Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tuhan adalah Kebutuhanku yang Paling Dalam

Ibadah

Tuhan adalah Kebutuhanku yang Paling Dalam

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 6 Januari 2019

Bacaan Alkitab: Kej 32:22-32

Pdt Stephen Tong pernah mensharingkan di rapat Sinode bahwa GRII sebagai suatu Gereja harus sadar bahwa GRII adalah suatu movement yang Tuhan buat. Ini adalah suatu movement yang terus akan bergerak sampai kehendak Tuhan jadi. Jangan kita menjadi terlena dengan apa yang sudah dikerjakan dan berubah dari suatu movement menjadi suatu monumen.

Ada beberapa perbedaan antara movement dengan monumen:

Movement bisa dikatakan sebagai alpha point atau titik permulaan. Pdt Stephen Tong memulai GRII sebagai suatu gerakan yang Tuhan pimpin kepada hamba-Nya ini. 30 Tahun yang lalu belum ada GRII, tetapi dengan pimpinan Tuhan melalui hidup pak Tong maka dimulailah GRII. Tetapi monumen adalah omega point, seperti suatu yang sudah selesai.

Movement adalah sesuatu yang bergerak dari yang tidak ada menjadi sesuatu yang ada. Monumen adalah untuk mengingat bahwa there was something.

Movement adalah sesuatu yang dinamis dan terus bergerak. Monumen adalah sesuatu yang statis, untuk mengingat sesuatu yang telah dikerjakan.

Pak Tong mengingatkan biarlah GRII jangan menjadi monumen, sesuatu yang kita rasa telah mencapai sesuatu, akhirnya kita bisa mengerjakan itu.

Hal ini juga berlaku dalam kehidupan kita. Kalau kita memiliki spirit monumen, kita merasa telah mencapai sesuatu, maka di situlah kita turun dan mulai runtuh. Kalau saudara setelah lulus universitas, merasa akhirnya saudara sudah lulus, setelah lulus saudara mulai lesu dan membuang waktu dengan percuma. Sebelum saudara mendapat pacar saudara berjuang mencari teman hidup, dan untuk mempunyai relasi yang baik.Tetapi kalau akhirnya saudara bisa menikah, dan berpikir akhirnya saudara bisa menikah, maka saudara sudah seperti tidak mengerjakan hal-hal yang lain dan pernikahan mulai menjadi rusak. Ada orang-orang yang rajin sekali sebelum punya anak, ikut persekutuan doa, berdoa kepada Tuhan untuk punya anak. Tetapi setelah akhirnya Tuhan sudah berikan anak, mereka tidak lagi datang ke persekutuan doa.

Semangat “akhirnya” ini dapat menjadi sesuatu yang berbahaya. Kalau semangat bergerak dari suatu movement menjadi suatu monumen, menjadi suatu peringatan saja, maka gerakan itu mulai hancur. Kalau kita melihat ke dalam Alkitab, bukan berarti monumen itu selalu negatif, banyak hal yang dikerjakan oleh umat Tuhan, dan setelah Tuhan memimpin, mereka mendirikan monumen. Dalam hidup Abraham, Tuhan memimpin langkah demi langkah hidupnya. Setiap peristiwa yang Tuhan pimpin, Abraham mendirikan altar menjadi suatu monument. Perjamuan suci juga adalah suatu monumen untuk mengingat pekerjaan Tuhan. Setiap kali engkau makan roti ini dan minum cawan ini, engkau mengingat apa yang Tuhan sudah kerjakan dan memberitakannya sampai Tuhan datang kembali.

Di dalam akhir setiap tahun, kita bisa mengingat pekerjaan Tuhan di tahun yang lalu. Altar-altar yang dibangun Abraham adalah untuk mengingat pekerjaan Tuhan pada masa yang lalu. Tetapi Pdt Tong mengingatkan biarlah setiap omega point di dalam hidup kita harus terus berubah kembali menjadi alpha point yang baru. Seperti yang Alkitab katakan “Ebenezer” (lihat 1 Samuel 7:12) -- sampai di sini Tuhan sudah memimpin kita -- dan kalimat ini boleh dilanjutkan: bahwa Tuhan akan memimpin kita di waktu-waktu yang akan datang.

Mendirikan monumen-monumen untuk mengingat apa yang sudah Tuhan kerjakan sebenarnya menjadi sesuatu yang penting daripada spiritualitas Alkitab. Salah satu persoalan orang-orang di dalam jaman Hakim-Hakim, adalah mereka tidak lagi mengingat pekerjaan dan Firman Tuhan yang sudah dikerjakan di masa yang lalu. Ketika satu generasi sudah melupakan apa yang sudah Tuhan kerjakan di masa yang lalu, maka mereka mulai kehilangan arah di masa yang sekarang.

Tetapi biarlah kita bukan hanya mengingat apa yang sudah Tuhan kerjakan di masa yang lalu, bukah hanya bersyukur Tuhan sudah memimpin kita sampai hari ini, tetapi juga biarlah omega point itu menjadi alpha point yang baru, ada pimpinan, anugerah, belas kasihan Tuhan yang baru. Kita harus menyadari Tuhan masih memberi kita kesempatan di tahun yang akan datang. Ada orang-orang yang tidak bisa melewati tahun yang lalu, tetapi kita boleh memasuki tahun yang baru ini. Berarti ada anugerah dan kesempatan yang baru yang Tuhan berikan kepada kita. Biarlah kita berdoa akan pimpinan Tuhan yang baru, akan kekuatan untuk menyadari perjuangan dan tanggung jawab yang baru yang Tuhan berikan kepada kita. Setiap omega point berubah menjadi alpha point yang baru untuk melanjutkan pekerjaan Tuhan.

Di dalam konteks ini, kita belajar dari hidup Yakub. Ada suatu peristiwa yang penting dalam hidup Yakub, seperti yang dinyatakan dalam bacaan Alkitab kali ini.

Tuhan sudah memimpin hidup Yakub sampai hari itu. Di dalam Kej 32:30 Yakub mengatakan “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong.” Dia menyebut nama itu Pniel (wajah Allah) karena dia telah melihat Allah dan dia tetap hidup. Ini adalah suatu perjalanan yang luar biasa di dalam hidup Yakub. Dia akhirnya mengenal Allah secara personal di dalam hidupnya. Tetapi itu menjadi suatu alpha point di dalam hidup Yakub, untuk memasuki kehidupan dia selanjutnya.

Sebelum peristiwa ini, ada perubahan jati diri dari seorang Yakub menjadi seorang Israel (lihat Kej 25:19-34). 

Dia diberi nama “Yakub” yang artinya perampas atau penipu sejak dia dilahirkan. Ayahnya memberi nama “Yakub”, dan seperti kita tahu di dalam Alkitab, sebuah nama menyatakan karakter dari orang itu. Karena Yakub sejak lahirnya sudah menunjukkan karakternya menjadi seorang perampas dan penipu. Sewaktu lahir, Yakub adalah anak kembar dengan Esau. Tuhan mengatakan kepada ibunya bahwa ada dua bangsa yang bergumul di dalam rahimmu. Mereka bertarung di dalam kandungan untuk keluar terlebih dahulu sebagai anak yang sulung. Kita tahu Esau keluar lebih dahulu, tetapi setelah Esau keluar kepala dan bahunya, maka ayahnya melihat di kaki Esau ada tangan Yakub. Esau tentu lebih kuat secara fisik, yang setelah dewasa dia menjadi seorang pemburu yang kuat. Tetapi Yakub setelah dia kalah, dia tetap tidak mau kalah. Sehingga sewaktu dilahirkan, Yakub memegang kaki dari pada Esau. Seorang penafsir menafsirkan bahwa Yakub ingin menarik Esau kembali lagi ke dalam kandungan, sehingga Yakub adalah orang yang meskipun kalah, dia tidak mau kalah. Seumur hidup Yakub menunjukkan karakter yang seperti ini. Meskipun bukan anak sulung, dia ingin terus merebut hak kesulungan itu.

Ketika saatnya Ishak, ayah mereka, ingin memberkati Esau sebagai anak yang sulung, maka Ishak menyuruh Esau untuk berburu dan memasak makanan yang Ishak sukai. Esau kemudian pergi berburu, tetapi Yakub dan ibunya mendengar perkataan ayahnya itu. Kemudian ibunya memasak makanan kesukaan Ishak dan berkata kepada Yakub cepat beri makanan ini kepada Ishak. Ibunya memberi bulu di tangan Yakub, supaya dia bisa berpura-pura sebagai Esau dan setelah memberi makan Ishak, katakan kepada ayahmu bahwa saya ini Esau dan kamu akan menerima berkat dari ayahmu sebagai anak sulung. Yakub melakukan itu, dan setelah Ishak memakan makanan kesukaannya, maka dia memberkati Yakub yang dia pikir adalah Esau. Tetapi Ishak ragu apakah dia itu Esau, karena suaranya adalah suara Yakub, dan dia berkata siapakah kamu, dan Yakub menjawab Saya Esau, dan dia menipu ayahnya. Ishak kemudian memberkati Yakub.

Ini adalah suatu peristiwa yang menjadi turning point dari pada hidup Yakub. Mengapa Yakub ingin melakukan itu? Bukankah pasti ayahnya pada akhirnya mengetahui apa yang dia lakukan. Bukankah pasti Esau akan tahu dan akan marah sekali. Mengapa Yakub ingin merebut hak kesulungan itu? Bukankah berkat yang Yakub terima saat itu adalah berkat secara seremonial? Bukankah hal itu membuat Ishak marah, Esau marah, dan seluruh keluarganya menjadi kacau balau? Itulah yang terjadi kemudian.

Tim Keller mengatakan “Mengapa Yakub rela kehilangan begitu banyak untuk sesuatu yang sangat kecil?” Dia hanya menerima berkat secara seremonial. Tim Keller menjawab, “meskipun Yakub harus menyamar dan menipu ayahnya dan kakaknya, meskipun apa yang dia perbuat akan memporakporandakan keluarganya, Yakub melakukan itu karena dia begitu rindu mendengar suatu kalimat dari ayahnya. Yakub sangat ingin mendengar satu kalimat dari ayahnya bahwa aku mengasihi engkau lebih dari apa pun di dunia ini. Karena selama ini ayahnya lebih mengasihi Esau daripada dirinya. Tidak ada yang lebih Yakub inginkan daripada kasih ayahnya. Dia rela melakukan semua itu demi mendapatkan kasih ayahnya.

Ini menjadi pattern hidup Yakub. Ketika Yakub lari ke pamannya, Laban, dia juga rela melakukan segala sesuatu demi mendapatkan orang yang dikasihinya yaitu Rachel (lihat Kej 29:1-30). Yakub saling menipu Laban, Yakub melakukan kerja keras yang melampaui dari pada yang seharusnya, untuk mendapatkan Rachel. Yakub rela melakukan apa saja untuk memenuhi kerinduan hatinya yang paling dalam, yaitu kasih dan penghargaan dari orang yang dia kasihi.

Hal ini tentu menjadi kerinduan dari pada hidup setiap orang. Kita sangat ingin mendapatkan kasih dan penghargaan dari orang yang kita paling kasihi dan hargai, apakah itu orang tua, pacar, suami/istri, atau pun anak-anak kita. Tetapi walaupun akhirnya Yakub mendapat berkat seremonial dari ayahnya, dan mendapatkan Rachel yang dia kasihi, Yakub tetap mengalami kekosongan jiwa yang dalam, karena tidak ada apa pun di dalam hidup ini yang bisa memuaskan jiwa manusia yang paling dalam.

CS Lewis mengatakan “Jikalau kita menyadari adanya suatu keinginan yang paling dalam hidup kita, dan tidak ada suatu pun di dunia ini yang bisa memuaskan saya, maka kemungkinan jawabannya adalah karena kita dibuat bukan untuk dunia ini.” Kita bersyukur bahwa Tuhan menyatakan anugerahnya kepada Yakub di dalam bacaan dalam Kej 32 ini.

Walaupun telah mendapatkan berkat seremonial ayahnya, dan Rachel, Yakub tetap memiliki kekosongan jiwa yang dalam, dan pada malam hari itu ketika dia ingin kembali bertemu dengan Esau, dia tahu bahwa Esau sudah marah sekali kepadanya. Yakub begitu ketakutan, dan dia adalah seorang Yakub, membuat suatu rencana yang menguntungkan dia. Di dalam Kej 32, maka Yakub membuat suatu strategi, dia membagi orang-orang-nya menjadi beberapa kelompok, dan dia ada di kelompok yang paling belakang. Budak-budak dan domba-dombanya ada di kelompok yang paling depan. Dia membuat strategi untuk mempersembahkan kambing dombanya kepada Esau, supaya hati Esau menjadi dingin dan tidak marah kepadanya. Tetapi jika Esau tetap marah, maka Yakub ada di kelompok yang paling belakang, dan ada waktu untuk kabur.

Tetapi malam hari itu dia sendirian dan kemudian dia bergumul dengan seorang laki-laki. Tidak terlalu jelas siapakah laki-laki ini, tetapi ada beberapa clue/petunjuk yang dapat kita lihat. Kej 32:25 laki-laki ini adalah seorang yang berkuasa yang dengan satu pukulan saja membuat Yakub menjadi lumpuh. Maka Yakub menyadari laki-laki itu bukanlah seorang yang biasa. Penafsir-penafsir mengatakan laki-laki ini mungkin adalah malaikat Tuhan atau bahkan Tuhan sendiri. Khususnya ketika laki-laki itu mengatakan “Biarkan aku pergi karena fajar telah menyingsing.” Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang melihat wajah dari pada Allah, mereka tidak ada yang bisa hidup. Maka malaikat atau Tuhan itu sendiri mengatakan biarlah Aku pergi.

Tetapi Yakub menyadari bahwa dia sekarang berhadapan dengan Tuhan, bahwa sesungguhnya inilah yang paling dia butuhkan di dalam hidupnya. Dia menyadari betapa bodohnya aku, karena selama ini aku mengejar kasih dari pada ayahku, mengejar kasih Rachel, tetapi sesungguhnya kebutuhanku yang paling dalam adalah yang sekarang ini yang berhadapan dengan aku. Yang Yakub butuhkan sebenarnya adalah berkat dan kasih dari pada Allah. Maka ketika dia menyadari hal ini dia mengatakan “Aku tidak akan membiarkan Engkau pergi, jika Engkau tidak memberkati aku.”

Seorang penulis mengatakan bahwa apa yang dikerjakan oleh Yakub ini seperti seorang anak kecil yang tidak berdaya. Seperti anak kecil yang hari pertama dibawa ke taman kanak-kanak, banyak tangisan pada hari itu. Setelah anak itu memakai baju seragam dan membawa tas, setelah anak itu diberitahu bahwa dia akan mempunyai banyak teman, ada guru-guru yang baik, dan bersenang-senang, pertama-tama anak itu akan excited. Namun setelah di antar oleh orangtuanya ke dalam ruang kelas, bertemu dengan guru dan anak-anak yang lain dan orang tuanya harus pergi, maka di situlah akan banyak air-mata. Anak-anak itu tidak mau melepaskan orang-tuanya.

Seperti itulah keadaan Yakub saat itu. Yakub dipukul pangkal pahanya, dia tidak berdaya sama sekali, dia tahu bahwa laki-laki itu adalah seorang yang amat berkuasa, dan dia menyadari bahwa laki-laki itu adalah Tuhan itu sendiri. Tetapi Yakub tahu dan sadar bahwa kalau dia melihat wajah Tuhan maka dia akan mati. Karena itu Tuhan berkata “lepaskan Aku, fajar telah menyingsing dan engkau akan melihat wajah-Ku.” dan tidak ada orang yang bisa hidup setelah melihat wajah Tuhan. Tetapi Yakub di dalam ketidak berdayaannya dia sadar bahwa ada sesuatu yang paling dia butuhkan di dalam hatinya yang paling dalam. Maka Yakub memegang Tuhan dan berkata “aku tidak akan melepaskan Engkau pergi kecuali Engkau memberkati aku.”

Kemudian Tuhan bertanya kepada Yakub “Siapakah namamu?” Ini juga menjadi suatu syarat kita menerima anugerah Tuhan. Maka di sini tidak ada lagi penipuan seperti ketika Yakub ditanya oleh Ayahnya dengan pertanyaan yang sama. Tidak ada lagi yang ditutupi, yang ada adalah pengakuan dan ketelanjangan diri di hadapan Tuhan. Yakub menjawab “aku Yakub”, seumur hidupku aku telah menjalani kehidupan sebagai seorang “Yakub”, seorang penipu, perebut, perampas, seorang yang membuat strategi, perhitungan dengan kekuatan dan kehebatanku sendiri. Tetapi di sini, Yakub mengaku di hadapan Tuhan bahwa dia adalah seorang “Yakub”.

John Calvin mengatakan “There is no knowledge of self without the knowledge of God.” Di sinilah Yakub mengakui, menyadari akan dirinya di hadapan Tuhan. Dia mengaku siapa dirinya, seorang penipu, yang membuat strategi, yang memikirkan segala sesuatu bagi dirinya sendiri. Dia berjuang melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya yang paling dalam. Tetapi walaupun terus dia mendapatkan apa yang ada di dunia ini, di dalam hatinya yang paling dalam tetap kosong dan tidak pernah mendapatkan kedamaian.

Sampai pada momen ini ketika dia bertemu dengan Tuhan, dia menyadari hanya dengan anugerah dan kasih dari pada Tuhan yang dapat memenuhi jiwa dan kebutuhannya yang paling dalam. Maka dia tidak perduli kalau dia harus mati, aku tidak akan melepaskan engkau pergi kalau engkau tidak memberkati aku. Memang aku adalahYakub, tetapi yang aku butuhkan adalah anugerah dan kasih-Mu semata-mata. Yakub kemudian diberkati, menjadi orang yang pincang seumur hidup, tetapi hatinya menjadi hati yang begitu penuh. Yakub menjadi orang yang takluk kepada Tuhan tetapi justru di situlah kemenangan dari pada hidupnya. Yakub menjadi seorang yang begitu lemah, tetapi secara rohani dia menjadi seorang yang begitu kuat.

Apa yang dialami Yakub menjadi gambaran bagi hidup kita sekarang ini. Bahwa kita adalah orang-orang yang boleh takluk kepada Tuhan, orang-orang yang boleh percaya kepada Kristus yang sudah mati bagi kita. Anugerah Tuhan telah dinyatakan kepada kita yang telah mati bagi kita.

Yesus Kristus adalah the true and better Jacob. Kalau Yakub berkata aku tidak akan melepaskan Engkau pergi kecuali Engkau memberkati aku, Tuhan; maka Tuhan Yesus Kristus betul-betul mati di atas kayu salib untuk memberkati kita. Ada suatu gambaran di dalam Yesaya yang menggerakkan hati saya (lihat Yes 49:15-16):

“(15) Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

(16) Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.”

Ini adalah gambaran kasih yang luar-biasa.

Yes 49:15 Tuhan menggambarkan kasih yang begitu puncak dengan kasih seorang ibu kepada anaknya. Bagaimana seorang ibu akan melakukan apa saja untuk anaknya, tetapi Alkitab di sini mengatakan dapatkah seorang ibu melupakan bayinya, sekalipun relasi yang begitu puncak antara manusia ini bisa diputuskan, Aku Tuhan sekali-kali tidak akan melupakan engkau. Ini adalah gambar kasih yang luarbiasa.

Tetapi Yes 49:16 menggambarkan sesuatu yang lebih lagi: Lihat Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku, dalam terjemahan Inggris “engraved”, seperti diukir di atas telapak tangan-Nya.

Di dalam konteks perjanjian lama, kadang-kadang nama seorang tuan itu di tattoo di tangan seorang budak. Ketika budak itu akan kabur, maka orang-orang akan melihat tangannya dan tahu bahwa dia adalah seorang budak, dia memiliki tuan yang harus kembali kepada tuannya. Tetapi yang menarik di sini adalah bukan nama Tuhan yang ditulis di tangan kita. Tuhan mengatakan “Aku telah mengukir namamu di telapak tangan-Ku.” Kata yang dipakai untuk mengukirkan juga bisa dimengerti sebagai paku yang ditusuk sebagai tanda kasih-Nya kepada kita. Bahwa kita adalah milik dia.

Tentu ini mengingatkan kita ketika Tomas tidak percaya sampai dia melihat lubang ditangan-Nya dan menaruh jarinya di lambung-Nya (lihat Yoh 20:24-29). Maka ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Tomas, Dia mengatakan “Lihatlah tangan-Ku yang berlubang, Tomas, taruhlah jarimu di lambung-Ku yang berlubang.” Maka Tomas sadar dan bersujud di hadapan-Nya, “Ya Tuhanku, Ya Allahku!”

Ketika kita menerima perjamuan suci, biarlah kita mengingat sekali lagi tubuh Kristus yang sudah dipakukan di atas kayu salib bagi kita. Darah-Nya yang sudah dicurahkan bagi kita, menjadi tanda kasih-Nya bahwa kita adalah milik-Nya. Yang dikerjakan oleh Kristus adalah memberikan sesuatu kebutuhan yang paling dalam bagi jiwa kita, yang menjadikan kita anak-anak-Nya. Ketika kita makan roti dan anggur, biarlah lidah rohani kita sungguh-sungguh menyadari bahwa ini adalah tubuh Kristus yang dipecahkan bagi kita, darah Kristus yang sudah dicurahkan bagi kita, yang sudah memberikan yang paling penting di dalam hidup kita, yang menjadikan kita anak-anak Bapa. Kristus telah memberikan kasih-Nya yang terbesar sehingga kita dapat berhadapan muka dengan muka dengan Tuhan melalui Kristus.

Biarlah kita diingatkan sekali lagi atas kasih Tuhan yang begitu besar, menyadari bukan karena perbuatan, perjuangan, strategi kita sendiri kita dapat memenuhi kebutuhan kita yang paling dalam. Tetapi karena semata-mata karena anugerah Tuhan di dalam hidup kita. Seperti Yakub menyadari hanya karena anugerah Tuhan dia boleh bertemu dengan Tuhan dan boleh menerima kasih yang paling penting. Biarlah hidup kita boleh berubah seperti Yakub. Setelah menerima anugerah dari Tuhan dan hanya ketika kita telah menerima kasih-Nya, maka kita boleh mengasihi orang-orang seperti Kristus telah mengasihi kita.

Biarlah kita menjadi anak-anak Tuhan yang lebih rajin melayani Tuhan. Biarlah kita berdoa kepada Tuhan memohon beri hati yang lebih mengasihi-Mu, karena Engkau telah mengasihi kita yang terlebih dahulu. Biarlah kita berdoa Tuhan beri hati yang lebih mengasihi orang-orang di sekeliling kita, karena Engkau terlebih dahulu sudah mengasihi kita. Biarlah kita berdoa supaya kita lebih rajin, berjuang dan berkorban di dalam hidup kita, meneladani gembala kita Pdt Stephen Tong, yang di masa tuanya terus berjuang sampai nafas penghabisan. Melihat hamba-hamba Tuhan yang lain yang sama-sama berjuang di dalam gerakan GRII yang indah ini, dengan para penatua, pengurus bekerja bergandengan tangan untuk bekerja bagi pekerjaan Tuhan yang begitu besar di tengah-tengah dunia ini.

Biarlah kita berjanji untuk lebih mengasihi Tuhan dan sesama, berjuang di dalam waktu dan hidup yang masih Tuhan berikan kepada kita, berjuang dengan maksimal dengan segala kesempatan yang Tuhan berikan. Melalui semuanya itu, kita akan melihat lebih lagi Tuhan memberkati, bekerja, dan memimpin hidup kita. Biarlah kita menjadi lebih taat kepada Tuhan, semakin bertanggung jawab dalam segala pelayanan yang Tuhan percayakan. Lebih mengasihi suami/istri dan anak-anak, lebih melayani mereka, semakin rajin berdoa, merenungkan firman Tuhan, dan semakin berkorban bagi pekerjaan Tuhan. Melalui semuanya itu kita akan melihat tangan Tuhan, penyertaan Tuhan, anugerah-Nya, sukacita-Nya memenuhi hidup kita.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya