Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Christ, the Coming King (KKR Natal 2018 GRII Melbourne)

Ibadah

Christ, the Coming King (KKR Natal 2018 GRII Melbourne)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sabtu, 17 November 2018

Bacaan Alkitab: Luk 1:26-38

Dr Seuss adalah seorang penulis buku anak-anak. Dalam salah satu bukunya yang berjudul Yertle The Turtle, diceritakan ada seorang raja kura-kura yang memerintah dalam satu kolam. Raja ini memerintahkan semua kura-kura untuk membuat istana baginya. Semua kura-kura berkumpul dan menumpuk menjadi satu membentuk istana dan ada 1 kura-kura kecil bernama Yertle berada di bagian yang paling bawah. Ketika semua kura-kura ini telah membentuk istana yang tinggi, Yertle kura-kura kecil yang berada di bagian yang paling bawah melakukan sesuatu yang sederhana, yaitu dia bertahak (burp). Maka kemudian runtuhlah semuanya. Sesuatu yang kelihatan begitu kecil dan sederhana, bisa memberi dampak yang sangat besar.

Kelahiran Yesus Kristus adalah kelahiran yang sangat sederhana. Tetapi kelahiranNya telah menggoncang kerajaan yang besar termasuk raja Herodes dan seluruh Yerusalem. Allah menegaskan sifat paradoks dari kelahiran, kehidupan, dan kematian Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah raja sesungguhnya, tetapi Dia lahir di kandang dan yang datang hanyalah gembala-gembala yang begitu remeh. Ketika Yesus mati, Dia mati sebagai seorang pemberontak di atas kayu salib. Di atas kayu salib, Yesus kelihatan begitu lemah, kalah dan tak berdaya. Tetapi sesungguhnya di atas kayu salib Dia sedang menghancurkan kuasa yang terbesar yang mencengkram seluruh hidup manusia dari sejak Adam hingga sekarang, yaitu kuasa dosa yang dinyatakan melalui kematian manusia. Melalui kebangkitan Kristus, Dia menyatakan kemenanganNya atas kematian, kemenangan-Nya atas dosa yang selama ini menguasai seluruh ciptaan. Kristus adalah hidup itu sendiri sehingga tidak mungkin kematian berkuasa atas Dia. Kebangkitan Kristus dari kematian mengkonfirmasi tujuan Dia datang ke dalam dunia.

Di dalam permulaan pelayanan Tuhan Yesus, Dia mengatakan (lihat Mat 4:17) bertobatlah sebab kerajaan Allah sudah dekat. Setelah Kristus bangkit Dia menyatakan segala kuasa di bumi dan di surga telah diberikan kepadaNya. Dia sesungguhnya adalah raja yang berkuasa atas seluruh alam semesta.

Karena itu biarlah kita semua tunduk dan taat kepada raja yang berdaulat itu. Kristus menyatakan suatu klaim yang dahsyat bahwa segala kuasa di bumi dan di surga telah diberikan kepada Dia. Hal ini diikuti dengan perintah supaya murid-muridNya pergi untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Di sini ada hal yang bersifat paradoks, artinya Kristus memang berkuasa atas seluruh alam semesta tetapi ada aspek yang belum terjadi yaitu belum semua orang tunduk kepada kedaulatan Kristus sebagai raja.

Di satu sisi Kristus menyatakan bahwa kerajaan Allah sudah tiba, tetapi Yesus juga mengajar murid-muridNya untuk berdoa (lihat Matius 6) “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu…..”. Jadi apakah kerajaan Allah itu sudah tiba? Jawabannya adalah sudah dan belum. Kerajaan Allah sudah tiba melalui kedatangan, kematian dan kebangkitan Kristus. Dia adalah Tuhan dan raja di atas segala raja. Tetapi manifestasi dari kerajaanNya itu belum nyata sepenuhnya. Kita masih menunggu langit dan bumi yang baru dimana segala dosa dengan segala akibatnya itu tidak akan ada lagi. Ketika Kristus datang kedua kalinya, Dia akan menghapus semua air mata. Tidak ada lagi kematian, kedukaan, tangisan ataupun kesakitan. Kristus telah berkuasa atas langit dan bumi, tetapi hanya ketika Dia datang untuk kedua kalinya, semua lutut akan bertelut, semua lidah akan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan.

Kita akan melihat dan merenungkan apa yang dikerjakan Maria. Maria adalah seorang yang menundukkan dirinya kepada kehendak Allah, melakukan dan mentaati kehendak Allah. Ini adalah aplikasi dari doa “…datanglah kerajaanMu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga…”. Orang-orang yang mengakui Yesus Kristus adalah raja adalah orang-orang yang mentaati perintah dan kehendakNya, yang menginginkan kehendak Allah itu jadi di bumi seperti di surga. Dalam pembacaan ayat-ayat Alkitab di atas: ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (Lukas 1: 28-29).

Kita melihat hal yang pertama yang menjadi respons dari Maria. Maria berespons dengan pikirannya. Kadang-kadang orang yang tidak percaya kepada Kristus menuduh bahwa orang Kristen itu adalah orang yang percaya saja tanpa berpikir. Kalau kita melihat apa yang dikerjakan Maria, bagaimana respons Maria terhadap berita yang dia terima kita tidak bisa menuduh bahwa dia adalah seorang yang tidak berpikir, khususnya di dalam Luk 1:29. Kata “bertanya di dalam hatinya” memiliki arti dalam bahasa aslinya “to make an audit”, yaitu seperti seorang auditor yang datang, meneliti pembukuan dengan berpikir dan sungguh-sungguh. Kalau kita melihat ayat 34 ini adalah juga respons dari Maria: Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimanakah hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”.  Iman kepada Allah itu adalah respons seluruh hidup kita kepada Tuhan, termasuk dengan pikiran kita. Ketika kita percaya kepada Allah, bukan berarti kita meninggalkan pikiran dan rasio kita, tetapi seluruh keberadaan kita baik pikiran, hati, perasaan, kehendak kita berespons kepada Tuhan. Maria meresponi perkataan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh berpikir. Kita harus bisa membedakan cara memakai pikiran yang benar dan yang salah. Alkitab tidak pernah menolak ataupun meniadakan pikiran kita.

Kalau kita melihat beberapa ayat sebelumnya, di dalam Luk 1:18 dikatakan ada Zakharia yang meresponi perkataan malaikat Gabriel. Malaikat datang kepada Zakharia dan berkata bahwa istri Zakharia yang sudah tua dan mandul itu akan mengandung. Zakharia berespons kepada malaikat dengan berkata, “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya?”. Dalam ayat selanjutnya malaikat itu menghukum Zakharia menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari dimana semuanya ini terjadi karena meragukan dan tidak percaya apa yang dikatakan malaikat itu.

Apakah yang membedakan antara respons Zakharia dengan respons Maria? Bukankah Maria juga meragukan perkataan dari malaikat? Bukankah Maria juga bertanya bagaimana ini bisa terjadi? Kalau kita membaca dan melihat konteksnya, kita akan mengerti ada perbedaan antara keraguan dari Zakharia dengan keraguan dari Maria. Hal ini mewakili bagaimana kita boleh menggunakan pikiran kita sewaktu kita mau mengerti akan kebenaran. Keraguan Maria adalah tanda dari pikiran yang terbuka akan kebenaran; dia bertanya, ingin mengerti lebih lanjut dan rela berubah jika kebenaran itu diberikan kepadanya. Tetapi keraguan Zakharia adalah tanda dari pikiran yang tertutup, keraguannya menunjukkan bahwa dia tidak mau berubah dan tidak mau mendengar. Dia memakai keraguannya sebagai cara untuk mempertahankan kontrol atas dirinya. Ini adalah dua macam keraguan. Tuhan membuka diriNya untuk kita bergumul dan bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam. Tetapi kalau dibalik keraguan dan pertanyaan kita sebenarnya adalah tanda pikiran yang tertutup dan tidak mau menerima apapun meskipun kebenaran itu sudah dibukakan kepada kita, maka hal ini menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Alkitab mengajarkan kepada kita melalui contoh Maria, bagaimana kita boleh bertanya dengan sedalam-dalamnya; kalau pertanyaan itu jujur maka Tuhan akan menjawab pertanyaan kita. Inilah respons pertama dari Maria, dia berespons dengan pikirannya.  

Hal yang kedua adalah Maria berespons secara bertahap. Tahap pertama adalah ketika firman Tuhan datang kepada Maria, dia menjadi heran. Dalam Luk 1:34, Maria bertanya bagaimana mungkin dia mengandung karena dia belum bersuami. Kalau kita betul-betul mengerti berita Injil, maka kita akan tahu berita Injil itu sesuatu yang diluar pikiran manusia, apalagi khususnya pikiran dari dunia manusia modern. Berita firman itu adalah sesuatu hal yang tidak masuk akal bagi manusia modern,

Alkitab sendiri mengajarkan kebodohan berita Injil. Kalau kita betul-betul mengerti yang diberitakan firman Tuhan, maka hal ini adalah sesuatu yang tidak mungkin kita mengerti dari pikiran kita sendiri. Alkitab mengajarkan kepada kita Yesus Kristus menyelamatkan kita melalui kematian-Nya. Ini adalah suatu pikiran yang tidak pernah ada di dalam dunia ini. Karena itu Alkitab mengatakan (lihat 1 Kor 1:23) salib adalah kebodohan bagi orang Yunani. Salah satu inti berita Injil adalah Sola Gratia: kita diselamatkan semata-mata karena anugerah Tuhan. Tidak ada perbuatan, perjuangan, pengorbanan apapun yang bisa membuat kita diselamatkan. Ini adalah pikiran yang sangat sulit diterima oleh manusia modern.

Kita melihat bahwa pertama-tama Maria juga heran dan tidak bisa menerima. Tetapi yang penting disini adalah meskipun Maria heran dia tidak menutup hatinya, pikirannya; dia mau mendengar lebih lanjut dan tidak menghentikan percakapan. Dan inilah respons tahap yang kedua dari Maria: ketika malaikat itu terus memberitakan apa yang dikerjakan oleh Allah melalui dia, maka Maria mulai menerima. Luk 1:38 mengatakan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Disini Maria sebenarnya sedang menyatakan bahwa meskipun dia tidak mengerti seluruhnya, dia akan mengikuti kemana hal ini akan membawanya.

Ada satu ketaatan, tapi ketaatan yang terbatas. Ini adalah satu tahap yang penting untuk sebagian dari kita. Mungkin ada di antara kita yang belum sepenuhnya percaya kepada Kristus, tetapi bergumul merasa ada kebenaran di dalam Yesus Kristus, ada gerakan di dalam hati untuk mendengar akan Injil Yesus. Dalam tahap kedua ini Maria belum sungguh-sungguh percaya tetapi dia terbuka dan mulai mentaati secara terbatas sampai masuk ke dalam tahap yang ketiga: Maria baru sungguh-sungguh beriman.

Ini terjadi ketika Maria bertemu dengan Elisabet sepupunya, semuanya baru menjadi jelas. Kalau kita membaca Luk 1:41-45 maka kita bisa melihat apa yang terjadi di situ. Ketika Maria bertemu dengan Elisabet, Maria baru sadar bahwa seluruh perkataan dari malaikat itu adalah benar. Dia juga  baru sadar bahwa sesuatu yang tidak mungkin terjadi juga sudah terjadi di dalam hidup Elisabet sepupunya. Maria tahu bahwa Elisabet sudah tua, mandul dan tidak mungkin punya anak. Malaikat Tuhan sudah memberitahukan Maria mengenai Elisabet yang sedang mengandung.

Perkataan Elisabet itu meneguhkan Maria, karena itu Maria berespos dengan segenap hatinya. Dalam Luk 1:46-47 Maria berkata: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,…”. Ini adalah salah satu ciri dari iman yang sejati. Iman yang sejati di dalam Kristus itu melampaui pikiran kita, tidak membuang pikiran kita tetapi memakai pikiran kita dengan penuh seperti Maria berespons dengan seluruh pikirannya. Iman di dalam Kristus itu bukan hanya berbicara kepada pikiran kita, tetapi berkata kepada hati kita yang terdalam, menggerakkan kehendak kita.

Tidak ada orang yang percaya kepada Kristus hanya dengan pertimbangan secara rasionil. Iman di dalam Kristus adalah bukan sesuatu proses yang bisa kita kontrol.  Salah satu ciri iman yang sejati adalah bahwa ada satu kesadaran akan kuasa yang jauh lebih besar yang sedang berbicara kepada kita; kuasa itu mendesak hati kita yang terdalam. Kecuali Allah bekerja membuka hati kita terdalam dan menyatakan diriNya kepada kita maka kita tidak mungkin percaya kepadaNya. Maria akhirnya berespons dengan segenap hatinya.

Ketika Luk 1:46-47 berbicara mengenai jiwa yang memuliakan Tuhan dan hati yang bergembira, itu bukan berbicara mengenai 2 aspek yang berbeda. Tetapi Alkitab berbicara mengenai bagian terdalam di dalam diri Maria yang telah digerakkan oleh Allah. Maria tidak sedang mempertimbangkan untung dan rugi, tetapi seluruh dirinya digerakkan oleh apa yang Tuhan sedang kerjakan, pikirannya itu diyakinkan oleh kebenaran, perasaannya dikuasai oleh Roh Kudus dan dia menyerahkan seluruh kehendaknya kepada Allah. Maria menyadari anugerah yang besar yang diberikan kepada dirinya dan dia berespons dengan segenap hatinya.

Natal adalah penggenapan dari janji Tuhan yang sudah dinyatakan beribu-ribu tahun sebelumnya. Maria sadar bahwa kehendak Tuhan yang sudah dijanjikan dan direncanakan ribuan tahun itu sekarang digenapi di dalam dirinya.

Allah telah menyatakan anugerahNya yang besar kepada kita semua. Firman yang kekal itu telah datang ke dalam dunia menjadi manusia. Dia datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa melalui kematian dan kebangkitanNya. Natal adalah berbicara tentang apa yang Allah telah kerjakan bagi manusia berdosa: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Marilah kita sungguh-sungguh percaya dan beriman kepada Kristus dan kita berdoa Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita agar hati kita digerakkan oleh Tuhan dan kita semua boleh sungguh-sungguh percaya di dalam Kristus dan kita boleh berespons dengan segenap hati seperti Maria, menyadari anugerah Tuhan yang besar dengan seluruh pikiran, hati kita boleh percaya dan seluruh kehendak kita taklukan kepada Tuhan, raja di atas segala raja. Biarlah kita menjadi orang-orang yang sungguh beriman kepada Kristus dan mengisi seluruh sisa hidup kita dengan mengakui bahwa Kristus adalah raja yang telah lahir dan raja yang akan datang. 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya