Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Doa adalah Expresi Mengikut Kristus

Ibadah

Doa adalah Expresi Mengikut Kristus

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 13 Januari 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 16:16-24

Pendeta Stephen Tong pernah mensharingkan suatu tema bagaimana suatu gerakan dapat berhasil. Salah satu point yang dia berikan adalah suatu gerakan bisa berhasil kalau memiliki niat perjuangan yang tidak kenal lelah. Tentu kita belajar dari pdt Tong yang terus bekerja bagi Tuhan sampai mendekati umur 80 tahun tanpa mengenal lelah. 

Saya kali ini akan mensharingkan juga kisah seorang mahasiswi teologi yang baru lulus dari sekolah penginjilan lokal. Saya tidak mengenal mahasiswi ini, tetapi saya mendengar apa yang terjadi padanya. Dia baru saja meninggal dunia waktu itu. Dia baru saja lulus dari sekolah teologi yang khusus mendidik calon-calon penginjil dari daerah-daerah di Indonesia. Dia lahir di Kalimantan, dan selama sekolah dia terlibat dalam banyak pelayanan, dan telah menjadi berkat bagi jemaat di tempat dia melayani. Setelah dia lulus, dia kembali untuk melayani di salah satu desa di Kalimantan. Dia melayani di pos-pos penginjilan, menjadi guru agama, dan juga aktif dalam penginjilan pribadi. Dia direncanakan untuk menjadi pendeta dalam waktu dekat. Tetapi sayangnya terjadi suatu kecelakaan di tempat pastorinya yang menyebabkan dia kehabisan darah dan meninggal. Dia telah meninggalkan suatu kenangan manis, meninggalkan suatu teladan hidup melalui pelayanan yang gigih, berjuang, tidak memikirkan bahaya dari medan yang sulit. Ini menjadi suatu teladan bagi kita, banyak hamba-hamba Tuhan yang berjuang tidak mengenal lelah di dalam hidupnya. Dia masih sangat muda ketika dia meninggal, tetapi hidupnya telah menjadi berkat bagi cabang-cabang Gereja, kepada orang-orang dan anak-anak yang dia layani. Dia telah menyelesaikan pertandingan dengan baik. Saya yakin ketika dia bertemu Tuhan, Tuhan akan mengatakan hai hamba-Ku yang setia masuklah ke dalam kebahagiaan tuan-Mu.

Saya mengajak saudara untuk tidak kenal lelah melakukan pekerjaan Tuhan, tidak membuang-buang waktu yang sudah Tuhan berikan. Alkitab mengajar kita untuk menebus waktu kita, karena di dalam waktu yang Tuhan berikan kita seringkali memakainya di dalam dosa. Karena itulah tebuslah waktumu sehingga kita dapat menggunakan waktu yang masih Tuhan berikan untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Suatu gerakan bisa berhasil kalau ada orang-orang yang berjuang dengan tidak kenal lelah. Saya percaya mahasiswi tadi mengikuti teladan Kristus, yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib, ganti sukacita yang disediakan bagi dia.

Ini juga yang diajarkan Kristus kepada murid-murid-Nya dalam bacaan Alkitab kali ini, khususnya Yoh 16:16 dan 16:20. (Yoh 16:16) "Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.",

(Yoh 16:20) “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”

Di sini Kristus sedang berbicara tentang salib yang sebentar lagi akan Dia alami: “Tinggal sesaat lagi kamu tidak akan melihat melihat Aku lagi dan kamu akan berduka, tetapi dukamu itu akan berubah menjadi sukacita.” Karena salib akan diikuti dengan kebangkitan Kristus.

Ini adalah kalimat yang penting: “dukacitamu akan berubah menjadi sukacita”, bukan “dukacitamu akan diganti dengan sukacita”. Maksudnya adalah salib yang pertama-tama akan mendatangkan dukacita, tetapi salib itu sendiri akan menjadi sumber suka cita anak-anak Tuhan. Kita sering mendengar there is no crown without the cross; tidak ada mahkota tanpa salib. Itupun dijelaskan oleh Yesus dalam Yoh 16:21 melalui suatu perumpamaan tentang perempuan yang berduka cita sesaat dia melahirkan, tetapi setelah melahirkan dia tidak ingat lagi akan penderitaannya. Karena suka cita bahwa seseorang telah dilahirkan ke dalam dunia. Tuhan Yesus di sini ingin menekankan bahwa tanpa proses melahirkan yang menyebabkan penderitaan, tidak ada suka cita mendapatkan anak.

Jadi salib itu sendiri adalah suatu esensial di dalam hidup Kristus dan dalam hidup kita. Meskipun salib pertama-tama akan menghasilkan dukacita, tetapi ketika kita mengikut Kristus melalui jalan salib, jalan itu sendiri akan membawa kita kepada suka cita. Dukacitamu akan berubah menjadi suka cita. Salib dan kemuliaan, dukacita dan sukacita adalah jalan yang akan dilalui Kristus dan juga jalan yang harus dijalani oleh setiap pengikut Kristus. Jalan salib adalah satu-satunya jalan bagi pengikut Kristus.

Biarlah kita mengingat bahwa jalan salib adalah satu-satunya jalan menuju kemuliaan, satu-satunya jalan yang membawa suka cita yang sejati. Kristus sendiri mengatakan (lihat Mat 10:39) bahwa barang siapa yang menyelamatkan nyawanya dia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, maka justru dia akan memperolehnya. Tidak ada jalan lain kecuali engkau kehilangan nyawa karena Kristus. Kristus mengatakan kalau hidupmu terus berpusat pada dirimu sendiri, memikirkan keuntungan, kepentingan diri, maka engkau justru akan kehilangan nyawamu. Tetapi kalau engkau kehilangan nyawamu demi Kristus maka justru engkau akan memperolehnya. Kristus mengajarkan, mengingatkan kita akan kebenaran ini. Biarlah ini menjadi komitment kita.

Banyak orang-orang, pekerja-pekerja muda yang hidupnya self centered dan self-absorbed, keluarga-keluarga yang hidupnya hanya terus memikirkan kenikmatan diri dan kepentingan keluarganya, tetapi tidak memikirkan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Mereka tidak pernah memikirkan kebutuhan orang-orang lain apa lagi memikirkan orang-orang yang belum percaya. Namun banyak dari mereka yang mengatakan bahwa hidup seperti ini adalah membosankan; semuanya nyaman dan aman tetapi membosankan.

Tetapi kita harus mengerti akan panggilan Tuhan, yang begitu indah dan mulia, namun sekaligus mengerikan: barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, maka justru engkau memperolehnya. Hanya ada dua jalan: hidup yang mencoba menyelamatkan diri demi kepentingan self-absorbed, self-centered, atau hidup yang menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus. Hidup yang kehilangan nyawa karena Kristus, justru hidup seperti itu yang memperoleh nyawa. Saya mengajak kita untuk lebih taat kepada Tuhan, dalam waktu yang masih Tuhan berikan kepada kita. Kita mengetahui apa yang bisa dunia berikan, sukacita yang dapat kita alami di tengah-tengah dunia ini: makanan yang paling enak, rumah yang baik, liburan ketempat yang indah, tinggal di hotel yang mewah. Kita tahu bahwa semua itu sebentar saja lewat, dan setelah itu , engkau balik ke realita sehari hari.

Kita tahu tanpa hidup di dalam Tuhan dan di dalam kehendak-Nya, hidup itu tidak terarah dan tidak betul betul berarti. Saya mendengar orang-orang yang hidup terus memikirkan diri sendiri, selain bekerja, waktu mereka dipakai untuk mereka sendiri, dan pelan-pelan hidup mereka menjadi tidak berarti, tidak ada kesukaan dalam hidup mereka. Biarlah dengan panggilan dan teladan hamba-hamba Tuhan, kita boleh mengikuti dan mentaati Kristus.

Dalam bagian selanjutnya, sekali lagi Yesus berbicara tentang Doa. Doa menjadi ekspresi penting di dalam jalan salib: (Yoh 16:23b-24) “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita supaya berdoa meminta dengan tekun, sesuatu yang sepertinya sederhana tetapi sangatlah tidak mudah. Doa adalah ekspresi krusial dalam mengikut Kristus.

John Piper mengatakan dengan mengutip Westminster Cathechism: “the chief end of man is to glorify God and to enjoy Him forever, and the chief act of man by which the unity of these two goals is preserved is prayer.” Tindakan manusia yang paling utama untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya adalah dilakukan dan dialami di dalam doa. Doa adalah suatu perjuangan untuk memuliakan Allah dan suatu perjuangan untuk mengalami sukacita yang penuh di dalam Dia. Tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya, dan doa menjadi ekspresi di dalam tindakan itu. Di dalam doa kita memuliakan Allah dan kita kan mengalami sukacita di dalam Dia untuk selamanya.

Doa adalah suatu perjuangan untuk memuliakan Allah

Yesus berkali-kali mengatakan “berdoa di dalam nama-Ku, meminta di dalam nama-Ku”. Berdoa di dalam nama Kristus berarti kita mengaku bahwa hanya melalui Kristus kita mendapat akses bertemu kepada Bapa. Kita tidak berdoa di dalam nama hamba-hamba Tuhan atau nama siapa pun di dunia ini, tetapi di dalam nama Kristus. Dia satu-satunya mediator antara kita dengan Allah. Hanya di dalam Kristus, kita boleh diperdamaikan dengan Allah, hingga kita boleh memanggil Allah sebagai Bapa kita. Ini adalah sesuatu yang berkenan kepada Tuhan, yang memuliakan nama Tuhan.

Dengan berdoa di dalam nama Kristus, kita juga mengaku bahwa di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa apa. Tuhan Yesus mengatakan (Yoh 15:1) “Akulah pokok anggur yang benar”, (Yoh 15:5) “ .. di luar Aku kamu tidak berbuat apa-apa.” Kaitan ini dinyatakan secara eksplisit dalam Yoh 14:13 “dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.”. Engkau berdoa di dalam nama-Ku berarti engkau tinggal di dalam Aku, dan menyadari tanpa Kristus engkau tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika engkau meminta apa pun di dalam nama Kristus, Bapa akan melakukannya supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

Doa mempermuliakan Allah, karena di dalam doa kita menyatakan ketidakberdayaan kita dan Allah adalah sumber segala sesuatu yang baik. Ekspresi bahwa diluar Kristus kita tidak berbuat apa-apa, itu paling nyata dinyatakan di dalam doa. Ketika kita menyadari itu, maka Allah dimuliakan. Ketika kita datang kepada Allah, di dalam doa kita mengaku bahwa kita tidak dapat berbuat apa apa di luar Kristus.

Maka sesuatu yang aneh sekali jika seorang berdoa dan dia merasa diri sombong; atau orang-orang yang tidak datang ke persekutuan doa, namun menganggap orang-orang yang datang itu sombong. Ini sesuatu yang aneh sekali dan sangat salah, karena orang-orang yang datang ke persekutuan doa adalah mereka yang sadar bahwa mereka tidak dapat berbuat apa apa di luar Kristus. Kita datang ke persekutuan doa justru karena kita sadar kita memerlukan belas kasihan dan karunia Tuhan. Justru orang-orang yang tidak datang ke persekutuan doa adalah orang-orang yang merasa tidak memerlukan Tuhan.

Tuhan ingin kita datang kepada-Nya di dalam doa, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama dengan umat Tuhan yang lain. Karena saat kita datang dan berseru kepada Tuhan, menyadari bahwa hanya Tuhan sumber segala kebaikan yang kita terima, yang satu-satunya yang dapat menolong kita.

Mazmur 121:1-2 mengatakan “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.” Ketika kita datang kepada Tuhan dan mengenal siapa Dia, maka kita sadar bahwa pertolongan kita adalah dari Tuhan pencipta langit dan bumi.

Yoh 4:9-10 juga mengatakan bagaimana doa memuliakan Tuhan “Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yaudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Berarti di sini ada kaitan yang erat antara doa (permintaan kepada Tuhan) dengan pengenalan akan Tuhan. Kalau kita tidak mengenal siapakah Allah, seperti perempuan Samaria ini yang tidak mengenal Kristus, maka kita tidak meminta kepada Kristus Sang Air hidup itu. Tetapi kalau orang

Samaria itu tahu siapa yang sedang berbicara kepadanya, kalau dia tahu karunia Allah yang ada pada Kristus, maka dia pasti akan meminta kepada Kristus.

John Piper sering memberikan ilustrasi bahwa hidup kita itu seperti supir bis yang berusaha mendorong keluar bis kita yang masuk parit, kita mencoba mendorong bus itu keluar dari parit, karena kita tidak tahu ada Clark Kent (superman) di dalam bus. Kalau kita tahu ada superman di dalam bus, maka kita akan minta tolong kepadanya.

Kalau kita tidak berdoa, salah satu alasannya adalah karena kita tidak mengenal siapa Tuhan, tidak mengenal betapa besar, betapa agung dan muliaNya Dia. Karena kita tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang mengasihi anak-anak-Nya. Kristus adalah gembala agung jiwa kita, ketika kita adalah domba-domba milik-Nya, maka kebaikan dan kemurahan belaka akan mengikuti kita sampai selama-lamanya. Apakah kita sungguh-sungguh percaya bahwa Allah pencipta langit dan bumi adalah Allah yang mengasihi anak-anak-Nya?

Kita seringkali berusaha dengan kekuatan kita sendiri. Bukan berarti kita tidak perlu berjuang di dalam dunia ini, tetapi perjuangan kita adalah yang harus berkenan kepada Tuhan, perjuangan yang akan berhasil, yang hanya berdasarkan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita. Kalau kita berjuang dengan kekuatan kita sendiri, meskipun kita berhasil, itu pertama-tama tidak akan memuliakan Tuhan, itu akan memuliakan diri kita sendiri; menyatakan kehebatan, kepintaran kita. Tetapi kalau kita berjuang hanya berdasarkan kekuatan dan pertolongan Tuhan maka nama Tuhan yang dimuliakan.

Tuhan akan memberikan kekuatan, Tuhan ingin mengerjakan yang baik bagi kita. Alkitab sendiri menyatakan bahwa Allah berjanji dengan segenap hati-Ku untuk melakukan apa yang baik bagi anak-anak-Ku. Doa adalah suatu perjuangan untuk memuliakan Allah karena doa menyatakan kita hanya bergantung pada kekuatan dan anugerah Tuhan.

Saya mengajak saudara-saudara berdoa baik dalam persekutuan doa maupun secara pribadi. Tuhan ingin menyatakan kebaikan-Nya, kebesaran-Nya kepada kita melalui doa, bahwa Dia adalah segala-galanya dalam hidup kita. Karena itu baiklah kita datang berseru dan mengakui hal ini, dan kita akan melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan dalam hidup kita. Tuhan ingin nama-Nya dipermuliakan yaitu dengan menyatakan pertolongan, kebaikan, kebenaran-Nya kepada kita.

Doa juga suatu perjuangan untuk mengalami suka-cita yang penuh di dalam Tuhan

Yoh 16:24 “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Tujuan akhir hidup manusia bukan hanya untuk memuliakan Allah, tetapi juga untuk our enjoyment of Him.  Karena itu Tuhan Yesus mengatakan mintalah berdoalah maka kamu akan menerima supaya sukacitamu penuh.

Sebaliknya kalau kita tidak berdoa maka sukacita kita akan lenyap. John Piper mengatakan “prayerlessness always produce joylessness.” Sebaliknya ketika kita sungguh-sungguh berdoa seperti janji Tuhan Yesus katakan ketika kita meminta maka sukacita kita menjadi penuh.

Mengapa ketika kita berdoa maka itu akan menghasilkan sukacita? Atau sebaliknya kalau kita tidak berdoa pasti akan menghasilkan joylessness. Dalam Yoh 16:21-22 Tuhan Yesus menceritakan tentang perempuan yang melahirkan, (Yoh 16:22) “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira (sukacita), dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.” Mengapa murid-murid berdukacita? Karena sebentar lagi Yesus akan disalibkan dan mereka akan terpisah dari Kristus. Kristus akan meninggalkan mereka, tetapi mereka sebentar lagi akan bersukacita karena Kristus akan bangkit. Mereka akan kembali bersekutu dengan Kristus, mengenal Kristus dan disitulah sukacita mereka menjadi penuh.

Mengapa doa membawa kesukaan? Karena doa membawa kita kepada suatu persekutuan yang intim dengan Kristus. Tanpa pengenalan dan persekutuan dengan Kristus maka hidup kita menjadi hidup yang tanpa sukacita. Tetapi persekutuan dan pengenalan akan Kristus akan membawa sukacita yang penuh dalam hidup kita.

1 Yoh 1:3-4 mengatakan “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kita menjadi sempurna.” Yohanes dengan beberapa rasul yang lain mengalami sukacita di dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal. Yohanes menuliskan surat ini kepada jemaat, supaya mereka ikut ke dalam persekutuan ini supaya sukacita mereka menjadi sempurna.

Suka cita kita menjadi sempurna atau “penuh” seperti yang dinyatakan dalam Yoh 16:24. Bukan hanya secara perorangan, Yohanes juga mengajak murid-murid yang lain untuk bersekutu bersama-sama dengan Allah Tritunggal. Ketika mereka bersekutu bersama-sama maka sukacita mereka menjadi penuh.

Jadi alasan pertama doa membawa kesukaan adalah karena doa membawa kita bersekutu dengan intim dengan Kristus. Meskipun kita tidak melihat Kristus secara fisik. Tetapi kita sadar seperti yang Yesus katakan (lihat Mat 18:20) bahwa di mana dua-tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka. Biarlah kita bersekutu bersama-sama dengan Allah Tritunggal, dan melalui persekutuan itu, kesukaan, kehadiran, penghiburan, kekuatan Tuhan boleh hadir dan memimpin hidup kita.

Alasan kedua doa memberi suka cita yang penuh adalah karena melalui doa Tuhan memberi kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. Dalam Yoh 15, Tuhan Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya untuk berbuah, khususnya dalam Yoh 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku-lah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Melalui doa, Tuhan memberikan kekuatan untuk berbuah. Tuhan menetapkan kita untuk berbuah, dan syarat untuk berbuah adalah tinggal di dalam Kristus. Tinggal di dalam Kristus dikaitkan dengan doa, yang membawa relasi kita dengan Kristus. Seperti yang dinyatakan dalam Yoh 15:7 “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Tuhan menetapkan kita untuk berbuah, supaya kita berdoa

Sebagai anak-anak Tuhan tentu kita ingin berbuah, dan dalam konteks ini buah yang utama adalah kasih; biarlah engkau saling mengasihi (lihat Yoh 15:12). Kalau kita sungguh-sungguh mau mengasihi orang-orang di sekitar kita, maka kita akan mengetahui bahwa itu adalah sangat sulit. Jangankan mengasihi orang-orang di luar sana, bahkan mengasihi suami/istri saja sangat sulit, walaupun suami/istri sudah dipersatukan dalam Kristus dalam pernikahan yang kudus. Banyak tantangan, kesulitan, sakit hati dan dosa yang masuk ke dalam relasi suami/istri. Sehingga mengasihi suami seperti Kristus telah Kristus telah mengasihi aku adalah sangat sulit. Mengasihi istriku seperti Kristus sudah mengasihiku, menyerahkan nyawa-Nya bagiku adalah sangat sulit. Demikian juga mengasihi anak-anak kita dengan kasih Kristus yang tanpa pamrih adalah sangat tidak mudah. Anak-anak juga sangat sulit untuk mengasihi orang tua mereka.

Kalau kita mau berusaha betul-betul mentaati firman Tuhan, seperti yang Tuhan katakan “Aku menetapkan kamu untuk berbuah. Kalau engkau di dalam Aku, Aku di dalam kamu, maka kamu harus berbuah.” Kalau engkau tidak berbuah maka kamu akan dipotong, dan itu artinya kamu tidak ada bagian dari pada-Ku sama sekali (lihat Yoh 15:2-6). Tetapi untuk menghasilkan buah kasih itu adalah sangat tidak mudah. Karena itulah kita datang di dalam doa.

Tuhan menetapkan kita untuk berbuah, supaya kita berdoa. Kaitan antara berbuah dan doa ini ditegaskan dalam Yoh 15:16 “Aku menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa, dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu.” Tuhan ingin kita datang kepada Dia dengan berdoa, dan Dia akan mengerjakan permohonan kita kepada-Nya.

Khususnya permohonan untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita. Meminta kekuatan, pertolongan, anugerah, kasih Tuhan untuk memenuhi hati kita, sehingga kita boleh mengasihi suami/istri, anak-anak, orang-tua, saudara-saudara yang terus bertengkar, saudara-saudara seiman yang kadang-kadang menyakiti kita. Kalau kita sungguh-sungguh berusaha mau taat kepada Tuhan, kita tahu kita tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itulah kita harus berseru kepada Tuhan, dan Tuhan berjanji bahwa Dia akan memberikan apa yang kita minta, khususnya kemampuan, kekuatan, dorongan untuk berbuah; kekuatan untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita. Ketika Tuhan memberikan kekuatan, penghiburan, kasih-Nya bagi kita, memberikan segala-galanya bagi kita, itu akan memberikan kekuatan bagi kita untuk mengasihi sama seperti Tuhan telah mengasihi kita. Maka kita akan bersuka cita dan sukacita kita akan menjadi penuh, nama Tuhan yang akan dipermuliakan.

Yoh 15:8 “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Ketika kita berbuah maka suka cita kita menjadi penuh, kita tahu bahwa buah itu adalah semata-mata adalah pekerjaan Tuhan, dan ini akan meninggikan nama-Nya.

Biarlah kita menjadi Gereja yang berdoa, sehingga kita boleh memuliakan Tuhan. Karena di dalam doa kita menyadari bahwa bukan karena kehebatanku, tetapi hanya karena Kristus, hanya karena anugerah dan pertolongan-Nya sehingga nama Kristus dipermuliakan. Ketika kita berdoa, Tuhan akan menjawab doa kita, dan suka cita kita menjadi penuh. Di dalam doa kita bersekutu dengan Kristus, kita sadar akan kehadiran Tuhan, kebaikan, penghiburan, kekuatan-Nya yang membawa kita bersuka di dalam Dia. Biarlah kita menjadi orang-orang yang lebih setia mengikut Kristus dan mengikut jalan salib.

Salah satu hal yang utama dalam mengikut Kristus adalah doa. Jangan biarkan kita mengisi waktu kita tanpa memikirkan kehidupan doa kita. Jangan isi waktu kita dengan memfokuskan kepada diri kita sendiri. Biarlah kita mengisi waktu kita dengan berjuang dan berbuah bagi Kristus, mengasihi orang-orang di sekeliling kita, sebanyak mungkin orang yang Tuhan percayakan di tempat kita. Jangan biarkan hidup kita melupakan perjuangan, melupakan doa, dan membuat hidup kita membosankan. Tanpa engkau berdoa, berjuang, bersandar kepada Tuhan, melakukan kehendak Tuhan, pasti hidupmu akan membosankan, tanpa sukacita, tanpa kekuatan, anugerah dan iman yang kuat. Alkitab mengajar kepada kita supaya kita berbuah, berdoa dan bersandar kepada Tuhan yang bisa menghasilkan buah di dalam hidup kita.

Ketika kita bersandar dan berjuang di dalam kehidupan doa kita, maka begitu banyak hal yang akan Tuhan kerjakan di dalam hidup kita. Ini akan semakin mendorong, menguatkan kita untuk mentaati Dia, dan Tuhan akan menghibur, memberi kekuatan dan kesukaan yang penuh di dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan. Kita akan mengalami kesukaan yang penuh melalui doa-doa yang dijawab, melalui persekutuan yang kita alami melalui doa-doa kita.

Biarlah kita menjadi jemaat yang berdoa, dan terus berjuang melalui doa sehingga akan banyak hal yang akan kita capai dan genapi sesuai dengan kehendak Tuhan, dan hidup kita boleh dipenuhi dengan sukacita sesuai dengan janji Tuhan.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya