Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Akulah Pokok Anggur yang Benar

Ibadah

Akulah Pokok Anggur yang Benar

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 23 September 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 15:1-8

Hudson Taylor adalah pemberi China Inland Mission yang kemudian menjadi OMF (Overseas Mission Fellowship), yang pertama mengutus ratusan missionaris ke China pada pertengahan abad ke sembilan belas. Pada tahun 1869, sewaktu Hudson Taylor berumur 37 tahun, dia memasuki suatu masa di dalam perjalanan imannya yang penuh dengan pergumulan dan kesluitan. Dia semakin dalam dan limpah pengalamannya di dalam Kristus. Sampai berumur 60-an, pengalaman Hudson selama berpuluh-puluh tahun ini ditulis oleh anaknya Frederick Howard Taylor, di tahun 1937. Anaknya menulis tentang ayahnya yang merupakan seorang yang berumur 60-an, menanggung beban yang sangat berat, namun ada kedamaian dan ketenangan yang dalam. Berada di dalam Kristus, Hudson Taylor mendapat kekuatan dan kedamaian yang sejati ditengah beban pelayanan yang begitu besar. Anaknya menulis ‘saya tidak bisa menemukan kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan ayah saya, kecuali in God, ayah saya selalu ada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam ayah’ …. Ini adalah the true abiding dari Yoh 15.

Ayat-ayat yang kita baca dalam Yoh 15 bukan hanya penting untuk kita mengerti secara teologis, tetapi juga sesuatu yang sangat praktikal di dalam membentuk hidup kita dalam perjalanan iman kita di dalam Tuhan, di dalam kehidupan sehari-hari. Yoh 15 membawa kita sungguh-sungguh mengerti apa artinya di dalam Kristus seperti nyata di dalam hidup Hudson Taylor.

Sebelumnya dalam Yoh 14:30-31 Yesus berkata: “Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini." Di sini, kita tahu bahwa Yesus akan dikhianati, ditangkap dan digantung di atas kayu salib, namun seluruhnya terjadi bukan karena Yesus tidak berkuasa, tetapi karena Yesus ingin menyatakan kasih-Nya kepada Bapa, dalam rangka mentaati rencana Bapa-Nya. Rencana yang sudah ada dari kekekalan, yaitu pactum salutis, bahwa Bapa dan Anak berjanji untuk menyelamatkan manusia dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati di atas kayu salib menyelamatkan manusia. Di dalam seluruh peristiwa itu, Bapa mengontrol segala peristiwa tepat seperti rencana Bapa dan Anak. Di dalam konteks seperti ini Yesus mengatakan Yoh 15:1-2 “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”

Ayat-ayat ini adalah gambaran metafora tentang apa yang akan terjadi ketika Yesus akan ditangkap, dan mati di atas kayu salib. Yesus akan menjadi sumber kehidupan yang nyata melalui buah-buah yang dihasilkan oleh ranting-ranting yang menempel pada diri-Ku yaitu pokok anggur yang benar itu. Namun sebelum masuk ke situ, Yesus menekankan dalam Yoh 1-2 bahwa Bapa adalah pengusaha kebun anggur itu. Biasanya kita hanya mengingat Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Namun sebelum sampai ke hal itu, pertama-tama Yesus bukan berbicara tentang diri-Nya, tetapi tentang Bapa sebagai pengusaha dari pokok anggur itu. Ini berkaitan dengan Yoh 14, yaitu seluruhnya terjadi dalam kontrol Bapa, bahkan di dalam titik sejarah yang paling gelap, ketika Anak harus mati di atas kayu salib, seluruhnya berjalan sesuai dengan perintah dan rencana Bapa untuk menyelamatkan manusia.

Di sini kita memfokuskan dua hal yang Bapa kerjakan bagi ranting-ranting yang ada dalam Yesus Kristus. Kedua hal ini dinyatakan dalam Yoh 15:2, yaitu mengenai pekerjaan Bapa, setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong (oleh Bapa) dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

  • “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya.” Ini adalah pekerjaan penghakiman dari pada Bapa. Bukan hanya dipotong, tetapi juga (Yoh 15:6) “dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Demikian juga ketika Yesus berbicara tentang perumpamaan lalang dan gandum (lihat Mat 13:24-30), pada akhir jaman lalang-lalang itu akan dikumpulkan dan dibakar di dalam api dan disitulah terdapat ratapan dan kertak gigi.

Ada suatu pertanyaan yang penting tentang hal ini: apakah seorang yang sudah ada di dalam Kristus, suatu kali kalau dia tidak berbuah itu bisa dipotong, dibakar di dalam api, dan terpisah selama-lamanya dari pokok anggur itu. Karena dalam Yoh 15:2 di katakan “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah ” Apakah berarti union with Christ adalah sesuatu yang tidak permanen dalam kehidupan anak-anak Tuhan? Apakah seorang yang sudah terlahir kembali bisa terhilang untuk selama-lamanya? Apakah domba milik Kristus akhirnya karena terhilang dia tidak menjadi/ bukan domba-Nya?

Kalau kita mengikuti eksposisi Yohanes, Yohanes dengan jelas berkali-kali menyatakan bahwa Bapa telah memilih orang-orang bagi diri-Nya sendiri dalam kekekalan, dan mereka diberikan kepada Anak, dan Anak akan menjaga mereka. Tidak ada seorang pun yang bisa merebut mereka dari tangan Tuhan.

Yoh 6:37 menyatakan “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”

Juga Yoh 6:39 “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.”

Yoh 10:27-30 “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.”

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa mereka yang datang kepada Kristus, dan Kristus yang sudah memberikan nyawa-Nya bagi mereka, mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan Tuhan. Ini memberikan jawaban yang sangat jelas, bahwa bagi orang pilihan, yang sudah lahir baru, yang diberikan Bapa kepada Kristus, tidak ada seorang pun yang dapat merebut mereka dari tangan Bapa dan Kristus.

Ini adalah keselamatan yang pasti, once safe always safe, karena keselamatan itu bukan dari kita, bukan dari kemauan kita, bukan dari keputusan kita, namun keselamatan itu adalah karena Tuhan di dalam kekekalan telah memilih kita, sebelum dunia dijadikan. Mereka akan datang, mendengar suara Kristus, tidak ada yang dapat merebut mereka dari tangan Tuhan.

Kalau kita membaca Injil Yohanes, maka Yohanes juga berbicara tentang orang yang “percaya” namun tidak sungguh-sungguh percaya. Mereka adalah orang-orang yang disebut murid-murid Kristus tetapi bukan sungguh-sungguh murid Kristus. Yudas adalah salah satu contohnya, dia termasuk dua belas murid Kristus, bahkan Yesus sendiri yang memanggil dia. Tetapi Yudas bukanlah murid Kristus yang sejati. Sebagai contoh Yoh 6:66 berbicara tentang orang-orang yang percaya tetapi tidak sungguh-sungguh percaya “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” Setelah mendengar perkataan Yesus yang keras, banyak murid-murid-Nya tidak lagi mengikut Dia.

Contoh yang lain ada dalam Yoh 2:23-25 “Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka melihat telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.”

Ketika mereka melihat mukjijat Kristus banyak orang percaya dalam nama-Nya. Tetapi Yoh 24-25 dengan jelas menyatakan, mereka bukanlah orang yang sungguh-sunggh percaya; Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka karena Dia mengenal mereka semua, dan tahu apa yang ada dalam hati manusia. Mereka tidak sungguh-sungguh percaya dan bukan murid Kristus yang sejati.

Orang semacam inilah yang merupakan ranting yang akan dipotong, karena mereka bukan ranting yang sejati. Ranting yang tidak benar-benar menempel kepada pokok anggur, tidak mendapat makanan, tidak tinggal di dalam Kristus, sehingga tidak menghasilkan buah di dalam kehidupannya. Maka ranting-ranting itu yang sebenarnya sudah mati, hanya menempel secara luar. Mereka datang melihat mukjijat Kristus dan percaya, mereka mungkin datang ke Gereja, ikut dalam pelayanan, tetapi sesungguhnya bukan murid Yesus yang sejati. Dalam Yoh 8:31 Yesus mengatakan "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku“ Apa respons kita terhadap berita firman ini, apakah hal ini membuat kita gentar?

Yang pasti Tuhan Yesus sedang memberi peringatan kepada murid-murid yang mengikut Dia, kepada orang yang percaya yang mengaku percaya tetapi bukan murid-Kristus yang sejati. Yesus juga sedang mempersiapkan hati murid-murid-Nya yang sejati dengan reality check. Akan ada di antara orang yang mengaku murid Kristus tetapi sesungguhnya bukan murid Kristus yang sejati. Ada orang yang datang ke Gereja tetapi bukan sungguh-sungguh orang yang percaya. Hal ini akan nyata dari buahnya, dari apa yang akan dihasilkan. Tuhan Yesus mau menghibur anak-akan Tuhan, orang Kristen yang sejati, orang-orang di dalam Gereja yang sungguh-sungguh percaya, agar jangan gelisah akan adanya ranting-ranting yang ada di dalam-Ku, ranting-ranting itu akan dipatahkan pada waktunya; sekarang dalam hidup ini ataupun pada akhir jaman. Tuhan Yesus mengatakan (lihat Mat 7:22-23) di akhir jaman nanti, banyak orang-orang yang berseru “Tuhan bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, bukankah kami mengusir setan demi nama-Mu, menyembuhkan orang demi nama-Mu.” Tetapi Tuhan Yesus menyatakan “pada waktu itu Aku akan berkata terus terang kepada mereka ‘Enyahlah dari pada-Ku, hai semua engkau pembuat kejahatan. Aku sama sekali tidak mengenal engkau’.”

Ini menjadi peringatan bagi setiap kita dan penghiburan bagi anak-anak Tuhan yang sejati. Pasti akan ada dalam pelayanan kita, bahkan di antara murid Kristus sendiri, ada satu yang bukan murid yang sejati.  

  • Ranting yang berbuah akan dibersihkan oleh Bapa. Terjemahan Inggris menggunakan istilah “pruning” untuk kata “dibersihkan”. To Prune atau memangkas, adalah salah satu hal yang penting di dalam membuat pohon anggur untuk berbuah banyak. Cabang-cabang yang bagus, pada saat yang tepat harus di-pruning. Cabang-cabang yang kecil dari cabang-cabang yang bagus, harus di-pruning, sehingga pada waktunya akan timbul cabang-cabang yang menghasilkan buah yang banyak. Ranting yang berbuah dipangkas-Nya supaya lebih banyak berbuah.

Sehingga “membersihkan” di sini artinya adalah membuang bagian-bagian tertentu yang tidak berguna. Gambaran ini menggentarkan, kalau kita adalah ranting yang sejati, maka Tuhan akan memangkas hidup kita supaya kita lebih banyak berbuah. Ini gambaran yang dinyatakan dalam Ibrani 12:5-6 “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12:10b-11 melanjutkan, ”tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran waktu ia diberikan, ia tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

Apakah saudara ingin menjadi ranting yang berbuah? Sebagai anak-anak Tuhan pasti kita ingin berbuah. Pilihannya cuma ada dua: harus berbuah, kalau tidak dipotong. Namun Tuhan mengatakan kalau engkau ingin berbuah, Aku akan memangkas engkau, membersihkan engkau, mendisiplin engkau. Seperti disiplin seorang bapa kepada anaknya, yang bisa muncul dalam berbagai hal. Kalau kita lihat Ibrani 12, konteksnya adalah penganiayaan yang terjadi dalam diri anak-anak Tuhan. Tetapi Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya tidak tinggal diam, Dia berkuasa, berdaulat akan apapun yang terjadi pada anak-anak Tuhan. Penganiayaan yang sulit, sakit-penyakit, tidak datang secara kebetulan bagi anak-anak Tuhan. Ada Bapa yang berdaulat yang memiliki rencana yang baik. Karena melalui semuanya itu, Tuhan berencana, berkehendak setiap ranting yang berbuah, dibersihkan supaya dia lebih banyak berbuah.

Relasi antara kita dengan Kristus, antara ranting dan pokok-anggur, akan diperkuat, disegarkan, supaya semakin banyak berbuah melalui apa yang dikerjakan oleh pengusaha kebun anggur itu. Bapa akan memakai setiap hal di dalam hidup kita untuk mendisiplin, membersihkan, merawat ranting yang berbuah itu. Relasi dengan Kristus yang membuat kita menerima zat, nutrisi, dari pokok anggur, itu bisa terjadi karena Bapa yang memangkas akan segala hal yang tidak perlu ada dalam hidup kita. Dia mengerjakan itu dengan satu tujuan yaitu supaya kita berbuah banyak.

Suatu yang internal dalam relasi kita di dalam Kristus, Tuhan sedang kerjakan melalui suatu eksternal dalam hidup kita. Relasi kita dengan Tuhan secara internal disegarkan, dibentuk, diperdalam melalui segala kesulitan dalam hidup kita. Biarlah ini menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita anak-anak Tuhan yang sejati.

Sebaliknya jika kita tidak disiplin oleh Bapa kita di surga, maka kita sesungguhnya bukan anak. Anak manakah yang tidak didisiplin oleh ayahnya. Kalau kita tidak didisiplin maka kita adalah anak-anak gampang/illegitimate child (lihat Ibrani 12:8) anak anak yang tidak sah.

Tetapi kalau kita adalah anak Tuhan yang sejati, Bapa akan mendisiplin kita melalui segala peristiwa di dalam hidup kita, supaya kita boleh semakin bersandar, bergantung, melekat pada pokok anggur, dan itu akan menghasilkan buah dalam hidup kita.

Paulus memberikan contoh akan bagaimana itu bisa terjadi di dalam hidupnya. 2 Kor 1:8-9 “Sebab kami mau, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Segala penderitaan yang begitu berat dialami Paulus, membuat dia putus asa bahkan atas hidupnya. Tetapi Paulus sadar semua itu terjadi dalam kontrol Tuhan, supaya kami tidak menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Tuhan yang membangkitkan orang mati.

Michael Desmore dalam renungannya di buku “Dipanggil untuk menghasilkan buah”, menyatakan Paulus dicambuk 40 kali kurang satu cambukan. Karena dalam hukum Romawi, orang yang bersalah maksimal dicambuk 40 kali; kalau lebih dari empat puluh, yang mencambuk dipersalahkan. Oleh karena itu dikurangi satu kali agar kalaupun salah hitung, tidak lebih dari 40. Paulus sudah lima kali mengalami cambukan seperti ini, setiap kali 40 kali kurang satu, dan cambukan Romawi ada dua mata yang bisa merobek kayu apalagi badan. Jadi ada ratusan luka dalam tubuh Paulus. Paulus mengatakan semua itu terjadi supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri tetapi kepada Tuhan yang membangkitkan orang mati.

Di dalam kita melakukan kehendak Tuhan, ada penderitaan, kesulitan yang besar, yang bukan karena dosa kita. Karena dunia sudah berdosa, kita tidak lepas dari pada dosa dunia. Orang dunia mengalami kanker, penyakit dan kecelakaan, orang percaya juga mengalami hal yang sama. Tetapi yang berbeda adalah anak-anak Tuhan yang sejati mengerti bahwa Tuhan berdaulat, dan Bapa yang di surga, sebagai pengusaha kebun anggur itu, Dia sedang memangkas, membersihkan, supaya kita bisa semakin berbuah.

Pdt Stephen Tong saat muda pernah bertanya kepada diri sendiri apa maksudnya menyangkal diri? Waktu aku disangkal diriku ini ada dimana? Waktu aku menyangkal diri, aku ini jadi siapa? Siapa aku yang menyangkal diriku? Hal ini membingungkan dia. Kalau guru sekolah minggu tidak bisa menjawab pertanyaan seperti ini, mungkin anak itu akan menjadi atheis. Melalui contoh sederhana, kita bisa mejelaskan arti penyangkalan diri kepada mereka seperti jika kita sedang ingin sekali membeli handphone yang harganya mahal, namun saat yang sama Gereja sedang membutuhkan uang yang banyak untuk membangun gedung gereja. Bapa yang di surga akan memakai segala macam cara, baik itu penganiayaan, penyakit, kecelakaan, situasi hidup yang membuat kita susah untuk membersihkan kita. Semua yang berjuang di dalam pelayanan, memberi persembahan, mengeluarkan airmata dan kadang-kadang ada konflik, berdoa bersama-sama, sedang Tuhan bentuk. Tanpa engkau berjuang, berkorban, tanpa menyangkal diri dan memikul salib, mengikut Kristus maka tidak ada pembentukan sama sekali.

Kristus mempersiapkan murid-murid-Nya dari dua hal, akan kepura-puraan dari dalam dan sekaligus mempersiapkan murid-murid-Nya akan penganiayaan yang dari luar. Ranting yang tidak sesungguhnya akan dipotong. Kalau saudara merasa saudara termasuk orang seperti demikian, dan saudara gentar, maka bertobatlah. Baik kepura-puraan dari luar maupun penganiayaan dari luar, kedua-duanya ada dalam kontrol Bapa.

Yoh 15:1-2 mempersiapkan panggung dengan sempurna bagi ayat selanjutnya Yoh 15:4 yang mengatakan “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”  Tetapi sebelum sampai ayat Yoh 15:4 ada Yoh15:3 yang secara kilas sesuatu yang aneh dan tidak pada tempatnya. Tetapi Yoh 15:3 adalah sangat krusial untuk mengerti apa artinya tinggal di dalam Kristus. Bahkan Yoh 15:3 menyatakan suatu jantung iman Kristen yang tidak ada di dalam agama apapun, yang sangat penting untuk mengerti apa artinya tinggal di dalam Kristus.

Pertama-tama, mari kita melihat kaitan antara Yoh 15:2b dan Yoh 15:3, bandingkan “setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” dan “Kamu memang sudah bersih”. Dalam bahasa aslinya kedua ayat ini menggunakan kata yang sama untuk kata “bersih.” Ini yang menjadi suatu yang penting bagi inti iman Kristen, bahwa waktu kita dibersihkan bukan berarti kita sebelum dibersihkan adalah kotor.

Sebenarnya kita memang sudah bersih sebelumnya karena firman yang Dia berikan kepada kita. Seluruh firman yang berinti pada dirinya sendiri, seluruh firman yang menyatakan apa yang Yesus lakukan yang berpuncak pada salib Kristus, menjadikan kita terkait dengan pokok anggur itu, mempersatukan kita dengan Kristus. Melalui firman yang kita dengar, Roh Kudus bekerja dalam hati kita, membuat kita percaya kepada Kristus, dan mempersatukan kita dengan Kristus. Artinya kamu sudah bersih, engkau memang sudah di dalam Aku. Ini adalah kata yang persis sama sewaktu Yesus mengatakan kepada Petrus (lihat Yoh 13:10) bahwa ia sudah bersih, saat Petrus menolak untuk dibasuh kakinya oleh Yesus. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku”. Tuhan Yesus mengatakan kamu memang sudah bersih tetapi hanya kakimu yang perlu dibersihkan. Tuhan Yesus bukan hanya berkata tentang hal fisikal, tetapi menjadi acted parable. Ketika engkau rela dibersihkan atau dipangkas dalam hidupmu, itu justru menyatakan bahwa engkau sudah bersih.

Bukti bahwa engkau sudah bersih, sudah di dalam Kristus, sudah dalam pokok anggur itu adalah engkau rela untuk dipangkas, untuk dibersihkan. Ketika kita rela dibentuk oleh Tuhan seperti demikian, justru itu membuktikan bahwa kita sudah ada di dalam Dia. Inilah yang Tuhan inginkan, menjadi inti iman Kristen, bahwa kerelaan kita dibersihkan justru menunjukkan Kristus sudah terlebih dahulu membersihkan kita, menjadikan kita anak-anak-Nya. Sama seperti gambaran Ibrani 12:7-8 di atas, jikalau kamu menanggung ganjaran, Tuhan memperlakukan kamu seperti anak; tidak ada anak yang tidak dihajar oleh ayahnya; tetapi bila kamu bebas dari ganjaran maka kamu bukanlah anak, tetapi illegitimate children.

Sewaktu Yesus memerintahkan Yoh 15:4 “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” kita harus mendengarnya dengan dua arti. Yang pertama, Yesus ingin kita untuk mentaati-Nya, bersandar kepada Dia. Tetapi juga, yang kedua, ini adalah sesuatu yang Tuhan sudah kerjakan bagi kita, sehingga kita boleh ada di dalam Kristus. Di dalam bagian yang lain Yohanes mengatakan (1 Yoh 4:19) biarlah kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Ini adalah jantung dari pada iman Kristen. Jika kita adalah anak, maka biarlah kita expect ketika Bapa mendisiplin kita, membersihkan kita memangkas supaya kita berbuah banyak. Kalau kita tidak rela dipangkas oleh Tuhan, maka itu justru membuktikan bahwa kita bukanlah anak-anak Tuhan yang sejati.

Kamu sudah bersih karena itu Aku akan membersihkan kamu. Secara paradoks kita boleh mengerti bahwa secara status kita adalah milik Tuhan. Karena firman dan anugerah-Nya semata-mata kita boleh dipersatukan dengan Kristus. Kita menjadi ranting yang sejati dalam pokok anggur yang benar. Tuhan akan membersihkan kita, seperti Petrus yang akhrinya rela kakinya dibasuh oleh Yesus. Kerelaan kita untuk dibersihkan, menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus itu justru membuktikan bahwa kita adalah ranting-ranting yang sejati.

Pendeta Stephen Tong pernah berkotbah tentang perumpamaan Kristus tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (lihat Mat 25:1-13), yang menantikan mempelai pria. Mereka menunggu sampai malam dan mereka mulai mengantuk dan tertidur. Ketika mempelai pria tiba-tiba datang, mereka bangun, lima gadis yang bodoh itu kehabisan minyak karena mereka tidak mempersiapkan. Tetapi lima gadis yang bijaksana itu bangun dan memakai minyak yang sudah dipersiapkan. Ada satu yang penting disitu, ketika gadis-gadis yang bijaksana itu bangun dan mengisi minyak ke dalam pelita yang hampir padam, mereka mempersiapkan pelita dengan memotong sumbu yang sudah hitam. Sumbu yang hitam itu membuat asap yang banyak, dan oleh karenanya harus dipotong, dan sumbu yang baru, yang bersih ditarik supaya menyala dengan bersih dan tidak ada asapnya. Ini adalah salah satu gambaran tentang apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidup kita.

Kalau kita adalah murid-Kristus yang sejati, Tuhan akan memotong. Ada banyak hal yang harus dipotong, yang masih belum beres dalam hidup kita. Anak-anak Tuhan yang sejati, adalah milik Tuhan, yang sudah Tuhan bersihkan melalui darah Yesus Kristus yang mati, yang mempersatukan kita dengan Kristus. Tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, tidak ada apa pun yang bisa merebut kita dari tangan Bapa. Kita adalah milik Tuhan, hanya karena anugerah-Nya, hanya melalui iman kita percaya kepada Kristus dan dipersatukan dengan Kristus. Kita ranting-ranting yang sejati, dipersatukan dengan pokok anggur semata-mata karena anugerah Tuhan.

Tetapi engkau sudah ada di dalam pokok anggur, maka Tuhan akan membersihkan lagi. Ketika kita rela, taat pada pembersihan dan pemangkasan yang Tuhan sedang kerjakan, itu mengkonfirmasi bahwa kita adalah milik-Nya , ranting-ranting yang sejati. 

Apapun yang terjadi di dalam hidup kita, biarlah kita semakin bersandar kepada Tuhan, bukan lari dari pada Tuhan. Pemazmur kadang-kadang marah dan kecewa kepada Tuhan, dalam Mzm 73 pemazmur mengatakan sia sia aku mempertahankan tangan yang bersih sedangkan aku melihat orang-orang fasik senang-senang hidupnya, tambah gemuk, dimanakah Tuhan. Tetapi aku yang hidupnya benar, suci dan mempertahankan tangan yang bersih, namun aku kena tulah sepanjang hari. Tetapi yang indah dari pemazmur, di dalam kesedihan, pergumulan, ketidakmengertian, kemarahan kepada Tuhan, dia tidak lari dari Tuhan, dia justru datang kepada Tuhan, berseru kepada Tuhan menyatakan isi hatinya kepada Tuhan. Dengan cara demikian, pemazmur semakin mengenal Dia.

Tuhan pasti menyatakan kehendak-Nya, penghiburan, pertolongan-Nya ketika kita makin bersandar dan bergantung kepada Tuhan, dan bukan bergantung pada diri kita sendiri.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya