Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tinggallah di dalam Aku

Ibadah

Tinggallah di dalam Aku

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 7 Oktober 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 15:1-8

Dalam Yoh 15:4-5 Yesus mengatakan “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Apa arti perintah Yesus: “tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu? 

Tinggal di dalam Firman-Nya

Dalam Yoh 15:7 Yesus mengatakan “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Kalau kita bandingkan dengan Yoh 15:4 maka salah satu pengertian yang paling penting dari tinggallah di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita adalah kita tinggal di dalam firman-Nya. Kita tinggal di dalam Kristus dan firman Kristus ada di dalam hidup kita.

Ini bukan sekedar membaca dan mengetahui firman Tuhan, bukan sekadar menghapal, tetapi firman Tuhan itu berakar di dalam jiwa kita yang paling dalam, firman itu kemudian bertumbuh di dalam hidup kita, dan kemudian berbuah yang bisa orang lain nikmati yang boleh memuliakan Bapa kita yang di surga.

Kita bisa kontraskan dengan Yoh 8:37, Tuhan Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi “Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu.”. Ini adalah perkataan Yesus kepada orang-orang Yahudi, keturunan Abraham, kepada orang Farisi dan ahli Taurat yang bukan saja mengetahui firman Tuhan, mereka menghapal dan mentaati sampai begitu detil perkataan Taurat Tuhan. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan firman-Ku tidak ada di dalam kamu, karena mereka tidak percaya kepada Kristus.

Arti tinggal di dalam Kristus dan firman Kristus di dalam kita adalah firman itu sungguh-sungguh tinggal di dalam hati kita yang paling dalam dan memancar dalam segala aspek hidup kita. Ketika firman itu tinggal di dalam hidup kita, maka Kristus tidak hanya di samping atau menjadi tempelan dalam hidup kita, tetapi Kristus akan menjadi fokus dan akan mempengaruhi seluruh hidup kita.

Mazmur 1 menggambarkan orang yang benar sebagai orang yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam. Ini adalah orang yang tinggal di dalam Dia dan firman Tuhan tinggal di dalamnya. Dia bukan hanya membaca dan merenungkan firman Tuhan tetapi His delight is in the law of the Lord.

Orang yang di luar Kristus bisa suka akan apa saja, suka uang, suka seks, suka makanan enak, suka membaca buku, suka tamasya dlsb. Tetapi tidak ada orang yang di luar Kristus yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ketika orang itu suka akan Taurat Tuhan maka dia akan merenungkan itu siang dan malam.

Apa artinya merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam? Apakah kita tidak melakukan yang hal-hal lain sepanjang hari? Apakah seperti demikian? Ada seorang penafsir mengatakan merenungkan siang dan malam itu seperti orang yang kuatir, seperti orang kuatir karena ia berhutang. Malam-malam berpikir tentang hutangnya, bangun tidur, berpikir lagi tentang utangnya. Hutang menjadi hal pertama yang dipikirkan sewaktu bangun pagi, dan hal yang terakhir yang dipikirkan sebelum tidur bahkan membuat orang itu tidak bisa tidur.

Alkitab mengatakan orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam itu adalah seperti orang yang kuatir itu. Namun, secara kontras, orang yang kuatir tidak menghasilkan apa-apa, hanya membuat gelisah, tetapi Mazmur 1 melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam itu adalah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air yang menghasilkan buah pada musimnya.

Merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam itu berarti firman Tuhan menjadi fokus seluruh hidupnya dan melihat seluruh aspek hidup dari sudut pandang firman Tuhan. Salah satu slogan dari orang reform adalah Coram Deo. Seperti Coram-Deo - living in the presence of God - , setiap saat kita sadar Tuhan hadir di depan kita, Tuhan berkata-kata, Tuhan berkuasa, memimpin kita atas seluruh aspek hidup kita. Juga terutama waktu kita sendiri di kamar kita, tidak ada orang yang tahu tetapi Tuhan hadir di situ.

Coram Deo memberi dampak yang begitu besar di dalam hidup orang-orang yang percaya. Pendeta Stephen Tong mengatakan kesadaran Coram Deo membuat orang-orang reform di Jenewa membuat jam tangan dengan sedemikian detil. Sekrup-sekrup yang begitu kecil, yang tidak kelihatan, harus digosok berkali-kali. Mereka sadar bahwa sewaktu dia menggosok sekrup yang begitu kecil itu, Tuhan hadir di situ, Tuhan melihat apa yang dia kerjakan, dia mempertanggungjawabkan setiap detil hidupnya di hadapan Tuhan.

Orang yang hidupnya merenungkan firman Tuhan siang-dan malam menyadari Tuhan hadir, Tuhan berfirman dan kehadiran Tuhan menjadi pusat dari kehidupannya. Alkitab terus menerus mengajar kita untuk berfokus kepada firman Tuhan. Tinggal di dalam Kristus artinya firman Kristus tinggal di dalam kita.

Mazmur 119 yang merupakan pasal yang terpanjang dalam seluruh Alkitab, memiliki 176 ayat yang terdiri dari 22 bagian, setiap bagian ada 8 ayat, dan seluruhnya berbicara tentang satu hal yang terus diulang-ulang yaitu tentang Taurat Tuhan, tentang firman Tuhan, tentang titah-titah Tuhan, tentang hukum Tuhan. Ini mengajarkan bahwa firman Tuhan harus menjadi fokus dari hidup manusia.

Salah satu ayatnya yang terkenal Mazmur 119:9 berkata “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” Mazmur 119:105 berkata “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Setiap ayat berbicara tentang aspek hidup yang berbeda-beda, tetapi fokusnya adalah firman Tuhan yang menerangi seluruh aspek hidup manusia. Firman Tuhan membentuk kita, mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita mendidik anak-anak kita. Firman Tuhan hadir di dalam keluarga kita, memimpin waktu kita bekerja, dalam memakai waktu luang kita, menerangi bagaimana memakai uang kita. Firman Tuhan hadir dalam relasi pacaran, firman Tuhan mewarnai seluruh aspek dari kehidupan. Itulah artinya kita hidup di dalam Kristus: firman Kristus tinggal di dalam kita.

JE Carson di dalam bukunya A Call to Spiritual Reformation mengatakan suatu kalimat: “Apakah kebutuhan yang paling urgent dalam Gereja Barat hari ini?” Apakah itu kesucian di dalam seks, apakah itu kemurahan hati di dalam menolong orang miskin, apakah itu penginjilan, apakah itu pertumbuhan Gereja?  Dia mengatakan semua itu dibutuhkan oleh Gereja. Tetapi ada satu kebutuhan yang paling urgent yang menjadi akar permasalahan semua hal di atas yaitu kebutuhan akan pengenalan Allah yang lebih dalam. Sarana utama untuk mengenal Dia dengan lebih dalam adalah firman Tuhan.

Kita hidup di dalam jaman yang overload dengan informasi. Saudara matikan handphone selama satu hari saja, dan sewaktu dinyalakan lagi, ada ratusan message yang datang. Kita menonton di internet dengan tidak habis-habis sehingga kita bisa terjebak seperti Marta yang bingung mengerjakan begitu banyak. Bahkan Marta menegur Yesus untuk membantunya dengan menegur Maria yang sepertinya tidak melakukan apa-apa.  Maria yang seolah-olah tidak mengerjakan apa-apa, duduk diam mendengarkan Kristus. Lalu Yesus mengatakan Marta engkau bingung akan banyak hal tetapi engkau tidak mengerti apa yang paling penting dan Maria sudah mengerti itu dan itu tidak akan diambil dari padanya.

Alkitab mengajarkan kita dalam Mazmur 46:10 “Be still and know that I am God.” Ajaran ini penting sekali dalam jaman ini. Kalau kita bingung tentang apa arti hidup kita bahkan termasuk orang-orang yang aktif di dalam Gereja, mungkin saudara melupakan hal yang paling penting hidup kita yaitu kita boleh duduk diam dan merenungkan firman dan firman itu tinggal di dalam hati kita.

Biarlah kita boleh sungguh-sungguh merenungkan firman, bukan hanya membaca secara cepat. Saya kadang-kadang kuatir kalau kita membaca renungan harian yang memang singkat, yang habis dibaca dalam 2 menit, dan setelah itu kita pikir itu sudah cukup. Saudara pacaran 2 menit saja sehari, pasti saudara rasa tidak cukup, seberapapun kualitasnya. Kalau kesukaan kita adalah firman Tuhan, maka kita akan membaca dan merenungkan secara lebih dalam. Renungan harian itu baik sebagai introduksi untuk merenungkan firman secara lebih dalam.

Biarlah kita juga menjadi Gereja yang memberitakan firman. Kalau saudara datang ke Gereja dan Gereja itu tidak lagi memberitakan firman dengan setia, maka tinggalkan Gereja itu, kriteria ini berlaku termasuk untuk Gereja kita. Kalau saudara merasa Gereja saudara tidak lagi memberitakan firman yang setia, saudara harus tinggalkan Gereja itu. Saudara harus mencintai Tuhan jauh lebih daripada mencintai Gereja saudara. Tetapi kalau saudara merasa bahwa firman itu diberitakan dengan setia, meskipun dengan keterbatasan hamba Tuhan, maka saudara harus datang dengan sungguh-sungguh, mempersiapkan hati, mendengar firman, menerima setiap firman yang diberitakan. Ajak orang-orang datang ke Gereja saudara, karena kalau firman Tuhan ada di situ maka Tuhan juga hadir di situ, karena firman dan Tuhan itu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Biarlah kita bertumbuh secara pribadi dan secara Gereja, makin mengenal firman-Nya, makin hidup memuliakan Tuhan karena menyadari firman Tuhan sendiri mengajarkan bagaimana kita hidup boleh memuliakan Dia.

Berdoa

Dalam Yoh 15:7 Yesus mengatakan “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, maka mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Sehingga kita bisa melihat hasil dari tinggal di dalam Kristus dan firman Kristus tinggal di dalam kamu adalah kita bisa berdoa meminta kepada Tuhan. Ada tiga kebenaran yang dinyatakan oleh ayat ini. 

  1. Doa adalah sarana atau cara untuk menghasilkan buah.

Perhatikan ayat selanjutnya Yoh 15:8 “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." “Dalam hal inilah” mengkaitkan dengan ayat sebelumnya dan juga kalimat sesudahnya. “Dalam hal inilah” mengacu kepada ayat sebelumnya Yoh 15:7” tinggal di dalam Kristus dan firman Tuhan tinggal di dalam kita. Sehingga ketika kita meminta apapun, sesuai dengan kehendak Tuhan, karena firman-Nya tinggal di dalam kita, maka Tuhan akan mendengar dan menjawab doa kita. Maka disitulah Bapa dipermuliakan. Ketika kita tidak berdaya dan berseru kepada Tuhan maka Tuhan rindu untuk menjawab doa-doa kita dan Bapa dipermuliakan ketika Dia menjawab doa-doa kita.

“Dalam hal inilah” juga mengacu dengan kalimat selanjutnya “yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Bapa juga dipermuliakan ketika kita berbuah banyak. Karena kita berdoa dan Tuhan menjawab doa kita sehingga hidup kita menjadi hidup yang berbuah di hadapan Tuhan, maka Bapa dimuliakan.

Dengan kata lain berdoa adalah untuk menghasilkan buah. Kaitan ini dipertegas dengan Yoh 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Hal ini adalah menarik, pertama-tama kita akan berpikir bahwa kita diperintahkan untuk berdoa supaya hidup kita menghasilkan buah. Bagaimana saya bisa menghasilkan buah, yaitu dengan melalui berdoa. Tetapi apa yang Yesus katakan dalam Yoh 15:16 itu kebalikan dari Yoh 15:8. Dalam Yoh 15:16 Yesus mengatakan supaya kita pergi dan menghasilkan buah, supaya kita berdoa, supaya apa yang kita minta kepada Bapa diberikan kepadamu.

Di sini, kedua ayat ini menekankan betapa pentingnya doa. Doa itu memang dikaitkan untuk menghasilkan buah, namun panggilan untuk menghasilkan buah adalah supaya kita berdoa. Jadi berdoa itu justru adalah tujuan akhir. Berdoa, bersandar kepada Tuhan, bersekutu dengan Tuhan itu adalah tujuan akhir. Kita mengerti panggilan kita untuk bersaksi dan berbuah di dalam hidup kita, tetapi justru seluruh panggilan itu Tuhan berikan kepada kita supaya kita datang, bersandar kepada Dia, supaya kita berdoa kepada Tuhan. 

Betapa pentingnya doa. Kalau kita mengerti panggilan Tuhan dalam hidup kita, mengerti panggilan Tuhan untuk menjadi saksi-Nya di tengah-tengah dunia, mengerti panggilan untuk menghasilkan buah, mengerti panggilan untuk hidup kudus memuliakan Tuhan; seluruh panggilan itu adalah supaya kita datang, berseru, berdoa kepada Tuhan. Betapa pentingnya doa itu.

Kalau kita tidak berdoa maka kita tidak sungguh-sungguh mengerti panggilan Tuhan. Kalau tidak sungguh-sungguh berdoa, maka kita tidak sungguh-sungguh menjalankan apa yang Tuhan kehendaki. Karena kalau kita mau menjalankan kehendak Tuhan, kita akan tahu betapa kita tidak berdaya. Kalau engkau ingin mengasihi, apalagi berusaha mengasihi orang yang sulit, seperti suami/istri yang sulit, atau anak-anakmu, teman-teman, engkau akan tahu bahwa itu sulit, dan karenanya engkau perlu berdoa.

Itulah panggilan Tuhan dalam hidup kita yaitu supaya kita berdoa, bersandar kepada Tuhan, kita memerlukan Tuhan. Karena di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa.

  1. Apakah itu berarti kita tidak boleh berdoa untuk kebutuhan kita?

Apakah kita tidak boleh berdoa untuk pekerjaan, untuk anak-anak kita, untuk suami/istri, untuk saudara kita yang sedang sakit. Tentu boleh, karena Kristus sendiri mengajarkan kepada kita di dalam doa Bapa Kami (lihat Mat 6): “berikan kepada kami hari ini makanan kami yang secukupnya”. Tetapi ingatlah kalimat doa ini “berikan makanan kami yang secukupnya” adalah kalimat yang keberapa dalam doa Bapa Kami. Artinya Yesus mengajarkan bahwa sebelum meminta hal itu, kita harus berdoa “Bapa kami di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”, baru muncul “berilah makanan kami yang secukupnya.

Artinya kebutuhan kita real, tapi tidak boleh menjadi hal yang utama dan pertama di dalam kehidupan doa kita. Hal yang utama dan pertama dalam doa kita adalah supaya nama Tuhan dipermuliakan, supaya kehendak-Nya jadi di bumi dan di surga. Kita seharusnya sering mendoakan hal-hal ini. Kalau kita mengutamakan kebutuhan kita sendiri di dalam doa, maka kita tidak mengerti apa yang Tuhan sedang kerjakan di sini. Karena doa dikaitkan dengan menghasilkan buah yang berkenan kepada Tuhan, sehingga kita boleh melihat pekerjaan Tuhan.

Apakah dalam doa pagi kita berdoa Tuhan biarlah hari ini nama-Mu boleh dimuliakan, supaya segala pembicaraan kita, dengan anak/suami/istri, dengan orang-lain adalah untuk mempermuliakan Tuhan, biarlah kehendak-Mu jadi di bumi seperti di surga? Inilah yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita.

Yoh 15:7 adalah ayat yang disukai oleh Gereja-Gereja tertentu, tetapi mereka mengambil hanya separuhnya “mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” dan melupakan kalimat sebelumnya. Kalau kita hanya mengambil bagian ini saja maka kita bisa bersalah sama sekali. Yakobus memberikan peringatan dalam Yak 4:3 “kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” Engkau orang-orang yang berzinah, engkau seolah-olah minta kepada suamimu minta uang supaya engkau bisa habiskan uang itu untuk berjinah dengan pelacur. Itulah gambaran dari Yakobus 4, engkau berdoa tetapi untuk memuaskan nafsumu. Ini adalah doa yang salah. Kita harus mengingat dalam Yoh 15:7 ada kalimat sebelumnya: “jikalau engkau tinggal di dalam Aku dan firman-Ku ada di dalam kamu” maka mintalah apa saja yang engkau kehendaki.

Tetapi kita bisa lebih parah daripada mereka yang hanya memegang Yoh 15:7b, lebih parah karena kita tidak berdoa sama sekali. Padahal Yesus berkata “mintalah”.  Yak 4:2 mengatakan “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.”

Berdoa sekali seminggu itu tidak terlalu sulit tetapi untuk berdoa setiap saat, bersandar kepada Tuhan, menggantungkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, mengerjakan panggilan Tuhan, maka itu akan sulit.

Persekutuan doa menjadi barometer bagi pertumbuhan Gereja. Kita sering tidak mementingkan doa dan hanya bergantung kepada kekuatan kita sendiri. Tentu saudara bisa berdoa secara pribadi, tetapi berdoa bersama-sama menjadi barometer kesehatan Gereja. Kalau saudara tidak berdoa bersama-sama, saudara tidak ada hak apapun untuk mengkritik Gereja. Dengan bersama-sama berdoa, hati kita semua dipersatukan di dalam doa, dan kita sendiri bersandar kepada Tuhan.

Apakah saudara betul-betul percaya Yoh 15:7 “mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Mazmur 37:4 mengatakan kebenaran ini “Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” Kita pasti memiliki banyak kerinduan di dalam hati kita, biarlah kita bersuka hidup di dalam Tuhan, dalam firman-Nya, berseru kepada Tuhan dan melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan.

Keseimbangan yang sangat indah di dalam kehidupan doa dinyatakan Kristus pada saat dia berdoa di taman Getsemani. Dengan satu kalimat Yesus yang memberikan teologi yang sangat indah mengenai doa. Tuhan Yesus berdoa dalam taman Getsemani dengan keringat bercucuran seperti darah (lihat Mat 26:39) “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Yesus memohon supaya cawan penderitaan di mana Dia dipisahkan dari Bapa-Nya, kalau boleh dilepaskan dari pada-Nya. Dengan kesungguhan Yesus berdoa akan hal ini. Kita bisa berdoa meminta dengan sungguh, dengan ngotot tetapi harus dengan kesadaran bahwa kita bisa salah seperti yang dikatakan dalam Yoh 4:3 di atas. Tetapi Yesus menutup dengan keseimbangan dalam doa itu “Tetapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu-lah yang jadi.” Ini adalah suatu doa yang memberi keteguhan, kekuatan iman, sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan. Dengan satu kalimat Tuhan Yesus memberi contoh doa yang indah.

  1. Semakin firman Kristus tinggal di dalam kita, semakin doa kita akan dijawab oleh Tuhan

Tentu ada proses, suatu proses yang panjang supaya firman Tuhan bisa tinggal di dalam kita. Kita membaca, mempelajari, merenungkan, bergumul dengan firman. Setiap hari merenungkan firman siang dan malam. Namun semakin firman Tuhan tinggal di dalam kita, semakin kita mengenal Tuhan, semakin mengerti bahwa sebenarnya doa kita dijawab oleh Tuhan.

Tetapkan waktu untuk berdoa, bukan datang ke dalam persekutuan doa kalau ada waktu. Di dalam persekutuan doa kita datang bersama-sama berseru kepada Tuhan. Karena semakin firman Tuhan tinggal di dalam kita semakin doa kita akan dijawab oleh Tuhan. Kita akan melihat pekerjaan Tuhan, dan waktu Tuhan menjawab doa kita, Dia dipermuliakan. Dia ingin menjawab doa kita, serahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya.

Ketika kita disegarkan oleh firman Tuhan, maka apa yang harus kita kerjakan? Begitu banyak pelayanan yang belum kita kerjakan. Tetapi satu jawaban yang sangat simple untuk pertanyaan ini adalah biarlah kita sungguh-sungguh berdoa. Satu hal yang paling simple tetapi mungkin adalah yang paling sulit.

Saya sering berpikir bahwa salah satu musuh kerohanian kita adalah justru pelayanan kita. Pertumbuhan kerohanian kita adalah melalui doa dan membaca firman Tuhan. Namun kadang kala kita sibuk melayani dan lupa berdoa., sehingga kesibukan kita tidak berbuah dan tidak menjadi berkat bagi orang lain. Seperti Marta kita bisa grumble karena pelayanan yang melelahkan luar biasa.

Kita dipanggil untuk berseru kepada Dia. Betapa bodohnya kita kalau kita terus berjuang dengan kekuatan kita sendiri. Biarlah doa bukan menjadi yang terakhir ketika segala sesuatu tidak berhasil. Biarlah berdoa menjadi yang pertama sebelum kita mengerjakan segala sesuatu. Ketika kita berdoa bersama-sama, kita akan melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan di dalam hidup kita, baik dalam kehidupan kita pribadi ataupun di dalam Gereja Tuhan, kehendak Tuhan jadi di bumi seperti di surga. Kita akan bersuka cita bersama-sama melihat Tuhan menyatakan kuasa, karya-Nya dalam hidup kita, melalui doa-doa kita.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya