Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Glory of the Cross

Ibadah

The Glory of the Cross

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 21 April 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 20:19-23

Ketika Tuhan Yesus mengatakan (Yoh 19:30) “It is finished” itu adalah teriakan kemenangan yang sudah Dia capai di atas kayu salib. Ini adalah kemenangan yang sudah pasti terjadi, kemenangan yang lebih pasti daripada quick count pada pemilu, meskipun quick count orang mengatakan kemungkinan benarnya 99.9 persen. Perkataan “It is finished’ bahkan lebih pasti daripada quick count.

Ini adalah teriakan kemenangan Kristus bukan teriakan korban yang tidak berdaya. Kita bisa melihat dengan segala hal yang terjadi di sekitar kematian Kristus. Salah satunya adalah Kristus mati dengan begitu cepat, artinya Yesus sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa. Ketika tentara-tentara ingin mematahkan kaki Yesus, mereka melihat bahwa Yesus sudah mati sehingga kakiNya batal dipatahkan. Alkitab menegaskan hal itu menggenapi yang dicatat oleh ratusan tahun yang lalu (Yoh 19:36) “supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.” Semua peristiwa ini dengan detil menggenapi nubuatan yang sudah dinyatakan ratusan tahun sebelumnya.

Cerita kematian Kristus diakhiri dengan Yoh 19:42 “maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.” Sesuatu yang sepertinya sudah selesai, tetapi kita tahu melalui cerita sebelumnya bahwa ini belum selesai. Ada antisipasi yang besar bahwa ada sesuatu yang dahsyat akan segera terjadi. Yoh 20:1 dimulai dengan “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap...” Ini mengindikasikan sesuatu yang sangat besar akan segera terjadi. Dalam 27 Kitab perjanjian baru, dari Kitab Injil sampai kitab Wahyu, keseluruhannya ditulis dengan terang fakta kebangkitan Kristus. Ditulis dengan asumsi bahwa Yesus adalah Juruselamat yang telah hidup dan telah bangkit. Dia pusat dari segala sesuatu di bumi dan di surga.

Kali ini kita akan memikirkan bagaimana Kristus yang telah bangkit itu menampakkan Diri-Nya untuk pertama kalinya kepada murid-murid-Nya (Yoh 20:19-23).

Kita mengetahui bahwa murid-murid-Nya yang hadir di situ hanya 10 orang. Tomas tidak ada di situ, karena cerita selanjutnya baru berbicara tentang Tomas, di mana Yesus menyatakan Diri-Nya kepada Tomas (lihat Yoh 20:25-29). Yudas sudah mati. Berarti tinggal 10 murid, dan kepada mereka Yesus menyatakan Diri-Nya.

Kita akan melihat Yoh 20:19-23 melalui dua kaca mata yang besar. Apa yang dilakukan Yesus ketika Dia menyatakan diri untuk pertama kali kepada murid-murid-Nya dan Apa yang Yesus katakan kepada mereka.

Apa yang Yesus Lakukan?

Yoh 20:19 “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata “Damai sejahtera bagi kamu:”

Ini adalah pintu-pintu yang terkunci, murid-murid berada dalam rumah itu ketakutan karena guru mereka baru ditangkap, dengan salah satu tuduhannya sebagai pemberontak kepada Kaisar. Maka mereka dalam keadaan yang sangat berbahaya. Mereka sangat ketakutan, dan mengunci semua pintu di rumah itu.

Namun tiba-tiba Yesus hadir di tengah mereka. Kristus tidak mengetuk pintu, Kristus tidak membuka pintu, tetapi Dia tiba-tiba sudah hadir di sana. Tetapi Dia bukan hanya roh saja, Dia memiliki tubuh, tubuh kebangkitan. Karena kemudian Dia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Kita tahu kemudian, Dia berkata kepada Tomas (lihat Yoh 20:27) untuk menaruh jarinya di tangan dan lambung-Nya” Jadi Kristus bukan hanya bersifat roh saja. Bahkan dalam Yoh 21, Dia juga makan ikan yang sudah dibakar. Roh tidak bisa makan ikan. Ini adalah Kristus yang sudah dibangkitkan.

Meskipun tubuh Kristus berbeda dengan sebelum Dia mati, tetapi ini adalah tubuh yang tetap bersifat tubuh. Ini memberikan kepada kita suatu gambaran di mana kemungkinan besar ketika kita mati dan kemudian dibangkitkan kembali bersama sama dengan Kristus, maka kita memiliki tubuh kemuliaan yang mirip dengan tubuh Kristus ini.

Tubuh yang seperti apakah ini? Ada seorang penulis yang memberikan tafsiran yang menarik. Tubuh kebangkitan ini, lebih solid, atau lebih memiliki substance dari benda padat. Dia memberikan ilustrasi sebagai perbandingan, kalau ada air hujan turun, maka air itu menembus udara. Udara ada tetapi air lebih solid daripada udara, sehingga air menembus udara. Kalau ada satu kolam air di rumah kita, kalau kita lemparkan batu ke atas air, batu itu akan menembus air, karena batu lebih solid daripada air. Kalau Kristus bisa menembus tembok-tembok rumah, maka berarti tubuh Kristus lebih solid daripada benda-benda padat. Kita tidak mengerti secara detailnya, tetapi ini adalah tubuh yang begitu mulia. Tubuh yang tidak akan mati lagi, tubuh yang akan sungguh-sungguh mirip dengan tubuh Kristus.

Kita bukan hanya berbicara tentang kebangkitan orang mati. Pengakuan Iman Rasuli mengatakan “Aku percaya kepada kebangkitan tubuh.” Bukan hanya dari mati menjadi bangkit, tetapi kebangkitan itu juga bersifat jasmani, dengan tubuh yang dimuliakan. Tubuh kebangkitan yang lebih solid bahkan daripada benda padat.

Apa yang Yesus mau ajarkan melalui tubuh kebangkitan-Nya ini? Kristus mau mengatakan kalau tubuh yang bangkit itu bisa masuk melalui pintu-pintu yang terkunci, maka Dia masuk ke tempat di mana orang-orang lain tidak bisa masuk. Kristus bisa masuk ke dalam hidup kita di mana konselor tidak bisa masuk, di mana hamba Tuhan tidak bisa masuk. Kalau Kristus bisa masuk melalui pintu-pintu yang terkunci, maka Dia bisa masuk ke tempat di mana bahkan orang yang paling dekat dengan kita tidak bisa masuk. Tidak ada keadaan, situasi maupun kedalaman jiwa kita yang paling dalam di mana Kristus tidak bisa masuk ke situ. Kebangkitan Kristus membuat Dia bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh siapapun. Bahkan hal-hal yang Kristus sendiri sebelum Dia mati Dia tidak bisa lakukan. Dia bisa masuk melalui pintu-pintu yang terkunci.

Di dalam hidup kita pasti ada hal-hal yang orang-orang tidak bisa masuk. Ada seorang penulis yang mengatakan hidup kita ada bagian yang paling luar yang semua orang bisa kenal. Tetapi ada bagian-bagian hidup kita di mana orang-orang luar tidak bisa tahu dan hanya ada orang-orang yang dekat kita yang tahu. Tetapi ada bagian-bagian yang lebih dalam yang hanya satu orang yang paling dekat yang tahu seperti suami/istri. Tetapi ada juga bagian-bagian yang tidak ada seorang pun kita biarkan masuk ke dalam bagian jiwa kita yang begitu dalam.

Kristus yang bangkit, bisa melewati pintu-pintu yang terkunci, artinya Dia bisa masuk bahkan ke dalam bagian yang paling dalam jiwa kita. Biarlah kita membuka hati kita dan membiarkan Kristus masuk ke dalam jiwa kita yang paling dalam.

Murid-murid dalam keadaan takut. Kita mengerti karena pemimpin mereka baru saja di salibkan, dan mereka belum tahu bahwa Kristus sudah dibangkitkan. Kita melihat Kristus tidak menunggu sampai mereka bisa mengatasi ketakutan mereka, tidak menunggu sampai mereka bisa beriman kembali sungguh-sungguh kepada Kristus. Kristus datang di tengah-tengah ketakutan mereka untuk menguatkan mereka.

Bukankah di dalam hidup kita ada banyak ketakutan. Kita memiliki ketakutan-ketakutan tentang masa depan, tentang anak-kita, tentang suami/istri kita, dlsb. Biarlah kebangkitan Kristus mengingatkan, menghibur kita bahwa Dia tidak menunggu sampai kita bisa mengatasi ketakutan kita. Dia hadir di tengah-tengah segala ketakutan kita. Dia adalah Juru selamat yang hidup dan hadir di tengah-tengah kita.

Pada waktu itu datanglah Yesus di tengah-tengah mereka. Yesus tidak hanya memberikan firman-Nya. Firman-Nya tentu berharga sekali, Alkitab begitu banyak berbicara tentang “jangan takut.” Ada yang mengatakan kira-kira ada 365 kali Alkitab mengatakan “jangan takut” dengan bentuk yang berbeda-beda. Artinya cukup bagi kita dg Alkitab mengatakan “jangan takut” setiap hari sepanjang tahun. Tetapi Kristus yang bangkit tidak hanya memberikan firman-Nya supaya kita tidak takut. Dia sendiri hadir di tengah-tengah ketakutan kita. Tidak cukup perkataan Tuhan datang kepada kita, namun Dia sendiri hadir di tengah-tengah kita, menghibur, memberi kekuatan, menopang kita untuk memuliakan Tuhan di tengah-tengah dunia ini.

Inilah yang diinginkan Kristus yang telah bangkit. Dia ingin hadir di tengah-tengah hidup saudara. Dia ingin menolongmu di dalam ketakutan yang tidak bisa ditolong oleh siapa pun. Dia ingin menghibur kita di saat-saat tidak ada seorang pun yang bisa menghibur kita. Corrie Ten Boom seorang yang dianiaya oleh Nazi, suatu ketika saudaranya yang sudah hampir mati dianiaya, mulai kecewa kepada Tuhan. Corry mengatakan kepada saudaranya ini “there is no pit so deep, that God’s love not deeper still.” Dia hadir di tengah-tengah segala kesulitan, ketakutan, pergumulan dan pintu-pintu yang terkunci di dalam hidup kita. Biarlah kita boleh sungguh-sungguh datang membuka hati kita kepada Tuhan yang sudah bangkit itu, membiarkan Dia berkuasa dan memimpin hidup kita.

Apa yang Yesus Katakan?

Apa yang Yesus katakan ketika Yesus menyatakan Diri-Nya kepada murid-murid-Nya? Dia mengatakan (Yoh 20:19) “Damai sejahtera bagi kamu!.”  Dia mengulangi lagi dalam Yoh 20:21 “Damai sejahtera bagi kamu!” Ini adalah damai sejahtera yang digenapi Kristus di atas kayu salib. Itulah sebabnya sesudah Dia mengatakan “Damai Sejahtera bagi kamu!” dalam Yoh 20:19, Dia kemudian menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Dia mau mengatakan Akulah Tuhan yang memberikan damai sejahtera kepadamu, yang sudah Aku kerjakan baru saja di atas kayu salib. Akulah yang telah menerima murka Allah karena dosa-dosamu, mengalirkan darah demi menghapus dosa-dosamu, telah tertikam oleh karena pemberontakanmu; dan sekarang Aku memberikan damai sejahtera yang Aku sudah aku capai di atas kayu salib bagi engkau. Dalam Efesus 2:14, Paulus juga mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah damai sejahtera kita.

Damai sejahtera itu boleh kita mengerti dalam lima relasi.

1)    Damai sejahtera antara Kristus dengan kita. Kristus menyatakan diri kepada murid-murid yang sudah mengkhianati Dia, terutama Petrus yg juga ada di situ. Seluruh murid sudah meninggalkan Kristus ketika Dia ditangkap, bahkan Petrus sudah menyangkali Dia tiga kali. Tetapi Kristus datang bukan menghakimi dan menghardik mereka, tetapi Dia mengatakan “Damai sejahtera Ku-berikan bagimu”. Maka sekarang ada damai antara Kristus dengan murid-murid-Nya dan dengan kita.

2)    Damai antara kita dengan Bapa di surga. Inilah tujuan Kristus datang ke dunia, karena ada permusuhan antara manusia yang berdosa dan Bapa. John Calvin mengatakan dalam setiap hati manusia ada kecendurungan untuk membenci Allah. Mulai Kej 3, kita sudah mengetahui Adam mengatakan “Mengapa Engkau menempatkan perempuan itu di sisiku sehingga aku jatuh di dalam dosa?” Allah adalah Allah yang murka terhadap dosa manusia, tetapi Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. untuk mendamaikan Allah dengan kita.

Di atas kayu salib Yesus menyerap semua murka Allah kepada manusia berdosa. Sehingga kita memiliki akses masuk secara langsung ke Allah Bapa melalui Kristus. Hal ini dinyatakan oleh kitab Injil yang lain, ketika Kristus mati, melalui tirai Bait Allah yang terbelah dua. Sekarang tidak ada lagi jarak antara manusia yang berdosa dengan Allah Bapa. Kristus adalah satu-satunya jalan pendamaian itu. Ketika kita beriman kepada Kristus, maka kita memiliki relasi yang diperdamaikan dengan Allah.

3)    Damai antara kita dengan orang lain. Inilah yang ditekankan Paulus dalam Efesus 2. Di dalam Kristus tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, tidak ada lagi budak atau orang merdeka, karena semuanya adalah satu di dalam Kristus. Kita menyaksikan setiap hari selalu ada permusuhan yang terus terjadi dari dahulu sampai sekarang. Tetapi di dalam Kristus, orang-orang yang beriman dan diperdamaikan dengan Allah, juga menjadi orang yang berdamai satu sama lain.

4)    Berdamai dengan diri sendiri. Dalam film Les Miserable versi BBC, diceritakan seorang penjahat diperbolehkan tidur di satu Gereja oleh seorang pendeta yang sangat baik. Namun kemudian dia mengambil barang-barang di Gereja itu, memukul pendeta itu, dan kabur dari situ. Namun keesokan harinya polisi menangkap dia dan membawanya kembali ke Gereja. Dengan muka yang hancur dihajar polisi, dia tetap tidak mau mengaku mencuri barang-barang Gereja. Pencuri itu sudah tidak memiliki harapan lagi dan dia akan dijebloskan ke dalam penjara. Tetapi kemudian pendeta itu mengatakan satu kalimat: “Oh saya senang kamu datang kembali, karena kamu lupa ada tempat lilin perak sudah saya berikan ke kamu.” Penjahat itu begitu kaget, dan dengan kalimat itu dia menjadi bebas. Bukan hanya bebas, dia juga mendapatkan tempat lilin perak itu. Pendeta itu mengatakan biarlah kebaikan Kristus ini boleh mengubah hatimu yang keras itu. Tetapi penjahat itu tidak berubah saat itu. Susah sekali hatinya, dia marah sekali, dia tahu pendeta itu menyatakan kasihnya untuk mengubah dia, tetapi dia tidak bisa. Dia marah sekali kepada pendeta itu, berteriak kepadanya dan dia pergi meninggalkan Gereja itu. Kemudian dia tidur di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba ada seorang anak yang berjalan melalui tempat itu. Seorang anak pengamen yang baru saja mendapat satu koin uang. Sambil bernyanyi dia melempar-lempar koin itu, namun jatuh menggelinding ke dekat kaki pencuri itu. Pencuri itu bangun dan menginjak koin itu, dan mengusir anak itu pergi. Dengan menangis dan ketakutan anak itu pergi. Namun di situlah hati nurani si penjahat menegur dia dengan sangat luar biasa. Bagaimana dia yang sudah dikasihi oleh pendeta itu dengan begitu rupa, dia yang keadaannya lebih tidak berdaya daripada anak itu, karena ada banyak polisi yang menghajar dia. Tetapi dia sudah diberikan belas kasihan yang begitu besar, sekarang dia menganiaya anak kecil dengan begitu rupa. Maka dia memanggil anak itu, namun anak itu sudah begitu jauh. Di situlah dia tunduk dan menangis di situ.

Betapa pentingnya kita memiliki hati nurani yang bersih. Kristus mati untuk memperdamaikan kita dengan diri kita sendiri. Karena sudah memperdamaikan kita dengan diri-Nya. Bapa sudah menerima kita di dalam Kristus, karena itu kita akan lebih bersalah kalau kita tidak bisa berdamai dengan masa lalu kita, dengan kejahatan kita. Kita boleh berdamai dengan meninggalkannya dan sekarang kita mengikut Kristus.

Paulus mengatakan (Filipi 3:13-14) “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”. Paulus melupakan apa yang ada di belakangnya, bukan berarti dia tidak mampu mengingat. Dia mengingat dan sering catat segala dosanya yang menganiaya umat Tuhan. Dia melupakan yang di belakangnya, dosa-dosanya, artinya dia meninggalkan dosa-dosanya, dan dia sekarang dia mengikut Kristus, kemanapun Kristus memimpin dia. Paulus boleh berdamai dengan diri sendiri di dalam Kristus.

5)    Damai dengan dunia. Suatu hari seluruh kejahatan di dunia ini akan dilenyapkan dan seluruh ciptaan Tuhan akan penuh dengan damai dan kebenaran. Ini belum terjadi sekarang ini, dan hanya akan terjadi ketika Kristus datang kedua kali. Tetapi Kristus yang sudah memperdamaikan kita dengan Diri-Nya, sekarang mengutus kita menjadi ambassador, yang membawa Injil damai sejahtera kepada dunia.

Inilah yang selanjutnya Kristus katakan (Yoh 20:21) “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Kristus diutus oleh Bapa untuk memperdamaikan manusia dengan diri-Nya. Supaya kita yang sudah diperdamaikan dengan Bapa sekarang membawa Injil damai sejahtera itu kepada orang-orang di sekeliling kita dan kepada setiap bagian hidup manusia dalam dunia ini. Seperti Bapa telah mengutus Aku dan Aku datang untuk memuliakan Bapa, dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang telah Bapa berikan kepada-Ku. Maka sekarang Aku juga mengutus engkau untuk memuliakan Bapa dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa inginkan untuk engkau selesaikan. Dengan berbagai macam cara, berbagai macam bidang, tetapi dengan satu inti, membawa seluruh dunia berdamai dengan Allah.

Biarlah kita boleh mempermuliakan Allah, supaya dunia mengerti bahwa Tuhan itu besar, mulia dan agung. John Piper pernah mengilustrasikan bahwa kita membesarkan Tuhan, bukan seperti membesarkan benda dengan memakai mikroskop, tetapi seperti memakai teleskop. Mikroskop membesarkan benda yang kecil supaya kelihatan besar. Kita bukan membesarkan Allah karena sebenarnya Dia itu kecil, kita tidak membesar-besarkan Dia. Tetapi kita membesarkan Allah seperti kita memakai teleskop. Bintang yang begitu kelihatan kecil, bintang itu kecil karena bintang itu terlalu jauh. Namun bintang yang jauh itu sebenarnya lebih besar daripada bumi ini. Tuhan adalah begitu besar, mulia dan begitu agung, tetapi dunia ini menganggap Dia kecil dan tidak berarti sama sekali.

Biarlah hidup kita, seperti juga Kristus yang diutus Bapa dan kita diutus oleh Kristus, sungguh-sungguh menyatakan Tuhan yang besar, yang mulia, yang hidup. Karena Dia sesungguhnya Allah yang hidup, yang besar dan mulia, tetapi dunia tidak menganggap Tuhan sama sekali. Bahkan dalam perayaan Natal atau Paskah jarang nama Kristus disebutkan. Kristus tidak ada di dalam perayaan-perayaan tentang Kristus.

Biarlah hidup kita, melalui segala pergumulan, tantangan, segala hal yang tidak mungkin, kita boleh taat dan menyatakan Tuhan yang hidup, yang besar dan yang agung. Ini adalah the Glory of the Cross.

Biarlah kita semakin menyadari bahwa Tuhan kita adalah betul-betul mulia. Biarlah kita melalui hidup kita, bersandar kepada iman dalam Kristus, boleh membagikan dan menyatakan bahwa Tuhan sungguh-sungguh mulia dan hidup.  Sehingga orang orang yang tidak menganggap Tuhan itu ada atau Tuhan itu begitu kecil, mereka sangat heran melihat hidup kita yang sungguh-sungguh bersandar total kepada Dia; dan mereka mulai bertanya mengapa engkau hidup seperti itu. Sehingga kita boleh mensharingkan Kristus yang mulia itu.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya