Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tiga Perkataan Yesus di atas Kayu Salib

Ibadah

Tiga Perkataan Yesus di atas Kayu Salib

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Jumat, 19 April 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 19:25-37

Salib adalah tanda yang paling terkenal di seluruh dunia. Bukan hanya di rumah-rumah, tetapi juga perhiasan-perhiasan di mana-mana. Tetapi salib bukan hanya tanda yang paling dikenal, tetapi juga tanda yang paling penting di dalam Gereja. Dalam desain gedung Gereja, salib diletakkan pada tempat yang paling tinggi. Tetapi tidak demikianlah pada jaman permulaan. Pada abad permulaan salib adalah tanda kehinaan, kebodohan, dan kejahatan. Cicero salah seorang negarawan dan filsuf Roma, tahun 43 BC mengatakan “Salib adalah hukuman yang paling kejam dan mengerikan.” Karena orang yang disalib menderita sakit berhari-hari di atas kayu salib. Cicero mengatakan bahwa mengikat seorang warga Roma adalah suatu kekejian, menyesahnya adalah suatu kekejian, tetapi menyalibkan dia, tidak ada kata yang menggambarkan perbuatan ini. Biarlah kata salib itu dibuang dari pikiran, mata, telinga dari warga negara Roma. Salib pada abad permulaan adalah tanda kehinaan, tanda kekejian yang begitu biadab. Sehingga warga negara Roma tidak mungkin disalibkan, bahkan pikiran tentang salib dijauhkan dari pada orang Roma.

Mengapa sesuatu yang begitu hina dan menjijikkan itu sekarang menjadi begitu agung dan mulia. Jawabnya adalah karena Kristus pernah mati di atas kayu salib. Kematian Kristus adalah pusat berita Kristen, pusat berita dari pada Alkitab yang menjadi pengharapan bagi dunia ini. Melalui kematian Kristus di atas kayu salib, setiap orang berdosa yang percaya boleh diperdamaikan dengan Allah, boleh dibenarkan dan diselamatkan. Ini adalah berita utama dari pada semua rasul. Paulus mengatakan (1 Kor 2:2) “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Para rasul pergi ke mana-mana, memberitakan berita yang fokusnya adalah Kristus yang telah disalibkan itu.

Kita akan merenungkan kemuliaan salib Kristus, the Glory of the Cross of Christ, khususnya mengenai perkataan Yesus di atas kayu salib seperti yang dicatat oleh Injil Yohanes.

Dalam menggambarkan Kristus ditangkap, diadili, dianiaya, dan akhirnya disalibkan, Yohanes secara paradoks terus menyatakan bahwa Kristus adalah Tuhan yang berdaulat dan in control dalam segala situasi. Ketika Kristus ditangkap, Yesus mengatakan (lihat Yoh 18:4-6) “Siapakah yang kamu cari?”, dan jawab mereka “Yesus dari Nazaret”. Ketika Yesus mengatakan “Akulah Dia” (“I AM”) maka dengan kalimat itu mereka mundur ke belakang dan mereka jatuh. Betul Dia diadili oleh Hanas dan Kayafas, dan akhirnya diserahkan untuk disalibkan oleh Pilatus, tetapi Pilatus berkata kepada Yesus (lihat Yoh 19:10-11) “Tidakkah Engkau tahu bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau.” Namun Tuhan Yesus menjawab “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.”  Betul ,Kristus akhirnya disalibkan ,tetapi Dia tidak mati sebagai korban yang tidak berdaya. Dia mati sebagai Juruselamat yang telah sempurna menyelesaikan misi-Nya di dalam dunia.

Kristus datang untuk memuliakan Bapa dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan kepada-Nya (lihat Yoh 17:4). Di atas kayu salib Yesus mengatakan (Yoh 19:30) “Sudah selesai”, it is finished, it is accomplished. Ini adalah teriakan kemenangan dari -pada Kristus.

Namun bukan berarti Dia tidak menderita di atas kayu salib, penderitaan yang terlihat dari perkataan sebelumnya “Aku haus”. Tetapi penderitaan-Nya pun untuk menyatakan kepada kita bahwa Dia adalah imam besar yang agung yang turut merasakan kelemahan dan penderitaan kita. Untuk menyatakan bahwa Dia perduli akan segala pergumulan dan penderitaan kita. Ini juga kita lihat dari perkataan (Yoh 19:26) “Ibu inilah anakmu” dan kepada Yohanes murid-Nya (Yoh 19:27) “inilah ibumu.”

Kita akan merenungkan tiga perkataan Yesus di atas kayu salib seperti yang dituliskan oleh Yohanes dalam bagian Alkitab kali ini.

“Ibu, inilah anakmu!” (Yoh 19:26)

Dalam satu ayat sebelumnya (Yoh 19:25) disebutkan ada beberapa wanita yang terus setia mengikuti Yesus sampai Dia disalibkan. “Dan di dekat salib Kristus berdiri ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena”. Paling sedikit ada tiga atau empat wanita, dan paling sedikit ada tiga maria – Maria ibu Yesus, saudari ibu Yesus, Maria, istri Kleopas, dan Maria Magdalena.” Saudari ibu Yesus mungkin bernama Maria juga, karena Maria adalah nama yang umum pada waktu itu, seperti juga pada saat ini.

Kita akan memfokuskan pada Maria ibu Yesus. Saudara bisa membayangkan bagaimana dia sebagai seorang ibu yang merawat-Nya sejak kecil, sekarang melihat-Nya terpaku di atas kayu salib. Sangat sulit menyelami betapa hancurnya Maria melihat Anaknya menderita. Anak yang dilahirkan dan dikasihinya itu sekarang menderita sengsara di atas kayu salib. Kening yang sering dicium pada waktu kecil, sekarang mengalirkan darah karena mahkota duri yang ditancapkan di kepala-Nya. Tetapi inilah penggenapan nubuat Simeon ketika Yesus masih kecil. Simeon berkata kepada Maria (Luk 2:35) “- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”

Di dalam konteks seperti inilah kemudian Yesus berkata “ibu inilah anakmu” dan kepada murid yang dikasihi-Nya itu “inilah ibumu.” Seorang penafsir, William Barclay mengatakan “Suatu yang sangat menggerakkan hati, ketika kita melihat Kristus yang tergantung di atas kayu salib, tetapi masih memperhatikan keadaan ibu-Nya. Di dalam penderitaan dan kesakitan yang begitu besar, di mana keselamatan dunia bergantung pada-Nya, Kristus tetap mengingat ibu-Nya. Dia tidak pernah lupa dan lalai menghormati ayah dan ibu-Nya.” Ini menjadi teladan bagi kita semua.

Kita melihat juga bagaimana Yohanes, murid yang dikasihi-Nya itu, sekarang kembali kepada Kristus. Injil yang lain menegaskan ketika Yesus ditangkap di taman Getsemani, semua murid-Nya tercerai berai, sang Gembala ditangkap dan domba-domba-Nya tercerai-berai. Tetapi mungkin karena kesadaran dan kasihnya kepada Kristus, Yohanes kembali datang di kaki salib Kristus. Ini adalah hal yang indah, Kristus tidak menolak Yohanes, tetapi Dia memberi tugas yang sangat penting.

Kalau ada di antara kita, yang pernah dulu mengasihi Kristus tetapi sudah lama meninggalkan Dia, dan sekarang mau datang ke Gereja, biarlah kasih Kristus kepada Yohanes boleh menggerakkan hati saudara. Kalau engkau datang kepada Dia dengan hati yang sungguh maka Dia tidak akan menolak engkau.

“Aku haus” (Yoh 19:28)

(Yoh 19:28) “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: - “Aku haus!” Sekali lagi Yohanes mencatat Yesus berdaulat penuh dalam keadaan yang paling lemah. Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, dan tidak ada seorang pun yang merebut nyawa-Nya, tetapi Dia sendiri yang menyerahkannya kepada Bapa. Namun demikian tidak berarti Kristus tidak mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Perkataan “Aku haus” adalah ekspresi penderitaan yang dalam. Kita mengingat Yesus sudah berjam-jam sebelumnya mengalami penderitaan yang berat. Di taman Getsemani, Dia berdoa dengan keringat yang bercucuran seperti darah. Dia diadili, dihajar, disesah dengan cambuk Romawi, yang memiliki gigi-gigi yang tajam, yang jika cambuk itu mengenai kayu, kulit kayu itu akan terlepas.

Dalam film the Passion of the Christ, suatu gambaran yang sangat mengerikan, bagaimana tentara Roma yang besar-besar itu mencabuk Kristus sampai mereka lemah, juga bagaimana Kristus berdarah-darah. Banyak orang yang sudah mati sebelum disalib, karena cambukkan cambuk orang Romawi.  Kristus sudah mengalami cambukan yang begitu mengerikan, Dia kemudian dibawa dan dipaku di atas kayu salib, dengan kaki dan tangan yang dipakukan. Didalam semuanya itu Dia tidak mengeluarkan satu keluhan apa pun. Tetapi sekarang dalam menit-menit terakhir hidup-Nya di dunia, di mana seluruh tubuh-Nya yang begitu sakit dan begitu mengerikan, sekarang mulut-Nya begitu kering dan pecah, maka Dia berkata “Aku haus.”

Suatu kalimat yang begitu singkat, begitu dalam, yang tidak pernah kita mungkin mengerti sepenuhnya. Karena yang berkata berkata “Aku haus” adalah pencipta langit dan bumi, namun sekarang bibir dan mulut-Nya pecah. Yang berkata “Aku haus” adalah air hidup yang memuaskan dahaga semua orang yang percaya kepada-Nya. Yang berkata “Aku haus” adalah roti hidup yang memberi makan 5000 orang laki-laki dengan lima roti dan dua ikan. Dia adalah pencipta segala sesuatu tetapi saat itu Dia harus berkata “Aku haus.”

Bahkan lebih dari itu penderitaan yang Dia alami bukan hanya penderitaan fisik, karena kita mengingat perkataan Injil yang lain, sebelum berkata “Aku haus” Dia berkata (Markus 15:34) “Eloi, Eloi, lama sabakhtani” yang berarti “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Ini adalah puncak penderitaan Kristus, karena sewaktu Dia berdoa di taman Getsemani, yang paling ditakuti-Nya adalah momen ini. Ketika Dia berseru di taman Getsemani (lihat Mat 26:39) “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku”. Tiga kali Yesus memohon kalau boleh cawan penderitaan ini, lalu dari pada-Ku. Namun Dia mengatakan bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu yang jadi. Yang disebut cawan itu adalah ketika Dia berkata ”Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku.”

Kita tahu bahwa pergumulan jiwa yang dalam itu akan berdampak kepada tubuh. Tubuh dan jiwa sangat berkaitan satu sama lain. Ketika kita berpuasa terus, maka tubuh kita makin lemah, maka akan mempengaruhi perasaan dan emosi jiwa kita. Banyak orang mengatakan kalau mengasihi suamimu, kasihilah melalui perutnya, karena kalau dia lapar dia akan mulai marah-marah. Karena tubuh dan jiwa itu terkait satu sama lain.

Pergumulan Kristus “Aku haus” bukan hanya menggambarkan kehausan-Nya secara fisik tetapi adalah refleksi dari pada pergumulan yang lebih dalam yaitu pergumulan rohani dan jiwa-Nya.

Amsal 17:22 mengatakan “semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Mazmur 32:3-4 juga mengatakan “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas.” Teriakan “Aku haus” menunjukkan pergumulan rohani yang dalam. Kehausan akan persekutuan yang intim dengan Bapa, karena Dia mengalami kengerian ditinggalkan oleh Bapa-Nya, yang Dia nyatakan dengan teriakan “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku.”

Dia betul-betul seperti pemazmur yang berkata (Mazmur 42:2) “Seperti Rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.“

(Mazmur 63:2) “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.”

Ini adalah teriakan yang begitu agung dari Yesus Kristus. Pencipta langit dan bumi sekarang mengatakan “Aku haus.” Anak Allah yang tunggal yang dikasihi oleh Bapa-Nya dengan sepenuh hati-Nya sekarang harus ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Ini adalah anugerah Tuhan yang besar bagi kita karena Kristus ditinggalkan oleh Bapa-Nya supaya kita yang percaya kepada-Nya, tidak ditinggalkan selama-lamanya. Kristus mengalami kehausan supaya kita yang percaya kepada-Nya, tidak mengalami kehausan lagi untuk selama-lamanya.

Tetapi bagi setiap orang yang menolak percaya kepada-Nya, maka teriakan kehausan itu akan menjadi teriakkan untuk selama-lamanya. Dalam cerita orang kaya dan Lazarus (lihat Luk 16:19-31), keduanya mati dan kemudian Lazarus ada di pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya itu ada di api neraka yang sangat mengerikan. Orang kaya itu berkata suruhlah Lazarus mencelupkan jarinya ke air, karena lidahku, mulutku begitu kering. Tetapi tidak ada permintaan yang dikabulkan di neraka. Orang-orang yang tidak percaya akan selamanya berteriak “aku haus” dan tidak pernah mengalami kehausan itu dipuaskan.

Teriakan Kristus di atas kayu salib juga merupakan jawaban atas penderitaan kita hari ini. Kita akan mendapat kekuatan dan penghiburan karena mengerti Kristus yang telah menanggung penderitaan manusia yang berdosa. Di antara kita, pasti ada orang-orang yang bergumul, kesulitan, penderitaan yang mungkin tidak mudah disharingkan kepada orang lain. Mungkin saudara akan bertanya, mengapa aku mengalami hal seperti ini? Mengapa Tuhan mengijinkan aku mengalami penderitaan seperti ini? Apakah Tuhan peduli terhadapku? Ketika kita merenungkan bagian ini, biarlah kita mengerti bahwa Juruselamat kita adalah imam besar yang turut merasakan kelemahan dan segala kesulitan kita. Sama seperti kita, Dia dicobai dengan segala cara tetapi Dia tidak berdosa. Inilah kasih Tuhan yang begitu besar kepada kita. Bagaimana pencipta langit dan bumi, Tuhan yang berkuasa itu sekarang harus menderita di atas kayu salib “Aku haus.”

“Sudah Selesai” (Yoh 19:30)

(Yoh 19:30) “Sesudah Ia meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”  Ayat ini secara paradoks, menyatakan sangat jelas akan kemenangan Kristus. Tidak ada orang mati yang digambarkan seperti Kristus di sini.  Bagaimana kematian Kristus dinyatakan dengan jelas bahwa Dia telah menyelesaikan tugas yang Bapa berikan kepada-Nya. Ini bukanlah teriakan korban yang tidak berdaya, bukanlah teriakan nafas terakhir dari kelelahan hidup. Ini adalah teriakan kemenangan bahwa rencana Allah yang kekal itu sudah digenapi di dalam hidup-Nya. Ini adalah teriakan kemenangan bahwa rencana Allah untuk menyelamatkan manusia berdosa sekarang sudah selesai. Ini adalah teriakan kemenangan, karena dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal sekarang bahwa misi untuk menyelamatkan manusia itu sudah digenapi.

Misi untuk menghancurkan kepala ular tua dan memperdamaikan manusia dengan Allah sekarang sudah selesai. Dengan satu kata yang dalam bahasa Yunaninya “tetelestai”, yang akar katanya “telos” yang berarti goal/tujuan; sekarang goal itu sudah dicapai dan digenapi. Ini adalah teriakan kemenangan Kristus. Memang Dia masih menunggu akan kebangkitan. Tetapi ini adalah suatu hal yang tidak mungkin tidak terjadi.

Kemenangan Kristus bukan terjadi ketika Dia bangkit dari kematian. Kemenangan Kristus sudah terjadi di atas kayu salib. Karena Dia mengerti semuanya sudah selesai. Dia sudah menyelesaikan seluruh pertandinganNya, maka Dia berkata It is finished, it is accomplished. Murid-murid masih belum mengerti apa yang terjadi di atas kayu salib. Tetapi Kristus tahu bahwa seratus persen kemenangan sudah diraih-Nya. It is finished berarti semua rencana Allah untuk menyelamatkan manusia sekarang sudah digenapi di dalam Kristus.

Dari kekekalan Allah sudah merencanakan keselamatan itu dengan mengirim Anak-Nya yang tunggal. Kristus sendiri dari awal mengetahui bahwa tujuan-Nya datang adalah untuk menggenapi akan panggilan dan rencana Bapa bagi Dia. (Yoh 17:4) “Aku mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya”. Inilah pekerjaan yang Bapa berikan untuk Dia lakukan. Dia mati di atas kayu salib memuliakan akan Allah Bapa. Dengan demikian kita tahu dan Yohanes menegaskan bahwa di situlah Kristus dimuliakan. Kebangkitan mengkonfirmasi bahwa seluruh pencapaian Kristus di atas kayu salib itu sudah diterima dan sungguh-sungguh sempurna dikerjakan oleh Anak-Nya yang tunggal. Maka di atas kayu salib, kemenangan sudah pasti diraih.

Kita bisa melihat hal ini dengan hal-hal detil yang diceritakan selanjutnya. Yoh 19:30b “Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Ini adalah kalimat yang menarik. Sewaktu Yesus berkata “Lalu Ia menundukkan kepala-Nya.”, ini adalah perkataan yang sama seperti ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa (lihat Mat 8:20) “burung mempunyai sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Tuhan Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalaNya seumur hidup-Nya. Kata yang sama “meletakkan kepala-Nya” juga dipakai dalam Yoh 19:30b. Kristus yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, sekarang memiliki tempat itu di atas kayu salib.

Yohanes kemudian mencatat (Yoh 19: 30b) “dan (Ia) menyerahkan nyawa-Nya”. Tidak ada orang yang mati yang berkata aku menyerahkan nyawaku, kalau tidak ada yang merebutnya, tidak ada yang bisa mengambilnya dari padaku. Ada penafsir yang mengatakan Dia seperti mengusir nyawa-Nya itu. Artinya Dia secara aktif menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya. Ini adalah kematian yang menunjukkan kemenangan Kristus. Berarti kematian Kristus bukanlah kematian seseorang yang tidak berdaya. Inilah kematian yang menunjukkan kemenangan Kristus.

Kalau kita membaca ayat-ayat selanjutnya, kita mengerti apa yang terjadi. Tuhan Yesus kemudian ditikam dsb. tetapi sebelum ditikam, saat itu adalah persiapan Sabat dan orang-orang Yahudi meminta supaya orang-orang yang disalibkan itu diturunkan dari salib. Kemudian mereka meminta Pilatus supaya mematahkan kaki mayat-mayat itu, untuk mempercepat kematian mereka. Orang mati di atas kayu salib, akhirnya yang menyebabkan mereka mati adalah karena mereka tidak bisa bernafas. Kematian di atas kayu salib adalah kematian yang sangat pelan, bisa berhari-hari. Dengan tangan dan kaki yang dipaku, berat tubuh akan menarik ke bawah, maka akan susah sekali mereka bernafas. Ketika bernafas, dia harus menarik badannya ke atas. Berarti harus menekan dengan kakinya ke bawah. Dengan kaki dan tangan yang terpaku maka setiap tarikan nafas adalah penderitaan yang begitu berat. Orang itu akan terus berjam-jam berhari-hari menarik nafas, mengangkat badannya dan melepaskannya lagi berhari-hari. Ini adalah suatu penghukuman yang paling biadab. Tetapi kalau kakinya dipatahkan maka dia tidak bisa lagi menarik badannya ke atas, maka dia tidak akan bisa lagi bernafas. Itulah sebabnya kaki orang-orang itu dipatahkan supaya mereka cepat mati, dan mayat mereka bisa diturunkan.

Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus, mereka melihat bahwa Yesus sudah mati. Dalam Markus 15:44 disebutkan bahwa “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati”. Itu mengagetkan Pilatus karena biasanya orang yang disalib berhari-hari baru mati. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa Kristus dengan aktif menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa. “Sudah selesai”, dan Dia menyerahkan nyawa-Nya. Dalam Injil yang lain, juga dikatakan bahwa kalimat ini dikatakan dengan suara keras. Kalimat “Sudah selesai” adalah teriakan kemenangan Kristus. Di sini kita bisa melihat kemuliaan dari pada salib Kristus.

Tetapi apanya yang sudah selesai? Bukankah masih banyak orang menderita saat itu, yang tidak percaya kepada Kristus, masih banyak ketidakadilan yang berlangsung bahkan sampai sekarang. Yang telah selesai adalah misi Kristus datang ke dalam dunia. Aku datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (lihat Luk 19:10). Melalui kematian-Nya, melalui pekerjaan-Nya yang telah selesai itu, Dia memberikan segala hal yang paling penting, supaya kita dapat melakukan kehendak Tuhan. Kristus datang ke dalam dunia, untuk menyelamatkan yang hilang, melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Dia memuliakan Bapa dengan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan kepada Dia untuk Dia lakukan. Memang Kristus datang ke dunia pun tidak menyesaikan segala sesuatu. Ketika Kristus mati di kayu salib, masih banyak orang yang belum percaya, ketidakadilan, kejahatan, penderitaan dan air mata yang kita alami.

Apa yang sudah selesai? Yang Dia selesaikan adalah apa yang Bapa berikan kepada Dia untuk Dia lakukan, itu Dia selesaikan dengan sempurna. Apa yang dikerjakan oleh Kristus itu memberikan kepada kita segala hal yang paling penting yang kita perlukan di dunia ini. Kalimat “sudah selesai” biarlah mendorong hidup kita untuk menyelesaikan tugas yang telah Tuhan berikan kepada kita untuk kita lakukan di dalam dunia ini.

Semua orang bekerja di dunia ini mencari tiga hal: mencari rasa aman (security), mencari harga diri, dan mencari arti hidupnya. Ketika Kristus mati di kayu salib menyelesaikan misi yang Bapa berikan kepada Dia, maka Dia memberikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya segala sesuatu yang paling penting supaya kita boleh juga mempermuliakan Bapa.

Apanya yang sudah selesai? Dia selesai memberikan hidup baru, hidup kekal yang tidak mungkin binasa kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Ini adalah security yang pasti, karya keselamatan Kristus itu pasti akan digenapi secara sempurna sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Krisuts. Tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita dari pada kasih Allah.

Yang sudah selesai adalah ketika kita beriman di dalam Kristus, kita menjadi manusia yang baru, diadopsi menjadi anak-anak Allah. Anak-anak Allah yang dikasihi Bapa dengan kasih yang ajaib.  Ini adalah nilai harga diri kita dan betapa berharganya kita karena kita telah dikasihi oleh Bapa dengan kasih yang kekal.

Yang telah selesai juga melalui beriman kepada Kristus adalah pekerjaan yang sangat penting telah diberikan kepada kita. Yaitu pekerjaan yang bernilai kekal. Sewaktu kita bekerja di dalam dunia ini kita bukan hanya bekerja memberikan manfaat bagi manusia di sekeliling kita. Tetapi pekerjaan kita berkait dengan kehendak Tuhan, berkait dengan kekekalan, berkait dengan kemuliaan dari pada Allah.

Yang sudah selesai adalah Kristus telah memberikan hal-hal yang paling penting di dalam kehidupan kita, dengan Kristus mati menggenapi rencana Bapa bagi-Nya. Biarlah ini mendorong kita sebagai anak-anak Tuhan: Melihat kepada Kristus dan melihat apa yang telah Dia kerjakan bagi kita, mendorong kita juga boleh mempermuliakan Allah dalam segala hal yang kita kerjakan. Biarlah kematian dan kebangkitan Kristus mendorong kita untuk sungguh-sungguh hidup memuliakan Dia. Berkarya di tengah dunia ini, bekerja dengan segenap kekuatan, dan segala hal yang sudah Tuhan berikan kepada kita.

Karena Tuhan ingin kita juga bekerja memuliakan Bapa dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing. Di situlah kita mengerti akan arti dari pada hidup kita. Dia telah memberikan security yang kekal, Dia telah memberikan harga diri kita yang begitu bernilai, dan Dia memberikan arti dari pada seluruh hidup kita melalui kematian-Nya di atas kayu salib.

Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan sungguh-sungguh berjanji untuk mau melakukan apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidup kita. Sehingga kita boleh berkata seperti Kristus, aku telah memuliakan Engkau ya Bapa, dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk aku lakukan.

Tuhan memiliki rencana yang baik bagi setiap kita umat-Nya. Dia sudah memberikan modal yang paling penting yaitu Anak-Nya yang tunggal mati bagi kita.

Biarlah dengan security, worth, dan meaning yang sudah Tuhan berikan kepada kita, memampukan kita utk berjuang bersama-sama di tengah-tengah dunia ini. Mengerjakan seluruh tanggung jawab kita di tengah-tengah dunia ini, sekaligus mengerti akan misi yang Tuhan berikan kepada kita untuk kita genapi. Sehingga hidup kita boleh sungguh mempermuliakan Tuhan, dan ketika kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan, biarlah kita boleh mendengar suara Tuhan berkata “hai hambaKu yang baik dan setia, engkau telah setia dalam segala hal yang telah Aku berikan kepadamu.”

Biarlah kematian dan kebangkitan TuhanYesus, mendorong kita untuk sungguh-sungguh berjuang, hari lepas hari, minggu lepas minggu, tahun demi tahun, untuk kemuliaan Tuhan, karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita, melayani kita. Marilah kita melayani Tuhan dan sesama kita.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya