Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Doa Yesus bagi Persatuan Gereja

Ibadah

Doa Yesus bagi Persatuan Gereja

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 Maret 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 17:11,20-23

Yoh 17 berbicara tentang pemeliharaan Allah bagi umat-Nya. Dalam Yoh 17:12 Yesus mendoakan supaya tidak ada seorang umat-Nya yang binasa “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa …” Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, agar Bapa memelihara umat-Nya terhadap apa pun yang berusaha merebut mereka dari tangan Allah, Doa Yesus ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi umat Tuhan dalam segala keadaan apakah itu aniaya, kemiskinan, pedang, dlsb. Tidak ada apa pun yang dapat merebut mereka dari tangan Allah, Dia sudah memelihara dan Dia akan memelihara mereka sampai selama-lamanya.

Dalam bacaan Alkitab kali ini kita akan merenungkan aspek pemeliharaan Tuhan khususnya dalam hal persatuan. Yoh 17:11 Yesus berdoa “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita.” Kalimat “supaya mereka menjadi satu” terus diulang-ulang dalam Yoh 17:21-23. Ini adalah doa Tuhan Yesus supaya Allah memelihara umat-Nya dari ancaman perpecahan, supaya tidak menjadi disunity tetapi menjadi unity, menjadi satu di dalam Tuhan.

Ini adalah doa yang sangat penting khususnya kalau kita melihat apa yang terjadi dalam sejarah Gereja selama 2000 tahun terakhir. Banyak perpecahan, pergumulan permusuhan dan pertikaian di dalam Gereja. Seorang penatua, John White mengatakan “Considering all the divisions that have plagued Christendom for 2000 years, it is magical that God has continued to use the Church to extend His Kingdom.” Melihat segala perpecahan yang terjadi dalam sejarah Gereja, adalah sangatlah mengagetkan bahwa Tuhan masih memakai Gereja-Nya untuk memperlebar kerajaan-Nya.

Perpecahan bukan hanya terjadi di luar Gereja kita, tetapi juga di dalam Gereja kita. Kita tidak immune terhadap perpecahan yang terjadi; ini adalah sesuatu yang sangat menyedihkan. Begitu panjang ceritanya tetapi itulah yang terjadi, dan kita harus belajar dan mengerti doa Yesus, serta melihat bagaimana kita dapat memelihara kesatuan dan keutuhan dalam tubuh Kristus.

Kalau kita berbicara tentang perpecahan Gereja di dalam sejarah, maka perpecahan yang terdahsyat dalam sejarah Gereja adalah dalam jaman Reformasi, sekitar 500 tahun yang lalu Ada perpecahan yang besar sekali, meskipun Martin Luther sama sekali tidak menginginkan perpecahan. Sewaktu dia memakukan 95 tesisnya di gereja Wittenberg, dia tidak berpikir sama sekali untuk mendirikan Gereja yang baru, keluar dari Gereja Katolik pada waktu itu. Dengan tesisnya itu, dia hanya ingin debat teologi untuk mengajak Gereja untuk kembali kepada Alkitab. Tetapi tesisnya itu kemudian diambil orang, diperbanyak, dicetak dan disebarkan ke seluruh Eropa. Ternyata apa yang dia tuliskan di dalam tesisnya itu juga dirasakan oleh begitu banyak orang di Eropa. Kemudian seluruh Eropa menyadari Gereja yang sepertinya satu itu sebenarnya begitu korup, begitu rusak. Sehingga lahirlah reformasi dan timbullah Gereja-Gereja Protestan dan kita menjadi anak cucu buyut dari gerakan ini.

Sewaktu kita berbicara tentang perpecahan Gereja kita harus memikirkan apa yang Tuhan Yesus maksudkan dengan “supaya Gereja menjadi satu sama seperti Kristus dan Bapa menjadi satu.” Kita harus memikirkan apa yang menjadi natur dari kesatuan Gereja.

Ada dua hal yang dapat kita renungkan.

Kesatuan Gereja adalah bukan kesatuan secara organisasi

Ketika Martin Luther mengadakan reformasi, Gereja khususnya di Eropa hanya ada satu, Gereja Katolik yang berkuasa, yang besar tetapi reformasi bisa berhasil karena Tuhan ingin memurnikan Gereja. Gereja Katolik pada waktu itu ada di bawah satu pimpinan yaitu Paus, namun begitu rusak, bukan hanya secara teologinya yang sudah begitu menyimpang daripada Firman Tuhan tetapi juga rusak secara moral. Begitu banyak bayi-bayi yang dibunuh yang kuburannya ada di biara-biara Katolik, juga kehidupan seksual mereka yang begitu bobrok yang sampai hari ini masih terjadi. Martin Luther pada jaman itu adalah seorang hamba Tuhan dalam Gereja Katolik. Dia bergumul luar biasa untuk membawa Gereja Katolik kembali kepada firman Tuhan.

Kita mengatakan hal ini dengan kesedihan yang besar. Pada saat ini, kita juga mendengar dengan sedihnya ada seorang kardinal katolik, orang ke tiga setelah Paus, yaitu bendahara Vatikan yang terbongkar kejahatannya dalam mengabuse anak-anak kecil. Dia yang sudah begitu tua, yang sudah melayani berpuluh-puluh tahun, menjadi begitu malu, dimaki-maki orang di luar gedung pengadilan. Ini menjadi kesedihan yang sangat luar biasa.

Gereja Katolik pada jaman reformasi adalah sangat rusak, pelitanya telah gelap gulita, sehingga Tuhan membangkitkan John Huss, John Wyclife, Martin Luther, John Calvin dlsb. menjadi suatu reformasi yang besar.

Jelas dalam Yoh 17:11 Ketika Yesus berdoa agar mereka menjadi satu, itu bukanlah kesatuan secara organisasi.

Kesatuan ini bukanlah secara bentuk luar

Kesatuan ini bukan secara bentuk luar, bukan uniformity, bukan secara fenomena, bukan pakaiannya, bukan doanya, bukan cara kotbahnya yang sama. Ada suatu cerita, di dalam satu Gereja, mereka berdoa dengan cara yang mirip, jemaat berdoa selalu disertai dengan suara desisan setiap akhir kalimat. Setelah selidik punya selidik, mereka berdoa seperti itu karena pendetanya berdoa seperti itu juga. Kemudian ada seorang yang bertanya ke pendetanya mengapa doanya seperti itu. Pendetanya menjawab bahwa itu tidak disengaja, dia mendesis karena gigi palsu dia mau copot. Mereka mengikuti pendetanya secara luar, bukan isi doanya. Sewaktu kita berbicara tentang kesatuan Gereja, itu bukanlah kesatuan Gereja dalam bentuk-bentuk luar seperti ini.

Jadi apa yang dimaksud ketika Yesus berdoa supaya mereka menjadi satu?

Doa Yesus bukan hanya ditujukan kepada murid-murid-Nya pada waktu itu, tetapi juga memberi implikasi kepada kita sekarang. Dalam Yoh 17:20, Yesus berdoa “… dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka.”

Injil akan diberitakan ke segala tempat dan akan banyak orang yang akan percaya, dari 3000 orang percaya dalam awal Kisah Para Rasul sampai miliaran orang. Tuhan Yesus juga berdoa secara khusus untuk kita (Yoh 17:21) “…supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita…”.  Jadi kesatuan Kristus di sini adalah kesatuan yang merefleskikan kesatuan Bapa dan Anak. Dalam Yoh 17:22 Yesus melanjutkan “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.”

Apa yang dimaksud dengan kesatuan Bapa dan Anak? Meskipun Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa, mereka adalah dua pribadi yang berbeda, tetapi kedua-Nya adalah dua pribadi yang saling mengasihi, dengan kasih yang sempurnya, mereka dengan sehati mengerjakan satu tujuan meskipun dengan peran yang berbeda-beda. Allah Bapa yang merencanakan keselamatan, Allah Anak yang melaksanakan keselamatan, yang mati di atas kayu salib.

Itulah yang menjadi refleksi yang seharusnya terjadi di dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan. Tentu kasih kita tidak sempurna, karena masih ada dosa di antara kita, sering tidak sinkron satu sama lain. Tetapi di situlah doa Yesus menjadi penting.

Ketika Yesus berdoa 17:11 “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita.” Di sini Kristus tidak berdoa supaya murid-murid-Nya itu menjadi satu, tetapi Kristus berdoa supaya Bapa memelihara mereka supaya mereka tetap bersatu. Leon Morris mengatakan “Jesus did not pray that they may become one but Jesus prayed that they may continue be one.” Kita perlu mengerti bahwa setiap orang yang sungguh-sungguh beriman di dalam Kristus, yang sudah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, maka kita semua adalah satu secara status. Setiap orang yang sudah dilahirkan oleh Roh (lihat Yoh 1:12) disebut sebagai anak-anak Allah yang memiliki satu Bapa, artinya kita adalah satu keluarga Allah.

Paulus juga mengatakan (lihat Efesus 4:15-16) bahwa kita adalah satu tubuh dan bertumbuh seluruhnya ke arah Kristus yang adalah kepala tubuh. Setiap orang yang sudah percaya di dalam Kristus, saat itu juga dia menjadi anak-anak Allah, saat itu juga bergabung menjadi satu tubuh, satu keluarga, anak-anak Allah, dan Kristus adalah kepala daripada tubuh, kita diikat menjadi satu. Karena itulah kita harus sadar bahwa status kita, ketika kita percaya, kita bukan sendirian menjadi orang Kristen tetapi kita langsung menjadi bagian daripada tubuh Kristus.

Maka dari itu tidak ada orang Kristen boleh hidup menyendiri dan tidak berfungsi sebagai anggota tubuh. Lahir baru artinya lahir bukan lahir secara fisik, bukan karena keinginan laki-laki, tetapi lahir karena Roh, karena pekerjaan Allah. Kita lahir baru, lahir di dalam keluarga Allah, menjadi bagian daripada keluarag Allah. Kita adalah anak-anak daripada keluarga Allah.

Ketika Paulus berbicara tentang tubuh, kita langsung menjadi bagian daripada tubuh, tidak perduli apakah kita menjadi mata, menjadi telinga dlsb, ketika kita percaya lahir kita langsung menempel menjadi satu tubuh, tubuh Kristus di mana Kristus adalah kepalanya. Jadi tidak mungkin orang Kristen itu hidup sendiri, tidak mungkin dia tidak berfungsi, dia adalah anggota tubuh. Dia harus mengerjakan fungsinya sebagai anggota tubuh, sebagai mata harus melihat, sebagai mulut harus makan. Mereka memiliki fungsiyang berbeda-beda, tetapi mereka semua harus berfungsi.

Tidak ada orang Kristen yang sendiri, karena kalau sendiri, itu menjadi aneh, dan menjadi salah. Di jaman ini ada pandangan bahwa orang Kristen tidak perlu ke Gereja, karena bisa melihat kotbah lewat tv, lewat internet dlsb. mendengarkan pendeta yang jauh lebih hebat dari pada pendeta lokal. Namun pandangan ini tidak mengerti mengenai natur daripada Gereja. Gereja adalah tubuh Kristus, Gereja adalah tubuh Kristus, adalah keluarga Allah, engkau tidak hidup sendiri. Ketika engkau percaya, maka langsung statusmu adalah anggota keluarga Allah, anggota tubuh Kristus. Maka engkau harus berfungsi untuk saling membangun, saling mengasihi, melayani, mengajar, menasehati satu dengan yang lain. Bertumbuh bersama-sama karena Kristus adalah adalah kepala daripada Gereja.

Karena itulah Kristus berdoa supaya Bapa menjaga murid-murid-Nya dari segala hal yang mengancam keutuhan Gereja. Mereka sudah satu, karya Roh Kudus menjadikan mereka anak-anak Allah, bagian dari tubuh Kristus. Tetapi Kristus berdoa supaya supaya Allah memelihara mereka supaya mereka terus menerus menjadi satu. Supaya kesatuan mereka sungguh-sungguh menjadi nyata di dalam hidup mereka.

Betapa pentingnya kesatuan itu menjadi kesaksian di dalam dunia itu. Ada begitu banyak hal yang mengancam keutuhan Gereja: seperti isolasi, kehidupan yang tersendiri, kesombongan, keegoisan, iri-hati, gosip. Gosip makin digosok makin sip, saling curiga dan menjadi kebahayaan yang dapat memecah keutuhan Gereja. Yesus berdoa supaya Bapa memelihara kesatuan Gereja-Nya, yang telah Yesus telah tebus dengan darah-Nya, ditebus dengan darah yang sama, disucikan oleh darah yang sama, dibangkitkan oleh Roh yang sama. Sehingga kita memiliki satu Bapa, memuji dan meninggikan Dia.  

Yesus berdoa supaya kita dipelihara dan terus menjadi satu, dan kalau Kristus berdoa berkali-kali seperti demikian, maka kita pun perlu berdoa untuk hal yang sama. Tentu kita harus berusaha menyatakan kesatuan Gereja dan tidak menghabiskan waktu untuk bertengkar satu sama lain. Berusahalah sekuat tenaga untuk menjaga kesatuan Gereja kita, do every effort to keep the unity of the Church. JC Ryle mengatakan “How often, Christian have wasted their strength in confronting agains their brothers instead of confronting against sin and the death.” Berapa seringnya orang Kristen menghabiskan waktu, kekuatan, resources untuk bertarung dengan saudaranya sendiri, tetapi tidak menghabiskan itu untuk bertarung dengan dosa dan kejahatan. Seringkali hal itulah yang terjadi ketika ada perpecahan di dalam Gereja kita. Kalau Kristus sudah berdoa agar kita tetap bersatu, maka kita patut berjuang dan berdoa untuk menjaga persatuan Gereja, menjadi kesatuan yang sejati, di dalam kebenaran, di dalam pertolongan anugerah Tuhan.

Kalau kesatuan itu bisa terjadi dalam realita berjemaat, maka sebenarnya maka itu adalah sesuatu yang sangat indah. Mzm 133 mengatakan “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” Betapa indah, betapa baiknya ketika saudara-saudara seiman hidup saling mengasihi, satu tujuan, satu perjuangan bersama-sama. “Seperti embun gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion”, ketika umat Tuhan bersatu maka sanalah Tuhan akan mencurahkan berkatnya melimpah untuk selama-lamanya. Gunung Hermon adalah gunung yang paling tinggi daripada sekitarnya, maka dari gunung yang paling tinggi itu pasti mengalir embun yang segar setiap pagi, pasti mengalir ke gunung-gunung yang lebih rendah. Demikian pula pastinya berkat Tuhan akan dicurahkan ketika umat Tuhan bersatu, berjuang, sehati, memberi kesaksian di tengah-tengah dunia ini.

Dietrich Bonhoffer di dalam bukunya Life Together, mengatakan dalam dunia yang penuh permusuhan ini karunia komunitas Kristen merupakan harta yang tak ternilai dari Allah, yang tak selayaknya dianggap remeh. Di dalam suatu KTB keluarga, ada banyak hal yang terjadi, banyak pernyataan yang keluar dari hati dan menjadi tangisan. Mereka sudah berkumpul bersama-sama bertahun-tahun, persahabatan dibentuk dengan pelan-pelan, yang tentu tidak mudah. Mereka bisa saling sharing, di dalam KTB itu bisa saling menegur dosa, mereka sangat dikuatkan satu sama lain. Ini menjadi bukti keindahan persatuan Gereja, namun itu adalah hal yang tidak terlalu sering terjadi. Kalau kita ada di dalam persekutuan seperti kita, hendaklah kita menyadari keindahan persatuan itu dan hidup kita menjadi semakin kaya.

Dalam persekutuan remaja, mereka mulai mengajak teman-teman mereka yang lain untuk datang. Teman-teman yang baru yang diajak setelah persekutuan juga mengatakan bahwa mereka sangat senang berada di persekutuan itu. Mereka merasakan adanya suatu komunitas yang saling memperhatikan, saling mengasihi satu sama lain. Ini menjadi sesuatu yang baik.

Ini membuktikan satu hal bahwa persatuan kita bukan sekedar untuk kita nikmati saja, untuk bertumbuh ke dalam saja. Tetapi kesatuan kita ini memiliki natur untuk menjadi misi keluar ke dalam dunia ini. Dalam Yoh 17:21 Yesus mengatakan “supaya mereka menjadi satu sama seperti Engkau ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Yoh 17:23 juga mengatakan “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu, agar dunia tahu bahwa bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Natur daripada persekutuan Kristen bukan hanya untuk kita nikmati dan syukuri, namun juga untuk menjadi kesaksian bagi dunia. Kita bersatu, berkerja bersama, tanpa beban-beban yang tidak perlu, untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan dan kita mengerjakan semua itu, supaya dunia percaya bahwa Bapa yang telah mengutus Kristus.

Ketika dunia melihat orang-orang Kristen adalah orang-orang yang saling mengasihi, satu hati, satu jiwa maka dunia akan melihat bahwa Kristus yang disembah orang-orang ini adalah Orang yang diutus Allah. Mereka akan mulai bertanya mengapa di tengah-tengah dunia yang penuh permusuhan, intrik-intrik, berpusat kepada diri sendiri, ada orang-orang yang melayani satu dengan yang lain.

Sebelumnya Yesus juga mengatakan (lihat Yoh 13:35) hendaklah engkau saling mengasihi karena dunia akan tahu bahwa engku adalah murid-murid-Ku. Bukan hanya mereka akan tahu bahwa engkau murid-murid-Ku, tetapi (lihat Yoh 17:21,23) mereka akan juga tahu siapakah Aku: bahwa Aku adalah pribadi yang diutus Allah. Inilah yang menjadi misi kita, untuk berdoa, berjuang, melakukan segala sesuatu, di dalam Gereja, mejadi Gereja yang bersatu, membentuk persatuan yang harus memancarkan kemuliaan Kristus.

Dalam Yoh 17:22 Yesus juga berdoa “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu.” Persatuan yang terjadi adalah persatuan yang memancarkan kemuliaan Kristus. Kristus telah memberikan kemuliaan-Nya kepada murid-murid-Nya. Kemuliaan yang Kristus berikan adalah kemuliaan yang dinyatakan melalui Dia yang merendahkan dirinya melayani murid-murid-Nya. Puncak daripada  kerendahan diri-Nya adalah dengan Dia dipaku di atas kayu salib. Dia menyatakan bahwa kemulian sejati daripada murid-murid-Nya adalah ketika mereka merendahkan diri melayani satu sama lain dengan ketulusan dan kasih yang murni. Ketika engkau melakukan hal ini, maka dunia akan mengetahui hal itu tidak ada di dalam dunia ini dan dunia akan ingin tahu siapakah Tuhan yang mereka disembah, siapakah yang ditinggikan dan dimuliakan.

Itulah yang kita inginkan terjadi di dalam Gereja kita. Ini adalah sesuatu yang sepertinya sangat ideal, namun kita sadar masih begitu jauh tetapi biarlah panggilan Tuhan, doa Kristus terus mendorong kita. Untuk boleh memancarkan keindahan Kristus melalui persatuan, melayani dan merendahkan diri satu sama lain, sehingga dunia akan tahu dan akan percaya bahwa Kristus adalah pribadi yang diutus oleh Allah.

Bukan berarti kita sudah sempurna, masih banyak kelemahan, dosa, keegoisan, gossip, dan memang kita tidak akan sempurna sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Tetapi sejauh mungkin, seperti Kristus berdoa untuk memelihara umat-Nya agar tetap bersatu, baiklah kita berjuang bersama-sama. Seperti Kristus yang telah memberikan teladan, memberikan kemuliaan-Nya supaya Gereja menjadi satu dengan merendahkan diri-Nya, melayani sampai mati di atas kayu salib, biarlah kita menyadari dan mengikuti teladan Kristus.

Ada begitu banyak hal yang baik yang sudah ada di tengah-tengah kita, tetapi baiklah kita terus berjuang, bersandar kepada Tuhan, melayani satu sama lain, supaya perpecahan itu tidak terjadi. Sehingga kita bisa menjadi mercu suar di tengah-tengah kegelapan dunia ini, menjadi terang, menuntun orang mengenal siapakah Tuhan yang kita layani, mengetahui bahwa Kristus yang kita sembah adalah Kristus yang diutus Allah. Biarlah kita dapat memuliakan nama Tuhan dalam perjuangan di dalam hidup kita sebagai satu tubuh, satu keluarga di dalam Tuhan.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya