Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Apa itu Kebenaran?

Ibadah

Apa itu Kebenaran?

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 5 Mei 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 18:33-40

Injil Yohanes adalah Injil yang sangat unik dibandingkan dengan ketiga Injil yang lainnya. Injil Matius, Markus, Lukas memiliki banyak kesamaan, sehingga sering disebut sebagai Injil sinoptik (syn=bersama-sama, optic=melihat); namun sekitar 90% isi Injil Yohanes itu berbeda dengan Injil yang lain. Salah satu keunikan Injil Yohanes adalah jarang sekali membahas tentang tema hal kerajaan Allah. Sebelumnya dalam percakapan dengan Nikodemus (lihat Yoh 3), Yesus berbicara hal kerajaan Allah, dan baru kemudian dalam bacaan kali ini, Yoh 18:36 Yesus kembali berbicara hal kerajaan Allah “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Sebaliknya kalau kita melihat Injil Sinoptik, tema Kerajaan Allah (atau kerajaan Sorga dalam Injil Matius) adalah tema yang sangat besar dan yang utama dalam Injil Sinoptik.

Yohanes Pembaptis ketika memulai pelayanannya berkata (Mat 3:2) “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Demikian juga ketika Yesus muncul Dia juga berkata (Mat 4:17) “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Injil Sinoptik mengajarkan banyak perumpamaan tentang kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu seumpama orang yang pergi untuk mencari harta, seumpama seorang yang menangkap ikan, seumpama orang yang menabur benih di ladang. Perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan dalam Injil Sinoptik mengajarkan tentang natur kerajaan Allah.

Tetapi Injil Yohanes sedikit sekali berbicara tentang perumpamaan. Ketika Yohanes Pembaptis datang, perkataan pertama yang dicatat oleh Yohanes adalah (Yoh 1:29) “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Jadi kalau dibandingkan dengan ketiga Injil Sinoptik, maka sebenarnya Yohanes bukan menekankan pada kerajaan Allah, tetapi menekankan kepada Eternal Life, bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Ayat yang terkenal Yoh 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Penekanan Injil Yohanes adalah hidup kekal secara keseluruhan.

Seorang teolog mengatakan “Ekspresi kerajaan Allah dan hidup kekal itu sebenarnya secara prinsip sangat mirip.”  Kita bisa melihat dalam Mat 19:16-24 ketika orang muda yang kaya datang kepada Tuhan Yesus dan bertanya Guru yang baik apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal? Tetapi setelah percakapan berlangsung, Yesus di akhir percakapan itu berkata alangkah sukarnya orang yang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Pemuda kaya itu bertanya tentang hidup kekal tetapi Yesus menjawab tentang kerajaan Allah. Jadi sebenarnya secara prinsip kerajaan Allah itu mirip dengan hidup kekal dalam Injil Yohanes.

Kita kali ini akan memfokuskan tentang apa yang ditekankan oleh Yesus khususnya tentang hidup kekal dan tentang kebenaran yang sangat penting dalam Injil Yohanes.

Yoh 18:33 mencatat “Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?”

Secara umum, di Yoh 18:33-40, kita akan mengetahui dari kalimat pertama, ini adalah peristiwa Pilatus mengadili Kristus. Tetapi kalau kita membaca dengan lebih seksama, sesungguhnya bukan Yesus yang sedang diadili oleh Pilatus, melainkan sebenarnya Pilatus lah yang sedang diadili oleh Kristus. Yesus langsung menjawab Yoh 18:34 "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?"

Seorang penulis mengatakan bahwa Tuhan Yesus di sini sebagai seorang yang ditanya sebagai seorang tertuduh dengan kalimat pertama tsb, maka kita tau bahwa itu adalah kalimat pertanyaan seorang hakim yang sedang mengadili seorang tertuduh. Tapi kemudian hal ini langsung membalikkan posisi, karena memang apa yang sesungguhnya terjadi di sini, secara luarnya Pilatus duduk di atas takhta menghakimi Kristus, tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah Pilatus sedang dihakimi oleh Kristus.

Kristus sedang mengadili apakah Pilatus berasal dari kebenaran. Seperti yang Yesus katakan dalam Yoh 18:37 "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." Jadi setiap orang yang berada dalam kebenaran mendengarkan suara-Ku. Kalau engkau berasal dari kebenaran maka engkau akan mendengarkan suara-Ku. Ini juga pertanyaan bagi orang Yahudi dan juga kita, apakah kita berasal dari kebenaran.

Sebagai konteks, Pilatus memanggil Yesus ke dalam karena respon dari orang-orang Yahudi (Yoh 18:31) “Kami tidak diperbolehkan untuk membunuh seseorang.” Ini mengagetkan Pilatus, dia sadar bahwa mereka datang ke situ sebenarnya untuk membunuh Yesus. Karena itulah Pilatus memanggil Yesus untuk menanyakan apa yang sudah Dia lakukan sehingga Dia layak dihukum mati: "Engkau inikah raja orang Yahudi?". Maka jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?" Pertanyaan Yesus ini penting, karena jika Pilatus mengatakan hal ini berdasarkan dirinya sendiri, artinya Pilatus sedang bertanya tentang raja yang bersifat politik, raja yang akan melawan Kaisar. Kalau itu pertanyaannya maka jawabannya adalah “tidak”. Tetapi kalau pertanyaannya berasal dari orang Yahudi, maka ini adalah pertanyaan apakah engkau Mesias, raja orang Israel itu. Kalau pertanyaannya adalah bukan mengenai raja secara militer atau politik tetapi Mesias raja yang diurapi dan dijanjikan oleh para Nabi, maka jawabannya adalah “ya”. Pilatus mejawab Yoh 18:35 "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?" Apa yang paling penting bagi Pilatus di sini adalah mengetahui apa yang Yesus perbuat, sehingga orang-orang dan pemimpin Yahudi ingin membunuh Dia.

Dalam Yoh 18:36 inilah kemudian Yesus menjelaskan natur dari kerajaan-Nya “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Seorang penulis mengatakan bahwa kalimat ini bersifat kiasm, ada struktur puisi di dalamnya. Kalimat pertama dimulai dengan kerajaan-Ku bukan dari dunia ini, dan diakhiri dengan kalimat yang sama kerajaan-Ku bukan dari sini. Di tengah-tengahnya ada natur dari Kerajaan Allah. Yang pada intinya, Yesus ingin mengatakan kerajaan-Ku bukan seperti yang kamu pikir, bersifat rohani, bukan bersifat militer, bukan bersifat pedang atau untuk menggulingkan Kaisar. Tetapi kerajaan-Ku adalah kerajaan yang membawa berita kebenaran, senjata yang Aku bawa bukanlah pedang, bukan kuda, atau kekuatan politik, namun senjata untuk mendirikan kerajaan-Ku adalah kebenaran. Yesus melanjutkan (Yoh 18:37) “Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”

Di sinilah Pilatus kemudian bertanya tentang pertanyaan yang besar “Apakah kebenaran itu?” Kemungkinan besar Pilatus tidak sungguh-sungguh bertanya dan ingin mengetahui jawaban pertanyaan ini, karena sesudahnya (Yoh 18:38b) Pilatus keluar menemui orang-orang Yahudi. Pilatus tidak menunggu jawaban Kristus akan pertanyaan itu. Kemungkinan besar Pilatus bertanya dengan skeptis: apa itu kebenaran?

Pertanyaan ini adalah suatu pertanyaan yang besar yang menjadi perdebatan dari dulu sampai sekarang. Begitu banyak buku-buku fillsafat yang membahas tentang what is truth, dari teori-teori yang begitu banyak sampai hal-hal yang praktis dalam pengalaman kita.  

Seperti Pilatus, banyak orang yang skeptis tentang pertanyaan ini. Dengan perubahan jaman, jaman modern, post-modern, jawaban pertanyaan ini berubah-ubah. Jaman modern mengatakan kebenaran itu adalah kalau bisa dibuktikan dan bisa masuk akal, kalau bisa dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan metoda ilmiah. Namun dalam jaman post-modern, orang mulai meragukan itu semua, dan orang mulai berkata kita tidak bisa tahu kebenaran. Jadi tidak usah bertanya apakah itu kebenaran, karena kita tidak bisa tahu kebenaran.

Teologia reform banyak menjawab kesulitan-kesulitan secara teoritis. Misalnya menanggapi pernyataan “kita tidak bisa tahu kebenaran”, kita bisa langsung bertanya kepada orang itu, apakah yang kamu katakan itu kebenaran atau bukan, dan orang itu langsung terjebak. Kalau orang itu berkata “Kita tidak bisa tahu kebenaran” adalah kebenaran, maka dia secara tak langsung mengatakan kita bisa tahu kebenaran. Sebaliknya kalau pernyataan itu bukan kebenaran, maka kita tidak usah menanggapinya.

Secara praktis, sebagai anak-anak Tuhan, pertanyaan ini sering muncul. Banyak orang menganggap jaman ini adalah jaman post-modern (modern yang sudah lewat), atau ada juga yang mengatakan sebagai late-modern, modernisme yang justru memuncak pada jaman ini. Seperti Pilatus, banyak orang yang skeptis tentang pertanyaan ini, namun dengan konteks karena kecewa kepada pemimpin-pemimpin yang seharusnya menyatakan dan menghidupi kebenaran. Mereka kecewa melihat pemimpin-pemimpin yang mengatakan, yang mengajar, berkotbah, berpidato, dengan retorika, dengan posisi yang sangat tinggi dalam pemerintahan bahkan di dalam Gereja, namun yang kemudian melalui hidup mereka memberikan kekecewaan bagi banyak orang. Suatu survei di Kanada kepada anak-anak muda bertanya apakah yang kamu inginkan di dalam hidupmu. Ada banyak jawaban, tetapi jawaban yang utama dalam survei mereka, adalah somebody we can trust. Ketika banyak pemimpin Gereja, yang terbongkar meng-abuse anak-anak kecil, banyak mereka yang kecewa dan mengatakan secara realita kita tidak tahu apa itu kebenaran.                                                                                                                                              

Kalau ada dari antara saudara yang ada dalam posisi seperti ini atau mempunyai teman yang dalam posisi yang sama, biarlah kita merenungkan apa yang Alkitab tentang kebenaran, khususnya dalam Injil Yohanes. Karena kebenaran adalah konsep yang sangat penting dalam Alkitab. Alkitab menyebut Tuhan sebagai the God of Truth, Allah kebenaran. Tuhan Yesus mengkontraskan kebenaran ini dengan apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh setan. Dalam Yoh 8:44 Yesus mengatakan “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”  Allah adalah Allah kebenaran, lawan daripada Allah adalah justru the father of lies, dan orang-orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang hidup dan berkata dari dusta dan kebohongannya itu sendiri.

Dalam Kej 3, Hawa dihadapkan dengan perkataan yang saling bertentangan. Hawa sudah tahu bahwa Firman Tuhan berkata jangan makan buah pengetahuan yang baik dan jahat ini, ketika engkau makan, maka engkau akan mati. Ketika Iblis datang dan berkata makan kamu tidak akan mati, matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, Hawa diperhadapkan dengan dua perkataan yang bertolak belakang, seharusnya dia tahu yang mana yang benar. Dia tahu perkataan Tuhan itu adalah perkataan yang benar, perkataan Iblis adalah perkataan dusta, kebohongan yang bertolak belakang dengan perkataan Tuhan.

Mengapa Adam dan Hawa seharusnya tahu? Karena itu adalah perkataan dari Tuhan, karena Tuhan yang benar itu, karena karakter dari Tuhan yang benar itu yang mengatakannya. Maka biarlah kita boleh percaya kepada Firman, perkataan Tuhan, yang adalah kebenaran itu, karena di luar itu kita akan terjerumus dalam ketidakbenaran, kebodohan dan kebohongan yang menghancurkan kita.

Injil Yohanes sangat menekankan kebenaran (Truth). Kata Truth dalam bahasa Yunaninya adalah Aletheia, kata ini ditulis 25 kali dalam Injil Yohanes. Sebaliknya seluruh Injil Matius hanya menulis aletheia 1 kali. Markus dan Lukas hanya mencatat 3 kali. Bukan berarti aletheia dalam injil sinoptik tidak penting, tetapi Injil sinoptik lebih menekankan hal yang lainnya yang saling komplemen satu dengan yang lainnya. Sedangkan Injil Yohanes menekankan kebenaran.

Secara khusus Injil Yohanes, seorang Teolog mengatakan bahwa Aletheia secara prinsipnya adalah God’s reality since God is the Creator is the only true reality. Kebenaran adalah realitas Tuhan dan ini adalah satu-satunya realitas yang benar. Jadi kalau kita tidak mendengarkan firman Tuhan dan kita tidak sungguh-sungguh hidup di dalam kebenaran maka sesungguhnya kita hidup dalam kebohongan dan kepalsuan dalam dunia ini.

Dalam film Beautiful Mind, digambarkan tentang apa itu realita. John Nash seorang ahli matematika yang sebelum mendapatkan hadiah Nobel, dia sempat mengalami schizophrenia, dan halusinasi. Dia menganggap dia bertemu dengan seorang agen FBI dan merekrut dia sebagai agen FBI untuk menemukan kode-kode rahasia di koran, majalah dlsb, dari mata-mata Rusia untuk menghancurkan Amerika. Dia bertahun-tahun mengerjakannya dengan seorang temannya dan seorang anak kecil. Sampai suatu saat terbongkar bahwa semuanya adalah halusinasi semata: agen FBI itu tidak pernah ada, temannya itu tidak pernah ada, anak kecil itu juga tidak pernah ada. Suatu hari dia ditangkap oleh orang yang menurutnya adalah mata-mata Rusia, namun ternyata mereka dari rumah sakit jiwa, karena dia mulai kacau hidupnya. Kemudian dia dirawat di rumah sakit jiwa, kepalanya disetrum dlsb. Istrinya melihat penderitaan yang dialami oleh suaminya, yang sangat pintar itu dan psychiaternya mengatakan bahwa apa yang suaminya alami adalah sangat berat karena tulang sum-sumnya menggoncang seluruh keberadaan dia. Karena orang-orang yang dia kenal itu, itu bukannya dulu ada, dan sekarang sudah mati atau kemudian hilang entah kemana, yang bisa membuat dia sedih, namun jauh lebih berat daripada itu, karena orang-orang yang sangat dekat dengan dia itu sebenarnya tidak pernah ada. Sewaktu dia dalam keadaan shock itu, istrinya bertanya “what is real, what is truth”, maka istrinya kemudian meletakkan tangan suaminya ke dadanya, dan berkata this is real, karena aku yang mengasihi kamu.  

Sewaktu berbicara tentang God’s reality, Injil Yohanes khususnya, menyatakan God’s reality adalah realitas yang ditunjukkan oleh Kristus yang penuh kasih karunia dan kebenaran. Inilah realitas kebenaran yang Alkitab nyatakan kepada kita.

Apakah itu kebenaran? Kristus itu adalah kebenaran . Karena Dia adalah pribadi yang penuh kasih karunia dan kebenaran, Yesus menjadi sumber dari pada kasih karunia dan kebenaran itu. Yohanes menegaskan hal itu, tanpa kita mengenal Kristus , maka kita tidak mungkin mengenal kebenaran, karena Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup itu sendiri (lihat Yoh 14:6).

Ketika Pilatus bertanya what is truth, dia tidak tunggu jawabannya, tetapi bukan berarti Yohanes dan firman Tuhan tidak memberikan jawaban. Sewaktu Pilatus bertanya what is truth, Pilatus pergi meninggalkan Yesus, dan Yesus tidak memberikan jawabannya. Namun apa yang Kristus lakukan , khususnya melalui kematian dan kebangkitan-Nya adalah jawaban dari pertanyaan Pilatus. Apa yang Kristus lakukan kemudian dengan kematian dan kebangkitannya adalah kebenaran yang paling utama yang memberi kita suatu visi, satu cara melihat hidup dari kematian dan kebangkitan Kristus. Salib dan kubur yang kosong memberi jawaban yang paling penting tentang apa itu kebenaran.  

Paulus mengatakan kalau Kristus tidak dibangkitkan maka marilah kita makan dan minum sebab besok kita akan mati (lihat 1 Kor 15:32) Kebenaran akan kematian dan kebangkitan Kristus itu adalah sangat krusial dalam hidup anak-anak Tuhan. Artinya kalau Kristus tidak dibangkitkan maka aku tidak akan melakukan hidup yang penuh dalam pergumulan dalam mengikut Tuhan. Hidupku akan berubah sama sekali hidupku, aku kan hidup, makan dan minum sebab besok aku akan mati. Ini bukan menunjukkan kepada kehidupan yang berpesta pora, atau mabuk-mabukkan. “Makan dan minum” artinya adalah maka kita akan hidup seperti orang pada umumnya, hidup seperti manusia pada umumnya, mendapat kesukaan, kesenangan melalui keseharian yang normal. Kalau Kristus tidak dibangkitkan maka aku akan hidup biasa-biasa saja seperti orang di dunia ini.

Tetapi bagi Paulus, dia tidak akan hidup seperti itu, dia akan berjuang melakukan apa yang Tuhan kehendaki, berjuang melawan binatang buas di Efesus, hidupnya didedikasikan kepada kemuliaan Kristus yang sudah dibangkitkan. Maka kalau Kristus sudah dibangkitkan dan Dia sudah dibangkitkan maka seharusnya seperti Paulus, itu akan mengubah sama sekali hidup kita, dan itu adalah kebenaran yang sejati yang harus kita alami dan lakukan di dalam hidup kita.

Kebenaran yang utama adalah kebenaran bahwa Kristus sudah mati dan dibangkitkan. Kita mengerti dan melihat seluruh aspek kehidupan kita di dalam terang Kristus yang mati dan bangkit. Maka aku akan menjalani hidup di dalam kebenaran hidup, yang mengubah hidupku. Kalau Kristus tidak dibangkitkan aku akan menjalani hidup seperti orang pada umumnya. Sebaliknya karena Kristus sudah dibangkitkan, maka aku akan mengubah seluruh hidupku.

Ini adalah suatu kebenaran yang penting karena banyak orang-orang khususnya orang Kristen, menjalani hidup yang tidak ada bedanya dengan dunia ini, seluruh realita dan tujuan hidupnya hampir tidak berbeda dengan dunia ini. Mereka berpikir bahwa mereka percaya betul-betul kepada Kristus, tetapi seluruh motivasi hidupnya hampir tidak berbeda dengan dunia ini.

Salah satu yang menjadi beban saya mendorong saya masuk sekolah teologi adalah saya makin menyadari dan melihat bahwa begitu banyak orang Kristen, mereka datang ke Gereja setiap minggu tetapi kalau kita melihat apa yang mereka kerjakan sehari-hari, hidup mereka hampir tidak ada bedanya dengan dunia ini. Apa bedanya dokter Kristen dengan dokter yang bukan Kristen. Dokter yang Kristen hari minggu ke Gereja, dokter yang Islam pergi ke Mesjid, itu saja bedanya. Selain itu apa yang dikerjakan, nilai-nilai, semangat, visinya, seluruh yang dia kerjakan mereka sama. Apa yang bedanya keluarga Kristen dan keluarga yang bukan Kristen? Keluarga Kristen hari minggu ke Gereja, keluarga bukan Kristen hari minggu tidak ke Gereja, tetapi di dalam prinsip-prinsip pendidikan anak semuanya hampir sama. Apa bedanya seorang politisi Kristen, dengan politisi yang bukan Kristen, bedanya adalah politisi Kristen hari minggu ke Gereja, itu saja bedanya. Sedangkan seluruh nilai-nilainya sama, sehingga banyak politisi Kristen yang ditangkap karena korupsi. Mereka mengaku Kristen tetapi seluruh prinsip, nilai-nilai dan karakternya sama persis dengan apa yang dikerjakan dunia ini.

Ini menjadi renungan bagaimana sesungguhnya karena kita mengerti Kristus yang mati dan bangkit itu, seharusnya mengubah hidup kita. Paulus sendiri mengajarkan kepada kita, kalau Kristus tidak dibangkitkan, dan banyak orang yang tidak percaya Yesus dibangkitkan, maka kita hidup juga sama seperti mereka, marilah kita makan dan minum sebab besok kita mati. Artinya marilah kita menikmati hidup seperti orang lain, mengejar apa yang orang lain kejar. Kalau Kristus tidak dibangkitkan memang seharusnya kita hidup seperti itu, tidak ada harapan, kita tidak harus mempertanggungjawabkan hidup kita setelah kita mati, karena toh Kristus tidak dibangkitkan. Tetapi masalahnya adalah banyak orang Kristen yang mengaku percaya Kristus mati dan dibangkitkan namun hidupnya masih seperti itu, makan dan minum sebab besok kita mati.

Namun Paulus melanjutkan tetapi kalau Kristus dibangkitkan maka hidup kita harus sangat berbeda. Dalam 1 Kor 15:30 Paulus mengatakan “Dan Kami juga - - mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. Kalau berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita akan mati”. Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal itu kukatakan, supaya kamu merasa malu.”  Yang benar adalah Kristus sudah dibangkitkan dan karena Kristus sudah dibangkitkan maka hidupku adalah aku berjuang, berhadapan dengan maut setiap hari, melawan binatang buas di Efesus.

Hidup Paulus sangat berbeda adalah karena Paulus sadar bahwa Kristus sudah dibangkitkan. Inilah realita yang mendorong kita. Karena Kristus sudah dibangkitkan artinya Dia sudah memberikan hidup yang baru, kita seharusnya sudah mengalami akan kuasa kebangkitan itu di dalam hidup kita. Orang-orang Kristen yang percaya bahwa Kristus sudah dibangkitkan, mereka percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang immortal. Artinya mereka rela mati, rela dibunuh oleh singa, oleh pedang, oleh segala penganiayaan. Mereka tidak akan bergeser sedikitpun dari iman mereka kepada Kristus yang sudah mati dan dibangkitkan karena mereka sudah memiliki hidup yang kekal. Hidup mereka akan terus menjadi saksi, berjuang melakukan apa yang Tuhan kehendaki di dalam dunia ini. Karena ujungnya yang paling parah ada harga yang harus dibayar yaitu adalah kematian, dan bagi orang yang percaya dan beriman di dalam Kristus yang sudah dibangkitkan maka kematian pun adalah keuntungan.

Suatu kali saya mengikuti perayaan Paskah Gereja bersama Gereja-Gereja yang lain, ada satu hal yang saya belajar dari salah satu kotbah pendeta tersebut. Dia seorang yang banyak melayani orang-orang yang bekerja di perkebunan-perkebunan di tempat-tempat yang jauh. Dia bersama dengan timnya mewartakan Injil kepada mereka yang beberapa di antaranya adalah orang-orang Kristen. Biarlah kita ingat tentang visi dan misi kita ada di dunia ini. Kita harus memberi kesaksian bagi orang-orang di sekeliling kita.

Salah satu panggilan Tuhan adalah berjuang melakukan kehendak Tuhan , karena Kristus sudah dibangkitkan. Mendengar kesaksian ini saya berpikir di antara banyak sekali pelayanan yang kita lakukan

  • Betulkah apa yang kita kerjakan ini memenangkan jiwa; membangun hidup kita; betulkah kerohanian kita makin   mengenal Tuhan ; makin mengasihi Tuhan ; mendorong anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh mau  memuliakan Tuhan di dalam hidupnya, di dalam keluarga, pekerjaan dan hidup sehari-hari.
  • -Betulkah apa yang kita lakukan membawa orang mengasihi Tuhan dan mengasihi orang lain.

Ada banyak orang di tempat-tempat yang jauh, yang tidak ada yang melayani di sana, mereka sangat haus sekali akan firman. Seharusnya ini mendorong kita untuk menyadari betapa pentingnya pemberitaan Kristus yang mati dan bangkit itu, yang akan mengubah segala realita akan hidup kita.

Biarlah kita terus berpikir dan menyadari, serta mau mengubah hidup kita sesuai dengan kebenaran bahwa Kristus sudah mati dan bangkit. Hidup kita harus di dalam terang salib, di dalam terang kebangkitan Kirstus.

Menjalani hidup seperti itu lalu mengerti hal-hal yang paling penting dan berharga dan menjalaninya , maka pasti kita tidak hidup seperti orang dunia ini. Tidak hidup seperti seolah-olah Kristus tidak bangkit, seolah-olah orang mati tidak akan dibangkitkan.

Biarlah kita pikir dengan sungguh-sungguh apa dampak kematian dan kebangkitan Kristus itu di dalam hidup kita, karena seluruh hidup kita harus dimengerti, dan dijalani di dalam terang kematian dan kebangkitan Kristus.

Di situ ada pengharapan , ada kekuatan tetapi sekaligus juga ada harga yang harus dibayar, ada penyangkalan diri, memikul salib dan mengikut Dia setiap hari. Itulah realita kebenaran, that is the truth, kematian dan kebangkitan Kristus adalah kebenaran yang paling penting yang harus menerangi seluruh aspek hidup kita.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya