Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kristus, Tuhan yang Berdaulat

Ibadah

Kristus, Tuhan yang Berdaulat

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 31 Maret 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 18:1-11

Bacaan ini adalah peristiwa yang menuju klimaks dari Injil. Tanpa ketiga pasal ke depan (Yoh 18 tentang penangkapan Kristus, Yoh 19 – tentang kematian Kristus dan Yoh 20 – tentang kebangkitan Kristus), maka seluruh pengajaran Kristus itu tidak berarti apa-apa. Pengajaran yang penuh kuasa, tanpa kematian dan kebangkitan Kristus tidak berarti apa-apa. Perkataan “Akulah terang dunia”, “Engkau tidak bisa berbuat apa-apa di luar Aku”, tidak berarti tanpa kematian dan kebangkitan Kristus. Mukjijat-mukjijat yang dilakukan Kristus seperti memberi makan 5000 orang, tidak berarti apa-apa kalau Kristus tidak mati dan bangkit bagi kita.

Kita masuk kedalam peristiwa-peristiwa yang amat penting dan menjadi klimaks di dalam Injil, karena tanpa Kristus mati dan bangkit maka iman kita menjadi sia-sia, dan kita masih hidup di dalam dosa kita. Paulus mengatakan (lihat 1 Kor 15:14) bahwa kalau Kristus tidak mati dan bangkit bagi kita, maka iman kita masih sia-sia dan kita masih hidup dalam dosa-dosa kita.

Kitab Injil yang lain, Matius, Markus dan Lukas juga menyatakan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah puncak dari pada kedatangan Kristus ke dunia. Tetapi kalau kita membaca kitab Yohanes, kita melihat keunikan dalam teks yang Yohanes catat.

Matius, Markus, dan Lukas menulis tentang pergumulan Kristus di taman Getsemani, bagaimana Kristus berdoa dengan keringat bercucuran seperti darah, berdoa tiga kali meminta kepada Bapa-Nya di surga supaya cawan lalu dari pada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu yang jadi.

Injil Matius menceritakan Yesus yang memerintahkan murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga dan berdoa, dan kemudian kembali berdoa dan bergumul semalaman di situ.

Tetapi Yohanes tidak mencatat pergumulan Kristus di dalam taman getsemani. Namun yang dicatat Yohanes di sini, dia menekankan secara dramatis bahwa semua peristiwa itu seluruhnya ada di bawah kontrol total dari pada Kristus. Yohanes mau menekankan seperti yang sudah Kristus katakan sebelumnya (lihat Yoh 10:18) bahwa tidak ada seorangpun mengambil nyawa-Ku dari pada-Ku, tetapi Aku yang memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Kalau Aku tidak memberikannya, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengambil nyawa-Ku dari pada-Ku.

Dalam bacaan kali ini, kita akan melihat bahwa Kristus meskipun Dia ditangkap dan dipaku di atas kayu salib, Dia adalah sebenarnya Tuhan yang complete control dalam segala sesuatu yang terjadi dalam diri-Nya.

Yesus setelah mengatakan semua itu (lihat Yoh 17 tentang doa Yesus, dan lihat Yoh 16 tentang percakapan pribadi dengan ke sebelas murid-Nya), Yesus mengajak murid-murid-Nya ke seberang sungai Kidron. Sungai itu kecil dan hanya ada airnya pada waktu hujan. Yesus beserta murid-murid-Nya menyeberangi sungai itu dan masuk ke taman. Taman yang tidak disebut namanya oleh Yohanes, tetapi kita tahu dari kitab Injil yang lain bahwa taman itu adalah taman Getsemani. Kemungkinan ada suatu tembok yang mengelilingi taman itu sehingga mereka “masuk” ke taman itu.

Yoh 18:2 mengatakan “Yudas yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ bersama dengan murid-murid-Nya” Artinya ini adalah tempat di mana Yesus sering berkumpul dengan orang-orang yang paling dekat, termasuk juga Yudas pada waktu itu. Ini adalah tempat di mana percakapan yang paling akrab sering terjadi, tetapi sekarang menjadi tempat pengkhianatan oleh salah satu orang yang paling dekat itu. Yohanes langsung mengatakan Yudas yang mengkhianati Yesus.

Yoh 18:5b juga mengatakan “Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga bersama-sama mereka.” Yohanes berkali-kali menegaskan pengkhianat itu, menunjukkan betapa gelapnya pribadi yang sudah dikuasai oleh dosa. Yudas adalah salah satu orang yang paling dekat dengan Yesus. Yudas termasuk inner circle murid-murid Kristus, tetapi dia justru mengkhianati Kristus.

Injil Yohanes tidak mencatat bagaimana Yudas mengkhianati Kristus, tetapi Injil yang lain mencatat bahwa Yudas mengkhianati Kristus dengan ciuman, dia menyerahkan Anak Manusia. Kita melihat suatu pribadi yang betapa gelapnya dikuasai oleh dosa.

Yoh 18:3 mengatakan “Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang di suruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.” Yudas memimpin sepasukan prajurit. Ada yang menafsirkan bahwa kata “sepasukan” itu adalah 600 orang prajurit, atau 200 orang, atau lebih sedikit. Kita tidak tahu persisnya berapa tetapi yang pasti ada cukup banyak prajurit yang datang, dipimpin oleh Yudas dengan membawa suluh dan senjata. Mereka siap mau menangkap “Orang” yang dianggap mau mengacaukan Israel dan pemimpin-pemimpin Agama. Ini adalah tentara yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Kemungkinan juga ada beberapa tentara Romawi di antaranya, karena ada kerjasama dengan Romawi. Mereka membawa lentera karena tempat itu gelap.

Di dalam cerita-cerita Injil Yohanes, Yohanes seringkali memakai pengertian simbolis untuk memberikan pengertian yang ironis. Mereka memakai lentera untuk mencari terang dunia itu.

Seperti juga di dalam Yoh 13:27, Yohanes memakai pengertian yang simbolis “Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.”

Juga di dalam Yoh 13:30 “Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.”

Di sini, Yohanes menggunakan kata “Malam” bukan hanya menunjukkan bahwa harinya sudah malam, tetapi Yohanes mau menunjukkan bahwa ini adalah kegelapan di mana manusia akan tersandung dan jatuh. Ini adalah kegelapan malam di mana manusia tidak tahu jalan kemana mereka harus pergi karena tidak ada terang di dalam diri mereka. Itulah sebabnya Yudas dan para tentara membawa suluh dan lentera, membawa terang yang buatan manusia karena mereka tidak memiliki “Terang Dunia” itu.

Ini adalah momen kegelapan yang dikontraskan dengan kemenangan Kristus nanti setelah Dia bangkit dan naik ke surga. Khususnya ketika Yesus datang kembali ke dalam langit dan bumi yang baru di mana tidak ada lagi, dan orang-orang percaya tidak lagi memerlukan lampu bahkan tidak lagi memerlukan matahari karena Tuhan Allah adalah terang itu sendiri. Wahyu 22 menggambarkan akhir dari pada apa yang akan terjadi ketika kita berada di dalam langit dan bumi yang baru. Ini mendorong kita untuk menyadari bahwa Tuhan adalah begitu besar, dan begitu mulia; memberikan kemenangan yang pasti bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. It was night – menggambarkan kegelapan hati manusia dan mereka membutuhkan suluh dan lentera, karena mereka tidak memiliki terang itu.

Selanjutnya Yoh 18:4-6 mengatakan “Maka Yesus yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: “Akulah Dia.”: Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: “Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.” Kita melihat di sini bahwa kemenangan Yesus itu sudah nyata bahkan dalam peristiwa penangkapan-Nya. Yesus tahu segala sesuatu, dan di dalam peristiwa di mana Dia seolah-olah tidak berdaya, Yesus sebenarnya tahu bahwa Dia adalah in complete control akan segala yang terjadi.

Ada penulis yang mengatakan Kristus sebenarnya tidak pernah “ditangkap”. Kristus maju ke depan, menghadapi Yudas dan orang-orang yang mau menangkap Dia dan berkata “Siapakah yang kamu cari?” Ini adalah perkataan yang mirip yang Yesus katakan sewaktu bertemu dengan murid-murid-Nya yang pertama “apakah yang kamu cari?” Ini adalah pertanyaan yang perlu kita renungkan juga: “Apakah yang kita cari? ; siapakah yang kita cari?” Karena jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan seluruh hidup kita.

Banyak orang datang ke Gereja untuk mencari teman, mencari network, mencari damai dan kekuatan untuk menghadapi kesulitan yang dihadapi. Hal-hal ini tidak salah, itu adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi, dan seringkali Tuhan berikan hal-hal itu. Tetapi kalau kita adalah anak-anak Tuhan yang sejati, maka dari hati kita yang terdalam seharusnya kita menyadari Tuhan itu sendiri jauh lebih berharga daripada segala anugerah-Nya. Ketika Petrus ditantang oleh Tuhan dalam Yoh 6:67 “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”, sewaktu banyak murid-murid-Nya pergi meninggalkan Kristus karena pengajaran-pengajaran-Nya yang keras, maka Petrus menjawab (Yoh 6:68-69) “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi, perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang kudus dari Allah.” Murid-murid Tuhan yang sejati bukan hanya menginginkan anugerah-Nya, kebaikan-Nya, penghiburan-Nya, tetapi kita menginginkan Dia sendiri.

Siapakah yang engkau cari? Pdt Agus Marjanto memberikan suatu ilustrasi yang indah. Ada seorang ayah yang pulang dari luar negeri, dia pulang ke rumah menemui anaknya yang sudah sangat merindukan ayahnya. Sang ayah mengeluarkan sebuah hadiah yang hanya ada di luar negeri dan memberikannya kepada anaknya. Anaknya senang sekali dan memeluk ayahnya dan berkata “papa jangan pergi lagi.” Tetapi kemudian mereka pergi ke rumah tetangga, dan ayahnya memberikan hadiah yang sama kepada anak tetangga, yang merupakan teman baik anaknya. Anak tetangga juga senang sekali dan berterima kasih, namun teman anaknya mengatakan “Om kapan pergi lagi.” Karena anak itu bukanlah anak yang sebenarnya. Jadi dia hanya menginginkan hadiahnya, karena kesenangan itu hanya di dalam hadiahnya. Tetapi anak yang sejati tidak demikian, dia senang akan hadiahnya, tetapi dia tahu bahwa hadiah yang paling besar bukanlah mainan, atau segala apa pun yang dapat ayahnya berikan, hadiah yang paling besar adalah ayahnya itu sendiri.

Petrus mewakili murid-murid yang sejati, menjawab bahwa kepada siapakah kami akan pergi, perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal, dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang kudus dari Allah. Siapakah yang engkau cari? Murid-murid Kristus yang sejati adalah mereka yang mencari bukan anugerah-Nya, bukan kebaikan-Nya semata-mata, tetapi mencari Kristus sendiri.

Menjadi sangat ironis, ketika Yesus bertanya dalam Yoh 18:4 “Siapakah yang kamu cari” dan mereka mengatakan “Yesus dari Nazareth” tetapi kita tahu bahwa mereka bukan seperti Petrus yang percaya dan beriman sungguh kepada Kristus. Mereka mencari Kristus untuk menangkap dan membunuh Dia. Yohanes terus memberikan pengajaran secara paradoks, meskipun mereka datang untuk membunuh Kristus, tetapi justru melalui kematian-Nya itu, orang-orang berdosa, saudara dan saya boleh menerima kehidupan kekal.

Yesus menjawab “Akulah Dia”, namun kalimat aslinya mengatakan “I AM”. Ketika Yesus mengatakan “I AM”, Dia bukan hanya menyatakan siapakah yang engkau cari, tetapi juga menyatakan siapakah Aku ini.

Ini adalah kalimat the Great IAM yang dikatakan oleh Tuhan sewaktu Musa bertanya kepada Tuhan dalam Kel 3:13-15, “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU” … TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah mengutus aku (Musa) kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” Di sinilah muncul kata Yahwe “TUHAN”.  Inilah “Aku adalah Aku” menunjukkan kepada nama yang sakral, yang bahkan orang Israel tidak berani mengatakannya, karena terlalu agung.

Sewaktu Tuhan Yesus mengatakan “Siapakah yang kamu cari?”, mereka menjawab “Yesus dari Nazaret itu” dan Yesus mengatakan “I AM”, kalimat itu menunjukkan keagungan dan kemuliaan dari pada Kristus. Yang terjadi selanjutnya ketika Yesus mengatakan “I AM” maka mudurlah mereka dan jatuh ke tanah. Ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan nama-Nya, karena nama itu menunjukkan siapakah Kristus, Dia adalah Tuhan yang berkuasa, yang tidak pernah betul-betul ditangkap, tetapi Dia menyerahkan nyawanya. Kalau Dia tidak menyerahkan nyawa-Nya, tidak ada seorang pun yang bisa merebut nyawaNya.

Kita bisa melihat kemudian, Yesus bertanya untuk yang kedua kalinya (Yoh 18:7) “Siapakah yang kamu cari?” Yohanes menulis “kata mereka: Yesus dari Nazaret.”

Sebelumnya Yohanes menulis (Yoh 18:5) “jawab mereka: Yesus dari Nazaret.”

Mungkin ini menunjukkan bahwa mereka gemetar ketika mengatakan “Yesus dari Nazareth itu.” Yesus mau menegaskan bahwa engkau sudah mengatakan sendiri bahwa engkau hanya mencari Aku, seperti yang dua kali kamu katakan dengan mulutmu sendiri. Sehingga jika Aku yang kamu cari maka biarkanlah murid-murid-Ku pergi.

Ini adalah menggambarkan Yesus sebagai gembala yang baik itu, yang memikirkan domba-domba-Nya di saat mereka ada di dalam bahaya. Dia terus memikirkan dan mengasihi domba-dombanya, Dia sedang menyatakan sampai sejauh mana Dia mengasihi domba-domba-Nya, bahkan ketika Dia sedang menghadapi bahaya, Dia terus menjaga dan memelihara domba-domba-Nya.

Hal apa yang dapat kita pelajari melalui peristiwa di taman Getsemani ini?

Pertama-tama, Kristus adalah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu, tetapi di sisi lain manusia bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan berdaulat, tetapi manusia bertanggungjawab, khususnya Yudas yang berkhianat adalah orang yang bertanggung jawab atas dosanya. Tetapi Kristus tidak pernah menjadi korban yang tidak berdaya. Dia menyerahkan diri-Nya sebagai ketaatan total kepada Bapa. Ini bukanlah sesuatu yang mudah, Dia harus mati dan bergumul dengan berat di taman Getsemani. Namun Dia tahu bahwa ini adalah yang terbaik, Dia mau taat kepada kehendak Bapa. Ini adalah hal yang menyenangkan hati Bapa.

Dalam Yoh 18:11 Tuhan Yesus berkata “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” Cawan menunjuk kepada penderitaan dan murka dari pada Allah, yang harus Kristus minum. Cawan yang Bapa berikan yang Aku harus minum sampai habis, karena Aku mau dan rela mentaati kehendak Bapa-Ku. Ini adalah hal yang menyenangkan hati Bapa.

Yesus adalah Tuhan yang berdaulat atas segala peristiwa, bahkan di dalam peristiwa di mana seolah-olah Dia tidak berdaya. Ini adalah kejahatan yang paling jahat di mana seorang yang tidak berdosa, yang benar dan yang suci ditangkap, dianiaya, dipaku di atas kayu salib sampai mati. Tetapi Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas semuanya itu. Kalau Dia tidak menyerahkan diri-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat menangkap dan mengambil nyawa-Nya dari pada-Nya.

Kalau Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas segala peristiwa yang terjadi dalam taman Getsemani dan seterusnya, artinya Dia juga adalah Tuhan yang berdaulat yang atas segala sesuatu di dalam hidup kita.

Kalau Dia berdaulat dalam saat yang paling lemah, berarti Dia juga berdaulat atas seluruh aspek hidup kita. Alkitab menegaskan bahwa selembar rambutmu pun tidak akan jatuh kalau tidak dikehendaki Allah.

Dalam segala tantangan, kesulitan, pergumulan apa pun yang sepertinya sulit sekali, kita percaya bahwa Tuhan berdaulat atas semuanya itu. Dia memiliki kehendak, dan rencana, Dia bekerja di situ, Dia tidak pernah lepas tangan dan give up. Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas setiap detik, setiap peristiwa, apa pun yang terjadi dalam hidup anak-anak Tuhan.

Bagaimana kita berrespon kepada Tuhan yang berdaulat seperti ini. Bagaimana kita menyadari seperti Roma 8:28 yang mengatakan Dia bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Bagaimana respons kita seharusnya sebagai anak-anak Tuhan?

Respons kita kepada Tuhan melalui segala peristiwa yang kita alami menunjukkan siapakah kita sebenarnya di hadapan Tuhan. Apakah kita sungguh-sungguh orang yang percaya, yang mengasihi Tuhan, dan yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya. Ataukah kita bukan termasuk orang yang mengasihi Tuhan. Karena Roma 8:28 itu tidak berlaku bagi orang yang tidak mengasihi Tuhan. Tuhan tidak bekerja untuk kebaikan bagi orang yang tidak mengasihi Tuhan dan yang tidak terpanggil dalam rencana-Nya.

Ada suatu kesaksian dari Donald Grey Barnhouse, seorang pendeta, senior daripada James Boyce. Dia menceritakan tentang pengalaman dia di awal pelayanannya. Suatu kali dia didatangi seorang ibu yang anaknya yang masih muda terkena TBC. Tetapi ibu itu berkata, jangan datang ke anaknya bersama saya, karena anaknya akan marah sekali kalau ada pendeta yang datang ke rumah. Anak itu sedang marah dan kecewa sekali karena penyakit TBC itu. Pendeta itu bertemu pemuda yang sangat marah, sangat kecewa, sangat pahit dan sangat sedih atas penyakit yang sedang alami, yang bertanya mengapa Tuhan membuat dia menderita seperti ini. Dia tidak mau mendengar apa pun yang dikatakan oleh pendeta itu, sampai pendeta itu berpikir tidak ada gunanya dia di sini dan dia pergi. Pendeta itu mendengar bahwa satu minggu kemudian pemuda itu mati di dalam kepahitannya.

Beberapa tahun kemudian, pendeta itu didatangi oleh seorang lain lagi yang meminta untuk mengunjungi seorang pemuda yang terkena TBC juga. Dia teringat akan peristiwa pahit beberapa tahun sebelumnya, maka dia dengan hati-hati mengunjungi pemuda itu. Tetapi sewaktu dia bertemu dengan pemuda itu, dia kaget karena respons pemuda itu sangat berbeda dengan respons pemuda yang pertama. Pemuda ini mengatakan bahwa hidup itu begitu indah sejak Kristus menyelamatkan dia, dan dia mulai ceritakan akan hidupnya. Bagaimana sejak dia  sakit, tubuhnya semakin lemah, sehingga satu hari hanya mempunyai kekuatan kira-kira satu jam untuk keluar dari rumahnya. Satu jam itu dia gunakan untuk jalan keliling kompleks di mana dia tinggal. Sewaktu dia jalan-jalan, dia mendengar pendeta itu berkotbah, dia mendengar Injil Kristus, percaya, sungguh-sungguh bertobat.

Dia mengatakan bahwa sejak saat itu, dia dipenuhi dengan suka cita. Sakitnya tidak membaik, bahkan semakin memburuk, tetapi ada kesukaan, kekuatan dan penghiburan yang Tuhan berikan ketika dia percaya kepada Kristus. Dia tetap setiap hari berjalan satu jam, tetapi kali ini bukan hanya jalan-jalan, dia juga mengunjungi tetangga-tetangganya, yang sedang siram bunga atau potong rumput. Dia mengajak ngobrol tetangganya, dan mulai memberitakan Injil kepada mereka. Banyak orang yang kemudian mulai tertarik kepada Injil Yesus Kristus. Dia sudah merencanakan satu hari minggu, untuk mengundang lima puluh orang dari tetangga-tetangganya, dan meminta pendeta itu untuk datang untuk memberitakan Injil kepada mereka, dan dia akan sharing tentang kehidupan dia. Maka minggu itu, datanglah pendeta itu ke rumah pemuda itu dan dia kaget karena rumah itu penuh. Pemuda itu mulai mensharingkan hidupnya, bagaimana Tuhan menyelamatkan dia, bagaimana kasih Tuhan sudah menopang hidupnya dalam saat-saat kelemahan, bagaimana suka cita, penghiburan Tuhan dalam kesakitan, lemah tubuhnya, tetapi jiwa dan rohnya semakin kuat boleh beriman kepada Kristus. Pendeta itu juga memberitakan Injil dan banyak orang percaya pada hari itu. Seminggu setelah kebaktian itu, pendeta itu mendengar bahwa pemuda itu meninggal. Tetapi pendeta mengatakan satu kalimat, pemuda itu mati dengan penuh suka cita, dengan penuh kemenangan.

Bagaimana kita berrespon kepada Tuhan menunjukkan siapakah kita. Bagaimana kita berrespon kepada apa yang terjadi di dalam hidup kita. Kita bertanggung jawab atas respon kita kepada Tuhan. Banyak hal di dalam hidup kita yang kita tidak bisa kontrol. Kita tidak tahu mengapa peristiwa itu terjadi. Kalau karena dosa kita maka kita harus bertobat, tetapi banyak hal terjadi bukan karena dosa kita , namun karena kesalahan orang lain, karena dunia ini juga berdosa. Orang yang tidak percaya bisa terkena TBC atau kanker, orang Kristen bisa terkena TBC, bisa terkena kanker. Bagaimana kita berrespon kepada Tuhan, menyadari dan percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat atas seluruh hidup kita.

Kalau kita melihat Yudas, maka Alkitab terus menegaskan (lihat Mat 26:24) memang Anak manusia akan mati, dipaku di atas kayu salib, tetapi celakalah dia ,yang olehnya, Anak manusia itu diserahkan. Yudas bertanggung jawab akan dosanya. Kita menyadari bahwa Yudas mewakili saudara dan saya di dalam keadaan yang berdosa, sebelum kita diselamatkan, sebagai manusia berdosa yang tanpa anugerah Tuhan. Tetapi Yudas bertanggung jawab atas keputusannya untuk menjual Kristus, dengan keserakahan, disillusion, dlsb. Yudas mengambil keputusan, mengatur, merencanakan untuk menangkap Kristus di tempat yang paling tepat, supaya tidak terjadi kekacauan.

Yudas adalah gambaran kita di dalam keadaan berdosa. Tetapi kalau kita boleh percaya kepada Kristus, beriman kepada-Nya, itu semata-mata adalah karena anugerah Tuhan. Bukan karena kelebihan apa pun dari kita. Tuhan memilih Israel dan berkata kepada bangsa Israel, bukan karena engkau jumlahnya banyak, bukan karena engkau lebih hebat, bukan karena engkau lebih berkuasa, bukan karena apa pun yang ada padamu; justru engkau adalah bangsa yang paling kecil, yang paling tidak berdaya di antara segala bangsa, tetapi Aku memilih engkau karena Aku mengasihi engkau. Biarlah kita boleh menyadari prinsip yang sama berlaku bagi kita yang percaya mengenal Kristus, yaitu kita bisa percaya adalah semata mata karena anugerah Tuhan. Tuhan menyelamatkan dan mengasihi kita, maka tidak ada seorang pun yang akan binasa. Kalau engkau yang Aku cari, biarkanlah mereka pergi.

Demikianlah, hendaklah supaya genaplah firman yang dikatakan oleh Kristus di dalam pasal-pasal sebelumnya di Injil Yohanes (lihat Yoh 10:28) “Dari mereka yang engkau berikan kepada-Ku ya Bapa, tidak seorang pun yang Ku biarkan binasa.” Tentu konteksnya saat itu adalah murid-murid-Nya tidak ditangkap, tidak turut dipaku di atas kayu salib, tetapi justru kalimat ini adalah aplikasi firman sebelumnya bahwa semua yang Bapa berikan kepada Kristus, akan Kristus pelihara dan tidak ada seorang pun akan merebut mereka dari tangan Bapa.

Ini adalah Tuhan kita yang mengasihi kita, yang memelihara, memimpin kita, bukan hanya di dalam hidup ini saja, tetapi untuk selama-lamanya. Kalau kita mengerti bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Tuhan yang berdaulat di dalam keadaan apa pun di dalam hidup kita, biarlah kita sungguh-sungguh beriman dan percaya kepada Kristus. Kita harus sadar, bergantung kepada Dia, taat kepada Dia, hidup di dalam kehendak-Nya, dan berrespon dengan tepat sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Berjalan di dalam kehendak-Nya, tidak pernah meninggalkan Dia, tetapi justru makin mendekat kepada Dia, makin bersandar, bergantung kepada Dia seperti Paulus katakan dalam 2 Kor 1:8-9 “Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.”

Inilah yang Tuhan inginkan di dalam segala yang terjadi di dalam hidup kita. Tentu ini juga termasuk segala kelimpahan, kebaikan dan anugerah suka cita yang Tuhan berikan kepada kita. Kita perlu datang dan bersandar kepada-Nya. Tetapi secara khusus di dalam saat-saat kesulitan, pergumulan, tantangan dalam hidup kita, kita harus datang, makin bersandar, bergantung dan taat kepada-Nya. Sehingga kita boleh mengalami kehadiran-Nya, kekuatan-Nya, pertolongan-Nya, dan makin dekat kepada-Nya di dalam segala kesulitan dan pergumulan yang kita hadapi.

Peristiwa Getsemani bukanlah suatu accident dalam kehidupan Kristus, tetapi itu adalah sesuatu yang Dia rencanakan, dan Dia menyerahkan diri-Nya untuk menebus dosa saudara dan saya. Biarlah kita beriman kepada Kristus yang seperti demikian, dan sungguh-sungguh percaya kepada-Nya, sehingga kita boleh menjadi orang-orang yang stabil, di dalam segala kesulitan dan pergumulan yang kita hadapi, kita terus bergantung dan bersandar. Di dalam kesulitan yang berat, pasti kita bergumul dengan berat.

Di dalam Alkitab, kita juga melihat banyak anak-anak Tuhan yang menghadapi kesulitan-kesulitan yang besar, dan mereka bukan dengan mudahnya bersuka cita, percaya, beriman kepada Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu. Mereka bergumul, susah, dan berseru kepada Tuhan. Ayub bergumul begitu berat, berseru kepada Tuhan, Alkitab menegaskan berkali-kali bahwa Ayub adalah orang yang saleh, suci, berkenan kepada Tuhan, tetapi dia mengalami kesulitan yang begitu besar, dia bergumul berat di hadapan Tuhan. Yusuf juga bukan karena kesalahannya, tetapi justru karena ketaatannya kepada Allah, karena dia tidak mau melakukan apa yang jahat di mata Tuhan.

Ketika istri Potifar terus menggoda dia untuk tidur dengannya, Yusuf mengatakan (lihat Kej 39) bagaimana aku bisa melakukan hal yang jahat ini dan berbuat dosa kepada Allah. Dia terus menolak, tetapi karena penolakannya itu, Yusuf dimasukkan ke dalam penjara. Menurut sejarah, paling sedikit tujuh tahun, ada juga yang mengatakan 13 tahun. Di dalam penjara, dia bergumul begitu berat dalam waktu yang lama. Sama sekali bukan karena kesalahannya tetapi justru karena ketaatannya kepada Tuhan. Di dalam satu film Yosef the King of Dream, digambarkan dia berkata Aku(Yoseph) susah sekali, dan aku tidak mengerti mengapa Tuhan mengijinkan ini terjadi di dalam hidupku, tetapi aku akan terus percaya kepadamu, karena Engkau ya Tuhan tahu lebih benar dari padaku. Meskipun saat itu aku tidak mengerti mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi. Tetapi aku percaya bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiMu. Ketika akhirnya dia keluar dari penjara dan menjadi perdana menteri Mesir, dan bertemu dengan saudara-saudaranya yang ketakutan yang telah menjual dia, maka berkali-kali Yusuf mengatakan (lihat Kej 45) kepada saudara-saudaranya bukan kamu yang menjual aku, yang menyuruh aku ke Mesir, tetapi Allah-lah yang mengirim aku ke Mesir, untuk menyelamatkan suatu bangsa. Karena itulah Dia mengirim aku ke sini untuk mendahului kamu.

Banyak hal yang kita sadari, bahwa betul Tuhan bekerja melalui peristiwa hidup kita, untuk mendatangkan kebaikan. Tetapi ada hal-hal yang sampai mati kita tidak tahu mengapa Tuhan ijinkan itu terjadi. Tetapi itulah iman, yang bersandar kepada firman, bukan bersandar kepada pengalaman.

Pendeta Stephen Tong pernah bercerita tentang seorang guru ateis yang masuk ke sekolah anak-anak cacat. Dia menuliskan suatu kalimat jika Allah mengasihi kamu mengapa engkau lahir cacat seperti ini. Ini adalah kalimat yang kejam sekali. Semua murid diam, sedih, bergumul dan bingung bagaimana menjawabnya. Tetapi ada satu anak maju ke depan dan menjawab, kalau Tuhan menghendaki demikian itu adalah yang terbaik bagiku.

Itulah iman, iman menyadari bahwa apa pun yang terjadi di dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan yang percaya dan mengasihi Dia, sadar bahwa Dia adalah Tuhan yang berdaulat, berkuasa dan memiliki rencana yang baik bagi anak-anak-Nya. Biarlah kita percaya, makin beriman, bersandar kepada Tuhan, terus hidup di dalam kehendak-Nya, makin taat kepada-Nya.  

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya