukis kisah anak yang hilang. Setelah beberapa waktu, orang itu datang menanyakan akan lukisan itu. Pelukis itu mengatakan lukisan itu sudah selesai, dan menyuruh orang itu mencarinya di dalam galeri. Orang itu masuk namun tidak bisa menemukan lukisan itu di antara banyak lukisan lainnya. Maka dia menanyakan lagi kepada pelukis itu, dimana lukisan itu. Ternyata lukisan itu tidak seperti yang dia pikir, yang fokusnya kepada anak. Lukisan itu menggambarkan seorang bapa, dengan besar dari belakang, sedang berlari, sedangkan anak bungsu digambarkan begitu jauh dan kecil. Fokusnya bukan anak bungsu, namun kasih bapa yang begitu besar kepada anaknya.

Tetapi cerita itu tidak berhenti di sini, anak yang sulung yang mendapatkan ayahnya mempestakan anak yang bungsu, maka marahlah anak yang sulung. Dia tidak mau masuk ke dalam dan meminta ayahnya keluar. Dia mengatakan sudah bertahun-tahun melayani ayahnya, melakukan semua yang ayahnya perintahkan, namun ayahnya membuat pesta yang sedemikan besar bagi adiknya yang sudah menghabiskan harta ayahnya. Ayahnya bahkan tidak pernah memberikan anak domba bagi dia untuk berpesta dengan teman-temannya. Ayahnya baru sadar bahwa anak sulung itu betul-betul hilang. Ayahnya mengatakan semua milikku adalah milikmu, tetapi adikmu yang sudah hilang itu datang kembali, adikmu yang sudah mati itu, hidup kembali, kita patut bersuka cita.

Kalimat itu menjadi teguran bagi ahli Taurat, kepada saudara dan saya, yang mengaku orang Kristen, yang seperti anak sulung itu, yang tidak berdosa secara luar, yang secara luar kelihatan baik, yang tidak melakukan kejahatan yang dapat dilihat. Tetapi apakah betul kita mengerti isi hati Bapa yang di surga. Bapa itu mengatakan seharusnya engkau mengerti isi hati-Ku, seharusnya engkau pergi dan mencari adikmu itu, supaya dia boleh kembali kepada Bapa. Anak yang sulung itu ada di dalam rumah tetapi dia sungguh tidak mengerti akan isi hati ayahnya.

Orang-orang Yahudi, ahli Taurat, dan Farisi betul-betul memperhatikan apa yang di luar, tetapi melupakan hal yang paling inti dari pada hidup manusia. Ini adalah spirit of legalism, memperhatikan apa yang di luar tetapi tidak yang di dalam. Namun apakah sebaiknya kita menjadi anak yang bungsu saja? Jawabannya tentu bukan, keduanya adalah anak yang hilang, namun hilang dalam cara yang berbeda.

Sinclair Fergusson mengatakan ini adalah dua bentuk dari pada respon manusia berdosa yang secara intinya sama. Bentuk pertama adalah legalisme, seperti anak sulung yang di dalam rumah, tetapi hilang. Dia sepertinya melakukan hal yang baik tetapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengerti isi hati ayahnya. Tetapi anak yang bungsu adalah orang yang memberontak, dan melakukan segala dosa. Ini adalah antinomianisme – melawan secara terang-terangan.

Dua bentuk ini terlihat berbeda, tetapi sebenarnya berakar dari hati yang sama, seperti dua saudara kembar yang lahir dari rahim yang sama. Akar yang sama yaitu tidak percaya bahwa Bapa memiliki our best interests in His heart. Tidak percaya bahwa hati Bapa adalah menginginkan apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Seluruh perintah-Nya adalah untuk kebaikan kita, yang sesuai dengan karakter-Nya yang suci itu, tetapi Dia berikan perintah-Nya juga untuk kebaikan kita. God has our best interests in His heart.

Semua dosa yang kita lakukan, baik yang secara terang-terangan, maupun hanya di dalam hati, yang tidak senang akan firman Tuhan, menganggapnya sebagai peraturan yang mengekang kita, adalah karena kita belum mengerti isi hati Tuhan. Tuhan menginginkan kita mengerti isi hati-Nya, dan berelasi seperti seorang ayah dengan anak-anaknya. Ayahnya itu selalu menginginkan apa yang terbaik bagi anak-anaknya.

Bagaimana kita meresponi hal ini? Jawabannya sekali lagi kita harus melihat salib Kristus. Dengan salib itulah, kita tidak bisa jatuh ke dalam legalisme, seperti anak sulung itu, atau antinomianisme, seperti anak yang bungsu itu. Kita tidak boleh melawan Tuhan secara terang-terangan, tetapi kita juga tidak boleh melawan Tuhan secara diam-diam di dalam hati kita. Kita melakukan perintah Tuhan, datang ke Gereja, ke persekutuan, memberikan persembahan adalah tindakan-tindakan secara luar, namun kita harus melakukan itu juga karena hati kita mencintai Tuhan. Karena kita mengerti bahwa segala kehendak Tuhan adalah yang terbagi saya, yang terbaik untuk memuliakan Tuhan, dan juga yang terbaik bagi saya untuk hidup berkelimpahan di dalam Tuhan. Inilah apa yang Tuhan kehendaki bagi kita.

Ketika kita melihat salib Kristus, maka kita mengetahui, Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dosa.

Dia menegakkan keadilan-Nya dengan menghukum dosa di atas kayu salib, Anak-Nya yang tunggal harus mati, ditinggalkan oleh Bapa, “My God, My God, why hast You forsaken Me?”  (Mat 27:46). Namun di atas kayu salib kita juga melihat kasih Bapa yang terbesar, dengan mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita.

Ini adalah tanda kasih-Nya yang besar bagi kita. Dia tidak menghukum dosa di dalam diri kita sendiri. Kalau Dia menegakkan keadilan saja, maka Dia akan menghukum kita dengan kematian, karena upah dosa adalah maut.  

Namun kita bersyukur kepada Tuhan, karena Dia bukan saja adil, Dia juga Tuhan yang penuh kasih. Bapa mengirim Anak-Nya yang tunggal, Dia menghukum kita dan menghukum dosa manusia di dalam Kristus. Sehingga setiap kita yang di dalam Kristus, kita juga telah mati bersama-sama di dalam Kristus. Ini adalah kasih Bapa yang besar, sehingga kita bisa berkata seperti Paulus (lihat Gal 2:19-20) ‘Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus ; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Biarlah peringatan Yohanes yang singkat, satu ayat saja, yang berbicara tentang kemunafikan orang Yahudi, mereka tidak masuk ke gedung pengadilan, karena takut najis, namun mereka sedang melakukan kejahatan yang paling besar – juga menjadi peringatan bagi kita. Bukan berarti kita bisa melakukan kejahatan secara terus terang, karena itu pun juga berarti kita tidak mengerti isi hati Tuhan, namun biarlah kita sungguh-sungguh mengerti isi hati Tuhan. Biarlah kita melakukan kehendak-Nya yang dapat terlihat dari luar, tetapi biarlah itu keluar dari isi hati kita yang menyadari kasih dan kebaikan Tuhan, menyadari seluruh perintah dan rencana-Nya adalah baik bagiku. Segala isi hati Tuhan adalah menginginkan yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya. Biarlah kita mentaati segala perintah-Nya dan hidup di dalam kehendak-Nya dengan suka cita, dengan hati yang penuh syukur dan memuliakan Tuhan, karena Dia sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Biarlah kita melalui bacaan Alkitab kali ini, tidak jatuh ke dalam dosa yang dilakukan oleh ahli Taurat dan orang-orang Yahudi.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya