Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Doa Yesus bagi Diri-Nya Sendiri

Ibadah

Doa Yesus bagi Diri-Nya Sendiri

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 Februari 2019

Bacaan Alkitab: Yoh 17:1-5

Yoh 14 sampai Yoh 16 disebut sebagai farewell discourse yaitu perkataan-perkataan terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya. Setelah itu, Yoh 17 adalah satu pasal yang secara khusus Yesus berbicara kepada Bapa-Nya di Surga. Kita diajak masuk kedalam ruang maha kudus yang agung. Di sinilah satu-satunya tempat kita dibawa masuk ke dalam percakapan yang sangat intim antara Anak Allah yang tunggal dengan Bapa yang sangat mengasihi-Nya. Yohanes secara khusus menuliskan doa Yesus ini dengan cukup panjang dalam pasal ini.

Kita bisa melihat bahwa pasal Yoh 17 terdiri dari tiga bagian yang besar:

  •   Yoh 17:1-5 Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri,
  •   Yoh 17:6-19 Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya saat itu,
  •   Yoh 17:20-26 Yesus berdoa bagi semua orang yang akan percaya melalui pemberitaan murid-murid-Nya.

Kali ini kita akan secara khusus merenungkan bagian pertama yaitu Yoh 17:1-5.

Mengenai Yoh 17:1-5 Martin Luther mengatakan “This is truly beyond measure of warm and hearty prayer, Jesus opens the depth of its heart, both in reference to us and to His Father, and He force them all out, it sounds so honest, so simple, it is so deep, so rich, so wide, no one can measure it.” (Ini adalah hal yang melampaui akal, suatu doa yang hangat sepenuh hati, Yesus membuka kedalaman hati-Nya untuk kita dan untuk Bapa, dan Dia memberikan semuanya, terdengar sangat sederhana dan jujur, sangat dalam, kaya, lebar dan tidak ada yang dapat mengerti sepenuhnya.) Kita memasuki bagian yang sangat khusus dalam doa Tuhan Yesus ini. Yoh 17:1-5 menyatakan inner sanctum dari kehidupan Kristus, tentang relasi-Nya dengan Bapa-Nya di surga.

Kalimat yang pertama dari Yesus adalah (Yoh 17:1b) “Bapa telah tiba saatnya …”. Yesus selalu memanggil Allah sebagai Bapa, ini adalah satu panggilan yang akrab dari satu anak kecil kepada ayahnya. Kemungkinan besar saat itu Yesus menggunakan bahasa Aramaik, dan di dalam bahasa itu, kata untuk “bapa” adalah “abba”.  Ketika Roh Kudus dicurahkan kepada kita, kita bisa berkata kepada Allah, “ya Abba, ya Bapa!” (lihat Roma 8:15) Kalau dalam bahasa Arab-nya, kata “bapa” adalah “abbi”. Kata bahasa Inggris Father berasal dari bahasa Yunani Pater. Tetapi dalam bahasa Indonesia, kata “bapa” lebih dekat dengan bahasa Aramaic Abba, atau Arab Abbi; atau ada juga yang memanggil “papa” atau “papi”. Orang barat menggunakan daddy. Kata-kata ini menunjukkan kedekatan hubungan antara anak dan ayahnya.

Di dalam relasi yang dekat antara seorang anak dengan ayahnya, kita bisa melihat dua hal yang besar dalam doa Yesus ini: yang pertama adalah fokus utama doa ini, dan yang kedua alasan atau dasar dari pada doa ini.

Fokus Doa Yesus adalah Kemuliaan

Dalam Yoh 17:1b Yesus mengatakan “Bapa telah tiba saatnya; permuliakan Anak-Mu supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Kemudian dilanjutkan dalam Yoh 17:5: “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”  Jelas fokus dari permohonan Kristus adalah permuliakanlah diri-Ku sehingga Aku boleh mempermuliakan Engkau. Tetapi Yesus memulainya dengan “Bapa telah tiba saatnya sekarang.”  Kalau kita mengikuti Injil Yohanes, kata “saat” menunjuk kepada saat Yesus disalibkan, dan salib bagi Kristus adalah tempat di mana Dia dimuliakan, dan tempat di mana Dia mempermuliakan Bapa-Nya di surga.

Di dalam Yoh 12:23-24, Yesus mengatakan “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Ini memberikan implikasi bahwa Kristus bukan hanya berbicara tentang salib, karena Dia bukan hanya berbicara tentang kematian biji gandum itu, tetapi Dia juga berbicara mengenai bagaimana biji gandum itu kemudian berbuah menghasilkan banyak buah. Dengan demikian sewaktu Dia berbicara tentang kemuliaan Dia juga berbicara tentang kebangkitan dan kenaikkan-Nya ke Surga. Seperti yang dinyatakan dalam Yoh 17:5 Dia juga berbicara tentang duduk di sebelah kanan Bapa, menerima kemuliaan.

Kemuliaan mencakup seluruh aspek dari hidup Kristus, bagaimana Dia mempermuliakan Bapa-Nya, mati, bangkit, kembali kepada Bapa, menerima kemuliaan yang sudah Dia miliki sebelumnya. Seluruh hidup Kristus memang untuk memuliakan Bapa, tetapi puncak kemuliaan itu dinyatakan secara mengagetkan dan dramatis di atas kayu salib.

Hal ini sangat dramatis, karena pada abad pertama tidak ada orang yang melihat salib sebagai suatu kemuliaan. Salib adalah tanda kekejaman manusia, tanda ketakutan, kengerian dan kehinaan. Orang-orang menghina mereka yang disalibkan, orang-orang menghina orang Kristen yang menyembah Kristus yang disalibkan. Pada abad permulaan ada gambar salib dengan tubuh yang kepalanya diganti dengan kepala keledai. Mereka mau mengatakan inilah Tuhan yang disembah oleh orang Kristen, seperti keledai yang bodoh – bagaimana mungkin seorang yang mati di atas kayu salib bisa menyelamatkan engkau.  

Salib juga merupakan suatu kengerian yang sangat. Orang-orang yang memberontak kepada kaisar yang bisa dimatikan atas kayu salib. Mereka akan ditangkap, disalibkan, dan dipajang sepanjang jalan supaya orang-orang bisa melihatnya. Ada suatu kali dimana ribuan orang disalibkan sepanjang jalan. Ada yang disalibkan dan kemudian dibakar di atas kayu salib. Salib bukan hanya menghukum orang dengan mematikan orang itu, namun juga memberikan suatu ketakutan bagi orang yang berpikir untuk berontak kepada kaisar. Dengan melihat kengerian dan kesakitan orang yang disalibkan maka mereka akan gemetar dan membuang semua pikiran untuk berontak. Semua orang yang melihat salib pada jaman itu melihatnya sebagai suatu kekejaman, kengerian, ketakutan dan kebodohan.

Tetapi Yesus berkata “Bapa telah tiba saatnya permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Puncak dari kematian Kristus adalah justru di atas kayu salib. Karena kita boleh mengerti di atas kayu salib itulah Kristus menyatakan ketaatan yang sempurna kepada Bapa, ketaatan sampai mati melalui cara yang begitu hina, penuh kesakitan. Karena Kristus tahu sekali bahwa hanya melalui salib dan kematian-Nya, Dia boleh dibangkitkan, naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Bapa, dan menerima segala kemuliaan yang telah Dia punyai sebelumnya. “There is no crown without the cross”, tidak ada mahkota tanpa salib. Karena itu Kristus mengatakan “permuliakanlah Anak-Mu” (Yoh 17:1b).

Kristus mengetahui caranya yaitu dengan Dia harus disalibkan, supaya Dia mempermuliakan Bapa. Karena melalui salib, Kristus juga menyatakan kemuliaan Bapa-Nya. Karena di atas kayu salib, Kristus menyatakan karakter Allah dengan jelas. Karakter yang begitu agung sekaligus juga mengguncang hati manusia yang terdalam. Di atas kayu salib, Kristus menyatakan kekudusan dan keadilan Tuhan. Kekudusan yang disaksikan oleh Yesaya, dalam Yesaya 6.

Keadilan ini yang juga dinyatakan oleh mulut Daud ketika Daud menyadari akan dosanya. Ketika Daud ditegur oleh nabi Natan, dengan suatu cerita bagaimana seorang kaya yang kedatangan tamu. Kemudian orang kaya itu ingin menyembelih domba untuk menjamu tamu-tamunya. Tetapi dia merasa sayang kepada domba-dombanya sendiri. dan dia melihat tetangganya yang begitu miskin yang hanya mempunyai satu-satunya domba. Maka orang kaya itu merampas domba tetangganya, satu-satunya harta tetangganya yang sudah dia pelihara seperti putrinya sendiri. Maka orang kaya itu merebut domba itu, menyembelihnya, dan menjamukan pada tamu-tamunya. Ketika Daud mendengar cerita itu, Daud menjadi sangat marah dan berkata “siapa orang itu, orang itu harus dihukum mati.” Maka nabi Natan mengatakan “engkaulah orang itu”, karena engkau telah merebut Batsyeba satu-satunya harta yang dimiliki Uria, dan bahkan engkau membunuh Uria. Engkau berjinah dengan Batsyeba maka engkau akan mengalami apa yang engkau sendiri katakan. Maka Daud sadar akan dosanya, bertobat dan menyatakan seluruh kehancuran hatinya di hadapan Tuhan.

Tetapi yang mengherankan adalah Tuhan mengampuni Daud, tidak membunuh Daud dengan segera. Daud sendiri menyadari bahwa Dia harus mati seperti perumpamaan itu karena dia sudah melakukan kejahatan dan dosa yang begitu besar di hadapan Tuhan. Tetapi karena belas kasihan-Nya, Tuhan mengampuni Daud.

Namun belas kasihan Tuhan, bukan berarti Tuhan tidak memperdulikan keadilan dan kesucian-Nya. Daud bisa diampuni dan disucikan dari dosanya karena semata-mata pengampunan itu menunjuk kepada salib Kristus. Pengampunan dosa kepada Daud itu terjadi karena Kristus di dalam kekekalan-Nya telah menyatakan bahwa Dia akan mati untuk menebus semua orang, baik sebelum Kristus datang bahkan sampai selama-lamanya. Daud mengatakan orang itu harus dihukum mati tetapi Kristus sendiri yang menanggung kematian itu di atas kayu salib. Kematian Kristus menyatakan keadilan Allah (lihat Roma 3:25), Allah yang tidak kompromi sama sekali terhadap dosa, Allah yang sudah mengatakan hukuman dosa adalah mati. Tetapi Daud tidak menanggung dosanya sendiri, hanya di dalam Kristus, Kristuslah menanggung dosa semua orang yang percaya di dalam Dia.

Di atas kayu salib, Kristus juga menyatakan kekudusan Allah. Kekudusan dan kemuliaan yang disaksikan oleh Yesaya (lihat Yes 6). Yesaya melihat kemuliaan Allah dan Serafim yang berdiri mengelilingi takhta Allah dan berseru “Kudus, Kudus, Kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” dan sekaligus Yesaya menyadari akan dosa-dosanya di hadapan Allah yang kudus dan suci itu maka Yesaya berkata “Celakalah aku! Aku binasa!, Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Tetapi sekali lagi seperti Daud, Tuhan menyatakan belas kasihannya kepada Yesaya, dengan bara api dari tempat yang suci itu Tuhan mengkuduskan mulut Yesaya.

Yesaya hanya menyaksikan kemuliaan Allah dan dia menyadari dia harus binasa karena dia adalah orang berdosa. Tetapi Kristus di atas kayu salib, Dia menyatakan Dia adalah the true and better Yesaya, Dia menyatakan kekudusan dan kemuliaan Allah melalui kematian-Nya di atas kayu salib karena dosa manusia.

Di atas kayu salib Kristus juga menyatakan kemuliaan Allah dengan menyatakan kasih-Nya yang begitu besar kepada orang berdosa. Di atas kayu salib, kasih dinyatakan dengan jelas, bukan kepada orang yang benar, ataupun kepada orang yang baik, tetapi di atas kayu salib kasih dinyatakan kepada orang durhaka, musuh Allah, kepada orang-orang yang layak menerima murka Allah.

Injil Yohanes juga menyatakan Yesus memberikan ultimate sacrifice dalam mengasihi sahabat-sahabat-Nya dengan kasih yang terbesar yaitu menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya (lihat Yoh 15:13). Inilah fokus pertama dari doa Kristus yaitu supaya Bapa mempermuliakan Dia, dan melalui kematian-Nya, Kristus juga mempermuliakan Bapa dan menyatakan ketaatan yang sempurna kepada Bapa-Nya.

Alasan/Dasar Doa Yesus

Alasan atau dasar dari doa ini dinyatakan dalam Yoh 17:2 “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepad semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.” Ini menjadi dasar atau alasan permintaan Kristus supaya Bapa mempermuliakan Dia dan bagaimana Dia juga mempermuliakan Bapa. Dasarnya adalah karena Bapa telah memberikan kepada Kristus kuasa atas segala hidup. Sehingga Kristus akan memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang telah Bapa berikan kepada Kristus.

Kapan Bapa telah memberikan kepada Kristus kuasa atas segala hidup? Ini menunjuk kepada perjanjian di dalam kekekalan antara Bapa dan Anak. Perjanjian untuk memberikan hidup yang kekal bagi semua orang yang beriman kepada Kristus. Di dalam teologia Reform, ini disebut sebagai Pactum Salutis atau Covenant of Grace. Di dalam Covenant of Grace, ada perjanjian antara Bapa dan Anak di dalam kekekalan: bahwa Bapa akan memberikan kepada Anak semua orang yang beriman kepada Anak dan hal ini hanya akan terjadi melalui Anak yang mati di atas kayu salib. Dengan demikian Bapa dipermuliakan, karena melalui kematian Kristus kesucian Bapa dinyatakan, kasih Bapa dinyatakan.

Doa permohonan Kristus ini didasarkan pada janji Bapa berdasarkan Covenant of Grace. Ini sangat mirip dengan doa Bapa Kami yang Kristus sendiri ajarkan (lihat Mat 6): “jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga”. Doa Kristus adalah doa yang berdasarkan janji yang telah dibuat di dalam kekekalan. Doa Kristus juga untuk kemuliaan Allah dan kebaikan umat-Nya. Kemuliaan Dirinya adalah juga sama dengan kemuliaan Bapa. Mirip dengan doa Bapa Kami di mana disebutkan “Dikuduskanlah Nama-Mu” atau diartikan juga dipermuliakanlah nama Bapa. Bukan hanya untuk kemuliaan Bapa, tetapi juga untuk kebaikan umat-Nya karena ketika kemuliaan Allah itu dinyatakan maka hidup kekal diberikan kepada semua orang yang melihat dan percaya kepada salib Kristus.

Dalam Yoh 17:3 Yesus menjelaskan arti hidup kekal “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”  Ayat ini berbicara mengenai mengenal Allah. Kalimat bahasa Indonesia itu sangat tepat, bukan sekedar “tahu” (know) atau sekedar “percaya” kepada Allah. Yakobus mengatakan (Yak 2:19) “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Roma 1:21 mengatakan “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya.“ Jadi kata “mengenal” lebih tepat diartikan sebagai bukan hanya mengetahui secara kognitif, bukan banyak tahu (knowing about) tentang Tuhan, tetapi juga mempunyai suatu relasi personal dengan Dia.

Suatu kali putra Jokowi, Kaesang ketika menjawab komentar ayahnya tentang bisnisnya, membalas twitter ayahnya, bukan bisnis pisang goring pak, tetapi pisang nougat. Kemudian banyak yang memberi respons, dan salah satu respons yang menarik adalah yang menegur Kaesang: “Hati-hati kamu sedang berbicara kepada Presiden lho, kamu kok seperti berbicara kepada bapa sendiri?” Ini adalah percakapan yang akrab antara seorang anak kepada ayahnya yang seorang presiden.

Seperti inilah pengenalan yang Yesus maksudkan. Sewaktu Yesus berbicara tentang hidup kekal: (Yoh 17:3)

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Yesus menyatakan pengenalan yang personal antara kita dengan Kristus dan juga dengan Bapa. Khususnya mengenal Bapa yang dinyatakan oleh Kristus melalui seluruh hidup-Nya dan yang berpuncak pada salib. Berarti pengenalan kita akan Tuhan juga termasuk pengenalan diri kita yang berdosa. Karena kita melihat salib Kristus kita mengenal betapa kudusnya Tuhan sekaligus betapa besar kasih-Nya, sekaligus sadar betapa berdosanya kita.

Seperti Yesaya, Daud dan juga seperti seluruh umat Tuhan sepanjang sejarah ketika melihat kepada Kristus maka bukan hanya menyadari kemuliaan Tuhan, bukan hanya mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh tetapi sekaligus mengenal akan diri yang berdosa. Menyadari diri yang selayaknya menerima murka Allah, tetapi sekaligus melihat betapa besarnya kasih Tuhan di atas kayu salib.

John Calvin mengatakan there is no knowledge of God without the knowledge of self, tidak ada pengenalan akan Tuhan tanpa pengenalan akan diri, dan there is no knowledge of self without the knowledge of God, tidak ada pengenalan akan diri tanpa pengenalan akan Tuhan. Bagaimana John Calvin bisa mengatakan pengenalan yang sejati akan Tuhan tidak akan mungkin tanpa pengenalan diri? Karena kedua hal tersebut memang tidak bisa dipisahkan. Kita hanya bisa mengenal diri Tuhan sesungguh-sungguhnya ketika kita menyadari dosa kita sesungguh-sungguhnya. Yang dimaksud John Calvin akan pengenalan diri di sini adalah pengenalan diri yang berdosa, yang hanya boleh hadir dan diselamatkan karena semata-mata oleh belas kasihan Tuhan. Di atas kayu salib Tuhan menyatakan dua hal ini dengan jelas. Kita boleh mengenal betapa mulia-Nya dan kasih-Nya di atas kayu salib, sekaligus kita menyadari betapa berdosanya kita dan betapa kita layak menerima murka Tuhan yang suci itu.

Di sini Tuhan Yesus melanjutkan sewaktu kita mengenal Allah, kita bukan mengenal sembarang allah tetapi Tuhan yang satu-satunya yang benar itu, yang hanya bisa dikenal melalui diri Yesus Kristus. (Yoh 17:3) “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” D.A. Carson mengatakan “it is not possible to choose the way we shall know God, only the way He has defined is acceptable that is knowing Jesus Christ whom He has sent.” Saudara mungkin memiliki berbagai gambaran bagaimana kita bisa percaya kepada Bapa, namun saya menegaskan bahwa pengenalan yang sejati akan Bapa adalah hanya kita terima dan peroleh ketika kita mengenal Yesus Kristus yang disalibkan.

Memang inilah tugas Kristus datang ke dalam dunia, untuk menyatakan Bapa kepada kita, untuk menyatakan kemuliaan Bapa. Sejak awal kitab Yohanes, Yohanes sudah menyatakan hal ini (Yoh 1:14) “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Yoh 1:18 melanjutkan “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.“ Melalui seluruh perkataan dan perbuatan Kristus, Dia menyatakan kemuliaan Bapa. Mukjijat-mukjijat yang Yesus lakukan, mengubah air menjadi anggur, memberi makan 5000 orang laki-laki dengan lima roti dan dua ikan, inilah tanda-tanda yang Yesus lakukan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.Semua hal yang Kristus kerjakan adalah untuk menyatakan kemuliaan Bapa dan kemuliaan-Nya.

Tetapi puncak karya Kristus adalah di atas kayu salib. Karena itu dalam Yoh 17:4 Yesus mengatakan “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya”. Kristus telah menggenapi karya-Nya dan menyatakan kemuliaan Bapa. Orang-orang yang melihat air yang diubah menjadi anggur, yang buta sejak lahir disembuhkan, lima ribu orang laki-laki, kenyang dan puas dengan lima roti dan dua ikan, mereka sadar bahwa Yesus bukan manusia biasa Kristus menyatakan kemuliaan Allah, dan Yesus Kristus adalah Allah itu sendiri. Bahkan

Yesus mengatakan Before Abraham was, I AM (lihat Yoh 8:58). Aku bukan hanya sudah ada sebelum Abraham ada, Aku adalah Allah itu sendiri. I AM the Great I AM yang dinyatakan oleh Allah kepada Musa (lihat Kel 3).

Seluruh pekerjaan Kristus menyatakan siapa diri-Nya dengan kemuliaan dari pada Allah. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Puncak pekerjaan yang Kristus selesaikan adalah Dia mati di atas kayu salib. Karena itu di atas kayu salib Dia berkata “sudah selesai” (Yoh 19:30), Aku telah menyelesaikan pekerjaan yang telah Engkau berikan kepadaku. Di situlah Kristus menyatakan kemuliaan Allah yang begitu jelas ketika Dia menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan kepada-Nya.

Ketika manusia memandang kepada salib Kristus, mendengar berita Injil yang berpusat kepada salib Kristus, kita boleh mengenal dan percaya kepada Kristus. Itulah yang disebut hidup kekal (Yoh 17:3) “mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”.

Ketika kita mengenal salib dengan sungguh-sungguh, maka tidak mungkin kita tidak berubah. Ketika kita percaya kepada Kristus kita boleh memperoleh hidup yang baru, menjadi manusia yang baru. Ketika kita sungguh-sungguh mengenal Dia maka kita akan menjadi orang-orang yang sesuai dengan kehendak-Nya. Hidup yang memuliakan Bapa sama seperti Kristus telah memuliakan Bapa. Biarlah kita yang mengaku percaya, sungguh-sungguh mengenal Kristus dengan lebih dekat, dan kita boleh hidup seperti Kristus, untuk memuliakan Allah.

Kita bisa melihat Yoh 17:1-5 secara keseluruhan. Kelima ayat ini sering diberi judul Yesus prayed for Himself. Kalau kita mengupas doa ini, kita mengetahui bahwa doa Yesus ini berbeda dengan doa kita bagi diri kita sendiri. Kita seringkali berdoa untuk segala masalah yang kita hadapi: untuk kesehatan, pekerjaan, anak-anak, kesulitan keuangan, untuk pengakuan dosa, untuk pertumbuhan iman kita, untuk semakin suci dan semakin mengasihi Tuhan. Tentu semua hal ini adalah boleh kita doakan dan Tuhan berkenan kita meminta hal-hal ini kepada Tuhan. Tetapi sewaktu kita belajar doa Kristus dalam Yoh 17:1-5, kita boleh diingatkan bahwa seluruh permohononan tentang diri kita biarlah mempunyai satu tujuan yaitu supaya nama Tuhan dimuliakan. Kita bukan meminta semua kebutuhan kita untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita berdoa memohon segala kebutuhan kita supaya nama Tuhan boleh dipermuliakan di dalam hidup kita, bukan hanya dengan menyatakan kebaikan-Nya kepada kita, dengan menyadari bahwa semua hal yang baik itu berasal dari Tuhan. Bukan hanya pengakuan dengan mulut kita, tetapi dengan seluruh hidup kita, kita bisa menyatakan bahwa seluruh hidupku adalah karena anugerah Tuhan semata-mata. Karena itu aku akan memakai hidupku, segala yang Tuhan berikan untuk memuliakan nama-Nya, untuk semakin taat dan mengasihi Tuhan, melalui mengasihi orang-orang di sekeliling kita dengan berkorban bagi mereka.

Saya teringat suatu sharing Pendeta Stephen Tong tentang hidup yang memuliakan Allah. Maka dia menyatakan biarlah seluruh hidup dia adalah untuk menyenangkan hati Tuhan. Ini adalah rahasia hidup yang berhasil di hadapan Tuhan. Ini adalah rahasia yang memberikan kesukaan yang besar di dalam hidup kita. Bahwa seluruh apapun yang kita kerjakan adalah untuk memuliakan Tuhan. Di dalam bahasa yang lebih sederhana seluruh yang aku kerjakan adalah biarlah Tuhan disenangkan, Tuhan berkenan. Apa yang aku kerjakan secara tersembunyi, atau di hadapan orang-orang, di dalam keluarga, pekerjaan, relasi dengan teman-teman, dengan uang, dengan waktuku, biarlah aku lakukan semua itu hanya untuk memuliakan Tuhan supaya Tuhan berkenan akan semua hal yang aku lakukan.

Pendeta Stephen Tong memberikan suatu ilustrasi tentang seorang anak yang konser piano. Anak itu sangat bertalenta bermain piano, dan dia memainkan dengan begitu bagus. Setelah lagu pertama selesai, semua orang bertepuk tangan dan berteriak dengan riuh. Tetapi anak itu tidak memperhatikan respons orang-orang itu, dia hanya melihat ke suatu balkon dan seperti agak sedih. Maka kemudian dia memainkan lagu yang kedua, dan dia memainkan lagu yang lebih hebat dan penonton bertepuk tangan lebih keras lagi. Tetapi anak itu seperti tidak perduli kepada tepukan yang keras dan hanya melihat ke balkon tadi, dia seperti agak gemetar. Kemudian sebelum dia memainkan lagu terakhir, dia tarik nafas dalam-dalam, mulai berkeringat dan dia mulai berdoa sejenak. Dia memainkan lagu terakhirnya dengan segenap kemampuan, dengan segenap hati, maka setelah lagu itu semua penonton berdiri dan bertepuk tangan. Tetapi dia tidak perduli kepada semua itu dan dia hanya melihat balkon itu tadi. Akhirnya dia mulai tersenyum karena dia melihat satu orang tua di balkon itu. Karena dalam lagu-lagu sebelumnya orang tua itu hanya diam saja dan melipat tangannya, namun setelah lagu terakhir, orang tua itu menganggukkan kepalanya. Orang tua itu adalah guru yang sudah melatih dia bertahun-tahun. Anak itu mengerti bahwa dia ada di situ, hari itu adalah karena latihan, pembentukan yang dilakukan oleh gurunya. Gurunya sudah seperti ayahnya yang melatih dia, mengasihi dia, memberikan seluruh kemampuan, untuk membentuk dia sehingga dia bisa seperti hari itu. Anak itu tidak perduli dengan tepuk tangan ribuan orang, dia hanya bermain piano untuk menyenangkan hati gurunya.

Biarlah kita hidup seperti demikian, untuk living in the audience of God, living in the audience of One, hidup hanya untuk menyenangkan satu pribadi, yaitu Tuhan sendiri. Itulah hidup Kristus, Aku telah menyelesaikan seluruh pekerjaan-Ku hanya untuk memuliakan Tuhan, dan puncaknya adalah di atas kayu salib.

Sewaktu kita mau menyenangkan Tuhan maka kita harus melalui jalan salib. Sebagai orang yang percaya, hidup di dunia ini yang berdosa ini, harus mengikuti jalan salib. Ini adalah satu-satunya cara hidup yang menyenangkan dan memuliakan Bapa. Barangsiapa mau mengikut Aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku. Namun ini adalah satu-satunya jalan yang di dalamnya penuh kesukaan yang berlimpah-limpah. Karena di dalam jalan salib, di situlah Kristus terus hadir dan memimpin kita. Biarlah seluruh hidup kita boleh melayani dengan sungguh-sungguh, dengan penuh pengorbanan. Murid-murid Kristus mengikuti jalan salib, satu-satu mereka mati sebagai martir. Kalau kita melihat sejarah orang-orang yang mengikut Kristus, mereka mengalami kesulitan dan pergumulan yang besar, tetapi hidup mereka berkelimpahan. Hidup yang menjadi berkat yang besar bagi orang-orang di sekelilingnya, juga hidup yang penuh dengan kesukaan yang besar di hadapan Tuhan. Itulah satu-satunya jalan yang berkenan dan memuliakan Bapa. Tetapi bukan hanya jalan yang memuliakan Bapa namun juga jalan yang membawa kesukaan yang sangat besar di dalam Kristus. Artinya kita harus terus taat di atas segala pergumulan dan kesulitan kita.

Biarlah hidup kita memuliakan Kristus dan memuliakan Bapa di dalam hidup kita, dan damai sejahtera Tuhan akan menyertai kita. Ketika hidup kita yang sebentar saja di dunia ini, dan selesai, maka biarlah ketika kita bertemu dengan Tuhan, Dia bisa berkata hai hamba-Ku yang baik dan setia, engkau telah setia di dalam segala hal yang telah Aku percayakan kepadamu, engkau telah memakai semuanya untuk memuliakan nama-Ku, engkau telah mengerjakan semuanya untuk menyatakan kebesaran dan keagungan nama-Ku, maka masuklah ke dalam bahagia dari pada Tuan-Mu, kesukaan yang berlimpah-limpah untuk selama-lamanya. Marilah kita hidup semakin taat, semakin mengasihi Tuhan dan semakin mengasihi sesama kita.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya