Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kasih Kristus bagi Murid-Murid-Nya

Ibadah

Kasih Kristus bagi Murid-Murid-Nya

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 24 Maret 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 17:22-26

Satu kali ada seorang pendeta yang sangat dihormati di suatu Gereja. Dia sudah cukup tua dan sakitnya semakin parah. Ketika dia merasa sebentar lagi dia sudah mau meninggal, dia meminta kepada pengurus untuk memanggil dua orang sebelum dia meninggal. Pendeta memanggil seorang politikus dan seorang banker, pengusaha besar untuk mengatakan kata-kata terakhirnya. Di samping ranjangnya, pendeta itu memenggang ke dua tangan mereka, yang duduk di kiri dan di kanan dia, dan pendeta itu berkata “akhirnya kerinduan saya tercapai, mati seperti Tuhan Yesus di tengah-tengah dua orang penjahat.”

Bagian Alkitab ini juga merupakan permintaan-permintaan terakhir Kristus kepada Bapa sebelum Dia salib. Dalam Yoh 17:24 Yesus mengatakan “Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku.” Doa Tuhan Yesus ini adalah doa permintaan terakhir kepada Bapa. Kali ini kita akan memfokuskan kepada kasih Allah kepada murid-murid-Nya di dalam permintaan terakhir Yesus.

Yesus berkali-kali berbicara tentang kasih Allah kepada murid-murid-Nya. Yoh 17:23b Tuhan Yesus berdoa “… Engkau mengasihi mereka sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Konteksnya adalah Yesus berdoa untuk kesatuan dari pada murid-murid-Nya (Yoh 17:22) “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu“, (Yoh 17:23) “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna dan menjadi satu, agar dunia tahu,  bahwa Engkau yang telah mengutus Aku.” Yoh 17:24b juga mengatakan “Sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.” Yoh 17:26b berbicara tentang kasih sekali lagi “… supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

Kita akan merenungkan suatu tema yang besar yaitu tentang kasih Allah kepada murid-murid-Nya. Meskipun ini suatu tema yang umum, tetapi tema ini adalah suatu tema yang tidak pernah akan habis kita renungkan. Tema tentang kasih Allah bagi kita, bagi murid-murid-Nya: sama seperti Allah mengasihi Kristus, dan dengan kasih yang sama itu pula Allah mengasihi kita. Kalau kita betul betul memikirkan hal ini, maka kalimat ini adalah suatu kalimat yang luar biasa. Kita perlu memikirkan kalimat yang sepertinya sangat jelas ini sehingga kita makin mengerti akan kasih Tuhan ini.

Pertama-tama, sewaktu Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa mengasihi Dia, dan dengan kasih yang sama Bapa mengasihi murid-murid-Nya, kita harus mengerti bahwa “sama” tetapi bukan sama di dalam segala hal. Karena ketika kita mengerti akan kasih Allah, maka kasih itu hampir selalu dikaitkan dengan Dia menebus dosa kita. Tentu hal itu tidak pernah dikaitkan dengan Bapa mengasihi Anak, karena Bapa tidak pernah menebus dosa Kristus. Kasih yang kita alami dari Bapa hampir selalu dalam konteks Bapa mengampuni segala dosa kita. Namun dalam konteks ini, Bapa tidak pernah mengampuni dosa Anak karena Anak tidak pernah berdosa.

Tema akan kasih Allah ini sebenarnya tidak sederhana. DA Carson dalam bukunya The difficult doctrine of the love of God membedakan di dalam Alkitab , Bapa menyatakan kasih-Nya dengan cara yang berbeda-beda. Paling sedikit ada lima cara Allah menyatakan kasih-Nya:

1)    Kasih Bapa kepada Anak dan kasih Anak kepada Bapa

Ini adalah kasih yang sempurna, kasih dalam relasi yang sempurna, yang tanpa tercemar dosa. Ketika Yesus selesai dibaptis terdengar suara dari sorga (Mat 3:17) “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan”. Dalam bagian lain (Mat 17:5) “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Seluruh hidup Kristus adalah hidup yang mengasihi dan mentaati Bapa-Nya; ini adalah relasi yang sempurna. Ketika Bapa berkata “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi” itu artinya hati Bapa seluruhnya ada di dalam Anak, Bapa berkenan seluruhnya, seluruh hati Bapa ada di dalam hati Anak. Bapa begitu bersuka cita kepada Anak-Nya yang tunggal itu, yang tidak pernah melawan Bapa-Nya, yang selalu mentaati bahkan sampai mati di atas kayu salib. Ini adalah kasih yang sempurna antara Bapa dengan Anak dan antara Anak dengan Bapa.

2)    Allah yang mengasihi seluruh ciptaan-Nya

Ketika Alkitab berbicara tentang kasih Allah, Alkitab juga berbicara tentang kasih Allah terhadap seluruh ciptaan-Nya. Allah yang memberikan hujan dan matahari kepada semua orang. Matahari dan hujan yang menghidupkan tumbuhan dan manusia , hal itu diberikan kepada semua orang, kepada orang-baik tetapi juga kepada orang jahat, kepada anak-anak Tuhan tetapi juga kepada anak-anak setan. Ini adalah bentuk kasih Tuhan kepada seluruh ciptaan-Nya.

3)    Kasih Allah kepada semua orang berdosa

Allah mengasihi semua orang berdoa, Yoh 3:16 berbicara “Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini …“, yang menyatakan kasih Allah yang bukan hanya kepada umat pilihan-Nya, tetapi juga kepada orang berdosa. Dia tidak menginginkan seorang pun binasa. Yeh 33:11 Tuhan berkata “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya , supaya ia hidup. ….” Ini adalah kasih Tuhan kepada semua orang berdosa, Dia tidak ingin seorangpun binasa. Aplikasinya bagi kita adalah kita harus memberitakan Injil kepada semua orang di dunia ini, kepada semua suku bangsa. Kita diperintahkan untuk mengasihi semua orang, seperti Tuhan juga mengasihi semua orang di dalam dunia ini.  

4)    Kasih Allah kepada umat pilihan-Nya

Kasih Allah yang memilih umat pilihan-Nya dan menggerakkan hati mereka untuk bertobat dan percaya kepada-Nya. Dalam Yoh 6:44 Tuhan Yesus mengatakan “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” artinya kalau kita datang, itu karena Bapa yang menarik kita utk boleh percaya. Tanpa anugerah yang khusus itu kita tidak akan percaya dan datang kepada Kristus. Tuhan menggerakkan kita , memberikan anugerah-Nya terlebih dahulu sehingga kita boleh percaya datang kepada Tuhan dan tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita daripada kasih Allah itu.

5)    Kasih Allah yang bersifat kondisional

Kasih Allah yang bersifat kondisional, bergantung kepada ketaatan kita sebagai anak-anak Tuhan. Dalam Yoh 15:9-10 Tuhan Yesus mengatakan “Seperti Bapa telah mengasih Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku.” Jadi kita tinggal di dalam kasih Tuhan itu bergantung pada ketaatan kita. Kita harus menuruti perintah Kristus, perintah Allah. Kalau tidak itu berarti kita berada di luar kasih-Nya, dan Allah akan mendisiplin anak-anak-Nya. Kalau kita adalah anak-anak-Nya yang sejati maka Dia akan mendisiplin kita. Kasih Allah itu akan dialami dan dirasakan dengan cara yang berbeda, yang terkadang kita rasakan sebagai bukan kasih. Kita merasakan murka Allah, disiplin dari pada Allah. Tetapi sesungguhnya itu adalah kasih Allah. Ini adalah kasih Allah yang bersifat kondisional, dan kalau kita sungguh taat maka Tuhan membuat kita bersukacita dan Dia akan memimpin hidup kita. Sebaliknya ,kalau kita tidak mentaati Tuhan, maka kita hidup di luar kasih Tuhan, maka kita tidak akan mengalami kasih yang biasa kita mengerti, tetapi seringkali kita justru mengalami murka dari pada Tuhan.

Kita harus mengerti ke lima cara Tuhan menyatakan kasih-Nya.

Ada beberapa implikasi pengertian akan ke lima cara ini:

Jika kita hanya mengerti satu cara saja Allah mengasihi, maka kita akan menjadi timpang dan bingung tentang arti Allah mengasihi kita. Misalnya, jika kita hanya mengerti kasih Allah di dalam aspek Allah mengasihi semua orang berdosa (bentuk kasih ke tiga), dan kita membuang semua bentuk kasih yang lain, khususnya bentuk yang ke empat, maka kita akan membuang ayat-ayat Alkitab yang dengan jelas menyatakan bahwa Allah memilih umat-Nya dalam kedaulatan-Nya. Bentuk kasih yang ketiga di atas, menyatakan kasih Allah bagi semua manusia berdosa, tetapi ultimately, bentuk kasih yang ke empat, Allah mengasihi secara khusus, Allah bukan hanya menawarkan keselamatan itu, tetapi Dia juga memastikan bahwa orang itu akan percaya dan menggerakkan hatinya untuk beriman dan percaya kepada Kristus.

Ini adalah sesuatu yang tidak mudah. Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang jemaat selama dua jam berbicara tentang hal ini. Di satu sisi Allah tidak menginginkan seorang pun binasa, Dia menginginkan semua orang bertobat, berbalik dan percaya kepada-Nya. Tetapi di sisi lain ada kasih yang melampaui kasih yang menawarkan Injil keselamatan, yaitu kasih yang memastikan Injil keselamatan itu di terima, dengan Dia memberikan hati dan hidup yang baru, melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam hati manusia.

Kalau kita membuang bentuk kasih yang ke empat, maka kita akan mengerti konsep anugerah yang sangat yang berbeda dengan apa yang Alkitab katakan. Anugerah Allah akan berhenti dengan menawarkan Injil, dan manusia dapat menentukan apakah dia mau menerima atau tidak. Namun anugerah Allah tidak berhenti sampai di situ, Dia bekerja menggerakkan hati manusia memberi hidup yang baru, sehingga hidup yang baru itu boleh berrespons kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya, karena Dia telah memilih kita sebelum dunia dijadikan.

Kalau kita hanya mengerti kepada kasih bentuk ketiga ini, maka itu juga akan meniadakan kepastian keselamatan kita. Kalau keselamatan itu bergantung ultimately kepada pilihan dan respon kita kepada Tuhan, maka hari ini kita bisa percaya dan besok atau 10 tahun lagi kita tidak percaya dan meninggalkan Tuhan. Maka tidak ada kepastian akan keselamatan.

Sebaliknya kalau keselamatan itu bergantung kepada pilihan Tuhan sebelum dunia dijadikan, Tuhan yang sudah menetapkan kita untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, memanggil, membenarkan, dan memuliakan kita, kalau itu semua adalah pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita, maka kita pasti akan diselamatkan. Kita akan di dalam Tuhan dan mengerti suatu kepastian yang melampaui kekuatan, tanggung jawab dan respons kita kepada Tuhan.

Di sisi sebaliknya, jika kita hanya mengerti kasih bentuk ke empat, yang hanya kasih Allah yang memilih umat-Nya dan menggerakkan hati mereka yang percaya kepada-Nya, dan membuang pengertian kasih yang lain, khususnya kasih bentuk yang ketiga, maka kita akan jatuh kepada hypercalvinism. Charles Spurgeon melawan keras hypercalvinism, karena pandangan ini berbicara tentang kedaulatan Allah yang begitu rupa sampai membuang tanggung jawab manusia. Tidak ada tanggung jawab sama sekali, karena semuanya seperti diatur dan dikontrol oleh Allah, melupakan bahwa kasih Allah itu diberitakan ke seluruh dunia supaya semua orang kembali, Allah menginginkan tidak seorang pun binasa, dan orang harus berespon kepada-Nya.

Sewaktu kita berbicara tentang kasih Allah, kita sering mendengar kalimat klise “God’s love is unconditional” kasih Allah itu tidak bersyarat. Apakah betul kasih Allah tidak memiliki syarat apa pun? Apakah Tuhan akan mengasihi kita terus-menerus no matter what? Kalau kita berdosa dan melawan Tuhan apakah betul Dia akan terus mengasihi kita. Kalau begitu apa dampaknya di dalam hidup kita. Kalau kita mengerti ke lima bentuk kasih di atas, tentu kalimat kasih Allah tidak bersyarat ini benar di dalam pengertian nomer empat di atas. Kasih Allah yang memilih umat-Nya untuk diselamatkan, Allah yang memilih Israel bukan karena Israel bangsa yang hebat, bukan karena segala apa pun yang baik dari dirimu; Aku memilih engkau karena Aku adalah kasih, dan memilih engkau menjadi umat pilihan-Ku semata mata karena anugerah-Ku yang sudah mengikat perjanjian dengan nenek moyangmu.

Demikian juga kepada kita, Allah memilih kita bukan karena kebaikan, kehebatan, atau karena jasa apa pun di dalam hidup kita. Kita diselamatkan semata-mata hanya karena anugerah Tuhan - Sola Gracia.

Para reformator menegaskan bahwa kita diselamatkan hanya karena anugerah Tuhan semata-mata, artinya tidak ada kebaikan apa pun di dalam diri kita. Kita adalah orang yang mati di dalam dosa, dan tidak bisa berrespon sama sekali kepada Tuhan. Kita bisa percaya dan beriman itu adalah semata-mata karena anugerah Tuhan.

Tuhan memberikan hidup yang baru terlebih dahulu kepada kita. Tentu ini benar dalam pengertian kasih bentuk yang ke empat, yaitu kasih yang tidak bersyarat, karena Allah bukan hanya menawarkan Injil, tetapi memastikan keselamatan itu dengan memberikan hidup baru yang mengubah hati kita untuk percaya kepada Kristus.

Kita mengerti bahwa kasih yang tidak bersyarat itu adalah pengertian yang salah, khususnya dalam pengertian ke lima, yang mengatakan kasih Allah yang bersifat kondisional. Artinya kalau kita tidak taat dan tidak tinggal di dalam kasih-Nya, kita akan mengalami disiplin Bapa yang terkadang tidak dirasakan sebagai kasih, tetapi sebagai murka Tuhan. Kalau kita berbicara kepada orang Kristen yang sedang hidup di dalam dosa, dan terus merasa take it for granted dengan mengatakan God’s love is unconditional, maka ini adalah pengertian yang salah.

DA Carson mensharingkan suatu pengalaman pribadinya. Sewaktu dia belajar di Jerman, belajar bahasa Jerman sebelum studi teologi, dia bertemu dengan seorang Perancis yang berasal dari Afrika Barat yang juga sedang belajar bahasa Jerman. Saat makan siang, DA Carson mengetahui bahwa istri orang itu sedang ada di London mengikuti training untuk menjadi dokter. DA Carson kemudian mulai sadar juga bahwa pria ini sering pergi ke tempat pelacur.  Akhirnya DA Carson memberanikan diri untuk bertanya kepadanya, “saya perhatikan kamu sering pergi ke pelacur, kalau istrimu melakukan hal yang sama seperti kamu, kira-kira bagaimana responsmu.” Jawab orang itu, “I’ll kill her”. DA Carson mengatakan kok ada double standard. Dia menjawab bahwa di Afrika para suami sudah biasa punya perempuan lain dan pergi ke pelacur, tetapi kalau istri punya hubungan dengan pria lain, kita akan bunuh dia. DA Carson melanjutkan kamu dibesarkan dalam sekolah misi dan Allah tidak memiliki double standard seperti kamu. Dia menjawab "God is good, He is bound to forgive us, that is His job", Dia pasti akan memaafkan saya karena itu adalah tugas-Nya.

Kalau kita salah mengerti akan kasih Allah, maka kita akan jatuh kepada kesalahan-kesalahan yang sebenarnya sungguh bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab tentang kasih Allah. Kalau Dia sungguh-sungguh anak Tuhan maka Tuhan akan menghajar dia dengan segala cara, seperti bapa yang sedang mendisiplin anak-anaknya yang sedang melakukan kesalahan. Anak-anak yang bukan hanya melawan perintah bapanya tetapi dosa yang akan menghancurkan hidup mereka. Kalau kita betul-betul anak Tuhan, Tuhan tidak akan membiarkan kita di dalam dosa, Dia akan menarik dan mendisiplin kita untuk kembali kepada-Nya. Karena dosa itu bukan hanya melawan Tuhan tetapi juga menghancurkan diri kita sendiri. Tetapi kalau Tuhan membiarkan dia, dan dia terus berjinah maka mungkin sekali dia justru bukan anak Tuhan, bukan orang yang percaya kepada Kristus.

Jadi kita perlu mengerti kasih Tuhan yang dinyatakan dengan cara yang berbeda beda.

Apa artinya ‘Bapa mengasihi anak-anak-Nya sama seperti Bapa mengasihi Yesus, Anak-Nya yang tunggal itu’. Paling sedikit ada tiga hal yang dapat renungkan:

1) Kasih Allah kepada kita yang sama seperti kasih Allah kepada Yesus Kristus adalah kasih yang kekal yang dinyatakan kepada kita, anak-anak-Nya. Yoh 17:24b Tuhan mengatakan “…sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.“

Kalimat yang sama dikutip oleh Paulus dalam Efesus 1:4 “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan….” Dia memilih kita di dalam kasih-Nya sebelum dunia dijadikan, jadi Dia mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Dalam perjanjian lama Tuhan mengatakan (Yesaya 49:15) “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”

Kita pasti tidak dapat membayangkan apakah Bapa berhenti mengasihi Anak-Nya yang tunggal, karena kasih Bapa kepada Anak-Nya itu adalah kasih yang kekal. Kasih yang sama juga diberikan kepada saudara dan saya yang percaya kepada Kristus, anak-anak-Nya yang percaya kepada Dia. Oh love that do not let me go, kasih yang tidak akan melepaskan kita, kasih yang akan terus memelihara dan menjaga kita sampai selama-lamanya.

2) Allah mengasihi kita bukan hanya dengan kasih yang kekal, tetapi juga dengan kasih yang sempurna; sama seperti kasih Bapa kepada Anak-Nya, sempurna. Sebaliknya kasih kita adalah terbatas, banyak kekurangannya. Kadang-kadang kita mengasihi anak-anak kita terlalu banyak sehingga memanjakan dan merusak, namun seringkali juga kita mengasihi anak-anak kita terlalu sedikit sehingga anak-anak mencari kasih di luar, dan mereka sangat rindu untuk dikasihi. Tetapi Allah mengasihi anak-anak-Nya dengan bijaksana dan konsistensi yang tertinggi. Allah selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Termasuk melalui kesulitan dan penderitaan, karena Kristus sendiri, sekalipun Dia adalah Anak, Dia belajar menjadi taat melalui penderitaan yang Dia alami. Kalau kita adalah anak-anak Allah, maka Allah mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, dengan waktu yang tepat dan dengan konsistensi yang terus menerus. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita dalam apa pun yang terjadi di dalam hidup kita.

Tuhan juga mengasihi kita dengan kasih yang suci. Kita kadang-kadang mengasihi dengan maksud-maksud tersembunyi, untuk mendapatkan sesuatu dari orang yang kita kasihi itu. Ketika Allah mengasihi kita, tidak ada apa pun yang menguntungkan Allah. Dia mengasihi kita karena Dia adalah kasih. Ultimately Dia memanggil umat-Nya yang dikasihi-Nya untuk menyembah Dia, memuliakan Dia. Ketika Dia memanggil kita untuk menyembah Dia itu sesungguhnya adalah kasih yang terbesar yang Tuhan berikan kepada kita. Karena kita sebagai gambar dan rupa Allah diciptakan untuk itu, untuk memuliakan Dia dan untuk menikmati Dia selamanya.

CS Lewis memberikan penjelasan tentang bagian ini dengan mengatakan bahwa sebelum dia percaya, kadang-kadang sewaktu dia membaca mazmur, dia menganggap perintah-perintah Tuhan untuk memuji-muji Dia adalah seperti seorang perempuan yang insecure yang selalu ingin dipuji-puji. Setelah dia percaya, dia mulai mempelajari dan mengerti, bahwa ketika Tuhan memerintahkan kita untuk memuliakan Dia itu adalah sebenarnya perintah yang begitu mulia, begitu indah, begitu suci.

CS Lewis memberikan contoh ketika kita melihat sesuatu yang indah, yang begitu menggerakkan hati kita, apakah itu pemandangan, lukisan atau musik yang begitu indah, pasti hati kita akan tergerak untuk menyatakan pujian secara otomatis. Engkau tidak bisa menahan pujian itu. Kalau kita bayangkan kita diberi tiket gratis menonton final Roger Federer vs Rafael Nadal di kursi VIP, namun dengan satu syarat, kamu tidak boleh mengeluarkan suara apa pun, tidak boleh tepuk tangan, dan hanya duduk saja. Itu pasti susah sekali, engkau melihat sesuatu yang hebat sekali, namun engkau tidak boleh bersuara.

CS Lewis melanjutkan kalau engkau mengenal Allah yang begitu hebat, begitu mulia, maka engkau pasti bersuara. Maka ketika Tuhan memerintahkan kita untuk memuji dan memuliakan Dia, bukan hanya dengan mulut tetapi dengan seluruh hidup kita, itu adalah kasih yang terbesar bagi kita, karena Dia adalah Allah yang sempurna, yang begitu besar, begitu indah. Kalau kita mengenal Dia, maka itu akan mendorong kita memuji dan memuliakan Dia.

CS Lewis mengatakan pujian itu bukan hanya mengekspresikan pujian kita, tetapi pujian itu menyempurnakan suka cita kita. Sukacita menjadi sempurna ketika kita mengekspresikan pujian itu melalui seluruh hidup kita. Itulah kasih Tuhan kepada kita, kasih yang suci, demikianlah Bapa mengasihi Anak-Nya.

Seluruh hidup Kristus memuliakan Bapa-Nya, sampai mati Dia memuliakan Bapa. Yoh 17:4 Yesus mengatakan “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” Dia melakukan itu sampai mati di atas kayu salib. Itulah kasih yang terbesar Bapa kepada Anak, dan Anak kepada Bapa. Demikian juga kasih Tuhan yang suci itu mendorong kita untuk mengasihi Dia. Kita mengalami kasih Tuhan dan mendorong kita berrespon kepada kasih-Nya itu.

3) Bukan hanya Allah telah mengasihi kita dengan kasih yang kekal, sempurna, dan suci, tetapi Allah juga telah menaruh kasih itu di dalam hati kita, supaya kita boleh mengasihi orang lain seperti Allah telah mengasihi kita.

Yoh 17:26 “Dan Aku telah memberikan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Maka kita bukan hanya menerima kasih Allah yang kekal, sempurna dan suci itu, tetapi kita juga boleh mengasihi orang-orang di sekeliling kita dengan kasih yang sama. Kristus sendiri mengatakan (Yoh 13:34) seperti Aku telah mengasihi engkau demikianlah engkau hendaklah mengasihi satu sama yang lain.

Ada dua hal yang praktis yang dapat kita laksanakan di dalam hidup kita:

1) Biarlah kita boleh mengasihi satu dengan yang lain dengan cara mendengar satu sama yang lain.

Ini adalah sesuatu yang sepertinya sederhana tetapi sangat sulit di dalam dunia yang semua orang mau berbicara, mau forward berita-berita tetapi tidak ada yang mendengar. Yang saya maksudkan adalah sungguh-sungguh mendengar seperti dalam aksara china Ting.

Di dalam satu kata cina itu, ada symbol telinga, tetapi ada juga symbol mata, jadi artinya mendengar itu juga dengan mata.

Ada juga symbol “satu” berarti undivided attention : memberi seluruh perhatian kita kepada orang yang sedang cerita.

Ada symbol hati, kita mendengar dengan hati kita, mengerti apa yang dia maksudkan. Mengerti bukan hanya kata-kata di luar tetapi dengan hati mereka, kesulitan mereka, pergumulan mereka, mengasihi satu sama yang lain. Ketika saudara mendengar hal ini, maka respons yang paling parah adalah kalau saudara berkata nah orang itu harus mendengarkan saya.

Biarlah firman Tuhan ini pertama-tama berbicara kepada kita, apakah kita sudah mendengar akan teman, suami/istri, anak-anak, dan mengerti akan segala kesulitannya, melakukan apa saja yang bisa untuk mereka.

2) Kita bisa mengasihi satu dengan yang lain dengan melayani satu dengan yang lain. Tuhan Yesus (lihat Yoh 13:1) senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, sampai sekarang Dia mengasihi mereka sampai kepada kematian-Nya. Dia datang bukan untuk dilayani (lihat Mat 20:28) melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Mari kita menjadi Gereja, saudara-saudara seiman yang sungguh-sungguh melayani satu yang sama lain.

Tuhan Yesus juga memberi contoh dengan membasuh kaki murid-murid-Nya, (lihat Yoh 13:14) Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, tetapi Aku membasuh kakimu, biarlah engkau saling membasuh kaki saudaramu satu sama lain.

Biarlah kasih ini bisa kita lakukan sebagai suatu realita sebagai Gereja Tuhan, tubuh Kristus, keluarga besar Allah di dalam dunia ini, karena Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita.  

Mari kita menjadi Gereja, saudara-saudara seiman yang saling melayani satu sama lain. Menjadi berkat bagi orang-orang lain, karena Tuhan sudah terlebih dahulu melayani kita.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya