Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Harga Mengikut Kristus

Ibadah

Harga Mengikut Kristus

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 11 November 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 15:18-27

Pada bulan oktober 2018, supreme court Pakistan membebaskan Asia Bibi dari tuntutan hukuman mati. Supreme court ternyata menemukan bahwa kesaksian saksi-saksi itu kontradiksi satu sama lain, tidak konsisten dalam kesaksian mereka. Pembebasan ini menjadi berita yang besar karena Asia Bibi dituntut hukuman mati, dituduh menghujat agama Islam dan nabi mereka. Sebenarnya dia hanya memberikan pembelaan terhadap iman Kristen ketika dia dikafir-kafirkan, setelah minum dari cangkir oleh yang pernah dipakai oleh orang-orang Islam. Dia mulai membela diri, menyatakan tentang imannya, ditengah-tengah orang yang mengkafir-kafirkan dia, dan beritanya menjadi viral. Dia ditangkap, dianiaya, keluarganya dianiaya, diadili, dijatuhi hukuman mati dan dimasukkan ke dalam penjara. Sudah delapan tahun dia dipenjara menunggu hukuman mati. Sampai pada tahap terakhir, supreme court menyatakan dia tidak bersalah. Keputusan bebas itu membuat ribuan orang turun ke jalan memprotes keputusan itu.

Banyak orang Kristen di tengah-tengah dunia ini juga mengalami aniaya seperti ini. Biarlah kita sadar dan ingat bahwa kita dan mereka juga anggota keluarga Tuhan. Mereka juga our brother and sister in Christ. Sewaktu kita beriman di dalam Kristus, itu artinya kita dipersatukan dengan seluruh orang Kristen di seluruh dunia, bahkan di sepanjang jaman. Kita sesungguhnya hidup dari darah yang sama, kita lahir baru dari Roh yang sama, yang memberikan lahir baru kepada kita, disucikan oleh darah yang sama. Kita patut mendoakan mereka juga.

Apa yang terjadi pada Asia Bibi dan mereka yang dianiaya adalah sesesungguhnya contoh dari apa yang Tuhan Yesus sudah peringatkan akan terjadi, sudah terjadi dan bahkan akan terus terjadi.

Bacaan Alkitab kali ini adalah separuh kedua dari  Yoh 15. Separuh pertama dari  Yoh 15 berbicara tentang privilege dan berkat yang kita terima dalam mengikuti Kristus. Separuh kedua berbicara tentang harta yang harus dibayar ketika kita mentaati Tuhan.  Privilege/berkat, dan harga yang harus dibayar adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Privilege dan anugerah selalu diikuti dengan perintah, yang di dalamnya ada harga yang harus di bayar, ada tantangan, ada pergumulan yang harus kita dihadapi. Sebaliknya segala perintah yang Tuhan berikan, selalu didahului dan diikuti dengan berkat, privilege, dan janji-janji dari Tuhan.

Berkat yang Tuhan berikan bukan hanya untuk kita nikmati dan syukuri saja, tetapi berkat yang Tuhan berikan selalu diikuti dengan tuntutan, perintah, supaya kita taat dengan harga yang harus dibayar. Kalau berkat itu tanpa diikuti perintah, maka kita akan menjadi orang-orang yang egois, yang mementingkan segala kebaikan yang kita terima tanpa mengerti ada kehendak panggilan Tuhan yang harus kita taati, khususnya ketika kita masih hidup di dalam dunia yang berdosa ini.

Sebaliknya kalau kita hanya mengerti akan perintah, tuntutan dan harga yang harus dibayar, tanpa mengerti ada berkat yang terlebih dahulu dan yang akan menyertai kita, maka perintah dan harga itu menjadi terlalu berat dan tidak mungkin kita mampu melakukannya. Kita akan menjadi frustasi, burnt out dan akhirnya gagal dalam melakukan kehendak Tuhan.

Dua hal yang harus ada di dalam hidup kita: ada berkat Tuhan dan ada perintah. Sewaktu kita berjuang mentaati kehendak Tuhan, ada berkat Tuhan dan kita semakin mengenal Dia, semakin taat lagi kepada Dia. Kita terus bertumbuh sampai seluruh kehendak-Nya terjadi di dalam hidup kita, sehingga kesukaan kita berlimpah-limpah di dalam Dia. Inilah yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

Yoh 15:18 mengatakan harga ini: “Jikalau dunia membenci kamu ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu”.

Kata “jikalau” itu mengacu ke sesuatu yang akan terjadi, yaitu: dunia pasti akan membenci kamu.

Yoh 15:19-20 selanjutnya menjelaskan “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu.”

Yoh 15:18-20 di atas memuat harga yang harus dibayar dan juga privilege. Tentu penekanannya adalah pada harga yang harus dibayar, tetapi di balik perkataan itu, asumsinya adalah karena adanya berkat dan penyertaan Tuhan yang dialami oleh anak-anak Tuhan.

Kita perlu mengingat bahwa penderitaan yang dimaksud di sini adalah penderitaan yang kita alami sewaktu kita mengikut Kristus. Bukan sembarang penderitaan, apalagi bukan penderitaan karena dosa kita. Penderitaan karena nama-Ku seperti yang ditegaskan dalam Yoh 15:21 “Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.” Kalau kita menderita karena nama Kristus, karena iman kita di dalam Kristus, karena hidup kita yang mentaati, meneladani Kristus, maka Alkitab menegaskan dan mengkonfirmasi bahwa kita adalah murid-murid Kristus yang sejati.

Karena hal inilah menjadi alasan kita bersukacita ketika kita dianiaya dan dibenci yaitu karena nama Kristus. Inilah yang terjadi pada para rasul seperti yang diceritakan dalam Kisah Rasul 5. Petrus dan beberapa rasul yang lain pergi memberitakan Injil, menyatakan Yesus adalah Mesias, dan orang-orang Yahudi mulai marah sekali kepada mereka, menangkapi dan menganiaya mereka. Tetapi karena ada banyak orang yang bersimpati kepada para rasul dan berita yang mereka beritakan maka orang-orang Yahudi tidak berani melakukan hal-hal yang lebih jauh kepada Petrus dan rasul-rasul lainnya. Orang-orang Yahudi kemudian melepaskan mereka setelah mencambuk dan memberi peringatan agar jangan lagi memberitakan Yesus dan Injil. Kisah 5:41 mengatakan Petrus dan rasul-rasul yang lain pergi dari penjara dengan sukacita karena mereka dianggap layak menderita oleh karena nama Yesus. Penderitaan yang dialami menegaskan bahwa mereka adalah pengikut Kristus. Hal ini menjadi sumber sukacita di dalam hidup anak-anak Tuhan.

Penekanan dalam Yoh 15 adalah bagaimana kita harus mengantisipasi dan mengerti bahwa dunia akan membenci pengikut-pengikut Kristus.

Namun sebelumnya kita perlu mengerti apa yang Yohanes maksudkan dengan kata “dunia”.  Di dalam Yoh 15:19 di dalam satu ayat ada lima kali kata “dunia”. Kata ini menjadi sangat penting bagi Yohanes. “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” Pertama-tama, kata “dunia” (world) itu bukan mengacu kepada “bumi” (earth) secara fisik. Kata “dunia” juga bukan sekadar mengacu kepada perbuatan-perbuatan dosa seperti mabuk-mabukkan, judi, dlsb, tetapi Yohanes berbicara tentang suatu sistem “dunia” yang pada intinya itu tidak mengasihi dan memuliakan Tuhan.

Dalam 1 Yoh 4:4-6, Yohanes juga berkata “Kamu berasal dari Allah, anak-anakKu, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”

Khususnya Yoh 4:5 mengatakan “Mereka berasal dari dunia sebab itu mereka berbicara mengenai hal-hal duniawi” Ini adalah worldview yang pada intinya tidak mau mengenal Tuhan, tidak mau memuliakan Tuhan, tidak mau mengasihi Tuhan bahkan sebaliknya membenci Tuhan. James Smith dalam bukunya You are what you love mengatakan bahwa setiap manusia pasti mencintai sesuatu, pasti memiliki sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya. Sesuatu yang menjadi sumber sukacita di dalam hidupnya. Apa yang kita cintai itu mendefinisikan siapa kita.

Dunia pada jantungnya itu tidak mencintai Allah, dunia mencintai something else. Dalam 2 Tim 3:2, Paulus mengatakan “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang…” Mereka adalah orang-orang yang mencintai diri mereka sendiri, yang mencintai uang, mencintai kenikmatan, tetapi bukan mencintai Allah. Ini bukan sekadar perbuatan dosa, tetapi dosa itu sudah menjadi budaya, menjadi suatu system yang kuat, contohnya seperti korupsi di Indonesia. Seluruh sistemnya adalah sistem yang korup, arah hatinya adalah korup. Ketika ada seorang yang berusaha membongkar kerusakan sistem ini, seperti pak Ahok, maka pastilah mereka semua marah sekali. Karena selama ini mereka sudah menikmati sistem yang mereka bangun untuk menghidupi mereka.

Dunia bisa mencintai apa saja tetapi tidak mungkin mencintai Allah, bahkan membenci Allah. Karena itu Yesus (Yoh 15:19) “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” Dunia membenci murid-murid-Nya karena mereka bukan dari dunia, melainkan mereka telah dipanggil Kristus dari dunia kepada diri-Nya sendiri. Maka murid-murid Kristus yang hidupnya meneladani Kristus itu pasti akan dibenci oleh dunia.

Kita harus mengingat bahwa kata “dunia” bukan hanya berbicara sesuatu yang di luar sana, dengan sistemnya yang korup, tetapi Yesus sewaktu mengacu kepada “dunia”, Dia juga menunjuk kepada orang-orang beragama, tetapi yang sesungguhnya tidak mencintai Kristus. Musuh-musuh Kristus adalah orang-orang beragama, mereka yang mengaku menyembah Allah, mengaku mentaati hukum Taurat, tetapi sesungguhnya di dalam hati mereka tidak ada Allah. Mereka tidak mencintai Kristus, tidak mencintai Allah, tetapi mencintai diri mereka sendiri.

Ada seorang hamba Tuhan yang sewaktu kecil bergumul berat dengan same-sex attraction. Tetapi dia bergumul untuk mengetahui apa yang Tuhan katakan tentang hal itu. Kemudian ada yang bertanya kepadanya “bagaimana dengan gereja yang setuju dengan same-sex marriage”, maka dia mengatakan suatu kalimat dengan berani “meskipun gereja itu mengaku Gereja, memberitakan firman dlsb, tetapi kalau mereka setuju dengan same-sex marriage dan mencoba menjustifikasinya dari pandangan Alkitab, maka sebenarnya mereka bukan denominasi Kristen, itu bukan Gereja.” Kalau engkau percaya kepada Alkitab, maka sangatlah jelas bahwa Alkitab menentang dan tidak menyetujui hal itu dengan begitu tegas. Kalau ada gereja yang setuju dengan same-sex marriage dan mendengar pernyataan ini, maka mereka pasti marah. Tentu ini bukan berarti kita membenci orang-orang yang same-sex marriage, tetapi kita harus mengetahui prinsip kebenaran firman, dan dengan berani menolaknya.

Kalau kita melakukan itu, maka Alkitab mengatakan jangan kaget kalau dunia membenci kita. Jangan kaget kalau ada orang yang datang ke Gereja dengan motivasi yang tidak mencintai Tuhan, yang hatinya tidak sungguh-sungguh taat akan kebenaran firman, tidak mau bertumbuh ke arah Kristus, tidak mau semakin serupa dengan Kristus. Hati mereka mencintai hal-hal yang lain yang bukan Allah, bukan Kristus. Orang-orang yang sedemikian juga pasti akan membenci ketika firman Tuhan diberitakan. Mereka tidak suka ketika kebenaran firman Tuhan diberitakan.

Tuhan Yesus mengatakan jangan kaget kalau mereka membenci kita. Justru sebaliknya kalau engkau mengklaim bahwa engkau percaya kepada firman Tuhan, menjadi pengikut Kristus tetapi dunia tidak membenci engkau, bahkan menyukai engkau, justru itu menjadi berbahaya. Karena Alkitab menegaskan, kalau engkau bukan dari dunia maka dunia pasti membenci engkau. Kita bukan mencari gara-gara, mencari musuh supaya kita dibenci. Tetapi kalau kita hidup dengan meneladani Kristus, maka pasti dunia membenci kita, dan yang paling membenci Kristus adalah orang-orang yang beragama.

Dalam Yoh 15:20 Yesus mengatakan “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu;”

Mengapa mereka membenci Kristus? Karena perkataan dan hidup Kristus membongkar segala dosa mereka. Terang itu datang, maka orang-orang yang hidup dalam kegelapan tidak senang. Mereka tidak ingin diterangi, karena ketika terang itu datang maka seluruh borok, kejahatan, dan kegelapan hati mereka terbongkar. Itulah hidup Kristus, dan itulah juga seharusnya hidup kita. Tuhan Yesus mengatakan Yoh 15:22 “Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka!” Yoh 15:24 melanjutkan “Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku.”

Di dalam kegelapan ada kotoran yang kita tidak tahu bahwa itu kotor, kecuali terang itu menerangi, sehingga kita bisa mengetahui betapa kotornya hal itu. Orang yang di dalam dunia ini, tidak suka dosanya dibongkar dan mereka akan melawan dan membenci terang itu. Dalam Yoh 3:19-20 Yesus juga mengatakan “Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barang siapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak”

Mereka membenci Kristus, karena perkataan dan hidup Kristus membongkar akan dosa, kegelapan dan kerusakan hidup mereka.

Kita harus merefleksikan hal ini kepada diri kita sendiri: betulkah kita sudah meneladani Kristus, mentaati Dia, berjuang di dalam segala ketidaksempurnaan kita mau taat kepada Tuhan. Hidup yang sedemikian mau tidak mau akan membongkar kesalahan dan dosa; dan pasti dunia tidak suka akan hal itu.

Seorang pendeta menceritakan permulaan suatu misi di Afrika. Suatu kali istri dari kepala suku datang ke rumah misi dan dia melihat suatu cermin yang di gantung di pohon. Dia tidak pernah melihat cermin, dan sewaktu dia melihatnya, dia kaget sekali, dan dia mengatakan siapa orang yang mengerikan yang melihat dari dalam pohon itu? Pendetanya menjawab bahwa itu adalah wajah kamu sendiri, dan dia kaget sekali melihat wajahnya sendiri. Akhirnya istri kepala suku itu memaksa membeli cermin itu, dan cermin itu dia pecahkan. Dia tidak mau lagi melihat wajah yang mengerikan itu.

Itulah yang terjadi bagi orang di dunia ini, ketika Kristus datang membongkar manusia akan keadaan sesungguhnya, akan kegelapan hati manusia, manusia pasti tidak suka. Respon pertama manusia adalah mereka akan marah dan tidak mau mendekat lagi kepada Kristus, dan tidak mau mengetahui lagi keadaan mereka yang sesungguhnya.

Tetapi ada orang orang yang Tuhan gerakkan hatinya, yang Tuhan bongkar hati mereka yang keras itu, melembutkan hati mereka. Sehingga firman Tuhan diberitakan dan membongkar dosa-dosa mereka, maka mereka mulai sadar, bertobat dan kembali kepada Tuhan. Inilah yang Yesus katakan selanjutnya, meskipun dunia membenci kita, kita tetap dipanggil untuk bersaksi kepada dunia ini. Yoh 15:26-27 “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."

Kita dipanggil untuk bersaksi kepada dunia; murid-murid-Nya taat memberikan kesaksian tentang siapakah Kristus, dan sebagai implikasinya mereka juga membongkar dosa-dosa manusia. Kalau kita membaca Kisah Para Rasul, kita mengetahui bahwa satu per satu murid-murid-Nya itu mati karena kesaksian mereka. Karena itulah dari kata marturia (“bersaksi”) muncullah kata martir. Petrus akhirnya mati dengan disalib dengan kepala di bawah, mereka semua berani mati karena mereka sadar bahwa seluruh hidup mereka mau mentaati Kristus.

Kristus dianiaya, namun Kristus tidak bersalah, Kristus tidak membenci mereka, Kristus mengasihi mereka. Dia menyembuhkan orang, tetapi ketika Dia menyembuhkan orang, Dia menyatakan siapa Dia, mereka tidak mau mendengar. Sewaktu Dia melakukan hal yang baik, Dia sekaligus membongkar kejahatan dari orang orang yang menginginkan kejahatan. Namun Kristus terus mengasihi, bahkan sampai menyerahkan nyawa-Nya demi menyelamatkan orang-orang yang berdosa. Pengikut Kristus terus bersaksi meskipun dianiaya, karena kasih Kristus menguasai hati mereka.

Karena itulah dunia yang membenci Kristus dan murid-murid-Nya dalam Yoh 15:18-27 itu dikontraskan dengan Yoh 15:17 di mana Yesus mengatakan “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” Tanda anak-anak Tuhan adalah kasih, kasih antara saudara seiman, juga kasih kepada orang-orang di luar sana. Ini mendorong kita, meskipun kita tahu dunia akan menolak dan menganiaya.

Walaupun secara fisik, jarang dari kita dianiaya, namun mungkin dalam bentuk yang berbeda, kita boleh mengalami kesulitan. Di negara barat, dalam melakukan penginjilan, kita paling banyak kita ditolak, kalau dianiaya pun mungkin sulit, kalau kita ingin mati demi nama Kristus pun mungkin tidak bisa karena ada hukum negara yang menjaganya. Kalau kita masuk ke dalam masjid dan memberitakan Injil di dalamnya, paling ekstrim kita dimarahi, diusir. Paling maksimal kita ditolak, ketika kita membagikan brosur kepada orang, seringkali malah orang itu yang takut bertemu kita.

Meskipun ada penolakan, biarlah kita terus berjuang memberitakan Injil. Dari antara orang-orang yang menolak akan ada orang-orang yang Tuhan gerakkan, yang mau mendengarkan firman, datang dan menjadi percaya kepada Tuhan. Karena mereka adalah domba-domba milik Tuhan yang Tuhan pilih sebelum dunia dijadikan, yang akan mendengar suara Kristus dan datang kepada-Nya.

Ada suatu kesaksian dari seorang pendeta di Rumania yang waktu itu menjadi seorang pendeta di sana. Sebelum diusir pada tahun 1981, salah satu orang yang bertobat adalah seorang bapa yang dari seorang komunis, menjadi percaya dan dibaptis. Seusai dibaptis bapa ini bertanya sekarang apa yang harus saya lakukan. Dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi di suatu perusahaan. Kalau mereka tahu bahwa saya sudah menjadi Kristen, maka mereka akan mengumpulkan ribuan orang untuk mengejek, memojokkan, mengolok-olok saya. Dia bertanya apa yang harus saya katakan? Pendeta itu menjawab membela diri adalah satu-satunya hal yang tidak boleh engkau lakukan, ketika mereka mengolok-olok engkau itu adalah kesempatan bagimu untuk bersaksi tentang Kristus. Kesempatan emas untuk bersaksi bagi Kristus. Bapa itu melakukan apa jawaban pendeta ini, dan orang-orang memang berkumpul mengejek dia, dan dia mulai memberi kesaksian dalam waktu lima menit tentang Kristus. Kesaksiannya begitu bagus sampai dia diturunkan pangkatnya, gajinya dipotong separuh dan dia mengalami tekanan dalam pekerjaannya. Tetapi sewaktu dia kembali bertemu dengan pendetanya dia mengatakan dengan mata bersinar-sinar sejak saat itu, meskipun gaji saya dipotong separuh, setiap hari selalu ada orang yang bertanya kepada saya secara sembunyi-sembunyi: tolong berikan alamat Gerejamu, ceritakan kepada kami tentang Kristus, apakah kamu punya Alkitab yang bisa saya pinjam. Inilah yang juga harus menjadi panggilan bagi kita.

Kita harus menyadari bahwa mengikut Kristus pasti ada konsekuensinya. Tuhan sudah memberitahu kita supaya kita siap. Kita dibenci dan dianiaya bukan karena kebodohan, kejahatan, kata-kata kasar, kurang empati, tetapi karena kita justru mengasihi mereka dengan menyatakan kebenaran, menjadi saksi dari Kristus. Seperti yang Paulus katakan (lihat 2 Kor 2:15-16) bahwa berita Injil itu menjadi aroma kematian bagi orang-orang yang akan binasa, tetapi berita Injil yang sama menjadi aroma kehidupan bagi mereka yang percaya. Itu adalah dua reaksi dari pada Injil. Tidak ada orang yang setelah mendengarkan Injil akan tinggal tenang dan mengabaikan Injil. Kristus mendesak setiap orang untuk berespons apakah mereka mau menerima Dia, sadar akan dosa-dosanya atau menolak, membenci dan menganggap perkataan-Nya omong kosong.

Biarlah kita melihat sisa hidup kita sebagai kesempatan untuk berdoa bagi orang-orang yang tidak percaya, yang undur imannya, yang sudah kecewa kepada Gereja, yang sudah meninggalkan Gereja dan tidak memperdulikan Tuhan. Ajaklah mereka untuk datang untuk mendengarkan firman.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya