Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Sahabat Kristus

Ibadah

Sahabat Kristus

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 28 Oktober 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 15:9-15

Orang yang paling kasihan adalah orang-orang yang tidak berani mengambil keputusan yang besar. Di satu sisi kita yang sudah percaya tidak bisa hidup di dalam dosa. Tetapi di sisi lain kita tidak mau berkorban kepada Tuhan. Kita tidak mau berkubang di dalam dosa, tetapi kita tidak sungguh-sungguh menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Ini adalah keadaan yang menyedihkan, tetapi sayangnya banyak orang Kristen yang hidup seperti demikian. Tuhan Yesus mengatakan (lihat Yoh 15:9-11) “Tinggal di dalam kasih-Ku dan sukacita-Ku akan memenuhi engkau.”

Kali ini kita akan merenungkan 15:12-15. Ini adalah farewell discourse, di mana Tuhan Yesus terus mendorong murid-murid-Nya untuk mentaati dan hidup di dalam kebenaran Tuhan. Khususnya perintah-Nya untuk mengasihi satu sama lain. Sehingga kita sungguh-sungguh mengerti dan mengalami anugerah Tuhan dalam ketaatan kita kepada-Nya.

Tema dari Yoh 15:13-15 adalah “Sahabat Kristus”, ayat-ayat ini mengatakan “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”

Alkitab terjemahan Indonesia dengan tepat menggunakan istilah sahabat. “Sahabat” itu lebih daripada friend; kata sahabat lebih menggambarkan realita sebagai teman yang sangat-sangat dekat. Di dalam konteks bacaan ini, kedekatan itu seperti kedekatan ranting-ranting kepada pokok anggurnya.

Apa artinya menjadi sahabat Kristus? Ada tiga hal yang kita dapat renungkan melalui pertanyaan ini.

  1.  Menjadi Sahabat Kristus berarti menerima pemberian yang terindah dan berharga.

Yesus dalam Yoh 15:13 mengatakan “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Kalau saudara perhatian ayat in ada suatu yang sangat menarik: betulkah tidak ada kasih yang lebih besar dari pada seseorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya?? Bukankah kalau kita memberikan nyawa kita kepada musuh kita itu adalah kasih yang lebih besar daripada memberikannya kepada sahabat kita. Pemikiran ini sebenarnya juga ada di Rom 5:6-10. Saudara melihat dalam Roma 5:6, “Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka”, dan juga Roma 5:10 menegaskan “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya”. Bukankah mati untuk musuh kita semakin jelek dan jahatnya musuh kita adalah kasih yang lebih besar daripada mati untuk sahabat kita.

Ini adalah suatu contoh di mana kita memiliki pre-conception (asumsi). Setiap kali kita membaca Alkitab, kita memiliki pre-conception. Adalah sangat bagus kalau kita membongkar pre-conception kita. Kebenaran Alkitab tidak hanya memberikan informasi tetapi bisa membongkar asumsi-asumsi kita, membongkar hidup kita. Kalau saudara membaca Alkitab dan belum mengalami hal ini, saudara belum betul-betul mendalami Alkitab. Dengan membaca Alkitab secara dalam, banyak asumsi-asumsi hidup kita yang salah yang akan dibongkar.

Di dalam hal di atas, ada asumsi yang tidak salah karena itu ada dalam Roma 5. Tetapi kalau kita memakai konsep dari Rom 5, bagaimana Kristus mati untuk musuh-musuh-Nya dan menerapkan asumsi yang sama dalam Yohanes 15 maka kita melakukan hal yang salah. Kita harus berpikir lebih dalam apa yang dimaksud Yohanes dalam Yoh 15 ini. Kita dapat melihat Yoh 15 dengan sudut pandang yang salah. Kita bisa terjebak dengan memfokuskan pada kata “sahabat-sahabat-Nya”, dan mengkontraskannya dengan “musuh-Nya”.  Padahal ayat ini bukan memfokuskan pada “sahabat-sahabat-Nya” tetapi pada kata “memberikan nyawa-Nya.” Kalau fokusnya adalah pada perbandingan antara kata sahabat da musuh maka jelas kasih untuk musuh adalah lebih besar daripada kasih untuk sahabat. Tetapi fokusnya adalah bukan itu. Fokusnya adalah perbandingan antara memberi secangkir air atau memberi nyawa kepada sahabat kita. Dalam bagian Alkitab yang lain Yesus juga mengatakan (lihat Mat 25:35-42) jika engkau memberi minum kepada seorang yang hina ini engkau telah memberikannya untuk Aku. The greater love jelas menunjukkan bahwa menyerahkan nyawa kepada seorang sahabat adalah jauh lebih besar daripada memberikan secangkir minum kepada seorang sahabat. Jadi yang disebut sebagai “tidak ada kasih yang lebih besar” adalah kasih apa yang dapat Kristus berikan kepada sahabat-sahabatnya, yaitu Dia memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Jadi Kristus mengasihi sahabat-sahabat-Nya dengan kasih yang terbesar. Apa yang Kristus kerjakan di sini adalah sesuatu yang ultimate bagi sahabat-sahabat-Nya.

Kita patut bertanya kepada diri kita sendiri, apakah engkau sahabat Kristus? Kalau engkau sungguh-sungguh sahabat Kristus, maka Dia telah memberikan nyawa-Nya kepadamu. Tidak ada yang lebih besar yang bisa Kristus lakukan bagi kita.

Alkitab mengatakan (Roma 8:32) “Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang telah menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Jikalau kita adalah sahabat Kristus maka biarlah kita menyadari bahwa Dia sudah memberikan pemberian yang terbaik bagi kita yaitu nyawa-Nya sendiri.

 

2.    Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

 Tuhan Yesus kemudian menyatakan arti daripada “sahabat” (Yoh 15:14)

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” Kita harus mengerti dengan tepat arti ayat ini, khususnya kata “jikalau” dalam ayat ini. Kalau kita mengerti kata “jikalau” ini dengan tepat, maka ini adalah Injil yang begitu indah. Tetapi kalau kita mengkaitkan kata “jikalau” ini dengan salah, maka kita bukan mendapatkan ajaran Injil, tetapi ajaran bidat. Kalau kita membaca sekilas kita bisa jatuh kepada kesalahan yang sangat fatal.

Kita bisa mengerti Yoh 15:14 dengan dua pengertian:

  • Kata “jikalau” bisa dimengerti sebagai suatu kondisi/syarat. Secara sekilas kita bisa mengerti secara demikian: kita melakukan apa yang Yesus perintahkan adalah menjadi syarat kita menjadi sahabat Kristus, dan dengan menjadi sahabat Kristus kita dapat menerima manfaat kematian Kristus. Secara pengertian sehari-hari kita bisa mengambil contoh ini: jikalau kamu bisa menjuarai kompetisi di sekolah kamu bisa mengikuti kompetisi antar sekolah. Jadi juara kompetisi di sekolah menjadi syarat mengikuti kompetisi antar sekolah. Ketika kita mengerti ayat ini dengan pengertian ini maka akan ada problem, karena menjadi sahabat Yesus ada syaratnya.
  • Kata “jikalau” bisa dimengerti sebagai akibat. Contoh sehari-hari untuk pengertian ini adalah jikalau demammu tidak turun-turun selama tiga hari berarti kamu mengalami infeksi. Artinya demammu itu bukan syarat tetapi bukti atau akibat kamu mengalami infeksi. Ini adalah pengertian yang tepat dari Yoh 15:14. Mentaati perintah Tuhan adalah bukti dan akibat bahwa kita adalah sahabat Kristus. Mengapa kita bisa mengambil kesimpulan ini? Yoh 15:12 mengkonfirmasi kesimpulan ini “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Dalam Yoh 15:14 kata “perintah” adalah perintah untuk saling mengasihi, tetapi dalam Yoh 15:12 Yesus menegaskan perintah untuk saling mengasihi adalah seperti Aku telah mengasihi kamu. Ini berarti kita menjadi sahabat Kristus dan menerima manfaat kematiaan-Nya bukan karena kita mengasihi Tuhan kita, tetapi karena Kristus telah mengasihi kita dan telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Kristus sebagai sahabat kita telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, maka sebagai hasil dan akibatnya kita akan berbuat apa yang Kristus perintahkan kepada kita.

Bukan karena ketaatan kita dalam mengasihi maka Kristus mengasihi kita, tetapi karena Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu, maka akibatnya adalah kita harus mengasihi saudara-saudara kita.

Apakah engkau sahabat Kristus? Kalau engkau sahabat Kristus maka engkau telah menerima pengorbanan terbesar Kristus. Artinya Kristus telah mengasihi engkau terlebih dahulu sebelum engkau mengasihi Dia. Kristus menegaskan di sini, kalau engkau sahabat Kristus maka engkau akan mengasihi saudara-saudara-mu, seperti Kristus telah mengasihi kita dan telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

Inilah perintah Tuhan bagi kita, bukan suatu perintah yang diberikan supaya kita taat dan supaya kita menerima kasih. Tetapi karena Dia sudah mengasihi kita maka kita patut mengasihi saudara-saudara kita.

Ada banyak orang di luar Gereja yang belum mengalami kasih Kristus, kalau kita sudah mengerti kasih Kristus dan kita adalah sahabat Kristus, maka kita akan pergi membagikan kabar baik itu kepada orang-orang di sekitar kita.  

Ada suatu film yang berjudul “Tortured for Christ”, suatu film yang sangat menggerakkan hati. Film ini adalah film true-story tentang Richard Wumbrant, seorang Kristen yang ditangkap oleh pemerintah komunis Romania waktu itu. Banyak orang Kristen yang ditangkap dan disiksa, ada banyak cerita yang sangat luar biasa. Ada suatu momen yang sangat menggerakkan hati. Ketika istrinya sudah disiksa sedemikian rupa dan anaknya juga sudah mati, dan dia sendiri sudah disiksa dengan segala cara. Dengan kepada di bawah dan dihajar telapak kakinya sampai begitu kesakitan. Tetapi setiap kali dia masuk ke selnya, dia terus berdoa, dan tidak melakukan kekerasan apapun dan hanya terus berdoa. Tetapi hal ini membuat orang komunis gila. Setelah mereka menyiksa orang-orang Kristen, mereka melihat orang-orang Kristen masih berdoa, dan ini membuat mereka marah sekali. Suatu kali, mereka setelah menghajar Richard Wumbrant, mereka melihat dia berdoa, dan mereka bertanya “kamu sedang berdoa untuk apa?, mengapa masih berdoa, anakmu sudah mati, istrimu sudah mati, engkau sebentar lagi mati, tidak ada Allah, kamu berdoa untuk siapa?” Maka Richard Wumbrant menjawab “Saya sedang berdoa untuk kamu.” Mereka kaget dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Richard Wumbrant dalam keadaan yang begitu parah masih berdoa bagi mereka yang menganiaya dia.

Inilah kekuatan daripada sahabat-sahabat Kristus. Betapa Kristus mengasihi orang-orang Kristen ini, dan sudah menyerahkan nyawa-Nya. Kasih-Nya itu menggerakkan hati orang-orang Kristen ini untuk mengasihi bahkan orang-orang yang menganiaya mereka.

 

3.    Persahabatan dengan Kristus tidak bersifat timbal balik (reciprocal)

Persahabatan kita sebagai sahabat Kristus tidak bersifat timbal-balik/reciprocal/setara. Kita disebut sebagai sahabat Kristus, Yoh 15:14 kamu adalah sahabat-Ku; Yoh 15:15 Aku menyebut kamu sahabat, dan banyak bagian Alkitab yang lain menyebutkan kita sebagai sahabat Kristus. Tetapi tidak pernah Alkitab menyebutkan Kristus adalah sahabat kita.

Mengapa demikian? Meskipun ada kebenaran di dalam kalimat Kristus adalah sahabat kita, apalagi yang dipopulerkan dalam beberapa lagu rohani, seperti what a friend we have in Jesus. Tetapi Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa Yesus adalah sahabat kita. Meskipun itu tidak salah, tetapi kita harus mengertinya dengan tepat. Persahabatan kita dengan Kristus adalah persahabatan yang tidak sejajar, persahabatan yang tidak bersifat reciprocal.

Kalau kita melihat Yoh 15:14 “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” Kalau saudara terapkan ini kepada sahabat mu sekarang, maka saudara akan sadar bahwa ini tidak equal. Saudara tidak akan berkata kepada teman saudara kamu adalah sahabatku kalau kamu menuruti apa yang kuperintahkan kepadamu. Seorang sahabat justru tidak mengatakan itu. Apalagi kita tidak mengatakan kalimat itu kepada Tuhan. Maka kita boleh mengerti bahwa persahabatan kita dengan Kristus adalah persahabatan yang real, yang sejati, tetapi tidak equal. Ini adalah persahabatan yang unik, yang satu-satunya bisa terjadi antara sang pencipta dengan ciptaan-Nya.

Ada paling sedikit lima keunikan dari persahabatan Kristus dengan kita:

  • Kristus mengasihi kita dengan kasih yang terbesar; kita tidak mengasihi Kristus dengan kasih yang terbesar.
  • Kristus memberikan nyawa-Nya bagi kita; kita tidak memberikan nyawa kita kepada Kristus.
  • Kita sebagai sahabat Kristus, kita mentaati Dia.
  • Ketaatan kita kepada Kristus bukan ketaatan sebagai budak, tetapi ketaatan sebagai sahabat. Yoh 15:15 menyatakan “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Perbedaan budak dan sahabat adalah bukan di dalam taat atau tidak taat. Tetapi bedanya adalah yang satu taat tetapi tidak tahu, yang satu lagi adalah taat tetapi mengerti dan mengasihi sahabatnya. Kristus telah memberitahukan kepada kita segala sesuatu yang telah Dia dengar dari Bapa, kita tidak memberitahukan segala sesuatu kepada Kristus. Kita adalah sahabat Kristus karena Kristus telah memberikan segala sesuatu yang telah Dia terima dari Bapa.

Ini menekankan bahwa ketaatan kita kepada Kristus bukan ketaatan “pokoknya” sebagai budak tanpa pengertian. Tetapi suatu ketaatan dengan pengertian. Salah satu pengertian yang penting ketika kita mentaati Tuhan adalah bahwa perintah-perintah Kristus itu adalah baik bagi kita. Ketika kita mentaati seperti ini maka kita mentaati dengan penuh suka cita dan bukan karena terpaksa. Kalau kita sahabat Kristus maka Dia memiliki our best interest in His heart. Kita memang harus mentaati Dia karena Dia Tuhan dan kita adalah sahabat-Nya, tetapi perintah-perintah-Nya adalah baik bagi kita. Perintah-perintah-Nya adalah untuk memuliakan diri-Nya karena Dia adalah Allah, raja di atas segala raja. Tetapi perintah-perintah-Nya juga adalah untuk kebaikan kita. Sepanjang sejarah, manusia tidak taat kepada Tuhan karena manusia berpikiri bahwa perintah-Nya itu adalah seperti perintah kepada budak. Seperti anak yang bungsu dan juga anak yang sulung dalam cerita anak yang hilang; kedua-duanya tidak percaya bahwa akan perintah bapanya adalah baik bagi mereka. Alkitab menyatakan bahwa ketika kita tidak percaya bahwa Tuhan memiliki our best interest in His heart, kita sudah tertipu oleh setan. Kita adalah sahabat Kristus karena kita tahu Dia mempunyai rencana yang terbaik bagi kita. Dia sudah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, apa lagi yang dapat Dia berikan bagi kita. Biarlah kita mentaati Tuhan karena menyadari Dia memiliki hati yang terbaik bagi kita. 

  • Kita diajak masuk ke dalam keluarga Kristus; kita tidak mengajak Yesus ke dalam keluarga kita. Yoh 15:15 bagian terakhir menyatakan “Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Ini adalah Bapa dengan Anak, dan kita adalah sahabat-sahabat daripada Anak. Maka sahabat-sahabat-Nya datang diundang ke dalam rumah Bapa. Karena kita adalah sahabat-sahabat daripada Anak, maka kita diajak masuk ke dalam ruang-ruang rumah-Nya, masuk ke dalam meja makan untuk menikmati persekutuan kasih Bapa dengan Anak.

Apakah engkau sahabat Kristus? Biarlah kita sungguh-sungguh menyadari betapa Kristus mengasihi kita, dan segala rencana-Nya bagi kita adalah sesuatu yang baik bagi kita. Saya harap kita semua bisa mengatakan, ya kita adalah sahabat Kristus, menyadari bahwa Engkau sudah mati bagi kita, kita akan taat akan perintah-Mu, sebagai sahabat-Mu, kita akan mengasihi sebagaimana Engkau telah mengasih kita. Khususnya kita akan mengasihi orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang tidak layak untuk dikasihi, orang-orang yang menyebalkan, dan menyakiti hati kita. Seperti kita yang sudah tidak layak menerima kasih Kristus. Biarlah kita boleh mengasihi sesama kita seperti Kristus telah mengasihi kita.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya